MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 112


__ADS_3

Sama sekali tidak seperti dengan apa yang dipikirkan Jerome dan kedua temannya. Mereka mengira Mira dan Mawar yang akan ketakutan di wahana rumah hantu.


Tapi semua berbalik. Membuat tawa Tian dan Luck pecah. Selly yang dikenal dengan sikap bar-barnya, pingsan di dalam, saat mereka baru beberapa menit memasuki rumah hantu.


Alhasil, mereka segera keluar dan mencari tempat untuk beristirahat Selly yang masih enggan untuk membuka kedua matanya.


Berbeda dengan Tian dan Luck yang tampak senang, Jerome cemberut, menekuk wajahnya dengan kesal. Semua rencana untuk semakin dekat dengan Mawar gagal, sama sekali tidak membuahkan hasil.


Bahkan, saat Selly pingsan, Jerome sama sekali tidak mendekat. Luck lah yang menggendong Selly, dibantu oleh Tian.


"Ckkk,,,, sudah tahu takut hal-hal mistis. Masih saja ngeyel." decak Mawar, sibuk mengipasi Selly yang tengah pingsan. Berharap sahabatnya tersebut akan segera membuka kedua matanya.


Tian memandang ke arah Mira dengan tatapan menyelidik. "Jangan bilang elo juga takut." tebaknya, melihat wajah Mira yang pucat.


Mira memajukan bibirnya dengan lucu. "Tidak setakut Selly." ucapnya, masih ingin tetap terlihat lebih baik dari pada Selly.


"Sumpah. Gue nggak nyangka. Cewek kayak Selly, ternyata bisa setakut itu." ujar Luck masih dengan sisa tawanya yang tak kunjung reda.


"Gue juga heran. Berkelahi saja bisa. Mada takut hantu bohongan." timpal Tian menggelengkan kepala. Melihat Selly yang masih berbaring.


Luck menyenggol tubuh Tian, seraya menaikkan dagunya mengarah ke tempat Jerome duduk menyendiri dengan tatapan mata mengarah keluar. Tampak raut kesal pada wajah Jerome.


"Elo takut. Selly takut. Tapi Mawar nggak." celetuk Luck.


"Gue nggak takut-takut amat. Nggak seperti Selly." kekeh Mira merasa dirinya lebih berani dari pada Selly.


Luck memutar kedua bola matanya dengan malas. Bukankah sama saja. Astaga. Tapi Mira tetap tidak terima dibilang sebagai penakut.


"Mawar,,,,," Mira menjeda kalimatnya sebentar, melihat Mawar yang tengah sibuk mengoleskan minyak di ujung hidung Selly.


"Dia terlihat santai, kalem, anggun. Tapi jangan salah. Dia perempuan yang kuat dan hebat." tampak ada rasa bangga saat Mira memuji sahabatnya tersebut.


Mendengar hal itu, Jerome menoleh ke arah Mira, Tian, dan Luck sekilas. Ketiganya memandang ke satu titik. Mawar. Jerome juga sama, segera mengalihkan pandangannya ke arah Mawar.


Mira teringat kejadian dimana mereka pulang dari rumah neneknya. Mawar dengan berani tanpa rasa takut. Tanpa memikirkan dirinya sendiri. Turun dan menghadang pemotor yang ingin mengejar mobil yang mereka naiki.


Mira mendongakkan kepalanya ke atas, mengedipkan kelopak matanya berkali-kali. Menghalau air mata agar tidak terjatuh dari kedua matanya.


Luck dan Tian menyadari hal tersebut. Mereka hanya diam. Keduanya menduga jika Mira dan Selly mengetahui sesuatu tentang Mawar, yang tidak mereka ketahui.


"Mawar, dia disakiti oleh lelaki pertama yang dia cintai dan dia sayangi di dunia ini. Tapi dia, masih tetap bisa tersenyum. Mawar, meski hidupnya selalu keras, tapi dia tidak pernah mengeluh. Dia merasakannya seorang diri. Bahkan enggan untuk berbagi sesuatu yang berbau air mata." batin Mira.


"Ini gara-gara kalian." desis Mira kesal. Segera Mira berdiri dan berjalan keluar dari ruangan, tak kuat menahan air mata di kedua pelupuk matanya.


Luck dan Tian hanya membuang muka. Tak menyangka jika pertanyaan sederhana darinya mampu membuat seorang Mira mengeluarkan air mata.


Mawar melihat Mira berlari keluar dengan tergesa. "Mau kemana dia?" tanya Mawar, menatap ke pintu.


"Ke belakang. Kebelet katanya." sahut Tian, tentu saja berbohong.


Mawar menghela nafas panjang. "Selly, ayolah bangun." ucap Mawar bingung.


"Sudah tahu takut hantu. Sok berani." gerutu Mawar.


"Melihat film horor saja tidak berani. Ini malah sok-sokan masuk ke dalam rumah hantu." lanjut Mawar kesal.


Tiba-tiba, tengkuk Luck merasa merinding. Dia sadar jika Mawar menatapnya dengan tajam. "Maaf, sumpah, gue nggak tahu jika Selly takut." cicit Luck. Merasa menjadi tersangka.


"Sial. Padahal ini gara-gara Jerome." umpat Luck dalam hati.


Mawar mengalihkan pandangannya pada Jerome, yang sedari tadi tampak acuh. Dan malah terlihat kesal. Tanpa merasa bersalah.


Padahal Selly tidak sadarkan diri karena saran dia untuk memasuki wahana rumah hantu. Tapi Jerome seakan sama sekali tidak peduli.


"Dasar, orang kaya memang seperti itu." batin Mawar dongkol.


"Selly,,,, bangun..." ucap Mawar, melihat Selly perlahan menggerakkan kedua bola matanya.


"Han-hann-hantu....!!!" seru Selly menutup kedua matanya dengan telapak tangan saat dia baru saja membuka kedua matanya.


Plak.... Mawar menabok lengan Selly dengan kencang. "Nggak ada hantu. Kamu kira aku setan...!!" sarkas Mawar mulai kesal.


Selly perlahan menyingkirkan kedua telapak tangannya. Wajah pertama yang dia lihat adalah wajah cantik milik Mawar. "Mawar..." cicit Selly.

__ADS_1


"Iya....Kenapa...??!" sarkas Mawar.


Selly perlahan mengubah posisinya menjadi duduk. Dengan rasa takut, dia mencuri pandang ke arah Mawar. "Jika dia marah, akan lebih menakutkan dari pada hantu." batin Selly, yang ditatap tajam oleh Mawar.


Selly meremas sendiri jari jemarinya. Mira yang baru masuk, hanya diam tak bersuara. Dan langsung duduk di tempatnya tadi. Mira tahu apa yang akan terjadi. "Ibu angkat akan marah." lirih Selly, terdengar Luck dan Tian yang duduk di sampingnya.


"Ibu angkat." batin mereka berdua.


"Sekarang, siapa yang susah. Aku atau kamu..!!" seru Mawar. Mampu membuat semua orang terjingkat kaget karena suaranya. Bahkan Jerome juga.


"Selly sih..." gumam Mira.


Saat Selly masih belum siuman, orang yang sangat terlihat khawatir adalah Mawar. Dan sekarang, saat Selly sudah sadar, orang yang paling marah adalah Mawar.


"Maaf." cicit Selly menundukkan kepalanya. Tak berani menatap wajah garang dari sahabatnya tersebut.


"Maaf,,, maaf,,, Nyusahin orang saja. Mau jadi jagoan. Apa sekarang kamu punya nyawa banyak...!!"


Selly hanya diam. Tak berani menjawab. "Kamu tuh ya,,,, sulit dibilangin. Sok berani. Bikin emosi tahu nggak...!"


Jerome mengedipkan kedua matanya tak percaya. Mawar bisa marah pada Selly. Padahal dia perempuan yang terlihat anggun dan kalem. "Lebih menakutkan dari pada mama." batin Jerome.


"Kalau kamu mengulangi lagi, aku nggak akan segan-segan lapor pada tante dan om." ancam Mawar tidak main-main.


Mira langsung berdiri. Duduk di samping Selly. "Jangan..." rengek Selly.


"Mawar, jangan kamu nggak kasihan sama Selly." tutur Mira membantu Selly.


Mira dan Selly tahu, jika mama mereka pasti percaya apapun yang dikatakan Mawar pada mereka. Jika Mawar sampai mengadu, pasti kebebasan yang mereka miliki akan semakin terkekang.


"Kamu juga!!"


"Kok aku." cicit Mira yang merasa tidak bersalah.


Mawar membuang wajah. "Jangan pikir aku tidak tahu apa yang kalian lakukan pada Dona dan antek-anteknya di sekolah." tegas Mawar.


"Mampus." gumam Mira. Sebab, saat Mira dan Selly menjalankan aksinya, Mawar pergi bersama Jerome dan kedua sahabat menyusul Deren ke bandara. Meski mereka tidak bisa bertemu dengan Deren.


Mawar menghela nafas panjang, dan menghembuskan dengan kasar. "Jangan kalian ulangi lagi." tutur Mawar.


"Kita hanya ingin balas dendam. Mereka suka jahat sama kamu." lanjut Mira.


"Nggak perlu. Lagian mereka nggak sukanya sama aku. Bukan kalian. Nanti kalian malah terkena masalah." papar Mawar.


"Maaf." cicit Mira.


Jerome memicingkan sebelah matanya. Mawar sama sekali tidak menyinggung dirinya yang hampir saja terkena masalah di butik pada kedua temannya. Kenapa?


"Bagaimana kalau kita makan dulu. Aku lapar." cicit Selly.


"Dasar." Mawar tersenyum samar.


Mira dan Selly memeluk Mawar. "Kami sayang Mawar." tutur keduanya bersamaan.


"Kita makan. Kasihan, pasti Selly lapar setelah tertidur panjang. Sayang, tidak ada pangeran yang mau membangunkannya." celetuk Mawar.


"Mawar...!" seru Selly memanyunkan bibirnya. Mawar tertawa.


"Mana ada pangeran yang mau. Galak kayak gini." timpal Mira.


Selly melotot kesal. "Ehh,, kita sama. Dari pada elo. Lemot." ejek Selly.


"Iiihh,,,,, nggak masalah. Gue nggak lemot-lemot banget. Wluekk...." Mira menjulurkan lidahnya pada Selly.


"Katanya mau cari makan. Ayo." ajak Luck mengeluarkan suara.


Selly segera membuang wajahnya saat Luck menatapnya. Antara marah, kesal, bercampur malu. Itulah yang Selly rasakan saat ini.


Luck juga sama sekali tidak menyinggung tentang Selly yang ternyata sebegitu takutnya dengan hantu. Begitu juga dengan Tian.


Keduanya tahu, jika perasaan perempuan sangat sensitif. Mereka juga tidak ingin ada keributan yang tidak perlu.


"Berangkat...!!" teriak Mira dengan lantang.

__ADS_1


Semuanya berjalan beriringan menuju tempat makan yang tak jauh dari wahana bermain. Dengan para perempuan berjalan di depan. Dengan ketiga lelaki berjalan di belakang mereka. Layaknya bodyguard.


Jerome menyadari jika ada perubahan pada Mawar. Bahkan, saat duduk. Mawar memilih menjauh dari dirinya. Membuat Jerome bingung dan gusar. "Memang gue salah apa?" tanyanya pada diri sendiri dalam hati.


Tanpa ada sepatah katapun, mereka menikmati makanan yang dipesan masing-masing. Semuanya tampak begitu lahap menikmati makanan.


Mencoba beberapa wahana, hingga pingsannya Selly, membuat perut mereka juga ikut merasakan dampaknya. Yakni cacing-cacing di perut mereka menangis.


Berbeda dengan yang lain yang tampak menikmati makanannya, Jerome masih terlihat beberapa kali mencuri pandang ke arah Mawar. Jerome merasa gusar bercampur bingung.


Dari arah lain, seseorang dengan pandangan mata yang intens, menatap sekumpulan pemuda pemudi yang tengah menikmati makanan mereka.


Dia mengambil ponsel. Memotret beberapa jepret untuk menghasilkan gambar yang akan dia kirim ke seseorang. "Sebuah keberuntungan." gumamnya tersenyum.


"Rejeki memang tak akan lari ke mana." lirihnya. Menatap beberapa hasil bidikan foto yang dia peroleh dari ponselnya.


Segera dia mengirimkannya ke seseorang, yang hingga detik ini menjadi ladang uang untuknya. Senyum kembali menghampiri bibirnya.


Saat orang diseberang yang dia kirimi foto tersebut langsung membalasnya dengan pesan tertulis. "Uang... sebentar lagi elo akan berada di tangan gue." kekehnya pelan.


Seperti yang di perintahkan seseorang tersebut, dia mengikuti kemanapun Jerome dan yang lainnya berjalan.


Hingga mereka kembali ke rumah Mawar. Dan dia tetap mengikutinya. Senyum terus tersungging di bibirnya. Seakan tak mau sirna.


"Gue cari sampai mati nggak ada hasilnya. Giliran gue nggak cari, eehhh,,,, malah nongol. Bravo." ucapnya tetap memandang rumah Mawar dari dalam mobil. Menjaga jarak supaya tidak diketahui.


Ponselnya selalu dalam keadaan menyala. Kini dia tidak akan mengirimkan foto. Melainkan video. "Bonus besar menanti." ucapnya dengan senang.


Mira dan Selly pulang lebih dulu. Di susul Luck dan Tian. Sementara Jerome masih tinggal di rumah Mawar. Dia mengatakan ada hal yang ingin dia bicarakan dengan Mawar.


Awalnya, Mira dan Selly menolak pergi. Mereka takut jika Jerome akan berbuat macam-macam. Namun Mawar menyakinkan mereka. Tidak akan terjadi apa-apa.


"Ada apa kak?" tanya Mawar. Duduk di kursi ruang tamu bersama Jerome. Dengan pintu dibiarkan tetap terbuka.


Namun Jerome tak segera menjawab pertanyaan Mawar. Dia malah memandang Mawar dengan intens, dengan raut wajah yang sulit di artikan.


"Jika tidak ada yang dibicarakan, Mawar mau istirahat. Sebentar lagi Mawar akan berangkat kerja." jelas Mawar.


"Apa aku mempunyai salah?" tanya Jerome langsung.


Mawar mengerutkan dahinya, mendengar pertanyaan Jerome. "Maksud kak Jerome apa?" Mawar bertanya balik, sebab dia benar-benar tidak mengerti.


Jerome menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar. Menatap Mawar dengan tatapan frustasi. "Sungguh, aku merasa kamu mengacuhkan aku." papar Jerome.


Mawar bukan perempuan bodoh. Dia tersenyum samar. Salut dengan Jerome yang dengan mudah peka dengan sikap yang dia tunjukkan pada Jerome.


"Menurut kak Jerome?"


"Aku benar-benar tidak tahu, Mawar. Salah aku apa. Kenapa kamu mengacuhkan aku. Kamu malah sibuk dengan teman kamu. Selly."


Mawar menaikkan kedua alisnya. "Lalu aku harus bagaimana? Tersenyum, bersenang-senang dengan kak Jerome. Mencoba berbagai wahana bermain. Sementara teman baik aku, Selly, sedang tidak sadarkan diri. Lalu malah meninggalkannya." cecar Mawar.


"Di sana ada Mira." tukas Jerome.


Tak habis pikir, kenapa Jerome malah terkesan egois. "Maksudnya, aku menyuruh Mira sendirian menunggu Selly. Sementara aku pergi bersenang-senang." Mawar menggelengkan kepalanya pelan.


"Ada Tian dan Luck." Jerome tetap mempunyai jawaban, atas apa yang seharusnya tidak perlu dia katakan.


"Kak Jerome sadar nggak sih, kak Jerome juga ikut andil. Kenapa Selly sampai pingsan. Sejak awal, Mawar sudah bilang. Jangan. Tapi kalian ngeyel. Berucap seolah malah menantang dia."


Mawar memutar kedua bola matanya dengan jengah. "Sudahlah kak. Mawar capek. Mawar mau istirahat." usir Mawar secara halus.


Jerome belum juga beranjak dari duduknya. Bukannya merasa bersalah. Malah menatap kesal ke arah Mawar. "Tapi kamu jangan lupa. Aku yang telah menolong kamu." tegas Jerome.


Deg..... Jantung Mawar bagai ditikam oleh sebuah belati.


Jerome yang masih dikuasai emosi, langsung berdiri dan meninggalkan rumah Mawar begitu saja. Mawar tersenyum kecut.


"Ternyata ada harga, dari setiap pertolongan kamu." gumam Mawar dengan wajah sendu.


Mawar mengangguk. "Baiklah. Aku akan membayar dengan caraku." lanjutnya, menutup pintu rumahnya dan segera beristirahat.


Jerome masuk ke dalam mobil. Dipandanginya pintu rumah Mawar yang telah tertutup. Jerome memukul stir dengan kuat. Lalu melajukan mobilnya pergi dari rumah Mawar.

__ADS_1


Di dalam kamar, Mawar tak bisa memejamkan kedua matanya. Ucapan Jerome terngiang selalu di telinganya. "Mawar, sekarang kamu lihat. Kamu dengar. Tidak akan ada hati yang tulus. Dan jangan pernah berharap untuk mendapatkannya. Berdiri dam berjalanlah dengan kedua kaki kamu sendiri. Makanlah dengan tanganmu sendiri. Jadilah Mawar yang berduri."


__ADS_2