MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 72


__ADS_3

"Elo sama Jerome tadi pura-pura apa beneran?" tanya Mira berbisik.


"Yang mana?" bukannya menjawab, Mawar malah balik bertanya pada Mira.


Mawar juga merasa bingung akan pertanyaan yang diajukan oleh Mira. Pasalnya dirinya sudah memberitahu pada kedua sahabatnya jika akan datang bersama dengan Jerome.


Mira ingin membuka mulutnya, namun Selly segera menghentikannya dengan menyenggol lengan Mira. "Kita bicara nanti saja. Saat jam istirahat. Jangan sekarang." lirih Selly.


Mira paham kenapa Selly berkata seperti itu. Semua murid di kelas mereka mencuri pandang ke arah Mawar. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Bahkan ada yang berbisik sembari menatap tak suka pada Mawar.


Dapat dipastikan, mereka seperti itu karena kejadian barusan. "Sepertinya masalah Mawar akan bertambah." batin Mira menerka, mengkhawatirkan sahabatnya tersebut.


Sewaktu Mawar dekat dengan Deren, murid di sekolah tidak seheboh ini. Tapi entah kenapa sekarang terasa berbeda, saat Mawar dekat dengan Jerome. Padahal hanya sekali, dan ini pertama kalinya.


Mira dan Selly saling pandang sejenak, sepertinya mereka saling berkomunikasi lewat pandangan mata. Lalu mengalihkan pandangan mereka pada Mawar. Keduanya hanya menggeleng heran.


Pasti Mawar tahu apa resiko berdekatan dengan Jerome. Tapi Mawar terlihat tampak begitu santai dan tenang. Seolah sama sekali tidak terpengaruh dengan pandangan kebanyakan murid di sekolah. Terutama murid perempuan.


Tanpa Mira dan Selly tahu, sebenarnya Mawar juga merasa cemas dan juga ada rasa takut bercampur khawatir. Tapi Mawar mencoba untuk bersikap setenang mungkin.


"Kuasai emosi kamu Mawar. Jangan sampai kamu dijadikan bahan bulian di sekolah. Ingat, jangan tunjukkan ketakutan kamu." batin Mawar, menyadari jika lawan utamanya adalah Dona.


Sementara Mawar sendiri tahu persis siapa Dona. Meski di depan semuanya Dona sudah meminta maaf pada Mawar, namun Mawar tahu akal bulus Dona.


Mawar tidak ingin ada yang tahu apa yang sedang dia rasakan. Termasuk kedua sahabatnya. Mawar ingin tetap terlihat layaknya bunga Mawar, dimana ada duri di batangnya yang melindunginya dari setiap bahaya.


Sehingga orang akan enggan mengambil bunganya, karena takut tertusuk durinya. Dan hanya memandangnya dengan kagum, karena keindahannya. Tanpa berani menyentuh.


Sedangkan di kelas lain, setelah melampiaskan amarahnya di ruang musik, Dona menyempatkan diri mendatangi kelas Jerome sebelum bel masuk berbunyi. "Jerome..!!" panggil Dona dengan suara keras, menghampiri tempat duduk Jerome di dalam kelas.


Dona menatap sekeliling, dimana semua siswa di kelas Jerome memandang ke arah dirinya. Dona segera menguasai keadaan. Dirinya tidak ingin perbuatannya akan membuatnya malu di hadapan banyak siswa.


"Bisa gagal rencana gue." batin Dona.


"Ngapain elo di sini?" tanya Luck yang baru saja datang, mendaratkan pantatnya di kursi samping Jerome.


Dona memandang acuh pada Luck, bahkan tak menjawab pertanyaannya. Belum sempat Dona mengatakan sesuatu pada Jerome, kini Tian yang datang dan kembali membuat Dona kesal.


"Elo kesasar?!" tanya Tian dengan nada sarkas.


Dona memandang kesal ke arah Tian. Namun Dona juga mengabaikan kedatangan Tian, sama seperti sebelumnya, saat dia mengacuhkan Luck. Menganggap keduanya seperti angin lalu.


"Jee,, kamu tadi kok bisa berangkat bareng Mawar?" tanya Dona dengan lembut. Tak ada emosi atau nada marah dalam perkataan Dona.


Luck dan Tian yang memang baru datang dan tidak tahu menahu tentang hal tersebut langsung menajamkan telinga dan memandang ke arah Jerome dan Dona.


Tian mencebikkan mulutnya, saat mendengar kata-kata Dona yang terdengar lembut.


"Jee.." panggil Dona dengan lembut, saat Jerome tidak memandang ke arahnya dan juga tidak menjawab pertanyaannya.


Tak...


Jerome meletakkan pena di tangannya ke atas meja dengan kasar. Menimbulkan suara perpaduan antara pena dengan meja.


Seisi kelas menatap ke arah Jerome. Tak terkecuali kedua sahabatnya. Tian dan Luck.


Jerome mengangkat kepalanya. Menjadikan dirinya dan Dona saling bersitatap. "Berisik. Lebih baik elo keluar." usir Jerome.


"Tapi Je,,," ucap Dona tidak terima, tetap dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Nyatanya Dona sedang menahan amarah.


Jerome masih memandang tajam ke arah Dona. Layaknya seekor buaya yang ingin menyantap mangsanya hidup-hidup tanpa ampun.


"Maaf sebelumnya. Bukannya aku ingin ikut campur. Hanya saja, yang semua orang tahu. Beberapa waktu yang lalu Mawar dan Deren tengah dekat." bukannya segera keluar dari kelas Jerome, Dona malah berkoar-koar mencari perhatian.


Dona menjadikan kedekatan Mawar dan Deren beberapa waktu yang lalu sebagai senjata untuk perlahan merubah sosok Mawar yang baik, akan menjadi siswi yang suka memainkan perasan lelaki dihadapan para murid lain.

__ADS_1


Dona memang benar-benar licik. Dia memainkan perannya dengan sangat baik. Dirinya ingin menjadikan seorang Mawar yang dipandang bak ibu peri oleh semua siswa, menjadi siswa yang egois yang memanfaatkan kecantikannya.


Deren yang berada di balik pintu terdiam, menghentikan langkahnya yang ingin masuk ke dalam kelas, ketika mendengarkan perkataan yang keluar dari mulut Dona.


Deren tersenyum samar. Dirinya menyandarkan badannya di daun pintu yang tertutup. Sekali dengar, Deren bisa menebak apa yang diinginkan oleh Dona.


"Keluar!" usir Jerome dengan nada tegas namun tetap dengan intonasi suara yang rendah.


"Jee, apa kamu nggak merasa jika Mawar sedang memanfaatkan kalian." Dona menjeda kalimatnya.


Dengan tidak tahu malu, Dona tetap nyerocos, padahal Jerome sudah mengusirnya. "Bahkan aku yakin jika hubungan kamu dan Deren merenggang karena Mawar." tuduhnya, ingin membuat keadaan semakin panas.


Dona memulai dramanya menjatuhkan nama baik Mawar. Semua murid memandang ke arah Dona. Entah apa yang sekarang mereka pikirkan, mendengar perkataan Dona.


Pasalnya, mereka memang tahu jika akhir-akhir ini Jerome dan ketiga sahabatnya tidak selalu bersama. Terlebih Jerome dan Deren, keduanya terlihat begitu mencolok. Tak terlihat jalan bersama seperti dulu lagi.


Luck dan Tian tersenyum samar, memandang tajam ke arah Dona. "Sekali iblis, akan tetap menjadi iblis." gumam Luck.


Krekk.... pintu terbuka dari luar, sebelum Jerome mengeluarkan suara. Menyanggah apa yang dikatakan oleh Dona terkait keterlibatan Mawar.


Pada kenyataannya, apa yang dikatakan Dona adalah sesuai kebenaran yang mereka tutupi. Jika karena Mawar, hubungan mereka menjadi renggang.


Semua perhatian beralih ke asal suara. Dimana sosok Deren dengan santai masuk ke dalam. "Hai Jee,,, gimana soal kemarin?" tanya Deren dengan santai.


Jika Dona dapat memainkan perannya dengan baik. Deren akan melakukannya juga. Jerome tersenyum samar. Dirinya tahu jika Deren sedang memainkan peran. Menyelamatkan Mawar dari rencana licik Dona.


"Sorry, kemarin-kemarin gue sibuk sendiri. Sehingga jarang kumpul dengan kalian." papar Deren, menurunkan tasnya dari punggungnya.


Luck dan Tian menyeringai penuh arti menatap Dona. "Okelah Dee,,, tapi lain kali elo jangan menyendiri sesibuk apapun elo, dikira kita musuhan." Tian mengikuti permainan yang dimainkan Deren.


Deren berkata, tanpa memandang Dona yang memasang wajah kesal. "Makasih ya Jee,,, gue dah nyusahin elo." Deren menatap Jerome dengan senyum.


"Ckkk,,,, itu, soal Mawar." sambung Deren menepuk bahu Jerome dengan keras, hingga Jerome mengeraskan rahangnya menahan rasa sakit.


Katakanlah, Deren memang sengaja melakukannya. "Terimakasih elo mau jemput Mawar. Buat gue." Deren tersenyum penuh arti pada Jerome.


"Oke. Nggak masalah." ujar Jerome menahan rasa kesal.


Bisa-bisanya Deren menggunakan waktu yang tepat. Dengan ucapan yang pastinya di sengaja oleh Deren dihadapan teman sekelas mereka, pasti sekarang mereka lebih percaya jika Deren memang tengah dekat dengan Mawar.


Dan Jerome, hanya sebagai teman yang sedang membantu Deren. Tidak lebih. "Ternyata Deren lebih cerdas dari pada perkiraan gue. Sial." umpat Jerome dalam hati.


Deren masih menatap Jerome dengan senyum penuh arti. "Nggak semudah itu elo dapatin Mawar. Selama gue belum bisa mendekati Mawar secara langsung, gue akan tetap jadi bayang-bayang kalian." batin Deren.


Deren yang awalnya kelimpungan saat Jerome mengatakan ingin mendekati Mawar dan bersaing untuk mendapatkan Mawar, kini dirinya mempunyai rencana yang akan dia gunakan selama belum bisa terang-terangan mendekati Mawar.


Yakni menggunakan Jerome untuk mendekati Mawar. Berkedok kata sahabat. Deren akan terus mendekati Mawar lewat Jerome.


Dona memandang kesal ke arah Deren. "Deren, elo perusak." batin Dona dongkol.


Rencana yang disusunnya hampir membuahkan hasil. Tapi Deren datang dan mengacau.


Dona yakin, jika saat ini antar Deren dan Jerome tengah bersandiwara untuk menyelamatkan nama baik Mawar dihadapan para murid lainnya.


"Mawar, gue semakin benci sama elo." batin Dona. Merasa jika Mawar lebih beruntung dari pada dirinya.


"Gue bersumpah, akan mencari cara. Apapun dan bagaimanapun caranya. Gue akan hancurin elo." Dona bertekad untuk membuat Mawar selalu dalam masalah.


Tanpa mengatakan apapun, Dona meninggalkan kelas Jerome. Deren memandang ke arah Jerome, dan memainkan alisnya naik turun.


Jerome tersenyum miring. "Elo pikir elo akan bisa mendapatkan Mawar dengan memanfaatkan gue. Elo salah besar. Karena sebenarnya musuh elo bukan gue, tapi orang tua elo." batin Jerome, tak peduli dengan Dona yang sudah meninggalkan kelasnya.


Dan Dona, dirinya memilih untuk pergi ke UKS alih-alih mengikuti pelajaran di kelas. Berpura-pura sakit. Mengikuti pelajaranpun, Dona tidak akan bisa konsentrasi.


Dipikirannya hanya ada Jerome dan Mawar. Emosinya juga masih membumbung tinggi.

__ADS_1


Membolos. Tidak akan pernah Dona lakukan. Dirinya cukup tahu siapa papanya, dan apa yang akan terjadi pada dirinya.


Bagi sang papa, nama baik adalah hal utama di atas segalanya. Mempunyai anak-anak dan istri yang penurut dan membanggakan adalah kebanggaan terbesar yang dia akan pamerkan, selain kekayaan.


Dan jika Dona melakukan hal yang tidak di sukai sang papa. Pasti Dona akan mendapatkan hukuman.


Dona hanya bisa meremas seprei yang berada di atar ranjang UKS. Krekk..... Dona menyobek seprei tersebut, dengan raut wajah menahan amarah.


Hanya itu yang saat ini Dona bisa lakukan untuk melampiaskan emosi. Berteriak. Tidak. Pasti semua akan heboh dan akan mendatanginya. Dirinya tidak ingin semua sandiwara jika dirinya berubah baik akan terbongkar.


Bahkan, beberapa kali Dona meninju tembok. Hingga tangannya terluka dan berdarah. Beberapa kali Dona menghela dan menghembuskan nafas panjang. Menekan emosi yang tiba-tiba membuncah saat teringat Mawar.


Dari jendela, ada seseorang yang mengintip dan melihat semua apa yang dilakukan Dona. "Gue harus memberitahu Jerome. Dona sangat berbahaya." batin Erza.


Erza dapat melihat dengan jelas. Dona perempuan yang ternyata tidak bisa dipandang remeh jika sudah dikuasai emosi. Bahkan dirinya rela menyakiti dirinya sendiri dengan meninju tembok berkali-kali.


Tidak mustahil, jika Dona juga dengan mudah memutuskan akan mencelakai Mawar. Bahkan bisa berbuat lebih nekat lagi.


"Gue harus mengingatkan Jerome untuk melindungi Mawar. Dona benar-benar sinting." ucap Erza dalam hati.


Sementara di toko kue tempat Lina bekerja, Djorgi diam dengan perasaan yang campur aduk setelah melihat dan mendengar apa yang dibicarakan Caty dan Lina dari layar ponselnya yang terhubung dengan CCTV toko.


Setelah Caty meninggalkan tokonya, Djorgi kembali melihat dan mendengar apa yang dibicarakan oleh adiknya dan Lina lewat kamera CCTV.


"Caty, Lina, Wiryo." gumam Djorgi.


Setelah di beritahu oleh kedua orang tuanya. Jika Caty akan menikahi karyawan yang bekerja di kantor sang papa. Djorgi segera mencari tahu sosok Wiryo.


Sayangnya, Djorgi hanya mencari tahu tentang kinerja dan juga kemampuan Wiryo di dalam perusahaan. Tanpa mencari tahu siapa keluarga Wiryo yang dahulu, sebelum memutuskan untuk menikahi Caty beberapa hari lagi.


"Wiryo dan Lina. Apa mereka..." perkataan Djorgi menggantung.


Masih terekam dengan jelas, saat Lina mengatakan jika dirinya perempuan bersuami. Dengan suaminya yang tengah bekerja di luar kota, makanya dia bekerja. Karena bosan dan jenuh berada di rumah sendirian.


Ditambah lagi, status Lina yang berada di KTP miliknya. Tertulis kata kawin pada statusnya di KTP.


Segera Djorgi memainkan jari jemarinya di layar keyboard. Dirinya sangat penasaran dengan apa yang ada dipikirannya.


Ada rasa senang bercampur was-was, saat mencaritahu status yang disandang oleh Lina.


Djorgi tersenyum samar. Bibirnya yang ingin mengembang sempurna tiba-tiba kembali berbentuk seperti garis lurus.


Djorgi ingin tersenyum, saat membaca biodata Wiryo sebelum bercerai. Dimana di sana tertera nama Lina dan juga Mawar. "Jadi, Lina dan Wiryo. Mereka sepasang suami istri." gumam Djorgi.


Djorgi menyandarkan badannya ke kursi, memijat keningnya dan memejamkan kedua matanya. Teringat akan perkataan kedua orang tuanya.


"Caty dan Wiryo. Mereka berhubungan, padahal status Wiryo masih menjadi suami Lina." gumam Djorgi tersenyum miris.


"Wiryo,,, astaga. Apa yang ada di dalam benaknya." tukas Djorgi, mengingat bagaimana cantiknya Lina tanpa polesan make up.


Bagaimana semangatnya Lina saat bekerja. Dan Djorgi masih mengingat akan Mawar. Saat putri dari Wiryo dan Lina bersalaman dengannya. Mencium punggung telapak tangannya.


Begitu cantik, sopan, dan ramah. "Jika aku jadi Wiryo, aku tidak akan pernah melepaskan kedua perempuan tersebut." gumam Djorgi, yakni Lina dan Mawar.


"Padahal Wiryo sudah memiliki semuanya. Semua begitu sempurna. Tapi kenapa,,, apa yang membuat dia tega berpaling dan menghancurkan keluarga kecilnya?" gumam Djorgi masih tidak percaya.


Ada rasa senang bercampur bingung dalam hati Djorgi.


Senang, karena ternyata dirinya mempunyai perasaan pada perempuan yang mempunyai status janda. Yang artinya dirinya bisa mendekati Lina. Dan berkesempatan untuk mendapatkan hatinya.


Bingung, karena ternyata Lina adalah mantan istri dari Wiryo. Yang berarti, sebentar lagi Wiryo akan menjadi adik iparnya.


Secara otomatis, Mawar juga akan menjadi keponakannya. "Aaaisshhhh,,,," desah Djorgi sedikit frustasi.


Apabila dirinya mengambil keputusan mendekati Lina, apa kedua orang tuanya dan Caty akan setuju. Mengingat Lina adalah mantan istri Wiryo.

__ADS_1


"Kenapa gue malah bingung sendiri." kekeh Djorgi.


__ADS_2