
"Bagaimana, masih sakit?" Erza segera menyusul langkah kaki Mawar. Berjalan di samping Mawar.
Mawar menggeleng. "Salep apa yang kemarin kamu berikan ke aku?"
"Kenapa. Tok cerkan." Erza memainkan kedua alisnya naik turun.
Mawar mengangguk sambil tersenyum. "Gimana lelaki nggak suka sama elo. Sumpah, elo cantik banget Mawar, apalagi pas tersenyum kayak gini." batin Erza.
"Aduh..." jerit Erza, saat tubuhnya menabrak tiang di depannya. Erza mengelus jidatnya yang pastinya terasa sakit dan sedikit benjol.
Semua murid menoleh ke arah Erza karena suara jeritan Erza. Salah Erza sendiri, kedua matanya sibuk memandang Mawar dengan terus melangkah ke depan, sehingga tanpa sadar dirinya tertabrak tiang di depannya.
Mawar menahan tawanya. Bibirnya masih terasa sakit saat digunakan untuk tertawa. Bahkan saat sarapanpun, Mawar merasa sedikit kesulitan memasukkan makanan ke dalam mulut.
Bu Lina tidak tahu jika wajah dan bibir sang putri sedang tidak baik-baik saja. Mawar terlalu pandai menyembunyikan hal tersebut dari pandangan mata sang ibu.
Mengadu. Mawar bukan tipe pengadu. Apalagi Mawar tidak ingin membuat sang ibu sedih. Terlebih Mawar juga malas membicarakan tentang mereka.
Ditambah lagi salep yang diberikan oleh Erza ternyata sangat ampuh, membuat lebam di pipi Mawar tidak begitu terlihat meski masih terasa sakit.
Ditambah, Mawar mengurai rambutnya. Hanya menggunakan jepit di salah satu sisi rambut. Dengan sisi rambut yang sebelahnya dibiarkan terurai, sedikit menutupi pipinya.
Mawar menutup mulutnya. Menahan tawanya. "Apa perlu, salepnya aku kembalikan." ledek Mawar dengan suara lirih.
Erza memandang tajam ke arah Mawar, dengan tangan masih mengelus jidatnya. "Nggak usah ngledek." kesal Erza, berpura-pura.
"Kalau mau tertawa, tertawa saja. Nggak usah di tahan." ucap Erza semakin kesal. Padahal dalam hatinya dia sangat senang melihat Mawar tersenyum bahagia.
Apalagi Erza tahu, jika kemarin Mawar pasti tengah menjalani hari yang buruk. Mawar menggeleng. "Tenang, aku orang yang tahu diri." cicit Mawar.
"Bagus deh kalau gitu." ujar Erza terkekeh pelan.
Beberapa murid berbisik melihat kedekatan Mawar dan Erza. Tak biasanya mereka terlihat jalan berdua seperti ini. Apalagi terlihat jelas jika keduanya seperti akrab. Dona yang berdiri tak jauh di belakang mereka, tersenyum sempurna.
__ADS_1
Dona berpikir jika Erza sudah memulai rencananya. Menjadikan Dona semakin yakin jika Erza benar-benar membantu dirinya. Tidak seperti yang dikatakan oleh Weni.
"Eh,,, apa-apaan sih." ketus Erza, saat tubuhnya tiba-tiba di dorong oleh tangan Jerome.
"Santai Jee, jangan pakai emosi." Erza mencoba mengalihkan tangan Jerome yang menekan dadanya.
Erza tersenyum, sementara Jerome menatapnya dengan tatapan tajam. "Tenang. Gue nggak akan mengkhianati elo." papar Erza.
Erza bisa menebak kenapa Jerome berlaku seperti ini padanya. Tentu karena kejadian barusan. "Sekali elo salah melangkah, gue bisa membaut elo hancur." ancam Jerome.
Jerome meninggalkan Erza seorang diri. "Hahh,,,, jika cinta sudah bicara. Semua akan berubah." gumam Erza.
Erza, remaja yang saat ini duduk di kelas dua SMA. Sama sekali belum pernah merasakan manisnya cinta. Dia hanya hobi bergonta ganti perempuan tanpa melibatkan perasaannya.
Erza melakukannya hanya untuk membuang rasa jenuh dari aktifitasnya sehari-hari. Erza sama halnya dengan Jerome. Dia masih perjaka.
Namun keduanya tetap berbeda. Jerome sama sekali belum pernah berhubungan dengan perempuan. Sementara Erza, play boy handal.
Tiba di kelas, Mawar langsung mendengar kasak kusuk berita siswa terpopuler di sekolah. Siapa lagi jika bukan kelompok Jerome cs.
"Elo beneran nggak tahu?" tanya Mira seakan tak percaya.
Mawar menggeleng. Mendaratkan pantatnya di kursi yang setiap hari dia tempati. "Kata anak-anak, beberapa hari ini mereka tidak lagi melihat Deren diantara ketiga temannya." tutur Mira.
Mawar mengeluarkan buku yang akan di pakai jam pertama pelajaran beserta peralatannya. "Maksudnya apaan?"
"Ckk,,,, beberapa hari ini, Jerome hanya datang berdua saat ke kantin. Hanya dengan Tian dan Luck. Tanpa Deren." jelas Selly.
"Terus, masalahnya apaan?" tanya Mawar lagi, merasa hal tersebut biasa terjadi.
"Mawar sayang, biasanya kan mereka selalu berempat. Dan lagi, ada yang bilang. Jika sikap Deren sekarang berubah. Di dalam kelas saja dia juga bersikap acuh sama ketiga temannya yang lain. Pokoknya tidak seperti biasanya." ungkap Mira.
"La iya, masalahnya ada di mana?"
__ADS_1
"Iiihh,, Mawar... Pastinya ada yang tidak beres. Kan biasanya mereka tidak seperti itu. Begitu." kesal Mira, sebab Mawar terlihat sama sekali tidak kepo.
Mawar menipiskan bibir. "Ya, suka-suka merekalah. Mungkin Deren sedang nggak mood ngobrol." ujar Mawar.
Mira dan Selly saling berpandangan. Keduanya tersenyum penuh arti, lalu beralih memandang ke arah Mawar. "Mawar, elo cari tahu gih. Ada apa dengan mereka." saran Selly.
Mira tersenyum sempurna. Berharap Mawar akan melakukan ide mereka. "Ogah. Kerjaan aku banyak. Lagian aku bukan wartawan. Ngapain cari berita orang. Nggak dapat uang lagi." cicit Mawar.
Mira dan Selly hanya bisa melongo dan mendengus sebal. Sementara seseorang di dekat jendela, tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan oleh Mawar.
"Elo udah denger?" tanya Tian, berbisik di dekat Luck.
Luck mengangguk. "Anak kecilpun pasti akan tahu. Jika terjadi sesuatu di antar kita." ungkap Luck.
"Kita harus segera bertindak. Jika dibiarkan, semuanya akan malah kacau dan akan berlarut?larut nggak jelas." papar Tian.
Luck dan Tian membawa Deren dan Jerome ke rooftop sekolah. Dengan pembagian tugas, Luck membawa Deren. Dan Tian membawa Jerome.
Mana mungkin mereka berdua akan berjalan sendiri dengan senang hati tanpa ada paksaan. "Ehh,, mau ke mana?" Tian menarik Jerome yang ingin pergi begitu saja meninggalkan mereka.
Sementara Deren yang datang lebih dulu, duduk di atas meja dengan acuh. Menatap Jerome pun, Deren enggan.
"Kalian berbicaralah. Kita akan meninggalkan kalian berdua di sini." jelas Tian, dirinya dan Luck meninggalkan mereka berdua.
Berharap jika Deren dan Jerome bisa menyelesaikan masalah mereka dengan baik. "Bagaimana jika mereka berantem?" tanya Luck cemas.
Tian mengunci pintu dari luar. Sehingga mereka akan tetap berada di dalam, sampai Luck atau Tian membukanya. "Tenang saja, tidak akan terjadi baku hantam. Gue yakin itu." tutur Tian.
Jerome mencoba membuka pintu namun gagal. "****,, mereka mengunci pintunya." umpat Jerome. Lalu menyandarkan tubuhnya di dinding.
Hening. Sepuluh menit mereka berada di sana. Tak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun. Tampaknya ego mereka masih tinggi.
Terdengar bunyi bel, pertanda jam istirahat selesai. Dan keduanya masih berada di rooftop, saling diam.
__ADS_1
Untuk kelas selanjutnya, Luck dan Tian sudah mencarikan alasan pada guru pengajar, untuk Deren dan Jerome yang tidak bisa hadir dalam kelas beliau.