
Jerome merasa kesal setiap melakukan apapun itu. Pikirannya selalu tertuju pada Mawar. Bahkan, tangannya terluka saat melakukan sesuatu karena di dalam benaknya hanya ada wajah Mawar.
Nyonya Mesya mengobati tangan Jerome yang tergores alat mekanik. "Kenapa bisa seperti ini?" Ditiupnya luka Jerome seraya diobati.
Nyonya Mesya memasukkan semua obat dan peralatannya ke dalam kotak obat. "Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Nyonya Mesya.
"Tidak ada." sahut Jerome dengan ekspresi datar.
Nyonya Mesya tak bertanya. Beliau cukup paham dengan karakter dari sang putra. Jerome dari dulu tidak pernah terbuka pada dirinya. Tentang apapun itu.
Berbeda dengan sang adik. Meski sedari kecil diasuh dan dirawat oleh saudara sang mama, tapi Jihan selalu mengatakan apapun itu pada Nyonya Meysa. "Besok mama akan menemui adikmu, Jihan." pamit Nyonya Mesya.
"Hemmm..." sahut Jerome. Berdiri, meninggalkan sang mama yang masih duduk di kursi.
Jerome masuk ke dalam kamar, mendaratkan pantatnya ke kursi dengan kasar. "Mawar...!!" geram Jerome, meninjukkan tangannya ke udara.
Jerome lagi-lagi melihat ponselnya. Nihil. Tak ada pesan atau panggilan tidak terjawab dari Mawar.
"Kenapa malah gue yang seperti ini." gumam Jerome.
Dia sengaja tidak menghubungi Mawar. Dan terakhir bertemu, saat mereka berkumpul di rumah Mawar. Sepulang dari rumah Tuan Joko.B
Jerome berharap, dengan mengacuhkan Mawar, maka Mawar akan lebih dulu menghubunginya. Serta akan menerima sang mama. Memaafkan apa yang sudah dilakukan oleh Nyonya Mesya pada Mawar.
Tapi semua tidak seperti harapan Jerome. Mawar yang malah mengacuhkannya. "Sial... Kenapa malah gue yang diabaikan Mawar."
Pintu kamar Jerome diketuk dari luar. Dengan malas, Jerome berdiri. Membuka kunci pintu kamarnya. Lalu dibuka pintu tersebut.
__ADS_1
Tanpa melihat siapa yang mengetuk, Jerome langsung membalikkan badan. Kembali duduk di kursi dengan ekspresi datar bercampur kesal.
"Jangan memasang wajah seperti itu." tegur Tuan Adipavi.
Jerome memandang sang papa sekilas. Lalu kembali mengalihkannya ke arah lain tak menghiraukan teguran sang papa. Tuan Adipavi duduk di samping Jerome.
Beliau juga merasakan perubahan sikap sang putra beberapa hari terakhir. Jerome tidak bisa menahan emosi. Juga bertindak secara ceroboh.
Padahal, Jerome terkenal dengan sifat tenang. Tidak mudah terpancing emosinya. Serta berpikir baik, dan penuh pertimbangan setiap hendak melakukan sesuatu.
Apalagi, ekspresi wajah Jerome tak seperti biasa. Dia lebih banyak cemberut dan juga bertampang layaknya singa yang sedang kelaparan.
"Ada terjadi sesuatu dengan Mawar?" tanya Tuan Adipavi, langsung menebak ke sana.
Siapa lagi yang sanggup membuat seorang Jerome seperti ini. Jika bukan karena gadis bernama Mawar. "Perempuan itu memang susah dipahami. Jadi kamu harus sabar."
Jerome masih terdiam. Mulutnya masih terkunci rapat. Bahkan dia sama sekali tidak memandang sang papa.
Tuan Adipavi menepuk pundak Jerome. "Tanyakan dengan pelan dan baik-baik, apa yang diinginkan oleh Mawar. Apa perlu papa bantu kamu?"
"Jangan." sergah Jerome.
"Jika perlu, kita undang Mawar sekeluarga untuk makan malam di sini. Bagaimana?" tawar sang papa.
Jerome memijat pangkal hidungnya. "Sebenarnya Jerome sengaja mendiami Mawar. Bukannya merasa bersalah, Mawar malah mengabaikan Jerome." jelas Jerome mulai terbuka.
Tuan Adipavi mengangguk. "Apa kesalahan yang dibuat Mawar sangat fatal?"
__ADS_1
Jerome terdiam sesaat. Tidak segera menjawab pertanyaan dari sang papa. "Apa Mawar menyukai lelaki lain?" tebak Tuan Adipavi.
Jerome menatap kesal sang papa. "Bukan. Tidak seperti itu."
"Lantas?"
"Mawar belum bisa menerima mama. Padahal, mama sudah meminta maaf."
Tuan Adipavi sekarang mengerti, permasalahan diantara kedua remaja tersebut. "Apa yang kamu inginkan dari Mawar?" tanya Tuan Adipavi.
"Mawar memaafkan mama kamu. Bersikap seolah tidak pernah merasakan sakit hati. Seperti itu?" lanjut Tuan Adipavi.
"Sekarang kamu tanyakan dengan jujur pada mama kamu. Kenapa mama dengan mudah meminta maaf ke Mawar. Kenapa mama dengan mudah mau menerima Mawar?"
Tuan Adipavi menggelengkan kepalanya perlahan. "Karena harta. Karena Mawar adalah cucu dari seorang Tuan Tomi. Kamu seharusnya cukup tahu, siapa Tuan Tomi."
"Jangan pernah memaksa Mawar. Semua butuh waktu. Jangan memaksakan kehendak kamu."
Jerome hanya terdiam. Mendengarkan setiap perkataan dari sang papa. "Apa kamu pikir, mama kamu akan dengan senang hati meminta maaf ke Mawar, mau menerima Mawar, jika Mawar masih seorang remaja yang berada dari keluarga miskin."
"Satu lagi. Kamu tidak pernah berada di posisi Mawar. Dimana kamu dipermalukan di hadapan banyak orang. Dimana kamu dipandang remeh oleh mereka semua."
Jerome menunduk. Mengusap wajahnya dengan kasar. "Papa kecewa sama kamu. Papa harap, Mawar akan mendapat lelaki yang lebih baik dari kamu."
"Ingat Jerome, tidak sulit bagi Mawar mendapatkan lelaki selain kamu. Papa yakin di luar sana, banyak lelaki yang mendekati Mawar."
Tuan Adipavi meninggalkan kamar Jerome. Membiarkan sang putra merenungi kesalahan yang telah dia perbuat.
__ADS_1
Jerome menyandarkan punggungnya ke kursi. Menengadahkan kepalanya, memandang langit-langit kamar. Mencoba menelaah setiap kalimat yang keluar dari mulut sang papa.
"Tidak. Jangan sampai Mawar jatuh ke pelukan lelaki lain. Hanya gue. Hanya gue yang akan menjadi pendamping Mawar." gumam Jerome.