MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 73


__ADS_3

Dona menjauh sejenak dari Mawar. Dirinya tentu saja tidak ingin gegabah melakukan sesuatu pada Mawar. Apalagi sangat jelas terlihat jika Jerome beserta ketiga temannya sangat melindungi Mawar.


Bisa-bisa semuanya yang direncanakannya akan berantakan. Dan malah akan menjadi bumerang untuknya sendiri.


Dona memang mewarisi otak licik dari sang papa. Dirinya juga mewarisi sikap dan sifat sang papa. Yang tentu saja keberadaannya ingin diakui oleh semua orang.


Di tambah lagi rencana Erza yang menurut Dona tidak ada kemajuan. "Elo gila..!!" bentak Dona pada Erza, saat Erza mengutarakan niatnya.


Keduanya bertemu di belakang sekolah saat jam istirahat. Menurut Dona, inilah tempat teraman untuk keduanya berbicara.


Pastinya dengan Weni yang tak jauh dari mereka. Mengawasi keadaan sekitar saat Dona tengah berbincang dengan Erza. "Sial, lama banget lagi." keluh Weni memandang kesal ke arah Dona dan Erza.


Dengan berat hati, Weni mau dijadikan satpam keamanan oleh Dona. Menolak. Mana berani. "Ckk,,, Dona juga. Jadi orang bodoh banget. Mau percaya begitu saja dengan Erza. Tolol." ejek Weni lirih.


Dona memandang sengit ke arah Erza. "Ya, aku cuma memperlancar rencana kita baby. Mempercepat semuanya." bujuk Erza.


Dona tersenyum heran, menggeleng, berkacak pinggang dan beberapa kali memandang ke arah lain dengan kesal.


"Jerome dan Mawar. Mereka ada di atas panggung. Sebagai pemain utama. Itu yang elo maksud rencana selanjutnya." papar Dona menggebu.


Baru melihat Jerome dan Mawar datang bersama dengan satu mobil saja sudah membuat emosi Dona meledak.


Bagaimana bisa, Dona akan bisa tahan melihat setiap adegan yang memperlihatkan kedekatan mereka berdua. Di atas panggung seni.


Dona menggeleng. "Cari jalan lain." tolak Dona. Tentu saja dirinya sangat amat tidak rela Mawar dengan mudah berdekatan dengan Jerome.


Erza berjalan ke dekat jendela. Tertawa samar tanpa terlihat Dona. "Ya, menurut pemikiran aku, itu rencana yang sangat cepat."


Erza membalikkan badan, dimana Dona masih menatapnya tajam. "Katakan semuanya?!" desak Dona. "Apa yang ada dalam pikiran elo!"


Erza menyandarkan badannya ke tembok. "Semua akan berjalan cepat, jika Mawar dan Jerome sering berdua. Menghabiskan waktu bersama. Tidak mungkin, mereka akan merasakan benih-benih cinta yang akan mulai bersemi." jelas Erza terkait kenapa dia merencanakan hal tersebut.


Sesungguhnya Erza tahu dengan pasti, jika Jerome memang sudah menjatuhkan pilihan hatinya pada Mawar. Sementara Mawar, dirinya masih menikmati kesendiriannya. Tanpa memikirkan seorang lelaki di sampingnya.


Dona terdiam. Mencoba mencerna dsn memikirkan apa yang direncanakan oleh Erza. "Tapi gue, akan tetap menjalankan rencana gue dengan rapi. Dibelakang elo." batin Dona.


Dona akan membiarkan rencana Erza, namun dia juga pastinya tidak akan membiarkan semua itu terjadi. "Biarkan Mawar latihan dengan Jerome. Tapi, gue yang akan tampil menggantikan Mawar dalam peran tersebut." imbuh Dona dalam hati.


Hanya Dona sendiri yang tahu, apa yang akan di rencanakan untuk membuat Mawar terancam bahaya. "Oke, lakukan apa yang elo mau lakukan." seringai Dona.


Erza tersenyum. Tapi Erza bukan lelaki bodoh. Dia sangat tahu karakter dari Dona. Tidak semudah itu Dona mengatakan iya atau menyetujui rencananya.


Dimana Dona menerima begitu saja, lelaki yang diinginkannya beradegan mesra dan intim dengan perempuan yang dibencinya. Mustahil.


"Pasti Dona merencanakan sesuatu di belakang gue." batin Erza tetap tersenyum, supaya Dona tidak salah paham.


"Thank's baby" Erza hendak mendekati Dona, tapi dengan percaya diri, Dona menaikkan tangan kanannya. Mengisyaratkan Erza untuk berhenti.


Dona tersenyum dengan begitu manis. "Gue akan memberikan hadiah yang sangat spesial. Jika rencana kamu berhasil, honey." tekan Dona.


Erza mengangkat kedua tangannya sebatas pundak. "Well. Apapun itu. Aku akan menunggu baby." Erza mengedipkan sebelah matanya dengan genit ke arah Dona.


Dona tersenyum kaku. Merasa jijik dengan apa yang dilakukan Erza. "Muuaachh,,, da,,,," Dona memberi kiss bye pada Erza, membalikkan badan, berjalan meninggalkan Erza.


Dona tersenyum miring. "Elo nggak bisa di bandingin sama Jerome. Mau sentuh gue. Elo pikir elo siapa." gumam Dona.


"Ya,, Dona. Memang elo itu bisa memikat lelaki dengan muda. Siapa dulu, Dona." ucap Dona dengan percaya diri.


Sementara Erza, masih berdiri. Menampilkan senyum sempurna, memandang punggung Dona yang semakin menjauh. Tentu saja, Erza melakukan hal itu. Kedua mata Weni mengawasinya dengan jeli


Tanpa mengatakan apapun, Dona melewati Weni begitu saja. Weni memutar kedua bola matanya jengah, mengekor di belakang Dona seperti anak ayam.


Senyum sempurna Erza langsung berubah menjadi senyum iblis, saat Dona dan bodyguardnya tidak terlihat. "Apa elo percaya?" tanya Erza.


Ternyata, sedari tadi Jerome berada tak jauh dari Dona dan Erza. Jaraknya lebih dekat dengan mereka dari pada Weni.


Sehingga Jerome dapat mendengar semuanya. "Menurut elo?" Jerome balik tanya.


Jerome masih berada di tempatnya, tanpa menunjukkan wajahnya. Jika dilihat, Erza tengah berbicara seorang diri.


Beruntung di sekitar Erza tidak ada siapapun. Sehingga dirinya tidak dianggap seperti orang yang kurang waras. "Elo harus berhati-hati dengan Dona. Gue tadi melihat bagaiman dia melampiaskan amarahnya saat dia berada di UKS." papar Erza.

__ADS_1


"Gue sudah kenal lama dengan dia." ujar Jerome.


Erza bisa menebak dari perkataan Jerome. Jika Jerome dan dirinya sepemikiran. "Suruh teman elo untuk mengawasi setiap gerak-gerik Dona. Dan juga, suruh mereka memantau Mawar dimana pun dia berada. Berikan laporan padaku setiap apapun yang mereka lihat." perintah Jerome.


Erza tersenyum miring. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Nggak ada yang gratis brow." ujar Erza.


Jerome melemparkan sebuah flash disk di depan Erza berdiri. "Temen elo akan gue bayar. Katakan pada mereka."


Dengan santai, tanpa menunggu apa yang akan dikatakan Erza, Jerome pergi meninggalkan Erza yang tengah menatap flash disk yang dilempar oleh Jerome di depannya.


Erza tersenyum samar. Membungkukkan badan dan mengambil benda kecil tersebut. "Elo selalu berada di depan gue." gumam Erza, mengamati benda kecil yang sekarang dia pegang.


Erza menyimpannya ke dalam saku baju seragamnya. "Ya, tapi tak masalah. Bukankah kita simbiosis mutualisme. Sama-sama menguntungkan." gumam Erza.


Entahlah, tidak ada yang tahu apa isi dari flash disk tersebut kecuali Jerome dan Erza. Melihat bagaimana raut wajah Erza, dapat dipastikan jika isinya pasti hal yang menguntungkan untuk Erza.


Seperti biasanya, Mawar dan kedua sahabatnya menikmati bekal makan siang mereka di tempat biasanya. "Mawar, cepat ceritakan?" desak Mira dengan tak sabaran.


"Makan dulu Mira, aku lapar." tolak Mawar, yang memang saat ini cacing di perutnya tengah menari-nari meminta jatah.


Berbeda dengan Mira yang mendesak penjelasan dari Mawar. Selly malah tengah fokus ke layar ponselnya. Entah apa yang ada di layar ponselnya.


"Hey, elo lihat apa sih. Serius banget." tegur Mira.


Merasa tidak digubris oleh Selly, Mira jadi penasaran. Tanpa permisi, Mira mendekat dan melihat apa yang membuat Selly begitu serius melihat apa yang ada di layar ponselnya.


Berbeda dengan Mira yang memiliki jiwa kepo tinggi, Mawar lebih memilih untuk tidak terlalu peduli. Baginya, jika memang bukan privasi. Selly akan memberitahunya tanpa dia tanya.


Mawar sendiri lebih memilih fokus pada bekal makannya. Membukanya kemudian memakannya dengan lahap. Mengisi perut, agar cacing-cacing di perutnya tak lagi menari dan mengganggunya.


Sama seperti Selly, Mira menatap layar ponsel Selly dengan fokus. Keduanya kini malah mengabaikan Mawar dan bekal mereka. "Elo dapat dari mana?" tanya Mira berbisik.


Selly menggeleng. "Ada yang kirimin gue video ini. Gue nggak tahu siapa." jelas Selly.


Selly memperlihatkan foto profil si pengirim, yang hanya bergambar langit biru. Tak ada petunjuk lainnya yang dapat didapatkan Selly untuk mencari tahu siapa pengirim video tersebut.


Mira dan Selly segera beralih kepada Mawar. "Astaga, dia malah makan dengan lahap." dengus Selly kesal. Saat dirinya dan Mira mengkhawatirkannya.


"Aku lapar. Nomor satu isi perut dulu. Baru yang lain. Kalau lapar, pikiran jadi nggak fokus." cicit Mawar disela menikmati makan, tahu jika perkataan Selly ditujukan untuk dirinya.


Video yang dilihat oleh Mira dan Selly adalah video kejadian tadi pagi di kelas Jerome. Dimana Dona berusaha membuat Jerome dan seluruh siswa di kelas tersebut menilai Mawar sebagai perempuan yang egois. Manfaatkan kecantikannya untuk menjerat lelaki yang diinginkannya.


Mawar mengangguk. Dia belum menyahuti perkataan Selly karena mulutnya masih penuh dengan makanan yang belum ditelan. "Dari mana elo tahu, apa elo juga dikirimi video kayak Selly?" tanya Mira penasaran.


Mawar menghentikan makannya. "Video?" cicit Mawar mengerutkan keningnya.


"Bukan?" tanya Mira memastikan.


Mawar menggeleng. "Enggak. Enggak ada yang ngirimin aku video."


"Lantas apa?" tanya Selly.


"Memang video apa?"


Selly menyalakan ponselnya, memperlihatkan video yang dikirimkan seseorang padanya. Ekspresi Mawar tampak biasa. Tak terkejut sama sekali. "Siapa yang mengirim ke kamu?"


Selly menggeleng. "Aku sih sudah bisa menebak. Jika Dona hanya memainkan peran." ujar Mawar, mengembalikan ponsel Selly.


"Mana ada iblis akan berubah menjadi malaikat. Sampai dunia kiamat juga tidak akan terjadi." celetuk Mira.


Mawar meminum beberapa teguk air dalam botol. "Kalian pikir, aku mau diajak berangkat bareng Jerome karena apa?" Mawar mencoba memberi tebakan pada Mira dan Selly.


Mira dan Selly saling pandang. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah Mawar secara bersamaan. "Jangan bilang, Dona membuat masalah sama kamu di butik." terka Selly. Yang diangguki Mira, sependapat dengan pemikiran Selly.


"Tepat." jawab Mawar.


Mira dan Selly melongo. "Benar-benar brengsek." umpat Selly menggenggam sendoknya dengan erat.


"Tapi elo nggak apa-apakan? Apa yang diperbuat perempuan gila itu?" tanya Mira berurutan.


Mawar tersenyum. "Seperti yang kalian lihat. Aku baik. Dan ya, masih bekerja di butik. Dona nggak secara langsung membuat masalah sama aku. Otaknya sangat cerdik." papar Mawar.

__ADS_1


Mawar sengaja tidak menceritakan secara mendetail ke Mira dan Selly. Dirinya tidak ingin kedua sahabatnya kepikiran akan dirinya.


"Memangnya Dona melakukan apa? Kok kamu bisa tahu? Apa yang terjadi?" giliran Selly yang merasa penasaran.


"Pokoknya ada. Kalian tenang saja. Jika di sini ada kalian berdua. Di butik ada mereka bertiga." jelas Mawar.


"Elo harus selalu berhati-hati. Gue takut, dia akan melakukan hal yang nekat dan malah akan mencelakai elo." ingat Mira.


"Iya, dan kita harus berterimakasih sama mereka. Sudah menjaga kamu selama di butik." tutur Selly, ditujukan pada ketiga rekan kerja Mawar di butik.


Ketiganya kembali melanjutkan makan mereka sembari berbincang. "Tapi Dona benar-benar marah saat kamu berangkat dengan kak Jerome. Apalagi kak Jerome sampai membukakan pintu mobil kamu."


"Sumpah, wajah Dona memerah menahan amarah." kekeh Mira.


"Benar. Apa itu beneran, atau..." Mira menggantungkan kalimatnya.


"Nggak, kak Jerome juga tahu kok. Kalau dia aku manfaatkan." papar Mawar.


"What!! Bagaimana bisa? Apa dia nggak marah?" cecar Mira terkejut.


Mawar menggeleng. "Awalnya aku nggak mau cerita. Tapi ada perasaan bersalah. So, aku cerita semuanya ke dia."


"Lantas?"


"Ya, diluar dugaan aku. Kak Jerome malah dengan senang hati membantu aku."


"Termasuk saat membukakan pintu?"


"Ya, sebab dia melihat ada Dona."


"Jadi dia bermaksud memanas-manasi Dona?" Mawar mengangguk.


Mira dan Selly saling melirik. "Emm,,, gimana kalau ternyata kak Jerome benar-benar menyukai kamu?" tanya Selly, namun dengan suara lirih.


Mawar terdiam. Memandang ke arah Selly penuh arti. "Benar. Bukankah selama ini nggak pernah ada sejarah kak Jerome dekat dengan perempuan. Bahkan dia sama seperti ketiga temannya yang lain. Seperti anti perempuan." jelas Mira lirih.


"Iya Mawar, apalagi gue melihat beberapa minggu ini elo dan Deren nggak seperti sebelumnya." imbuh Selly.


Mawar menghela nafas pelan. Tersenyum manis. "Entahlah. Mana aku tahu. Kenapa kak Jerome baik dan bahkan mau membantu aku. Kenapa kak Deren seperti menjauh dari aku. Aku nggak tahu." Mawar menggeleng pelan.


Bohong. Mawar sengaja berbohong. Tidak mungkin dirinya mengatakan jika Deren pernah menyatakan perasaannya, dan dia menolak.


Meski sempat ada perbincangan antara dirinya dan Deren. Jika mulai sekarang mereka akan berteman. Namun nyatanya, Deren malah semakin menjauhi Mawar.


Dan baru saja, Mawar melihat bagaimana Deren membela dirinya di depan Dona. Meski dengan cara tidak langsung. "Lelaki memang membingungkan." batin Mawar.


Dan untuk Jerome. Mawar juga bisa menebak. Jika Jerome juga menyukainya. Jerome dan Deren. Dia lelaki yang sepertinya memiliki pemikiran yang sedikit sama mengenai perempuan.


Mawar takut, jika apa yang ada dibenaknya benar-benar terjadi. Jerome menyukai dirinya. "Jika memang benar seperti itu, apa yang harus gue lakukan." batin Mawar dalam hati.


Mawar tersenyum samar. Merutuki pikiran bodoh yang sekelebat terbesit dalam benaknya. Bertanya pada Jerome, apa dia menyukainya apa tidak.


"Elo akan membuat diri elo malu. Dasar bego." umpat Mawar dalam hati untuk dirinya sendiri.


Ya kalau benar Jerome menyukainya. Jika ternyata benar adanya, ternyata Jerome hanya membantu dirinya untuk membuat Dona kepanasan. Bukankah Mawar akan malu setengah mati.


Sudah sok tahu. Tebakan salah. Bisa-bisa Jerome mengatakan jika Mawar sok cantik. "Ayolah Mawar, berpikirlah yang waras." ucap Mawar dalam hati.


Di tempat kerjanya, bu Lina langsung pamit izin ke kamar mandi pada rekan kerjanya di dapur, begitu selesai berbincang dengan Caty. Beliau beralasan kebelet.


Bu Lina memegang kartu undangan pernikahan yang Caty berikan padanya. "Apa aku harus memberikannya pada Mawar." gumamnya.


Ikhlas. Bu Lina sudah berusaha untuk melakukan hal tersebut. Meski air mata tidak lagi jatuh seperti dulu, namun tak dapat dipungkiri. Ada rasa sesak di dadanya, saat melihat kartu undangan pernikahan tersebut.


Belum genap dua bulan perceraian mereka. Wiryo dan Caty sudah menikah. Bu Lina tersenyum kecut. "Ternyata kamu memang sangat mencintai dia mas." gumamnya.


Menebak jika mereka segera menikah karena memang saling mencintai. Bu Lina menarik dan menghembuskan nafas panjang. "Terkadang, takdir memang lucu. Segampang itu membolak-balikkan perasaan dan keadaan."


Bu Lina membasuh wajahnya. Memejamkan mata sebentar. "Tuan Djorgi. Ckk,,," decak Bu Lina sedikit frustasi.


"Apa aku harus memberitahunya. Tapi untuk apa. Untuk alasan apa. Yah,,,, lebih baik aku fokus bekerja. Tidak perlu memberitahu apapun pada Tuan Djorgi. Aku akan menjawab, jika beliau bertanya." ujar Bu Lina memutuskan.

__ADS_1


Lagi pula, bu Lina juga berpikir jika hal tersebut tidak ada hubungannya dengan dirinya dan Tuan Djorgi. Dirinya hanya sebagai karyawan sekaligus mantan suami dari calon adik iparnya.


Bu Lina merapikan pakaiannya. Dan segera kembali ke dapur untuk bekerja bersama dengan karyawan lainnya.


__ADS_2