
Untuk beberapa hari ke depan, murid SMA kelas satu dan dua libur dari kegiatan belajar mereka. Semua dikarenakan murid kelas tiga sedang mengikuti ujian akhir.
Yang artinya mereka sebentar lagi akan lulus SMA. Sementara untuk kelas satu dan dua, mereka akan melakukan ujian kenaikan kelas beberapa minggu lagi. Setelah kelas tiga selesai melakukan ujian.
"Apa yang selama ini kamu lakukan!" bentak Tuan Joko, papa dari Dona dan Dami dengan suara menggelegar memenuhi ruangan.
Beberapa pembantu terkejut mendengar suara Tuannya yang sedang murka. Tak ingin kena imbas, mereka segera menghindar..
Selama ini, Tuan Joko selalu mendapat laporan dari wali kelas Dona. Jika sang putri selalu mendapatkan nilai yang baik. Membuat dirinya selalu tersenyum bangga.
Dengan adanya laporan seperti itu, tentu saja Tuan Joko meluluskan semua permintaan Dona. Menambah uang jajannya.
Dan yang lebih membuat Dona tersenyum senang, tidak ada lagi bawahan sang papa yang mengawasinya. Membuatnya terbang bebas layaknya burung di atas awan.
"Pa..." Nyonya Utami mencoba membuat keadaan tidak semakin tegang dan kacau. Apalagi masih ada orang asing di rumah mereka.
Tuan Joko menatap tajam ke arah Dona. Dirinya ingin terlihat jika mempunyai keluarga harmonis dengan istri dan kedua anaknya yang bisa di banggakan.
Dona duduk, menunduk terdiam. Besok adalah hari pertama ujian yang akan dia lewati beserta murid kelas tiga SMA lainnya.
Dan malam ini, tanpa sepengetahuan Dona, sang papa mendatangkan seorang guru. Sang papa sengaja mendatangkan beliau untuk melihat kemampuan Dona dalam mata pelajaran yang akan diujikan besok.
Beliau bermaksud untuk pamer. Orang yang dipanggil tersebut adalah guru yang biasanya memberi pelajaran pada anak rekan kerjanya.
Atas rekomendasi rekan kerjanya, Tuan Joko memilih orang tersebut. Lihatlah, betapa wajah Tuan Joko serasa di hantam puluhan kilo batu, dengan apa yang ditunjukkan Dona pada dirinya.
Dona yang memang tidak pernah belajar serius, sama sekali tidak bisa menjawab setiap pertanyaan dari sang guru dadakannya tersebut.
Lelaki yang dipanggil Tuan Joko, sebagai guru dadakan memasang ekspresi datar yang tidak bisa ditebak oleh orang lain.
Untuk mengurangi rasa malunya, Tuan Joko menyuruhnya segera pergi. Memberikan sejumlah uang dengan jumlah yang lebih besar dari kesepakatan sebelumnya, sebagai penutup mulut.
Dia tidak boleh mengatakan pada siapapun apa yang terjadi di dalam rumah. Dan apa yang dilihat dan juga dia dengar. Lelaki tersebut hanya bisa mengangguk patuh.
Bagi seseorang seperti dirinya. Terkadang bersikap acuh dan bodoh malah akan menyelamatkannya dari bahaya. Apalagi dia juga tahu, betapa berbahayanya Tuan Joko Gianindra.
"Selama ini, apapun yang kamu minta selalu papa turuti. Kenapa kamu malah semakin tak tahu diri!!" bentaknya semakin keras.
Tampak raut wajah Tuan Joko yang memerah dengan kedua mata membesar, menahan amarah yang akan meledak, jika tidak bisa terkontrol.
Tuan Joko semakin tidak mengerti. Kenapa laporan yang selalu dia terima dari wali kelas Dona sangat berbanding terbalik dengan apa yang dia lihat saat ini.
Dona benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan. Bahkan, di setiap jawabannya, Dona selalu salah. Tidak ada satupun yang betul.
"Pa..!!" Nyonya Utami juga meninggikan suaranya.
Tuan Joko menatap tajam ke arah sang istri. "Jangan terlalu keras." ucap Nyonya Utami mengingatkan.
"Papa tidak mau tahu. Kamu harus lulus dengan nilai bagus. Jika tidak, kamu akan tahu sendiri resikonya." ancam sang papa.
"Pa." Nyonya Utami merasa suaminya sudah kelewat batas. Beliau sadar, jika setiap orang mempunyai batas kemampuan sendiri-sendiri.
"Ingat. Aku hanya ingin hasil yang memuaskan." tekan Tuan Joko penuh makna.
"Pa." Nyonya Utami menggeleng tak percaya. Beliau takut jika sang putri akan melakukan hal bodoh, yang nantinya akan berimbas fatal. Dan malah akan menjadi hal dia sesali ke depannya.
Tuan Joko pergi begitu saja, menghiraukan sang istri dan Dona yang masih duduk terdiam tak bergerak sedikitpun. Rasa kesalnya membuncah, dirinya seperti sedang dipermainkan.
Nyonya Utami menghela nafas panjang. "Jangan terlalu kamu pikirkan ucapan papa. Ingat, besok kamu akan ujian. Lebih baik kamu belajar di kamar saja."
Nyonya Utami menggeser duduknya mendekat ke arah Dona, hendak menyentuh lengan sang putri, tapi dengan tidak sopannya, Dona menepis tangan sang mama.
"Jangan cuma bisa berkata ini itu. Jika tidak tahu jalan keluarnya." sarkas Dona.
"Dona!!" tegur Dami dengan suara kencang. Sedari tadi, Dami melihat semua yang terjadi. Dirinya hanya diam dan mengawasi.
Takut jika sang ayah akan melakukan tindakan fisik pada sang adik. Ternyata sang ayah hanya berbicara kasar, tanpa menyentuh seujung rambut sang adik.
Hal tersebut cukup melegakan bagi Dami. Namun tidak saat ini. Dimana Dona malah tidak tahu aturan berbicara kasar dan menampik tangan sang mama.
Padahal niat sang mama baik. Nyonya Utami hanya ingin membuat perasan Dona tenang. "Dami, sudah. Jangan diteruskan. Ini sudah malam." papar Nyonya Utami. Berdiri dan memegang lengan sang putra.
Dona dan Dami saling memandang tajam. Dona berdiri, tersenyum sinis. "Kenapa? ingin mengejek. Cih..." sungut Dona. Merasa direndahkan dengan tatapan sang kakak.
Dona berjalan, menabrakkan lengan bagian atasnya pada tubuh sang kakak dengan keras. Karena memang perbedaan tinggi mereka.
Meninggalkan sang kakak dan sang mama. Pergi ke dalam kamar. "Biarkan." pinta Nyonya Utami.
Dami menahan rasa kesalnya. "Dona sudah melewati batas ma." geram Dami dengan suara rendah.
Nyonya Utami mengelus lengan sang putra. Dirinya tidak ingin ada pertengkaran di dalam rumah. Meski tidak ada kehangatan, setidaknya janganlah ada pertengkaran.
Itulah yang diinginkan oleh Nyonya Utami. Hanya itu, untuk saat ini.
Dona menutup pintu dengan keras. Menguncinya dari dalam. "Aaa...!!!! Sial...!!" teriaknya dengan keras.
Dona menjatuhkan pantatnya dengan kasar di tepi ranjang empuk miliknya. Memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. "Kenapa papa tiba-tiba melakukan semua ini. Iihhh..." kesalnya, memukul kasur dengan keras.
Meski begitu, tangan Dona sama sekali tidak sakit, sebab kasurnya sangat empuk. "Apa yang harus gue lakukan." desah Dona mulai memikirkan cara licik.
__ADS_1
Otak Dona buntu. Dirinya tidak tahu harus berbuat apa. Yang Dona tahu, jika sampai nilainya tidak sesuai keinginan sang papa, maka tamatlah riwayat Dona.
"Pasti papa akan menyiapkan sesuatu. Eeerrgghhh." Dona menggeram frustasi. Dirinya tidak ingin kebebasannya terenggut karena hukuman dari sang papa.
Otaknya tidak sama seperti sang kakak. Jika Dami selalu mendapatkan nilai bagus. Tidak dengan dirinya. Itulah kenapa Dona menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan nilai yang bagus.
Sebenarnya, Dona tidak benar-benar bodoh. Hanya saja Dona memang sama sekali tidak pernah belajar. Bagaimana mau belajar, membaca buku saja tidak pernah.
Selama ini, Dona selalu mengandalkan uang sebagai penjelasannya. Dona tersenyum iblis. "Kenapa gue mesti bingung. Seperti biasa saja." ucapnya santai.
Dona memang benar-benar titisan Tuan Joko. Licik dan ingin selalu dianggap segalanya oleh orang lain. Tanpa peduli, bagaimanapun caranya mendapatkan itu semua.
Seperti biasa. Dona akan kembali mengancam seorang siswa yang sekelas dengannya. Dimana dia siswa terpandai di kelasnya.
Semua tugas Dona selama ini dia yang mengerjakan. Tanpa ada yang tahu. Sehingga nilai Dona selalu bagus.
Siswa tersebut memang bukan dari keluarga miskin. Namun juga tidak kaya. Tapi jika Dona menginginkannya, Dona akan melakukannya.
Dona mencari tahu tentang dirinya. Menjadikan sesuatu yang dianggapnya sebagai aib keluarga, sebagai senjata untuk Dona mengancam dirinya.
Sehingga, apapun yang Dona inginkan darinya. Dia akan melakukannya.
Dona memegang ponselnya. Menimang ponselnya dengan senyum simpul yang sempurna. "Beres." kekehnya.
"Ehh,, kenapa gue nggak menggunakannya untuk membuat masalah dengan Mawar." entah dari mana, tiba-tiba terbesit ide gila itu.
Tapi Dona mengurungkan niatnya. "Jangan. Semakin banyak yang tahu, posisi gue akan semakin berbahaya. Apalagi gue juga nggak tahu, sampai kapan dia akan jadi anjing peliharaan gue." cicit Mawar.
Berbeda dengan ketiga temannya. Siska, Weni dan Gaby. Mereka berempat berteman karena sama-sama mencari keuntungan masing-masing..
Dona membaringkan tubuhnya. Tangannya bergerak lincah di layar ponsel. "Selesai." ucapnya, setelah mengirim pesan tertulis pada seseorang.
Dona meletakkan begitu saja ponsel miliknya. "Dewi keberuntungan memang selalu berpihak ke gue." seringai iblis tercetak nyata di bibir Dona.
Bagaimana tidak, murid yang selalu berada di bawah tekanannya, besok dan hari-hari selanjutnya akan berada sekelas dengannya. Bukankah itu sebuah keberuntungan.
Sementara di tempat lain, Mawar duduk di depan televisi dengan tangan memegang makanan ringan. Sesekali memasukkan camilan tersebut ke dalam mulutnya.
"Kamu mau ke mana sayang?" tanya sang ibu, melihat Mawar yang sedang menonton acara televisi.
Mawar menggeleng, pertanda belum tahu. Untuk beberapa hari ke depan dirinya akan kemana. Tetap santai di rumah. Menggunakan beberapa hari ini untuk beristirahat, atau pergi entah kemana.
Di tambah lagi, butik juga tutup bersamaan dengan Mawar yang sedang libur sekolah. Nyonya Utami hanya menjelaskan pada para pegawai butik. Jika butik akan tutup selama tiga hari.
Tanpa menyebutkan alasan kenapa butik tutup. Para pegawai termasuk Mawar juga tidak bertanya. Mereka sadar diri. Dan tidak ingin terlalu dianggap sok tahu.
Keempatnya malah bersyukur. Mereka tidak harus izin libur, untuk sekedar beristirahat. Bagi pekerja seperti mereka.
"Bu, Mira mengajak Mawar pergi?"
Bu Lina duduk di samping Mawar, sibuk membenahi kancing kemeja seragamnya yang lepas. "Kemana?"
"Ke rumah neneknya. Mawar sendiri juga tidak tahu di mana." jelas Mawar, dengan mata masih fokus pada layar ponselnya.
Sebab, Mawar masih berkirim pesan tertulis dengan Mira dan Selly. "Sama siapa?"
"Mira dan Selly."
"Terserah kamu, yang terpenting kalian harus hati-hati." jelas sang ibu.
Mawar mengangguk. Membalas pesan dari kedua temannya tersebut. "Mira mengajak berangkat besok pagi. Katanya dia mau ke sini. Menjemput Mawar."
"Kalian di antar siapa?"
"Sopir Mira, bu." jelas Mawar.
"Ya sudah, kenapa kamu masih di sini. Sana, siap-siap."
"Ibu, siap-siap apa coba. Tinggal bawa baju dua atau tiga stel saja beres." Mawar tertawa renyah, masih dengan posisi seperti sebelumnya.
Menikmati camilan dengan memanjakan mata melihat ke layar televisi. "Kamu itu." sahut bu Lina.
Tiba-tiba ponsel Mawar berbunyi. "Mbak Santi, tumben. Ada apa?" gumam Mawar, melihat siapa yang menghubunginya.
"Iya mbak, ada apa?" tanya Mawar, setelah menggeser tanda berwarna hijau di layar ponselnya.
"Oh,,, baik mbak." Mawar mematikan ponselnya.
"Mau ke mana?" tanya sang ibu, melihat Mawar dengan tergesa berdiri.
"Ada teman kerja Mawar bu, di depan." jelas Mawar sambil berjalan.
Mawar segera membuka pintu rumah. Tampak Santi dan Tia berdiri di depan gerbang rumah Mawar.
"Masuk mbak." ajak Mawar.
"Di sini saja." pinta Santi, saat Mawar ingin masuk ke dalam rumah.
Mawar belum menjawab, tapi Tia dan Santi duduk di kursi yang tersedia di teras rumah. "Mbak tahu rumah Mawar dari mana?"
__ADS_1
"Dulukan aku pernah tanya alamat kamu." ujar Tia.
Mawar mengangguk. Membenarkan apa yang dikatakan oleh Tia. "Sebentar mbak, Mawar ambilkan minum. Mbak Santi dan mbak Tia mau minum apa?" tanya Mawar dengan sopan dan ramah.
"Terserah. Tapi yang anget ya..." papar Tia tersenyum, karena hawa dingin di malam hari. Pasti cocok jika minum yang hangat.
Mawar tersenyum, segera membuatkan keduanya teh hangat. "Kenapa tidak diajak masuk ke dalam?"
Mawar mengaduk ain yang sudah diseduh dengan teh dan gula di dalam gelas. "Mereka maunya bicara di luar bu. Sambil menikmati bintang bertaburan."
"Kamu ini, ada-ada saja."
Mawar menurunkan dua buah gelas berisi teh hangat di atas meja beserta setoples camilan.
"Ini mbak, silahkan diminum. Ini kue yang bikin ibu Mawar lo mbak." cicit Mawar, sebelum dirinya mengikuti keduanya untuk duduk di kursi yang masih kosong.
"Aku kira kamu yang buat." celetuk Santi, mengambil kue kering berbentuk bulat-bulat kecil tersebut. "Enak." Santi mengangguk dan kembali mengambil sedikit lebih banyak.
"Ada apa mbak, tumben malam-malam ke sini?" tanya Mawar.
Santi dan Tia saling melempar pandangan. Mawar merasa sedikit aneh, pasalnya diantara mereka malah tidak segera menjawab pertanyannya.
"Mbak..." panggil Mawar dengan lembut.
"Soal Amel." cicit Tia langsung ke topik pembicaraan.
Karena memang, Amel sudah tidak masuk kerja selama dua hari. Dirinya beralasan sakit. "Kenapa mbak Amel, apa kalian mau jenguk mbak Amel?" tanya Mawar.
"Sudah, ini kami baru dari rumah Amel. Terus langsung ke sini." papar Santi menjelaskan.
"Kok nggak ngajak Mawar sih mbak." Mawar merasa tidak enak hati.
"Sudah, tidak perlu membicarakan itu dulu." Tia memotong kalimat mereka.
"Ada yang aneh dengan wajah Amel." jelas Tia.
"Aneh." cicit Mawar, yang dijawab anggukan oleh kedua rekan kerjanya tersebut.
"Amel beralasan jika dia jatuh dari motor. Tapi kami bukan anak kemarin sore yang bodoh."
"Iya, wajahnya seperti lebam karena pukulan. Dan juga, sangat aneh. Amel memakai pakaian berlengan panjang. Dia beralasan jika dingin. Padahal kami lihat dia berkeringat."
Mawar masih diam. Menyimak apa yang dikatakan Santi dan Tia. "Kok bisa?"
"Itu dia. Kami datang ke sini, mau bertanya sama kamu."
"Apa mbak?"
"Apa Amel pernah bercerita sesuatu sama kamu?" tanya Santi.
Bukan tanpa alasan Santi bertanya seperti ini pada Mawar. Pasalnya, beberapa hari sebelum Amel minta izin tidak bekerja karena sakit, Amel terlihat dekat dengan Mawar.
Mawar menggeleng. "Mbak Amel memang sering mendekati Mawar. Tapi bukan menceritakan tentang kehidupannya."
"Lalu?"
"Mbak Amel meminta Mawar untuk pergi dengannya. Ada teman kekasih mbak Amel yang ingin mengenal Mawar lebih dekat."
"Pasti salah satu di antara mereka." tebak Tia, teringat ketiga lelaki teman kekasih dari Amel.
"Kamu mau?"
Mawar menggeleng. "Beberapa hari ini juga ada pesan masuk, dan juga telepon dari nomor asing. Tapi Mawar langsung blok."
"Bagus, aku sendiri juga kurang srek sama mereka." tukas Santi.
Mawar tersenyum jahil. "Bukannya mereka tampan. Lelaki idaman mbak Santi dan mbak Tia." goda Mawar memainkan kedua alisnya.
"Tapi tidak seperti mereka juga kale... Apalagi saat aku tanya pada Amel, jawaban Amel malah mengambang." jelas Tia dengan ekspresi aneh.
"Mengambang." kata Mawar dan Santi bersamaan.
Tia mengangguk, menyeruput sedikit teh hangat yang ada di depannya, lalu mengembalikannya di atas meja. "Gue tanya soal mereka. Pokoknya jawaban Amel malah nggak jalur. Aduh,, nggak deh pokoknya." jelas Tia.
"Oh iya Mawar, alasan elo apa saat nolak ajakan Amel?"
"Ada deh... mbak Santi mau tahu aja." Mawar tidak mengatakannya, dirinya tahu jika dia mengatakan alasannya, pasti dia akan digoda Santi dan Tia.
"Ya,,,, elaaaa... pake rahasia-rahasiaan segala." cibir Santi.
"Eh,,, tunggu. Kalau nggak, gue salah pernah lihat salah satu di antara mereka." sambung Santi.
"Dimana?" tanya Mawar. Dengan Tia menatap lekat ke arah Santi, menunggu apa yang akan keluar dari mulut Santi.
"Di tepi jalan. Nongkrok sama pengendara motor lainnya. Jumlah mereka juga banyak." Santi masih ingat dengan wajah dan motor mereka.
"Elo ingatkan, saat gue keluar sendiri. Pas gue lagi datang bulan, pembalut gue dan elo habis bersamaan." jelas Santi dengan detail.
Mawar terdiam. Bukan perkara salah satu dari mereka yang nongkrong di jalan bersama pengendara lainnya.
__ADS_1
Tapi lebih pada Amel. "Apa mbak Amel sudah tahu. Tapi dia merahasiakannya dari kita." ucap Mawar dalam hati.