
"Hey, saya tidak tahu apa-apa." seru Dona, ketika pembeli tersebut menatap ke arahnya dengan tatapan menuduh.
"Dona." tegur Nyonya Utami, mendengar suara Dona yang sama sekali tidak mencerminkan sopan pada pembeli yang usianya sepantaran dengan dirinya.
"Maaf ma, Dona hanya membela diri." ucap Dona beralasan.
"Tunggu, kenapa dengan putri saya." heran Nyonya Utami.
Beliau merasa aneh. Sebab sang putri selama ini sama sekali tidak tertarik dengan masalah butik. Atau apapun uang berkaitan dengan butik miliknya.
"Putri anda." cicit pembeli tersebut bertambah heran. Dia sama sekali tidak tahu jika Dona adalah putri pemilik butik.
Dona segera membuka mulutnya sebelum yang lain berbicara, guna membela dirinya sendiri. Memberi alasan akan keberadaannya di kasir pada sang mama.
"Ma, Dona tadi melihat semua karyawan sedang sibuk melayani pembeli. Makanya Dona berinisiatif membantu mereka. Apa Dona salah?" tanya Dona memasang wajah sedih, sembari memberi alasan.
Santi, Tia, dan Amel mengerutkan keningnya. Sibuk, mereka sama sekali tidak sibuk melayani pembeli. Sebab hanya ada tiga orang pembeli yang berada di dalam butik.
Itupun keduanya masih sekedar melihat-lihat. Dan satunya dilayani oleh Mawar.
Pembeli tersebut sepertinya berubah pikiran, saat tahu Dona adalah putri pemilik butik. Tidak mungkin perempuan seperti Dona, yang notabennya anak pemilik butik melakukan hal tercela.
Berbeda dengan pembeli tersebut, ketiga rekan kerja Mawar menatap kesal pada Dona. Mereka tetap yakin, jika Dona yang melakukannya. Dengan sengaja.
Apalagi Tia melihat, jika Dona langsung duduk di kursi kasir setelah tiba. Dengan mata menatap ke arah Mawar dengan sinis.
"Begini saja Bu, saya akan mengganti kerugian yang ibu tanggung. Terserah, apakah ibu ingin menukar pakaiannya. Atau ingin uang ibu kembali. Bagaimana." ujar Nyonya Utami memberi pilihan dengan bijak.
Bu Utami hanya tidak ingin pembeli terlalu masuk dalam masalah ini. Beliau akan menyelesaikan masalah ini setelah pembeli tersebut pergi meninggalkan butik.
"Baiklah. Saya ingin uang saya kembali. Dan saya rasa, saya tidak akan pernah lagi belanja di sini." sungutnya memandang Mawar dengan sinis.
Dona tersenyum puas dalam hati. Dia yakin, setelah ini pasti Mawar akan mendapatkan masalah. Teguran dari sang mama, atau bahkan pemecatan dengan tidak hormat. "Baiklah. Ibu tinggalkan nomor rekening, sebentar lagi akan saya transfer uang tersebut."
"Oke. Jika saya boleh menyarankan, pecat saja pegawai seperti dia. Jika anda tidak ingin rugi kembali." celetuknya memandang kesal ke arah Mawar.
Santi menggeleng pelan, berharap jika pemilik butik tidak sampai hati memecat Mawar.
"Memang itu yang gue inginkan. Mawar dipecat dengan tidak hormat. Dan gue, akan menyebarkan berita ini di sekolah. Bukankah sempurna." batin Dona.
Ingin sekali Dona menjatuhkan nama Mawar di kalangan sekolah. Dirinya sudah muak setiap hari selalu ada yang memuji Mawar.
Entah karena kebaikannya, kepintarannya, atau kecantikannya. Dona merasa semua itu tak layak di berikan pada Mawar. Yang hanya berasal dari keluarga miskin.
"Bu, saya yakin. Mawar tidak melakukannya." ucap Santi tidak tahan membungkam mulutnya.
"Benar bu, saya juga yakin. Untuk apa Mawar melakukannya. Apalagi gaun tersebut robek karena gunting. Dari mana Mawar mendapatkannya." timpal Tia.
"Mawar, ikut saya ke ruangan." perintah Nyonya Utami.
Dona mengekor di belakang tubuh sang mama. "Kamu tunggu di luar." ujar Nyonya Utami, melarang Dona masuk ke dalam ruangannya.
"Tapi ma, Dona...." perkataan Mawar terhenti, saat sang mama meninggalkannya begitu saja. Dan Mawar, hanya bisa diam. Mengekor di belakang
Dona menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal. "Pasti ini ulah Dona." lirih Tia.
__ADS_1
"Elo menemukan apa?" tanya Santi, tak kalah kesal dengan kelakuan Dona.
"Gunting yang gue taruh di laci paling bawah, berpindah tempat." papar Tia.
"Memang brengsek. Semoga Mawar nggak di pecat." harap Amel.
Nyonya Utami duduk ke kursi panjang. Dengan Mawar berdiri di depannya. Ada sebuah meja berbentuk persegi yang menjadi pemisah mereka.
Mawar menundukkan kepalanya. "Ada yang ingin kamu katakan." tegas Nyonya Utami.
Nyonya Utami memang perempuan lemah lembut yang mempunyai hati baik. Namun, beliau selalu tegas pada karyawannya atau pembantu yang memang melakukan kesalahan.
Mawar mengangkat wajahnya. Tersenyum memandang ke arah Nyonya Utami. "Tidak ada bu. Semua sudah Mawar sampaikan di luar tadi." jelas Mawar. Merasa apa yang dikatakan Mawar di luar lebih dari cukup.
Bu Utami mengangguk. Beliau mendengar apa yang dikatakan Mawar saat berada di luar. Meski masih terbilang baru bekerja di butik. Namun Nyonya Utami seakan bisa menebak bagaimana sifat dan perilaku dari Mawar.
"Apa yang sekarang kamu inginkan?"
Mawar mencoba membaut dirinya lebih tenang, saat pemilik butik mengajaknya untuk masuk ke dalam ruangan. Berbicara berdua.
"Saya ingin tetap bekerja seperti biasa." papar Mawar.
"Dan mengenai hal yang terjadi baru saja, apa yang kamu inginkan?"
"Mawar sudah mengatakan di luar. Jika saya sama sekali tidak merasa bersalah. Tapi, jika ibu menginginkan sesuatu yang Mawar harus lakukan. Mawar akan melakukannya." jeda Mawar.
"Termasuk potong gaji untuk membayar biaya yang telah ibu keluarkan." ujar Mawar.
Nyonya Utami manggut-manggut. "Maaf bu, kenapa anda tidak melihat di CCTV. Bukankah di butik terdapat kamera CCTV."
"Baik bu. Terimakasih." Mawar keluar dari ruangan Nyonya Utami.
Bicara mengenai CCTV. Nyonya Utami sendiri juga sempat bingung. Sebab kamera CCTV yang sebelumnya baik-baik saja, beberapa hari yang lalu tampak mengalami permasalahan.
Sampai saat ini, kamera CCTV tersebut masih dalam perbaikan. Pegawai servis hanya mengatakan jika terjadi permasalahan dalam pengoperasiannya. Dan bukan masalah besar.
Nyonya Utami termenung sejenak. Teringat sang putri yang sekarang lebih senang mendatangi butik. Hal tersebut membuat Nyonya Utami senang, sekaligus merasa curiga.
Nyonya Utami hapal betul karakter sang putri. Dona dama persisi seperti suaminya. Dia sosok yang tidka mudah merubah haluan.
"Mawar." panggil Dona, yang ternyata menunggu dirinya keluar dari ruangan mamanya.
"Iya." sahut Mawar tersenyum simpul, menghentikan langkah kakinya.
Dona menaikkan sebelah alisnya. "Apa gue nggak salah lihat." batin Dona, saat melihat senyum di kedua sudut bibir Mawar.
Dona memasang wajah khawatir saat bertemu dengan Mawar. "Bagiamana? Kamu di pecat. Maaf, gue benar-benar nggak tahu jika gaunnya cacat. Jika gue tahu lebih dulu, mungkin nggak akan terjadi seperti ini." cerocos Dona sok perhatian.
"Nggak masalah Don. Bukankah aku sudah pernah bilang. Mama kamu itu orangnya baik." papar Mawar.
"Mak-maksud kamu? Jangan bilang jika mama...." ucap Dona menggantungkan perkataannya. Seolah kalimat selanjutnya adalah kalimat yang sulit dia katakan secara langsung.
Mawar mengangguk. "Aku tidak dipecat. Ya,, dan kamu bisa lihat. Aku akan bekerja seperti biasa." tutur Mawar.
"Ohh,,,,, ha,,, ha,,, selamat ya Mawar." Dona tersenyum kaku terpaksa.
__ADS_1
"Terimakasih." sahut Mawar. "Gue tahu apa yang sekarang ingin elo katakan Dona." batin Mawar.
Dona masuk ke ruangan sang mama. Sementara Mawar kembali bekerja di depan. "Ma..." panggil Dona pada Nyonya Utami dengan nada yang tak ramah di dengar telinga.
"Hemmmm.." sahut Nyonya Utami tanpa melihat ke arah Dona. Beliau masih sibuk dengan kertas-kertas bernilai puluhan bahkan ratusan juta di atas mejanya.
Dona mencoba sesantai dan setenang mungkin mengatakan hal yang mengganjal di hatinya. Dirinya tidak ingin sang mama akan curiga padanya.
"Bagaimana dengan Mawar. Apa dia akan tetap bekerja di sini, atau mama pecat?" tanya Dona, duduk di kursi panjang yang sebelumnya diduduki sang mama sebelum pindah ke kursi kebesarannya.
Nyonya Utami menghentikan gerakan tangannya yang sedang memberi goresan pada kertas di depannya. "Dia akan tetap bekerja di sini. Mama tidak bisa langsung memecat dia. Apalagi sama sekali tidak ada bukti." jelas Nyonya Utami.
Dona mencoba tersenyum senatural mungkin. "Bagaimana menurut kamu?" tanya sang mama.
"Dona setuju dengan mama. Terlebih, Dona rasa Mawar juga bukan orang seperti itu. Mana mungkin Mawar merusak gaun yang bernilai puluhan juta. Untuk apa coba." ucap Dona berpura-pura baik di depan sang mama.
"Ya,, mama juga berpikir seperti itu."
Dona tetap tersenyum manis. Padahal dalam hatinya sangatlah dongkol. Ingin sekali Dona berteriak kencang. Memaki sang mama. Karena membiarkan Mawar tetap bekerja di butik.
"Brengsek. Gagal lagi. Sebenarnya elo punya apa sih. Kenapa gue selalu gagal dalam setiap rencana yang sudah gue buat." makinya dalam hati.
Di depan, Mawar langsung di serbu ketiga tekan kerjanya. "Bagaimana?"
"Kamu masih bekerja di sinikan?"
"Atau, Nyonya Utami menyuruh kamu mengganti semua uangnya?"
"Tenang kak, Mawar masih diberi kesempatan untuk bekerja di sini." jelas Mawar.
Santi, Tia dan Amel bernafas lega. "Lalu?"
"Beliau bilang masih ingin mencari bukti atas kejadian ini. Dan Mawar akan tetap bekerja di sini, sampai bukti ditemukan." papar Mawar.
"Kamu membayar ganti rugi?"
Mawar menggeleng. "Syukurlah." ketiga rekan kerjanya bernafas lega.
Mereka tahu dengan pasti berapa harga gaun tersebut. Bahakan, gaji mereka selama satu tahunpun belum cukup untuk membeli gaun tersebut.
"Dona. Ini pasti ulah dia." geram Santi.
"Siapa lagi jika bukan dia." sahut Amel.
"Elo nggak boleh tinggal diam Mawar, kita akan membantu kamu membuat Dona membayar semua ini." timpal Tia.
Mawar tersenyum. Perasaannya menghangat. Mereka yang bukan siapa-siapa Mawar, bahkan memperhatikan Mawar dengan segitunya.
"Terimakasih kak. Tenang saja, Mawar tidak akan tinggal diam. Tapi, Mawar juga tidak bisa gegabah. Mawar akan menunggu waktu yang tepat. Dan Mawar yakin, hari itu akan tiba." ucap Mawar dengan yakin.
"Dan kamu tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan pada kami." ujar Amel.
Dengan hati yang dongkol, Dona meninggalkan butik. Para karyawan di butik hanya tersenyum melihat ekspresi dari Dona.
Dan lagi, Dona seakan lupa jika dirinya sedang memerankan peran sebagai ibu peri yang baik hati karena dirinya sudah dikuasai emosinya.
__ADS_1