MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 131


__ADS_3

Ketiga keluarga besar berkumpul di sebuah ruangan untuk bersantai, setelah mereka selesai makan malam. Namun, Caty segera pamit terlebih dahulu bersama dengan Wiryo.


Hati Caty sudah tak bisa lagi menahan emosi jika tetap berada di sana. Apalagi, Wiryo masih mencuri pandang ke arah Lina. Dan nampak jelas, Wiryo terpesona akan penampilan mantan istrinya tersebut.


Bagaimana tidak, penampilan Lina saat ini seperti masih saat mereka berpacaran. Cantik dan anggun. Sama sekali tidak berubah.


Lina memang berubah semenjak menikah dengan Wiryo. Hari-harinya Lina gunakan untuk mengurus rumah, mengurus anak. Sehingga tak ada waktu untuk merawat diri seperti saat mereka masih berpacaran.


Apalagi uang belanja yang Wiryo berikan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Dan biaya sekolah Mawar, setelah Mawar bersekolah.


Meski demikian, Lina tetap terlihat cantik. Meski setelah menikah, dirinya sama sekali tidak pernah masuk ke dalam salon untuk melakukan perawatan.


"Mas...!!! Jawab pertanyaanku..!!" seru Caty, saat mereka sudah berada di dalam kamar.


Wiryo memilih abai. Dirinya tahu, jika diteruskan dia dan Caty akan bertengkar. Dan Wiryo menghindarinya. Sebab mereka tinggal di rumah kedua orang tua Caty. Wiryo merasa sungkan jika ada keramaian gang disebabkan oleh dirinya dan Caty.


Wiryo masuk ke dalam kamar mandi. Mengunci pintunya dari dalam. Terdengar suara pecahan kaca atau barang dari luar.


Wiryo menebak, Caty sedang mengamuk. Melampiaskan amarahnya, karena dirinya yang sempat mengagumi mantan istri. Dengan membanting barang di dalam kamar.


Wiryo sama sekali tidak terganggu dengan apa yang dilakukan sang istri di luar. Dengan santai dan tenang, Wiryo menyelesaikan ritualnya di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sedangkan Caty masih marah dan meluapkan emosinya. "Kenapa? Bagaimana bisa? Lina, dia,,, dia putri dari Tuan Tomi." ucap Caty menggeleng tak percaya.


Caty mengetahui dengan pasti, kekayaan Tuan Tomi melebihi kekayaan dari sang papa. "Aaaa...!! Mas Wiryo hanya milikku. Dia tidak boleh kembali lagi dengan Lina. Tidak. Jangan sampai." penampilan Caty terlihat acak-acakan.


Ketakutan terbesar Caty jika Wiryo kembali pada Lina. Padahal, semua itu tidak akan terjadi. Sebab, dalam hati Lina sudah ada nama lelaki lain.


Saat Wiryo keluar dari kamar mandi, Caty duduk di tepi ranjang. Memandang tajam ke arah sang suami yang terlihat lebih segar karena baru saja mandi dengan rambut basahnya.


Wiryo langsung mengambil telepon yang memang tersedia di kamarnya, dan memanggil pembantu untuk masuk ke dalam kamar.


Sang pembantu tertegun, melihat kamar anak majikannya seperti tempat penampungan barang rusak. "Bersihkan." pinta Wiryo.


"Baik Tuan." saat dirinya ingin mengambil barang-barang yang berserakan dan hancur di lantai, suara Caty menghentikan gerakannya.


"Hentikan dan keluar...!!" pinta Caty, dengan masih duduk di tepi ranjang.


Sang pembantu menoleh ke arah Wiryo, yang duduk di kursi seraya memainkan ponsel. "Aku tidak ingin tidur dengan keadaan berantakan." tegas Wiryo.


Sang pembantu kembali ingin melakukan perintah Wiryo, tapi Caty lagi-lagi menyuruhnya untuk keluar dari kamarnya. "Gue bilang keluar...!!!" seru Caty, berdiri dengan pandangan tajam.


"Ba-baik. Permisi." segera dia keluar dari kamar Caty. Dan juga Wiryo. Dia juga memilih untuk keluar dari dalam kamar.


"Kamu mau ke mana Wiryo..??! Urusan kita belum selesai...!!" teriak Caty.


Namun Wiryo sama sekali tidak mengindahkannya. Dia tetap pergi meninggalkan Caty yang sedang dalam emosi tinggi. Wiryo memilih untuk tidur di kamar tamu.


Bukannya berhenti, Caty malah menjadi-jadi. Dia bahkan memukul kaca televisi dengan melemparkan high hellnya. Caty semakin kesal pada Wiryo.


Dirinya berharap Wiryo akan merayunya. Dan memanjakannya dengan ucapan dan belaiannya. Membujuk dirinya agar tidak marah dan cemburu.


Tapi semua tidak terjadi. Wiryo malah kembali mendiaminya. Sama seperti saat mereka baru saja menikah. "Wiryo....!!!" teriak Caty dengan lantang.


Sayangnya, tak akan ada yang bisa mendengar suara melengking miliknya. Pasalnya, kamar milik Caty memang kedap suara.


Sementara di di restoran. Mereka yang tinggal masih berbincang ringan. Setiap ada kesempatan, Djorgi selalu mengajak Lina berbincang. Juga dengan Gaby.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Gaby terus mendekati Lina serta Nyonya Tanti. Bahkan, dengan lancang dia meminta untuk memanggil mereka dengan sebutan oma dan opa.


Nyonya Tanti juga merespon baik keberadaan Gaby. Sama seperti Lina. Bahkan saking sibuknya berbincang dengan Gaby, mereka seakan melupakan keberadaan Mawar.


Namun berbeda dengan Tuan Tomi. Dia hanya sesekali merespon perkataan Gaby. Fokusnya hanya tertuju pada sang cucu yang terlihat tidak senang dan terlihat murung.


Sikap yang Gaby tunjukkan membuat Tuan Sapto dan Nyonya Gendis merasa terkejut. Pasalnya, setahu mereka, cucunya tersebut mempunyai sikap angkuh dan tidak punya sopan santun sama sekali.


Namun bersama dengan Lina, Gaby menjadi sosok yang berbeda. "Mungkin karena Gaby merindukan sosok ibu." ucap Nyonya Gendis dalam hati.


Keduanya merasa senang dengan perubahan sikap Gaby. Mereka berharap Gaby akan benar-benar berubah. Dan semakin baik ke depannya.


Berbeda dengan Gaby yang tampak ceria. Mawar hanya diam. Dirinya tidak akan membuka suara jika tidak ada yang bertanya. Entah mengapa, Mawar sama sekali tidak merasa nyaman.


Dan Tuan Tomi merasakannya. Dia melihat sang cucu lebih banyak diam. "Mau keluar?" bisik Jerome, bertanya pada Mawar.


Mawar menggeleng. "Ada yang kamu pikirkan?"


Mawar kembali menggeleng. "Tidak ada apa-apa." sahut Mawar dengan memainkan bibirnya.


"Kita cari makan di luar. Kamu pasti masih lapar." bisik Jerome.

__ADS_1


Mawar langsung menatap Jerome dan sedikit tersenyum. Bagaimana Jerome bisa tahu, kalau Mawar masih merasa lapar.


Jerome tertawa lepas. "Jangan memasang wajah seperti itu." Jerome mencubit hidung mancung milik Mawar.


Semua langsung menatap Jerome yang tertawa dengan lepas. Termasuk dengan Gaby. "Kak Jerome cenayang ya." tebak Mawar. Sebab Jerome tahu dirinya masih lapar.


"Jika aku cenayang. Pasti yang datang cewek cantik semua." Jerome memainkan kedua alisnya.


Mawar melengos dengan cemberut. "Ayo." Jerome tersenyum, memegang lengan Mawar. Mengajaknya berdiri.


"Maaf semuanya. Bu Lina, Tuan Tomi, Nyonya Tanti. Saya mau mengajak Mawar keluar sebentar." pamit Jerome.


"Silahkan. Titip putri ibu ya." sahut Lina.


"Pasti. Saya akan menjadi orang pertama yang akan menjadi garda depan untuk Mawar." tekan Jerome.


"Gue ikut." segera Thomas juga berdiri.


"Ckk,, ngapain elo ikut. Elo di sini saja." tolak Jerome dengan kesal.


"Ya elaaa Jeee,,,, ngapain gue di sini. Ngobrol sama orang-orang tua. Gue nggak perlu cari muka, dan berlagak sok ramah sama mereka. Gue bukan bunglon. Ayo. Muak gue, lihat orang berwajah dua,,, ehhh,,, seribu."


Thomas berjalan mendahului Mawar dan Jerome. "Ckk,,, gak usah sok. Biar gitu dia juga saudara elo." tukas Jerome menyusul langkah Thomas bersama Mawar, dengan suara sedikit keras. Sehingga semua yang ada di sana mendengarkan ucapan Jerome.


Gaby tahu, untuk siapa perkataan tersebut. Tapi dia tetap menampilkan senyum di bibirnya. Seolah tidak tahu apa-apa. "Thomas brengsek. Awas saja, jika elo ikut campur urusan gue. Gue nggak akan tinggal diam." ucap Gaby dalam hati.


Tuan Dewano yang tahu, hanya tersenyum melihat dua pemuda yang dengan frontal berkata dengan nada keras untuk menyindir seseorang.


Jerome mengajak Mawar kesebuah kedai makan lesehan. "Kalian ngapain ke sini?" tanya Thomas, sebab mereka baru saja makan.


"Gue masih lapar. Elo bayangin. Kita makan cuma dua sendok nasi. Sama daging seiprit. Mana kenyang gue." jelas Jerome. Dia tidak mengatakan jika Mawarlah yang masih lapar.


Mawar tersenyum simpul mendengar perkataan Jerome yang tidak mengatakan jika dirinya yang masih lapar. "Sebenarnya, gue juga masih lapar. Apalagi tadi siang, gue juga nggak makan."


Ketiganya makan nasi dengan lauk lalapan ayam dengan lahap. "Mawar, kamu nggak kepedesan?" tanya Thomas, yang sudah habis segelas air jeruk.


Mawar menggeleng. "Nggak. Malah enak. Sumpah, nikmat banget." cicit Mawar, makan tanpa menggunakan sendok.


Juga dengan Jerome. Dia terlihat begitu menikmati makanan di depannya. Ditambah, ada sang pujaan hati di sampingnya. Membuatnya semakin bahagia.


Thomas mengeluarkan ponsel miliknya. "Kalian, hadap sini sebentar." serunya, dengan tangan memegang ponsel. Hendak berselfie bersama Jerome dan Mawar.


Mawar segera mengangkat ayam gorengnya ke atas. Memperlihatkannya ke arah kamera. Sedangkan Jerome mendekatkan wajahnya ke Mawar seraya tersenyum simpul.


Ketiganya melanjutkan makan seraya berbincang. "Ternyata Mawar asyik juga di ajak ngobrol." ucap Thomas dalam hati. Tidak seperti saat mereka di dalam restoran.


"Mau nambah lagi?" tanya Jerome, Mawar menggeleng. "Sumpah. Kenyang benget." sahut Mawar.


"Sorry, aku harus pergi sekarang." pamit Thomas, setelah dia terlihat fokus pada ponselnya.


Thomas mengambil dompet di saku celananya. "Biar gue yang bayar." ucap Jerome menghentikan Thomas.


"Nggak masalah. Sekali-kali. Aku nggak akan miskin juga." Thomas tetap menaruh beberapa lembar uang di atas meja.


"Aku pergi dulu." pamitnya, bergegas meninggalkan Mawar dan Jerome.


Baru beberapa menit Thomas memamerkan hasil fotonya di media. Kolom komentar telah penuh dengan berbagai cuitan. Tentu saja karena penampilan Mawar dan Jerome.


Keduanya memakai pakaian layaknya pergi ke sebuah perayaan. Tapi malah makan di warung lesehan pinggir jalan.


Bukan hanya itu. Mereka memuji paras keduanya. Kecantikan Mawar dan juga ketampanan Jerome. Semuanya mengatakan jika mereka berdua adalah pasangan serasi.


"Bagaimana kalau kita pergi ke tempat lain." saran Jerome, memperlihatkan uang yang Thomas tinggalkan. "Sisanya masih banyak." lanjut Jerome mengibaskan uang tersebut.


Mawar menatap penampilannya. "Kayaknya nggak deh kak. Mawar nggak nyaman pakai gaun seperti ini. Apalagi itu." tunjuk Mawar pada high hell yang dia lepas tak jauh dari mereka duduk.


Ingin sekali Jerome mengatakan akan membelikan Mawar pakaian. Tapi Jerome tahu, bagaimana keras kepalanya Mawar. Sudah bisa dipastikan. Mawar akan menolak. "Ehh,,, cek yang mama kasih masih kamu simpan?" tanya Jerome.


Mawar merogoh ke tasnya. Membuka dompet, mengeluarkan cek tersebut dari dalam. "Kita cairkan sekarang. Lalu kita berbelanja." ajak Jerome.


"Jangan aneh-aneh kak. Malam begini. Mana ada bank yang buka." ujar Mawar.


Jerome tak kehilangan akal. "Kita nggak usah ke bank. Ada tempat yang bisa kita gunakan untuk mencairkan cek itu."


Mawar menatap Jerome dengan ragu. "Benar, nanti aku ajak kamu ke sana. Tapi sebelumnya, aku ke belakang dulu. Mau ke toilet."


Jerome berlari ke belakang, tanpa menunggu Mawar berucap. "Memang bisa. Memang ada, tempat selain bank. Lagian, apa ini masih bisa dicairkan. Udah lama juga ngasihnya." cicit Mawar, menatap lembar dengan tulisan beberapa nol tersebut.


Untuk hal ini, Mawar benar-benar tidak tahu. Dari dulu, Mawar memang sama sekali belum pernah menerima cek berisi nominal uang. Atau apapun yang berhubungan dengan cek yang bernilai tersebut.

__ADS_1


Mawar mencebikkan bibirnya. Memasukkan kembali kertas berharganya ke dalam tas. "Tahu ah,,, habisin makan aja dulu." ucap Mawar, menghabiskan makanan di piringnya yang tinggal daging dan sambal. Karena nasinya telah habis lebih dulu.


Di belakang, Jerome segera menghubungi seseorang. Entah apa yang Jerome katakan pada orang yang berada di seberang ponselnya.


"Saya akan segera ke sana. Kamu persiapkan semuanya dengan segera." ucap Jerome, sebelum mematikan sambungan teleponnya.


Sesuai dengan apa yang Jerome katakan, dia mengajak Mawar ke suatu tempat. Lalu mencairkan cek pemberian Nyonya Mesya.


Mawar menatap gepokan uang di tangannya. "Kok bisa ya." cicit Mawar merasa ada yang janggal.


"Sudahlah. Sekarang kita shoping. Bayarin aku sekalian." timpal Jerome.


Mawar memandang intens ke arah Jerome yang duduk di belakang kursi kemudi tepat di sampingnya. "Apa sih Mawar, aku nggak melakukan apapun. Dengan uang segitu banyak. Memang aku punya." jelas Jerome.


"Lagian, meski aku anak orang kaya. Nggak sebanyak itu juga kale uang aku." lanjut Jerome, membuat Mawar percaya. Jika dirinya benar-benar tidak ada melakukan apapun.


"Ya sudahlah, kita mau pergi ke mana? Bagaimana kalau aku telepon Mira dan Selly. Kak Jerome juga bisa menghubungi kak Luck dan kak Tian." ucap Mawar dengan antusias.


"Janganlah. Gunakan sendiri uang itu. Jika masih ada sisa. Simpan saja, siapa tahu nanti kamu membutuhkannya." saran Jerome.


Mawar manggut-manggut. "Baiklah. Seperti itu juga lebih baik." ucap Mawar, menuruti saran dari Jerome.


"Siapa tahu mama kak Jerome kembali memintanya." celetuk Mawar.


"Nggak akan. Mama aku tuh gengsinya gede. Malu lah dia mengambil kembali apa yang dia kasih ke kamu." tukas Jerome.


"Lagipula, mama juga nggak akan pernah bisa mengambilnya kembali." ucap Jerome dalam hati.


"Oke,,, meluncur...." seru Jerome sembari menyetir. Mawar hanya tersenyum samar, memandang ke depan.


Di restoran, Nyonya Mesya yang merasa bosan memilih untuk membuka ponselnya. Berselancar di dunia maya. Melihat berbagai perhiasan serta fashion pakaian terkini.


Sebab, dirinya sama sekali tidak masuk dalam obrolan kedua orang tua, serta Lina dan Gaby. "Sayang, lihat. Tenyata mereka pergi ke sini." ucap Nyonya Mesya yang tak sengaja melihat postingan dari Thomas.


Tuan Adipavi mengambil ponsel sang istri dan melihatnya. "Mereka tampak bahagia." cicitnya.


Tuan Dewano tersenyum samar melihat bagaimana sekarang sang menantu memandang Mawar. "Tahu Mawar cucu orang kaya. Langsung luluh. Dasar. Petani emas." cibir Tuan Dewano dalam hati.


"Ada apa Tante?" tanya Gaby penasaran.


Nyonya Mesya tersenyum. Memberikan ponselnya pada Gaby. "Ternyata Mawar dan Jerome pergi untuk membeli makanan." ucapnya disertai kekehan.


Nyonya Gendis, ibu dari Caty tersenyum melihat cara Nyonya Mesya membicarakan Mawar. Sebab, beliau tahu. Saat di pesta pernikahan sang anak. Dengan lantang Nyonya Mesya mencaci Mawar. Menyuruh Mawar menjauhi Jerome.


Dan sekarang, terlihat Nyonya Mesya begitu sumringah melihat sang putra bisa dekat dengan Mawar. "Uang memang segalanya." batin Nyonya Gendis.


"Astaga. Pasti Mawar masih lapar. Biasanya dia makan nasi dan sayur. Kenapa aku sama sekali tidak peka." cicit Lina merasa sedari tadi dirinya terlalu sibuk dengan Gaby, hingga lupa dengan kebiasaan sang putri.


"Sudahlah tante, mungkin Mawar tidak ingin menganggu tante." ucap Gaby dengan bijak.


Padahal, saat ini Gaby sedang merasa senang dan meradang di waktu bersamaan. Senang, karena kehadirannya, Lina melupakan Mawar.


Meradang, merasa kesal karena Mawar semakin dekat dengan Jerome. Dan terlihat jelas, Nyonya Mesya juga sepertinya telah merestui jika Mawar dan Jerome menjalin hubungan.


"Cantik sekali kalung Mawar." ucap Nyonya Gendis, yang melihat sebuah kalung sederhana melingkar di leher Mawar, membuat Mawar menjadi lebih cantik.


"Kalung." cicit Lina, merasa jika selama ini dirinya sama sekali tidak pernah pernah membelikan perhiasan pada Mawar.


Lina melihat foto Mawar bersama dengan Jerome serta Thomas di ponsel milik Nyonya Mesya. Kedua matanya fokus ke leher Mawar.


"Tante, pasti kalung Mawar itu pemberian tante ya. Cantik sekali. Pasti mahal. Gaby jadi iri." ucap Gaby disertai senyuman.


Tuan Tomi dan Nyonya Tanti merasa ada yang aneh pada ekspresi wajah sang putri. Segera Lina tersenyum. "Pasti bukan Lina yang membelikannya." tebak Tuan Tomi.


"Bukan tante yang membelikannya." jelas Lina dengan jujur.


Gaby tersenyum kecut. "Oohh,,, apa kak Jerome?" tanyanya dengan hati seperti teriris.


"Sepertinya bukan. Tante kenal putri tante. Dia bukan perempuan yang dengan mudah menegadahkan tangannya untuk meminta pada orang lain." jelas Lina.


"Bahkan, selama ini Mawar sama sekali tidak pernah meminta apapun pada tante. Sejak kecil, Mawar tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Dia sama sekali tidak pernah merepotkan tante." lanjut Lina.


"Mungkin Mawar membeli sendiri. Bukankah dia bekerja di butik jeng Utami." timpal Nyonya Meysa.


Semua terdiam sejenak. Memikirkan apa yang dikatakan Nyonya Mesya. "Jika benar, berarti kalung itu harganya tidak terlalu mahal." celetuk Gaby tersenyum sinis.


Tapi segera Gaby tersadar. Dan segera ingin meralat ucapannya. Tapi Tuan Dewano lebih dulu bersuara.


"Cucuku, memakai apa saja akan tetap terlihat cantik. Meski baju dengan harga sepuluh ribu." timpal Tuan Dewano dengan bangga. Seolah Mawar adalah cucu kandungnya.

__ADS_1


"Mawar, dia tidak perlu pakaian berharga jutaan. Tidak perlu perhiasan berharga mahal. Dan semua yang bermerk. Lihat saja, tanpa itu semua. Bahkan tanpa riasan, dia sudah membuat para lelaki rela melakukan apa saja untuk bisa dekat dia." lanjut Tuan Dewano.


Ucapan Tuan Dewano langsung mengena pada Gaby. Pasalnya, dengan penampilan Gaby yang dengan semua barang mahal di tubuhnya. Tidak ada satu lelakipun yang mendekatinya.


__ADS_2