
"Ada apa ini, kenapa rame-rame?" tanya Nyonya Utami yang baru saja datang, bersama dengan Dona. Melihat keempat karyawan butiknya bergerombol, dengan dua pembeli lainnya. Terlihat mereka sedang beradu mulut.
"Nyonya Utami, saya kehilangan barang berharga saya di butik anda." jelasnya dengan mata memandang pada Mawar dengan tatapan penuh curiga.
Seolah dia mencurigai jika Mawar yang telah mengambil benda yang berharga dari dirinya. "Benar dugaan gue. Orang ini pasti punya maksud lain." batin Santi yang berdiri di samping Mawar.
Dona tersenyum miring. Melihat ke arah Mawar. "Apa dia orang suruhannya nenek lampir." batin Tia menebak, dari raut wajah Dona.
Beberapa pembeli melihat ke arah mereka, sembari berbisik-bisik. Nyonya Utami yang memang tidak mengenal pembeli tersebut hanya mampu bersikap netral.
Sebab, mau apapun yang terjadi, dia adalah seorang pembeli. Dimana pembeli yang sejak datang meminta dilayani oleh Mawar, sedang memaki Mawar dengan kata-kata tajamnya.
"Kalian, layani pembeli yang lain." pinta Nyonya Utami, ingin mengalihkan perhatian mereka.
Tanpa mengatakan apapun, Santi, Tia, dan Amel melakukan apa yang diperintahkan pada mereka.
"Mari kita bicara di ruangan saya. Silahkan." ajak Nyonya Utami, menggerakkan tangannya. Beranggapan jika ini bukanlah konsumsi publik. Dan ingin menyelesaikan secara pribadi.
"Maaf, saya ingin diselesaikan di sini saja." pinta pembeli tersebut kekeh. Terlihat memang itulah tujuannya.
Dona tersenyum samar. "Mawar, sebentar lagi elo akan malu setengah mati. Hingga elo akan lebih memilih untuk bersujud di kaki orang." batin Dona.
"Ini balasan untuk Mira dan Selly." batin Dona, melihat ke arah kamera CCTV.
Dona tahu, jika semua kejadian ini terekam di kamera CCTV. Dan dia akan menggunakannya untuk mempermalukan Mawar.
Mengunggahnya di chat kelompok sekolah. Dengan begitu, semua murid beserta guru akan tahu. Jika Mawar, murid yang selama ini menjadi salah satu murid kebanggan di sekolah hanyalah seorang pencuri.
Dona merasa sangat senang. Tujuannya sebentar lagi akan tercapai. "Jerome, kamu lihat sayang. Perempuan yang kamu nilai baik. Tak ubahnya bertangan panjang." batin Dona.
Dona yakin, Jerome juga akan menjauhi Mawar setelah melihat video ini. "Miskin. Siapa suruh menantang gue." lanjut Dona dalam hati.
Padahal selama ini, Mawar sama sekali tidak merasa mempunyai salah pada Dona. Tapi entahlah, hanya Dona yang tahu. Kenapa dia sangat membenci Mawar. Apa hanya karena Jerome, apa ada hal lain yang belum Dona ungkapkan.
Nyonya Utami mencoba tersenyum. Menghadapi masalah ini dengan tenang. "Bukankah lebih baik kita selesaikan di ruangan saya. Kita bisa duduk dan berbicara dengan tenang." saran Nyonya Utami.
"Disini saja. Jangan mengulur waktu. Saya hanya ingin menemukan benda berharga saya yang hilang. Terlalu bertele-tele." sungutnya.
"Maaf, benar kata mama saya. Disini terlalu banyak orang." timpal Dona. Dan tentu saja berpura-pura.
"Terlalu banyak orang. Memang itu yang gue inginkan." batin Dona bersorak senang.
"Ckkk,,,, kamu anak kecil. Jangan ikut campur...!" bentaknya pada Dona. Seolah dirinya menegaskan jika Dona dan dia tidak ada hubungan, atau tidak saling kenal.
"Gila,,, totalitas banget. Untung cuma sandiwara, jika beneran, gue robek mulutnya." batin Dona senang bercampur kesal.
Ini pertama kali Dona dimaki oleh orang lain. Didepan sang mama. Dan yang membuat Dona bertambah berang adalah, sang mama yang hanya diam saat dirinya dibentak. "Coba papa. Pasti dia akan langsung menampar orang itu." batin Dona.
Membandingkan sikap sang papa dan mama saat membela dirinya di hadapan orang lain.
"Sudah-sudah. Baiklah kalau begitu, apa yang anda inginkan, Nyonya?" tanya Nyonya Utami mengalah. Dirinya tahu, tidak akan ada yang mengalah jika terus berdebat. Dan masalah akan berlarut-larut.
Sementara Mawar hanya diam. Ada perasaan cemas bercampur curiga. Cemas jika memang di tubuhnya ada sesuatu yang orang itu cari. "Tapi semua kantong gue kosong." batin Mawar, sebab dirinya sudah mengecek sendiri.
Curiga pada Dona. Mawar curiga jika semua ini karena ulah Dona. Tanpa Mawar tahu, jika disekolah tadi, Dona beserta kedua antek-anteknya dihukum karena perbuatan iseng Mira dan Selly.
Nyonya Utami menghela nafas panjang. "Baiklah, kalian boleh menggeledah pakaian yang melekat di tubuh pegawai saya. Bagaimana Mawar, apa kamu setuju?" tanya Nyonya Utami.
Sebenarnya Nyonya Utami ragu, jika Mawar melakukan tindakan tercela tersebut. Sebagai seorang perempuan, dia yakin jika Mawar adalah sosok gadis yang jujur.
"Biar saya yang melakukannya." ucap perempuan yang datang bersama pembeli tadi, mengajukan diri.
"Bukankah dia tadi yang nabrak tubuhku dari belakang." batin Mawar. Merasa sesuatu yang tidak beres pasti akan terjadi pada dirinya.
"Silahkan." ucap Nyonya Utami.
Dia memandang Mawar dengan tatapan sinis. "Oke." katanya.
Mawar mengangkat kedua tangannya ke atas. Tak lupa Mawar berdo'a. Berharap tak ada sesuatu apapun di tubuhnya. Sebab, memang dia tidak melakukan apa yang dituduhkan oleh mereka.
Amel tersenyum samar dari arah lain. Memasukkan tangan kirinya ke dalam kantong. "Kalian seharusnya geledah gue. Bukan Mawar." batin Amel terkekeh pelan.
__ADS_1
Saat perdebatan antara mereka dengan pembeli. Tak sengaja Amel melihat sebuah cincin permata berukuran kecil, berada di pinggang Mawar. Tersangkut pada pakaian kerja Mawar.
Amel segera mengambilnya, tanpa sepengetahuan mereka semua. Disaat mereka sedang bersitegang menuduh Mawar, dan rekannya membela Mawar.
Dilihat dari ukurannya, tidak mungkin cincin tersebut milik mereka. Kedua perempuan tersebut bertumbuh besar. Memiliki jari-jari yang besar pula.
Sementara cincin permata yang ada di tangan Amel, adalah cincin dengan ukuran kecil. Tak akan muat jika dipakai di jari keduanya. Bahkan di jari kelingking sekalipun.
Seolah cincin tersebut memang sudah mereka siapkan dari rumah. Lagian, tidak nalar juga. Sebuah cincin tersangkut di pakaian, tepatnya di pinggang.
Sebab, ada sebuah renda yang mengelilingi pinggang dan perut pada seragam karyawan butik. Sang pelaku memasukkan mata cincin tersebut ke dalam renda.
Sehingga terlihat seperti tersangkut. Sangat tidak masuk akal.
Santi dan Tia yang tidak tahu jika Amel sudah memegang benda yang mereka cari, merasa was-was. Harapan mereka sama dengan harapan Mawar.
Perempuan yang menggeledah pakaian Mawar menampilkan wajah bingung. Beberapa kali dia memandang rekannya dan juga Dona.
Dirinya yakin, jika cincin tersebut telah dia letakkan di baju Mawar. "Kemana? Perasaan gue taruh di sini." batinnya, memandang pinggang kanan dan kiri Mawar.
"Dimana, tidak mungkin jatuh." kepalanya menunduk, melihat ke bawah, di sekeliling Mawar. Sebab mereka hanya berdiri di situ semenjak dia menaruh cincin tersebut.
Nyonya Utami melihat hal itu. "Apa Dona kenal dengan merek berdua." batin Nyonya Utami.
"Bagaimana Nyonya, apa sudah anda temukan?" tanya Mawar, mulai merasa pegal. Karena terus mengangkat kedua tangannya ke atas seperti seorang yang sudah menyerah dalam pertarungan.
Tidak mendapat jawaban dari perempuan yang menggeledah Mawar, Nyonya Utami juga mengeluarkan suara. "Bagaimana hasilnya. Apakah barang yang anda cari ada di tubuh pegawai saya?" tanya Nyonya Utami.
Dia menggeleng pelan, tetap dengan pandangan meneliti tubuh Mawar dan lantai yang ada di sekitarnya.
Perempuan yang satunya merasa ada yang tidak beres dengan ekspresi wajah rekannya yang sedang menggeledah Mawar. "Bisa jadi dia menyembunyikannya di bagian dalam." ujarnya segera mengalihkan situasi.
Mawar merasa jengah dengan lontaran kalimat yang sedari tadi perempuan itu ucapkan. "Maaf bu, kesabaran orang ada batasnya." tegas Mawar, menurunkan kedua tangannya.
"Apa perlu saya bertelanjang di sini?!" tanya Mawar dengan raut wajah kesal.
"Kenapa tidak. Bila memang perlu." sinisnya, tetap tak mau kalah.
Kedua perempuan tersebut melirik ke arah Dona. Seolah mencari tahu, apa yang harus mereka lakukan. "Bodoh. Kenapa Gaby mencari orang seperti mereka. Benar-benar tolol." umpat Dona dalam hati.
Beberapa pembeli yang sedari tadi hanya diam mulai bersuara. "Saya pikir kamu tidak perlu bertelanjang. Langsung saja lapor ke pihak berwajib, atas tindakan tidak menyenangkan dan fitnah. Saya mau jadi saksinya." seru seorang pembeli.
"Tenang mbak Mawar, saya juga akan bersaksi. Bagaimana Nyonya yang kaya ini sedari tadi mengeluarkan kata-kata kasar pada anda." timpal pengunjung yang memang sering datang, dan Mawarlah yang selalu melayaninya. Sehingga dia mengenal Mawar.
Nyonya Utami tersenyum samar. "Baiklah. Apa yang anda tuduhkan tidak terbukti. Sekarang, apa yang anda inginkan, Nyonya." tanya Nyonya Utami, merasa jika sang putri ikut terlibat.
Nyonya Utami sedari tadi memperhatikan ekspresi Dona dengan kedua perempuan yang menuduh Mawar sebagai pencuri. Mereka sepertinya selalu memberi isyarat dari tatapan mata mereka.
Setelah kejadian di mana ada gaun yang sobek, dengan Mawar sebagai tersangka. Sang putra, Dami mengatakan suatu hal yang membuat Nyonya Utami tercengang.
Dani mengatakan jika Dona dan Mawar tidak pernah akur. Meski keduanya berbeda kelas dan berbeda angkatan. Mawar kelas satu, dengan Dona kelas tiga.
Dami juga mengatakan jika Jeromelah yang memberitahukan hal tersebut pada dirinya. Dan alasannya hanya satu. Jerome lebih memilih Mawar dari pada Dona. Sehingga Dona selalu mencari masalah dengan Mawar.
"Katakan, apa yang anda inginkan sekarang!!" seru Nyonya Utami, melihat kedua orang tersebut hanya diam tak berkutik.
"Khemm,,,, ma, sudahlah. Malu dilihat banyak orang." segera Dona membuka suaranya.
Dirinya tidak ingin semuanya malah akan berbalik pada dirinya. Dengan segera, Dona mengubah rencana. Melihat situasi dan keadaan yang tidak sesuai dengan yang dikehendaki olehnya.
"Bukan Mawar yang bersujud, bisa-bisa malah gue yang ada di pihak itu." batin Dona.
"Maaf, Nyonya.... Anda sudah menggeledah sendiri jika pegawai di butik mama saya tidak mengambil benda yang seperti anda katakan. Jadi lebih baik anda segera meninggalkan tempat ini." usir Dona dengan kalimat halus.
Tepatnya bukan mengusir, tapi memberitahu langkah apa yang harus diambil oleh kedua orang tersebut. Sebelum semua malah terbongkar.
"Tunggu. Kalian tidak bisa meninggalkan butik begitu saja." cegah Mawar dengan tatapan tajam. Membuat Dona kelimpungan.
Nyonya Utami masih terdiam. Beliau juga penasaran, apa yang akan dilakukan oleh Mawar, sehingga Mawar mencegah mereka untuk tidak pergi dari butik.
Tidak seperti di awal, dimana kedua orang tersebut selalu memaki Mawar. Kini lidah keduanya seolah kelu. Tentu saja, semua tidak seperti rencana mereka.
__ADS_1
Dona tersenyum memandang Mawar. "Sudahlah, Mawar. Pasti mereka juga hanya salah paham. Biarkan saja mereka pergi." kekeh Dona membujuk Mawar.
Ingin sekali Dona memaki kedua perempuan suruhannya. Tapi dia harus menahan amarahnya. Yang harus dia lakukan adalah membuat kedua perempuan bayarannya meninggalkan butik.
Mawar mengacuhkan perkataan Dona. "Maaf Bu Utami. Bukan maksud saya untuk mendahului atau bertindak tidak sopan. Saya tidak ingin, orang yang sudah merendahkan, bahkan menuduh saya dan memfitnah saya meninggalkan butik begitu saja." tegas Mawar tanpa rasa takut.
Semuanya tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh Mawar. Tentu saja selain Dona dan kedua orang suruhan Dona.
"Saya hanya ingin keadilan. Mereka sudah memaki saya. Meskipun berkali-kali saya mengatakan yang sebenarnya." lanjut Mawar.
"Orang miskin sombong." ucap Dona dalam hati, merendahkan Mawar.
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Saya hanya bersikap adil. Tadi saya juga menyuruh mereka melakukan keinginan mereka. Sekarang, saya akan melakukan hal yang sama terhadap kamu." tutur Nyonya Utami.
Mawar tersenyum miring menatap Dona. Tampak jelas, raut wajah Dona yang sangat terlihat tegang. Beberapa kali Dona mengubah ekspresi wajahnya, tersenyum dengan kaku.
"Saya ingin anda berdua meminta maaf pada saya. Atas apa yang anda tuduhkan pada saya." pinta Mawar.
Kedua perempuan tersebut saling lirik. Keduanya ingin sekali mengatakan jika mereka hanyalah orang suruhan.
Tapi tidak mungkin mereka membuka mulut. Sepeser uangpun belum mereka terima. Sesuai perjanjian, mereka akan dibayar setelah tugas selesai.
"Ya,, ya,,, Menurut saya benar seperti yang dikatakan Mawar. Sebaiknya kalian meminta maaf atas kesalahan yang kalian lakukan." ujar Dona, langsung membuka mulutnya.
Sekarang, terlihat nampak jelas. Jika kedua orang tadi hanyalah bonek hidup milik Dona. Pertama, begitu rencana gagal. Dona segera menyuruh mereka pergi. Namun dicegah oleh Mawar.
Dan sekarang, Dona juga berpendapat yang sama dengan Mawar. Atau bisa dikatakan Dona menyuruh mereka meminta maaf.
Mawar yakin, keduanya akan meminta maaf. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Dona. "Jika mereka meminta maaf dengan mudah. Tebakan gue benar. Elo dalang dibalik semua ini." geram Mawar dalam hati.
"Jika terbukti. Gue akan balas elo, Dona." lanjut Mawar dalam hati. Merasa gerah dengan apa yang selama ini Dona lakukan pada dirinya.
"Baiklah, saya,,, emmm maksudnya. Kami meminta maaf atas kesalahan kami." cicitnya.
"Lalu bagaimana dengan cincinnya. Apa perlu kami membantu untuk mencari." tawar Mawar tersenyum penuh makna.
Perempuan tersebut menggerakkan telapak tangannya. "Tidak perlu. Mungkin cincin saya tertinggal di rumah. Iya,,, benar." ucapnya segera.
"Saya rasa juga begitu. Sejak tadi, saat saya melayani anda. Saya sama sekali tidak melihat ada satu cincinpun yang melingkar di jari anda." jelas Mawar tersenyum penuh arti.
Mawar menengadahkan kepalanya ke atas. "Jika anda tidak percaya. Ada kamera CCTV tepat di atas kita." ungkap Mawar.
Sebenarnya, jika di tubuh Mawar ditemukan cincin tersebut. Mawar akan menggunakan kamera CCTV sebagai bukti.
Wajah Dona dan kedua perempuan itu seketika berubah pias. "Bagaimana mau dipake. Orang bukan cincin gue. Mana muat di jari gue. Lagian cincin semahal itu. Gue nggak sanggup beli." ucap sang perempuan dalam hati.
Sebab yang mereka bawa adalah cincin milik Gaby. Cincin dengan harga fantastis, hadiah ulang tahun dari sang papa.
Nyonya Utami tersenyum mendengar dan melihat semua tindakan dan ucapan Mawar. "Pantas saja, dia menjadi salah satu murid terpandai di sekolah." batin Nyonya Utami memuji tingkat kepandaian dan kepekaan Mawar saat menghadapi suatu masalah.
"Sekali lagi. Maafkan kami." cicitnya.
"Sudahlah Mawar. Mereka sudah meminta maaf." Dona merasa ketar-ketir. Menginginkan kedua perempuan itu segera angkat kaki dari butik sang mama.
Mawar menatap intens ke arah Dona. "A-ada apa?" tanya Dona.
Mawar memicingkan sebelah matanya. "Maaf kak, kenapa Mawar merasa, sedari tadi kak Dona seperti membela mereka." ucap Mawar.
Dona tersenyum kaku. "Siapa bilang. Saya sama sekali tidak membela mereka. Hanya tidak ingin ada keributan di butik mama. Hanya itu saja." ucap Dona beralasan.
"Mama, kenapa mama malah diam saja. Dan Mawar, bisa-bisanya dia bertingkah." geram Dona dalam hati.
"Baiklah. Mawar juga malas mencari masalah. Lagi pula, Mawar bukan tipikal pembuat ma-sa-lah." tekan Mawar di akhir kalimat.
Dona tersenyum palsu ke arah Mawar. Di dalam hatinya terus mengumpat nama Mawar dengan menyebutkan berbagai nama binatang di belahan dunia. "Kalian boleh pergi." ucap Mawar.
"Terimakasih." segera keduanya meninggalkan butik.
Nyonya Utami tersenyum. Melihat bagaimana cara Mawar menyelesaikan masalah. "Maaf Bu, Mawar membuat masalah di butik." cicit Mawar.
"Tidak Mawar, kamu tidak bersalah. Oh iya, sebagai gantinya, kamu boleh meminta sesuatu pada saya." papar Nyonya Utami.
__ADS_1
Mawar melongo tak percaya. Nyonya Utami mengangguk. "Katakan saja, jangan sungkan."