MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 81


__ADS_3

"Perempuan itu, apa otaknya konslet." omel Tian.


Bukan hanya Tian, ketiga sahabatnya juga merasa apa yang dilakukan Dona sangat keterlaluan.


Mereka berempat memutuskan memanggilkan taksi untuk mengantar pulang teman sekelas Dona. Dan Dona sendiri, jangan tanya.


Keempatnya malah tidak peduli. Tetap membiarkannya di jalan. Dona memohon dan meminta pada Jerome untuk mengantarnya pulang.


Apa Jerome bersedia. Jawabannya dengan mudah dapat ditebak. Tidak akan.


Dona hanya bisa meluapkan emosinya seorang diri, saat Jerome dan ketiga temannya pergi begitu saja tanpa mengajak dirinya.


Semuanya hancur. Nilai ujian yang pastinya akan hancur. Jerome semakin muak padanya. Sempurna. Dona harus banyak berdo'a. Berharap nilai ujiannya tidak terlalu jelek.


Atau, sesuatu yang buruk akan menimpanya. Sang papa tidak akan mau tahu, dan tidak akan mentolerir. Yang Tuan Joko inginkan adalah melihat hasil yang memuaskan.


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan nilai ujian Dona. Apa dia akan lulus?" tanya Luck, setelah apa yang dijelaskan oleh teman sekelas Dona.


Jika selama ini, Dona selalu mengandalkannya dalam setiap tugas yang diberikan oleh sang guru. Tanpa mau mengerjakan sendiri.


Deren mengambil bantal kursi, melemparkannya ke arah Luck. "Heeeyy...." teriak Luck, menangkapnya.


"Ngapain elo mikirin Dona. Jangan bilang,,,, cinta tersembunyi." goda Deren.


Luck mengetuk meja di depannya. "Amit-amit. Kalau di dunia perempuan tinggal Dona. Baru gue mau." ujarnya tertawa lepas.


"Gue pikir,,, elo mau bilang. Kalau di dunia perempuan tinggal dia doang, gue juga nggak bakal mau." kekeh Tian sembari menggeleng.


"Pikir logis saja. Kita lelaki butuh perempuan." Luck memainkan kedua alisnya naik turun.


"Dasar." gumam Tian.


Meski hubungan antara Deren dan Jerome belum sepenuhnya membaik, tapi setelah keduanya memutuskan untuk mengatakan perasaan masing-masing jika memang mereka menyukai Mawar, mereka tak sekaku dulu.


Gosip di sekolah juga perlahan menghilang, dengan kembalinya kebersamaan Deren dan Jerome. Apa karena Mawar mereka melakukannya. Mungkin iya.


Mungkin karena keduanya tidak ingin Mawar terkena imbas apa yang mereka lakukan. Padahal Mawar sama sekali tidak tahu apa-apa.


Luck, Tian, dan Deren berbincang ringan diselingi ejekan dan candaan. Namun Jerome, dia menatap layar ponselnya secara serius.


Sudah tiga hari dirinya tidak melihat wajah cantik Mawar. Rasanya ada yang berbeda. Kangen. Ingin sekali Jerome menghubunginya. Namun dirinya bingung untuk alasan apa.


Mengingat hubungannya dengan Mawar masih tahap awal. Jerome saja belum berani terang-terangan mendekati Mawar secara langsung.


Jerome sendiri juga tahu, jika Mawar pergi bersama kedua teman dekatnya. Mira dan Selly. "Apa hari ini dia akan pulang." gumam Jerome.


Tian menoleh ke arah Jerome. Telinganya seperti mendengar jika Jerome mengatakan sesuatu. Tapi tidak jelas. "Jee,,, elo ngomong apa?" tanya Tian memastikan.


"Nggak ada." ujar Jerome dengan nada malas.


Luck menatap Jerome heran. Seharusnya Jerome terlihat senang, karena ujian telah berakhir. Tapi Jerome malah sebaliknya.


Terlihat lesu dan malas. "Tenang Jee, kita semua tahu siapa elo. Pasti elo akan lulus dengan nilai terbaik." papar Luck sok tahu.


Mengira jika Jerome terlihat tidak bersemangat karena memikirkan nilai ujiannya. "Aduhh..." Luck mengusap kepalanya karena lemparan bantal kursi dari Tian.


"Nggak usah elo kasih tahu. Semua juga bisa menebak. Jika Jerome akan mendapat nilai terbaik." tukas Tian, terkadang heran dengan pemikiran Luck.


"Ya kali aja Jerome terlihat lesu karena memikirkan hal itu." ucap Luck.


Deren tahu kenapa Jerome terlihat malas. Pasti karena Mawar. Sebenarnya Deren juga tak jauh berbeda dengan Jerome.


Dirinya juga merindukan wajah cantik Mawar. Namun, jika dia sudah berada di dekat Tian dan Luck, rasa hampa di hatinya sedikit teralihkan.


Karena tingkah dan banyolan Luck dan Tian yang aneh, membuatnya tertawa. "Mawar pasti baik-baik saja." ujar Deren santai.


Luck dan Tian yang awalnya bermain jotos-jotosan langsung terhenti seketika mendengar Deren menyebut nama Mawar.


Apalagi perkataan yang terlontar dari mulut Deren seakan dirinya sedang menenangkan Jerome. Luck dan Tian saling pandang.


"Kheeem,, benar kata Deren. Kita nggak perlu khawatir. Pasti Mawar sedang bersenang-senang dengan dua bodyguardnya." sahut Tian.


Jerome memasang wajah khawatir. "Gue juga nggak tahu. Rasanya khawatir saja. Perasaan gue nggak enak." tutur Jerome, memandang layar ponselnya yang berwarna hitam.


Deren mengeraskan kedua rahangnya. Tidak dapat dipungkiri. Lelaki mana yang dengan tenang bisa menerima ada lelaki lain yang mengkhawatirkan perempuan yang berada di dalam hatinya.


Tapi Deren tahu keadaan. Dirinya juga tak ingin ribut dan berkelahi lagi dengan Jerome karena Mawar. Deren ingin mereka bersaing tanpa ada adu jotos. Tanpa kekerasan fisik.


"Kenapa nggak elo telepon saja." saran Luck.


Jerome memandang ketiga temannya bergantian. "Benar kata Luck." sambung Deren.


Jerome mengangguk, belum sempat dirinya menghubungi Mawar, layar ponselnya menyala terlebih dahulu.


Ada nama Mawar di layar ponselnya. "Lah,,,, tuh Mawar telepon elo duluan. Ikatan batin kale.." celetuk Luck tanpa rem.


Tian menyenggol badan Tian. Melotot kesal karena Luck berceloteh seenaknya. Luck langsung kicep, dirinya lupa jika Deren juga menyukai Mawar.


"Kenapa elo nggak angkat, cepat angkat." seru Tian.


Jerome gugup. Tentu saja. Ini pertama kalinya Mawar menghubunginya. "Sebentar. Gue gugup. Jerome mengatur ritme jantung dan nafasnya.


"Ya,,, elllaaaa,,,, Jeee..." seru Tian geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Deren tersenyum getir. Selama ini Mawar belum pernah sekalipun menghubunginya. Dan sekarang, dia melihat Mawar menghubungi Jerome.


"Halo,,,," ucap Jerome setelah menggeser gambar berwarna hijau di layar ponselnya.


Raut wajah Jerome berubah tegang seketika. "Sekarang kalian ada di mana?" tanya Jerome pada Mawar di seberang telepon.


"Oke. Tunggu. Gue akan ke sana." ujar Jerome.


"Ada apa Jee...?" tanya Deren, juga merasa tegang. Melihat Jerome langsung berdiri mengambil fan memakai jaketnya.


Bukannya menjawab, Jerome malah memerintahkan Luck. "Suruh anak buah elo ke tempat Mawar berada." perintah Jerome menyebutkan nama tempat pada Luck.


"Ada apa Jee...?!" tanya Tian.


"Mawar dalam bahaya. Gue juga nggak tahu bagaimana. Sekarang kita ke sana." ajak Jerome.


"Kalian duluan, gue nyusul." tukas Luck.


Lagi-lagi, Deren merasa kesal bercampur khawatir. Kesal karena Mawar lebih memilih menghubungi Jerome ketimbang dirinya.


Khawatir karena mendengar jika Mawar dalam bahaya. Namun Deren hanya bisa menerima semuanya. Tak mungkin dia akan protes di saat seperti ini.


Tak ingin membuang waktu, Jerome beserta kedua temannya langsung mengendarai motornya ke tempat Mawar berada.


Sementara Luck menghubungi anak buahnya. "Bang, terimakasih banyak. Apa yang elo tinggalkan buat gue, ternyata bisa berguna."


Luck yang awalnya merasa berat menjadi pimpinan sebuah kelompok motor, sekarang dirinya malah merasa senang.


Sebab saat ini dia akan menyelamatkan seseorang yang sangat berarti untuk sahabatnya. "Katakan pada rekan kalian. Siapapun yang berada di dekat sana, segeralah meluncur." perintah Luck lewat ponselnya.


Saat memasuki jalan yang akan menjadi batas kota, mobil yang dinaiki Mawar dan yang lainnya mengerem mendadak.


"Astaga. Ada apa pak?!" seru Selly terkejut. Bukan hanya Selly, namun Mawar dan Mira yang duduk di kursi belakang.


"Hampir saja." gumam pak sopir dengan nafas tersengal, dirinya juga terkejut. Beruntung refleknya bagus. Sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


Semua yang ada di dalam mobil melihat ke depan. Di mana ada sebuah sepeda motor yang berhenti tepat di depan mobil.


"Dia menghentikan motornya mendadak. Makanya bapak juga menghentikan mobil mendadak, Non." jelas pak sopir.


Pemotor tersebut memakai helm yang menutupi seluruh kepala hingga wajahnya. Tapi dapat ditebak jika dia sedang menatap ke arah mobil.


Dia membenarkan posisi motornya. Berbalik dan meninggalkan mobil yang ditumpangi Mawar dan yang lainnya tanpa mengatakan atau melakukan apapun.


"Astaga...!! Ada tawuran..!!" seru Selly, melihat ke depan.


"Pak, putar balik...!!" seru Mira yang merasakan ketakutan.


Juga Mawar, melihat apa yang terjadi di depannya dengan ngeri. Segerombolan pemuda sedang beradu otot. Saling memukul dan menendang.


Pak sopir segera memutar balik mobilnya. Sementara ketiga gadis di dalam mobil menatap sekitar dengan rasa takut serta khawatir.


Bagaimana tidak. Mereka bertarung dengan brutal. Jika ada sekiranya yang ingin lari, mereka kejar lagi. Hingga ada beberapa dari mereka yang sudah berada dekat dengan mobil.


"Ya Ampun....!!" teriak Mira histeris. Saat di belakang dan depan mobil sudah ada beberapa pemuda yang bertarung sengit.


"Mereka pikir mereka penguasa jalanan." geram Selly.


Sementara pak sopir melajukan mobilnya perlahan, terus mencari jalan keluar.


"Dia..." ingatan Mawar masih tajam. Apalagi pandangannya. "Ya benar, tebakan gue nggak salah." ucap Mawar dalam hati.


Mengenali salah satu dari mereka. Akan tetapi yang Mawar lihat tidak ikut baku hantam. Dia duduk manis di atas motor besarnya.


Dengan senyum di bibirnya, seolah sedang melihat sebuah pertunjukan menarik didepannya. "Teman kekasih mbak Amel. Nggak salah lagi." imbuh Mawar dalam hati dengan yakin.


Selain teman dari kekasih Amel. Di seberang jalan, ada beberapa lelaki yang juga tetap santai duduk di atas motornya.


"Mungkin mereka adalah ketuanya. Mau-maunya diperbudak." batin Mawar.


Heran dengan mereka yang dengan senang menjadi bawahan seseorang. Diperintahkan untuk sesuatu yang mungkin nyawa mereka adalah taruhannya.


"Dapat apa coba. Kenapa nggak kerja, terus dapat uang." cicit Mawar, dengan pandangan melihat ke arah mereka.


"Polisi,,,, kita harus menghubungi polisi." ucap Selly, memegang ponselnya dengan tangan bergetar. Mira memegang sandaran kursi di depannya dengan erat, karena rasa takutnya.


"Pak..." ucap Mira ketakutan


"Tenang Non, bapak akan cari jalan." ucap pak sopir menenangkan Mira.


Pada kenyataannya, jika pak sopir nekat melajukan mobil dengan cepat, pasti dia akan menabrak beberapa pemuda yang bertarung di depan mobil mereka.


Tar..... "Aaa..!!!" jerit Mawar, Mira, dan Selly bersama.


Sebuah benda tumpul mengenai kaca mobil bagian belakang. Beruntung benda tersebut tidak sampai masuk ke dalam dan mengenai Mira atau Mawar. Karena kaca belakang mobil hanya retak.


Mawar segera menundukkan badan Mira. Menoleh ke belakang. "Brengsek." gumam Mawar, melihat teman dari kekasih Amel tertawa puas, melihat kaca mobil mereka pecah. Juga beberapa lelaki lainnya.


Dia juga pasti tidak tahu, jika di dalam ada Mawar. "Kelihatannya kita tidak akan bisa kelukar dengan mudah pak." cicit Mawar.


"Apa yang harus kita lakukan?!" tanya Selly panik. Dirinya sama sekali tidak mengira akan terjebak dalam situasi yang mengerikan ini.


"Tetap cari jalan keluar pak." pinta Mawar pada pak sopir.

__ADS_1


"Baik Non."


"Kamu sudah menghubungi polisi?" tanya Mawar.


Selly mengangguk dengan ekspresi ketakutan. "Menunduklah. Lindungi diri kamu, jangan lepas sabuk pengaman kamu." pinta Mawar.


"Baik." Selly melakukan apa yang Mawar katakan.


Sementara Mira, memeluk erat perut Mawar. Menyembunyikan wajahnya di perut Mawar. "Aku takut." cicit Mira lirih, tapi masih terdengar oleh Mawar.


"Oke,,, tenang. Kita akan keluar dari sini." Mawar mencoba menenangkan kedua sahabatnya. Meski dirinya sendiri sedang dalam ketakutan.


Tapi Mawar tak ingin membuat semuanya berada dalam ketegangan. Sehingga dirinya malah tak bisa berpikir.


Tar...


Lagi-lagi sebuah benda tumpul mengenai kaca mobil. Dan terjadi pada kaca mobil belakang lagi. Membuat kaca mobil tersebut benar-benar pecah tak tersisa.


Dengan beberapa serpihan kaca masuk ke dalam. "Aaaa...!!" teriak Mira dan Selly.


"Mira,,,, Selly. Jangan berteriak lagi. Oke. Suara kalian malah akan memancing mereka." perintah Mawar.


"Non Mawar baik-baik saja?" tanya pak sopir khawatir. Beliau melihat ada darah menetes di dahi Mawar.


"Bapak fokus saja mencari jalan keluar." pinta Mawar.


"Baik Non."


"Ayo Mawar berpikir." gumam Mawar. Mengusap darah yang terus mengalir di pelipisnya.


Saat kaca pecah, Mawar dalam posisi miring. Sehingga serpihan kaca mengenai pelipis dan juga kepala Mawar.


"Bisa pak?" tanya Mawar. Menatap bergantian ke depan dan belakang mobil. Juga ke samping.


"Bisa Non." ucap pak sopir.


"Syukurlah." ucap Mawar, saat mobil mereka melewati beberapa lelaki yang berkelahi di depan mobil.


"Non, kelihatannya ada yang mengejar kita." tutur pak sopir, melihat dari kaca pantau di depannya.


Mira melepas pelukannya di perut Mawar, begitu juga Selly. Dia segera mendongak kembali. "Kenapa bisa?!" tanya Selly dengan wajah pucat karena ketakutan.


Padahal mereka sudah terbebas dari kekacauan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka.


"Mungkin mereka berpikir kita merekamnya Non. Apalagi mereka tidak memakai helm atau penutup wajah." tebak pak sopir.


"Ini juga kenapa polisi belum datang." geram Selly, padahal dirinya sudah menghubungi pihak keamanan. Meminta pertolongan pada mereka.


"Mungkin mereka sedang dalam perjalanan." ujar pak sopir.


Mira memegang tangan Mawar tanpa berbicara. Tangannya terasa dingin dengan wajah pucat sama seperti Selly.


Mawar menengok ke belakang. Memang ada beberapa motor yang mengejar mereka. Tapi tidak semuanya.


"Bapak bisa menghindar, meningkatkan kecepatan mungkin." saran Mawar.


"Sulit Non. Mereka pakai sepeda motor." ucap pak sopir tak mau berbohong.


Mawar mengambil ponsel. "Kita sudah berada di kotakan pak?" tanya Mawar memastikan.


"Iya Non, tapi ini bapak mengemudi kembali ke jalur luar kota." ujar pak sopir tak ada pilihan lain.


Sebab tadi menghindari perkelahian sekelompok pemuda. Menjadikannya balik lagi ke arah semula. "Bapak tidak tahu jalan tikus?" tanya Mawar, sembari membuka ponsel.


"Tahu Non, tapi bapak ragu." ujarnya.


Mawar menampilkan ekspresi gemas. "Lakukan yang terbaik pak." pinta Mawar.


"Mawar." cicit Mira menangis.


"Hussttt,,, jangan menangis, kita akan baik-baik saja." ujar Mawar kembali menenangkan.


Sementara Selly memegang sabuk pengamannya dengan erat tanpa berbicara. "Gue harus minta bantuan."


Mawar menebak jika mereka pasti akan dengan mudah menghentikan mobil mereka. Apalagi Mawar ingat jika jalan di depan mereka lurus dan sepi.


"Gue harus menghubungi dia." gumam Mawar tak ada pilihan lain.


"Semoga Jerome sudah selesai ujian." harap Mawar. Hanya terlintas nama Jerome dalam benak Mawar.


Mungkin karena dirinya dan Jerome pernah berada di dalam situasi seperti ini sebelumnya. "Ayo Jerome, angkat." gumam Mawar, Jerome tak segera mengangkat panggilan telepon darinya.


"Halo,,, Jerome tolong. Aku dama yang lain dikejar geng motor. Tolong." Mawar langsung mengatakan tujuannya menelpon Jerome. Menyebutkan dimana keberadaannya sekarang.


Mawar kembali menaruh ponselnya. Berharap Jerome akan datang tepat waktu. "Sebaiknya kita menggunakan masker untuk menutupi wajah." seru Mawar.


Mawar merasa jika dengan menggunakan masker, mereka akan lagi melihat semua wajah mereka. Jadi sedikit aman untuk Mawar dan yang lain.


"Baik, Non. Dengan begitu setidaknya kuta sedikit aman." ternyata apa yang ada di benak Mawar dan pak sopir sama.


Selly memakai masker dengan tangan gemetar. "Elo bisa Selly...?" tanya Mawar.


Selly mengangguk. Dirinya sudah terlalu takut dengan semua ini. "Biar aku bantu." Mawar membantu Mira memakaikan masker.

__ADS_1


"Bapak bisa?" tanya Mawar, karena pak sopir sedang menyetir. "Bisa Non."


Lali dirinya sendiri memakai masker.


__ADS_2