
Lina bersama kedua orang tuanya duduk di meja dengan beberapa orang. "Selamat datang Tuan Tomi." sapa seorang lelaki, berumur di atas Lina.
"Perkenalkan, dia Lina. Putri saya. Maaf, jika sebelumnya dia tidak pernah terlihat. Lina fokus menjadi ibu rumah tangga. Dan sekarang, dia sedikit tertarik dengan dunia bisnis." jelas Tuan Tomi, memperkenalkan sang putri.
Tidak mungkin Tuan Tomi maupun Nyonya Tanti menceritakan yang sesungguhnya terjadi kepada tekan kerjanya, mengenai apa yang sebenarnya terjadi di keluarganya.
"Sudah berkeluarga. Suami Nyonya Lina, apakah juga seorang pengusaha?" tanya rekan kerja Tuan Tomi, yang memang tidak tahu menahu mengenai kehidupan Lina.
Tuan Tomi serta Nyonya Tanti melirik ke arah Lina yang tersenyum. "Saya seorang janda. Baru beberapa bulan yang lalu saya dan suami saya bercerai." ungkap Lina dengan sopan.
"Maaf, maaf,,,,, saya tidak tahu." ucapnya dengan mada menyesal, rasanya tidak enak telah bertanya mengenai hal tersebut.
"Tidak apa-apa." timpal Lina.
"Sudah mempunyai putra?" tanyanya lagi.
Lina mengangguk. "Satu putri. Masih duduk di kelas dua SMA." jelas Lina.
"Baiklah. Perkenalkan, dia putra saya. Juga masih menempuh pendidikan di sebuah perguruan di kota ini." jelasnya.
"Kenapa istri kamu tidak kamu ajak?" tanya Nyonya Tanti.
Lina bisa menebak, jika hubungan kedua orang tuanya dengan rekan kerja yang sekarang mereka temui, lebih dari sekedar rekan kerja saja. Mungkin hubungan mereka lebih dekat lagi.
Terlihat dari cara mereka berbincang. Sama sekali tidak berbicara dengan kata-kata formal. Terkesan santai dan kekeluargaan.
"Istri saya sedang tidak enak badan Nyonya." jelasnya.
"Semoga cepat sembuh." tutur Nyonya Tanti.
"Terimakasih." sahutnya.
Tuan Tomi dan lelaki tersebut membicarakan megenai pekerjaan. Dengan Lina juga putra dari rekan bisnis Tuan Tomi, menyimak dengan seksama apa yang keduanya tengah bicarakan.
Selesai membicarakan mengenai bisnis, mereka melanjutkan dengan makan siang bersama. "Pasti akan sangat menyenangkan, jika Mawar ikut." celetuk Nyonya Tanti.
Mendengar kata Mawar, membuat putra dari rekan bisnis Tuan Tomi menghentikan gerakannya, menyuapi makanan ke dalam mulutnya.
Tanpa melihat ke arah Nyonya Tanti beserta Lina, dia menajamkan pendengarannya. "Mawar. SMA kelas dua." ucapnya dalam hati.
Dia kembali mengerakkan tangannya perlahan, menyuapkan makanan ke dalam mulutnya kembali. "Tapi Mawar belum mau ma. Biarkan saja dulu. Dia paling tidak suka, jika dipaksa." jelas Lina, yang paham akan karakter dari putrinya.
Nyonya Tanti tersenyum. "Iya, mama tidak akan memaksa. Mama sudah sangat senang, Mawar mau menerima mama dan papa kamu."
Lina mengelus lengan sang mama dengan lembut. "Pasti. Mama tenang saja, Mawar itu anaknya baik. Dia bisa berbaur dengan siapa saja." jelas Lina.
Lelaki muda tersebut tersenyum samar. "Mawar. Apa dia perempuan yang itu? Gue harus mencari tahu." ujarnya dalam hati.
Di dalam kamar, dengan cepat Jerome menyambar ponselnya di atas meja. Senyumnya terukir di bibir, saat melihat siapa yang mengiriminya pesan tertulis.
Senyumnya lenyap, saat dia membaca pesan yang Mawar kirim. "Kenapa Mawar berada di rumah Dami....." gumam Jerome berpikir.
"Hanya berdua, dengan tante Utami. Apa sih." cicitnya.
Mungkin, gara-gara selalu emosi beberapa hari tidak bertemu dengan Mawar, otak Jerome sedikit bergeser. Sehingga tidak bisa berpikir cekatan seperti biasa.
Jerome berpikir sejenak. "Astaga."
Jerome tersadar, jika sang kekasih sedang dalam kesulitan. "Mawar dalam bahaya."
Dengan seger, tanpa menunggu lagi, Jerome menyambar kunci motornya. Berlari menuruni anak tangga dengan tangan memakaikan jaket pada tubuhnya.
"Jerome... kamu mau kemana?!" teriak sang mama yang melihat Jerome berlari dengan terburu-buru.
"Bertemu Mawar...!!" seru Jerome.
Nyonya Mesya tersenyum. Tidak seperti dulu, yang pasti akan berang mendengar nama Mawar. Tidak dengan sekarang.
"Jika Jerome menikah dengan Mawar, nama keluarga kita akan semakin di segani. Dan lagi, Mawar adalah cucu tunggal. Pasti dia akan menjadi pewaris satu-satunya kekayaan Tuan Tomi yang tidak terhitung jumlahnya itu." cicit Nyonya Mesya merasa senang.
"Huhh... beruntung Jerome tidak menyukai Dona. Astaga,,, jika itu terjadi. Pasti sekarang kelurga kita akan ikut terlibat." lirih Nyonya Meysa, yang mendengar gosip perselingkuhan Tuan Joko dan Nyonya Puri.
"Ckkk,,,,, apalagi,,,, ternyata Dona begitu bodoh. Astaga, kenapa aku dulu saka sekali tidak mengetahuinya. Atau mungkin, aku kena guna-guna." Nyonya Mesya bergidik.
Guna-guna. Mana ada. Yang ada dirinya mendekatkan Jerome dengan Dona karena harta.
Di gerbang rumah Nyonya Utami, Thomas berbincang dengan satpam. Dirinya berada di laur pagar, dengan pak satpam berada di dalam pagar. Thomas kekeh ingin masuk ke dalam.
"Ehh,,, tunggu. Apa kamu teman Non Mawar?" tanya pak satpam.
"Iya." sahut Thomas.
Seorang satpam berlari dari belakang. "Ada apa?" tanya rekannya yang berbincang dengan Thomas.
"Apa Den Jerome, atau Den Dami belum datang?"
"Memang kenapa?"
"Kelihatannya Tuan Joko marah. Saya khawatir pada Non Mawar." raut kekhawatiran tak dapat dia sembunyikan.
"Astaga, apa yang harus kita lakukan?"
"Saya akan masuk ke dalam. Membantu mereka. Kamu di sini. Siapa tahu Den Jerome atau Den Dami datang."
"Kamu yakin?!"
"Yakin, saya tidak peduli, jika Tuan Joko memecat saya. Membuat susah kelurga saya. Kasihan Non Mawar. Bisa-bisa dia akan celaka bersama Nyonya Utami."
"Baik."
"Tunggu,,, saya Jerome." seru Thomas berbohong, menghentikan pak satpam yang hendak berlari masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Kedua satpam saling menatap. Lalu keduanya beralih kepada Thomas, yang kepalanya masih memakai helm, hanya memperlihatkan kedua matanya.
"Jangan berbohong!" bentak pak satpam. Sebab mereka berdua memang sudah tahu bagaimana wajah dari Jerome.
"Astaga, untuk apa saya berbohong. Cepat buka,,, Apa kalian mau,,, kita terlambat menolong Mawar!" seru Thomas.
Thomas terpaksa berbohong. Dan Thomas bisa menebak, jika mereka menunggu kedatangan Jerome atau Dami.
"Buka dulu helm kamu?!"
Tidak mungkin Thomas melakukannya. Yang ada dia malah tidak bisa masuk dan menolong Mawar. "Tidak ada waktu. Mawar sedang dalam bahaya..!! Apa kalian berdua akan bertanggung jawab, jika terjadi sesuatu pada Mawar dan tante Utami?!" seru Thomas.
Padahal membuka helm bukanlah hal yang sulit dam memerlukan waktu lama. Tentu saja Thomas tidak akan melakukannya. Atau dia akan ketahuan.
Thomas merasa geram dengan kedua satpam di depannya. Thomas paham, jika mereka berdua hanya melakukan tugas, serta bersikap waspada.
Mereka pasti takut, jika salah memasukkan orang. Dan yang mereka masukkan malah musuh dari Mawar. Yang nantinya akan membantu Tuan Joko melawan Nyonya Utami.
"Cepat...!! Buka...!!" teriak Thomas, habis sudah kesabarannya.
Segera salah satu satpam membuka gerbangnya. Membuat Thomas dengan mudah masuk. Segera Thomas mengikuti seorang satpam untuk masuk ke dalam rumah megah di depannya tersebut.
Di dalam rumah Nyonya Utami, terjadi ketegangan. Mawar berdiri tepat di depan Nyonya Utami yang sedang duduk, dengan tangan memegang baju Mawar bagian belakang.
Beberapa pembantu juga bersikap waspada. Meski mereka semua perempuan, seakan mereka tak punya rasa takut jika harus berhadapan dengan Tuan Joko.
Membawa Nyonya Utami pergi, atau masuk ke dalam kamar. Terlambat. "Sebaiknya kamu segera pergi. Jangan ikut campur urusan kami...!!" bentak Tuan Joko.
"Tidak akan. Apa anda tidak punya rasa malu. Datang dengan cara seperti ini." ejek Mawar.
"Anak ini, nekat sekali." geram Nyonya Puri.
Tangan Nyonya Puri hendak meraih lengan Mawar. Tapi seorang pembantu menepis tangannya. Kesempatan tersebut Mawar gunakan untuk membawa Nyonya Utami berdiri.
"Lancang...!!" gertak Nyonya Puri, menampar pembantu tersebut dengan kuat, hingga pipinya berwarna merah.
"Mau kamu bawa ke mana istri saya???!" teriak Tuan Joko, melangkahkan kakinya. Menghentikan Mawar.
Dua orang pembantu menghentikan langkah Tuan Joko. Tapi apa daya, meski mereka berdua, tapi tenaga mereka tetap kalah dengan tenaga Tuan Joko yang hanya seorang diri.
Disingkirkan kedua pembantu tersebut dengan mudah. Hingga tubuhnya terbentur mengenai tembok, dan yang satunya mengenai meja.
"Aaa....!!" seru Mawar, merasakan sakit karena rambutnya ditarik dari belakang.
"Mawar...!!" seru Nyonya Utami.
Mawar memegang rambutnya, agar tidak terlalu sakit saat di tarik oleh seseorang dari belakang. Tak terima Mawar diperlakukan seperti itu oleh Nyonya Puri, Nyonya Utami mendorong tubuh Nyonya Puri hingga terjatuh ke lantai.
"Mawar,,, sayang. Kamu tidak apa-apa?" Nyonya Utami mengelus rambut Mawar dengan ekspresi khawatir.
Mawar tersenyum dan mengangguk. Meski terasa sakit, tapi Mawar tak menunjukkan rasa sakitnya pada Nyonya Utami. Dirinya tidak ingin Nyonya Utami merasa bersalah padanya.
Tuan Joko segera menghampiri Nyonya Puri. Membantunya berdiri. "Sakit mas." rintih Nyonya Puri dengan ekspresi wajah kesakitan.
"Utami....!! Apa yang kamu lakukan?!" bentak Tuan Joko.
"Kamu tanya, apa yang aku lakukan? Lihat, dia menyakiti Mawar. Apa kamu buta?!" teriak Nyonya Utami, dengan badan bergetar, antara rasa takut dan marah yang bercampur menjadi satu.
"Hahh.... salah sendiri ikut campur urusan orang. Bukankah sudah aku katakan untuk dia pergi dari rumah ini!" seru Tuan Joko.
Mawar sadar, apa yang dikatakan Tuan Joko memang benar. Tak pantas rasanya jika dia mencampuri urusan keluarga Nyonya Utami dan Tuan Joko.
Tapi, lagi-lagi Mawar merasa harus melakukannya. Ada janji yang sudah dia pegang. Ada ucapan yang harus dia penuhi. Dan dia tidak bisa begitu saja mengindahkan amanah yang telah dipercayakan padanya.
Tuan Joko melangkah maju. Tangannya terangkat menampar Nyonya Utami, tapi dengan cepat, Mawar memposisikan diri di depan Nyonya Utami, sehingga wajah Mawarlah yang ditampar dengan keras oleh Tuan Joko.
"Mawar...!"
"Non Mawar....!!"
Nyonya Utami dan beberapa pembantu berteriak bersama. Nyonya Utami menopang tubuh Mawar yang terjatuh ke samping.
Thomas yang baru sampai, langsung berlari ke arah mereka. Dan memberikan bogem pada wajah Tuan Tomi.
Bugh.... Tuan Tomi terjengkang ke belakang. "Mawar...." Thomas membuka helmnya. Melemparkannya ke sembarang arah.
Mengambil alih tubuh Mawar yang tidak sadarkan diri dari Nyonya Utami. "Mawar... "Thomas menepuk pelan pipi Mawar.
Perlahan, Thomas meletakkan kepala Mawar, di pangkuan Nyonya Utami. Thomas berdiri. "Kamu... berani sekali menyakiti saudaraku." geram Thomas.
Tuan Joko tersenyum miring. "Cih,,,, salah sendiri, mencampuri urusan orang lain." ucapnya dengan pongah.
Kedua tangan Thomas terkepal kuat. Diliriknya Nyonya Utami dan beberapa pembantu yang menangis mengerubungi tubuh Mawar yang belum sadarkan diri.
Bugh,,,, bugh,,,,, dengan membabi buta, Thomas memukul Tuan Joko. Tentu saja Tuan Joko akan kalah dengan Thomas.
Sedangkan Nyonya Puri hanya bisa berteriak. Menyaksikan Tuan Joko dipukuli oleh pemuda yang baru saja sampai itu.
"Cukup.....!!!" teriak Nyonya Utami.
Tangan Thomas yang hendak melayang kembali ke wajah Tuan Joko terhenti di udara. "Lihat, kamu akan membusuk di penjara." ancam Tuan Joko, dengan tubuh di rangkul oleh Nyonya Puri.
Thomas tertawa penuh ejekan. "Polisi.... Silahkan, akan aku tunggu. Akan aku lihat, siapa yang bisa menyentuh keluarga Buwono....?!" seru Thomas dengan congkak.
Ekspresi Tuan Joko terkejut. Dirinya tidak percaya, lelaki muda yang menghajarnya adalah cucu dari Tuan Sapto Buwono.
"Dan apakah anda tahu Tuan, siapa perempuan yang anda tampar hingga tidak sadarkan diri. Anda tahu..??!"
Thomas tersenyum miring. "Dia Mawar. Cucu dari Tuan Tomi Prakuso. Seharusnya anda tahu, siapa dia."
Tuan Joko menatap ke arah Mawar yang masih belum sadarkan diri. "Jika sampai terjadi apa-apa dengan Mawar, aku bersumpah, akan membuat hidupmu menderita,,, Joko..." gerak Nyonya Utami.
__ADS_1
Rasa sakit dan ketakutan dihatinya menghilangkan, saat melihat keadaan Mawar. Yang tertinggal hanya amarah, melihat keadaan Mawar yang tak berdaya.
"Sebaiknya kita segera pergi." ajak Nyonya Puri, yang bisa membaca situasi.
Nyonya Puri juga tahu, siapa dua nama yang disebutkan oleh pemuda yang menghajar Tuan Joko. Mereka berdua adalah lelaki berumur, tapi masih memiliki kekuasaan dan kekuatan.
Thomas memandang lekat ke arah Tuan Joko dan Nyonya Puri yang pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Tolong, bawa Mawar ke kamar saya." pinta Nyonya Utami.
Thomas mengangguk. "Mari Den." seorang pembantu berjalan terlebih dulu. Menunjukkan letak kamar yang di katakan oleh Nyonya Utami.
Beberapa pembantu segera membersihkan ruang tamu. Ada yang bergegas pergi ke dapur. Membuatkan air minum untuk Mawar dan juga Nyonya Utami, serta Thomas.
"Semoga Non Mawar baik-baik saja." tukas seorang pembantu.
"Benar. Sudah cantik, baik. Andai saja berjodoh dengan Den Dami. Pasti Nyonya alan senang." timpal yang lain.
"Semoga." sahut yang lain.
Nyonya Utami segera menghubungi dokter keluarganya. Beliau tentu saja khawatir dengan keadaan Mawar.
Sedangkan Thomas berada di samping Mawar, berusaha membangunkan Mawar dari pingsannya, dengan mendekatkan minyak ke hidung Mawar seraya mengelus pipinya yang merah karena bekas tamparan Tuan Joko.
Seorang pembantu datang membawa wadah berisi air dan kain untuk mengompres pipi Mawar yang bengkak. "Biar saya saja tante."
Thomas mengambil wadah tersebut. Dengan telaten, dia mengompres pipi Mawar. "Sabar ya sayang, sebentar lagi dokter akan datang."
Bukan hanya Nyonya Utami dan Thomas yang merasa khawatir. Tapi juga para pekerja di rumah Nyonya Utami.
Seorang pembantu lain datang, dengan membawa tas Mawar yang berada di kursi ruang tamu. "Nyonya, ponsel Non Mawar berbunyi." ucapnya, sambil menyerahkan tas Mawar pada Nyonya Utami.
Nyonya Utami merogoh dan mengambil ponsel Mawar yang berada di dalam tasnya. "Ibu." lirih Nyonya Utami. Tahu siapa yang sedang menghubungi Mawar.
Nyonya Utami menghela nafas. Dia tidak mungkin berbohong. Diangkatnya panggilan telepon dari Lona pada ponsel Mawar.
Nyonya Utami menceritakan kronologi kejadiannya. "Maaf, saat ini Mawar sedang pingsan. Tapi saya sudah memanggilkan dokter." jelas Nyonya Utami merasa bersalah.
"Baik." Nyonya Utami memasukkan kembali ponsel Mawar ke dalam tas Mawar, setelah Lina mengakhiri percakapan singkat mereka.
"Maaf sayang, ini semua gara-gara tante." Nyonya Utami mengelus dengan lembut dahi Mawar.
"Tante tidak perlu menyalahkan diri. Mawar sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan. Saya rasa, Mawar mengambil keputusan yang tepat." papar Thomas.
Thomas bisa melihat bagaimana keadaan Nyonya Utami. Dia tidak ingin Nyonya Utami malah jatuh sakit karena terlalu merasa bersalah kepada Mawar.
Dami datang dan langsung masuk ke dalam kamar sang mama. "Mama..." panggil Dami.
Dia langsung memeluk sang mama. "Maaf, Dami terlambat." ujarnya.
"Mawar." cicit Dami, melihat Mawar terbaring dengan kedua mata terpejam. Dami mengurai pelukannya pada sang mama.
"Maaf Mawar, maaf. Kak Dami datang terlambat." sesal Dami, merutuki keterlambatannya. Padahal Dami juga tidak berniat untuk datang terlambat.
Dami melihat ke arah Thomas, sedang memegang kain yang ditempelkan di pipi Mawar. "Saya Thomas, teman Mawar." ucap Thomas memperkenalkan diri.
Tak berselang lama, dokter datang bersamaan dengan keluarga Mawar. Sang dokter langsung memeriksa keadaan Mawar.
"Bagaimana dok?" tanya Nyonya Utami dan Lina bersamaan.
Lina merangkul pundak Nyonya Utami. Mengelus bahunya dengan pelan. Lina tidak mungkin menyalahkan Nyonya Utami atas kejadian yang menimpa sang putri.
Seperti perkataan Thomas. Mawar sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan. Dan Lina, malah bangga pada putrinya, yang peduli terhadap Nyonya Utami.
"Mawar hanya syok, dia pingsan karena kerasnya tamparan dari Tuan Joko. Tidak perlu khawatir. Sebentar lagi Mawar akan sadar." jelas sang dokter.
Semuanya bernafas lega mendengar penjelasan sang dokter. "Joko. Berani sekali dia melukai cucuku." geram Tuan Tomi.
Tuan Tomi mengambil ponsel, menghubungi seseorang. "Beri hadiah pada Joko. Karena sudah membuat cucuku tak sadarkan diri." perintah Tuan Tomi.
Semua hanya diam. Tak ada yang berani menghentikan keinginan Tuan Tomi. Terlebih, mereka paham, kenapa Tuan Tomi melakukan hal tersebut.
"Nyonya Utami, kelihatannya anda akan segera mempunyai menantu." celetuk sang dokter, melirik ke arah Dami yang menggenggam telapak tangan Mawar, dengan ekspresi cemas.
Pandangan semua lantas mengarah kepada Dami. Segera Dami melepaskan tangannya dan berdiri. "Mawar." cicit Thomas.
Lina segera mendekat ke tempat Mawar. "Iissshhh..." desis Mawar, dengan kedua mata masih terpejam.
"Sayang." panggil Lina lagi.
Mawar tersenyum memandang ke arah sang ibu. "Biar ibu bantu." Lina membantu Mawar yang hendak duduk, menyenderkan punggungnya di ranjang.
Nyonya Tanti menatap sang cucu dengan iba. "Kamu baik-baik saja?" tanya beliau. Mawar mengangguk seraya tersenyum.
"Maafkan tante." cicit Nyonya Utami.
Mawar menggeleng. "Tidak bu, ibu tidak bersalah. Mawar yang memilih, bukan ibu yang meminta." papar Mawar dengan bijak.
"Benar Nyonya, anda tidak bersalah. Suami anda yang bersalah. Jangan meminta maaf." timpal Lina.
"Pantas saja Mawar begitu baik. Ibunya ternyata juga seperti malaikat." puji Nyonya Utami pada Mawar dan Lina.
"Pasti akan sangat senang, mempunyai keluarga seperti kalian." lanjut Nyonya Utami.
"Dami, dengar. Mama kamu saja sudah merestui. Kamu mau menunggu apa lagi." goda sang dokter.
"Om..." geram Dami, memanggil dokter tersebut dengan panggilan om.
Mawar yang sebenarnya tahu maksud dari perkataan sang dokter hanya tersenyum canggung. Sementara Thomas, tatapan matanya tak lepas dari sosok Mawar.
Di depan pintu, seorang lelaki menggenggam telapak tangannya dengan erat. Dia tersenyum miring. "Enak saja. Mawar hanya milik gue." ucapnya.
__ADS_1
"Sayang...." panggilnya, membuat semua orang menoleh ke sumber suara.