MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 174


__ADS_3

"Dimana Jihan?" tanya Nyonya Meysa pada salah satu pembantu di rumahnya.


"Maaf Nyonya, saya tidak tahu." tuturnya.


"Coba kamu tanyakan teman kamu yang lain." pinta Nyonya Meysa.


"Baik Nyonya. Saya permisi dulu." pamitnya.


Tak berselang lama, seorang pembantu datang menghampiri Nyonya Meysa. "Maaf Nyonya, saya tadi melihat Nona Jihan pergi keluar rumah dengan terburu-buru." jelasnya.


"Apa dia mengatakan sesuatu?"


"Tidak Nyonya."


Nyonya Meysa menggerakkan tangannya. Mengisyaratkan pada sang pembantu untuk dia pergi dari hadapannya.


"Saya permisi dulu Nyonya." pamitnya.


Nyonya Meysa mengira-ngira kemana Jihan pergi. Pasalnya, beberapa kali beliau menghubungi ponsel Jihan, tapi tidak diangkat oleh sang pemiliknya, meski ponsel Jihan aktif.


"Kemana Jihan pergi?" gumam Nyonya Meysa.


"Mawar." tebak Nyonya Meysa. Hanya nama itu yang saat ini terbesit dalam benaknya. Sebab Nyonya Meysa tahu bagaimana sang putri sangat ingin menyingkirkan Mawar.


Segera Nyonya Meysa pergi ke kediaman Mawar bersama sang sopir. "Jangan sampai Jihan membuat ulah."


Nyonya Meysa tahu dan paham jika Mawar yang sekarang ini, bukanlah Mawar yang bisa disentuh seenaknya, layaknya Mawar yang dahulu. Ada nama besar Tuan Tomi di belakang Mawar.


Selain itu, sang mertua juga dangat menyayangi Mawar. Tak pelak, hal tersebut menjadi pertimbangan sendiri bagi Nyonya Meysa.


"Pak, percepat mobilnya." pinta Nyonya Meysa terlihat khawatir dengan apa yang dilakukan oleh sang putri.


Tak seperti biasa, Nyonya Meysa tidak menanti sang sopir membukakan pintu. Hal tersebut membuat sang sopir merasa heran.


Kemungkinan besar karena Nyonya Meysa ingin segera bertemu sang putri. Pastinya, beliau tidak ingin jika Jihan mengacau. Dan membuat rencananya berantakan.


Apalagi Mawar sudah memaafkan tindakan Jihan. Dan sang suami juga seperti enggan untuk mengasingkan Jihan.


"Jangan sampai mas Adipavi serta Mawar berubah pikiran. Gara-gara tindakan Jihan yang ceroboh." batin Nyonya Meysa sembari berjalan menuju ke rumah Lina.


"Jihan....!!" seru Nyonya Meysa, melihat dari ambang pintu, pakaian yang Jihan kenakan basah. Dengan tangan memegang sebelah pipinya.


Mawar dan Selly hanya memandang ke arah Nyonya Meysa dengan ekspresi datar. "Mama..." Jihan berlari memeluk sang mama yang baru saja datang.


Sedangkan semua yang ada di belakang meninggalkan pekerjaan mereka, dan segera menghampiri Mawar dan Selly yang ada di ruang tamu, setelah sang pembantu melaporkan apa yang terjadi.


"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Lina mendekat ke tempat Mawar.


"Perusuh datang." ketus Selly. Mawar menyikut pelan lengan Selly. Menyuruhnya untuk diam.


Nyonya Meysa mengurai pelukan Jihan. "Ada apa dengan kamu?" Nyonya Meysa menelisik keadaan sang putri.


Tanpa menjawab pertanyaan dari sang mama, Jihan menatap tajam ke arah Mawar. Seakan menjawab apa yang dipertanyakan oleh sang mama. "Astaga Mawar, apa yang kamu lakukan sama anak tante?" tanya Nyonya Meysa.


Mawar mencekal lengan Selly, saat Selly ingin membuka mulutnya. "Silahkan masuk dan duduk dulu tante." ujar Mawar dengan ramah.


"Sebaiknya jeng masuk, biar lebih enak berbincangnya." timpal Lina.


"Caty, ajak yang lain ke belakang." Lina mengedipkan kedua matanya, meminta tolong pada Caty.


Caty mengusap perutnya yang tak lagi rata, saat memandang Nyonya Meysa serta Jihan. "Iya kak." tutur Caty.


"Ayo tante, ma. Kita ke belakang." ajak Caty, pada sang mama dan Nyonya Tanti.


Sedangkan di depan, hanya menyisakan Mawar dan Lina, serta Selly yang tentu saja dia tidak akan mau disuruh pergi meninggalkan Mawar.


"Mawar yang melakukannya pada Jihan ma." ujar Jihan mengadu.


"Maaf tante, Mawar nggak sengaja." cicit Mawar.


"Sebenarnya apa yang terjadi sayang?" tanya Lina.


"Mawar tidak sengaja menumpahkan air minumnya bu." jelas Mawar. Padahal bukan dirinya yang melakukannya.


"Alaahh.... sok bersikap baik. Lihat." Jihan menunjukkan sebelah pipinya yang berwarna merah. "Ini karena ulah kalian." sungut.


"Bukan kalian. Tapi gue sendiri yang melakukannya. Selly." tegas Selly, memperjelas keadaan.


Lina menggenggam telapak tangan Selly. Lina yakin, Mawar akan mudah mengontrol emosinya. Berbeda dengan Selly yang memang terkenal bar-bar dan suka main fisik.


"Maaf jeng, namanya anak-anak. Pasti ada kesalahpahaman." tukas Lina.


Mawar tersenyum samar. Kata anak-anak. Mengingatkan dia saat Nyonya Meysa membela Jihan menggunakan kata tersebut.

__ADS_1


"Jihan, maafkan Selly dan Mawar ya. Mungkin mereka tidak sengaja." lanjut Lina.


"Nggak bisa ma, pipi Jihan sakit." keluh Jihan tidak terima.


"Heyy..." ucap Selly terhenti karena Lina menarik lengan Selly dengan pelan.


"Tenang." cicit Lina. Selly hanya memutar kedua matanya dengan kesal. Padahal ingin sekali Selly menampar pipi Jihan hang satunya lagi.


"Lalu apa yang kamu inginkan?" tanya Mawar.


Jihan tersenyum sinis. "Tentu saja hal yang sama." ujarnya.


"Baik. Hal yang sama. Itu artinya kamu akan menampar Selly. Begitu?" tanya Mawar memastikan.


Jihan tersenyum miring. Mawar mengambil ponsel di dalam saku miliknya. "Kak Jerome, bawa lelaki yang kak Jerome tawan ke rumah Mawar. Sekarang." pinta Mawar dengan tegas.


Lina yang belum tahu kejadian yang sebenarnya merasa bingung. Lelaki yang ditawan oleh Jerome. Kenapa Jerome menawan seorang lelaki. Apa hubungannya dengan Mawar dan Jihan. "Mawar, ada apa ini?" tanyanya.


"Mawar, Jihan hanya bercanda. Iya kan sayang, kamu tidak ingin menampar Selly kan." ucap Nyonya Meysa dengan lembut, tapi menatap Jihan dengan kesal.


Jihan membuang pandangannya ke arah lain. Mawar tersenyum sinis. "Saya tidak akan segan-segan membawa masalah ini ke jalur hukum, jika putri anda tetap mencari masalah dengan saya." tegas Mawar.


Selly tersenyum senang. Dia mengira Mawar akan kembali diam dan mengalah. Ternyata, Mawar menunjukkan taringnya.


"Jalur hukum. Mawar,,, Selly,,, jelaskan pada ibu. Apa yang terjadi?!" seru Lina.


"Bu, Jihan telah..." ucap Selly terpotong kerena Nyonya Meysa mengeluarkan suaranya.


"Selly, kamu jangan ikut campur. Ini bukan urusan kamu." potong Nyonya Meysa, tidak ingin Lina mengetahui hal tersebut.


"Maaf, Selly adalah sahabat Mawar. Dia sama seperti Mira. Keduanya sudah saya anggap seperti putri saya sendiri." tegas Lina.


Mawar hanya diam. Seolah membiarkan Selly untuk menceritakan semuanya pada sang ibu. "Buk, Jihan ingin menjebak Mawar, supaya Mawar tidur dengan seorang lelaki asing. Tapi Tuan Buwono mengetahuinya. Dan kak Jerome menggagalkannya."


Lina menggeleng tak percaya. "Jadi, yang di hotel saat itu."


Selly mengangguk. "Jihan...!!" seru Lina terlihat murka pada Jihan.


Lina berdiri, memandang tajam ke arah Nyonya Meysa dan Jihan. "Saya tidak terima dengan apa yang kamu lakukan pada putri saya." tekan Lina.


"Jeng,, kita bisa bicarakan baik-baik. Jihan masih anak-anak. Tolong pengertiannya."


"Masih anak-anak...!" entah sejak kapan, Tuan Tomi berdiri di dekat pintu bersama seorang bawahannya.


"Papa." gumam Lina.


Selly tersenyum penuh kemenangan. Dia bisa menebak, kali ini pasti Jihan tidak akan dengan mudah lepas dari rencana liciknya. "Bagus. Salah sendiri datang ke kandang singa." batin Selly.


Sementara Mawar hanya menampilkan ekspresi datar. Mawar terlihat masa bodo dengan keputusan yanga akan diambil oleh sang ibu dan kakeknya.


Tapi dalam hati, Mawar merasa senang. Dirinya akan tetap terlihat baik. Tak perlu mengeluarkan taring. Sebab, orang terdekatnya yang akan menyelesaikannya semuanya.


Mawar menatap Jihan yang juga tengah menatapnya. "Sekarang kamu lihat. Inilah arti licik yang sesungguhnya." batin Mawar tersenyum remeh menatap Jihan.


Seorang pembantu tiba-tiba datang dan menyela pembicaraan mereka yang sedang dalam tensi tinggi. "Maaf Tuan, Nyonya. Saya yang menyebabkan pakaian Nona Jihan basah. Jangan salahkan Nona Mawar." jelasnya.


Mawar tersenyum sembari mengangguk pelan. "Bibik ke belakang saja. Mawar yang akan menyelesaikannya." tukas Mawar.


"Terimakasih Non." cicitnya, dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Tunggu. Jadi kamu yang membuat putri saya seperti ini. Saya tidak terima." sinis Nyonya Meysa mencoba mengalihkan perhatian serta topik pembicaraan mereka.


"Maaf Nyonya... Nyonya muda, jangan pecat saya." pintanya pada Lina.


Lina tersenyum, mengelus bahu sang pembantu. "Bibik ke belakang saja seperti yang dikatakan Mawar. Tidak akan ada pemecatan di rumah ini." tegas Lina.


"Terimakasih Nyonya Muda, terimakasih Non Mawar." ucapnya senang.


"Jeng,,, jangan bersikap lemah di hadapan pekerja. Nanti mereka bisa nglunjak." ujar Nyonya Meysa mencoba mencuci otak Lina.


Selly mencebikkan bibirnya. "Nglunjak. Emang main lompat tali." ketus Selly, mendapat sikutan pelan dari Mawar.


"Kamu juga, sebaiknya ke belakang." pinta Lina pada Selly.


Selly langsung cemberut. "Tidak akan." kekeh Selly bersedekap dada.


"Nanti siapa yang akan melindungi Mawar dan ibu dari dua iblis ini." sambung Selly menatap sengit Nyonya Meysa dan Jihan.


Nyonya Meysa membuka mulutnya mendengar apa yang dikatakan Selly. "Iblis." batin Nyonya Meysa menahan amarahnya.


Tuan Tomi beserta bawahannya yang mendengar ucapan Selly mencoba menahan tawa mereka. Lina mendesah panjang, menatap ke arah Mawar.


Seolah Lina meminta pertolongan sang anak. Lina tahu, jika hanya Mawar yang bisa mengendalikan Selly.

__ADS_1


Mawar sebenarnya juga membutuhkan Selly di sini. Sikap Selly yang bar-bar tanpa perhitungan sangat cocok jika dihadapkan dengan Jihan.


Tapi apalah daya. Mawar tak mungkin menolak keinginan sang ibu. "Kamu ke belakang saja dulu." pinta Mawar.


Selly memasang tampang memelas seraya menatap Mawar. "Mawar." rengeknya.


"Aku bisa menghandlenya. Ada bawahan kakek juga. Jangan khawatir." jelas Mawar.


Selly menatap seorang lelaki paruh baya yang berdiri di belakang Tuan Tomi. "Pak, jaga mereka bertiga dengan nyawa bapak. Iblis itu punya banyak cara." tukas Selly asal nyeplak.


"Baik Non." sahut bawahan Tuan Tomi.


"Selly,,, apa orang tua elo nggak bisa ngajarin elo untuk bertindak sopan...!!" seru Jihan.


"What.... Heloo,,, nggak usah bawa-bawa orang tua gue. Ngaca...!! Apa orang tua elo kebanyakan uang. Hingga elo mempergunakan uang tersebut untuk membayar orang, mencelakai Mawar." sinis Selly kembali ke topik awal, menyindir Jihan.


"Jihan...." geram Nyonya Meysa.


Tuan Tomi masuk ke dalam, dan langsung duduk di kursi. "Panggil Dewano dan Adipavi ke sini." pintanya pada sang bawahan. Dan Selly, dia tetap ada di ruang tamu.


Belum sempat sang bawahan menghubungi mereka, Jerome datang bersama seorang lelaki dengan keadaan babak belur. Dengan ditemani Luck.


Serta Tuan Dewano dan Tuan Adipavi berjalan di belakang mereka bertiga. "Panjang umur." cicit Tuan Tomi duduk dengan angkuh.


Tuan Adipavi langsung menatap tajam ke arah Jihan dan sang istri. Seakan menebak jika keduanya tengah membuat masalah kembali.


"Ohh... my god..." ujar Selly melihat keadaan lelaki yang dibawa Jerome.


Bukan hanya Selly yang terkejut dengan penampilan lelaki tersebut. Tapi semua orang yang ada di ruangan. Selain Jerome dan Luck. Sebab, lelaki tersebut menjadi seperti itu karena ulah keduanya.


Mawar mendekat. Berdiri di depan lelaki tersebut dengan menatapnya lamat-lamat. Begitu juga dengan Selly, dia mendekat ke arah Mawar. Lalu membisikkan sesuatu pada Mawar.


Melihat ekspresi Mawar dan Selly, seperti keduanya mengenal lelaki tersebut. "Angkat dagu elo." geram Mawar dengan nada tegas.


Mawar menaikkan sebelah alisnya. "Angkat...!!" seru Mawar. Membuat semua orang terkesiap dengan apa yang dilakukan Mawar.


Mawar yang dikenal lembut dan tenang. Berubah menjadi serigala lapar yang siap menerkam mangsa di hadapannya.


Jerome pun dibuat heran dengan tindakan Mawar. Selly menggenggam erat telapak tangannya. "Maafkan saya." sang lelaki tersebut langsung berlutut di bawah kaki Mawar.


"Maaf. Tentu saja gue akan memaafkan elo. Tenang, brengsek." ujar Mawar, berjongkok di depan lelaki tersebut.


Mawar memegang kerah baju sang lelaki. "Berdiri kawan. Gue sama sekali tidak menyangka. Ternyata benar kata orang, dunia tak selebar daun kelor." seringai Mawar.


Bugh.... plak... Mawar melayangkan tinjunya serta menampar lelaki tersebut dengan keras. Bahkan, Lina sampai memejamkan kedua matanya, sembari berteriak.


Nyonya Meysa dan Jihan menelan ludah mereka dengan kasar. Mawar menatap Selly, Selly mengangguk dan langsung pergi ke belakang.


"Aaa...!!" jerit lelaki tersebut, saat Mawar menginjak telapak tangannya tanpa ampun.


Jerome saling berpandangan dengan Luck. Keduanya juga dibuat bingung oleh tingkah Mawar. Bahkan, Tuan Tomi tersenyum samar melihat tindakan kejam Mawar.


Selly kembali ke depan bersama dengan Mira. Tampak Selly memegang lengan Mira dengan kuat. "Elo, akhirnya muncul juga." ucap Mira dengan kedua mata berkabut.


"Maaf, maafkan saya. Saya berjanji, tidak akan mengulangi perbuatan saya lagi." cicitnya memohon ampun pada Mira.


Selly memegang pundak Mira. Menatap tajam ke arah lelaki tersebut. "Mawar." panggil Mira dan Selly bersamaan.


Mawar duduk di kursi single. Tampak angkuh layaknya seorang penguasa. "Selamat datang, di neraka." seringai Mawar terlihat bagai iblis yang nyata.


Semua orang dibuat tercengang dengan tindakan serta tingkah Mawar kali ini. Apa yang mereka lihat, bukanlah Mawar yang seperti biasanya. "Mawar." batin Lina.


Mawar menatap bawahan Tuan Tomi. "Om, masukkan lelaki tampan ini ke hotel mewah. Atas tuduhan dua kali percobaan pemerkosaan. Dengan korban, Mira Mahesa dan Mawar Riani." tegas Mawar.


Semua menatap ke arah Mira dengan tatapan tidak percaya. Dibalik musibah yang hampir saja merusak masa depan Mawar, ada sebuah rahasia besar yang hanya diketahui oleh Mawar dan kedua sahabatnya, yang kini terkuak. Bahkan, kedua orang tua Mira pun tidak mengetahui hal tersebut.


Tuan Tomi memandang bawahannya seraya mengangguk. Menyetujui apapun yang akan diputuskan oleh sang cucu.


"Bukti akan Mawar berikan segera." ungkap Mawar. Yang artinya, Mawar sudah menyimpan seluruh bukti kejahatan lelaki yang sedang bersimpuh di hadapannya tersebut.


Selly memeluk Mira dengan erat. "Serahkan semua pada Mawar. Percayalah padanya." Selly segera menghapus air mata yang sudah terkumpul di pelupuk matanya.


Semua tiba di saat yang tepat. Mungkin, jika Mawar belum bertemu dengan sang kakek, Mawar juga akan kesulitan untuk melaporkan semuanya.


Tapi, memang Tuhan mengatur segalanya di waktu yang tepat dan mempermudah semua urusan hamba-Nya.


"Mira. Kasus pemerkosaan." batin Jerome. Yang juga tidak mengetahui semua ini.


Lina mendekat ke arah Mira dan Selly. Memeluk keduanya layaknya putri kandungnya. "Maaf, ibu tidak tahu sayang." tutur Lina merasa bersalah.


"Tidak bu, kedua orang tua Mira bahkan tidak ada yang tahu." ungkap Mira.


"Sayang. Kalian bertiga memang sangat hebat." puji Lina, memeluk Mira dan Selly semakin erat.

__ADS_1


Mawar tersenyum melihat ketiganya berpelukan. Sedangkan Tuan Dewano memandang lekat ke arah Mawar yang masih duduk di kursi.


"Beruntung, dia ada di pihak Jerome. Jika tidak, Jerome bisa dikalahkan dengan mudah olehnya." batin Tuan Dewano.


__ADS_2