
Semua orang tua siswa sudah datang ke sekolah. Mereka berkumpul di aula besar. Duduk di kursi dengan nyaman, menunggu acara yang sebentar lagi akan di mulai.
Termasuk para siswa yang tidak mengikuti pensi, mereka juga duduk di tempat tersebut, satu ruangan bersama orang tua mereka. Hanya saja tempat yang mereka duduki diatur terpisah dari para wali mereka. Sehingga terlihat begitu rapi dan apik.
Semuanya menyambut momen ini dengan sangat antusias.
Di kursi paling atas, yang berada di ujung kanan. Seorang murid perempuan duduk dengan senyum miring terukir di bibirnya.
Pandangan matanya tak lepas dari arah panggung. Dimana teman-temannya akan melakukan pertunjukkan sesuai dengan apa yang sudah di tentukan sebelumnya.
Siapa lagi jika bukan Dona. Dirinya tak sabar ingin melihat Mawar berdiri di sana. Melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Yakni, beradu peran bersama beberapa beberapa murid lainnya dan juga Jerome dalam sebuah lakon drama.
"Hari ini, akan jadi hari bersejarah buat elo Mawar. Dan seumur hidup elo, elo nggak akan pernah bisa melupakan ini semua. Emmm,,,, ini akan jadi kenangan terindah elo. Sekaligus, ini kado terbaik dari gue, sebelum gue meninggalkan sekolah ini." ucapnya lirih.
Dona yakin, jika rencananya kali ini akan berjalan dengan lancar tanpa halangan. Seakan dirinya sudah memprediksi, apa yang akan terjadi. Jika Mawar memakai gaun tersebut.
Dona terlalu sibuk dengan semua pikirannya untuk membuat masalah dan mencelakai, serta mempermalukan Mawar. Tanpa dia tahu, kedua orang tuanya mempunyai masalah yang serius. Yang pastinya dirinya akan tekena imbasnya.
Tak berselang berapa lama, acara dimulai. Tampak semua tamu undangan menatap ke arah panggung, dimana kepala sekolah sedang berdiri dan mengucapkan beberapa kalimat untuk penyambutan kedatangan para wali murid.
Berbeda dengan mereka yang duduk tenang di aula. Menikmati jalannya acara dengan lancar dan hikmat. Para pemain pensi yang ada di belakang sedang khawatir dan cemas. Terutama untuk mereka yang bermain drama.
"Elo sudah menghubunginya?" tanya Mira.
Selly mengangguk cepat. "Sudah. Tapi tidak diangkat." sahut Selly.
Jerome hendak meninggalkan ruangan. "Jerome... elo mau ke mana?" Tian menghentikan langkah Jerome.
"Gue akan mencari Mawar." tegas Jerome.
"Tidak ada yang boleh keluar dari sini..!!" tekan seorang guru yang bertugas mengawasi jalannya acara.
"Cukup Mawar yang membuat kita bingung. Kamu jangan menambah masalah." lanjutnya.
"Apa elo lihat tante?" tanya Selly pada Mira.
"Beliau ada di aula." tampak Mira sangat khawatir akan keadaan Mawar yang tiba-tiba tidak tahu akan kabarnya.
Keberadaan Lina di depan menegaskan jika Mawar sudah tidak berada di rumah. Apalagi, Mira melihat wajah sumringah dari Lina.
"Apa kita perlu tanya ke tante?"
"Jangan." cegah Mira saat Selly menyarankan hal tersebut.
"Pasti tante akan panik. Sebaiknya kita memikirkan jalan lain." saran Mira
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya seorang siswa, pasalnya Mawar adalah pemain utama dalam lakon drama yang alana mereka mainkan, yang akan beradu peran dengan Jerome.
"Semoga Mawar baik-baik saja." tukas seorang murid.
Mereka tahu, Mawar tidak mungkin begitu saja pergi meninggalkan tanggung jawabnya. Mereka semua kenal dan hapal bagaimana karakter dan sifat seorang Mawar.
Mawar, dia akan bertanggung jawab atas apa yang dia putuskan. "Maaf pak, tapi saya harus mencari Mawar." tekan Jerome, pada seorang guru yang berdiri di ambang pintu.
"Jangan egois Jerome. Kamu pergi, semua akan kacau. Apa kamu tidak memikirkannya...!! Lihat, semua wali murid sudah datang. Semua sudah berjalan semestinya." sang guru memberi pengertian pada Jerome.
Beliau juga merasa khawatir. Apalagi beliau mendengar jika ibu dari Mawar berada di depan, tepatnya di aula bersama wali murid yang lain.
Berarti Mawar sudah berangkat sedari tadi. "Semoga Mawar dalam keadaan baik-baik saja." batinnya merasa cemas juga. Namun beliau tidak boleh bersikap egois. Dan harus berpikir dengan jernih.
Luck menepuk pundak Jerome. "Elo tenang saja. Kita yang akan mencari Mawar. Selesaikan tugas elo."
"Benar. Kita bisa bagi tugas. Beberapa murid yang bebas, kalian bisa mencari Mawar. Sedangkan yang memiliki tanggung jawab, kalian juga harus melakukan apa yang sudah dibebankan pada kalian."
"Benar pak." sahut Luck. Tian juga mengangguk, membenarkan perkataan Luck.
Jerome kembali duduk. Perasaan bersalah menjalar di hatinya. "Sayang, maaf." ucapnya dalam hati.
Jika saja Jerome menjemput Mawar seperti biasanya, pasti sekarang Mawar juga sudah ada si sini, bersama dirinya.
Jerome merasa dirinya benar-benar egois. Hanya memikirkan apa yang sedang dia inginkan. Tanpa peduli dengan Mawar. Padahal mereka baru menjadi sepasang kekasih dalam hitungan hari.
"Kita keluar dulu." pamit Luck. Disusul oleh Tian, Mira, dan Selly di belakangnya.
"Pak, lalu kita harus bagaimana?" tanya seorang murid yang juga berpartisipasi dalam drama tersebut.
"Kita harus mencari penggantinya. Tapi siapa? Apalagi waktunya seperti ini. Sangat mendesak." timpal yang lain.
"Maaf, semua. Jika saya tiba-tiba ikut campur. Jika diperkenankan, saya bisa menggantikan Mawar." tawar Gaby, bersedia menggantikan peran Mawar.
Gaby yang tak sengaja lewat dan mendengar kegaduhan di ruang tersebut. Merasa penasaran, Gaby mencuri dengar.
Senyumnya terukir sempurna di bibir. Melihat semuanya kebingungan karena Mawar tidak hadir. Dan hal tersebut, Gaby manfaatkan untuk dirinya sendiri.
Dia akan dianggap sebagai penolong. Dan juga mendapat bonus berdekatan dengan Jerome. Ditambah, Gaby akan sedikit menaburkan bumbu, jika Mawar adalah orang yang tidak bertanggung jawab. Itulah yang ada di pikiran Gaby.
Suasana hening. Semua mata menatap ke arah Gaby yang tiba-tiba datang, mengajukan diri sebagai pahlawan untuk mereka. Juga dengan Jerome. Tatapan tak suka dari Jerome terlihat jelas.
"Kamu yakin?" tanya sang guru.
Gaby mengangguk pasti. "Maaf, saya tidak setuju." tolak Jerome menyela.
__ADS_1
"Kamu tidak ada alasan untuk menolak..!!" tegas sang guru.
Semua yang ada di ruangan tersebut tahu kenapa Gaby melakukannya. Mereka juga tahu, dari pandangannya, Gaby juga pasti menyukai sosok Jerome.
Tapi mereka juga tidak punya pilihan lain. Lebih baik Gaby menggantikan peran Mawar. Dari pada drama ini dibatalkan.
"Bawa dia masuk ke ruang ganti." pinta sang guru, pada petugas yang membantu para murid mempersiapkan diri.
Jerome mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Apa Mawar sengaja tidak datang. Apa dia ingin menghindari gue." tebaknya dalam hati.
Jerome tetap tidak merasa bersalah. Dirinya berpendapat, jika apa yang dilakukannya adalah hal baik. Meski dia harus memaksa Mawar.
Sementara Luck, Tian serta Mira dan Selly berjalan ke arah parkiran. Mereka naik mobil milik Selly. Sebab Luck dan Tian datang ke sekolah menaiki motor.
"Kemana perginya Mawar." ujar Mira, dengan tangan selalu memegang ponsel. Tanpa lelah menghubungi Mawar. Meski Mawar tidak mengangkatnya.
"Tidak biasanya Mawar seperti ini." ucap Selly.
Luck dan Tian yang berada di kursi depan saling pandang. Keduanya takut, jika Mawar mengalami hal yang berbahaya. Sama seperti saat Mawar hendak dilecehkan oleh Raka.
Tanpa sepengetahuan Mira dan Selly, Luck mengirimkan pesan pada bawahannya untuk mereka ikut serta mencari dan menemukan keberadaan Mawar.
"Kita mau mencari Mawar kemana?" tanya Selly, tak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Kita mulai dari rumah Mawar. Menyusuri jalan yang biasanya Mawar lewati saat berangkat ke sekolah." ujar Luck menjelaskan rencananya.
Mira dan Selly selalu melihat ke luar jendela mobil. Berharap mata mereka menangkap sosok Mawar. "Kita pasti akan menemukan Mawar." tukas Tian, melihat ekspresi Mira dan Selly dari kaca pantau.
"Bagaimana kalau Mawar...." Mira menggantung ucapannya, menghapus air mata yang secara spontan menetes di pipi.
"Jangan katakan seperti itu. Mawar pasti akan baik-baik saja. Percayalah." timpal Luck. Meski pada kenyataannya, dirinya sama seperti Mira dan Selly. Taku jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap Mawar.
Di ruang ganti, Gaby berdiri di depan cermin full body. Melihat penampilannya yang menurutnya sangat cantik dari pantulan kaca tersebut.
Dibelainya pipinya sendiri. "Lihatlah, betapa mulus dan cantiknya kamu." pujinya pada diri sendiri.
"Entah apa yang terjadi pada elo. Gue nggak mau tahu. Tapi yang pasti, terimakasih, dengan ketidakhadiran elo, gue dapat berdekatan dengan kak Jerome."
Tanpa Gaby sadari, dirinya sebentar lagi akan mendapatkan masalah yang besar. Karena menggantikan peran Mawar. Yang menurutnya ini adalah suatu berkah atau kesempatan untuk dirinya.
Kesempatan berdekatan dengan Jerome serta namanya pasti akan dipuji seantero sekolahan.
"Ahhh,,, gue bagai ketiban durian runtuh." kekehnya, tidak menyangka akan bermain drama. Dan itu berpasangan dengan Jerome.
"Mawar, Dona. Kalian lihat. Sebentar lagi, gue akan memainkan peran bersama kak Jerome. Bahagianya." cicitnya
"Dan Mawar, sebentar lagi, elo akan dicaci satu sekolah karena tidak bertanggung jawab." Gaby tersenyum sumringah.
Pandangannya terpaku pada sosok lelaki tampan dengan wajah dingin. Duduk memainkan ponselnya. Berbalut pakaian khas jamam dulu, seperti seorang pangeran.
"Ayo, cepat...!! Semuanya bersiap. Giliran kalian masuk...!!" teriak panitia pentas.
"Gaby,,, elo siap?!" Gaby mengangguk dengan tersenyum sempurna.
"Jerome... ayo... letakkan ponsel kamu!!!" seru seorang guru, merasa geram dengan tingkah Jerome yang ogah-ogahan.
"Pasti kak Jerome seperti itu karena Mawar." celetuk Gaby, ingin membuat suasana panas.
"Jaga bicara kamu. Fokus saja dengan apa yang akan kamu lakukan." tekan sang guru.
Beberapa murid tersenyum miring melihat Gaby mendapatkan teguran dari sang guru. "Cihh,,, cari muka." gumamnya.
Gaby tersenyum kecut, dengan ekspresi kesal. Rencana membuat nama baik Mawar tercoreng gagal. Mawar sudah membuat mereka menjadi ketar-ketir. Membuat drama hampir tidak berjalan sesuai rencana. Tapi mereka masih bersimpati terhadap Mawar.
"Memuakkan." batin Gaby.
Semuanya bersiap di belakang panggung. Menunggu giliran mereka untuk masuk. Dengan perlahan, tirai penutup panggung yang berada di depan terbuka.
Beberapa pemain drama masuk, menampilkan tarian yang anggun dan sangat indah. Tak lama, Gaby masuk dengan beberapa murid yang berperan sebagai dayangnya.
Suara kasak kusuk terdengar dari bangku penonton. Bagaimana tidak, ini seperti sebuah kejutan besar untuk mereka.
Pemeran utama perempuan yang seharusnya dimainkan oleh Mawar, kini diambil alih dan diperankan oleh Gaby.
Semuanya menebak-nebak apa yang telah terjadi. Dan apa yang sedang Mawar alami. Sehingga Gaby menggantikan peran Mawar di dalam drama ini.
Di deretan tamu undangan paling depan. Terdapat keluarga Mawar dan Jerome. Mereka saling pandang. "Kenapa bukan Mawar?" tanya Nyonya Tanti.
"Jeng, Mawar kemana, kok diganti putri Tuan Djorgi?" tanya Nyonya Mesya.
Lina hanya menggeleng, menatap ke arah panggung dengan tatapan khawatir. "Coba kamu hubungi Mawar." pinta Tuan Tomi, yang juga datang menemani sang putri.
Segera Lina mengambil ponsel di dalam tasnya. Saking gugupnya, Lina menjatuhkan ponselnya ke lantai. "Ini." ujar Djorgi, mengambilkan ponsel Lina lalu memberikannya pada Lina.
Lina langsung mengambil ponselnya, dan menghubungi sang putri. "Tadi pagi, Mawar berangkat seperti biasa." cicit Lina.
"Apa Mawar tidak mengatakan apapun?" tanya Tuan Adipavi.
Lina teringat sesuatu. "Mawar mengatakan akan mampir ke rumah Nyonya Utami. Dia ingin mengembalikan tas beliau yang tertinggal di restoran kemarin." jelas Lina.
"Sudah tenang. Biar aku hubungi orang-orangku. Biarkan mereka yang mencari Mawar terlebih dahulu. Mungkin saja Mawar masih berada di sana." tukas Tuan Tomi.
__ADS_1
Dona langsung berdiri dari duduknya. Senyum yang sedari tadi terukir di bibirnya lenyap seketika, melihat siapa yang berada di atas panggung. Memakai pakaian yang seharusnya dipakai oleh Mawar.
"Gaby,,,, Gaby. Bagaimana bisa. Apa yang terjadi. Gaby berada di sana. Lalu Mawar. Dia dimana?"
Dona menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Sembari menggeleng. "Gaby sial...!!" serunya tertahan. Mengepalkan tangannya di depan wajahnya.
"Astaga Gaby, jangan salahkan gue. Jika sebentar lagi elo akan mendapatkan malu. Salah elo sendiri."
Dona ingin meninggalkan aula dengan wajah cemberut. Tapi, sedetik kemudian, ekspresi wajahnya berubah kembali. "Mawar atau Gaby. Bukankah sama saja. Gaby, mungkin itu balasan. Elo sekarang berani sama gue." ucapnya tersenyum senang.
Dona kembali duduk. Menunggu pertunjukkan yang sebenarnya, yang tentu saja hanya Dona yang tahu apa yang akan terjadi.
"Satu,, dua,, tiga......" Dona terus menghitung mundur. Menunggu sesuatu terjadi di atas panggung.
Sedangkan, Jerome akhirnya masuk ke dalam drama dengan langkah malas. Gaby tersenyum puas, melihat Jerome berjalan dengan ekspresi datar ke arahnya.
Guru kesenian yang mengajari dam membimbing mereka drama selama latihan, hanya bisa menghela nafas. Bukan seperti ini ekspresi wajah Jerome yang seharusnya. Tersenyum senang saat menghampiri sang putri, yang saat ini diperankan oleh Gaby.
Gaby merasa ada yang aneh dengan pakaian yang dia pakai. Dan,,,, srettt.... pakaian Gaby melorot sempurna ke bawah. Menampilkan tubuh Gaby yang hanya memakai ****** ***** tanpa memakai bra.
Gaby memeluk dirinya sendiri. Semuanya berteriak dan heboh. Berbeda dengan Jerome yang langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Tanpa berniat menolong Gaby.
"Tutup tirai..!!!" teriak panitia pentas di belakang panggung.
Tapi tirai tidak segera tertutup. "Jerome... peluk Gaby, bawa dia pergi dari sana...!!" seru sang guru.
"Ckk.. merepotkan." Jerome melakukan apa yang dikatakan sang guru.
Dengan erat, Gaby memeluk tubuh Jerome, saat Jerome menggendongnya ke luar dari panggung. Sedangkan di kursi depan panggung. Semua berbicara kasak kusuk.
"Gaby." gumam Tuan Djorgi.
"Lina, bisakah kamu menemani saya, menemui Gaby dibelakang. Pasti Gaby akan tenang, jika kamu berada di sampingnya." pinta Djorgi, mengajak Lina.
Djorgi yakin, Lina akan mampu menenangkan Gaby hang baru saja mendapatkan masalah. Pasti Gaby sangat malu. Dan pasti sangat terpukul.
"Lina." panggil Djorgi lagi, pasalnya Lina tidak menyahut.
"Djorgi, temui putri kamu sendiri. Apa kamu tidak punya hati. Bahkan saat ini, aku sendiri tidak tahu putriku berada di mana!! Dan bagaimana keadaannya??" tolak Lina dengan tegas.
Djorgi terdiam. Terpaku mendengar ucapan Lina. "Urus putrimu sendiri. Dia tanggung jawab kamu. Bukan Lina." tegas Tuan Tomi.
Lina sungguh bertambah kesal. Dia berjalan keluar dari ruangan begitu saja. Dibenaknya, hanya bagaimana keadaan sang putri.
"Kami duluan." pamit Tuan Tomi pada Tuan Adipavi dan Nyonya Mesya.
"Silahkan. Hubungi kami, jika butuh bantuan. Dan jika Mawar sudah ditemukan." papar Tuan Adipavi.
Tuan Tomi mendorong kursi roda yang dinaiki sang istri, segera mengejar sang putri yang pastinya gelisah, karena keberadaan Mawar tak jiga ditemukan.
"Bravo..." Don bertepuk tangan dengan bahagia. "Gaby,, Gaby,,, pasti, setelah ini, elo akan menyembunyikan muka elo dengan memakai topeng." kekeh Dona bahagia.
Jerome menurunkan Gaby di dalam ruangan. Mengambil kain untuk menutupi tubuh toples Gaby.
"Kak Jerome, temani Gaby." pinta Gaby dengan air mata di kedua pipinya.
Beberapa murid lainnya hanya terdiam dan melihat. Mereka memilih untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut. "Kak Jerome...!!" jerit Gaby, saat Jerome sedikitpun tak merasa iba melihat air matanya.
"Kak Jerome....!!!" jerit Gaby untuk kesekian kali. Memanggil nama Jerome. Dan Jerome lebih memilih mengabaikannya. Pergi meninggalkan Gaby.
"Sayang." Djorgi masuk ke dalam. Langsung memeluk tubuh Gaby.
"Gaby malu pa." cicit Gaby dalam pelukan sang papa.
Djorgi membelai rambut sang putri dengan penuh kasih sayang. "Sudah, semua akan berlalu. Jangan terlalu dipikirkan." ucap Djorgi, berusaha menenangkan Gaby.
"Pa, tante Lina nggak ikut ke sini?" tanya Gaby.
Djorgi mengurai pelukannya, menangkup kedua pipi Gaby. Membawa pandangannya bertemu dengan sang putri. "Tante Lina juga sedang kebingungan. Mawar sampai sekarang belum bisa dihubungi." jelas Djorgi.
Gaby menoleh ke samping. Membuat telapak tangan Djorgi do kedua pipinya luruh. "Mawar, Mawar. Semua ini gara-gara Mawar!!" geram Gaby.
"Jangan menyalahkan orang lain. Ini murni kecelakaan. Lagi pula, tidak ada alasan untuk Mawar melakukan semua ini."
Gaby mendorong tubuh sang papa dengan kuat. "Papa itu papa aku. Kenapa bela Mawar. Lihat sekarang, Mawar tidak ada di sini. Lantas kemana dia. Pasti semua adalah rencana dia." tuduh Gaby menggebu.
"Hey Gaby. Sadar dong, ngapain Mawar njebak elo. Apa untungnya. Elo pikir Mawar paranormal. Dan tahu kalau elo akan menggantikan dia. Otak dipakai buat mikir yang positif. Jangan jadi orang jahat terus." ucap salah satu siswi yang sekelas dengan Mawar, tak terima dengan perkataan Gaby.
"Sebaiknya kamu pergi, biar Gaby saya yang akan mengurusnya." pinta Djorgi dengan ramah.
"Urus juga sifatnya. Jangan jadi medusa di dunia ini." timpalnya sebelum meninggalkan ruangan.
"Papa lihat, bahkan mereka tetap membela Mawar. Meski dia bersalah." kekeh Gaby, tetap menyalahkan Mawar atas kejadian yang baru saja dia alami.
Djorgi hanya menghela nafas. "Dimana seragam kamu. Biar papa ambilkan."
"Tidak perlu. Lebih baik papa keluar. Tinggalkan Gaby sendiri. Keluar...!!" teriak Gaby mengusir sang papa.
Djorgi hanya bisa menuruti perkataan Gaby. Baru beberapa hari dirinya merasa bahagia atas perubahan hang terjadi pada sang putri.
Dan sekarang. Gaby kembali seperti semula. Pemarah dan bersikap semaunya.
__ADS_1