
"Tidak...!!!" seru Dona dengan lantang. Kedua matanya memandang tajam ke arah Dami.
"Terserah kamu...!!" hardik Dami.
Dami meminta Dona untuk segera berkemas. Dirinya ingin mengirim Dona ke sebuah pondok pesantren. "Mana bisa gue pergi ke sana. Tempat macam apa itu. Nggak. Gue nggak mau...!!" tolak Dona kekeh.
"Apa kamu mau masuk penjara?!" Dami sengaja berbohong pada sang adik. Dia mengatakan jika pihak sekolah tidak terima dengan apa yang dilakukan Dona. Dan mereka akan menuntut atas tindakan Dona tersebut. Yang telah membaur malu pihak sekolah.
"Jangan berbohong. Elo pasti berbohong. Tidak mungkin pihak sekolah melakukan itu. Gue sudah lulus dari sana. Dan gue sudah tidak lagi menjadi siswa di sana." ucapnya dengan sombong.
Dami yakin, jika Gaby terpaksa tidak menuntut Dona. Terlihat jelas raut wajah Gaby sebelum dia mengatakan jika sudah memaafkan Dona. Dan Dami bisa melihatnya dengan jelas. Ada rasa kesal di pancaran mata Gaby.
Dia menduga jika ada sesuatu antara Gaby dan Dona. Yang dia sendiri juga tidak tahu apa itu. Sehingga membuat Gaby dengan terpaksa memaafkan tindakan Dona yang sudah membuat malu dirinya. Alias berdamai.
Maka dari itu, Dami terpaksa berbohong dengan mengatasnamakan pihak sekolah. Tapi sebelumnya, Dami juga sudah mengatakan rencananya, pada kepala sekolah.
Sehingga, saat Dona benar-benar mengklarifikasi pada mereka. Pernyataan Dami dan kepala sekolah sama jawabannya. Jika Dona akan dituntut secara hukum.
Penjara sudah menanti. Bagaimana tidak, bahkan bukti sudah menyebar luas.
"Dan itu malah lebih mudah untuk mereka. Karena kamu sudah tidak membawa nama sekolah mereka. Meskipun kamu dimasukkan ke dalam bui. Nama sekolah tidak akan terseret."
"Tidak, gue nggak sudi masuk ke pondok. Najis...!!"
Dami menyenderkan badannya ke tembok. Bersedekap dada dengan santai. Dirinya yakin, kali ini Dona akan mengikuti apa yang dia inginkan. Sebab Dona tak punya pilihan lain.
"Memang elo mau kuliah di mana? Ingat Nona Dona, nilai ujian elo. Ingat....." cibir Dami mengingatkan, jika akan sulit bagi Dona mencari perguruan tinggi dengan nilai yang didapatkannya.
Dani saja tidak percaya. Jika nilai Dona sebegitu hancurnya. Beruntung Dona masih bisa lulus, meski dia berada di juru kunci. Yang artinya mendapat nilai terendah.
"Diam elo. Bacot..!!" hardik Dona, mengingat nilainya, Dona menjadi sebal.
Teringat dengan murid yang selalu dia jadikan budak untuk mengerjakan tugasnya selama tiga tahun. Dan saat ini, Dona sendiri tidak tahu kemana dan bagaimana keadaannya. Dia hilang bagai ditelan bumi.
"Apa elo mau minta tolong ke papa? Silahkan. Aku akan mendengar dan menunggu. Apa papa masih punya waktu, mengurusi anak yang tidak berguna seperti kamu." ejek Dami.
"Sebaiknya elo keluar. Dami sialan...." geram Dona, menatap sinis ke arah sang kakak, yang dia anggap terlalu memojokkannya dengan setiap tutur katanya.
Dami mengangkat kedua tangannya ke atas. Seperti gerakan yang sudah menyerah. "Oke. Tapi kamu harus mengingatnya. Papa sekarang, bukan papa yang seperti dulu."
Dona paham arti perkataan Dami. Sang papa mungkin tidak bisa dia andalkan seperti sebelumnya.
Dami meninggalkan kamar Dona. Berhenti sejenak di ambang pintu.enarsp ke arah Dona. "Ingat, semua keputusan ada di tangan kamu sendiri. Pikirkan baik-baik. Masuk pesantren. Atau masuk bui." Dami tersenyum penuh makna.
"Elo bisa meminta pada pihak sekolah. Untuk tidak mengkasuskan masalah ini ke jalur hukum." seru Dona. Dirinya yakin, jika sang kakak pasti bisa melakukannya.
Dami menggeleng. "Nona Dona, saya Dami. Bukan Tuan Joko. Paham. Keputusan ada di tangan anda. Jika kamu setuju dengan usulan saya untuk masuk ke pesantren, saya akan melakukan mediasi dengan pihak sekolah. Meminta mereka untuk melepaskan kamu. Tapi sebaliknya. Jika kamu tidak mau menuruti perkataan saya, ya sudah by by.... Menginaplah di hotel bintang tujuh untuk beberapa bulan ke depan. Di sana tidak buruk juga." jelas Dami disertai kekehan mengejek.
"Dami sialan.... Dami brengsek...!!" teriak Dona, saat Dami menghilang di balik pintu kamarnya.
"Bagaimana bisa, semua menjadi berantakan seperti ini." Dona menggigit ujung kuku di jarinya. Menendang-nendang angin di depannya. "Aaa...!!! Apa yang harus gue lakukan." ucap Dona frustasi.
Keduanya merupakan pilihan yang sulit. Masuk pondok pesantren. Dan juga terkerangkeng di jeruji besi. Sama saja terikat. "Astaga. Papa... Kenapa papa meski melakukan hal seperti itu." sesal Dona.
Jika saja sang papa tidak sedang dalam masalah. Dona yakin, dirinya tidak perlu sepusing ini untuk menentukan jalan hidupnya.
Dia tidaka akan berada di bawah tekanan sang kakak. "Mama, dia juga tidak berguna. Sama sekali tidak pernah menganggap gue seperti anaknya." dengusnya.
Hanya karena Nyonya Utami tidak pernah menuruti permintaannya, Dona selalu beranggapan jika sang mama tidak menyayanginya. Dan lebih menyayangi Dami. Kenyataannya, beliau menyayangi kedua anaknya dengan porsi yang sama.
"Apa gue hubungi papa saja. Meminta tolong pada papa." gumam Dona.
Tapi Dona sendiri juga tahu. Jika semua harta yang mereka miliki adalah milik sang mama, dari warisan almarhum kakek.
Yang artinya, untuk saat ini sang papa tidak memegang kendali atas semua harta. Dan Damilah yang sekarang memegang kekuasaan tertinggi di rumah ini.
"Kenapa gue harus mempunyai kakak seperti Dami. Menyebalkan..!" serunya, sangat membenci Dami.
"Gue akan mencobanya." Dona segera mengambil ponsel. Menghubungi sang papa untuk meminta tolong.
__ADS_1
"Papa,,,, angkat..!" geramnya, satupun panggilan darinya tidak dijawab oleh sang papa.
Dona tidak menyerah. Dia terus menghubungi sang papa. Senyumnya terukir di bibir, saat panggilannya mendapat sambutan dari sang papa.
Seketika senyumnya sirna, saat mendengar siapa yang menjawab panggilan telepon darinya. "Halo,,,, Dona sayang. Ada apa?" tanya seorang perempuan yang mengangkat panggilan teleponnya dengan suara yang lembut.
Dan Dona kenal betul siapa pemilik suara tersebut. Puri. Mama dari Weni. "******. Bukanlah sudah gue katakan. Menjauhkan dari papa gue. Atau anak elo akan merasakan akibatnya." ancam Dona.
"Upss,,,,, maaf Dona sayang, tapi kamu tidak akan lagi bisa bertemu dengan calon saudara tiri kamu. Jika calon mama tiri kamu ini tidak menyetujuinya." sahut Puro entah dimana keberadaannya.
"Tutup mulut busuk elo. Gue nggak akan sudi mempunyai mama tiri seperti elo. Murahan." seru Dona menggenggam erat ponselnya.
"Oooo,,,, tapi papa kamu sangat mencintai saya. Bagaimana dong. Lihat, bahkan dari kemarin papa memilih untuk tinggal bersama saya."
Dona melemparkan ponselnya dengan keras menghantam tembok. Membuat ponselnya hancur menjadi beberapa bagian.
"Kemana wanita murahan itu menyembunyikan Weni. Brengsek." umpat Dona, dengan wajah merah terbakar emosi.
"Papa... Kenapa papa malah bersama dia. Bukannya minta maaf ke mama. Merayu mama agar kalian tidak bercerai. Astaga... papa... apa yang papa lakukan...!!" geram Dona, bingung sendiri memikirkan jalan pikiran sang papa.
Sejujurnya, Dona ingin meminta bantuan pada Nyonya Mesya. Tapi Dona masih mempunyai rasa malu. Terlebih jika sampai keluarga Jerome mengetahui hasil nilai ujiannya. Pasti Dona akan sangat malu.
"Ini semua juga karena murid sialan itu. Bisa-bisanya dia tidak memberikan gue jawaban soal ujian." semua orang Dona persalahkan karena kesalahan yang dibuat oleh dirinya sendiri.
Dami menemui sang mama yang berada di taman belakang, melihat berbagai jenis ikan hias di dalam kolam. Setelah keluar dari kamar Dona.
Dami memeluk sang mama yang terlihat rapuh dari belakang. "Bagaimana, Dona mau menuruti permintaan kamu?"
"Mama tenang saja. Dona tidak akan punya pilihan. Tidak perlu khawatir. Kita akan merubah Dona, menjadi perempuan baik."
"Kamu yakin, ini rencana yang baik?" tampak raut wajah Nyonya Utami memperlihatkan keraguan.
Dami melepas pelukannya. Duduk di kursi samping sang mama. "Yakin. Jika Dona terus berada di sini, pasti dia akan terus seperti ini."
Di sini, Dona seakan tidak takut dengan siapapun. Dia bertindak seenaknya. Dan Dami juga tidak bisa dan tidak sanggup membuat sang adik untuk berjalan ke dalam kebaikan.
"Tapi mama tidak tega." cicit Nyonya Utami.
Memang benar apa yang dikatakan Dami. Tapi, sebagai seorang ibu, tentu saja ada rasa tidak rela dan juga rasa iba pada sang putri.
Apalagi, selama ini Dona hidup dengan nyaman, serta bergelimang harta bersama mereka. Apapun yang dia inginkan dengan mudah terpenuhi tanpa harus bekerja.
Dan tiba-tiba, Dona pergi meninggalkannya. Masuk ke dalam pesantren. Nyonya Utami sendiri bisa membayangkan bagaimana kehidupan di sana. "Apa Dona akan betah?"
"Hanya itu yang terlintas di benak Dami ma."
"Bagaimana jika di sana Dona malah membuat ulah lagi?"
"Jika mama tidak setuju dan keberatan dengan rencana Dami. Dami akan membatalkannya. Membiarkan Dona hidup bebas seperti sebelumnya. Tapi maaf, jika ke depannya Dona berulah. Dami tidka akan lagi ikut campur." tegas Dami.
Bukannya Dami tega terhadap Dona. Namun Dami lebih memikirkan masa depan sang adik. Dan untuk sang mama, Dami mengerti kenapa beliau berpikir seperti itu.
Rasa sayang seorang ibu, memang sangat besar. Dan mereka tak akan bisa melihat anak-anak mereka menderita.
Tapi, di kasus Dona. Semua berbeda. Dami harus tegas, agar Dona dapat berubah. Agar Dona tidak terlalu bebas. Tidak mempunyai rem untuk menata kehidupannya. Dan Dami ingin Dona hidup jauh lebih baik.
Nyonya Utami memegang telapak tangan Dami. "Mama percaya sama kamu. Mama juga sayang Dona. Mama yakin, ini yang terbaik. Dan semoga Dona bisa berubah."
"Amin. Semoga rencana Dami membuahkan hasil."
"Kapan gue akan berangkat?!" tanya Dona dengan nada tinggi, yang tiba-tiba berada di ambang pintu belakang.
Dami tersenyum menatap sang mama. "Pasti kalian berdua begitu bahagia. Bisa menghancurkan masa depan gue." sarkas Dona. Menuduh sang mama dan sang kakak berbuat jahat pada dirinya.
Deg,,,, ada perasaan getir bercampur pedih di dalam relung hati Nyonya Utami, saat Dona mengatakan hal tersebut.
Seakan Dona mengatakan jika Nyonya Utami tidak pernah peduli dan berharap tidak pernah bertemu lagi dengan Dona.
Dami mengelus punggung sang mama. Seakan menyuruhnya untuk tetap tenang. Dan bersikap biasa. Karena memang seperti itulah sifat Dona.
__ADS_1
"Sekarang." ucap Dami.
Dona tertawa lepas. "Astaga,,,, sebegitu bernafsunya kalian ingin menyingkirkan gue dari hidup kalian." Dona memandang sinis pada sang mama.
"Dona, jika kami ingin menyingkirkan kamu, tidak perlu repot-repot kami mengiri kamu ke pesantren. Membuang-buang uang saja. Kamu pikir, di pesantren itu gratis. Bukankah di penjara semuanya gratis." sindir Dami telak.
Dona hanya melengos, kembali ke kamar. Mempersiapkan semua barang yang akan dia bawa.
"Ma, jangan diambil hati perkataan Dona. Dami yakin, suatu saat Dona akan mengerti, kenapa kita melakukan semua ini."
Nyonya Utami tersenyum seraya mengangguk. "Ingat kata Mawar. Kesehatan maka lebih penting. Masa mama kalah dengan Mawar." ujar Dami menyemangati sang mama.
"Iya, mama akan berusaha untuk kembali bangkit."
"Jangan hanya berusaha. Mama juga harus bertekad."
"Iya... Sana, bantu adik kamu." pinta Nyonya Utami.
Saat hendak pergi, Dona bahkan tidak berpamitan pada sang mama. Dia langsung masuk ke dalam mobil dengan bibir cemberut.
"Hati-hati di jalan." ucap Nyonya Utami, saat Dami berpamitan.
Dami mengangguk. "Dona dan Dami pergi dulu ma. Jika mama kesepian. Telepon saja Mawar, sia pasti akan dengan senang hati datang ke sini."
"Apa tidak menganggu dan merepotkan Mawar."
"Tidak. Bukankah dia sudah liburan kenaikan kelas. Lagi pula, butik juga masih tutup."
Semenjak Nyonya Utami mengetahui perselingkuhan sang suami dengan mama dari teman dekat Dona, butik juga belum dibuka kembali.
"Iya. Nanti mama akan telepon Mawar, jika ingin. Kamu tidak perlu khawatir. Fokus saja pada adik kamu. Jangan mencemaskan mama."
Dami mencium kening sang mama. "Jika ada apa-apa, telepon Dami."
Nyonya Utami mengangguk, mencium kedua pipi sang putra secara bergantian. Di dalam mobil, Dona mencuri pandang ke arah mereka.
Ada perasaan iri di hatinya, melihat kedekatan Dani dan sang mama. Tapi Dona tetaplah Dona. Gengsi tetap uang nomor satu. "Cih,,,, dasar anak mama." gumamnya.
Sebelum pergi, Dami sudah mewanti-wanti pada semua pekerja yang berada di rumah. Untuk tidak memperbolehkan siapapun masuk ke rumah. Kecuali Mawar.
Dirinya hanya ingin berjaga-jaga. Takut jika sang papa, atau bahkan Nyonya Puri datang. Dan malah akan membuat kesehatan sang mama yang sudah kembali berangsur pulih akan memburuk lagi.
Dami bahkan berpesan, untuk mereka menghubungi Mawar, jika terjadi apa-apa. Sebab dirinya pasti akan datang terlambat, karena terhalang jarak.
Selain itu, Dami juga sudah berkomunikasi dengan Mawar. Mengatakan semua rencananya. Serta meminta tolong pada Mawar, untuk menjaga sang mama. Selama dirinya tidak ada di rumah.
Di kursi belakang. Dona hanya diam. Memainkan ponsel barunya yang baru saja dia beli. Karena ponselnya yang lama sudah hancur menjadi beberapa bagian.
Dona sebenarnya ingin bertanya, kemana dirinya akan diungsikan. Apalagi, Dami tidak menyetir mobil sendiri. Dia membawa seorang sopir untuk menemani mereka.
Dona yakin, dia akan ditempatkan di tempat yang jauh. Dona tersenyum miring. "Yang penting ada ponsel. Gue bisa menghubungi seseorang. Dan meminta tolong untuk membawa gue pergi." batin Dona, merencanakan keinginannya.
Dona sudah ada niat untuk melarikan diri dari pesantren. Dona berpikir akan mudah meninggalkan pesantren. "Gue akan berpura-pura menuruti permintaan Dami. Dengan begitu, gue nggak akan dipenjara. Setelah itu, gue akan kabur dari pesantren."batin Dona.
Dami melihat Dona dari kaca pantau, dia tersenyum aneh. Sepertinya Dami bisa menebak dengan mudah apa yang ada di benak Dona.
"Kamu pikir saya bodoh. Di sana, kamu hanya akan fokus belajar dan memperbaiki diri. Ponsel kamu tidak akan berguna." batin Dami.
Perjalanan jauh, membuat Dona tertidur. Tidak dengan Dami. Dia memandang setiap jalan yang mereka lalui.
Mobil berhenti, Dami bergantian dengan pak sopir untuk menyetir mobil. Dona yang merasa mobil berhenti, dia membuka kedua matanya dengan pelan.
"Ini, gue ada di mana?" lirihnya. Apalagi sejauh mata memandang hanya ada pohon besar berjejer di pinggir jalan.
Dona menoleh ke belakang. Lagi-lagi, hanya ada pohon-pohon besar di tepi jalan. "Dimana pesantren itu berada. Kenapa lama sekali?" tanya Dona dengan nada ketus.,
"Sebentar lagi tiba. Tidurlah, aman aku bangunkan jika sudah tiba di pesantren. " tutur Dami.
Kedua mata Dona melotot melihat pesantren yang ada di depannya. Cukup besar. Tapi terletak di pedalaman.
__ADS_1
Selesai menyerahkan Dona kepada pimpinan pesantren. Dami langung kembali pulang. Sebenarnya Dami juga tidak tega melepaskan Dona di tempat ini. Tapi Dami terpaksa melakukannya.
Bagaimana kehidupan Dona di dalam pesantren. Apakah Dona akan betah dan berubah menjadi lebih baik. Apakah di pesantren, Dona tidak lagi membuat ulah, atau malah semakin menjadi-jadi.