
"Silahkan masuk." tutur Lina, mempersilahkan Djorgi serta putrinya, Gaby masuk ke dalam rumah.
"Tante sedang apa?" tanya Gaby, tetap memerankan peran ramah dan baik hati.
Tanpa Gaby ketahui, jika Lina sudah mengetahui semuanya. Lina mengetahui kelicikannya. Tapi, Lina tetap memperlakukan Gaby dengan baik.
Bagi Lina, tamu tetaplah tamu. Jika dia masuk dengan senyum. Lina juga akan membalasnya dengan senyum.
Namun, jika dia berniat untuk membuat maslaah, Lina tak segan-segan untuk mengusir keluar dari rumahnya.
"Tidak ada." tukas Lina.
"Mawar di mana?"
"Ada di belakang. Sedang mencuci pakaian." sahut Lina.
"Rajin sekali Mawar." puji Djorgi yang hanya mendapat senyum dari Gaby. "Memang jiwa pembantu sudah melekat." cemooh Gaby dalam hati.
Mawar datang dengan senyum. "Sayang, sini." panggil Lina.
"Mawar buatkan minum dulu bu."
Bu Lina mengangguk. "Baiklah. Terimakasih." tutur Lina. Karena Lina tadi memanggil Mawar, supaya sang tamu ada teman berbincang. Dan dirinya hendak membuatkan minuman.
Mawar merasa tenang. Meskipun Djorgi dan Gaby datang. Dia percaya dengan perkataan sang ibu. Jika dirinya tidak akan menikah dengan Djorgi. "Maaf bu, bukannya Mawar tidak setuju, ibu menikah lagi. Hanya saja, kenapa anak om Djorgi, dia." keluh Mawar.
"Maaf. Di rumah kami tidak ada pembantunya." tutur Lina.
"Kenapa minta maaf. Tanpa pembantu kalian malah akan semakin dekat." papar Djorgi.
Gaby melengos. "Tanpa pembantu. Miskin sekali." ucap Gaby dalam hati.
Mawar datang membawa nampan, di atasnya terdapat tiga gelas berisi air minum. "Silahkan." Mawar menurunkan gelas-gelas tersebut di atas meja.
"Silahkan. Maaf, seadanya." tutur Lina.
Inilah yang disukai Djorgi dari Lina. Dia apa adanya. Begitu juga dengan Mawar. Djorgi bahkan membayangkan, betapa sempurnanya hidupnya, jika mempunyai istri seperti Lina, dan putri seperti Mawar.
Bahkan, disaat kedua orang tua Lina muncul. Menawarkan berbagai kemewahan, mereka juga tak segera meninggalkan kehidupan sederhana yang dijalaninya selama bertahun-tahun.
"Kenapa kalian tidak tinggal bersama Tuan Tomi?" tanya Djorgi, yang memang merasa penasaran dengan hal tersebut.
Lina menoleh ke arah sang putri. "Kami masih betah tinggal di sini." sahut Lina.
"Mawar." panggil Gaby.
"Saat ada acara sekolah. Kamu pergi kemana?" tanya Gaby. Dirinya masih menyimpan rasa kesal karena menggantikan peran Mawar. Yang pada akhirnya dirinya harus menanggung malu.
Gaby tetap menyalahkan Mawar akan hal tersebut, Gaby berpendapat jika seharusnya Mawar yang mendapatkan malu. Bukan malah dirinya.
"Bukankah Selly sudah mengatakannya di chat sekolah." sahut Mawar.
"Sudahlah, bukankah itu sudah berlalu." timpal Djorgi. Tidak ingin memperpanjang masalah.
Sebab di sini, bukan Mawar yang bersalah. Tapi Dona. Padahal Gaby sudah memaafkan Dona. Kenapa masih mengungkitnya di depan Mawar.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah mementingkan orang lain. Padahal kamu punya tanggung jawab." ucap Gaby.
Gaby bermaksud membuat Mawar dimarahi oleh Lina. Karena memilih menunggu orang yang tidak dikenal dari pada melaksanakan tanggung jawabnya dalam memerankan lakon di pentas drama.
Mawar melongo mendengar penuturan Gaby. Begitu juga Lina dan Djorgi. Ketiganya merasa jika perkataan Gaby sangat tidak masuk akal.
Gaby memandang ke arah Mawar, Lina dan Djorgi bergantian. "Ada apa?" tanyanya, merasa jika pandangan ketiganya sedang menghakimi dirinya.
"Apa kamu menyalahkan Mawar?" tanya Lina, tidak terima sang putri di sudutkan.
Gaby tersenyum. Seolah dirinya mengatakan hal yang pasti akan dibela oleh Lina. Sedangkan Mawar terlihat memutar kedua bola matanya dengan malas. "Astaga, cari perhatian segitunya." batin Mawar.
"Tidak tante. Gaby hanya mengingatkan Mawar. Jika tidak baik meninggalkan apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Dengan alasan apapun." jelas Gaby sok bijak.
"Jadi, kamu akan tetap melakukan kegiatan di sekolah, meskipun saat itu papa kamu sedang sekarat." ujar Lina, membuat perumpamaan.
Mulut Gaby terbungkam. Sungguh, Gaby tidak menyangka, jika Lina akan berbicara seperti itu. "Maafkan perkataan Gaby. Mungkin pola pikirnya masih belum ke arah sana." segera Djorgi mengatakan kalimat yang bisa menyelamatkan sang putri.
"Sebagai ibunya, saya bangga. Mawar mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Bahkan, pihak sekolah langsung menghubungi kami. Dan mengatakan jika Mawar tidak perlu merasa khawatir akan terkena sanksi. Sebab, apa yang dilakukan Mawar adalah hal yang mulia."
Meski sebenarnya Lina tahu, jika alasan yang disampaikan sahabat Mawar kepada pihak sekolah tidak benar. Tapi Lina tentu saja tetap merasa bangga. Mawar dengan besar hati mau menemani Nyonya Utami di saat Nyonya Utami membutuhkan dukungan.
Gaby tersenyum kecut, memandang Mawar yang tampak duduk dengan anteng sedari tadi.
Suara deru mesin mobil, berhenti di depan rumah. "Sepertinya kakek dan nenek." ucap Gaby.
Mawar hanya menaikkan alisnya. "Terserah. Elo ambil mereka. Asal jangan ibu gue." batin Mawar.
Gaby segera berdiri. Menyambut Tuan Tomi beserta Nyonya Tanti. "Kakek. Nenek." dia bergantian menyalami kedua orang tua Lina.
Mawar juga berdiri, bersalaman dengan kakek dan neneknya. "Sayang, ini untuk kamu." Nyonya Tanti memberikan sebuah paper bag pada Mawar.
Mawar mengambil paper bag yang diberikan sang nenek. "Terimakasih."
"Milik Gaby mana?" tanya Gaby dengan nada manja.
Nyonya Tanti tersenyum. "Maaf, saya tidak tahu jika ada kamu di sini." tutur Nyonya Tanti.
Gaby mencoba tersenyum. Tentu saja dia kesal. Dia pikir, dirinya juga akan mendapatkan barang yang sama seperti yang diberikan Nyonya Tanti pada Mawar.
Mawar berdiri. "Sebentar, Mawar buatkan minum dulu."
Tuan Tomi memegang lengan Mawar. "Tidak perlu sayang, duduk saja. Jika haus, kami akan mengambil sendiri. Bukankah rumah kamu juga rumah kami juga." jelas Tuan Tomi.
Mawar tersenyum, duduk lagi. "Oh iya, Lina, bagaimana,,,, apa kamu sudah menemukan lokasi yang akan kamu gunakan untuk toko kue?" tanya Tuan Tomi.
Nyonya Tanti mengelus lengan Mawar dengan lembut. Mawar hanya tersenyum simpul. Gaby yang melihatnya, merasa berang.
Bagaimana bisa, Nyonya Tanto mengacuhkan dirinya. Dan malah lebih dekat kepada Mawar. "Maaf, pa,,,, Lina belum menemukan tempat yang strategis." ujar Lina.
"Bagaiman jika Gaby bantu." tawar Gaby.
"Boleh." kata Lina.
"Bagaimana kalau di sebuah mall. Kan enak, tempatnya ramai, dan juga nyaman." saran Gaby
__ADS_1
Lina memandang ke arah Mawar. "Bagaimana sayang?" tanya Lina.
Gaby merasa kesal. Kenapa harus membawa nama Mawar. Padahal dirinya yang mempunya saran.
"Kenapa tante bertanya kepada Mawar?" tanya Gaby, dengan ekspresi kesal.
"Karena tokonya nanti akan tante berikan pada Mawar. Diakan putri tante satu-satunya. Pada siapa lagi, tante akan memberikan semuanya."papar Lina.
"Ooo...." ujar Gaby tersenyum kecut. Tentu saja Gaby merasa kesal. Dirinya ingin terlihat berguna di mata semua orang. Tapi malah gagal.
"Bagaimana kalau di depan rumah saja." saran Mawar.
"Depan rumah. Memang kenapa sayang?" tanya Nyonya Tanti dengan lembut.
Mawar tersenyum. "Di sekitar sini belum ada toko kue. Ibu tidak perlu juga mencari lahan. Tinggal membangun toko. Lagi pula, bukankah halaman rumah kita juga termasuk luas. Untuk dapurnya, kita bisa menggunakan ruangan sebelah kamar Mawar. Dari pada tidak terpakai."
"Hebat sekali cucu kakek." puji Tuan Tomi.
Mawar tersenyum senang. Hatinya terasa hangat, sang kakek memujinya. Meski hanya hal sepele.
"Apa tidak terlalu kecil." timpal Gaby.
"Tidak. Kita hanya akan membuka toko. Bukan cafe." sahut Lina. Yang secara tak langsung menerima usulan sang anak.
"Nenek juga setuju. Nanti, nenek akan sering tidur di sini. Menemani ibu kamu membuat kue." cicit Nyonya Tanti.
"Jangan. Bukannya membantu, kamu malah akan merepotkan. Biar Lina mencari karyawan. Meski hanya seseorang." tutur Tuan Tomi.
Gaby merasa jika Nyonya Tanti dan Lina merasa berbeda. Keduanya memperlakukan dirinya tidak seperti saat di restoran. "Pa, bagaimana kalau papa pinjamkan karyawan papa ke tante Lina?"
"Tidak perlu. Tante tidak ingin merepotkan papa kamu. Biar tante mencari orang lain saja." tukas Lina.
"Kenapa tante meski sungkan. Bukankah nantinya kita akan menjadi kelurga?" papar Gaby.
Lina mengerutkan keningnya. "Maksud kamu?" tanya Lina bingung.
"Bukankah papa sama tante bakal menikah?" tanya Gaby.
"Gaby. Apa yang kamu katakan?" tanya Djorgi.
"Tunggu. Kamu salah paham. Tante dan papa kamu tidak akan menikah. Kami memang menjalin hubungan baik. Tapi hanya sebagai teman." jelas Lina.
"Maksud tante? Kenapa? Bukankah papa dan tante sudah cocok. Kenapa tante menolak papa? Tante juga tahukan, jika papa menyukai tante?" cecar Gaby .
"Gaby." seru Djorgi.
"Kamu. Pasti kamukan, yang melarang ibu kamu menikah dengan papa aku. Iyakan!?" teriak Gaby, menunjuk ke arah Mawar.
"Kamu pikir ibuku anak kecil. Bisa dilarang." ketus Mawar.
Djorgi memegang lengan Gaby. "Maaf, kami pamit dulu."
Tanpa menunggu jawaban dari pemilik rumah, Djorgi membawa Gaby pergi dari rumah Lina. Djorgi tidak ingin Gaby hilang kendali.
"Astaga,,, beruntung dia bukan cucu nenek." cicit Nyonya Tanti.
__ADS_1
Mawar hanya tersenyum. "Aneh sekali. Padahal ibu tidak pernah mengatakan akan menikah dengan papanya." papar Lina menggeleng heran.