MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 132


__ADS_3

Di sebuah mall, Jerome menemani Mawar berbelanja. Dan ini pertama kalinya bagi Jerome melakukan hal seperti ini.


Juga bagi Mawar. Pasalnya, biasanya Mawar akan membeli sesuatu seorang diri, atau bersama kedua sahabatnya, Mira dan Selly.


Mawar membeli sebuah kaos dengan celana panjang cukup simple. Juga dengan Jerome. Yang terpenting, mereka mengganti pakaian yang saat ini mereka kenakan.


Tak lupa, keduanya membeli sepatu, supaya lebih nyaman. Dan mereka langsung memakainya. "Terimakasih sudah dibelikan." cicit Jerome.


Mawar tertawa pelan. "Berterima kasihlah pada mama kak Jerome. Bukankah ini uang dari beliau."


"Tapi uang itu sudah menjadi milik kamu." timpal Jerome.


"Ohh,,, iya. Kamu mau beli apa pagi?" tanya Jerome.


Mawar menggeleng. "Nggak ada."


Keduanya mencuri perhatian pengunjung serta karyawan toko. Bagaimana tidak, Mawar dan Jerome layaknya pasangan kekasih.


Sangat serasi. Terlihat saling menyayangi dan begitu bahagia. Senyum di kedua bibir mereka bahkan tidak pernah pudar.


"Oke, sisanya simpan saja kalau begitu." Jerome melihat ke arah pergelangan tangannya. Dimana ada gelang jam berharga fantastis melingkar di sana. "Masih sore, bagaimana jika kita pergi ke tempat lain." ajak Jerome.


Mawar mengangguk. Kembali ke restoran, tentu saja Mawar sangat malas. Apalagi melihat cara Gaby menjilat para keluarganya. Sungguh memuakkan.


"Jangan kak, biar Mawar saja yang bawa." pinta Mawar, saat Jerome membawa paper bag yang berisi gaun serta high hell yang tadi sempat Mawar pakai.


"Aku masih kuat. Tidak berat juga. Ayo." ajak Jerome, dengan menenteng beberapa paper di tangannya.


Keduanya berjalan beriringan, seraya berbincang ringan. Masuk ke dalam mobil. Jerome kembali mengajak Mawar untuk pergi ke suatu tempat.


"Kak, kita mau ke mana?" tanya Mawar, keduanya melewati jalan sepi dan minim penerangan lampu.


Mawar teringat dimana dia hampir dilecehkan oleh Raka. "Tenang saja. Kamu pasti akan suka. Jangan khawatir. Apa kami tidak percaya dengan ku?"


Jerome tahu, jika Mawar sedang merasa takut bercampur tak percaya padanya. Mawar mencoba berpikir positif. Lagipula, bukankah selama ini Jerome yang telah membantu dia.


Saat tiba di tempat tersebut, kedua mata Mawar melotot sempurna dengan mulut melongo tak percaya. "Tuhan, indah sekali. Seperti di dunia dongeng." cicit Mawar takjub akan keindahan yang tersaji di depan matanya.


"Suka." bisik Jerome. Yang mendapat anggukan dari Mawar.


Sebuah tempat yang terpencil. Dengan banyak pohon besar di sekitarnya. Layaknya sebuah hutan. Terdengar suara gemericik air. Di tambah beberapa lampu berwarna kuning sebagai penerang.


Juga ada ribuan kunang-kunang memamerkan cahayanya dengan berterbangan. Di bawah sinar bulan yang menyatu dengan cahaya lampu berwarna kuning.


Dengan pelan, Mawar duduk di sebuah akar pohon yang cukup besar. Pandangannya fokus ke sebuah kolam kecil, dengan banyak kunang-kunang berterbangan di atasnya.


Jerome mengikuti Mawar, duduk di samping Mawar. "Pakailah. Di sini dingin." Jerome melepaskan jaketnya dan memakaikan jaket pada tubuh Mawar.


"Tahu gitu tadi Mawar beli jaket." ucap Mawar merasa bersalah, harus memakai jaket milik Jerome.


"Tidak perlu. Aku tidak kedinginan." cicit Jerome.


Mawar tersenyum. Lalu kembali memandang kunang-kunang di depannya. "Kak Jerome, tahu tempat ini dari mana?" tanya Mawar tanpa menatap kearah Jerome.


Bukannya menjawab, Jerome malah mengatakan hal lain. Sebab, tak mungkin Jerome mengatakan yang sebenarnya dia tahu dari mana tempat ini. "Jika kamu suka, aku akan kembali mengajak kamu ke sini lagi." sahut Jerome.


Perlahan, Jerome sedikit menggeser duduknya. Mengkikis jarak antara dirinya dan Mawar. "Bagaimana hubungan kamu dengan kakek dan nenek kamu?" tanya Jerome dengan hati-hati.


Mawar sesaat diam. Tak segera menjawab pertanyaan dari Jerome. "Apa yang ingin kak Jerome dengar?" tanya Mawar.


Jerome memandang Mawar yang menatap ke arah depan. "Dulu, Mawar sangat ingin memiliki kakek dan nenek. Sangat. Hingga malam hari, air mata ini mengalir karena rasa rindu itu." Mawar tersenyum getir.


Tampak raut wajah Mawar yang sendu. "Mawar juga tidak tahu, kenapa rasa itu berbeda, saat mereka sekarang ada. Nyata di depan Mawar. Bisa Mawar peluk, bisa Mawar lihat."


Mawar tersenyum tipis. "Tidak ada keinginan memeluk seperti dulu, tidak ada keinginan bercengkerama seperti dulu. Semua seakan tak pernah terjadi. Sangat asing."


Jerome juga bisa melihat, jika Nyonya Tanti seperti tidak terlalu mendekati Mawar. Beliau selalu berada di samping bu Lina. Memperlakukan Lina seperti anaknya yang masih gadis.


Jika dugaan Jerome benar, Nyonya Tanti masih merasa jika Lina adalah anak gadisnya yang dulu. Entah karena sebab apa, sehingga Nyonya Tanti memperlakukan Lina seperti itu.


Jerome bisa menebak, Nyonya Tanti dan Lina terakhir bertemu saat Lina masih remaja. Sehingga beliau terus merasa jika Lina adalah gadisnya yang masih perlu dia perlakukan dengan manja.


"Jika dugaan gue benar, mungkin mereka menikah tanpa restu kedua orang tua bu Lina." ucap Jerome dalam hati.


Ditambah lagi, sikap Wiryo yang hanya diam. Sama sekali tak terlihat akrab dan akur pada kedua orang tua Lina. Bahkan mereka juga tak saling bertegur sapa atau berbincang seperti yang lain.


Juga pandangan kedua orang tua Lina saat memandang Wiryo. Terlihat jelas, mereka tidak menyukai sosok Wiryo. "Apa kamu sudah mengetahui, kenapa kalian berpisah begitu lama?" tanya Jerome.


Mawar menggeleng. "Seperti yang Mawar katakan. Mawar tidak akan bertanya. Dan mencari tahu. Biarkan mereka menceritakannya sendiri."


"Apa perlu, aku mencari tahu?"


"Tidak perlu kak. Biarkan saja." sahut Mawar. Sebenarnya Mawar jiga bisa menebak. Baru saja. Saat perjamuan makan malam.


Interaksi antara sang ayah dan kedua orang tua sang ibu. Sangat dingin. Seolah mereka adalah orang asing. Meski telah bercerai dengan sang anak,


seharusnya mereka tetap menjalin hubungan baik.


Tapi Mawar melihat sesuatu yang janggal antara mereka. Dan sesuatu itulah yang menjadi penyebab kenapa sang ibu dan kedua orang tuanya berpisah dalam jangka waktu yang lama.


"Bagaimana hubungan ibu dan Tuan Djorgi. Apa ibu kamu mengatakan sesuatu?"

__ADS_1


Mawar menggeleng. "Tidak ada." jawab Mawar singkat. Tapi bisa Mawar lihat kedekatan mereka saat di perjamuan makan malam tadi. Bahkan, sang ibu juga terlihat menyayangi Gaby.


Mawar tersenyum kecut. Mengingat sang ibu bahkan mengambilkan lauk untuk Gaby. Sementara dirinya malah diperhatikan oleh Jerome.


"Kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya?" tanya Jerome.


"Tentang?"


"Bagaimana sikap Gaby selama ini pada kamu."


Mawar tertawa pelan. "Untuk apa. Jatuhnya, malah terkesan Mawar memfitnah Gaby."


"Ada aku, juga yang lain. Kami bisa menjadi saksi."


Mawar kembali tertawa. "Dan kalian semua yang menjadi saksi adalah sahabat aku. Terlihat seperti pertunjukan sebuah sirkus. Lucu."


Jerome sama sekali tidak bisa menebak apa yang ada dalam benak Mawar. Jika perempuan lain yang berada di pihak Mawar, pasti mereka akan mengatakan yang sejujurnya pada sang ibu.


Tapi Mawar. Malah diam. Membiarkan sang musuh bertindak semaunya. "Lagi pula, Mawar bisa menebak apa yang diinginkan Gaby." ucap Mawar.


Mawar mengambil kerikil kecil di bawahnya. Melemparkannya ke dalam kolam kecil di depannya. Hingga terdengar sebuah bunyi.


"Gaby menginginkan semua orang yang ada di dekat Mawar. Menjadi miliknya. Sesuatu yang terlihat sangat ambisius. Mawar akan lihat, seberapa jauh dia akan melangkah. Seberapa kuat, dia akan berpura-pura."


Mawar menatap ke arah Jerome, yang juga sedang menatapnya. "Bukankah sangat menjemukan dan sangat melelahkan, saat kita harus berpura-pura. Dan Mawar akan menunggunya dengan duduk tenang. Adil bukan?"


Mawar tersenyum miring. Entah mendapat keberanian dari mana, tangan Mawar terulur membelai pipi Jerome. Mungkin, karena terbawa suasana.


"Biarkan Gaby memutar otaknya. Biarkan Gaby terus bertindak. Dan aku, akan duduk. Melihatnya. Hingga tiba saatnya, Gaby yang akan aku jadikan pemain."


Mawar hendak menarik tangannya, dengan cepat, Jerome memegangnya. Membawa punggung telapak tangan Mawar untuk dicium dengan lembut dan perlahan.


Keduanya saling bersitatap begitu dalam. Jantung keduanya berdetak dengan kencang. Perlahan, Jerome mendekatkan wajahnya ke wajah Mawar.


Dan cup... Jerome menempelkan bibirnya pada bibir seksi milik Mawar yang sudah sejak dulu menggodanya.


Hanya sebuah tempelan. Tak ada pergerakan. Mawar memejamkan kedua matanya. Perlahan, tangan Jerome memegang pinggang ramping Mawar.


Membawanya untuk lebih dekat, sehingga Jerome dapat merasakan, dua buah benda kenyal yang berada di dada Mawar menempel ke dadanya.


Sangat hangat, hingga membuat Jerome dengan berani menggerakkan bibirnya dengan perlahan di bibir Mawar.


Tangan Jerome yang bebas, menuntut kedua tangan Mawar untuk dikalungkan ke lehernya. Sementara tangan kiri Jerome tetap di pinggang ramping milik Mawar. Dengan tangan kanan berada di tengkuk Mawar.


Terdengar deru nafas dari keduanya yang berpacu dengan detak jantung yang semakin menggila. Dengan hasrat yang menggebu, Jerome semakin memperdalam ciumannya.


Jerome perlahan membaringkan tubuh Mawar di atas akar besar yang mereka duduki. Dengan tetap kedua bibir menyatu, posisi mereka kini berubah.


Pertama bagi Jerome. Dan pertama bagi Mawar. Hingga suara jangkrik di dekat mereka membuat keduanya tersadar.


Segera Mawar mendorong tubuh Jerome. Dan Jerome segera menyudahi ciuman mereka. "Maaf." cicit Jerome, masih dengan posisi yang sama.


Tangan Jerome membersihkan sisa saliva di sekitar mulut Mawar. "Tapi aku tidak menyesal. Bibir kamu begitu manis." bisik Jerome.


Mawar tersenyum samar. "Kak Jerome berat." cicit Mawar mendorong Jerome agar pindah dari posisinya yang sekarang.


"Maaf." ucap Jerome lagi. Membantu Mawar untuk duduk.


Mawar merapikan dan membersihkan rambutnya. "Tidak perlu, Mawar bisa sendiri." tolak Mawar, saat Jerome hendak membantunya.


Tapi bukan Jerome namanya jika menuruti perkataan Mawar. Jerome tak mengindahkan permintaan Mawar. "Jangan menolak."


Jerome membersihkan rambut Mawar. "Hadap sana." pinta Jerome, supaya dirinya bisa membersihkan rambut Mawar bagian belakang.


"Ehhhh...." Mawar terkejut, saat Jerome memeluknya dari belakang dengan sangat erat. "Sudah bersih. Dan tetap wangi." cicit Jerome, mengendus wangi rambut Mawar.


Mawar hendak melepaskan pelukan Jerome. "Diamlah, atau aku cium lagi." ancam Jerome, dan Mawar langsung terdiam.


Jerome tersenyum. "Kamu tahu. Sejak lama aku menginginkan hari ini terjadi."


Mawar mengerutkan keningnya. "Aku sangat menginginkan kamu. Aku ingin menjadi yang pertama. Apapun itu, untuk kamu."


Mawar hanya diam. Mencerna setiap ucapan dari Jerome. Ada perasaan hangat yang sudah lama tak dia rasakan, kini kembali ke dalam aliran darahnya. "Jika semua orang berpaling dan menjauh dari kamu, aku akan semakin mendekati kamu."


Keadaan hening sejenak. Sebelum Jerome kembali mengeluarkan suaranya. "Bahkan aku tak ragu untuk bersaing dengan Deren." ungkap Jerome.


Mawar menautkan kedua alisnya. "Hanya untuk seorang perempuan?"


"Jangan katakan hanya. Sebab, memang perempuan tersebut pantas untuk dipertahankan dan diperjuangkan." ada perasaan senang bercampur bersalah sekaligus di hati Mawar, saat mendengar kejujuran dari Jerome.


"Tapi persahabatan kalian renggang." ucap Mawar lirih. Ada perasaan bersalah menyeruak di dalam hatinya.


Dulu, dia menolak perasaan yamg ditawarkan Deren. Dengan alasan ingin fokus belajar dan bekerja. Tapi sekarang, Mawar dengan mudah menerima setiap perhatian yang diberikan oleh Jerome. Dan Mawar tak tahu mengapa.


"Persahabatan kami akan tetap terjalin. Aku tahu bagaimana sifat Deren. Jangan merasa bersalah. Deren akan mengerti."


Jerome mencoba untuk membuat Mawar tidak lagi menyalahkan dirinya. "Tapi tidak adil untuk kak Deren."


"Tidak ada kata adil dalam cinta. Yang ada hanya keluar sebagai pemenang atau mengikhlaskan perasaannya untuk orang lain."


"Emmm,,,, kenapa kamu wangi sekali sih." Jerome tak henti-hentinya mencium rambut Mawar.

__ADS_1


"Mawar rajin mandi dan keramas." celetuk Mawar, membuat Jerome tertawa.


"Ingat, mulai sekarang kamu hanya milik aku." Jerome mulai menunjukkan taringnya. Dan mengklaim Mawar.


"Iihh,,, bagaimana bisa." tolak Mawar.


"Bisa. Setelah ciuman tadi."


Wajah Mawar bersemu merah mengingat apa yang baru saja terjadi. Beruntung keadaan gelap. Sehingga Jerome tidak akan pernah melihatnya. "Mana bisa begitu." tolak Mawar.


"Ya bisa. Asal kamu tahu, kamu harus bertanggung jawab atas apa yanga kamu lakukan." tukas Jerome.


Mawar melepas pelukan Jerome. Membalikkan badan, menatap Jerome dengan tatapan aneh, tapi terlihat lucu di mata Jerome. "Bertanggung jawab atas apa?"


"Ciuman tadi." sahut Jerome dengan santai.


"Iiihh,,, kok gitu." tutur Mawar cemberut.


"Ya gitu, kamu orang pertama yang mengambil ciuman itu. Kamu perempuan pertama yang merasakan manisnya bibirku yang seksi ini. Dan aku, meminta pertanggung jawaban. Sekarang, bibirku sudah tidak perjaka." jelas Jerome absurd.


"Ngaco. Mawar juga pertama kali melakukannya." sungut Mawar.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan bertanggung jawab, karena memerawani bibir kamu. Tapi kamu juga harus bertanggung jawab. Karena membuat bibir aku sudah tidak lagi perjaka."


"Mana ada. Hanya berciuman, meminta pertanggung jawaban." kesal Mawar.


Penjelasan yang membingungkan dari Jerome. Hanya mampu membuat Mawar menggelengkan kepala dengan heran. "Pokoknya, mulai sekarang kita adalah sepasang kekasih. Titik."


Mawar tertawa ringan. "Kak Jerome maksa."


"Biarin. Nggak ada penolakan. Titik." tegas Jerome.


"Ingat, mama kak Jerome nggak menyukai Mawar." timpa Mawar mengingatkan.


Jerome tersenyum seraya menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan. "Siapa bilang. Sekarang mama kak Jerome pasti menyukai kamu."


Mawar mendengus kesal. "Karena ternyata Mawar adalah cucu dari orang kaya. Tuan Tomi."


"Benar. Dan aku tidak peduli. Yang terpenting mama setuju. Mungkin Tuhan mengerti dan tahu. Jika perasaan yang aku miliki tulus dan besar pada kamu. Makanya dia memberikan jalan seperti ini."


Jerome selalu mempunyai alasan untuk setiap ucapannya. "Terserah kak Jerome." Mawar akhirnya mengalah. Berdebat dengan Jerome, pasti Mawar akan kalah.


"Terimakasih sayang."


Mawar melotot mendengar panggilan yang diucapkan Jerome untuk dirinya. "Nggak apa-apa dong. Kan sekarang kita sudah pacaran." ungkap Jerome dengan senang.


"Pulang yuk kak. Mawar ngantuk." pinta Mawar.


"Ayo, lagipula, besok gladi bersih untuk drama yang akan kita mainkan. Sayangku, main yang totalitas ya..."


Mawar berdiri, tak menghiraukan ocehan Jerome yang aneh-aneh. "Tunggu sayang...!!!" teriak Jerome.


Mawar berhenti, dan membalikkan badan. "Jangan berteriak. Ingat,,,!! kita di mana sekarang..!!" geram Mawar dengan nada tertahan.


"Tenang. Jam segini hantu belum bangun." Jerome malah menggoda Mawar.


"Tahu ah..." Mawar kembali melanjutkan langkah kakinya dengan kesal.


Di dalam mobil, Jerome terus tersenyum sembari menyetir. "Sayang, jangan panggil aku kak lagi dong. Berasa kayak kakak adik." pinta Jerome.


"Sayang..." panggil Jerome, sebab Mawar tak menyahuti permintaannya.


Jerome menoleh, mendapati Mawar yang sudah memejamkan kedua matanya dengan tangan bersedekap di perutnya. "Putri tidur." cicit Jerome tersenyum.


Jerome menghentikan mobilnya. Mengambil ponsel di saku jaketnya. Di ambilnya tangan Mawar dengan perlahan, sebab Jerome tak ingin membangunkan Mawar dari tidur nyenyaknya.


Jerome mengaitkan jari jemarinya dengan Mawar, sehingga menjadi satu. Lalu memfoto telapak tangan mereka yang menyatu.


Setelah selesai, Jerome menaruh tangan Mawar di atas pangkuan Mawar lagi. Jerome tersenyum lebar. Mengunggah foto yang baru saja dia ambil


Dipostingnya foto tersebut di media sosial. Dengan caption bentuk love. Seperti postingan milik Thomas, begitu juga dengan postingan yang baru saja di unggah oleh Jerome langsung banyak mendapati perhatian dan komentar.


Di dalam kamarnya, Dona kembali marah besar melihat dengan mudah Mawar bisa dekat dengan Jerome. Baru beberapa menit yang lalu, dia melihat postingan yang di upload Thomas.


Dan sekarang, Dona melihat Jerome mengupload sendiri di media sosial miliknya. Dona yakin, jika telapak tangan yang menyatu dengan milik Jerome adalah telapak tangan milik Mawar.


"Mawar....!!" Dona memejamkan kedua matanya. Menahan amarah yang sudah berada di ubun-ubun. Jika saja dirinya tidak dalam masa kesulitan seperti saat ini, pasti Dona sudah menyuruh seseorang untuk melukai Mawar.


Semua aset dan fasilitas Dona masih di sita oleh sang papa karena kejadian waktu itu. Dirinya pergi kemana saja diantar oleh sopir.


Bahkan, uang jajannya juga hanya bisa dia belikan beberapa makanan. "Dan ini semua gara-gara perempuan sial itu...!!" geram Dona, lagi-lagi menyalahkan Mawar.


Bahkan, Dona pernah menyuruh sang mama untuk memecat Mawar dari butik. Tentu saja Nyonya Utami menolak keinginan sang putri. Tidak ada alasan untuk beliau memecat Mawar.


Terlepas jika ternyata Mawar adalah cucu dari seorang pengusaha kaya raya. Tuan Tomi. Dan hal tersebut membuat Dona semakin ingin menghancurkan Mawar.


Dona tersenyum sinis. "Lusa, pertunjukkan akan di lakukan. Mungkin gue bisa berbuat sesuatu pada Mawar." ucapnya, merencanakan hal yang licik tentunya.


Sedangkan Gaby, dirinya hanya mengetahui postingan yang diunggah oleh saudaranya, Thomas. Dirinya belum melihat foto yang telah diupload oleh Jerome.


Dan mungkin, Gaby akan lebih gila dari Dona, jika mengetahuinya.

__ADS_1


__ADS_2