MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 153


__ADS_3

Caty duduk bersandar di sandaran ranjang tempat tidurnya. Dengan kedua mata menatap kemanapun sang suami melangkah, mempersiapkan diri untuk pergi bekerja.


Wiryo yang merasa diperhatikan setiap geraknya oleh sang istri, menghentikan langkahnya. Lalu mendekati Caty seraya mengancingkan kancing di lengannya. "Ada apa... hemmm...?" tanya Wiryo dengan lembut.


Caty menggeleng. Menandakan jika dirinya tidak menginginkan apapun dari sang suami. "Ada yang sakit? Atau, kamu ingin sesuatu?"


Lagi-lagi Caty kembali menggeleng. Wiryo mengusap lembut kepala sang istri, melanjutkan aktifitasnya merapikan diri untuk pergi bekerja.


Wiryo merasa, beberapa hari terakhir ini sang istri menjadi sangat pendiam. Memang benar, setelah mengetahui jika ada janin di dalam rahimnya Caty lebih jadi pendiam dari pada dahulu.


Namun beberapa hari terakhir sangat berbeda. Caty tak lagi muntah, tak lagi mual, tak lagi mengeluh. Meski masih betah berada di atas ranjang, menghabiskan setiap jam di sana. Itupun juga tidak memegang ponsel.


Nyonya Gendis saja juga merasa heran. Beliau berbicara pada Wiryo akan hal tersebut. Berharap Caty akan lebih terbuka pada sang suami, jika memang tidak ingin mengatakan pada dirinya.


Namun nyatanya, Caty tetap saja tidak mau mengatakan apapun itu. Caty hanya tetap diam. Nyonya Gendis yakin, jika sang putri sedang menginginkan sesuatu. Tapi Caty malu atau malah enggan mengungkapkannya.


"Sayang, orang hamil itu tidak boleh stres. Tidak boleh tertekan. Jika kamu menginginkan sesuatu, katakan saja. Mas akan memberikan semampu mas." saran Wiryo, dengan tangan sibuk membenahi dasi yang sudah terpasang rapi di leher.


Wiryo yang berada di depan cermin full body bisa melihat dengan jelas dari pantulan cermin, jika sang istri sedang memainkan bibirnya seraya memandang ke arah dirinya. Ekspresinya terlihat bete. Tapi terlihat jelas dia sedang menginginkan sesuatu.


Wiryo tidak bisa memaksa. Dirinya tidak ingin Caty malah akan semakin tertekan bila dirinya memaksa Caty untuk mengatakan keinginannya, padahal Caty tidak ingin mengatakannya.


Selesai. Wiryo dengan penampilan rapinya sudah siap berangkat pergi ke perusahaan untuk bekerja. "Aku pergi dulu. Baik-baik di rumah. Hubungi aku jika terjadi sesuatu."


Cup..... Wiryo mengecup kening Caty dengan lembut. Berjalan menuju pintu. "Mas, aku ingin bertemu dengan Mawar." ucap Caty dengan nada pelan, tidak terdengar jelas di telinga Wiryo. Sebab Wiryo sudah berada di ambang pintu.


Wiryo hanya mendengar kata yang Caty ucapkan terakhir. Mawar. Wiryo kembali membalikkan badan. Tanpa menghampiri sang istri, Wiryo bertanya di ambang pintu. "Ada apa dengan Mawar?"


Caty memutar kedua bola matanya dengan kesal. Dirinya menguatkan tekadnya untuk mengatakan apa yang dia inginkan. Yakni bertemu dengan Mawar.


Tapi sang suami malah tidak mendengar dan tidak tanggap. Padahal sebenarnya Caty sangat malu mengatakannya. Dan membutuhkan keberanian untuk mengeluarkan uneg-uneg yang sudah dia pendam selama beberapa hari terakhir.


Sedangkan Wiryo yang hanya mendengar kata Mawar, menebak jika Caty melarangnya untuk bertemu dengan Mawar, atau berhubungan dengan Mawar.


"Tenang saja. Aku tidak akan menemui Mawar. Jangan berpikir yang bukan-bukan. Fokus saja pada kesehatan kamu dan calon anak kita."


Caty mendengus sebal. Dirinya ingin bertemu dengan Mawar, bukan melarang sang suami untuk menemui Mawar. "Astaga." gumam Caty.


Caty cemberut, bertingkah layaknya anak kecil. Memukulkan tangannya ke kasur yang empuk. Wiryo menghela nafas panjang, pasti dirinya akan terlambat bekerja. Padahal dirinya harus menggantikan sang mertua untuk menemui klien penting.


Wiryo kembali ke tempat Caty. Duduk di tepi ranjang. "Katakan, ada apa?" dengan pelan, Wiryo bertanya. Menggenggam seraya mengelus telapak tangan Caty.


Wiryo mencoba menahan emosinya. Dirinya harus berusaha bersabar, sebab Caty sedang mengandung calon buah hatinya.


Caty menundukkan kepala. "Caty ingin bertemu dengan Mawar." cicitnya lirih.


Wiryo terdiam, terhenyak dengan pengakuan Caty. Ingin sekali Wiryo menyuruh Caty untuk mengulang kalimatnya. Tapi dia takut salah ucap, yang malah akan membuat emosi Caty kembali memanas.


"Semua gara-gara mama. Dia selalu membicarakan Mawar setiap hari. Mungkin karena itu, bayi kita malah jadi ingin bertemu dengan Mawar." keluh Caty dengan bibir cemberut. Atas apa yang dia inginkan saat ini.


Ingin sekali Wiryo tertawa seraya berterimakasih pada calon anaknya yang masih berada di dalam kandungan.


Wiryo mencoba menghela nafas. Menetralkan rasa senang amat. Dia berharap, ini awal dari hubungannya juga Caty bersama Mawar akan membaik.


"Khem... baik. Tapi tidak sekarang. Aku harus bekerja. Ada pekerjaan penting yang harus aku hadiri. Tidak enak sama papa, jika aku membatalkannya." jelas Wiryo dengan lugas. Dirinya tidak ingin Caty salah paham.


"Kapan?"


Wiryo mengelus pipi sang istri dengan lembut. "Nanti, setelah pulang bekerja. Aku akan antar kamu untuk bertemu dengan Mawar. Bagaimana?" tanya Wiryo, berharap Caty setuju.


Caty mengangguk seraya tersenyum. Wiryo membalasnya dengan senyum. "Jangan nakal. Jaga mama di rumah. Papa kerja dulu." ucap Wiryo, menatap perut Caty yang masih rata, menciumnya dengan pelan.


"Aku gendut ya mas." ujar Caty dengan ekspresi sedih.


"Aiisshhh,, drama lagi." batin Wiryo. Setelah keinginannya untuk meminta bertemu dengan Mawar telah terpenuhi, sekarang perkara berat badan.


Wiryo tersenyum seraya berpikir. Dia tahu, jika perempuan akan sangat sensitif perkara berat badan. Dia tidak boleh salah bicara. "Semoga lidah ini tidak salah berucap." batin Wiryo.


Wiryo menggenggam telapak tangan Caty. "Tidak masalah. Kamu tetap cantik. Lagi pula, perempuan hamil tidak boleh diet. Itu akan berbahaya untuk bayi, juga untuk ibu." ucap Wiryo.


"Tap..."


"Sayang, mas harus segera berangkat. Lihat." Wiryo memotong perkataan Caty, menunjuk pada jam tangan hang melingkar di pergelangan tangannya. "Mas sudah telat."

__ADS_1


Caty mengangguk. Meski dirinya masih ingin berbicara. "Mas berangkat dulu."


Segera Wiryo mengecup kening Caty dan meninggalkan kamar. "Wiryo, bagaimana dengan Caty?" tanya Nyonya Gendis, yang ternyata menunggu sedari tadi di bawah.


Terpaksa Wiryo kembali menunda langkahnya untuk segera pergi masuk ke mobil. "Caty baik-baik saja ma" tukas Wiryo.


"Syukurlah. Lalu kenapa dia beberapa hari ini berubah?"


"Dia ingin bertemu dengan Mawar."


Nyonya Gendis diam. Mengerjakan matanya pelan. Antara percaya dan tidak. "Wiryo berangkat dulu ma." tanpa menunggu sang mertua menyahuti ucapannya, Wiryo bergegas pergi untuk bekerja.


"Mawar. Bertemu dengan Mawar. Bagaimana bisa." gumam Nyonya Gendis.


Pasalnya. Beberapa hari yang lalu, Caty selalu tak suka saat dirinya membicarakan Mawar. Lantas kenapa sekarang Caty ingin bertemu dengan Mawar.


"Mungkin bawaan bayinya, Nyonya." ujar seorang pembantu, yang tak sengaja mendengar percakapan Nyonya Gendis dan Wiryo.


Nyonya Gendis manggut-manggut. "Semoga saja seperti itu.


Nyonya Gendis hanya khawatir Caty akan membaut masalah. Dan malah akan menyakiti hati gadis baik tersebut. Jujur, Nyonya Gendis juga tidak tega, saat melihat Mawar disakiti sang putri.


Di kamar, Caty merasa perasaannya lega dan juga merasa senang. Setelah ucapan sang suami yang akan mengajaknya bertemu dengan Mawar nanti, setelah sang suami pulang bekerja.


"Entah kenapa, aku ingin berada di dekat Mawar." gumamnya, mengelus perutnya yang masih rata.


"Padahal kamu belum pernah bertemu dengannya. Tapi kenapa kamu ingin berada di dekatnya." cicitnya.


Mana mungkin janinnya bisa bertemu dengan Mawar, bertemu dirinya saja belum pernah.


Di mobil, Wiryo duduk di kursi belakang, dengan seorang lelaki di kursi depan duduk sebagai sopir, mengemudikan mobil.


Wiryo mengecek kembali beberapa keperluan yang berada di laptopnya, guna untuk dibahas bersama klien sebentar lagi. Dirinya tidak ingin ada yang tertinggal.


Tiba-tiba pikiran Wiryo teringat Lina. Membayangkan beberapa tahun lalu, saat Lina sedang mengandung Mawar.


Lina sama sekali tidak mengeluh. Dan saat itu, mereka sedang dalam masa sulit. Lina dengan senang hati membantunya bekerja, meski dalam keadaan hamil.


Wiryo menghela nafas. Jika boleh jujur, ada rasa bersalah cukup besar dalam hatinya saat ini. Karena telah berkhianat pada Lina. Serta meninggalkan Mawar.


Tapi nasi sudah menjadi bubur. Dirinya saat ini juga sudah menjadi suami dari perempuan lain. Serta sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. "Apa Mawar akan bersedia bertemu dengan Caty." batin Wiryo.


Mengingat bagaimana Caty memperlakukan Mawar. Sementara mereka akan datang dengan baik-baik, tanpa merasa bersalah atas semua yang terjadi. Kelihatannya mustahil.


Bahkan sampai detik ini, Mawar juga sama sekali tidak pernah menemuinya, bahkan tidur di rumah yang menjadi tempat tinggalnya sekarang. Meski Wiryo pernah mengatakan pada Mawar untuk berkunjung sekali-kali, meski tidak menginap.


"Sepertinya aku harus pergi dulu ke rumah Lina. Bertanya pada Mawar untuk memastikan jika dia mau bertemu dengan Caty. Semoga Mawar tak menolak keinginan Caty." gumam Wiryo.


Seperti yang Wiryo rencanakan. Wiryo pulang terlebih dulu. Dia pergi ke rumah Lina untuk bertemu dengan Mawar. Itupun dia juga harus meminta izin pada mertua yang jiga menjadi atasannya di perusahaan.


Wiryo tampak terkejut, dilihatnya ada beberapa orang sedang membangun sesuatu di depan rumah yang dulu dia tinggali selama bertahun-tahun. "Lina mau membangun apa?" gumamnya, turun dari mobil.


Tampak masih sangat berantakan, dengan beberapa bahan bangun yang berada di teras rumah Lina. Wiryo melihat ada sebuah mobil do depan, tepatnya di depan dia parkir. Satu mobil di dalam pagar, serta satu sepeda motor. "Apa ada tamu." gumamnya, melangkahkan kaki ke dalam.


Suara gelak tawa terdengar dari teras rumah. Beberapa kali Wiryo mengucapkan salam. Tapi tidak ada jawaban dari dalam. "Mungkin mereka tidak mendengar." tebak Wiryo.


Wiryo memutuskan untuk masuk dan langsung menuju ke ruang tengah. Dimana dia mendengar suara beberapa perempuan sedang berbincang.


Wiryo menghentikan langkahnya, melihat siapa saja yang berada di dalam rumah mantan istrinya. Juga ada Nyonya Tanti. Mantan mertuanya.


"Siapa yang tidak menyukai kamu?" tanya Wiryo yang tiba-tiba sudah berdiri tak jauh dari mereka.


Suara Wiryo lantas mengalihkan semua perhatian seisi rumah pada seseorang yang baru saja datang tersebut. "Maaf, saya tadi sudah mengetuk pintu, serta mengucapkan salam. Tapi tak ada yang menjawab. Jadi saya langsung masuk." jelas Wiryo segera.


Sebab semua memandang dengan aneh pada dirinya. Tentu saja, karena Wiryo sekarang adalah orang lain untuk Lina.


Mawar dan kedua temannya segera berdiri, bersalaman dengan Wiryo. Begitu juga Lina. Dan Wiryo, dia segera mendekat ke tempat Nyonya Tanti serta bersalaman dengannya.


"Tumben ayah ke sini. Ada apa?" tanya Mawar.


Wiryo tersenyum. "Ada yang ingin ayah bicarakan sama kamu." papar Wiryo. Dirinya melihat mantan mertuanya membuang muka. Terlihat jelas rasa tak suka Nyonya Tanti yang dia tunjukkan pada Wiryo.


"Kita bicara di ruang tamu saja." ajak Mawar.

__ADS_1


"Benar. Kamu ajak ayah kamu ke ruang tamu. Ibu akan membuatkan minum." tutur Lina.


Keduanya duduk di ruang tamu. "Kamu apa kabar?" tanya Wiryo.


"Baik." jawab Mawar singkat.


"Oh iya, depan rumah mau di bangun apa?"


"Emmm,,, toko kue. Dari pada ibu bekerja untuk orang lain, kakek membuatkan toko kue sendiri untuk ibu." jelas Mawar.


Hati Wiryo sedikit tersentil. Pasalnya, dulu dialah yang mengatakan akan membuat sebuah toko kue untuk Lina. Agar Lina tak perlu bersusah payah menitipkan kue hasil buatannya ke toko orang lain.


"Ada keperluan apa ayah ke sini?" tanya Mawar langsung. Sebab tak mungkin sang ayah datang tanpa maksud tertentu. Mustahil terjadi.


"Begini, mama kamu sekarang sedang mengandung." jelas Wiryo.


Mawar tersenyum tulus. "Selamat."


Wiryo mengangguk. "Usia calon adik kamu masih delapan minggu. Dan saat ini, mama kamu sedang mengidam."


Mawar terdiam. Belum bisa menangkap apa maksud perkataan sang ayah. Caty yang mengidam. Kenapa malah mendatangi dirinya. Memang ada hubungan apa antara dirinya dengan Caty yang sedang hamil dan mengidam.


"Mama kamu ingin bertemu dengan kamu." tutur Wiryo.


"Ngidam?" tanya Mawar memastikan. Terdengar sangat aneh. Setahu Mawar, orang ngidam itu ingin memakan sesuatu. Tapi, kenapa Caty ingin bertemu dirinya. Yang jelas-jelas Caty sangat membencinya.


Percakapan mereka terhenti, saat Lina datang membawa segelas air minum untuk Wiryo. Hanya sebentar. Lalu Lina kembali ke belakang. Dirinya tidak ingin menganggu kedua ayah dan anak yang sedang berbincang tersebut.


"Silahkan diminum yah." papar Mawar.


Wiryo mengangguk. Mengambil segelas jus dingin di atas meja, lalu menyeruputnya sedikit. "Ibu kamu ternyata masih hapal minuman kesukaan ayah." celetuk Wiryo.


Mawar tersenyum kecut. Bertahun-tahun hidup bersama. Apakah seseorang akan dengan mudah melupakan kebiasaan pasangan, meski telah berpisah.


"Khemm... maaf." cicit Wiryo, merasa seharusnya kalimat tadi tidak keluar dari mulutnya.


"Iya, Caty ngidam ingin bertemu dengan kamu. Beberapa hari ini, dia terus berdiam diri. Ayah kasihan. Takut perkembangan janin di dalam perutnya akan terganggu." jelas Wiryo.


Mawar tersenyum pahit. Begitu sayangnya sang ayah pada calon anaknya yang bahkan belum lahir. Bahkan memikirkan tumbuh kembangnya yang akan terganggu.


"Apa dulu dia juga memikirkan bagaimana keadaanku, saat dengan mudah meninggalkan aku dengan ibu, hanya untuk perempuan itu." batin Mawar.


Mawar segera menghela nafas. Membuang segala pikiran yang malah akan membuatnya sedih dan berpikir negatif. "Ajak saja ke sini." tukas Mawar.


Wiryo merasa lega. Karena Mawar mau menemui Caty. Meski Caty selalu bersikap buruk padanya. "Terimakasih, kamu memang anak yang baik." cicit Wiryo.


Keadaan hening sejenak. Lalu Wiryo kembali bersuara. "Maaf, jika kamu mau, bagaimana jika kamu yang datang ke rumah kami. Ayah akan menjemput kamu." pinta Wiryo.


Mawar terdiam, memandang ke arah Wiryo. "Begini, Caty sedang hamil muda. Dan itu sangat rentan. Apalagi di depan sedang membangun. Pasti akan banyak debu. Ayah hanya berjaga-jaga. Ayah tidak ingin terjadi sesuatu pada mama kamu dan bayinya."


Mawar menipiskan bibirnya. "Dia bisa memakai masker. Lagian Mawar tidak bisa meninggalkan nenek sendiri. Nanti ibu akan pergi keluar membeli perlengkapan toko." ucap Mawar dengan jujur.


"Hanya sebentar sayang. Setelah itu kamu bisa segera pulang." bujuk Wiryo.


Mawar menghela nafas. Segitu sayangnya sang ayah pada istri barunya dan calon anaknya yang belum lahir.


"Maaf, Mawar tidak bisa. Mawar tidak akan tega meninggalkan nenek sendiri di rumah. Meski hanya sebentar."


"Nenek bisa ikut kamu. Atau malah ikut ibu kamu." ucap Wiryo ngeyel.


"Maaf, nenek sedang tidak enak badan. Dan Mawar tidak akan mengizinkan nenek pergi malam hari." tegas Mawar.


"Kamu ternyata sangat menyayangi nenek kamu." celetuk Wiryo tanpa disaring.


Mawar tersenyum sinis. "Iya, Mawar sangat menyayangi nenek. Seperi ayah sangat menyayangi istri baru ayah dan calon anak ayah." sindir Mawar menohok.


Mulut Wiryo seketika terbungkam. Dirinya tidak menyadari, jika sedari tadi dirinya terkesan menomor satukan Caty dan calon anaknya. Tanpa memikirkan perasan Mawar.


Padahal, di sini Wiryolah yang sedang meminta bantuan pada Mawar. "Maaf. Ayah menyayangi kalian semua. Juga kamu."


Mawar mencebik. Dan semua itu terlihat jelas di mata Wiryo. "Baiklah, nanti malam ayah akan ke sini. Mengantarkan mama kamu." cicit Wiryo, yang hanya diangguki oleh Mawar.


Wiryo selalu memanggil Caty dengan sebutan mama saat berbicara dengan Mawar. Pada kenyataannya, Mawar sama sekali tidak pernah memanggil Caty dengan sebutan mama. Mawar memanggil Caty dengan sebutan tante.

__ADS_1


__ADS_2