MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 162


__ADS_3

Mawar menatap penampilannya di depan cermin. Menatap ujung rambut sampai ujung kaki. Mawar tersenyum sendiri. Merasa aneh dengan penampilannya yang tidak seperti biasa.


Dress rumahan yang simple. Dengan warna biru muda, dan motif lingkaran kecil-kecil berwarna putih. Berlengan pendek, dan panjang hingga lutut. Cukup pas di badan Mawar.


Dress sederhana, namun bisa membuat penampilan Mawar begitu menarik untuk dipandang mata. Ditambah parasnya yang menawan. Siapa yang tidak akan terpesona.


Mawar menggelembungkan kedua pipinya. Lalu tersenyum samar. "Aku terlihat cantik. Pasti karena dress ini. Kak Jerome memang pandai memilih." cicit Mawar, melihat dress yang melekat di tubuhnya dengan teliti.


Selama ini, Mawar bahkan tidak pernah memakai dress seperti itu. Lantaran dia merasa nyaman dan suka dengan memakai kaos berlengan pendek dengan bawahan celana berbahan kaos saat beraktifitas di rumah. Cukup simple.


Mawar mengepang rambutnya menjadi satu. Tidak terlalu rapi, namun juga tidak terlihat berantakan. "Selesai."


Tanpa sedikitpun ada make up di wajahnya. Mawar keluar dari kamar Jerome. Bahkan tanpa menyemprotkan parfum ke pakaian yang dia gunakan. Menuruni anak tangga dengan perlahan.


Pandangan matanya mencari seseorang yang mungkin bisa menolongnya. "Nona Mawar." panggil salah satu pembantu di rumah.


Mawar menoleh ke arahnya. Lalu tersenyum. "Bik, tante kemana?" tanya Mawar.


"Nyonya tadi pergi ke kamar, setelah teman-teman arisannya pulang. Biasanya beliau beristirahat." jelasnya.


Mawar hanya mengangguk pelan. "Ada yang bisa bibik bantu?"


Mawar terdiam sesaat. Memikirkan sesuatu. "Mawar bingung mau melakukan apa." cicit Mawar.


Jika di rumah, mungkin Mawar saat ini akan duduk bersantai dan menonton televisi. Tapi ini di rumah Jerome. Tidak mungkin dia akan melakukan hal seperti itu. Sebab dia tamu di rumah Jerome.


Sang pembantu tersenyum. "Non bisa duduk di taman yang ada di samping rumah. Di sana ada sebuah kolam ikan yang sangat bagus. Nona bisa duduk di sana. Dan melihat mereka berenang dengan bebas." saran sang pembantu.


Mawar mengangguk. "Non bisa ke sana, bibik akan buatkan minum untuk Non Mawar." lanjutnya.


"Terimakasih bik. Saya akan menunggu di sana." Mawar melangkahkan kakinya ke tempat yang ditunjukkan oleh pembantu di rumah Jerome.


"Indah sekali. Coba di rumah ada lahan yang kosong. Akan Mawar jadikan tempat seperti ini." cicit Mawar, melihat banyaknya bunga yang bermekaran dengan warna berbeda di depannya.


Seorang pembantu datang, menaruh minuman serta camilan untuk Mawar di meja samping Mawar. "Terimakasih bik." ucap Mawar, saat pembantu tersebut meletakkan makanan serta minumannya.


"Sama-sama Non." sahutnya.


"Semoga Tuan Muda Jerome menikah dengan Non Mawar." batinnya dalam hati. Melihat bagaimana ramahnya Mawar tanpa dibuat-buat.


Buktinya, Mawar tetap bersikap baik padanya. Padahal hanya ada dirinya seorang. Yang menandakan jika Mawar benar-benar mempunyai kepribadian yang baik.


Sepeninggal sang pembantu, Mawar seorang diri menikmati indahnya beragam bunga dihadapannya. Serta berbagai ikan yang beragam warna dan jenis, berenang dengan bebas di dalam kolam.


Mawar tersenyum samar, dengan mata memandang intens ke arah kolam. "Tanpa beban pikiran. Kalian berenang dengan bebas." gumam Mawar, tersenyum penuh makna.


Mawar mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Entah apa yang sedang Mawar pikirkan. Tapi yang pasti, ada sesuatu yang mengganjal dalam hati Mawar.


Nampak jelas ekspresi Mawar yang berubah datar. "Caty, dia sekarang sedang mengandung anak dari ayah. Yang artinya, dia juga adik aku." ucap Mawar dalam hati.


Mawar sadar, jika Nyonya Meysa sekarang menerimanya karena dirinya cucu dari Tuan Tomi. Dan Mawar, berusaha untuk melapangkan dada.


Mungkin, itulah jalan yang dituliskan Tuhan. Dengan cara seperti itu, dirinya dan Jerome bisa bersatu. Dan Mawar berusaha menerimanya.


Selain itu, ada Caty yang sekarang juga tiba-tiba baik dengan Mawar. Karena anak yang ada di dalam kandungannya. "Apa jika ngidamnya selesai, dia akan kembali seperti dulu." gumam Mawar, tersenyum geli.


Mawar menghela nafas. "Apa aku juga harus berbesar hati. Mencoba membuka hati aku untuk berdamai dengan Caty." ucap Mawar dalam hati.


Di saat Mawar sedang termenung seorang diri. Seseorang datang, dan langsung mencium pipinya dengan singkat.


Cup....


"Ehh..." ucap Mawar terkejut. "Kak Jerome...." geram Mawar kesal.

__ADS_1


Bisa-bisanya Jerome melakukan hal tersenut di tempat seperti ini. Mawar hanya malu, jika sampai ada yang melihat apa yang dilakukan Jerome pada dirinya.


Jerome duduk jongkok di depan Mawar. "Sumpah, kamu cantik sekali sayang." puji Jerome, menatap Mawar dengan penuh damba.


Jerome menggenggam telapak tangan Mawar. "Nggak usah gombal. Mawar nggak akan kenyang, hanya dengan gombalan." tukas Mawar, menyembunyikan rasa malu bercampur senang, karena pujian yang dilontarkan oleh sang kekasih.


"Masa." Jerome berdiri, duduk di kursi kosong samping Mawar.


"Kak Jerome." panggil Mawar, merasa salah tingkah, Jerome terus menatapnya dengan intens.


"Kamu tinggal di sini saja ya." pinta Jerome.


Mawar mengerutkan keningnya. "Mawar punya rumah sendiri." sahut Mawar pads permintaan Jerome yang nyleneh tersebut.


Lagi, Jerome menggenggam telapak tangan Mawar. Mencium punggung tangan Mawar, membuat Mawar hanya bisa tersenyum malu bercampur senang.


Sungguh, Mawar sama sekali tidak mengira jika Jerome yang dikenal dingin dan cuek, akan memperlakukannya dengan lembut dan penuh kasih.


Keduanya saling berbincang. Membicarakan semua hal. Mulai dari pelajaran di sekolah, sampai bisnis. Apalagi Mawar sedang belajar bisnis. Sehingga Mawar dengan antusias bertanya pada Jerome yang lebih paham dan mengerti perkara bisnis.


Jerome menatap Mawar dengan cemberut. "Apa?" tanya Mawar tersenyum manis.


"Jika nanti kamu menjadi pemimpin perusahaan kakek Tomi. Dan aku memimpin perusahaan milik keluargaku. Kita jadi saingan bisnis dong." rengek Jerome.


"Lalu?"


"Nggak mau. Masa jadi rival." ujar Jerome dengan nada manja.


Mawar mencubit gemas pipi Jerome. "Masih lama sayang, aku juga masih kelas dua SMA. Siapa yang akan tahu nasib kita ke depannya." tukas Mawar dengan santai.


"Nasib kita ke depannya. Jerome dan Mawar akan menikah. Lalu mempunyai anak. Jerome bekerja mencari uang. Dan Mawar akan mengurus rumah serta anak mereka. Mawar akan selalu tampil cantik dan seksi, saat sore hari. Saat membuka pintu, menyambut sang suami pulang bekerja." ujar Jerome panjang kali lebar dengan kedua sudut bibir terangkat sempurna ke atas.


"Ulu,,,, ulu,,,, pintar sekali lomba bercerita bebasnya. Siapa sih gurunya." ucap Mawar dengan tertawa pelan.


Byur..... Seseorang datang, dan langsung menyiramkan air di kepala Mawar, saat Jerome dan Mawar berbincang santai.


"Mawar." Jerome langsung berdiri dan melihat keadaan Mawar, dimana Mawar langsung berdiri karena rasa keterkejutannya dari siraman air di kepalanya.


Mawar mengusap wajahnya yang terkena air dengan satu telapak tangan. Rahang Jerome mengeras, memandang seseorang yang tersenyum sinis memandang ke arah mereka.


Seakan apa yang dia perbuat bukanlah sebuah kesalahan. Malah, dia tersenyum senang dengan apa yang dia lakukan pada Mawar.


Beberapa jam yang lalu, saat Jerome masih berada di ruang kerja. Sementara Mawar berada di kamar Jerome, Jihan datang.


Sang mama, Nyonya Mesya menyambutnya seperti biasa. Dengan perasaan bahagia, dan pelukan penuh sayang. Segera Nyonya Meysa membawanya ke dalam kamar beliau.


Supaya Jihan tidak melihat keberadaan Mawar di rumah mereka. Sebab, Nyonya Mesya belum memberitahu apapun pada sang putri, Jihan.


Nyonya Meysa hanya mengantisipasi, takut jika Jihan akan mengatakan atau melakukan hal yang kasar pada Mawar.


Namun sebelumnya, Nyonya Meysa mengatakan pada seluruh pembantu di rumah. Untuk tidak mengatakan kepulangan Jihan pada Jerome, maupun Mawar.


Itulah sebabnya, saat Mawar bertanya pada salah satu pembantu di rumah Jerome, dia hanya mengatakan jika sang majikan sedang beristirahat di kamar. Tanpa menambahi jika ada Jihan bersama dengan beliau. Yang baru datang dari negara lain.


Nyonya Mesya menceritakan semua. Dimana dirinya sudah menerima Mawar. Serta mengatakan siapa Mawar sebenarnya.


"Jadi, mama merestui hubungan kak Jerome dengan Mawar?" tanya Jihan dengan nada terdengar tidak enak.


Nyonya Meysa mengangguk antusias dengan senyum di bibir. "Iya sayang. Ternyata, Mawar itu anaknya baik sekali. Dan kamu tahu, kakak kamu sangat mencintai dia."


Jihan tersenyum kecut mendengar alasan klise yang dikatakan sang mama. "Bukan karena sekarang Mawar cucu dari kakek Tomi?" sindir Jihan telak.


"Astaga. Bukan Jihan sayang. Mawar hanya cucunya. Belum tentu mendapatkan harta warisannya." kilah sang mama.

__ADS_1


Jihan tersenyum miring. Mana mungkin Jihan percaya dengan semua yang dikatakan oleh sang mama. Jihan tahu, bagaimana matrenya sang mama. Semua mamanya terima berdasarkan harta.


Jihan terdiam, masih teringat jelas penolakan yang diterima olehnya dari Deren. "Mawar, elo alasan utama kak Deren menolak gue." ucap Jihan dalam hati dengan perasaan jengkel.


Dimana Deren dengan terang mengatakan jika dirinya tidak akan pernah bisa membuka hati untuk perempuan lain. Juga dengan Jihan. Ataupun perempuan lainnya.


Deren dengan jelas mengatakan alasannya. Apalagi jika bukan karena hati Deren sudah terisi dengan nama seorang perempuan. Dan tak akan ada yang bisa menggeser nama tersebut dari hatinya.


Mawar.


Dialah nama perempuan tersebut. Perempuan yang saat ini menjadi kekasih sang kakak. Dan bisa dipastikan, jika Mawar akan menjadi anggota keluarganya.


Jihan yakin, semua pasti akan setuju. Jika Jerome menikah dengan Mawar. Dan satu-satunya orang yang dulu menjadi penentang di garis paling depan atas hubungan mereka, kini malah sangat mendukung keduanya. Siapa lagi jika bukan sang mama.


"Mawar, elo sudah membuat kak Deren menolak gue. Mana mungkin, gue membiarkan elo masuk ke dalam kelurga gue. Menikah dengan kakak gue. Dan hidup bahagia. Tidak akan. Sementara gue merasakan sakit hati atas penolakan kak Deren. Dan itu semua karena elo." ucap Jihan dalam hati.


"Sayang, kamu setujukan? Jika Mawar menjadi pasangan kakak kamu?" tanya Nyonya Meysa dengan lembut.


Nyonya Mesya berharap, Jihan tidak akan mengacau. Membuat semua berantakan. Dan menggagalkan apa yang sudah ada di dalam benaknya. Untuk menyatukan Mawar dan Jerome.


Apalagi, Nyonya Meysa ingin Jerome dan Mawar bertunangan terlebih dahulu. Bertepatan dengan perayaan hari ulang tahunnya yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi.


Nyonya Meysa tak ingin kehilangan Mawar. Oleh karenanya, dia bergerak cepat. Meski Mawar sendiri masih kelas dua SMA. Apalagi sudah dipastikan jika Mawar akan menjadi pewaris utama semua kekayaan dari Tuan Tomi.


Nyonya Meysa sudah mempunyai rencana untuk Mawar dan Jerome. Dimana Jerome maupun Mawar tidak akan bisa menolak untuk bertunangan.


Jihan tersenyum. "Mama yakin, jika Mawar perempuan terbaik untuk kak Jerome?" tanya Jihan tersenyum misterius.


"Mama yakin sayang." sahut Nyonya Meysa.


"Karena uang." tebak Jihan langsung.


"Jihan sayang, jangan katakan itu lagi. Mama sudah berubah. Mama sadar, jika kakak kamu sangat mencintai Mawar. Dan mama, hanya menginginkan kakak kamu bahagia. Apalagi Mawar juga mencintai kakak kamu."


"Apa mama tidak memikirkan perasaan Jihan?" tanya Jihan tersenyum getir.


Sebelum pulang, Jihan mengatakan dan menceritakan penolakan kesekian kalinya yang dia terima dari Deren. Juga dengan alasan Deren menolak dirinya.


"Sayang, kamu dan Deren berbeda. Deren memang tidak menyukai kamu. Berbeda dengan Mawar dan kakak kamu. Mereka berdua saling mencintai." tukas Nyonya Meysa.


Jihan tersenyum pahit. Dulu, sang mama paling depan menyemangati dirinya untuk mendapatkan Deren. Bahkan, beliau tak segan untuk menyakiti Mawar. Saat itu.


Tapi, kini semua berubah drastis. Sang mama seakan memintanya untuk mundur dan menjauh dari Deren.


Jihan berdiri dan meninggalkan kamar Nyonya Meysa tanpa mengatakan apapun pada sang mama "Jihan..." panggil Nyonya Meysa.


"Semoga Jihan tidak tahu, jika Mawar ada di sini." cicit Nyonya Meysa.


Jihan melangkahkan kakinya menuruni tangga dengan langkah tergesa dan perasaan kesal. Indera pendengarannya menangkap suara tawa, suaranya tampak tak asing di telinganya.


Penasaran, Jihan melangkahkan kakinya untuk memastikan apakah tebakannya benar atau tidak. "Mawar." kedua tangan Jihan terkepal kuat.


Emosinya kembali membuncah, manakala terlihat Mawar tertawa senang bersama sang kakak. "Elo bisa tertawa. Dan gue, harus menderita." gumam Jihan, menyalahkan penolakan dari Deren pada Mawar.


Jihan tersenyum miring. Melihat teko berisi air putih. Diambilnya dengan segera, berjalan dengan santai. Diguyurkan air tersebut di atas kepala Mawar.


"Jihan.....!!!" teriak Jerome murka.


Segera Mawar mencekal lengan Jerome. Dirinya seakan bisa menebak apa yang akan Jerome lakukan. "Sudah kak..." ucap Mawar.


Jihan bersedekap dada. Tersenyum remeh memandang Mawar. "Astaga, bisanya berlindung di bawah ketiak orang." ejek Jihan.


Mawar hanya menghela nafas. Dirinya tidak ingin membuat keributan di rumah orang. Apalagi, Mawar cukup paham bagaimana karakter Jihan. Pasti sama seperti Dona.

__ADS_1


__ADS_2