MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 115


__ADS_3

Jerome merasa badannya panas, saat melihat bagaimana Mawar dan Tuan Djorgi berinteraksi. "Jangan bilang elo cemburu. Tuan Djorgi lebih pantas menjadi ayah Mawar." tebak Tian yang melihat Jerome menatap mereka dengan intens.


Jerome bahkan tak mendengar apa yang dikatakan Tian. "Cemburu tak mengenal dengan siapa. Sebab, cinta ternyata memang buta." timpal Luck menyindir Jerome.


Thomas melirik ke arah Jerome. Senyum jahil tersirat di bibirnya. "Aku akan ke sana. Kelihatannya dia lebih cantik, jika dipandang dari jarak dekat." ucap Thomas, membuat hati Jerome semakin panas.


"Satu langkah saja kakimu beranjak dari tempat. Aku tidak akan segan-segan mematahkannya..!!" tegas Jerome mengancam.


Segera Jerome merapikan jas yang melekat di tubuhnya. Padahal, jas masih dalam keadaan rapi. Berjalan dengan langkah pasti menghampiri Mawar yang berada di antara keluarga pengantin.


Para sahabat Jerome terkekeh pelan melihat kelakuan dari Jerome. "Tapi saudari kita memang cantik." celetuk Lucas, yang masih duduk di mengaku sekolah menengah pertama, saat Jerome tak lagi bersama mereka.


"Kamu anak kecil, jangan macam-macam." tegur Thomas, sang kakak.


"Jaga mulut, jika Jerome mendengar, bisa jadi lidahmu sudah tidak berada di tempat." timpal Tian.


Thomas dan Lucas, keduanya dulu memang tinggal di negera ini. Awalnya, Thomas hanya kenal dengan Tian. Dari Tianlah, Thomas mengenal Luck dan Jerome, serta Deren.


Sementara Lucas, sebagai adiknya Thomas, tentu saja dia juga tahu teman-teman sang kakak. "Kenapa aku tidak melihat Deren sedari tadi, apa dia tidak datang?" tanya Thomas.


"Deren meninggalkan negara ini. Dia pergi ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya." sahut Tian.


"Bukankah belum waktunya?" Thomas mengetahui, sebab memang nilai ujian saja belum keluar.


"Biasa. Orang tuanya yang menyuruhnya." ujar Luck beralasan.


Berkata jujur atas alasan kepergian Deren, rasanya tidak perlu. Sama saja mereka mengatakan jika Deren dan Jerome bermasalah. Pasti nama Mawar juga akan ikut terlibat.


Thomas hanya mengangguk. Dari dulu, Thomas juga tahu, jika Deren selalu menuruti semua permintaan kedua orang tuanya. Meski tak sesuai dengan keinginan hatinya.


Jerome berdiri di samping Mawar, dan langsung melingkarkan tangannya posesif ke pinggang ramping Mawar. "Om Djorgi tidak perlu repot-repot, saya yang akan mengantarkan Mawar pulang." sela Jerome, di saat Mawar dan Djorgi berbincang.


Mawar sempat terkejut, melihat apa yang dilakukan Jerome. Ingin protes, menolak kelakukan Jerome, dan marah karena sikap Jerome padanya. Tidak mungkin.


Di sini, begitu banyak orang. Dan Mawar tahu. Jika dirinya menolak atas sikap yang diberikan Jerome padanya, sama artinya melemparkan kotoran pada wajah Jerome. Yang artinya, pasti Jerome akan mendapatkan malu.


Mawar hanya memutar kedua matanya dengan malas. Masih ingat perkataan Jerome tadi siang. Dan sekarang, Jerome mendekatinya, seolah tidak ada yang terjadi. "Orang kaya dan tampan memang bebas." batin Mawar tersenyum kecut.


Dona dan Gaby, nafas keduanya seakan berhenti melihat pemandangan di depannya. Jerome, memperlakukan Mawar dengan begitu spesial. Dan ini pertama kali dalam hidup Dona, melihat Jerome begitu dekat dengan seorang perempuan.


"Tapi,,, tak apalah. Sekalian membuat Dona dan Gaby panas." batin Mawar, mempergunakan keadaan dengan baik.


Mawar melihat bagaimana ekspresi kedua gadis yang sangat menginginkan Jerome. Jika bisa dilihat, pasti di atas kepala Gaby dan Dona ada dua buah tanduk yang keluar, dan asap yang mengepul.


"Dua orang dalam satu kelompok, menginginkan satu orang yang sama. Keduanya tidak akan saling mengalah. Kehancuran yang akan gue berikan, sobat." Mawar tersenyum samar.


Bukan hanya Gaby dan Dona yang menatap ke arah Mawar dan Jerome. Tapi sebagian banyak dari para tamu. Nama Jerome sudah tidak asing lagi di telinga para pebisnis di negara ini.


"Kalian..." Djorgi menatap dengan tatapan penasaran.


Mawar tersenyum. "Kami bersahabat om." sahut Mawar dengan lembut.


Jerome menatap tajam ke arah Mawar. Menampilkan raut wajah tak suka atas jawaban yang diberikan oleh Mawar.


Dan semua orang melihat bagaimana ekspresi tak puas dari wajah Jerome. Namun, mereka tak bisa ikut campur masalah anak muda.


Mawar sedikit mendongakkan wajahnya. Sebab perbandingan tinggi badan Jerome dan Mawar. "Benarkan kak Jerome?"


Jerome lantas tak segera menjawab. Pasalnya, apa yang dikatakan oleh Mawar adalah benar. Jerome dan Mawar, keduanya hanya sebatas sahabat. "Iya." kata Jerome singkat.


"Tapi kalian serasi loh,,, cantik dan tampan." celetuk Nyonya Agatha.


"Kenapa dia ikut bicara." batin Gaby kesal. Di sini, baik Gaby atau Dona tak ada yang bisa bertingkah. Mereka cukup tahu dan sadar diri. Tidak mungkin membuat malu keluarga.


"Maaf, saya harus menyapa seseorang." pamit Mawar, melepaskan tangan Jerome di pinggangnya.


Setelah Mawar berpamitan, segera dia melangkahkan kaki untuk mendekat ke tempat Nyonya Utami berada. Tak mau ketinggalan, Jerome berjalan di belakang Mawar.


"Bu..." sapa Mawar, berjabat tangan dengan Nyonya Utami.


Nyonya Utami memegang kedua pundak Mawar, menatap wajah ayu dari salah satu karyawan di butiknya. "Kenapa nggak bilang sama ibu. Kalau saya tahu kamu datang ke sini, kita bisa berangkat bersama."


"Takut merepotkan." papar Mawar, dengan Jerome berada di sampingnya.


"Oh iya, ini suami ibu. Kenalkan. Namanya Joko." ujar Nyonya Utami memperkenalkan sang suami pada Mawar.


Mawar mengulurkan tangan, dan segera mencium punggung tangan Tuan Joko, saat mereka berjabat tangan. "Mawar,, Tuan." cicit Mawar dengan sopan.


Sementara Nyonya Mesya menatap Mawar dan Jerome dengan tatapan yang sulit di artikan. Sekarang, gadis yang dia selidiki berada tepat di hadapannya. Bersama putra yang dia banggakan.


Sementara Jerome, dia hanya acuh. Kepalang tanggung. Pasti sang mama juga melihat interaksinya barusan dengan Mawar.


Jerome tak bisa lagi menyembunyikan Mawar untuk tidak di usik oleh sang mama. "Jerome,,,," panggil Tuan Adipavi, papa dari Jerome.

__ADS_1


Jerome mengangguk. "Mawar, aku mau mengenalkan seseorang."


Mawar hanya diam dan mengikuti apa yang diinginkan Jerome. "Kenalkan mereka orang tuaku. Dia mama ku, dan dia papa ku."


Mawar tersenyum, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan bergantian pada kedua orang tua Jerome. "Mawar,, Tuan, Nyonya." ucap Mawar memperkenalkan diri.


Nyonya Mesya memasang wajah dingin dan cuek. Berbeda dengan Tuan Adipavi yang tersenyum ramah. "Panggil om, jangan Tuan. Saya bukan atasan kamu. Nama saya Adipavi. Dan istri saya Meysa." jelas Tuan Adipavi.


Jerome dan Nyonya Mesya langsung menatap ke arah Tuan Adipavi. "Kenapa, ada yang salah dari permintaan saya?"


Nyonya Mesya membuang wajahnya acuh. Dan Jerome menggeleng sembari tersenyum. "Baik, om." cicit Mawar.


Mawar mengalihkan pandangan pada seorang perempuan yang belum dia kenal, tapi sudah pernah dia lihat. Dimana lagi, jika bukan dalam rekaman video pada ponsel Selly.


"Saya Puri, mama dari Weni." ucap Nyonya Puri, mengulurkan tangannya terlebih dahulu pada Mawar. Segera Mawar menyambut uluran tangan beliau. "Panggil tante, jangan Nyonya." lanjutnya dengan ramah.


"Baik, tante." tutut Mawar.


Mawar mengalihkan pandangannya pada Tuan Joko, yang berdiri di antara sang istri, Nyonya Utami dan Nyonya Puri. Namun dengan senyum di bibir.


"Kamu cantik sekali." puji Nyonya Puri.


"Terimakasih tante." tutur Mawar.


"Sayangnya, tante hanya punya anak perempuan. Jika saja tante punya anak lelaki. Pasti akan tante perkanalkan sama kamu." papar Nyonya Puri, yang di balas senyuman oleh Mawar.


"Khemm...." Jerome berdehem dengan memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku.


"Bercanda Jerome." lanjut Nyonya Puri, membuat yang lain tertawa pelan. Kecuali Nyonya Mesya.


Mawar dapat merasakan, jika Nyonya Mesya tidak senang atas kehadirannya. Tapi tidak masalah untuk Mawar. Sebab suka ataupun tidak, Mawar sama sekali tidak peduli.


Tanpa Mawar sadari, meski Mawar tidak peduli, tapi pasti Nyonya Mesya akan mencari dia. Jika betul, dirinya tak suka dengan sosok Mawar.


Ini pertama kali Tuan Adipavi melihat, Jerome begitu dekat dengan seorang perempuan. Bahkan sudah menunjukkan sikap keposesifannya.


Tapi, tidak masalah untuk Tuan Adipavi. Selama sang anak bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan.


Beliau juga bisa menilai. Jika Mawar adalah perempuan yang baik dan sopan. Tak ada alasan untuk beliau menolak kehadiran Mawar di sisi Jerome. Jika sang anak memang menghendakinya.


Sementara Mira dan Selly, memasang wajah kesal dengan bibir cemberut, saat Mawar melangkahkan kaki mendekat ke arah mereka.


Sementara kedua orang tua mereka sudah bergabung bersama rekan mereka yang lain.


"Masih ingat??!" sinis Mira dengan jutek.


Mawar langsung berdiri di tengah keduanya. Merangkul pundak Mira dan Selly bersamaan. "Kalian cantik sekali sih,, jadi iri..." ucap Mawar dengan nada dibuat-buat.


"Nggak usah mengalihkan pembicaraan." ketus Selly.


"Uuuuhhh,,,, makin cantik deh kalau marah." Mawar mengerlingkan sebelah matanya secara bergantian, saat menatap Mira dan Selly.


"Kamu kenapa mesti pergi ke sana. Bikin khawatir." ujar Mira.


"Mereka akan jadi keluargaku, nggak sopan dong, kalau tidak memberi salam." jelas Mawar, memandang ke arah mereka.


"Keluarga apaan." timpal Selly dengan ketus.


Ponsel Mira dan Selly berbunyi bersama. "Mawar, ikut yuk, mama manggil aku." ajak Mira.


"Iya, aku juga nih. Paling mau dipamerin sama teman-temannya." timpal Selly.


"Kalian duluan saja. Nanti aku nyusul. Mau ambil minum. Haus." tolak Mawar dengan sopan.


"Benar ya, nanti nyusul." tekan Mira.


Mawar mengangguk. Mira dan Selly mencium pipi Mawar, lalu pergi meninggalkan Mawar. Beberapa kali mereka menoleh ke belakang. Seolah enggan meninggalkan Mawar seorang diri.


Tapi Mawar menggerakkan tangannya dan tersenyum. Seolah mengatakan, jika mereka tak perlu mengkhawatirkan dirinya.


Seperti yang Mawar katakan. Dia pergi ke tempat makanan dan minuman tersedia. Mengambil sebuah minuman berwarna biru. "Orang kaya memang beda." cicit Mawar, melihat banyaknya menu makanan yang tersedia dengan jumlah yang banyak pula.


"Sama saja. Orang kaya dan tidak kaya, mereka sama-sama bernafas." celetuk seseorang.


Mawar menengok ke samping, di mana seorang lelaki berdiri dengan gagah di sampingnya. "Erza." panggil Mawar tersenyum sempurna.


"Kenapa, gue ganteng ya." goda Erza, memainkan alisnya naik turun.


"Kalau cantik itu aku." balas Mawar centil, mampu membuat Erza terkekeh.


"Sendiri?" keduanya bersamaan menanyakan hal tersebut. Membuat keduanya tertawa pelan.


"Kompak sekali kita." cicit Mawar.

__ADS_1


"Jodoh mungkin." timpal Erza.


Mawar mencebik. "Sama siapa?"


"Mama papa. Tapi mereka sedang berkumpul dengan pebisnis yang lain."


"Terus ngapain kamu di sini?


"Nggak sengaja lihat gadis cantik sendirian. Takut nanti ada yang menggoda, jadi gue samperin." ucap Erza mampu membuat Mawar terkekeh.


"Makasih." ucap Mawar, berpose layaknya seorang putri kerajaan yang sedang mengucapkan terimakasih, dengan tangan sebelah kanan memegang segelas air minum.


Erza mengambil gelas di tangan Mawar. "Ini mengandung alkohol." jelas Erza.


Menukar dengan air minum yang lain. Lalu memberikan pada Mawar. "Ini."


Mawar tersenyum dan langsung mengambilnya. "Untung ada kamu. Jika tidak, pasti sebentar lagi aku akan mabuk."


Mawar meneguk habis air minum dalam gelas dengan sekali minum. "Wiihhh,,,, haus neng." celetuk Erza.


"Hah,,, Memainkan peran ternyata membuat tenggorokan menjadi kering." papar Mawar.


Erza yang tidak tahu apa yang terjadi hanya tersenyum, tanpa bertanya. Dirinya tahu, jika Mawar sedang dalam masalah.


Dan dia hanya bisa mengurangi beban Mawar dengan menghiburnya. "Biasanya, memainkan peran juga akan membuat cacing di perut berdemo." ucap Erza, memandangi berbagai macam makanan di atas meja.


"Yang enak yang mana. Tapi pas di lidah orang miskin seperti aku." tutur Mawar.


Erza terdiam. Dirinya dapat merasakan, ada nada getir dalam ucapan Mawar. "Biar aku pilihkan. Kemungkinan besar selera kita sama." saran Erza.


"Boleh." tutur Mawar.


Mawar dan Erza duduk di kursi yang berada di belakang gedung. "Ternyata tamu undangannya ada yang di sini juga."


Mawar melihat di sekitarnya juga ada banyak orang yang memakai pakaian seperti dirinya dan Erza. "Di dalam terlalu pengap. Di sini lebih enak." timpal Erza.


Mawar terdiam. Dia menikmati makanan di tangannya, makanan yang dipilihkan oleh Erza. Sama dengan makanan yang saat ini juga ada di tangan Erza.


"Kamu nggak akan kenyang, hanya memandangiku terus." celetuk Mawar, yang mengetahui jika Erza mengabaikan makanannya. Dan memilih fokus kepada Mawar.


Bukannya salah tingkah. Erza malah menggoda Mawar. "Kapan lagi, lihat gadis cantik makan."


Mawar menghentikan suapan ke dalam mulutnya. "Memang selama ini aku ngga cantik?" tanya Mawar, beepura-pura merajuk.


Erza menggeleng. "Biasa. Coba setiap hari pakai gaun seperti ini."


Kedua alis Mawar bertautan. "Lalu semua menganggap aku gila."


Erza tertawa, dan Mawar melanjutkan makannya sembari menggelengkan kepala. "Baru tahu, kalau Om Wiryo itu ayah kamu."


"Hemmm.." sahut Mawar meneruskan makannya.


"Pantas kamu pintar."


"Hemmm.."


Suasana tampak hening. Mawar dan Erza sama-sama menikmati makanan mereka. Tak ada obrolan di antara mereka.


"Aku yang lebih dulu makan, kamu yang habis lebih dulu." cicit Mawar, melihat makanan Erza sudah habis, namun miliknya masih ada di piring, meski tak banyak.


"Bagaimana. Enakkan, makanan pilihanku?"


Mawar mengangguk. "Selera kita sama bukan?" tanya Erza.


Mawar menoleh ke samping. Membuat pandangannya bersitatap dengan Erza. Tapi segera Mawar memutuskan pandangannya dengan mengarahkan ke arah lain.


"Lihatkan tante. Tadi bersama dengan Jerome. Dan sekarang dengan laki-laki lain." ujar Dona mengompori Nyonya Mesya.


Nyonya Mesya menatap intens ke arah Mawar dan Erza. "Dia memang terkenal cantik dan pandai di sekolah. Sayangnya, kecantikannya dipergunakan untuk hal yang salah." lanjut Dona.


Tentu saja Dona hanya bisa membuat nama baik Mawar di mata mama Jerome tercoreng. Sebab, tak mungkin dirinya mempengaruhi Tuan Adipavi. Jawabannya sudah tertebak. Tuan Adipavi tidak akan terpengaruh perkataan Dona.


"Dona juga heran. Kenapa Jerome begitu menyukai Mawar. Padahal dia hanyalah anak dari orang miskin. Ibunya saja bekerja di toko kue milik papanya Gaby."


Dona mengetahui hal tersebut dari Gaby. Dan baru saja, Gaby menceritakan pada Dona. "Dia juga bekerja di butik mama saya tante. Setelah pulang sekolah."


"Saya juga sempat curiga. Ayahnya benar-benar mencintai tante Caty, atau hanya mengincar sesuatu dari tante Caty."


Dona terus menerus berceloteh. Menjelek-jelekkan nama Mawar di hadapan Nyonya Mesya. "Tapi, sekarang dia pasti bangga. Bisa masuk ke keluarga Buwono."


Nyonya Mesya tersenyum sinis. "Tetap saja. Dia berasal dari lumpur. Dan tidak akan pernah bisa masuk ke keluarga seperti kita."


Dona tersenyum senang. Ucapan dari Nyonya Mesya, menandakan jika beliau juga tidak menyukai kehadiran Mawar di samping Jerome.

__ADS_1


__ADS_2