
Mawar memandang ke seberang jalan. Dimana kekasih dari Amel berada di sana. Duduk di atas motor sportnya, tanpa melepas helm yang menutupi kepala dan seluruh wajahnya.
Sehingga Mawar tidak bisa melihat bagaimana rupa dari kekasih Amel. "Dia kekasihnya Amel. Mereka sudah lama pacaran. Tapi aku juga belum pernah melihat wajahnya. Benar-benar misterius." jelas Santi, yang tahu kemana arah tatapan Mawar.
"Aku denger sih, dia sangat tampan. Tapi ya, ada yang bilang dia anak geng motor. Sedikit mengerikan bukan." sahut Tia bergidik ngeri.
Amel melambaikan tangannya ke arah mereka bertiga saat motor yang dia naiki melaju meninggalkan area butik.
Ketiganya lantas membalas lambaian tangan dari Amel. "Pasti kamu juga penasaran." tebak Santi, melihat cara Mawar memandang kekasih Amel.
Mawar memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih. "Iya, sedikit." celetuk Mawar sembari tersenyum.
Santi dan Tia saling pandang. "Sama. Kita juga."
"Memang, mbak Amel nggak punya foto kekasihnya di dalam ponsel?" tanya Mawar.
Bukannya Mawar ingin tahu atau terlalu kepo. Hanya saja, Mawar merasa familiar dengan sepeda motor yang mereka kendarai.
Mawar merasa pernah melihat sepeda motor tersebut. Tapi entah dimana. Dan saat ini, Mawar sedang mengingatnya.
Tia mengangkat kedua bahunya. "Lagian masa iya, kita tanya langsung pada Amel. Dikira kita naksir lagi, sama kekasihnya."
"Iya juga ya." ujar Mawar dibarengi kekehan kecil. Benar kata Tia. Lagi pula mereka tidak punya hak untuk melakukan hal tersebut.
Terserah Amel, mau mengenalkan pacarnya pada mereka atau tidak. Tapi Amel pernah meminta maaf terkait hal tersebut.
Amel mengatakan jika sang kekasih tidak ingin berkenalan dengan teman-teman Amel. Entah teman kerja, atau teman hang-out.
Beberapa saat kemudian, Mawar berpisah dengan kedua rekan kerjanya, karena memang mereka berbeda arah jalan pulang.
Mawar masih mencoba mengingat kekasih dari Amel. "Apa dia salah satu dari mereka." tebak Mawar. Teringat jika Tia mengatakan tentang geng motor.
Mawar menggelengkan kepalanya. "Aisshh,,,, sudahlah. Kenapa gue malah memikirkan dia." ucap Mawar menepis apa yang sedang ada di dalam benaknya.
Mawar memang selalu teringat akan hal tersebut. Kejadian yang ingin Mawar hindari kedepannya. Terlibat dengan geng motor atau sejenisnya.
Titt... sebuah mobil membunyikan klakson dan berhenti di dekat Mawar. Sontak membuat Mawar menengok ke samping.
Tanpa keluar dari mobil, si pengemudi membuka jendela kaca mobil. Sehingga Mawar bisa melihat siapa yang berada di dalam mobil tersebut.
"Kak Jerome." gumam Mawar.
Jerome membuka pintu mobil dari dalam. "Masuk biar aku antar. Ayo." ajak Jerome.
Namun Mawar masih diam membatu. "Ayo, masuk." seru Jerome lagi.
Mawar tersenyum dan segera masuk ke dalam mobil. Duduk di depan, dekat dengan kursi pengemudi. "Kak Jerome dari mana?" tanya Mawar sambil memakai sabuk pengaman.
"Habis jalan-jalan." ucap Jerome berbohong. Jerome sengaja berada di sekitar butik Nyonya Utami. Tentu saja dia ingin menjemput Mawar.
Tak mungkin jika Jerome mengatakan yang sejujurnya. Bisa-bisa Mawar malah menjauh darinya. "Bagaimana di butik?" tanya Jerome basa-basi.
"Seperti biasa." sahut Mawar. Menceritakan apa yang tadi terjadi di butik. Tidak akan. Mawar merasa akan menjadi manusia bodoh jika menceritakannya pada Jerome.
"Aku dengar Dona sudah tahu."
"Iya."
Jerome melirik ke samping kirinya. Dimana Mawar sedang duduk manis di kursi tersebut. "Lalu?"
Jerome menduga jika Dona membuat masalah dengan Mawar. "Lalu, semua tetap seperti semula. Kak Dona juga fine-fine saja."
Jerome menatap lurus ke depan. Fokus pada jalan yang mereka lalui. "Kamu harus tetap berhati-hati dengan Dona. Dia, tidak mudah ditebak."
Jerome merasa tidak mungkin seorang Dona bisa berubah dengan cepat. Dia cukup kenal bagaimana peringai dan watak dari Dona.
"Bukan tidak mudah. Tapi sangat mudah ditebak. Sekali menjadi serigala, tidak akan pernah menjadi domba." batin Mawar, menggambarkan siapa Dona.
"Iya kak." jawab Mawar.
"Emm,, Mawar. Apa kamu keberatan, jika menemani aku sebentar saja." pinta Jerome.
"Kemana?"
"Makan. Aku lapar." cicit Jerome tidak berbohong. Sebab Jerome memang belum makan malam. Dia terlalu antusias untuk menunggu Mawar. Sehingga lupa mengisi perutnya.
"Kita ke rumah Mawar saja kak. Ibu Mawar sudah pulang." tolak Mawar dengan halus, sekaligus mengajak Jerome untuk makan malam di rumahnya.
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Maksud Mawar, kak Jerome makan malam di rumah Mawar saja. Itupun jika kak Jerome mau. Soalnya, masakan ibu aku hanya masakan orang kampung." jelas Mawar.
"Oke." sahut Jerome dengan semangat. Melajukan mobilnya ke rumah Mawar.
Jerome menghentikan mobilnya di depan rumah Mawar. "Bu,,,," panggil Mawar begitu masuk ke dalam rumah.
"Masuk kak." ajak Mawar pada Jerome, sebab pintu rumah memang tidak terkunci.
"Ibu kamu di mana?" tanya Jerome duduk di kursi yang berada di ruang tamu.
"Mungkin di belakang." Baru saja Mawar menebak keberadaan sang ibu, Bu Lina muncul dari luar.
"Loh,,, ibu dari mana?" tanya Mawar, sebab Mawar mengira jika dirinya berada di belakang.
"Habis beli ini." Bu Lina mengangkat kantong plastik belanjaan berwarna hitam. Sehingga baik Jerome maupun Mawar tidak ada yang mengetahui isi di dalamnya.
"Ehh,, ada tamu." Jerome segera berdiri dan bersalaman dengan Bu Lina.
"Nak Jerome kan." Bu Lina mencoba mengingat namanya. Beliau masih ingat, jika Jerome lah yang membawanya ke rumah sakit saat itu. Tentunya berdasarkan cerita Mawar.
"Ya bu, tadi ketemu di jalan. Saat kak Jerome mau makan sendirian di luar. Mawar ajak saja ke sini. Biar ada temannya." papar Mawar.
"Ya sudah, kamu mandi dulu sana. Lalu segera ke ruang makan." perintah Bu Lina.
Dengan segera Mawar masuk ke dalam kamarnya. Membersihkan badan. "Beruntung besok nggak ada tugas yang harus dikumpulkan."
Mengingat biasanya Mawar akan mandi dulu, lalu belajar. Baru makan malam. Tapi malam ini Mawar akan melakukan makan terlebih dahulu. Sebab ada Jerome di rumahnya.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Mawar untuk membersihkan badannya. Mawar juga peka. Dirinya tidak mungkin berleha-leha di dalam kamar. Sementara kedatangannya ditunggu Jerome dan sang ibu.
"Maaf lama." tukas Mawar, duduk di dekat sang ibu.
"Tidak kok." sahut Jerome.
Jerome mencuri pandang ke arah Mawar. Apalagi wangi dari tubuh Mawar yang baru saja terkena sabun. Membuat indera penciuman Jerome begitu menikmatinya.
"Oh iya Mawar. Nak Deren kok lama nggak ke sini ya." cicit bu Lina sembari mengambil nasi, ditaruhnya di atas piring miliknya.
Jerome memandang ke arah bu Lina sebentar dan segera mengalihkan pandangannya. "Apa Deren duku sering ke sini." batin Jerome.
"Mana Mawar tahu, ibu pikir Mawar pengasuh kak Deren." celetuk Mawar.
"Huussstt,,, kamu itu." tegur bu Lina, merasa tidak enak dengan Jerome. "Maaf ya nak Jerome. Mawar orangnya memang suka asal nyeplos." tutur Bu Lina.
"Iya bu, tidak apa-apa." Jerome tersenyum.
Jerome baru tahu, ternyata Mawar juga mempunyai sisi lucu dan ceplas ceplos saat berbicara.
Selesai makan malam, Mawar mengajak Jerome untuk duduk santai di teras depan. Menikmati angin malam dengan tenang. Hal yang sudah lama tidak dia lakukan.
"Memang Deren sering ke sini?" Jerome membuka suara, memecah keheningan.
"Nggak. Hanya beberapa kali." jelas Mawar.
"Aku perhatikan, sekarang kamu dan Deren berbeda." cicit Jerome, membuat Mawar menoleh ke arahnya.
"Dulu, kalian terlihat akrab. Tapi sekarang, aku perhatikan kalian malah seperti orang asing." lanjut Jerome.
Mawar terkekeh pelan. "Ternyata kak Jerome orangnya sangat pemerhati sekali ya."
"Kenapa kak Jerome nggak tanya langsung ke kak Deren. Bukankah kalian adalah sahabat." imbuh Mawar.
Jerome merasa kikuk, entah apa makna dari perkataan Mawar. Menyindir, atau malah mengejeknya. Jerome tak bisa menebaknya.
"Mawar sendiri juga kurang tahu. Tapi Mawar juga merasa, jika kak Deren seperti menghindar, bahkan menjauh dari Mawar." papar Mawar.
Bohong jika Mawar tidak tahu alasan Deren menjauhi dirinya. Mawar tahu betul akan hal itu. Pertama, pasti karena penolakan Mawar akan cinta Deren pada dirinya.
Dan kedua, Mawar menyimpulkan, jika orang tuanya Deren melarangnya untuk dekat dengan Mawar.
Jerome merasa jika malam semakin larut, dan dirinya berpamitan kepada Mawar dan jiga bu Lina.
"Mawar, besok pagi aku jemput kamu ya." tanya Jerome sebelum pulang.
Mawar terdiam. "Emm,,,..."
__ADS_1
"Ya sudah kalau nggak mau, aku juga tidak mau memaksa." ucap Jerome memotong ucapan Mawar.
Mawar tersenyum sungkan. "Santai saja. Nggak perlu merasa bersalah." tutur Jerome pada Mawar.
Setelah Jerome benar-benar meninggalkan rumahnya, Mawar duduk di tepi ranjang. "Berangkat sekolah bareng kak Jerome." lirih Mawar.
Mawar menyeringai. "Maaf kak Dona. Kakak yang mulai. Jadi, Mawar hanya sedikit membalasnya." tutur Mawar.
Mawar sadar, jika dirinya memutuskan untuk berangkat ke sekolah bersama Jerome. Naik mobil Jerome, hanya berdua. Hal itu pasti akan membuat gempar seisi sekolahan.
"Masa bodo. Mereka mengira aku dan kak Jerome punya hubungan atau apapun itu. Aku hanya ingin melihat bagaimana ekspresi wajah Dona." sinis Mawar.
"Jangan salahkan aku. Kesabaran seseorang ada batasnya. Kamu yang selalu mengusik ketenangan diriku. Jadi, aku hanya sedikit membalas. Impas." ucap Mawar tersenyum penuh makna.
Mawar mengambil ponsel. Mengirimkan pesan tertulis pada Jerome. Mengatakan jika besok, Jerome bisa menjemputnya di rumah. Jika benar-benar ingin berangkat bersama Mawar.
Di kamarnya, Jerome hanya terdiam syok membaca tulisan di layar ponselnya. Jerome seakan tidak percaya dengan apa yang dia baca.
Hingga pesan kedua dari Mawar kembali masuk ke dalam ponselnya. Mengatakan jika Mawar akan menunggu dirinya.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, segera Jerome membalas pesan dari Mawar. Mengatakan jika dirinya akan ke sana, besok pagi. Menjemputnya untuk berangkat ke sekolah bersama.
Jerome berjingkrak-jingjrak dengan penuh semangat. Rasa senang yang dia rasakan saat ini melebih rasa senangnya pada saat memenangkan tender proyek.
Jerome kembali membuka ponselnya. Membaca kembali pesan tertulis dari Mawar. "Aku harus bangun pagi-pagi sekali." gumam Jerome.
Mawar tak ingin rencananya gagal. Dia meminta bantuan pada Mira dan Selly. Mengatakan pada keduanya tentang rencana yang akan Mawar lakukan besok.
Mawar harus memastikan, Dona mengetahui jika dirinya dan Jerome berangkat bersama. Hanya itu.
"Semoga rencana berjalan mulus." seringai Mawar.
Di kediaman Tuan Sapto, Caty dan Wiryo duduk bersama. Tentu saja bersama kedua orang tua Caty.
"Bagaimana persiapan pernikahan kalian. Semua sudah beres bukan?" tanya Tuan Sapto, pada Wiryo dan Caty.
Caty merasa jika dirinya harus mengalah untuk kali ini. Tak lain tujuannya adalah untuk mendapatkan kepercayaan Wiryo kembali.
Beberapa hari yang lalu, setelah kakinya terasa lebih baik. Caty segera mendatangi tempat di mana Wiryo tinggal.
Tentu saja, Caty dengan mudah menemukannya. The power of money. Dengan menggunakan uang, Caty menyuruh seseorang untuk mencari tahu dimana Wiryo tinggal.
Dan tentunya Caty mendapatkan uang tersebut dari jatah bulanan, yang diberikan sang papa padanya.
Caty mendatangi tempat tinggal Wiryo, mengeluarkan air mata buayanya. Membuat Wiryo kembali memperlakukannya seperti seorang tuan putri.
Bahkan, Caty juga minta maaf. Mengakui semua kesalahannya saat dia dan Mawar berada di cafe. Menceritakan semua kejadian di cafe, dengan benar tanpa terlewatkan sedikitpun, tanpa berbohong.
Sengaja. Ya, benar. Caty sengaja melakukannya. Membuka dan menceritakan kesalahannya sendiri. Caty menebak, jika Wiryo pasti sudah mencari tahu semuanya.
Oleh karena itu, Caty mengambil keputusan yang beresiko besar. Tapi nyatanya Wiryo malah dengan mudah memaafkannya. Dan Caty sudah memprediksi akan hal tersebut.
Semakin hari, Caty semakin paham bagaimana sifat dari Wiryo. Dan semua itu Caty manfaatkan untuk keuntungan dirinya.
Wiryo berpikir jika Caty sudah mau mengakui kesalahannya, hal tersebut cukup membuktikan jika Caty menyesal. Itulah yang ada dalam benak Wiryo.
Padahal, Caty hanya berpura-pura. Mana mungkin Caty akan berubah. Menerima Mawar sebagai putrinya. Mustahil.
"Sudah pa. Caty juga sudah menyebar undangan." papar Caty. Namun Wiryo hanya diam. Ekspresinya juga terlihat datar. Tak bisa ditebak.
"Bagaimana dengan kamu?" tanya Tuan Sapto, memandang ke arah Wiryo.
"Saya sudah siap Tuan." sahut Wiryo.
"Jangan panggil Tuan. Kamu harus terbiasa memanggil kami seperti Caty memanggil kami. Papa dan mama." tukas Nyonya Gendis.
Caty tersenyum senang mendengarnya."Baik Nyo,,,, ehh,,, mama." ujar Wiryo.
"Apa kamu sudah mengundang atau memberitahu putri kamu?" tanya Nyonya Gendis.
Baik Wiryo maupun Caty masih terdiam. Membuat kedua orang tua Caty busa menebak, apa yang terjadi. "Ingat, jika istri atau suami, bisa menjadi mantan. Tapi tidak dengan anak. Selamanya dia akan tetap menjadi anak." tutur Nyonya Gendis.
"Iya ma, mama dan papa tenang saja. Caty dan mas Wiryo berencana akan mengunjungi rumah Mawar nanti malam." papar Caty.
Caty tidak ingin dirinya akan terpojok karena membicarakan Mawar. Dan lagi, Mawar juga tidak ingin kedua orang tuanya tahu, jika Mawar bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Caty menebak, jika Caty menceritakan pada kedua orang tuanya. Dirinya malah akan dipersalahkan. Caty cukup hapal dengan pemikiran kedua orang tuanya yang menurutnya masih sangat ketinggalan zaman.
__ADS_1
Wiryo tidak segera menjawab, karena memang dirinya belum membicarakan hal tersebut dengan Mawar. Terlebih, sekarang mereka sedang terlibat dalam masalah.