
Bugh.... Satu pukulan mendarat tepat di wajah seorang lelaki dengan kedua tangan dan kakinya terikat. Darah mengucur dari kedua lubang hidungnya tanpa busa dicegah.
"Gue nggak bersalah...!! Brengsek...!!" teriaknya. Tidak terima dengan apa yang dilakukan Luck pada dirinya.
"Tidak bersalah. Bajingan,,, dengan elo membayangkan tubuh Mawar saja itu adalah sebuah kesalahan." ucap Luck.
Luck terlebih dulu meninggalkan hotel. Membawa lelaki yang dibayar Jihan ke tempat yang akan menjadi tempat penyiksaan bagi lelaki tersebut. Meninggalkan Jerome di sana.
Sebab, Jerome masih ada hal yang harus dia lakukan. "Lepaskan ikatan gue...!!" teriaknya.
Beberapa bawahan Luck memandang tajam ke arahnya. "Jika saja Jerome menyuruh gue menghabisi elo, pasti dengan senang hati gue akan melepaskan ikatan elo." seringai Luck.
"Jihan yang menyuruh gue. Jadi,,,, salahkan saja perempuan iblis itu. Bukan gue...!!" serunya, tetap tidak terima dengan apa yang terjadi pada dirinya.
Luck menengadahkan kepalanya. "Astaga,,,, kenapa tangan gue terasa sangat gatal sekali." ujar Luck dengan nada kesal.
"Boss ada telepon dari Tuan Jerome." ujar bawahannya. Segera Luck mengambil ponsel milik bawahannya tersebut.
"Eeemmm,,,, ya, tenang saja. Gue nggak akan menyentuhnya." tukas Luck pada Jerome di seberang ponselnya.
"Sial, hampir saja gue kehilangan kendali." cicit Luck, setelah panggilan teleponnya dengan Jerome selesai.
"Panggil gue di ruangan, jika Jerome sudah datang." pinta Luck, memilih meninggalkan lelaki bajingan tersebut. Dari pada dirinya kehilangan kendali dan malah memukulinya.
"Baik Boss." sahutnya.
Lelaki tersebut berbaring dengan tangan dan kaki terikat. Kedua matanya melihat tempat yang menjadi tempat penyekapannya.
"Gue harus bisa keluar dari sini. Gue nggak mau mati percuma." batinnya, seraya memikirkan cara untuk bisa kabur.
Bukannya menikmati uang pemberian Jihan, dirinya malah menikmati pukulan dari Luck. Dan pastinya sebentar lagi Jerome.
Ditambah lagi, uang pemberian Jihan entah di mana. Dirinya sama sekali tidak tahu keberadaannya. "Brengsek. Nggak dapat uang. Gagal menikmati tubuh Mawar." batinnya merasa kesal.
"Kalian, lepaskan ikatan gue. Hooeeyyy.... budek... !! Gue mau kencing..!!" serunya.
Dan berkali-kali dia berteriak dengan berbagai alasan, supaya talinya mereka lepaskan. Tetap saja hasilnya nihil. Tak ada yang mengindahkan apa yang dimintanya.
Hanya membuang-buang tenaga untuk berteriak. "Hooeeyyy,,, sialan. gue haus....!!" teriaknya, merasakan tenggorokannya kering karena terus berteriak.
"Bukannya elo tadi bilang mau kencing. Kencing saja, lalu minum air kencing elo. Hilang sudah haus elo." sindir bawahan Luck.
Seketika para rekannya tertawa lepas mendengar ucapannya tersebut. "Sialan. Gue manusia, bukan hewan."
"Siapa yang bilang elo hewan. Elo memang manusia, tapi kelakuan elo seperti hewan."
"Brengsek kalian. Kalau berani, lepaskan tali gue..! Kita berkelahi satu lawan satu." tantangnya.
Namun lagi-lagi tak ada yang mengindahkan perkataannya. Bawahan Luck tetap bersantai bermain catur. Seakan tak terganggu dengan suara teriakannya.
Dia terus meronta. Berusaha melepaskan tali yang mengikatnya. Meski dirinya tahu, semuanya akan percuma.
Tak berselang lama, Jerome datang bersama dengan Tian. Segera salah satu bawahan Luck memanggil Luck, seperti yang Luck inginkan tadi.
"Lepaskan ikatannya." ujar Jerome, dengan melepaskan dasi serta jas yang membungkus tubuh berototnya.
Tian bersedekap dada. Sembari duduk di kursi. Menatap lelaki tersebut dengan sinis. "Berani sekali elo mau menyentuh Mawar." geram Tian.
Jerome melepas kancing kemeja di bagian lengannya, lalu melipatnya ke atas. "Jerome, ternyata kedua teman elo begitu memuja kekasih elo." cicitnya ingin mengadu domba Jerome dengan Tian dan Luck.
"Apa elo nggak curiga. Jangan-jangan mereka berdua pernah menikmati tubuh seksi kekasih elo." cicitnya.
Jerome diam, membuka beberapa kancing kemeja bagian atas sambil berjalan mendekat ke arah lelaki tersebut.
Luck mengambil kursi, bergabung dengan Tian. Duduk sembari menonton pertandingan seru di depannya. "Lidahnya memang perlu dipotong." geram Luck.
Bugh.... Jerome langsung menghadiahi bogem mentah tepat di wajahnya. Belum sempat dia mempersiapkan diri, lagi-lagi Jerome memukulnya bertubi-tubi.
"Berhenti....!" serunya, dengan kedua tangan melindungi kepalanya. Saat dia tersungkur di bawah. Dengan kaki Jerome menendang tubuhnya dengan kencang secara brutal.
Jerome menghentikan gerakannya. "Gue nggak bersalah. Adik elo yang membayar mahal gue...!!" teriaknya.
Jerome kembali menghajarnya dengan membabi-buta. Hingga lelaki tersebut terlihat tak berdaya. Tian segera berdiri. "Sudah, dia bisa mati." ucap Tian mengingatkan.
"Gue nggak peduli." sarkas Jerome.
"Tapi otak utamanya bukan dia. Tapi adik elo. Elo harus ingat itu." ujar Tian.
Jerome menendang angin di depannya. Menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar. "Elo harus bicara dengan Mawar." saran Tian.
Luck mengajak Jerome serta Tian ke ruangan pribadinya untuk beristirahat di sana. Beberapa kali Jerome bertukar pesan dengan Selly, menanyakan keadaan Mawar.
"Tenang saja. Jangan khawatir, Mawar pasti baik-baik saja. Sudah ada Mira dan Selly yang menjaganya." tukas Luck.
__ADS_1
Memang benar apa yang dikatakan Luck. Jika ada Mira dan Selly yang menemani Mawar di dalam ruangan. Tapi di luar, beberapa bawahan Tuan Dewano juga menjaga ketat kamar yang Mawar dan kedua sahabatnya tempati.
Di kamar hotel, Mawar merasa jika dirinya terlalu lama tidur. "Eeeuuhhhhhgggg...." Mawar melenguh. Badannya serta kakinya terasa berat. Seperti ada beban berat di atasnya, sehingga dia sulit bergerak.
Karena tak bisa bergerak, Mawar mencoba membuka kedua matanya. Kedua mata Mawar mengerjap lucu. "Apa gue mimpi." cicit Mawar.
Mawar menoleh ke kanan serta ke ke kiri. Nampak Mira dan Selly memejamkan kedua mata mereka, berada di samping dirinya.
Mawar masih belum mengerti apa yang terjadi. Mawar mengedarkan pandangannya ke ruangan. "Gue dimana?" tanyanya pada diri sendiri.
Lagi, Mawar menatap Mira dan Selly bergantian. Memastikan pakaian yang mereka serta dia gunakan. "Gaun." lirihnya.
Mawar memijat dahinya. Mencoba mengingat apa yang terjadi. Kenapa dirinya bisa ada di dalam kamar, tertidur satu ranjang dengan kedua sahabatnya. Dengan pakaian yang sama seperti di pesta ulang tahun Nyonya Meysa.
Mawar mengingat, jika dirinya berada di pesta ulang tahun Nyonya Meysa. "Lalu gue merasa mengantuk." gumam Mawar mengingat kembali apa yang terjadi.
"Gue ke toilet. Dan bertemu dengan Jihan." Mawar mengingat, dirinya terakhir kali bertemu dengan Jihan.
Tahu-tahu ketika membuka kedua matanya, Mawar malah melihat kedua sahabatnya. Mawar mencoba mengingatnya, tapi dirinya tetap tidak mengingat apapun.
"Bagaimana aku bisa ada di sini?" gumam Mawar merasa heran.
Merasa sesak, Mawar menyingkirkan lengan Selly yang berada di perutnya. Membuat Selly terusik, lalu membuka kedua matanya. "Mawar, elo sudah sadar?"
"Hati-hati." Selly membantu Mawar yang hendak duduk. Mira yang juga merasa terganggu, membuka kedua matanya.
"Mawar." cicit Mira dengan suara seraknya sembari mengucek kedua matanya.
"Aki bisa sendiri." tolak Mawar, saat Selly membantunya duduk. "Astaga Selly, aku ini sehat." lanjut Mawar.
"Kalian berdua kenapa sih?" Mawar merasa kedua sahabatnya bertingkah aneh.
"Mawar." Mira dan Selly memeluk tubuh Mawar bersamaan.
"Kalian...!! Aku sesak." cicit Mawar.
"Maaf." keduanya mengurai pelukannya.
"Kenapa minta maaf. Lalu, kenapa aku bisa ada di sini? Lalu kalian?" tanya Mawar masih kebingungan.
"Elo nggak mengingat apapun?" tanya Selly.
Mawar menggeleng. "Hanya, saat aku ke toilet, aku bertemu dengan Jihan. Lalu,,,,," Mawar menjeda kalimatnya, seraya mengingat sesuatu. "Entahlah,,,, aku tidak ingat apapun." lanjut Mawar.
Mira dan Selly saling pandang. "Mawar, sebenarnya...." Mira menceritakan apa yang mereka ketahui.
Mawar terdiam. Mendengar dengan sungguh apa yang dikatakan Mira. "Lalu, bagaimana kalian bisa tahu?"
"Jerome yang menelpon kita." sahut Selly.
"Jerome, jadi Jerome yang menolong aku? Menggagalkan rencana Jihan?"
"Entahlah. Kita berdua hanya sebatas tahu jika Jihan ingin menjebak kamu. Dan Jerome yang menyuruh kita untuk datang ke sini." jelas Mira.
"Yang lainnya?"
"Kita tidak tahu." ungkap Selly.
"Jihan." geram Mawar.
"Kita harus membalas Jihan, Mawar. Gue nggak terima dengan apa yang dia lakukan sama elo." tukas Selly merasa geram dengan kelakuan adik Jerome tersebut.
Mawar tersenyum penuh makna. "Tenang saja. Jihan sudah keterlaluan. Lihat saja. Gue akan balas perbuatannya. Kita tinggal tunggu waktu yang tepat." seringai Mawar.
Mawar merasa dirinya sama sekali tidak mempunyai salah atau menyalahi Jihan. "Pasti semua ini karena kak Deren." tebak Mawar dalam hati.
"Apa yang akan elo lakukan pada Jihan? Katakan saja. Kita akan membantu elo." pinta Selly.
"Santai saja. Kita bersikap biasa. Seolah aku menerima dan memaafkan apa yang dilakukan Jihan." tutur Mawar tersenyum penuh makna.
"Bagaimana dengan kak Jerome? Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Mawar penasaran. Biar bagaimanapun, Jihan adalah adik dari Jerome.
"Kak Jerome hanya diam." sahut Selly.
"Elo tahu, elo kayak sedang melakukan perbuatan tak senonoh. Semua orang masuk paksa ke kamar ini. Astaga." cicit Mira, masih mengingat berapa banyak pasang mata yang melihat ke arah ranjang.
"Pastinya, kan yang mereka tahu Mawar tidur dengan lelaki. Bukan dengan kita. Makanya mereka membuka paksa pintu kamar." tukas Selly.
"Berarti ada banyak orang yang terlibat. Tidak mungkin, Jihan bekerja seorang diri." tebak Mira.
"Ada banyak karyawan hotel yang mata duitan dan bodoh. Kenapa repot-repot mencari partner." timpal Selly.
Mawar terdiam. "Ibu sama yang lain?"
__ADS_1
"Mereka semua tidur di hotel ini juga."
"Benar, kitakan pura-pura tidur. Jadi tahu semua yang mereka bicarakan. Sayang sekali, gue nggak melihat wajah Jihan."
"Benar. Pasti dia syok, karena kita berdua yang seranjang sama elo. Bukan lelaki bayarannya." ucap Mira.
"Gue heran, kenapa Jihan sampai kepikiran hal sepicik itu." geram Selly.
"Kak Deren. Jihan ditolak kak Deren." ungkap Mawar.
Mira dan Selly saling pandang sesaat. Sepertinya keduanya mempunyai pikiran yang sama. "Apa kita beritahu Mawar, jika kak Deren tadi datang ke acara ulang tahun tante Meysa." batin Selly.
"Apa hubungannya dengan elo?" tanya Mira.
"Ya adalah. Kak Deren menyukai Mawar. Makanya kak Deren menolak Jihan. Pastinya Jihan sakit hatilah." jelas Selly.
"Ckk,, dangkal sekali pikiran Jihan. Memang salah Mawar, jika kak Deren menolak dia. Aneh sekali." ketus Mira.
"Namanya juga sakit hati." sahut Mawar.
"Tapi gila juga sih calon adik ipar elo. Mengerikan. Elo harus berhati-hati." ujar Selly mengingatkan Mawar.
Mawar mengangguk. Dan setelah ini, Mawar akan lebih mawas diri lagi. "Elo mau ke mana?" tanya Mira, saat Mawar turun dari ranjang.
"Ganti baju. Rasanya sungguh tidak nyaman. Sekalian membersihkan riasan di wajah." jelas Mawar. Karena memang dirinya sama sekali belum membersihkan badan.
"Milik siapa?!" teriak Selly bertanya. Pasalnya mereka tidak ada yang membawa baju ganti.
"Handuk mandi."
Mira dan Selly saling pandang, keduanya berlari menyusul Mawar ke dalam kamar mandi. Ketiganya membersihkan badan bersama.
Selesai membersihkan badan serta riasan di wajahnya, mereka kembali lagi berbaring dan tidur dengan berbagi ranjang.
"Jadi, hotel ini milik om Adipavi?" tanya Mawar berbaring di bagian tengah, memegang selimut di dadanya.
"Iya." sahut Selly yang berada di sebelah kanan Mawar.
Dengan berbalutkan bathroob. Mereka kembali memejamkan kedua matanya. Sebab waktu masih hampir menjelang subuh.
Mawar yang tidur di tengah, hanya bisa pasrah. Saat kedua sahabatnya memeluknya seperti mereka memeluk guling.
Sebenarnya di hotel hanya tersedia dua bathroob di setiap kamarnya. Tapi, mereka meminta kepada pelayan hotel. Sehingga masing-masing menggunakan satu.
Mawar dan kedua sahabatnya tidur dengan nyenyak. Berbeda dengan Jihan yang hingga kini masih terjaga. Antara takut bercampur penasaran. Itulah yang Jihan rasakan saat ini.
Takut, pastinya ada seseorang yang mengetahui rencananya. Sehingga Mawar bisa tidur bersama dengan Mira dan Selly. Bukan pada lelaki yang telah dia bayar mahal.
Penasaran pada seseorang yang telah membuat semua rencananya berantakan. "Lalu di mana dia." cicit Jihan, memikirkan keberadaan lelaki bayarannya.
"Jangan sampai dia tertangkap. Lalu menyebut nama gue. Astaga.,,,," Jihan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Jihan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Jika keluarganya tahu perbuatannya. "Pasti gue akan dihukum."
Jihan menggigit kuku di jemarinya. "Semoga, dia tidak tertangkap." cicit Jihan.
Jihan berdiri. Berjalan mondar mandir seperti setrika yang sedang bekerja. "Apa gue pergi saja. Kembali ke negara gue."
Rasa cemas membuat Jihan berpikiran plin plan. "Jangan,,, tidak. Semua orang akan curiga." ujarnya kebingungan.
Pintu kamar Jihan diketuk dari luar dengan cukup keras. Jihan melihat ke arah dinding. Dimana waktu masih menunjukkan pukul setengah empat pagi. "Siapa di luar."
Jihan merasa takut. Membiarkan pintu tetap tertutup tanpa berniat membukanya. "Jangan-jangan lelaki bodoh itu." tebak Jihan. Mengira jika lelaki bayarannya yang mengetuk pintu.
Di saat semua tertidur dengan lelap. Jihan tetap tak bisa memejamkan kedua matanya. "Aaa...." seru Jihan dengan suara tertahan.
"Jangan sampai papa atau mama tahu semua ini. Astaga, apalagi kak Jerome." cicit Jihan berbaring di atas kasur.
"Dona. Ckk,,,, jika saja dia ada di sini. Pasti gue akan meminta bantuannya." ucap Jihan.
Suara ketukan kembali terdengar kembali di pintunya. Jihan menyingkap selimut di tubuhnya. "Siapa jam segini mengganggu saja." geramnya.
Jihan melihat ada sebuah kertas yang terselip di bawah pintu. Nampak separuh masih berada di luar. Jihan berjongkok, mengambil kertas tersebut. Lalu membukanya dengan tergesa-gesa.
"Aaa...!!" teriak Jihan terjengkang ke belakang dengan membuang kertas di tangannya.
Di kertas tersebut, terdapat gambar manusia dengan banyak bercak darah. "Siapa yang menaruhnya di sini."
Jihan mengambilnya, meremasnya, lalu membuang ke tempat sampah. "Apa Mawar." tebak Jihan, menatap tempat sampah.
Pandangan Jihan beralih ke pintu. Dadanya berdebar. "Apa dia masih berada di balik pintu." gumam Jihan ketakutan.
Jihan berlari ke kamar. Memakai selimut hingga menutup seluruh anggota tubuhnya. Lalu menyingkapnya, memperlihatkan kepalanya saja. "Kenapa gue mesti ketakutan. Seharusnya gue mencari tahu pelakunya." gumam Jihan.
__ADS_1
"Pasti Mawar. Jika tidak, kedua sahabatnya yang gila itu." tebak Jihan.