
Mawar menghentikan mobilnya di area parkir yang ada di kampus Jerome. "Gue bisa." cicitnya merasa senang. Meski pelan, dirinya sudah bisa dan berani mengendarai mobil tanpa ada pendamping di sampingnya.
"Nanti, aku akan bercerita pada ibu " tukas Mawar girang. Seakan apa yang dia lakukan adalah hal yang sangat wah.
Mawar tak lantas segera turun dari mobil. Dia tetap menunggu Jerome di dalam, sembari memainkan ponselnya. "Ehh,, kak Jerome masih di sinikan?" tanyanya pada diri sendiri.
Sebab Mawar datang tanpa memberitahu Jerome. "Mawar, bodoh sekali kamu." ejek Mawar pada dirinya sendiri, sembari memukul pelan keningnya yang tidak bersalah.
"Kak Jerome itu sudah kuliah. Bukan lagi murid SMA. Pasti jadwal kepulangannya juga tidak sama. Astaga Mawar. Kemana kamu mengajak otak kamu untuk berpikir...." geram Mawar pada dirinya sendiri.
Mawar tidak menghubungi Jerome. Mawar takut jika Jerome masih berada di kelas. Dan malah akan mengganggu semua mahasiswa serta dosen yang ada di ruangan. Saat ponsel Jerome berbunyi, karena dia menghubunginya.
Sehingga Mawar memutuskan untuk mengirim pesan tertulis pada Jerome. Belum sempat pesan tersebut Mawar kirimkan, Mawar melihat Jerome berjalan seraya menggendong tas di pundak sebelah kanan.
Tak ada Luck ataupun Tian di sekitar Jerome. Yang ada hanya seorang perempuan cantik, dengan pakaian yang Mawar nilai sedikit seksi. Sebab dia memakai kaos dengan lengan pendek melekat sempurna di badan. Sehingga terlihat jelas lekuk tubuhnya.
Dengan belahan dadanya yang pendek. Membuat kedua dadanya keluar dari sarang, meski hanya sedikit. "Memang boleh memakai pakaian seperti itu di kampus." gumam Mawar.
Dengan bawahan sebuah rok dengan panjang di atas lutut. Yang memperlihatkan betisnya yang putih, serta kedua pupunya yang mulus. "Dia." lirih Mawar, merasa pernah melihat wajah dari perempuan tersebut.
Mawar masih dengan santai duduk di dalam mobil. Dan Mawar yakin, jika Jerome melihat mobilnya yang terparkir. Yang menandakan dirinya ada di dalamnya.
Mawar tetap memandang ke arah mereka. Sambil mengingat siapa perempuan yang terlihat mendekati Jerome. Hingga terkesan memaksa Jerome untuk menghentikan langkahnya.
"Astaga,,, siapa sih perempuan itu." gumam Mawar merasa risih bercampur kesal melihatnya.
Bahkan Jerome juga sudah menepis tangannya. Bukan hanya sekali. Tapi berulang kali. "Apa dia tipe yang sama seperti Dona. Muka badak. Apa dia tidak malu, dilihat banyak orang." tukas Mawar.
Sebab memang banyak mahasiswa yang berada di sekitar mereka, dan memandang ke arahnya dan Jerome. "Sebenarnya apa sih maunya." Mawar merasa jengkel sendiri.
Mawar melihat, perempuan tersebut memaksa Jerome untuk berhenti. Kemungkinan dia ingin berbicara dengan Jerome, tapi Jerome acuh. Dan malah meninggalkannya.
"Nona, anda belum tahu siapa kekasih saya. Kamu pikir, dengan berpenampilan seperti itu, Jerome akan langsung tunduk. Tidak akan." ucap Mawar tersenyum kesal.
"Astaga kak Jerome,,,, jahat banget sih. Tapi aku suka." ujar Mawar, saat sang perempuan terjatuh karena Jerome menepis tangannya dengan kasar dan kuat.
"Salah sendiri maksa." lanjut Mawar, dengan pandangan fokus ke mereka.
Beberapa mahasiswa segera menghampiri mereka. Dan ada yang menolong sang perempuan yang terjatuh tersebut. Tapi Jerome, dia nampak tenang dan acuh. Seakan tidak terjadi apa-apa.
"Dasar beruang kutub." ujar Mawar tersenyum manis, mengejek sang kekasih yang bersikap dingin pada orang lain.
"Mereka." gumam Mawar, mulai mengingat dimana dia pernah melihat perempuan tersebut. "Iya, mereka yang aku lihat di rumah Nyonya Utami." tutur Mawar mengingatnya. "Teman kak Dami."
Mawar segera keluar dari mobil, menghampiri mereka. Sebab Mawar melihat mereka sedang memojokkan Jerome. Sementara perempuan yang terus mencari perhatian Jerome tadi memperlihatkan wajah sedihnya.
Seolah dia adalah korban dari Jerome. Padahal dia sendiri yang memulai hingga memaksa Jerome bertindak kasar. Alhasil beginilah jadinya.
"Sayang...." panggil Mawar, dengan sengaja meningikan nada suaranya. Memanggil Jerome dengan panggilan sayang, yang terdengar mesra.
Mawar tidak peduli, dimana dirinya saat ini berada. Meski Mawar tahu, ini adalah tempat yang seharusnya Mawar tidak boleh bertindak sesuai keinginannya.
Tapi Mawar sudah terlalu jengah dengan sandiwara perempuan yang dengan tidak tahu malunya mendekati Jerome. Padahal dia tahu jika Jerome mempunyai kekasih. Yakni dirinya.
Semuanya menoleh ke arah Mawar datang. Begitu juga dengan Jerome yang langsung memasang senyum manisnya. Menyambut kedatangan sang kekasih.
Berbeda dengan perempuan yang mengejar Jerome tadi. Tampak dia sangat kesal dan sama sekali tidak menyukai kehadiran Mawar.
Mawar langsung melingkarkan tangannya di lengan Jerome. "Aku menunggu kamu di dalam mobil. Lama sekali." cicit Mawar.
"Maaf." sahut Jerome dengan nada lembut. Semua mahasiswa menatap heran ke arah Jerome.
Meski Jerome termasuk mahasiswa baru, namun dia lebih terkenal dari pada seniornya. Apalagi jika bukan karena tampangnya yang membuat kaum hawa menggilainya. Dan membuat kaum adam iri padanya. Serta pengaruh keluarganya di kota ini.
Mereka selama ini melihat sosok Jerome yang angkuh dan cuek. Serta dingin dan galak terhadap perempuan. Tapi nyatanya, Jerome bisa begitu lembut berbicara dengan perempuan. Tidak seperti Jerome yang sebelumnya.
Mawar menatap perempuan yang mencari masalah dengan Jerome tadi. "Mbak, sebaiknya mbak jangan mengejar kekasih saya seperti tadi. Lihat, karena ulah mbak sendiri, mbak jadi jatuhkan, pasti sangat malu. Ehh,,, maksud Mawar, pasti sangat sakit."
Perempuan tadi hendak menyahuti ucapan Mawar, tapi Mawar segera kembali mengeluarkan suaranya terlebih dahulu. "Saya melihat semuanya lo mbak, dari dalam mobil." tukas Mawar, sambil menatap dimana mobil yang dia maksud.
"Jaga mulut kamu." bentaknya, tak terima dengan ucapan yang keluar dari mulut Mawar.
"Sebaiknya kamu ajak pacar kamu ini pergi." timpal salah satu mahasiswa. Sepertinya dia tahu, jika Mawar tetap berada di sini, akan terjadi adu debat yang tidak berguna antara dua perempuan berbeda umur ini.
"Saya permisi." ucap Mawar tersenyum tulus. "Ayo sayang." ajak Mawar.
__ADS_1
"Jangan sok merasa jika Jerome mencintai elo!!!" teriak sang perempuan, yang masih tidak terima dengan apa yang Mawar katakan tadi, serta apa yang Jerome lakukan padanya.
"Asal elo tahu, Jerome mau dengan elo, karena elo cucu dari Tuan Tomi. Yang otomatis, elo akan menjadi pewaris utama dari semua harta kekayaan Tuan Tomi." lanjutnya, mencoba membuat Mawar marah pada Jerome.
Perempuan tadi mencoba memprovokasi Mawar. Supaya hubungan Mawar dan Jerome renggang. Bahkan, jika bisa hancur dan selesai. Sehingga dia bisa mendapatkan kesempatan mendapatkan Jerome.
Sedangkan Jerome hanya tersenyum miring. "Jika elo belum tahu perjalanan cinta kita, elo nggak usah banyak bicara. Jaga lidah dan mulut elo." celetuk Jerome.
"Wah.... ternyata mbak tahu, jika saya cucu tunggal dari Tomi Prakuso. Dan akan menjadi pewaris utama dari semua hartanya. Hebat. Jadi mbak tahu dong, berapa harta kekayaan yang akan menjadi milik saya." tanya Mawar, seolah menegaskan. Betapa kayanya dirinya di masa depan.
Jerome tersenyum geli mendengar ucapan kesombongan Mawar untuk pertama kalinya selama ini. "Jika mbak tahu, apa mbak yang cantik ini masih ingin bersaing dengan saya, untuk mendapatkan kak Jerome. Mbak yakin, mampu mengalahkan kekayaan saya."
"Dasar bodoh. Itu tandanya, Jerome mau sama elo karena elo pewaris tunggal dari Tuan Tomi. Coba kalau elo hanya gadis biasa. Jerome pasti akan meninggalkan elo." serunya.
"Sungguh. Benarkah sayang?" tanya Mawar tersenyum menatap Jerome.
"Jadi kita sama dong. Kak Jerome mau sama aku, karena aku cucu tunggal dari Tomi Prakuso. Dan aku, Mawar.... Mau menerima kak Jerome, karena kak Jerome adalah pewaris semua harta Tuan Dewanto Sekhar." tandas Mawar, tersenyum simpul memandang perempuan tersebut.
"Mbak, di dunia ini, nggak ada yang tulus. Semua butuh fulus. Paham." tekan Mawar menyeringai penuh makna.
"Perempuan murahan." ejeknya.
Mawar memegang lengan Jerome yang hendak melangkahkan kaki mendekati perempuan tersebut. Mawar menggeleng, saat Jerome menatapnya dengan tajam. Tentu saja Jerome tidak terima ada yang merendahkan Mawar di hadapannya.
"Maaf, saya itu perempuan mahal. Dan hanya mau dengan lelaki yang mahal. Seperti kak Jerome. Karena memang uang kita banyak. Bukan perempuan yang perlu mengemis belas kasihan, dan menggunakan air mata untuk mendapatkan simpati." tukas Mawar.
"Ayo sayang." Mawar menggandeng tangan Jerome untuk pergi meninggalkan mereka yang masih menatapnya dan Jerome dengan tatapan berbeda.
Ada yang kagum dengan pembawaan Mawar melawan teman mereka. Tapi ada yang memandang Mawar sebagai sosok yang sombong serta arogan karena memamerkan harta yang bukan milik dia.
"Gue peringatkan sama elo. Jangan usik Mawar, ataupun Jerome. Paham...!!" tekan Dami, yang ternyata melihat dan mendengar perdebatan mereka.
Sang perempuan tersenyum sinis. "Oooww.... Ternyata elo juga suka sama orang kayak Mawar." ucapnya menertawakan Dami.
"Karena Mawar memang pantas disayang. Bukan kayak elo. Murahan." seringai Dami.
"Dami,,, elo itu sahabat gue. Kenapa elo malah membela perempuan murahan itu...!!" bentaknya.
Dami tersenyum remeh. "Murahan. Elo nggak punya kaca di rumah. Dari pakaian saja, semua bisa menilai. Bagaimana mahalnya elo." ejek Dami pergi begitu saja sambil tertawa lepas dan puas.
Sejak dulu, Dami memang menyukai Mawar. Tapi bukan dalam arti suka sebagai seorang lelaki dewasa pada wanita. Perasaan Dami pada Mawar, lebih kepada rasa sayang terhadap seorang adik.
Mawar dan Jerome berada di dalam mobil. Beberapa kali, Jerome menoleh ke arah Mawar yang hanya diam dengan ekspresi datarnya. Fokus menatap ke depan.
"Pasti Mawar sedang marah." tebak Jerome, melihat bagaimana Mawar seakan mengacuhkan dirinya. "Sayang, kita makan dulu ya. Aku lapar." ajak Jerome. Padahal Jerome tidak lapar. Hanya saja, Jerome ingin lebih lama bersama dengan Mawar.
"Hemm..." sahut Mawar dengan malas, tanpa menoleh ke arah Jerome.
Tak ada percakapan selama di dalam mobil. "Apa yang harus gue lakukan. Tuhan, kenapa menghadapi wanita yang merajuk itu sangat sulit." batin Jerome, sambil memikirkan cara membuat Mawar tak lagi mengacuhkannya.
"Padahal tadi semangat melawan titisan medusa. Sekarang gue malah terkena imbasnya." Jerome menghela nafas pelan.
"Sulit sekali memahami perasaan wanita. Gue nggak bersalah. Gue yang kena marah." batin Jerome.
Jerome menghentikan mobilnya di sebuah restoran yang bisa memilih ruangan sendiri. Tapi ruangan hanya tertutup setengah badan. Jadi akan terlihat jelas, saat ada orang yang lewat di sampingnya.
Segera Jerome memesan ruangan hang menurutnya nyaman untuk berbicara dengan Mawar. Tentu saja bukan sembarang bicara, tapi meluluhkan hati Mawar yang sedang membeku.
"Masuk." Jerome membuka pintu ruangan. Mempersilahkan Mawar untuk masuk terlebih dahulu sebelum dirinya.
Mawar masuk dan langsung duduk dengan ekspresi yang masih terlihat malas. "Kamu pesan apa?" tanya Jerome dengan lembut.
"Samakan saja dengan kak Jerome." pinta Mawar, yang memang tidak pernah ribet perkara makanan.
Jerome memesan makanan lewat telepon gang tergantung di sebelahnya. "Minumannya?" tanya Jerome disela-sela dia memesan makanan.
"Jus jeruk saja." sahut Mawar.
Jerome mengangguk. Dan mengembalikan telepon tersebut ke tempatnya setelah selesai memesan. "Sayang, kamu marah ya?" tanya Jerome perlahan.
Mawar menggeleng. Tapi dengan ekspresi yang masih sama seperti sebelumnya. Jerome memberanikan diri meraih tangan Mawar, dan memegang telapak tangannya.
"Jangan marah. Sumpah, aku sama sekali tidak mengenal dia." ujar Jerome.
Mawar hanya memainkan bibirnya. "Sungguh, aku tidak berbohong." tukas Jerome.
__ADS_1
Mawar mengangguk pelan. "Tidak kenal. Satu kampus." lirih Mawar tapi tetap saja telinga Jerome mendengarnya.
"Sumpah. Kamu bisa bertanya sama Luck dan Tian. Aku tidak berbohong." jelas Jerome.
"Sama saja bohong." gumam Mawar. Sebab Luck dan Tian adalah sahabat Jerome.
"Tapi dia seksi. Cantik lagi." sindir Mawar. Entah kenapa, Mawar tahu jika Jerome tidak bersalah. Tapi tetap saja, ada rasa kesal menyeruak di hatinya. Melihat perempuan tadi dengan gigih mengejar Jerome. Yang berstatus kekasihnya.
"Masih cantik kamu. Masih seksi kamu." tukas Jerome.
Makanan yang Jerome pesan datang. Membuat keduanya menghentikan perbincangan dingin mereka. "Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya pegawai restoran, memarkan senyum indahnya.
Jerome menggerakkan tangannya, menyuruhnya pergi. "Baik. Jika memerlukan sesuatu, anda bisa kembali menghubungi saya." cicitnya, tak segera pergi.
Jerome menatap pegawai perempuan dengan tajam. "Maaf. Saya permisi dulu." pamitnya.
Dan sempat-sempatnya dia memandang ke arah Jerome. Mencuri pandang kepada Jerome. Sambil tersenyum. "Cccckkkkk,,,,, ternyata butuh mental kuat, jika punya kekasih tampan." celetuk Mawar, menyindir Jerome.
"Sayang, masa kamu cemburu sama perempuan yang tidak selevel sama kamu." rayu Jerome, dengan tangan sibuk menata makanan di atas meja.
Padahal, pegawai tadi sudah menata sedemikian rupa. Dan Jerome serta Mawar tinggal menyantapnya. "Selevel. Terus menurut kamu, yang selevel sama aku siapa?" tanya Mawar ketus.
"Gila. Mawar ternyata bisa cemburu." batin Jerome. Ada rasa senang, akhirnya Mawar cemburu padanya. Yang menandakan jika Mawar memang mempunyai perasaan yang sama terhadap dirinya.
Tapi, Jerome juga takut. Takut jika rasa cemburu di hati Mawar akan sulit dia luluhkan kembali. "Tidak ada yang selevel sama kamu. Makanya, kamu tidak perlu khawatir." gombal Jerome.
Jerome menyuapkan sesendok makanan ke mulut Mawar. "Aaaa... buka mulut kamu. Ayo." pinta Jerome setengah memaksa.
"Biar Mawar sendiri saja kak." tolak Mawar.
"Nggak. Biar aku suapi. Buka mulut kamu." kekeh Jerome.
"Astaga kak, kita pesan dua piring dengan menu yang sama." tolak Mawar.
"Sayang, tangan aku pegal. Ayo buka mulut kamu." pinta Jerome dengan raut wajah mengharap.
Akhirnya Mawar mengalah. Dia membuka mulutnya. Mawar terus disuapi oleh Jerome dengan bergantian. "Kak nanti makanan yang satu piring itu nggak enak low." tutur Mawar, sebab mereka masih makan di piring yang sama.
"Enak. Sudah, kamu buka mulut kamu. Aa..." pinta Jerome.
Mawar mengalah. Dan menerima suap demi suapan yang diberikan oleh Jerome. Setalah Jerome sendiri memasukkan makanan ke dalam mulutnya. "Enak?" tanya Jerome, yang diangguki oleh Mawar, karena mulut Mawar penuh dengan makanan.
Jerome lagi-lagi menyuapi Mawar untuk piring yang satunya lagi. Hingga dua piring, tak menyisakan makanan sedikitpun. Mereka makan dua piring bersama. "Pasti kak Jerome capek."
"Nggak akan." Jerome tertawa, menyeruput minuman milik Mawar. "Iihh... kak Jerome,,, itu milik Mawar."
"Sama saja." ucap Jerome dengan santai meminum minuman Mawar, lalu minum miliknya sendiri.
Jerome menggeser minumannya ke depan Mawar. "Ini, kamu boleh mencoba milik aku." tawar Jerome.
Mawar menyeruput sedikit. Lalu mengeluarkan lidahnya. "Nggak enak. Enakan milik aku." segera Mawar mengambil air minum miliknya.
Jerome tersenyum. "Akhirnya, nggak ngambek lagi." batinnya dalam hati merasa lega.
"Setelah ini kamu mau ke mana lagi? Biar aku antar." tanya Jerome.
"Ke rumah kak Jerome saja bagaimana?" tanya Mawar meminta pendapat.
Jerome terkejut serta merasa senang. "Hah... Kamu yakin? Mama aku ada di rumah low." ujar Jerome memberitahu.
Sebah Jerome tahu, jika Mawar belum bisa memaafkan sang mama sepenuhnya. "Iya. Tapi kita mampir dulu. Beli sesuatu untuk tante." pinta Mawar.
Jerome segera mengangguk, tersenyum senang. Tanpa membuang waktu, Jerome dan Mawar meninggalkan restoran dan menuju ke toko guna membeli oleh-oleh untuk Nyonya Mesya.
"Kak, mama kak Jerome sukanya apa?" tanya Mawar.
"Berlian." sahut Jerome singkat.
Mawar memutar kedua matanya dengan malas. "Bukan itu maksud Mawar, makanan yang disukai oleh mama kak Jerome apa?"
Jerome mengangkat kedua pundaknya. "Kak Jerome benar-benar tidak tahu?" tanya Mawar.
Jerome menggeleng. "Mana aku tahu." sahut Jerome.
Mawar hanya bisa menghela nafas. Memikirkan apa kiranya yang disukai oleh calon mertuanya tersebut. Mawar tersenyum melihat sebuah toko. "Kak,,, Kita berhenti di toko itu."
__ADS_1
Mawar menunjuk ke sebuah toko yang ada di tepi jalan. "Kamu yakin?" tanya Jerome ragu. Mawar mengangguk dengan yakin.
"Baik. Aku sih, nurut saja." ujar Jerome. Mengurangi laju mobilnya, sebab akan menyeberang jalan.