MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 173


__ADS_3

Jihan berdiam diri di dalam kamar. Selama ini, yang dia tahu semua kebutuhannya dicukupi oleh paman serta bibinya.


Sebab, keduanya memang memperlakukan Jihan dengan baik. Semua apa yang diinginkan Jihan kesampaian. Apapun itu. Bahkan barang yang sangat mahal sekalipun.


Ternyata, uang yang selama ini dia gunakan adalah uang Tuan Adipavi. "Astaga, jadi selama ini, mereka yang numpang hidup. Bukan gue." cicit Jihan memegang keningnya, tak percaya.


Jihan selalu menghormati keduanya. Apapun yang dikatakan mereka berdua, selalu Jihan lakukan. "Pantas, mereka selalu menuruti apapun yang gue mau." tukas Jihan tersenyum getir.


"Tapi kenapa? Kenapa mereka menitipkan gue ke paman dan bibi. Kenapa?"


Jihan kembali berpikir. Jika keadaannya seperti ini, dilihat dari segi apapun keluarga Sekhar mampu merawat Jihan sendiri. Bahkan, mereka mampu menyewa jasa perawat lebih dari satu, untuk merawat dirinya sewaktu kecil.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Ponsel Jihan kembali berdering untuk yang kesekian kalinya. Dilihatnya, sang paman menghubungi dirinya kembali. "Ckk,,, untuk apa lagi dia menghubungi aku." decak Jihan sebal.


Beberapa menit yang lalu, telinga Jihan sudah penuh dengan segala ocehan yang dikeluarkan dari mulut sang bibi. Tentu saja mereka meminta Jihan untuk membujuk sang papa, mengembalikan semua yang terlah dicabut oleh Jerome dengan mudahnya. Layaknya membalikkan telapak tangan.


Jihan menutup ponselnya dengan bantal. Sungguh, perasaannya terasa kesal mendengar bunyi ponsel miliknya yang terus berdering.


Rasa sesal menyeruak di relung hatinya. Bukan menyesal karena sadar jika perkataan yang keluar dari mulutnya tak pantas dia katakan pada kedua orang tuanya.


Melainkan menyesal kenapa dia mengatakan hal tersebut. Yang pastinya dirinya sendiri yang akan kesusahan. Yang Jihan pikirkan tak jauh dari uang dan uang, serta kehidupan mewahnya.


Jihan meraup wajahnya dengan kasar. "Apa yang harus gue lakukan?!" geramnya.


"Mawar." lagi-lagi, nama itu yang ada di dalam benaknya.


Rasa tak suka pada Mawar sudah mendarah daging pada tubuh serta jiwa Jihan. Sehingga dirinya lagi-lagi hanya bisa menyalahkan Mawar atas apa yang terjadi pada dirinya.


Jihan menyambar kunci mobilnya. Dengan ekspresi kesal, dia meninggalkan rumah Tuan Adipavi. Tentu saja bukan untuk kembali ke keluarga sang bibi. Melainkan pergi ke rumah Mawar.


Entah apa yang ingin dilakukan Jihan terhadap Mawar. Tak ada yang bisa menebak akal pikirannya. Tapi yang pasti, niat Jihan mendatangi Mawar bukanlah suatu niat yang baik.


Sedangkan di rumah Mawar, semua sedang berkumpul. Berada di dapur yang baru jadi, membuat kue bersama.


Bukan hanya Mawar berserta Lina dan juga Nyonya Tanti. Tapi, ketiga karyawan baru Lina juga sudah akan mulai tinggal bersama mereka. Santi, Tia, dan Amel.


Tak hanya mereka. Bahkan Caty dan Nyonya Gendis pun juga berada di sana. Juga kedua sahabat Mawar. Mira dan Selly. Semua tampak tersenyum gembira.


Tak ada lagi Caty yang angkuh dan sombong. Dan saat ini, Caty merasa bahagia. Tak ada uang yang dia hamburkan seperti biasa. Tapi Caty malah merasa hidupnya menyenangkan.


"Tante, apa tidak sebaiknya tante duduk saja." tawar Mawar, memasang ekspresi ngilu.


Bukan karena apa, Mawar pantas merasa khawatir. Apalagi perut Caty yang sudah semakin membesar, dengan bertambahnya usia kandungannya.


Caty tersenyum, lalu mencubit dagu Mawar dengan gemas. "Tante itu mau belajar membuat kue. Masa kamu suruh duduk." tukas Caty.


"Tante nggak capek?" tanya Mawar menatap perut Caty.


Semua tertawa mendengar pertanyaan Mawar. Sebab semua tahu kenapa Mawar bertanya seperti itu. "Iya benar. Pasti berat." celetuk Mira.


"Ternyata hamil itu tidak enak ya." timpal Selly.


"Kalian. Siapa bilang hamil itu tidak enak. Asal ngomong saja." ujar Caty.


Caty mengelus perutnya yang buncit. "Ini sama sekali tidak berat. Dan juga sangat mengasyikkan. Coba deh, kalian nanti hamil. Pasti akan merasa senang. Iyakan kak."


Caty memegang lengan Lina. Sejak hubungan mereka membaik, Caty meminta untuk memanggil Lina dengan sebutan kakak. Dan Lina menyetujuinya.


"Benar kata tante Caty. Buktinya lihat, kalian semua ada di sini." ujar Lina.


Nyonya Tanti mengelus kepala Mawar dengan lembut. "Kalian ini."


"Bu, ini diapakan lagi?" tanya Amel, sebab mereka memang sedang belajar membuat kue.


Beberapa hari lagi, toko kue milik Lina akan dibuka. Itulah kenapa Santi, Tia, dan Amel belajar membuat kue. Meskipun masih belajar membuat kue yang mudah.


Bukan hanya mereka bertiga yang antusias belajar membuat kue. Ada Caty juga. Serta para pembantu Nyonya Tanti, yang sekarang sudah mulai tinggal dan bekerja di rumah Lina.


Lina segera menghampiri Amel. Dan kembali menuntunnya untuk belajar membuat kue bersama Tia dan Santi.

__ADS_1


"Pantas Mawar pekerja kerasa dan baik. Ibunya saja seperti ini." batin Santi dalam hati.


"Apa kabar Gaby ya?" tiba-tiba, Nyonya Gendis teringat akan cucunya yang jauh di negeri orang.


Mira dan Selly, serta Mawar saling pandang. "Pasti Gaby baik-baik saja oma. Bukankah dia tinggal bersama mama kandungnya. Seperti Mawar dan ibu." ucap Mawar, menenangkan perasaan Nyonya Gendis.


Nyonya Gendis menghela nafas sembari tersenyum manis. "Jika kamu, Oma percaya baik-baik saja. Dan tidak akan menyusahkan orang lain. Tapi Gaby, kamu tahu sendirikan, bagaimana kelakuan dia."


Nyonya Gendis bisa berkata seperti itu, lantaran beliau sudah mengetahui bagaimana kehidupan mantan menantunya di sana.


Awalnya, dia juga sama seperti yang lain. Menyalahkan mantan menantunya yang tidak pernah mengunjungi Gaby. Tapi sekarang, beliau paham kenapa mama dari Gaby hanya beberapa kali datang.


"Oma tenang saja. Jika kita dengar cerita om Djorgi, mama Gaby perempuan hebat. Pasti dia bisa membuat Gaby berubah." tukas Mawar.


"Semoga. Oma hanya takut, dia membawa pengaruh buruk untuk kedua adiknya yang ada di sana."


Tampak raut khawatir di wajah Nyonya Gendis. Tentu saja karena dia hapal betul bagaimana liciknya sang cucu.


Mawar menggenggam kedua telapak tangan Nyonya Gendis. "Oma, percaya dengan mereka. Bukankah mereka yang menyarankan untuk Gaby tinggal di sana. Itu artinya, mereka juga sudah siap untuk konsekuensi apapun yang akan mereka terima."


Nyonya Gendis membelai lembut pipi Mawar. "Pantas Jerome tergila-gila sama kamu." goda Nyonya Gendis.


"Oma...." rajuk Mawar cemberut, menyimpan senyum di hatinya.


"Bukan hanya Jerome oma, ada banyak lelaki lain yang menggilai cucu oma ini." celetuk Selly.


Mawar melotot ke arah Selly yang berkata seenak udelnya. "Benarkan? Oma percaya, lelaki mana yang tidak menyukai cucu dari Nyonya Tanti ini."


Nyonya Tanti yang disebut namanyapun tertawa lepas. "Oma..." rajuk Mawar.


"Memang kamu tahu, siapa saja lelaki itu?" tanya Nyonya Tanti semakin menggoda Mawar.


Mawar melotot ke arah Mira dan Selly. "Aduh,,, maaf oma, saya tidak berani. Lihat, mata Mawar bahkan seperti ingin lompat dari tempatnya." ledek Selly, membuat gelak tawa semuanya.


Kebersamaan mereka terhenti saat terdengar suara ketukan pintu disertai bel rumah. "Mungkin kak Jerome." tebak Mira.


"Nggak. Kak Jerome ada kelas sore." tukas Mawar berdiri dari duduknya.


"Mawar saja bik. Bibik lanjutkan membantu ibu bersama yang lain." tolak Mawar dengan ramah.


"Baik."


"Mawar ke depan dulu." pamit Mawar.


"Perlu gue temani?" seru Selly.


Mawar mengangkat tangannya sembari menggerakkan telapak tangannya ke kanan dan ke kiri, tanpa membalikkan badan.


Ketukan pintu serta bel rumah terus terdengar tanpa henti. "Siapa sih, nggak sabaran banget." geram Mawar.


Ceklek.


Mawar membuka pintu dengan perasaan dongkol. Mawar mengerutkan keningnya, melihat tamu yang tidak sopan, yang terus mengetuk pintu dengan bar-bar.


"Ada perlu apa?" tanya Mawar langsung, tanpa mempersilahkan sang tamu masuk ke dalam. Bahkan Mawar tetap berdiri di ambang pintu.


Jihan tersenyum sinis memandang ke arah Mawar. "Ternyata seperti ini wajah sebenarnya seorang gadis yang selalu di sanjung. Cihh... menggelikan. Berapa topeng yang elo pakai?"


"Pastinya tidak sebanyak topeng milik elo." bukan Mawar yang menjawab ejekan dari Jihan, melainkan Selly.


Selly penasaran dengan tamu yang datang. Pasalnya, sang tamu terlihat tidak mempunyai etika dan sopan santun dengan terus mengetuk pintu dan membunyikan bel rumah tanpa jeda.


Alhasil, Selly mengikuti Mawar yang membukakan pintu untuk sang tamu yang belum dia ketahui siapa orangnya. Ternyata si biang onar.


Mawar minggir dari ambang pintu. Membuka kedua pintu dengan lebar. Tanpa dipersilahkan, Jihan masuk nyelonong dengan pandangan meneliti setiap sudut rumah Mawar yang dapat dia jangkau dengan kedua matanya.


"Astaga, tak punya malu sekali ini anak." gumam Selly.


Mawar menyenderkan badannya ke tembok dengan bersedekap dada. Sedangkan Selly, berkacak pinggang menatap Jihan dengan tatapan tak sukanya.


Jihan duduk di kursi dengan angkuh. Mengangkat sebelah kakinya untuk ditaruh di kaki yang satunya lagi. "Hebat juga elo. Tak menyia-nyiakan kesempatan." sindir Jihan.

__ADS_1


Mawar mencekal lengan Selly yang hendak melangkahkan kaki mendekati Jihan. Selly menatap Mawar dengan kesal, saat Mawar menggelengkan kepalanya pelan.


"Mau minum apa?" tanya Mawar. Selly kembali menatap sahabatnya dengan kesal, mendengar Mawar bertanya pada Jihan.


"Emmm... jus buah dingin. Kelihatannya enak." tukas Jihan.


Mawar hendak melangkahkan kaki, tapi seorang pembantu datang. "Biar bibik saja Non." tukasnya.


Jihan tersenyum remeh saat seorang pembantu datang. "Pasti sekarang kepalanya semakin besar." batin Jihan.


Mawar tersenyum sembari mengangguk. "Non Mawar sama Non Selly dibuatkan apa?" tanyanya.


"Tidak usah bik." sahut Mawar.


"Bik, jangan lupa kasih sianida di minumannya. Tahu letaknyakan?" timpal Selly dengan ketus.


Sang pembantu memandang Mawar dengan bingung. "Jangan di dengar, Selly hanya bercanda." tukas Mawar.


"Baik Non." ucap sang pembantu segera pergi ke belakang.


"Siapa juga yang bercanda." dengus Selly.


"Sialan." umpat Jihan dalam hati.


"Mau apa elo kesini?" tanya Selly dengan ketus.


"Hehh... gue tamu. Seharusnya elo sopan." bentak Jihan.


"Dan hehh,,, gue juga tamu. Jadi nggak usah sok kepengen di hargai." sahut Selly muak dengan tingkah adik dari Jerome tersebut.


Jihan mengalihkan pandangannya ke arah Mawar. "Gue minta elo katakan sama kak Jerome untuk mengembalikan apa yang sudah dia ambil." perintah Jihan seperti boss besar.


Selly memandang Jihan dengan mencebikkan mulutnya. "Dan maaf, aku sama sekali tidak tahu apa yang di ambil kak Jerome dari kamu." tukas Mawar dengan jujur.


"Alah... perempuan munafik. Elo pikir gue percaya..!! Elo pasti yang sudah meracuni pikiran kak Jerome. Elo mengadu sama dia tentang apa yang gue lakukan ke elokan. Dan elo meminta kak Jerome untuk membekukan semua aset kekayaan paman serta bibi gue." cecar Jihan seperti laju kereta api.


Selly dan Mawar saling pandang sesaat. Keduanya tersenyum samar. Keduanya kini tahu, kenapa Jihan mendatangi Mawar.


"Lalu, apa hubungannya Mawar sama aset kekayaan mereka. Mawar saja tidak kenal dengan mereka. Kurang kerjaan sekali Mawar mengurusi urusan orang lain. Elo pikir Mawar sama kayak elo." tukas Selly dengan kesal.


"Gue nggak mau tahu. Elo katakan pada kak Jerome untuk mengembalikan semuanya. Sekarang." bentak Jihan.


"Siapa elo, nyuruh-nyuruh Mawar."


Jihan merasa kesal terhadap Selly yang sedari tadi menyahuti setiap perkataannya. "Elo diam. Ini bukan urusan elo..!!"


Selly menampilkan ekspresi anehnya sembari menggelengkan kepala dengan lucu. "Maaf, aku tidak ada urusan dengan semua itu. Jadi, kamu katakan saja pada kak Jerome sendiri." tolak Mawar dengan santai.


Jihan merasa dipermainkan oleh Mawar. Dia memandang Mawar dengan sengit. "Elo memang nggak bisa diajak bekerja sama."


"Iihh,,, bekerja sama kok sama kuyang. Dosalah." ketus Selly. Mawar menahan tawanya melihat ekspresi Jihan saat Selly menyebut kata kuyang pada dirinya.


Sang pembantu datang dengan nampan di tangan. Jihan langsung berdiri, mengambil segelas jus dan hendak menyiramkan pada Mawar.


Tapi sang pembantu dengan sigap menampik gelas tersebut, sehingga air jus yang berada di dalam gelas kembali mengenai badan Jihan sendiri.


Segera Mawar dan Selly berdiri dari duduk mereka. "Aaaa... elo...!! Kurang ajar...!" seru Jihan memandang sang pembantu dengan tajam.


Sang pembantu menampilkan ekspresi ketakutan. Jihan mengangkat tangannya hendak menamparnya, tapi Mawar mencekal lengan Jihan.


"Berani kamu nyentuh orang di rumah saya, saya bersumpah, tangan kamu akan patah." geram Mawar berdiri di depan sang pembantu.


Plakk.... bukan Mawar yang menampar Jihan. Melainkan Selly. Cukup keras tamparan yang diterima Jihan, hingga tangan Mawar terlepas dari lengan Jihan, dan tubuh Jihan tersungkur di atas kursi.


"Kalian...!!" geram Jihan.


Segera sang pembantu berlari ke belakang. Tentu saja dia memanggil Nyonya mereka. Mengatakan jika ada perusuh yang datang ke rumah.


Jihan memegang pipinya yang berwarna merah karena tamparan dari Selly. "Berani sekali elo menampar gue...!!" seru Jihan, menatap nyalang ke arah Selly.


Selly tersenyum remeh sembari bersedekap dada. "So what." ujar Selly dengan santai.

__ADS_1


"Jihan...." seru seorang perempuan yang tiba-tiba datang.


__ADS_2