
"Maaf, Mawar harus memberitahu semua ini pada kak Dami." cicit Mawar merasa bersalah.
Tapi Mawar tak punya pilihan lain. Dirinya merasa kasihan pada Nyonya Utami, jika menanggung beban berat seorang diri. Menghubungi Dona, tak mungkin Mawar lakukan.
Dami masih terdiam. Seolah bingung untuk mengatakan apa, setelah mendengar cerita dari Mawar, jika sang papa berselingkuh dengan perempuan lain.
Antara percaya atau tidak. Tapi Dami tahu seperti apa Mawar. Tak mungkin dia berbohong. Namun, selama ini sang papa memang mempunyai sikap sedikit cuek. Dan Dami tahu itu sejak dulu.
"Mawar nggak bohong." ujar Jerome. "Gue sudah mengirimkan sebuah video ke ponsel elo." lanjut Jerome.
Dami membuka ponselnya. Melihat video yang baru saja dikirimkan oleh Jerome pada ponsel miliknya. Rahang Dami mengeras. Kedua matanya memerah menahan amarah.
"Kak Dami." panggil Mawar dengan nada lembut, yang mampu membuat emosi Dami sedikit teredam.
Mawar tersenyum sembari memegang pundak Dami. "Jangan menggunakan emosi."
Dami masih terdiam dan memandang ke arah Mawar. "Mawar tahu, dan Mawar pernah berada di posisi itu."
"Saat ini, yang paling terluka adalah bu Utami. Tetaplah berada di samping beliau. Pulanglah, temui bu Utami. Beliau butuh kakak. Jangan biarkan beliau merasa sendiri." Mawar mengedipkan mata berulang kali. Menghalau air mata yang ingin jatuh di pipi.
"Selama ini, mama sudah menjadi istri yang baik dan penurut." cicit Dami, merasa semua ini tak adil untuk sang mama.
"Dan itu sama sekali tidak akan berguna. Penurut, baik, selalu mengutamakan suami. Semua akan kalah, jika seorang lelaki bertemu dengan sesuatu yang dipandangnya lebih dari apa yang dia punya." ucap Mawar getir.
Sebab, sang ibu juga sangat penurut terhadap sang ayah. Dan itu sama sekali tidak menjamin sang ayah setia.
Dami tahu, kenapa Mawar berkata seperti itu. Sebab, Dami juga sudah tahu, bagaimana kisah Mawar bersama ibunya. Yang saat ini, dia dan sang mama juga mengalaminya. "Kamu tahu, siapa perempuan ini?" tanya Dami.
Kemungkinan besar Jerome tahu, tapi tidak dengan Mawar. "Dia adalah perempuan yang kami tolong. Papa meminta izin pada mama, untuk menolong dirinya. Sebab, perusahaan peninggalan suaminya dalam ambang kebangkrutan. Dan mama mengizinkannya."
Mawar tercengang. Pagar makan tanaman. "Astaga. Begitu teganya." gumam Mawar.
Dami menggenggam erat telapak tangannya. "Pasti mama sekarang merasa menyesal dan merasa dibodohi. Kebaikannya, ketulusannya, dibalas dengan pengkhianatan."
Jerome hanya bisa diam. Dia sama sekali tidak nisa memberi masukan apapun. Apalagi permasalahan yang seperti ini. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang harus dia ucapkan pada Dami.
"Kamu tahu, dia siapa? Dia mama dari teman Dona. Weni." geram Dami.
Mawar melebarkan kedua matanya, seraya menggeleng. "Tuhan, apa Weni tahu tentang ini?" Mawar menghadap ke arah Jerome.
"Entahlah. Weni, Dona, Gaby. Mereka satu aliran. Wajah dan hati mereka sama sekali tidak sama. Wajah bolehlah, tapi hati iblis." seringai Jerome.
"Kak Dami pulang saja. Nanti, tasnya akan Mawar antar ke rumah."
Dami tersenyum. "Terimakasih. Katakan terimakasih juga pada ibu kamu."
Mawar mengangguk. "Mawar yakin, kak Dami mampu berpikir jernih dan bersikap tenang. Mawar saja bisa menghadapi, saat Mawar berada dalam keadaan seperti itu. Mawar yakin, kak Dami pasti juga bisa."
Dami tersenyum. "Jaga mama elo brow." Jerome menepuk pundak Dami.
"Terimakasih."
Mawar dan Jerome menatap punggung Dami yang semakin menjauh. "Kak Jerome..." geram Mawar, bisa-bisanya Jerome memeluk Mawar dari belakang.
"Lepas kak.. malu dilihat orang." pinta Mawar.
"Biarin." cuek Jerome.
"Urusan kak Jerome di sini sudah selesai?"
__ADS_1
Jerome mengangguk. "Ya udah, kita pulang saja." ajak Mawar.
Jerome merangkul pundak Mawar, keduanya berjalan beriringan. "Mampir ke rumah aku ya." ajak Jerome.
"Nggak ah, mau ngapain?" tolak Mawar. Sebenarnya, Mawar bukannya tidak mau datang ke rumah Jerome.
Hanya saja, Mawar masih merasa takut bertemu dengan Nyonya Mesya. Apalagi jika nanti Nyonya Mesya marah atau berkata kasar pada Mawar.
Pasti mulut gatal Mawar juga akan membalas ucapan kasar tersebut. Sehingga Mawar memilih untuk menghindar bertemu dengan Nyonya Mesya.
"Sudahlah. Kamu mau ya." rengek Jerome.
"Tapi kak...."
"Pokoknya mau. Lagian mama sudah berubah. Pasti dia akan menyambut kamu dengan baik." tukas Jerome.
"Benar juga sih. Apalagi ternyata gue cucu orang kaya raya. Dasar calon mertua matre." batin Mawar.
"Dosa low,,, mengumpat calon mertua di dalam hati." ucap Jerome.
Mawar melirik ke arah Jerome. "Kok kak Jerome tahu." batin Mawar.
"Iiihhh,,,, calon mertua. Nggak ya." Mawar menggelembungkan kedua pipinya. Menahan bibir yang hendak tersenyum.
Dari restoran, Lina mengantar pulang terlebih dahulu sang mama untuk pulang ke rumah. Sebelum dirinya pulang. "Nggak pulang nanti saja."
Lina menggeleng. "Nggak ma. Kapan-kapan Lina ke sini."
"Ajak Mawar."
"Iya."
"Iya, nanti Lina pinjam satu mobil."
"Nggak usah pinjam. Itu juga mobil kamu."
Lina mencium kedua pipi sang mama, dan segera pulang ke rumahnya yang sederhana. "Nyonya, kenapa Non Lina tidak tinggal di sini lagi?" tanya sang pembantu yang sudah lama bekerja di rumah ini.
"Putrinya belum mau."
"Pasti cucu Nyonya cantik dan baik." tebaknya seraya tersenyum.
Nyonya Tanti tersenyum. "Benar. Dia sangat cantik. Dan baik."
Sedangkan Lina, dirinya sempat merasa terkejut, melihat dua orang yang sedang duduk di teras rumah. Tapi segera dia bersikap biasa.
Lina turun dari mobil, berjalan ke arah mereka sambil tersenyum. "Tante." Gaby langsung memeluk Lina dengan erat.
"Jika saya tidak mendengar rekaman dari mama. Mungkin saya sudah tertipu dengan wajah palsu kamu. Dana akan menyakiti putri saya sendiri." batin Lina, terap menampilkan senyum di bibir, membalas pelukan Gaby.
Lina dan Gaby mengurai pelukan mereka. "Dari mana?" tanya Djorgi.
"Bertemu mama." sahut Lina, seraya membuka kunci pintu rumah.
"Kenapa nggak ajak Gaby. Gaby juga kangen sama nenek." ucap Gaby dengan nada manja. Seolah dirinya sudah bisa diterima di dalam keluarga Lina.
"Nenek minta ketemuannya mendadak."
"Mawar nggak ada di rumah tante?" tanya Gaby.
__ADS_1
"Tidak, dia pergi dengan Jerome." jelas Lina.
Gaby tetap tersenyum. Padahal, telinganya sedang merasakan panas, mendengar perkataan Lina. "Semakin hari mereka semakin dekat. Teruskan saja Mawar, dekati kak Jerome. Dan gue akan terus mendekati ibu elo. Hingga mereka lebih menyayangi gue, dari pada elo. Dan jika sudah tiba waktunya, gue akan merebut kak Jerome juga."
Tanpa Gaby tahu, jika akal bulusnya sudah tercium dan sudah diketahui oleh Lina dan Nyonya Tanti. "Ayo masuk." ajak Lina.
"Kalian duduk dulu. Aku buatkan minum." pinta Lina dengan ramah.
Lina hanya memutar kedua matanya dengan malas, meladeni tingkah Gaby. "Kok bisa, anak seusia dia berperilaku seperti itu." gumamnya.
"Beruntung, Mawar, putriku tidak seperti itu." lanjut Lina bersyukur.
"Kenapa tidak jadi artis. Pasti laku keras." batin Lina, sambil berjalan kembali ke depan membawa nampan dengan dua buah gelas berisi minuman di atasnya.
Lina menurunkan di atas meja. "Silahkan di minum."
"Terimakasih tante." Gaby segera mengambilnya dan meminum separuh. "Segar sekali."
Lina tersenyum dam mengangguk. "Sekalian mas, mumpung kamu ada di sini. Saya mau membicarakan sesuatu."
Gaby tersenyum samar. "Pasti perempuan bodoh ini, minta papa segera kawinin dia." tebaknya dalam hati.
Perasaan Djorgi merasa tidak enak. Sebab, dia tahu, jika Lina belum bisa membalas perasaannya. Lantas, apa yang ingin Lina katakan. "Katakan. Ada apa?" tanya Djorgi was-was.
"Sepertinya, saya akan membuka toko kue sendiri." jelas Lina.
Djorgi tersenyum kecut. Tahu maksud perkataan dari Lina. Jika Lina akan keluar dari toko miliknya, yang artinya tidak akan bekerja dengannya lagi.
Gaby terdiam. Mencerna perkataan Lina. "Membuka toko sendiri. Maksud tante apa?" tanya Gaby masih lola.
"Iya sayang, tante akan berhenti bekerja di toko kue milik papa kamu. Dan akan membuka toko kue sendiri." jelas Lina.
Gaby tertawa hambar. "Oh ya, selamat ya tante." ucap Gaby berpura-pura.
"Brengsek. Gue kira mereka semakin dekat. Ini, kenapa malah menjauh. Sial." umpat Gaby dalam hati.
"Terimakasih." cicit Lina.
"Kalau kamu butuh bantuan, kamu bilang saja sama aku. Aku akan membantu." ujar Djorgi.
"Iya mas. Nanti aku hubungi kamu. Lagian aku juga belum nemu tempat yang pas." sahut Lina.
Ponsel Lina berdering. "Mawar. Sebentar ya." Lina mengangkat panggilan telepon dari sang putri.
"Iya sayang, ada apa?" tanya Lina pada Mawar di seberang ponsel.
Lina tersenyum. "Baiklah. Ingat, jaga sikap. Hati-hati." ucap Lina lalu mengakhiri percakapan mereka.
"Kenapa tante?" tanya Gaby langsung merasa penasaran.
"Mawar, dia pamit mau ke rumah Jerome." jelas Lina.
Gaby kembali tersenyum mendengarnya. "Tebakan gue benar. Tante Meysa begitu mudah menjilat kembali air liurnya, saat mengetahui siapa Mawar. Benar-benar bedebah." umpat Gaby dalam hati.
Sekilas, Lina melihat raut wajah tak suka dari Gaby. "Anak ini, pandai sekali memainkan peran."
Lina hanya bisa bersikap seperti biasa. Dirinya juga tidak tahu, bagaimana keseharian Gaby. Dan Lina berpikir, pasti ada sesuatu dalam pribadi Gaby. Sehingga dirinya memiliki sifat seperti itu.
Lina tak mau ikut campur terlalu dalam. Dirinya bukan siapa-siapa untuk mereka. Yang terpenting, dirinya akan tetap bersikap baik, jika mereka juga baik.
__ADS_1