
"Silahkan di minum." ujar Nyonya Mesya saat pembantunya menurunkan beberapa gelas berisi air minum di atas meja.
Malam ini, kediaman keluarga Jerome kedatangan tamu. Mereka adalah Dona beserta kedua orang tuanya. Dan Jerome, pastinya juga ikut duduk di kursi ruang tamu atas keinginan dan desakan sang mama.
Jerome sudah menolak. Tapi Nyonya Meysa beralasan tidak enak hati. Lantaran Dona juga ada di bawah.
Dengan langkah malas, Jerome jalan di belakang sang mama. Berbeda dengan Jerome, Dona tersenyum lebar melihat kedatangan Jerome.
"Jika saja kakek masih di sini. Pasti sekarang gue nggak akan duduk di sini." keluhnya, sebab sang kakek lebih memilih tinggal di kediamannya sendiri setelah pulang dari luar negeri.
Jerome tahu kenapa sang kakek tidak mau tinggal bersama mereka di sini. Apalagi alasannya jika bukan karena sang mama.
Jerome tahu, jika sang mama dan kakeknya tidak cocok. Nyonya Meysa berusaha dan selalu meracuni pikiran Jerome dengan sesuatu yang buruk terkait sang kakek.
Namun, semua itu sama sekali tidak mempan. Sejak kecil, Jerome memang mempunyai pribadi dan pendirian yang kuat. Dirinya tidak mudah dan tidak begitu saja percaya dengan perkataan orang. Meskipun mereka adalah keluarganya sendiri.
Jerome lebih memilih diam, saat seseorang berusaha merusak cara berpikirnya. Sama sekali tidak menanggapi. Tapi Jerome akan segera mencari tahu kebenarannya.
Nyonya Mesya melirik ke arah Jerome. "Sebentar lagi kalian akan lulus. Dona, kamu mau meneruskan pendidikan di mana, sayang? Bagaimana kalau satu universitas sama Jerome saja?" tanya Nyonya Mesya sekaligus memberi masukan.
Dona tersenyum menyambut perkataan Nyonya Mesya. Namun ucapan Jerome membuatnya teringat akan suatu hal. Nilai ujian. "Mama yakin, Dona akan diterima di sana." ketus Jerome menyindir Dona dengan ucapan pedasnya.
"Jeeee...." tegur Nyonya Mesya. "Maaf, Jerome hanya bercanda. Kita semua tahu, bagaimana cerdasnya Dona." lanjutnya, tak enak pada kedua orang tua Dona.
Dona tersenyum kaku. Sementara Jerome mencebik, karena dirinya tahu akan semuanya. "Cerdas. Pelajaran anak SD saja dia tidak bisa." remeh Jerome dalam hati yakin.
Dan Tuan Joko, tersenyum palsu. Dirinya juga merasa sanksi jika sang putri bisa satu sekolah dengan Jerome. Pasalnya beliau tahu sebatas apa kemampuan Dona.
Tapi bukan Tuan Joko namanya, jika tidak bisa mengabulkan permintaan sang putri. Asal hal tersebut juga membuatnya merasakan keuntungan. Meski dengan cara kotor dan licik sekalipun.
"Semoga, do'akan saja jeng." sahut Nyonya Utami berharap. Meski beliau tahu jika itu adalah mustahil.
"Tante nggak ke butik?" tanya Jerome, padahal jam masih menunjukkan masih awal jika butik tutup.
"Tadi tante pulang duluan. Kunci butik tante titipkan ke salah satu karyawan." jelas Nyonya Utami.
Sebenarnya Jerome juga ingin tahu, apa Mawar sudah pulang atau belum.
Tanpa Jerome sadari, saat ini Mawar tengah dalam bahaya. Sementara ponsel Jerome memang tidak berada di tangannya, melainkan di dalam kamar.
Jerome tidak membawa ponsel karena sang mama yang tiba-tiba masuk tanpa permisi ke dalam kamarnya. Menyuruhnya segera keluar untuk ikut bergabung di ruang tamu.
"Oh iya Jerome, tadi Mawar sudah izin sama tante." tutur Nyonya Utami memberitahu.
Tuan Joko, Tuan Adipavi, dan Nyonya Mesya memandang penuh tanya pada Nyonya Utami. "Mawar, siapa dia?" tanya Nyonya Mesya curiga.
Orang suruhan Nyonya Mesya tidak bisa mendapatkan informasi terkait perempuan yang duduk di meja bersama Jerome dan kedua temannya bersama Tuan Dewanto saat mereka berada di restoran. Bahkan wajahnya sekalipun.
Semua itu dikarenakan Jerome menutup akses dan membuang semua atau apapun yang bisa membuat sang mama tahu tentang Mawar. Jerome benar-benar ingin melindungi Mawar.
Jerome tidak ingin kejadian Nyonya Priyanka, mama Deren terjadi padanya. Sang mama memperingati Mawar untuk menjauhinya.
Jerome bahkan sudah bisa menebak apa yang akan Mawar lakukan jika itu terjadi sekarang. Pasti Mawar tidak akan berpikir dua kali untuk melakukannya.
Sebab di hati Mawar belum terukir nama Jerome hingga detik ini. Dan Jerome tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Dia karyawan saya di butik. Cantik, pintar, dan pekerja keras." puji Nyonya Utami pada sosok Mawar.
Dona tersenyum sinis mendengar sang mama memuji Mawar dengan raut wajah bangga. "Gue anak kandungnya, sebegitunya memuji Mawar. Sialan." umpat Dona dalam hati, ada sedikit rasa iri dalam hati Dona.
Jerome tersenyum dalam hati. "Seandainya mama gue tante Utami. Pasti sekarang gue akan meminta bantuannya. Untuk mendekati Mawar." batin Jerome, sayangnya itu tidak akan pernah terjadi.
"Lalu, apa hubungannya Jerome dengan Mawar?"
"Dia adik kelas Jerome. Masih kelas satu. Mawar terpilih sebagai pasangan Jerome saat pensi." jelas Jerome pada sang mama, sebelum Dona mengatakan sesuatu yang membahayakan Mawar.
Nyonya Mesya mengangguk pelan, sembari membaca ekspresi wajah sang putra. "Kelihatannya bukan Mawar." batin Nyonya Utami, menebak perempuan di restoran bersama Jerome.
"Kenapa tidak Dona?"
"Mana Jerome tahu. Itu keputusan panitia." kilah Jerome, padahal kenyataannya dirinyalah yang mengatur semuanya.
Ingin sekali Dona bersuara. Mengatakan jika Jerome tidak akan mengikuti pensi jika bukan Mawar pasangannya. Namun urung Dona lakukan. Dirinya tidak ingin lebih terlihat tidak berperasaan di depan Jerome.
Padahal, Dona mengatakan kebenarannya ataupun tidak. Jerome juga tetap tidak akan peduli pada dirinya. Bagi Jerome, Dona sama sekali tidak terlihat di kedua matanya.
"Ckk,,,, Jerome sebaiknya kamu minta pada mereka, berikan peran Mawar pada Dona. Pasti kalian akan serasi." saran Nyonya Mesya.
__ADS_1
Dona mengumpat dalam hati. "Bego, kenapa dari kemarin gue nggak kepikiran sampai sana. Tante Meysa pasti akan senang hati membantu gue." Sayangnya semua sudah terlambat.
"Ma... Jangan ikut campur masalah sekolah." tegur Tuan Adipavi, merasa jika sang istri terlalu kekanak-kanakan.
"Jangan jeng. Benar kata Tuan Adipavi. Nggak enak sama pihak sekolah. Ini hanya sebuah pensi. Untuk apa meributkan hal semacam itu." Nyonya Utami juga sependapat dengan Tuan Adipavi.
Dona melengos. Kecewa pada sang mama. Tentu saja. Padahal jika mau, Nyonya Mesya bisa melakukannya dengan mudah. "Mama... sebenarnya mama tahu nggak sih. Gue suka sama Jerome." geram Dona dalam hati, merasa sang mama lebih condong ke Mawar dari pada dirinya.
Tuan Joko memperhatikan setiap ekspresi sang putri. Beliau tersenyum samar. "Jika aku bisa berbesanan dengan keluarga ini. Pasti sayap bisnisku akan semakin mengepak lebar." batinnya.
Rencana pengikat sudah ada dalam benak Tuan Joko. Jerome dan Dona. "Aku akan menyuruh Dona mendekati Jerome."
"Bagaimana kabar Dami, om, tante? Saya sudah lama tidak bertemu dengannya." segera Jerome mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Dia sedang sibuk kuliah. Apalagi, om juga ingin Dami seperti kamu. Membantu perusahaan keluarga." jelas Tuan Joko.
"Ma, apa makan malamnya sudah siap?" tanya Tuan Adipavi, merasa mereka sudah lama berbincang.
Nyonya Mesya memanggil salah satu pembantu di rumahnya dan menanyakan tentang makan malam.
Semua makanan tertata rapi di atas meja makan. Dua keluarga makan malam bersama, menikmati apa yang ada di piring masing-masing.
Sesekali Dona mencuri pandang ke arah Jerome. "Betapa senangnya gue. Jika Jerome dan gue jadi sepasang kekasih. Bahkan sepasang istri." batin Dona mengkhayal.
Dan Jerome, ingin segera menyelesaikan acara makan malam ini. Jerome berniat akan menjemput Mawar saat dia pulang kerja.
"Ehh,, ponsel gue pasti ketinggalan di kamar." gumam Jerome, ketika tangannya meraba kantong saku celananya.
Sementara di dalam mobil, otak Mawar terus berputar. Mencari cara untuk bisa lolos dari lelaki bajingan di sampingnya. "Loncat dan turun dari mobil. Gue nggak sebodoh itu. Yang ada gue malah celaka." cicit Mawar.
Mawar menggeram dalam hati, teringat Jerome tidak segera datang membantunya. "Ayolah Mawar, berpikirlah. Gunakan otak kamu. Jangan selalu berharap ada pahlawan yang akan datang." Mawar terus mencari cara untuk bisa melarikan diri dari Raka.
Sekali Jerome membantu dirinya saat dia dan kedua sahabatnya akan kembali ke kota. Mawar merasa ada seseorang yang bisa dia andalkan.
Tapi kini, Mawar kembali tersadar. Hidup di dunia, jangan pernah mengandalkan kemampuan dan rada kasihan orang lain.
Krucukkkk.......
Mawar membuang wajahnya ke samping. Raka tersenyum samar mendengar suara perut Mawar. "Kamu lapar?" tanya Raka.
Dirinya ingin Raka menghentikan mobilnya. "Tuhan. Bantu aku lagi." pinta Mawar, berharap bantuan dari Sang Pencipta.
Raka menghentikan mobil di pinggir jalan. "Jangan mencoba kabur. Aku bisa melihatmu dari sana." tukas Raka.
Raka keluar dari mobil. Membeli makanan di warung pinggir jalan. Namun mata Raka tetap fokus pada mobil.
Mawar diam di dalam. "Gue harus cepat keluar." gumam Mawar memandang ke depan.
Dari kaca pantau, Mawar bisa melihat dengan jelas. Jika Raka tetap mengawasi dirinya dari warung tersebut sambil berdiri mengantri makanan.
Mawar tahu, kenapa Raka tidak membawanya ke untuk makan di sana. Atau makan di tempat makan lain. Seperti restoran.
Sebab, kemungkinan besar Mawar akan mudah kabur jika sudah berada di luar mobil.
Mawar tersenyum. Dirinya tahu apa yang harus dia lakukan. Mawar melepas sabuk pengamannya serta jaketnya. Mengambil dompet dan ponsel yang telah mati karena kehabisan daya, lalu memasukkan ke dalam saku celana.
Mawar bersikap tenang. Dengan gerakan pelan. Dirinya tidak ingin jika Raka sampai curiga. Mawar meletakkan jaket di luar tas.
Sehingga terlihat seperti Mawar memasang tapi jaket pada kepalanya. Perlahan, Mawar menurunkan badan. Diganti dengan tas berbentuk ransel yang dipakaikan jaket. Diletakkan di kursi dengan mengencangkannya menggunakan sabuk pengaman.
Dari arah lain, Raka menajamkan penglihatannya saat kepala Mawar tak terlihat. Ingin Raka kembali ke mobil, tapi Raka urungkan saat melihat kembali kepala Mawar yang tertutup topi jaket.
Perlahan, Mawar membuka pintu mobil dengan pelan. Keluar dari mobil dengan merangkak. Dengan jantung berdebar karena takut, Mawar menoleh ke kanan dan kiri.
Mawar hanya membawa dompet dan ponselnya. Biarlah buku pelajaran serta seragamnya berada di dalam mobil. Yang terpenting Mawar bisa keluar. Toh benda itu bisa Mawar beli lagi.
Beruntung Felix dan Mondy, serta bawahan Raka tidak ikut menghentikan kendaraan mereka saat Raka menepi. Dan membeli makanan untuk Mawar.
Tak ingin kehilangan banyak waktu, Mawar merangkak ke depan dengan cepat. Mawar tidak merangkak ke depan. Sebab di depan hanya ada jalanan. Pasti Raka yang berada di warung yang ada belakang mobil akan mengetahuinya.
Mawar masuk ke dalam tanaman rimbun yang berada di samping jalan, tanaman hias yang dijadikan pembatas jalan.
Mawar mengatur helaan nafasnya. "Tuhan, kenapa ponsel gue pake mati sih." keluh Mawar.
Mawar tetap merangkak ke depan. Tidak berdiri dan berlari. Meski dibelakangnya ada beberapa tanaman yang bisa sedikit menghalangi pandangan mata Raka.
Menurut Mawar, jika dia berdiri, Raka akan tahu jika dirinya kabur. Tubuh Mawar lebih tinggi dari pada tamanan yang berada di pinggir jalan sebagai pembatas.
__ADS_1
Menahan rasa sakit di telapak tangan dan di lutut, Mawar merangkak dengan cepat seperti bayi. Mawar menoleh ke belakang. Tampak Raka sudah berjalan ke arah mobil, dengan tangan menenteng sebuah kantong plastik berwarna hitam.
"Gue harus cepat pergi dari sini." Mawar kembali mengamati sekelilingnya. "Taksi."
Mawar melihat ada taksi yang berhenti di seberang jalan. Akan sulit Raka mengejarnya, jika Mawar memakai taksi yang berlawanan arah lajunya dengan mobil Raka. Itulah yang ada di benak Mawar.
Mawar nekat berlari ke tempat taksi itu berada. Tanpa berpikir taksi tersebut ada penumpangnya atau tidak.
"Mawar." gumam Raka melihat sosok yang seperti Mawar berlari menyeberang jalan tak jauh di depannya.
Segera Raka berlari ke mobil. Memastikan apakah Mawar masih ada di dalam mobil atau tidak. "****...... Mawar...!!!" teriak Raka, saat mengetahui jika dirinya dikelabuhi oleh Mawar.
Sopir taksi yang memang sengaja berhenti di tepi jalan, sedang menghitung perolehan uang pendapatannya menarik taksi seharian terkejut saat Mawar masuk ke dalam taksinya.
"Pak, tolong saya. Jalan pak, ada orang jahat yang sedang mengejar saya." pinta Mawar meminta tolong, dengan perasaan takut. Sebab Mawar tahu, jika Raka sudah menyadari dan melihat dirinya.
Tanpa banyak tanya, pak sopir taksi memasukkan uangnya ke dalam tas selempang miliknya. Menjalankan taksi, memacunya dengan kencang.
Mawar menoleh ke belakang. Nampak mobil milik Raka juga hendak berputar arah untuk mengejar taksi yang dia tumpangi.
Beruntung ada beberapa kendaraan yang lewat. Sehingga langkah Raka untuk menyusul taksi tidak segera terjalankan.
"Kita kemana mbak?" tanya sopir taksi.
Mawar masih memandang ke belakang. "Sebentar pak. Kenapa sih ponsel gue pake habis daya baterainya." desah Mawar.
"Bagaimana kalau kita ke kantor polisi saja?" saran sopir taksi, melajukan taksinya dengan cepat tanpa tujuan.
Mawar segera menggeleng. "Jangan pak." cegah Mawar. Dirinya tidak ingin melibatkan pihak berwajib. Apalagi Mawar yakin, jika Raka akan dengan mudah bebas dari tuntutannya.
Setelah itu, Mawar bisa menebak. Raka akan semakin meneror dirinya. "Kenapa para lelaki sangat keras kepala. Sudah dibilang nggak suka. Tetap ngeyel." kesal Mawar.
"Masalah cinta mbak, terima saja." celetuk sopir taksi, dengan mata memantau belakang taksi dari kaca pantau di atasnya.
"Dia lelaki berbahaya pak." jelas Mawar.
Pulang. Tidak mungkin, sebab arah jalan yang Mawar tuju malah menjauh dari rumah. "Benar. Markas Erza." lirih Mawar, teringat markas Erza yang ada di depan sana.
"Pak, berhenti di sana. Ada sebuah pohon besar. Bapak hentikan taksinya di sana." pinta Mawar, mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.
"Mbak yakin?!" tanya pak sopir, sebab tempat yang ditunjuk Mawar adalah tempat sepi dan gelap.
"Ini uangnya. Bapak nanti langsung melajukan taksinya dnegan cepat setelah saya turun." pinta Mawar.
"Baik."
Seperti yang Mawar katakan, begitu Mawar turun, pak sopir taksi melajukan mobilnya dengan laju cepat. Dan Mawar segera bergegas sembunyi di balik pohon besar.
Menanti mobil milik Raka melintas. "Tuhan, semoga keputusanku ini benar, dan juga bisa menyelamatkan aku." cicit Mawar.
Wuzzzzz...... Mawar yakin, mobil yang baru saja melaju dengan kencang di depannya adalah mobil yang dikendarai oleh Erza.
Merasa aman, segera Mawar berlari ke seberang jalan. Melewati jalan beraspal, namun tidak begitu lebar, tapi cukup untuk satu mobil melintas. Mawar segers menuju ke markas Erza.
Meski markas Erza masih jauh, Mawar tetap akan ke sana. Hanya tempat itulah yang saat ini menjadi tempat terdekat yang terlintas di dalam benak Mawar.
Mawar berlari. Tak peduli nafasnya sudah tersengal karena capek bercampur rasa takut. Keringat membasahi seluruh pakaian Mawar.
Kanan kiri jalan hanya ada semak dan tumbuhan liar. Namun Mawar tidak peduli. Dirinya sama sekali tidak merasa takut.
Mawar lebih takut jika dirinya sampai kembali tertangkap oleh Raka. Entah apa yang akan Raka lakukan padanya. "Tuhan, aku percaya. Engkau akan melindungi hamba Mu." batin Mawar tetap berlari supaya cepat sampai ke tempat tujuannya.
Mawar berhenti sejenak. Menoleh ke belakang. Segera Mawar masuk ke dalam tanaman liar dan semak-semak di tepi jalan. Saat menyadari ada cahaya atau sorot lampu dari belakangnya.
Mawar tak mau gegabah. Dirinya tidak tahu siapa itu. Bisa jadi musuh atau orang jahat. Oleh karena itu Mawar tak menghentikannya.
Iring-iringan beberapa mobil dan motor melaju ke arah markas Erza. "Ada apa di sana?" gumam Mawar penasaran.
Rasa penasaran yang kuat, membuat Mawar melangkahkan kaki dengan cepat ke markas Erza melewati semak dam tanaman liar tanpa rasa takut jika ada hewan melata, seperti ular atau hewan berbahaya lainnya.
Mawar tidak mendekat. Yang terpenting kedua matanya bisa melihat apa yang terjadi di markas Erza. "Astaga, siapa mereka." gumam Mawar, melihat markas Erza diruntuhkan dan jiga di bakar.
Dengan perlahan, Mawar berjalan menjauh. Dirinya juga tak tahu kemana arah tujuannya. Yang terpenting sekarang adalah dia aman.
Mawar berhenti di bawah pohon. "Gue di mana ini." lirih Mawar, hanya ada pohon di sekelilingnya. Itupun dia bisa melihat karena cahaya remang-remang dari bulan.
Mawar duduk dan menyenderkan tubuhnya di pohon tersebut. "Lebih baik gue istirahat dulu. Baru cari jalan keluar. Yang terpenting, Raka nggak ngikutin gue."
__ADS_1