MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 65


__ADS_3

"Apa yang kalian bicarakan semalam?" tanya Caty langsung ke intinya tanpa basa basi.


Bukan, Caty bukan bertanya dengan nada yang terdengar ramah di telinga. Lebih tepatnya, Caty ingin mengintrogasi Mawar.


Juga terlihat jelas, bagaimana kedua mata Caty memandang ke arah Mawar dengan tatapan benci.


Beberapa menit yang lalu, Mawar dipanggil pemilik butik. Nyonya Utami. Beliau mengizinkan untuk Mawar pergi bersama Caty.


Satu jam. Nyonya Utami memberi waktu satu jam untuk mereka pergi menyelesaikan masalah mereka. Mawar sebenarnya sangat enggan dan terlalu malas untuk pergi bersama Caty. Berdua.


Tapi mau bagaimana lagi. Bahkan Nyonya Utami sendiri yang memberi izin. Membuat Mawar harus menuruti keinginan Caty.


Entah apa yang Caty katakan pada Nyonya Utami. Sehingga beliau memberi izin. Dan Mawar, tidak ingin tahu alasan yang diberikan Caty pada Nyonya Utami.


Mawar tersenyum sinis menatap Caty. Lalu mengalihkan pandangannya dan mengaduk segelas jus segar di hadapannya.


Menyeruputnya sedikit. Membuat kerongkongan di lehernya tampak lebih segar. "Apa ayah tidak menceritakan pada anda, Nona." ujar Mawar tersenyum remeh.


Caty memandang tajam ke arah Mawar. "Apa begini, cara orang tua kamu. Terutama ibu kamu mengajarkan sopan santun pada yang lebih tua."


Mawar menaikkan sebelah alisnya. Tersenyum miring. Sama sekali tidak terpancing dengan perkataan Caty.


Mawar mencebik. "Benar, saya rasa ibu saya gagal mendidik saya. Dan ibu andalah yanh telah berhasil mendidik anda mejadi perempuan hebat." papar Mawar


Caty tersenyum sombong. "Sehingga anda dengan mudah merebut suami orang. Bahkan sudah melakukan hubungan suami istri, padahal mereka belum resmi bercerai. Benar-benar hebat." ucap Mawar disertai kekehan kecil.


Caty langsung menatap kesal ke arah Mawar. "Jaga mulut kamu, jika tidak ingin aku robek." ancam Caty.


"Silahkan robek. Jika anda mampu." tantang Mawar.


Mawar duduk dengan sombong, menyenderkan badannya ke kursi, dengan bersedekap dada. "Saya ingin lihat, perempuan macam apa. Yang bisa membuat ayah saya berpaling meninggalkan keluarganya." ejek Mawar dengan tenang.


Brakk... Caty menggebrak meja dengan keras. Membuat semua pengunjung melihat ke arah mereka. Tapi tak ada satupun karyawan cafe yang mendekat dan menegur Caty.


Dan Mawar bisa menebak. Jika Caty cukup disegani di cafe ini. Sejak awal, tanpa Caty memesan. Ada seorang pelayan langsung membawakan minuman untuk mereka berdua.


Entah karena apa. Mungin Caty pemilik cafe ini, atau sahabat dari pemilik cafe. Semua kemungkinan bisa terjadi. "Kamu anak kecil. Jangan sok tahu. Ayah kamu, meninggalkan mama kamu karena mama kamu tidak becus menjadi istri!" seru Caty.


Padahal, tujuan Caty bertemu Mawar hanya untuk menanyakan tentang masalah semalam. Caty baru sadar, jika semalam Wiryo terlihat begitu sedih dan juga tampak tidak biasa.


Namun memang Caty tipe orang yang tidak bisa mengendalikan diri serta emosinya. Bukannya fokus pada tujuan, malah pertengkaran yang terjadi sekarang.


"Oh,,, ya. Anda bilang, ibu saya tidak bisa mengurus ayah saya. Bukan seperti itu Nona, beliau terlalu sibuk menjadi ibu rumah tangga yang sesungguhnya. Bukan hanya pandai menyenangkan lelakinya di atas ranjang. Seperti yang anda lakukan." ucapan Mawar, menohok ke jantung Caty.


Mawar masih tenang dengan duduknya. "Kamu. Kamu pikir kamu siapa. Kamu pikir saya sudi menjadi mama tiri kamu. Hah..!!!" teriak Caty.


Mawar melirik ke sekeliling. Dan Mawar sadar, jika mereka sekarang menjadi pusat perhatian. Apa Mawar peduli. Sama sekali tidak.


"Terserah. Saya masih punya ibu. Dan saya tidak membutuhkan siapapun untuk menggantikannya." jelas Mawar dengan ekspresi santai.


Mawar berdiri. "Aku bisa gila berhadapan dengan perempuan gila kayak dia." gumam Mawar, terdengar jelas di telinga Caty.


Mawar membalikkan badan dan bersiap melangkah pergi, tapi siapa sangka Caty menghentikannya dengan menjambak rambut panjang Mawar.


Dengan reflek, Mawar sedikit memutar dan mendorong tubuh Caty. Alhasil, Caty terjatuh ke lantai. Apalagi Caty menggunakan high heel yang lumayan tinggi. Membuat tubuhnya dengan mudah terjatuh.


"Caty...!!" seru Wiryo berlari dari luar, dan membantu Caty untuk berdiri.


Mawar mengernyitkan dahinya. Bagaimana sang ayah bisa datang ke sini. Apa memang Caty yang memberitahukannya. "Sakit mas." rengek Caty manja, memegang pergelangan kakinya.


Perlahan, Wiryo membantu Caty untuk duduk di kursi. "Mawar, Mawar dorong saya mas. Padahal saya bicara baik-baik." rengek Caty mengadu pada Wiryo.


Caty mengeluarkan air mata buayanya. "Mawar, apa yang kamu lakukan?!" geram Wiryo.


Mawar hanya diam. Memandang datar kepada sang ayah. "Jawab jika di tanya!!" bentak Wiryo.


Mawar sama sekali tidak terkejut, ekspresinya tetap datar. Sementara Caty, tersenyum dalam hati. Melihat Wiryo membentak Mawar.


"Ayah mau Mawar jawab yang mana?" tanya Mawar acuh.


Wiryo menggelengkan kepala. "Kenapa kamu jadi seperti ini. Ayah tidak pernah mendidik kamu menjadi anak yang brutal dan tidak tahu sopan santun!!" hardik Wiryo.


Mawar memutar kedua matanya jengah. "Sudahlah, Mawar pergi. Ayah, urusi ****** ayah saja. Ribet banget." ujar Mawar.


Plakk..... Sebuah tamparan mengena di pipi Mawar. Hingga tubuh Mawar sedikit terhuyung. Beruntung tangan Mawar dengan cepat meraih ujung meja di dekatnya. Sehingga tubuhnya tidak sampai terjatuh.


Caty tersenyum samar. Dia tidak mengira akan seheboh ini. "Rasakan kamu. Dasar anak sialan." umpat Caty dalam hati tersenyum puas dengan apa yang dilihatnya.


Beberapa pengunjung sampai melongo, menggelengkan kepala mereka. Cukup syok dengan apa yang mereka lihat.

__ADS_1


Tidak seperti di yang terlihat di sinetron atau televisi, di mana akan ada orang yang merekam kejadian tersebut. Di sekitar mereka, sama sekali tidak ada yang mengeluarkan ponsel mereka.


Mereka tidak terlalu mengurusi urusan orang lain. Apalagi sampai merekam dan menyebar luaskan. Apalagi jika mereka salah mengenali lawan.


Bisa-bisa mereka yang merekam dan menyebarkan yang akan mengalami kesusahan. Tentu saja mereka tidak sebodoh itu.


Mawar memejamkan matanya. Berdiri kembali dengan tegap di hadapan Wiryo. Tanpa ada air mata.


"Adik tidak apa-apa?" seorang pengunjung memberanikan diri mendekati mereka. Dia berdiri di samping Mawar. Takut jika terjadi apa-apa dengan Mawar.


"Sayang,,, maaf, ayah reflek. Bukan maksud ayah ingin menampar kamu." Wiryo ingin memegang pipi Mawar yang memerah, dengan ujung bibir berdarah.


Wiryo menyesal. Pasti. Mawar menjauhkan kepalanya. Sehingga tangan Wiryo tidak bisa menyentuhnya.


Mawar tersenyum miring. Menjilat ujung bibirnya yang terasa perih. Mendesis. Menyugar rambutnya dengan jari ke belakang. Lalu mengelus pipinya yang terasa panas dan terlihat merah.


Menatap Wiryo dan Caty bergantian. "Pasangan couple. Saya doakan kalian segera menikah." papar Mawar tersenyum sinis.


Mawar memandang tajam ke arah sang ayah. Mundur satu langkah, lalu membungkukkan separuh badannya. Kembali berdiri dengan sempurna. "Terimakasih atas hadiahnya. Tuan Wiryo." Mawar menekan kata saat memanggil nama sang ayah.


Deg.... Kaki Wiryo bergetar. Tatapan yang diberikan sang putri bagai anak panah yang mengena tepat pada sasaran. "Mawar." gumam Wiryo, dengan suara bergetar.


"Permisi Tuan Wiryo dan Nyonya Caty." Mawar tersenyum miring.


Mawar memandang ke samping, dimana ada seorang lelaki paruh baya yang sempat mengkhawatirkan dirinya. "Terimakasih om, terimakasih sudah mengkhawatirkan saya. Saya baik-baik saja. Permisi."


Mawar dengan langkah tegap dan dagu terangkat meninggalkan cafe tersebut. "Cih,,, anda akan menyesal telah melakukannya Tuan. Mata anda sudah buta. Sehingga tidak melihat suatu kebenaran." ejeknya, memandang Caty dengan tatapan jijik.


"Mas,,,," Caty memegang lengan Wiryo, saat dia hendak mengejar sang putri.


"Kakiku sakit. Tolong, antar aku ke rumah sakit." Caty menampilkan wajah sedih bercampur dengan rasa sakit.


Wiryo menghela nafas panjang. Dia dilema. Ada Mawar dan Caty. Dengan satu gerakan, Wiryo menggendong Caty di depan.


Membawanya masuk ke dalam mobil. Dan segera melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.


Di tepi jalan, Mawar menghentikan langkahnya setelah melihat toilet umum. Masuk ke dalam dan membasuh wajahnya. "Jangan menangis Mawar. Jangan menangis. Kamu harus menjadi perempuan hebat dan kuat." ucapnya, menyemangati dirinya sendiri.


Mawar mengatur emosinya dan juga nafasnya. Jangan sampai air matanya jatuh ke pipi. "Ckk,,, mana aku nggak bawa dompet atau uang lagi. Apalagi ponsel."


Mawar baru ingat, jika dirinya pergi begitu saja dengan Caty. Mawar sama sekali tidak akan menyangka akan terjadi seperti ini.


Caty membawanya ke cafe yang lumayan jauh jaraknya dari butik. "Otak kamu itu kamu taruh di mana Mawar." geram Mawar pada dirinya sendiri.


Mawar membasuh wajahnya. Masih terasa perih dan panas, meski sudah tersiram air. "Wiryo. Sampai kapanpun, aku tidak akan melupakan ini." Mawar menggenggam erat telapak tangannya.


Rasa sayang yang dulu begitu besar, kini berubah menjadi rasa benci yang sangat besar pula.


Dengan pelan, Mawar melangkah menuju ke butik. "Tekor, tekor deh kaki aku." gumam Mawar.


Mawar memukul pelan dahinya. "Eh,,, aku pakai ojek saja. Nanti bayar setelah sampai di butik. Bodohnya aku." kesal Mawar.


Mawar memandang ke sekelilingnya. Berharap ada ojek yang bisa mengantarkannya. "Mawar." panggil seseorang yang suaranya sangat familiar di telinga Mawar.


Lelaki tersebut membuka helm yang membungkus kapala dan wajahnya. "Erza." cicit Mawar dalam hati.


Mawar hanya memandang Erza tanpa ekspresi. "Kamu kenapa ada di sini?" tanya Erza.


Mata Erza melihat ke pipi Mawar. Segera turun dari motor sportnya. "Maaf." segera Erza menarik tangannya kembali, saat Mawar memalingkan wajahnya. Ketika Erza ingin memegang pipi Mawar.


"Pasti sakit. Sebaiknya segera kamu kompres. Kalau nggak bisa bengkak." papar Erza khawatir.


"Iyakah?" tanya Mawar tidak percaya.


Erza mengangguk. "Ayo ikut aku." ajak Erza.


"Pukul berapa sekarang?"


"Hah..."


"Aku nggak bawa apapun. Bahkan ponsel. Semua tertinggal di tempat kerja." jelas Mawar.


Tanpa banyak bertanya, Erza mengeluarkan ponselnya. Menjawab apa yang ditanyakan Mawar. "Masih tersisa setengah jam lebih." gumam Mawar.


"Kita maj ke mana?" tanya Mawar.


"Ke base camp aku, kita kompres pipi kamu." jelas Erza, mulai menaiki motor sportnya.


"Tapi nanti aku pinjam uang kamu." ujar Mawar.

__ADS_1


"Oke." sahut Erza.


Mawar mengikuti Erza. Menaiki motor Erza. "Maaf, gue cuma bawa helm satu."


"Iya nggak apa-apa."


Erza mulai menyalakan mesinnya. Menjalankan motornya ke base camp, tempatnya berkumpul dengan para temannya.


Sesekali Erza melihat Mawar dari kaca spion. Erza tahu, jika pipi Mawar baru saja di tampar seseorang.


Cukup parah. Erza menerka, jika orang tersebut menggunakan kekuatan penuh untuk menampar Mawar.


Dan Erza yakin, dia seorang lelaki. Dilihat betapa parahnya pipi Mawar, ditambah sudut bibir Mawar yang berdarah.


Namun Erza tak ingin tanya lebih banyak. Dia tak ingin terlalu dalam ikut campur dan ingin tahu apa yang sedang dihadapi Mawar.


Cukup dia membantu. Tidak lebih. "Sudah sampai." ujar Erza menghentikan motornya di sebuah bangunan tua dan terbengkalai. Satu lagi. Sama sekali tidak terurus.


Mawar sempat berpikir jika base camp yang di katakan Erza seperti milik Jerome beserta ketiga kawannya. Ternyata jauh berbeda.


Mawar turun dari motor. Hanya berdiri memandang ke arah bangunan di depannya. Tanpa melangkahkan kaki. Ada perasaan ragu bercampur takut.


Biar bagaimanapun, dia hanyalah seorang perempuan. Pasti ada rasa ketakutan di hatinya. "Ayo, tidak perlu takut."


Erza menyadari kenapa Mawar tidak segera melangkah. "Sumpah. Gue nggak bermaksud jahat." jelas Erza menyakinkan Mawar.


Mawar menghembuskan nafasnya panjang. Mengekor di belakang Erza, memasuki gedung di depannya.


"Woy,,, brow... Bawa siapa elo?!" tanya seorang lelaki yang duduk di sebuah kursi. Memandang Mawar dengan lamat-lamat.


Bukan hanya ada seorang lelaki di dalamnya. Tapi lebih dari sepuluh orang lelaki ada di dalam gedung tersebut.


Semuanya menatap ke arah Mawar. "Ada apa?" tanya Erza, Mawar menarik jaketnya bagian belakang.


Mawar menggeleng. "Nggak apa-apa. Mereka semua teman gue. Elo aman di sini." Erza tersenyum manis menatap Mawar.


Erza memegang tangan Mawar. "Sekarang kita obati dulu pipi elo. Ayo."


Erza menuntut Mawar masuk lebih dalam. "Elo tunggu di sini. Gue ambil obatnya dulu."


Mawar menggeleng, menatap Erza penuh harap, berharap Erza tidak meninggalkannya. "Tenang saja cantik. Kita bukan zombie." celetuk teman Erza.


"Sebentar." Mawar hanya bisa melihat Erza menjauh darinya. Mawar melihat ke bawah. Di mana hanya ada keramik di pandangannya.


"Elo ceweknya Erza?" tanya seorang lelaki, membuat Mawar mengangkat wajahnya.


Belum sempat Mawar menjawab apa yang ditanyakan olehnya, lelaki lain sudah terlebih mengeluarkan suaranya. "Sebaiknya elo menjauh dari Erza, dari pada elo sakit hati."


"Erza memang pemain handal. Banyak perempuan yang bertekuk lutut di hadapannya. Bahkan menyerahkan apapun pada Erza. Tapi elo harus tahu. Erza, lelaki yang tak punya hati." celetuk yang lain.


Mawar mulai tenang. Mereka tidak seperti yang Mawar bayangkan. Sekumpulan lelaki liar. Mawar tersenyum. "Bukan, saya dan Erza hanya sekedar saling tahu. Bahkan kami juga tidak berteman." papar Mawar.


"Sebentar lagi kita berteman. Apa elo nggak punya etika. Gue sudah menolong elo." Erza datang dengan membawa sebuah kotak. Yang Mawar yakini itu adalah otak obat. Entah dari mana dia mendapatkannya.


Erza mengambil kursi lainnya, duduk di depan Mawar. Membuka kotak tersebut. "Tapi aku nggak pernah minta tolong sama kamu. Ingat, kamu yang meminta bukan aku."


Erza memutar bola matanya jengah. "Terserah." Mawar tersenyum samar.


Erza mulai mengambil sebuah sapu tangan yang didalamnya terdapat sebuah es batu. "Ssshhhh,,,," desis Mawar, saat Erza menempelkan di pipinya yang sakit.


"Biar aku saja." Mawar mengambil alih apa yang dilakukan Erza.


Mawar memegang kompres di pipinya. Menyandarkan tubuhnya ke kursi. Memejamkan mata sebentar. "Siapa yang mukul elo?" tanya seorang lelaki.


"Elo nggak perlu tahu." bukan Mawar yang menjawab, melainkan Erza.


"Oke."


"Sudahi jika terasa kebas." ujar Erza. Mawar mengangguk, dan melakukan apa yang dikatakan Erza.


"Keringkan pakai ini." Erza menyerahkan tisu kering pada Mawar.


"Biar aku saja." tolak Mawar, saat Erza hendak mengoleskan sesuatu ke pipinya, setelah Mawar mengeringkan pipinya yang basah.


"Apa kamu bisa melihat, nanti malah tidak rata." tutut Erza.


Mawar hanya mengangguk. Memejamkan mata, membiarkan Erza mengoleskan salep ke pipinya. Sudut bibir Erza terangkat perlahan.


"Sangat lembut dan cantik." ucap Erza dalam hati. Mengoleskan salep tersebut dengan mata menelisik ke setiap inci wajah Mawar.

__ADS_1


"Khemm..." dehem teman Erza. Mereka hanya diam, seolah sedang melihat drama romantis di depan mereka.


__ADS_2