MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 177


__ADS_3

"Apa kamu akan meninggalkanku?" tanya Mawar, saat dirinya duduk berdua bersama Jerome di bangku taman yang letaknya tak jauh dari perusahaan Tuan Adipavi.


Sedari tadi, Jerome berdiri di luar ruangan sang papa. Mencuri dengar semua yang dibicarakan oleh Mawar dan papa. Termasuk saran Mawar untuk Jihan.


Agar Jihan tetap mengikuti prosedur karena kejahatan yang dia lakukan. Masuk ke dalam penjara.


Tak pelak, Mawar terkejut mendapati Jerome berdiri sembari menyenderkan punggungnya ke tembok, saat dirinya membuka pintu dari dalam.


Jerome mengajak Mawar untuk menemaninya makan siang terlebih dahulu, yang berada tepat di depan gedung perusahaan milik sang papa. Lalu membawa Mawar kesebuah taman yang tak jauh dari perusahan juga.


Mawar memandang jauh ke depan. Jerome menggenggam telapak tangan Mawar. Membuat Mawar mengalihkan pandangan kepada Jerome.


"Aku ingin kita segera menikah, setelah kamu lulus SMA." ujar Jerome tiba-tiba.


Mawar langsung menatap Jerome dengan mata terbelalak dan mulut terbuka. Jerome tersenyum tulus, tangannya beralih menutup mulut Mawar. "Nanti kemasukan lebah." tukas Jerome menggoda Mawar.


Mawar memukul dada Jerome pelan, kedua pipinya bersemu merah. "Mana ada orang nglamar kayak kamu. Nggak romantis banget."


Mawar menggelembungkan pipinya, mengalihkan bibirnya yang ingin tersenyum sempurna karena rasa senang.


Jerome dengan gemas menangkup kedua pipi Mawar. Cup.... Jerome mencium sekilas bibir merah milik sang kekasih.


"Kak Jerome...." geram Mawar, menoleh ke kanan dan kiri.


"Sayang....." pinta Jerome, membenarkan panggilan Mawar pada dirinya.


"Malu tahu. Nanti kalau ada yang lihat bagaimana." ucap Mawar.


"Tapi sukakan...?" goda Jerome.


Mawar menatap Jerome dengan tatapan lekatnya. "Ada apa?" tanya Jerome. "Terpesona dengan ketampanan calon suami kamu ini?" lanjut Jerome dengan percaya diri.


Mawar menampilkan ekspresi lucunya, merasa gemas dengan perkataan Jerome. "Apa?" tanya Jerome lagi, mencubit gemas pipi Mawar.


"Kenapa kak Jerome ingin menikahi Mawar?" tanya Mawar.


Mawar mempertanyakan hal tersebut, lantaran dirinya yang akan menjadi penyebab pertama kenapa Jihan akan dimasukkan ke dalam bui.


Dengan begitu, dapat dipastikan mama dari Jerome akan membenci Mawar. Dan pastinya Nyonya Meysa akan menolak dan menentang pernikahan antara Mawar dan Jerome.


"Karena aku ingin melindungi kamu sepenuhnya." jelas Jerome dengan tegas.


Keduanya saling memandang dengan lekat. Jerome kembali menggenggam kedua telapak tangan Mawar. "Jika hanya sebagai kekasih kamu, aku tidak bisa melindungi kamu. Aku tidak bisa berdiri membela kamu. Memasang badan untuk menjadi tameng kamu." jelas Jerome.


"Tapi mama kamu." tampak raut wajah Mawar memperlihatkan keraguan.


"Percaya sama aku. Asalkan kamu mengatakan iya. Setuju dengan apa yang aku katakan tadi. Kamu tidak perlu khawatir akan semua hal. Cukup percayakan semua pada aku."


"Bagaimana dengan perusahaan kakek?" tanya Mawar, sebab Mawar sudah berjanji akan melanjutkan tongkat kepemimpinan perusahaan sang kakek.


Yang artinya Mawar akan mengambil alih perusahaan sang kakek. Dan akan melanjutkan kursi kepemimpinan sang kakek untuk melanjutkan beroperasinya perusahaan.


"Tidak masalah. Kamu akan tetap bisa menjalankan perusahaan kakek kamu setelah kita menikah." jelas Jerome.


Mawar terdiam. Tentu saja dia memang mencintai Jerome. Tapi, apakah dia akan menikah dengan Jerome sesegera mungkin. Meski setelah dirinya lulus SMA.


"Maaf kak, Mawar belum bisa menjawabnya." ujar Mawar.


Tidak bisa memutuskan hal tersebut seorang diri. Mawar masih mempunyai seorang ibu serta ayah. Apalagi sekarang di sampingnya ada kakek dan neneknya.


Dan Mawar tidak bisa tidak mengindahkan keberadaan mereka di sampingnya. Mawar tidak bisa mengambil keputusan besar dalam hidupnya tanpa campur tangan mereka.


Jerome tersenyum. Di elusnya rambut panjang hitam sang kekasih. Jerome mengangguk pelan. "Aku tahu. Kamu harus membicarakan dulu dengan keluarga kamu. Apapun keputusan kamu, kita akan tetap akan bersama." tutur Jerome.


Jerome mengecup pelan dahi sang kekasih. Mawar tersenyum simpul. Tapi sayangnya, tidak dengan hati Mawar.

__ADS_1


Pertanyaan dari Jerome sungguh membuat otaknya berpikir.


Saat berada di rumah, Mawar termenung seorang diri. Memikirkan kembali dengan matang apa yang diinginkan oleh Jerome.


"Lulus SMA. Berarti umur gue masih delapan belas tahun." gumam Mawar.


Mawar tahu, jika seorang perempuan sudah berkomitmen untuk menikah, itu artinya dirinya akan menjadi seorang istri. Dan seorang ibu, apabila sudah memiliki anak.


Dan Mawar juga tahu. Apa saja yang akan terjadi, jika dirinya memutuskan untuk menikah. Kewajibannya sebagai seorang istri tak bisa dia kesampingkan untuk kepentingan lainnya.


Lina sedari tadi menyadari jika ada yang tidak beres dengan sang putri. Sejak Mawar diantar pulang oleh Jerome, Mawar banyak diam sembari duduk di kursi belakang.


Lina mendekat. Duduk di kursi single sebelah Mawar. Saat seorang pembantu mendekat ke arah mereka, segera Lina menggerakkan telapak tangannya.


Mengisyaratkan jika sang pembantu tidak perlu mendekat ke arah mereka. Pembantu tersebut tersenyum sembari mengangguk pelan. Lalu pergi ke arah lain.


"Putri ibu yang cantik? Sedang melamun apa?" tanya Lina.


Mawar menoleh ke arah sang ibu. "Ibu nggak buat kue?" tanya Mawar balik bertanya.


"Sudah, tadi pagi. Lagi pula masih ada stok." jelas Lina.


Mawar mengangguk dengan ekspresi datar. "Kamu mau menceritakan sesuatu pada ibu?" tanya Lina.


Mawar menoleh ke arah Lina, lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ada keraguan di wajah Mawar, saat dirinya ingin menceritakan apa yang ada di dalam benaknya.


"Jika kamu belum siap, tidak apa-apa. Ibu tidak akan memaksa." tukas Lina tidak ingin memaksa Mawar untuk mengatakan apa yang terjadi.


"Kak Jerome tadi mengatakan, jika dia ingin menikah dengan Mawar. Setelah Mawar lulus SMA." ungkap Mawar.


Lina masih diam. Tidak bertanya apapun pada sang putri. Dirinya ingin mendengar semuanya secara detai, sebelum mengeluarkan suara.


Mawar menghela nafas panjang. "Dia mengatakan, akan mudah untuknya melindungi Mawar, jika status Mawar sebagai istrinya." lanjut Mawar.


Mawar menatap sang ibu dengan ekspresi bingung. "Berarti, Mawar masih berumur delapan belas tahun." tukas Mawar.


Lina mengangguk. "Lalu?"


Mawar terdiam. Dirinya tak segera menjawab apa yang dipertanyakan sang ibu. Mawar sendiri bingung tentang perasaan serta keinginannya.


Tapi, Mawar tak ingin salah mengambil keputusan. Dirinya tidak ingin tergesa-gesa memutuskannya. "Sayang. Jodoh dan maut ada di tangan Tuhan. Tapi rezeki, kita yang harus terlebih dahulu berusaha. Sebelum Tuhan memberikannya pada kita." jelas Lina.


"Ibu akan mendukung apapun yang kamu putuskan. Jika kamu setuju untuk menikah dengan Jerome setelah lulus SMA, ibu akan merestuinya."


Lina mengelus rambut panjang Mawar. "Pikirkan kembali dengan hati yang tenang. Semua keputusan ada di tangan kamu. Sebab,,, kamu yang akan menjalani ke depannya. Bukan ibu." tekan Lina.


Mawar mengangguk memeluk sang ibu. "Terimakasih bu."


Lina mengelus punggung Mawar. "Iya."


Lina tahu, apa yang sekarang sedang bergelut dalam benak Mawar. Sebenarnya, Lina juga tidak akan menyetujui, jika Mawar menikah disaat usianya masih muda.


Lina tidak ingin kehidupan sang anak akan berakhir seperti dirinya. Lina ingin, Mawar mempunyai tongkat sendiri. Yang artinya, Mawar tidak perlu bergantung sepenuhnya pada sang suami.


Tapi, Lina tidak lantas mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Dirinya masih ingin menunggu apa keputusan yang akan diambil oleh Mawar.


Setelahnya, barulah Lina akan mengatakan apa yang ada dalam benaknya, jika Mawar sudah memutuskan.


Di kediaman keluarga Tuan Adipavi, Nyonya Meysa tak berhenti menangis. Sang putri, Jihan telah masuk ke dalam penjara. Karena terbukti bersalah.


"Pa... kenapa papa tega melakukannya?!" seru Nyonya Meysa, tidak bisa membayangkan kehidupan sang putri di penjara.


Tuan Adipavi tentu saja tidak menceritakan rencananya pada sang istri. Yang ada, sang istri malah akan semakin murka. Dan pasti menyalahkan Mawar.


"Pa....!! Lakukan sesuatu..!! Keluarkan Jihan dari tempat terkutuk itu...!!" teriak Nyonya Meysa.

__ADS_1


Seperti yang disarankan Mawar, dengan kekuatan serta kekuasaan yang dimilikinya, Tuan Adipavi dengan mudah menekan berita tentang Jihan yang masuk ke dalam penjara.


Sehingga tak ada satupun yang tahu, jika Jihan masuk ke dalam penjara. Kecuali beberapa orang.


"Pa....!!! Mama mohon, mama akan membuat Jihan berubah. Keluarkan putri kita dari sana." teriak Nyonya Meysa sembari menangis.


Bukannya menanggapi apa yang diinginkan sang istri, Tuan Adipavi mengambil map berisi beberapa lembar kertas. Melemparkannya tepat di depan Nyonya Meysa.


Nyonya Meysa menatap sang suami dengan rasa heran. Sebab Tuan Adipavi menampilkan ekspresi datarnya. "Buka dan lihatlah dengan teliti." pinta Tuan Adipavi.


Tangan Nyonya Meysa mengusap air mata di pipinya, dengan tangan sedikit gemetar, diambilnya map yang dilemparkan oleh sang suami.


Nyonya Meysa membuka isi dari map tersebut dengan menatap sang suami yang sudah duduk di kursi.


Nafas Nyonya Meysa tercekat, melihat apa yang ada di dalam map tersebut. "Pa... i--i--ini,,,, ini..." ucap Nyonya Meysa terbata dan tak selesai.


Beberapa foto kedua orang tua Nyonya Meysa yang ternyata masih hidup. Beserta semua tentang apa yang dilakukan olehnya di belakang Tuan Adipavi.


Termasuk kenapa saudaranya ingin merawat Jihan. Dan juga alasan Nyonya Meysa kekeh memberikan Jihan pada mereka. Untuk dirawat sedari kecil.


Yang juga, semua uang serta beberapa harta lainnya, yang diam-diam Nyonya Meysa berikan pada mereka tanpa sepengetahuan sang suami.


Nyonya Meysa menghampiri sang suami yang duduk di kursi. Beliau duduk berjongkok di depan Tuan Adipavi. "Pa... maaf,,,, mama punya alasan. Kenapa mama melakukan semua ini." tukas Nyonya Meysa, bersimpuh di depan Tuan Adipavi.


Tuan Adipavi hanya diam. Tak mengucapkan sepatah katapun. Tak berselang lama, pintu kamar diketuk dari luar.


Segera Nyonya Meysa berdiri, dan duduk di kursi. "Masuk...!!" teriak Tuan Adipavi.


Pintu terbuka perlahan dari luar. Menampakkan seorang pembantu di ambang pintu. Dia masuk dengan sopan ke dalam kamar.


"Tuan, di bawah ada tamu yang anda tunggu kedatangannya." ujar sang pembantu.


Tuan Adipavi mengangguk pelan. "Mereka bersama siapa?"


"Mereka bersama Tuan Muda Jerome, dan juga Tuan Besar Dawano." jelasnya.


Nyonya Meysa merasa penasaran. Dalam hatinya sedang mencoba menebak siapa orang yang begitu spesial, sehingga mereka di sambut oleh sang putra dan juga mertuanya.


Tuan Adipavi keluar tanpa mengajak sang istri. Namun, Nyonya Meysa mengekor di belakangnya, meski sang suami tak mengajaknya. Sebab beliau merasa khawatir.


Langkan kaki Nyonya Meysa terhenti seketika di anak tangga. Melihat siapa yang sedang duduk di kursi ruang tengah bersama sang putra dan mertuanya.


Tangan Nyonya Meysa memegang erat besi pembatas tangga. Tubuhnya terasa lemas melihat dua orang yang selama ini telah dia sembunyikan keberadaannya dari keluarga sang suami.


"Ayah,,, ibu,,," lirihnya, dengan perlahan, Nyonya Meysa melangkahkan kakinya mendekat ke arah mereka.


"Meysa." panggil perempuan tua menatap sang putri.


Tanpa berucap apapun, Nyonya Meysa langsung berhambur memeluk sang ibu. Menangis sesegukan dalam pelukan perempuan tua tersebut.


"Sudah, jangan menangis." ucapnya, menenangkan sang putri yang menangis.


Nyonya Meysa mengurai pelukannya. Di pandangnya sang ayah yang hanya diam, dengan tatapan kosong. Terarah jauh ke depan.


"Ayah." panggil Nyonya Meysa. Tapi sayangnya, beliau sama sekali tidak merespon panggilan Nyonya Meysa.


Ternyata, selama ini Nyonya Meysa menitipkan kedua orang tuanya kepada saudaranya yang juga merawat Jihan sedari kecil.


Semua terjadi karena keadaan sang ayah yang tidak normal semenjak beliau mengalami kecelakaan. Nyonya Meysa mengaku sebagai anak yatim piatu sejak pertama kali berkenalan dengan Tuan Adipavi.


Nyonya Meysa menyembunyikan kebenarannya karena malu dengan keadaan sang ayah. Dan hal tersebut adalah suatu kesalahan dalam hidupnya.


Padahal, Tuan Adipavi sendiri sudah mengetahuinya sejak lama. Semenjak sang istri dengan kekeh menginginkan putri mereka dirawat oleh saudaranya.


Semenjak itu, Tuan Adipavi mulai menyelidikinya. Beliau merasa ada yang janggal dengan keinginan kekeh sang istri.

__ADS_1


__ADS_2