MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
Bab 25 PM


__ADS_3

Setelah selesai makan, Bunga membersihkan bekas makannya dan membersihkan meja makan, ia melirik jam sekarang menunjuk pukul 11 siang.


" Hah.. sudah jam segini, duh ko bisa-bisanya sih aku tidur begitu nyenyak dirumah orang, pantes saja pak Nicho sudah berangkat kerja,!!"


" OMG,,, aku lupa belum packing lagi duh,,!!" Bunga segera bergegas mengambil tas dan juga paper bag yang berisi belanjaannya, ia langsung meninggalkan apartemen Nicho dan kembali ke apartemen nya.


Bunga segera mengemasi barang bawaannya yang akan ia bawa pulang kekampung halaman, jadwal pesawat Bunga jam tiga sore, jadi jam dua Bunga harus sudah di Bandara.


jam satu siang Bunga yang sudah siap segera pergi menuju bandara, ia memilih menggunakan taxi online, Di dalam perjalanan ia menyempatkan mengirim pesan pada Nicho.


" Terimakasih Sarapannya, maaf sudah merepotkan"


Beberapa menit menunggu belum juga ada balasan dari Nicho mungkin Nicho tengah sibuk dengan pekerjaannya. Hingga Bunga tiba di bandara Nicho baru membalas pesan dari Bunga.



telfon genggam Bunga berdering bukan pesan masuk akan tetapi pangilan video dari Nicho.


" hii, "


" Hallo Bunga, kamu dimana,?


" Saya di bandara pak, saya mau pulang kekampung halaman,!


" O,ya sekarang..?


" Iya pak, btw... Terimakasih banyak sarapannya, maaf sudah merepotkan,?


" it's Oke, Apa kamu menikmati sarapanmu,,,?


" Tentu, masakan anda sangat enak,!" Bunga mengacungkan jempol nya.


" Masakanmu lebih enak, saya bahkan ingin selalu makan masakan kamu.!


" Saya cuma bisa masak makanan kampung.!


" But i like it,!


" Thanks pak Nicho,!


" Bunga boleh saya minta satu permintaan?


" Apa itu?


" Selain di kantor kamu cukup panggil Nicho, gak usah pak Nicho, Oke.!


" hm, baik pak Nicho, maksud saya Nicho,!


" Take care Bunga,!


" Terimakasih Nicho,! Bunga masih kaku saat memanggil nama Nicho tanpa embel-embel pak,!

__ADS_1


" Hm, Salam buat indah dan juga orang tua kamu disana,!"


" Oke,!"


" Oke bye..!"


" bye..!!" Bunga menutup panggilan dari Nicho, senyumnya mengembang, ia sudah mulai menerima perhatian Nicho.


Nicho melirik jam tangannya, raut kecewa terlukis jelas diwajahnya, ia tak sempat bertemu Bunga sebelum Bunga pergi, kalaupun ia memaksa untuk menemui Bunga saat ini, sepertinya waktunya tak cukup.


Hatinya bertanya-tanya berapa lama Bunga di kampung, Apakah ia akan kembali atau jangan-jangan Bunga akan menetap di kampung dan tak kembali lagi.


Nicho tampak kacau pikiran nya sudah tak lagi fokus dengan pekerjaannya, ahirnya ia memilih keluar dan pergi ke salah satu coffe shop terdekat.


Saat Nicho tengah menghisap sebatang rokok karena pikiran nya yang sedang kacau, tiba-tiba seseorang datang menghampiri.


" Nicho..?" Suara seorang wanita.


" Kamu Nicho kan, Nicholas Ekrem..?


" Iya.. sorry apa kita saling mengenal..?


" Aku Vega, Kita dulu satu kampus..!!"


" Vega..? Oh hii apa kabar..? Nicho tersenyum canggung sebenarnya Nicho tak ingat siapa Vega.


" fine,!" Kamu lagi ngapain disini..?" Aku boleh kan duduk disini..? Vega langsung duduk di bangku kosong didepan Nicho.


" Silahkan,,!" Nicho tak begitu tertarik, karena dipikiran hanya ada Bunga.


" lumayan,!" kamu dari mana..? Nicho tak benar-benar ingin tau ia hanya basa basi.


" Oh, Aku habis ketemu sama papa aku,!!" Oya kamu ngantor dimana sekarang,,?


" Itu di sebrang..!!


" Wah, Berarti kamu satu kantor donk sama papa aku, Kamu kenal pak Gunawan gak,?


" Pak Gunawan, yah kenal beliau direktur utama di perusahaan kami.!"


" Dia papa aku,!( ya ampun berarti kita memang jodoh). Vega memang sejak kuliah sudah menyukai Nicho.


" Oo iya,?"


" Aku gak nyangka bisa ketemu kamu disini nic.!!" Vega tersenyum penuh arti, hatinya berbunga-bunga, Bisa bertemu dengan Nicho.


" Hem,,, siapa tadi namanya Vega ya.. Saya harus pergi sekarang.!"


" eh, mau kemana kan kopinya belum habis,!


" Saya akan kembali ke kantor."

__ADS_1


" Sudah disini aja dulu, nanti aku yang bilang deh sama papa aku,!"


" ehm.. Sorry tapi saya harus pergi..!!" Nicho langsung pergi keluar, Nicho merasa tak nyaman dengan keberadaan Vega.


" Tapi Nic,!" iih ngeselin banget sih..!" dari dulu sampai sekarang susah banget di dapetin, padahal diluar sana banyak banget yang ngantri buat jadi pacar gue, Hah tapi gapapa masih banyak waktu, sepertinya gue bakal terima tawaran papa buat kerja di kantor papa, heeh, demi kamu Nic walaupun aku gak suka dengan pekerjaan kantoran tapi demi bisa dekat sama kamu, Apapun akan gue lakuin,!!". Vega tersenyum bangga.


Nicho tak kembali kekantor melainkan ia langsung pulang ke apartemen nya.


Nicho tersenyum mengingat kejadian semalam saat ia menggendong Bunga dan menidurkan di ranjang miliknya, gejolak aneh muncul begitu saja, andai Nicho lelaki lain ia pasti sudah khilaf dengan kemolekan tubuh Bunga, akan tetapi Nicho masih bisa menjernihkan otaknya, ia tak mau merusak kepercayaan Bunga yang sudah mulai tumbuh, ia harus bersabar untuk bisa mendapatkan Bunga seutuhnya.


Nicho memilih tidur di sofa ruang tamu walaupun bisikin iblis menyuruhnya agar tidur disebelah Bunga, lagi lagi Nicho bisa mengendalikan semuanya.


Hinga pagi hari Nicho menyiapkan sarapan namun Bunga masih terlelap dengan nyenyak di ranjangnya, Nicho menatap wajah cantik Bunga di pagi hari, dalam hatinya ia berharap setiap pagi ia bisa memandang wajah cantik Bunga.


Setelah bersiap kekantor Nicho kembali menghampiri Bunga, memandang dan mencium kening sekilas, hatinya berdetak kencang, takut jika tiba-tiba Bunga membuka mata, pastinya Bunga akan marah besar, bahkan mungkin tak mau lagi mengenal Nicho,


Beruntung Bunga benar-benar masih terlelap nyenyak, sehingga tak sadar mendapatkan kecupan lembut di keningnya.


Nicho sudah benar - benar jatuh cinta dengan Bunga, pikirannya kacau karena selalu merindukan Bunga.


Nicho ingin menjernihkan pikirannya sehingga ia memilih membersihkan diri, berharap tetesan air yang keluar dari shower mampu mendinginkan gejolak dihati dan pikirannya, Setelah mandi Nicho keluar dari kamar mandi tak sengaja matanya melihat salah satu paper bag milik Bunga yang tertinggal, ia melihat isi dari paper bag itu, dan ternyata itu adalah hadiah yang akan diberikan pada indah, Nicho mengambil telfon genggamnya dan menghubungi Yuda.


" Yuda, cari tau tempat kelahiran Bunga sekarang juga..!!"


" Baik pak.!"


" pak ini saya sudah dapatkan alamatnya,!" tak Butuh waktu lama Yuda mendapatkan alamat kelahiran Bunga, dan segera melaporkannya pada Nicho.


" Bagus, sekalian tolong Carikan penerbangan ke kota xxx sekarang!"


" Untuk hari ini ?


" iya untuk sekarang,!


" Baik pak saya cari sekarang,!"


Sementara Bunga telah tiba di bandara butuh waktu dua jam lagi menggunakan kendaraan umum untuk tiba dikampung halaman.


Sepanjang jalan hati Bunga masih merasa berdebar ia sangat merindukan kampung halaman yang sudah lima tahun tak ia kunjungi, suasana pedesaan yang asri, udara yang sejuk, pemandangan Alam yang menyejukkan mata.


" Ahirnya aku bisa juga kembali ke kampung halaman.!"


Hari sudah mulai gelap Ahirnya Bunga tiba didepan Rumahnya, kenangan masa kecil dengan Rumah berpagar bambu kembali muncul, ia bersukur kini rumahnya sudah lebih layak dihuni, keadaan rumah tak begitu rame hanya beberapa orang yang tengah memasang tenda, dan Meraka tak begitu menyadari kehadiran Bunga.


Bunga berjalan menuju pintu Rumahnya, saat itu juga lelaki paruh baya yang tak lain adalah pak Yadi hendak keluar rumah, ia tercengang melihat siapa yang ada didepannya, pak Yadi bahkan mengucek matanya takut jika matanya bermasalah atau bahkan berhalusinasi.


" Bapak,! Suara lembut yang begitu dirindukan membuyarkan lamunan pak Yadi, ia benar-benar tak percaya jika anak sulungnya pulang, setelah sekian lama tak mau menginjakan kaki di kampung halamannya,


" Ndok, ini benar kamu ndok,?


" Iya pak , ini Bunga,!" Bunga sudah tak kuat menahan tangisnya.

__ADS_1


" Ya Allah ndok kamu pulang,!!" mereka berpelukan dengan haru.


"Bu, ibu, indah liat nih siapa yang datang,!" pak Yadi teriak memanggil istrinya dan juga indah.


__ADS_2