MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 97


__ADS_3

"Bayaran. Bayaran apa yang kamu minta. Hah..!!" teriak Dona, saat dua perempuan yang diminta untuk menjebak Mawar meminta uang bayaran mereka.


Gaby juga merasa kesal. Saat mengetahui jika rencana mereka gagal berantakan. Emosinya kian membuncah manakala mengetahui Nyonya Utami, mama dari Dona memberi izin Mawar libur kerja. Untuk mengikuti kegiatan pensi.


Yang artinya Mawar akan beradu peran dengan Jerome. Sungguh menjengkelkan.


Sementara Weni, moodnya benar-benar memburuk. Setelah dirinya tahu jika Deren saat ini sudah berada di luar negeri.


Dan yang membuat Weni merasa resah, karena Deren berada di negara, bahkan kota yang sama dengan Jihan.


Hal tersebut cukup membuat Weni tahu, jika kedua orang tua Deren menginginkan Jihan sebagai calon menantunya. Weni tahu semua sudah diatur oleh kedua orang tua Deren.


Awalnya, Weni juga begitu membenci Mawar. Pasalnya Weni mencurigai jika Deren menyukai Mawar. Karena sikap Deren yang sangat bertolak belakang saat bersama dengan Mawar.


Oleh sebab itu, Weni selalu membantu Dona dan Gaby saat keduanya selalu mencari masalah dengan Mawar.


Tapi kali ini, semua tebakan Weni seolah terbantahkan dengan kepergian Deren ke negara lain yang sama dengan Jihan. Meski Deren pergi untuk melanjutkan pendidikannya.


Padahal, semua yang Weni pikirkan adalah benar adanya. Jika Deren menyukai Mawar. Dan kepergian Deren juga masih berhubungan dengan Mawar.


"Seandainya keadaan keluarga gue masih baik-baik saja. Pastinya gue dengan berani meminta mama untuk mendekatkan gue dan Deren." batin Weni.


"Coba saja mama dari dulu mau gue suruh mendekati om Djorgi. Pasti sekarang keadaannya tidka akan begini." batin Weni menyalahkan sang mama.


Dua perempuan tersebut merasa mereka dipermainkan oleh Dona dan Gaby. "Hehhh,,,!! Mana kita tahu jika akan gagal. Tapi yang pasti, kita sudah bekerja. Dan gue ingin bayaran kita...!!" hardiknya pada Gaby dan Dona.


"What....!! Uang. Kerja nggak becus minta uang. Kembalikan cincin gue..!!" minta Gaby.


Kedua perempuan tersebut saling pandang, lalu mengalihkan pandangan mereka pada Gaby. "Jangan bilang, cincin gue hilang. Atau, memang kalian sengaja mengambilnya." tuduh Gaby.


"Heyyy,,,, nona. Kita bukan pencuri." teriaknya tidak terima. Mereka benar-benar tidak tahu di mana cincin itu berada sekarang.


Dona mengangguk. Beranggapan apa yang dikatakan Gaby ada benarnya juga. "Benar juga. Bisa jadi ini semua akal-akalan kalian. Mencuri cincin Gaby, lalu mengatakan jika cincinnya hilang. Padahal kalian telah menjualnya." ujar Dona menyudutkan keduanya.


"Rencana gagal. Dan cincin hilang. Semua pasti sudah kalian rencanakan." lanjut Dona, menuduh mereka.


"Benar. Apalagi harga cincin gue mahal. Sekarang, kembalikan cincin gue, atau gue laporkan kalian berdua ke polisi." pinta Gaby, mengancam mereka berdua.


Plak.... satu tamparan mendarat di pipi mulus Gaby. Dona melongo tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Begitu juga Weni. Namun Weni malah tersenyum samar.


Ini pertema kali dalam hidup, Gaby diperlakukan seperti ini. "Elo,,,,!!!" seru Gaby, melayangkan tangannya untuk kembali menampar perempuan di depannya yang dengan enteng menampar dirinya.


"Aaaaaa..!!!!" teriak Gaby. Bukannya berhasil menamparnya, perempuan tersebut malah memelintir lengan Gaby. Hingga Gaby menjerit kesakitan.


"Bith,,,,, jangan macam-macam dengan kita." geramnya tidak terima.


"Kita bisa menghabisi kalian sekarang jika kita mau. Coba saja." gertaknya, memelintir lebih kencang tangan Gaby.

__ADS_1


"Aaaauuwww.... aaaaa... lepas...!!" teriak Gaby dengan wajah merah karena kesakitan.


Perempuan yang satunya menengadahkan telapak tangannya di depan Dona. "Bayar. Atau kalian akan mendapatkan hadiah dari kami." seringainya tak main-main.


"Sudahlah Don,,, Bayar saja, elo kayak orang miskin." celetuk Weni. Dona melirik kesal ke arah Weni.


Bukannya membantu, Weni malah duduk santai. Seolah tak peduli dengan apa yang terjadi di depan matanya. Bahkan tak membantu Gaby yang tengah menjerit kesakitan.


"Don,,,, berikan uang pada mereka." seru Gaby menahan rasa sakitnya, hingga menahan air mata.


Dona mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang. "Heyyy...!!" seru Dona, saat perempuan di depannya menyambar dompet di tangannya dengan cepat.


Dia mengambil seluruh uang tunai yang ada di dalam dompet Dona. "Ini, gue kembalikan." kekehnya, mengembalikan dompet Dona. Melihat banyaknya uang dengan warna merah di tangannya.


"Sssshhhh...." Gaby mendesis merasakan rasa sakit di lengannya, saat dirinya dilepaskan dengan setengah di dorong ke depan.


Kedua perempuan tersebut tersenyum lalu meninggalkan mereka bertiga. "Kalau ada pekerjaan lagi, panggil kita." ledeknya disertai tawa puas.


"Brengsek. Elo dapat dari mana orang macam mereka." umpat Dona, saat keduanya sudah meninggalkan tempat.


Gaby mendaratkan pantatnya di kursi dekat Weni. "Di club malam." sahut Gaby dengan wajah masam.


"Ckk,,,, uang gue terbuang percuma." sungut Dona.


Gaby memandang kesal ke arah Dona. "Cuma uang Don, gue cincin. Dan elo tahukan, cincin itu dari siapa." seru Gaby.


"Gue akan bayar elo, berapapun elo mau. Jika elo bisa memesan cincin yang sama seperti milik gue." seru Gaby.


Dan pastinya Dona juga tidak bisa memesan cincin itu lagi. Sebab Tuan Djorgi mendesain sendiri dan memesan sendiri. Dengan pembuat khusus ahlinya, salah satu pembuat perhiasan terbaik di dunia.


Weni terlihat malas. Dirinya memilih untuk fokus pada ponselnya. Dan hal itu membuat Gaby dan Dona semakin kesal dibuatnya.


"Weni...!!" seru keduanya bersamaan.


"Ckkk,,,, apa sih." sahut Weni dengan nada acuh.


"Sumpah. Lama-lama gue banting ponsel elo." ancam Dona merasa geram dengan sikap Weni.


Weni memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Elo mau gue ngapain. Pijitin elo." sarkas Weni.


"Weni,,,, pikir. Bagaimana caranya agar Mawar gagal memainkan peran dengan Jerome."


Weni memutar kedua matanya malas. Lalu berdiri. "Gue nggak peduli. Gue nggak ada urusan sama Mawar maupun Jerome."


Weni mulai menunjukkan sikap berontaknya pada Dona. Sama seperti Siska. "Weni,,,, elo mau seperti Siska...!!" bentak Dona.


"Gue akan bantu elo, jika elo juga bisa bantu gue. Dan elo seharusnya tahu apa yang gue mau. Deren." tegas Weni, pergi meninggalkan Gaby dan Dona.

__ADS_1


......................


"Terimakasih mbak Amel." cicit Mawar, saat ketiganya berada di depan butik. Bersiap akan pulang ke rumah masing-masing.


Amel merangkul pundak Mawar. "Santai saja. Bukankah aku sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri."


Mawar tersenyum. Ingin sekali Mawar bertanya mengenai tato kecil di telapak tangan Amel. Tapi Mawar tak punya keberanian sebesar itu.


Mawar takut jika pertanyaannya malah akan jadi bumerang bagi dirinya sendiri. Mawar juga masih mengingat pesan Jerome. Untuk tidak sembarangan mengatakan hal berbau kelompok seperti mereka.


"Tahan Mawar. Ingat, jauhi mereka. Bersikaplah tak tahu apapun. Dan berlagak bodoh." batin Mawar menahan diri.


"Kamu besok masuk, atau sudah libur?" tanya Tia.


Mawar menggeleng. "Belum tahu kak. Belum ada pemberitahuan. Kata kakak kelas sih, biasanya mendadak. Maaf ya." tutur Mawar merasa sungkan.


"Apaan sih. Tenang saja. Lagian hanya beberapa hari dalam seminggu." timpal Santi.


"Iya Mawar, nggak lama juga." sahut Tia.


"Mbak Amel nggak di jemput kekasihnya?" tanya Mawar lupa pembicaraan mereka tadi siang.


Santi menyenggol bahu Mawar sembari memberi isyarat. "Ehh,,, maaf mbak. Mawar lupa." cicit Mawar membungkam mulutnya sendiri.


"Nggak apa-apa. Oh iya,,, kamu mainnya sama siapa? Nggak mungkinkan gadis cantik kayak kamu jadi pemain pendukung." tanya Amel.


Mawar tersenyum tipis. "Ciee... pasti sama kekasih kamu yang ganteng itukan." goda Santi.


"Bukan mbak. Mawar nggak punya pacar kok. Kita berteman." sanggah Mawar. Tak ingin ketiga rekannya salah paham.


"Suit,,,, suit,,,, ada yang malu-malu nih." timpal Amel ikut menggoda Mawar.


Saat keempatnya berbincang sembari tertawa, sebuah motor sport yang sangat Amel kenal berhenti tepat di depan mereka.


Raka. Dia adalah teman dari Roy.


"Hay Mawar." sapa Raka, setelah melepas helm dan turun dari motor, langsung menatap ke arah Mawar.


Amel memegang lengan Mawar, menyuruhnya untuk berada di belakang tubuhnya. Raka tersenyum sinis melihat apa yang dilakukan Amel.


"Sebaiknya elo pergi. Jangan pernah cari Mawar lagi." pinta Amel dengan tegas, memandang tajam ke arah Raka.


Mawar tersenyum samar, melihat Amel yang memasang badan untuk dirinya. "Sebenarnya mbak Amel orangnya baik. Tapi kenapa dia masuk kelompok itu." batin Mawar.


Santi dan Tia merasa heran. Pasalnya, biasanya Amel bersikap baik pada sahabat sang kekasih. Tapi kali ini, bahkan Amel mengultimatum untuk tidak mendekati Mawar.


Santi dan Tia hanya bisa percaya pada Amel. Tidak mungkin Amel melakukan hal tersebut tanpa alasan yang jelas.

__ADS_1


__ADS_2