
Setelah semua rangkaian acara selesai, seluruh kerabat dan tamu undangan pun meninggalkan kediaman pak Yadi.
Hari sudah mulai gelap, Nicho akan bersiap meninggalkan kediaman pak Yadi, ia akan langsung kembali keibukota, namun diluar rencana, Hujan lebat terjadi hampir di seluruh sudut kota tempat kelahiran Bunga.
" Nak Nicho sebaiknya bermalam disini dulu, karena hari sudah gelap dan lagi hujan lebat," Bu maesaroh tampak hawatir pada Nicho.
" Tapi saya, ehm,..
" ehm,.. Nicho gak bawa pakaian ganti Bu,! iya,..kan..? Bunga menginjak kaki Nicho, dia tak mau sampai Nicho menginap apa kata tetangga, dan lagi mereka juga bukan sepasang kekasih sungguhan.
" Kalau baju ganti, Nak Nicho bisa pakai baju bapak, !"
" eh,..he.. Nicho hanya tersenyum canggung matanya melirik Bunga, meminta solusi akan tetapi Bunga pun tak tau harus bagaimana dan lagi memang hujan lebat bercampur suara gemuruh petir dan angin.
" Nak Nicho ini baju bapak, walaupun bukan baju bagus, tapi lumayan buat istirahat,!".
pak Yadi memberikan beberapa setel baju miliknya untuk Nicho kenakan tak lupa pak Yadi juga memberikan kain sarung, Nicho menerima namun ia bingung kenapa pak Yadi memberikan sarung, walaupun Nicho lama tingal di Indonesia dan sering melihat laki- laki mengenakan sarung, namun ia sama sekali tak tau bagaimana cara mengenakannya.
" Nak Nicho, istirahat di kamar Bunga saja, Bunga biar tidur dengan indah,!"
" Baik Bu, pak, kalau begitu saya permisi ke kamar dulu,!" Tak lupa Nicho juga
" iya nak Nicho, istirahat gih, sudah malam,!
" Baik Bu,!Nicho sempat melirik Bunga yang sedari tadi hanya terdiam.
Nicho masuk kedalam kamar ia segera mengganti pakaiannya dengan baju milik pak Yadi, meski model kaos jadul akan tetapi saat Nicho yang mengenakannya akan tetap terlihat keren, Nicho membolak balik kain sarung yang pak Yadi berikan, ia tak tau caranya memakai nya, Nicho lalu mengirimkann pesan singkat pada bunga menanyakan bagaimana cara mengenakan sarung.
" kamu tau cara memakai nya,.?"
Pesan yang Nicho kirim pada Bunga beserta foto sarungnya.
" Hahaha,..!" Bunga tertawa saat membaca pesan dari Nicho.
" kamu gak bisa pakai sarung,.?" disusul dengan emoticon tertawa.
" Tidak,..!"
" hahaha,.. Apa perlu aku panggilkan bapak,.?"
" Oh, Tidak bisa kah kamu membantu saya,.!"
"Hah, " wajah Bunga tiba-tiba memerah, entah apa yang ada dipikirannya, ia pun tak membalas lagi pesan dari Nicho, ia memilih keluar dari kamar mencari pak Yadi.
" Pak,..!
" Kenapa ndok, ?
" Ehm, pak,...bapak ngasih sarung pada Nicho?.
" iya ndok, kenapa,?"
" Nicho gak bisa pakainya pak,.!"
" Oalah,..haha, habis mau bapak kasih celana, jelas ukurannya beda ndok,!"
" hehe,..!" Tolong di maklumin ya pak,!"
" iya ndok, ya sudah bapak kekamar nak Nicho dulu, hahaha,..!" Bunga mengekor dibelakang.
tok..tok..tok..
__ADS_1
" Nicho yang masih membolak balik kain sarung karena tak tau cara memakai nya segera membuka pintu setelah mendengar ketukan.
" Eh, pak Yadi..!
" Nak Nicho bisa tidak pakai sarung nya.?"
" ehm,.. " Nicho menggeleng menahan malu.
" Sini biar bapak ajarin cara pakainya,.!"
" Baik pak,.!" Nicho memberikan sarungnya pada pak Yadi, lalu pak Yadi pun membantu Nicho memakai nya, Bunga yang melihat nya hanya menahan tawa.
" Nah, sudah begini saja,.!"
" oh, ternyata cukup mudah pak,.!"
Nicho memperhatikan sekeliling penampilan nya saat mengenakan sarung.
" Hahahah, ya sudah nak Nicho istirahat, bapak juga mau istirahat !" pak Yadi menepuk pundak Nicho.
" Terimakasih pak,!" Nicho kembali menatap Bunga ia meminta pendapat tentang penampilan saat mengenakan sarung, Bunga tak menjawab ia hanya mengangkat bahunya dan ikut meninggalkan Nicho, Nicho ngerutkan keningnya lalu kembali menutup pintu kamarnya.
" Ya, sudah ndok, kamu juga istirahat ya,.!"
" iya pak, bapak juga,..!"
" iya ndok,..! semua penghuni rumah telah berada di tempat tidur masing-masing, Meraka semua tampak lalah karena acara hari ini.
Pagi hari setelah sholat subuh, Nicho yang masih mengenakan sarung, keluar rumah untuk menghirup udara segar.
kemudian ada salah satu tetangga pak Yadi yang tengah lewat depan rumah pak Yadi ia memperhatikan Nicho yang tengah meregangkan otot-otot tubuhnya, menikmati sejuknya udara pedesaan.
" Itu kan pacarnya Bunga yang kemarin, kok, masih ada disini, nginep kali ya ?, tapi kan mereka belum menikah haah, jangan-jangan... wah gak bisa dibiarkan ini, harus lapor RT,.!"
" Ndok panggil nak Nicho, sarapan nya sudah siap, kita sarapan bareng,.!"
" iya, Bu,..!" Bunga segera keluar rumah menghampiri Nicho.
" Selamat pagi , lagi ngapain, Nic,?"
" hi,.. Bunga, pagi juga,.! Udara disini sangat sejuk, pemandangan pun masih sangat asri,.!"
" iya, aku membuang waktu hingga lima tahun lamanya, tak bisa menikmati indahnya pemandangan dan sejuknya udara pedesaan,!"
" Semuanya sudah berlalu, sekarang kamu bisa kapan saja kembali kekampung halaman,.!"
" ngapain kembali, orang aku mau menetap disini,.!"
" Haah, kamu mau menetap disini,?" Nicho terkejut dengan ucapan Bunga, ia sungguh tak menyangka jika bunga akan menetap dikampung halaman, itu artinya ia tak bisa sering bertemu.
" ehm,..!" Bunga mengangguk, meyakinkan Nicho, mendengar hal itu wajah Nicho langsung berubah murung.
" buahhaha,.." Bunga tak kuat menahan tawanya, melihat ekspresi nicho yang menurutnya terlihat lucu, Nicho mengerutkan keningnya, ia tak mengerti kenapa Bunga justru tertawa.
"Bercanda, Enggak lah, aku masih mau kerja kali,..!" Bunga kembali terkekeh.
" Huuh, !' Nicho membuang nafas lega, karena Bunga hanya bercanda.
" Emang kenapa kalau aku menetap disini,.?"
" Kamu hanya boleh menetap disini,!" Nicho mengambil tangan Bunga dan menaruh di dadanya, aksi saling pandang tak terelakan, sebelum ahirnya Bunga bisa menetralkan pikirannya.
__ADS_1
"ehm, Aayo, ibu tadi nyuruh kita sarapan,!"
" Oke,..! aku ganti pakaian dulu,..!"
Bunga hanya mengangguk dan kemudian berlalu meninggalkan Nicho, wajahnya masih memerah.
" Loh, nak Nichonya mana ndok,.?"
" Itu mau ganti baju dulu katanya Bu,!"
" Mba Bunga, kenapa mukanya merah,.?
" Ah, masa sih, gak kok,!" Bunga reflek memegang wajahnya dengan kedua tangannya.
" Cieeh,cieh,.. haha,.. yang lagi dimabuk cinta,..!" indah terus saja meledek Bunga.
"huust,..!"
" Selamat pagi semua,!" Nicho telah berpakaian rapi saat menuju meja makan.
" Pagi nak Nicho,! jawab ibu Maesaroh dan pak Yadi secara bersamaan.
" Silahkan nak Nicho, sarapan orang kampung seadanya saja,.!"
Suasana pagi begitu hangat, mereka makan dengan nyaman, tak ada batasan atau kecanggungan antara mereka, Nicho memang pandai menempatkan diri, setelah menghabiskan sarapan mereka masih asik berbincang dimeja makan, tak lama terdengar suara ketukan pintu.
Tok..tok..tok..
" Assalamualaikum,.!" terdengar suara dari luar rumah.
" Ada tamu itu ndok, buka pintunya,..!"
" iya pak,.!" indah segera membukakan pintu.
" Walaikumsalam salam, pak RT dan ini ada apa kok rame-rame.?. indah kebingungan dengan kedatangan pak RT dan beberapa warga.
" Pak Yadinya ada, tolong panggilkan sebentar.!"
" Aaada, sebentar ya,.!" indah kembali keruang tamu memanggil pak Yadi.
" Pak, itu ada pak RT nyariin bapak, tapi banyak warga juga,.!"
" Ada apa,!"
" Gak tau pak, coba bapak temui aja,.!"
Pak Yadi dan semuanya keluar, mereka tampak bingung dengan kedatangan pak RT beserta warga.
" Ada apa ini pak RT, kenapa datang rame-rame.?.
" Tuh kan bener, pacarnya nginep disini,!" celetuk salah satu warga, saat melihat Nicho yang juga keluar menemui mereka, mendengar hal itu membuat Nicho semakin bingung.
" Bisa kita bicara sebentar pak Yadi,.! ucap pak RT.
" Nikahkan saja pak,!" celetuk salah satu warga lagi.
" Silahkan duduk pak RT,.! pak Yadi mempersilahkan pak RT dan salah satu perwakilan warga, sedangkan warga yang lain masih menunggu didepan rumah.
" Sebenarnya ada apa ini,? kenapa pak RT datang ramai ramai kesini,.?.
" Jadi begini pak Yadi, kami mendapatkan laporan dari salah satu warga, bahwa dirumah pak Yadi kedatangan tamu laki-laki dan menginap dirumah pak Yadi, dimana hal itu bertentangan dengan adat istiadat daerah kita pak Yadi, kami warga merasa khawatir terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, dan lagi kita juga ada peraturan 1x24 jam tamu wajib lapor.!"
__ADS_1
Mendengar penuturan pak RT Bunga, Nicho dan ibu maesaroh tampak cemas, mereka sama sekali tak menyangka akan terjadi hal seperti ini.
" Benar, saya memang kedatangan tamu, yang tak lain adalah pacar dari anak perempuan saya Bunga, tapi saya pastikan tidak terjadi apa-apa karena mereka tidur dikamar terpisah, kita masih tetap teguh memegang adat istiadat daerah kita, adapun mengenai tamu wajib lapor, kami akui, kami lalai karena semalam memang terjadi hujan lebat, hal itu juga yang membuat nak Nicho ahirnya kami minta untuk menginap.!".