
Jerome yang baru saja melangkahkan kakinya keluar dari ruang penyiksaan Raka terdiam, dengan langkah kaki terhenti. Melihat siapa yang berjalan menuju ke tempatnya berada.
"Kalian. Kenapa ada di sini?" tanya Jerome pada Luck dan Tian yang ternyata menyusul dirinya.
"Pake tanya. Kita khawatir sama elo." dengus Luck, dengan ketidak pekaan Jerome.
Jerome menatap aneh ke arah keduanya. "Ada apa? Apa ada yang terjadi?!" tanya Tian khawatir.
"Jika kalian berdua di sini. Mawar berdua dengan Erza?" tanya Jerome memicingkan sebelah matanya.
Tian dan Luck saling berpandangan sekilas. Mereka tahu akan bermuara ke mana pembicaraan Jerome. "Ya pastilah. Dari pada Mawar sendirian. Bukankah malah berbahaya. Kasihan juga Mawarnya." sahut Luck.
"Benar, kita tadi sudah menyuruh Erza menemani Mawar di kamar." celetuk Tian. Seketika Luck menoleh ke arah Tian. "Mulut elo..!!" geram Luck dengan lirih.
Padahal Luck ingin membohongi Jerome. Mengatakan jika Erza berada di luar. Dan Mawar tetap di dalam kamar. Namun semua rencana Luck bubar, karena Tian yang suka mengungkap semuanya dengan jelas.
"Ehhh..." Tian baru sadar apa yang dia katakan akan memicu rasa cemburu Jerome.
"Tenang saja, Erza nggak mungkin macam-macam dengan Mawar." Luck mencoba menenangkan Jerome yang memandang mereka dengan tatapan horor.
Tian dan Luck menelan ludah dengan sulit. "Kita ke sana sebentar. Mau lihat tawanan." Luck merangkul pundak Tian, membalikkan badan dan segera ngacir pergi.
"Tunggu." suara interupsi dari Jerome mampu menghentikan langkah keduanya.
Luck dan Tian berhenti tanpa menoleh ke arah Jerome lagi. "Kalian, kembali ke apartemen. Sekarang." perintah Jerome, menekan kata terakhir.
Tian dan Luck saling pandang. Keduanya saling berbicara lewat pandangan mata dan ekspresi mereka.
Segera Luck melepaskan rangkulannya dari pundak Tian. "Elo saja yang pergi, gue ada perlu sama bawahan Jerome." ujar Luck.
"Hah,,,, kenapa gue. Ogah. Baru sampai. Elo pikir nggak capek naik motor kayak orang kesetanan, ogeb." tolak Tian menatap Luck sinis.
Kedua seakan mempertahankan nyawa melajukan motornya. Agar cepat sampai di markas Jerome. Keduanya takut jika Jerome khilaf dan malah membunuh Raka sekarang.
Sungguh, baik Luck maupun Tian tidak rela jika Raka meninggalkan dunia yang indah sekarang juga. Mereka masih menginginkan Raka tersiksa, dan merasakan neraka dunia ini. Sebelum benar-benar pergi ke neraka yang sebenarnya.
Luck memainkan kedua matanya naik turun. Segera keduanya menggunakan jurus seribu kaki untuk menghindari Jerome. "Heyy....!!" teriak Jerome.
Tian dan Luck malah pergi ke ruang bawah tanah. Entah apa keperluan mereka. Jerome tak mau tahu. Pasti keduanya hanya ingin menyelamatkan diri dari amukan Jerome.
"Brengsek kalian. Bisa-bisanya kalian meninggalkan Mawar berdua sama Erza..!!" seru Jerome dengan kesal.
Beberapa bawahan Jerome yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah ketiga pemuda tersebut.
Di dalam ruangannya, Jerome seperti orang yang kebingungan. Duduk, berdiri, berjalan, duduk lagi, berdiri lagi, berjalan lagi.
Membuat siapapun yang melihatnya pasti pusing. "Luck,,,, Tian,,,,!!!" geram Jerome, kesal kepada kedua temannya. "Dasar teman laknat." umpat Jerome.
Keinginan untuk menunjukkan video kematian Roy, juga beberapa teman Raka yang lain pada Raka. Serta hancurnya semua markas mereka terasa mengambang.
Hanya karena saat ini, Jerome mengetahui jika Mawar sedang berdua bersama Erza di apartemennya. "Sial,,,!!! Mana CCTV di kamar gue sedang rusak." keluh Jerome seperti orang yang frustasi.
Tiba-tiba Jerome tersenyum. "Yang rusak hanya di kamar. Berarti yang lain bisa di akses." segera Jerome membuka ponselnya yang terhubung dengan kamera CCTV di apartemennya.
Jerome hanya ingin memastikan jika Erza berada di ruang tamu atau ruang lainnya. Yang menandakan jika Erza tidak berada di dalam kamar bersama Mawar.
Atau lebih tepatnya. Aman untuk perasaan Jerome yang tengah diliputi rasa cemburu berlebihan.
Jerome seketika panik tidak menemukan Erza di manapun. Ruang tamu, ruang tengah, dapur. Semua kosong. Tak menampilkan sosok Erza.
"Apa Erza ada di kamar yang lain." gumam Jerome berpikir. Sebab, bukan hanya kamera CCTV di kamarnya yang rusak. Namun kamar yang lainnya nya juga rusak.
"Ada apa Tuan?" tanya bawahan Jerome yang melihat keresahan dari raut wajah atasannya tersebut.
"Ini semua karena Tian dan Luck!!" geram Jerome.
Bawahan Jerome hanya mengedipkan kedua kelopak matanya. Dia merasa penasaran. Bukankah hubungan ketiganya tampak baik. Tapi kenapa atasannya berkata demikian.
"Apa kami perlu melakukan sesuatu?" tanyanya, menunggu perintah Jerome.
Segera dia menundukkan tatkala Jerome memandangnya dengan tajam. "Sepertinya mulut ini salah bicara." ucapnya dalam hati, merutuki diri sendiri.
Jerome membanting sebuah patung berukuran sedang, yang tak jauh dari tempatnya. Sang bawahan hanya memejamkan matanya sebentar. Dirinya benar-benar bingung. Dengan apa yang terjadi pada atasannya tersebut.
"Gue bisa gila jika terus berada di sini." dengus Jerome. Tubuhnya berada di markas, tapi tidak dengan pikirannya.
Jerome menyugar kasar rambutnya ke belakang. Menetralkan deru nafasnya. Mencoba kembali mengatur emosinya.
"Ternyata lebih mudah mengatur emosi saat menghadapi musuh. Dari pada saat ini." gumam Jerome. Tetap tak bisa menangkan pikiran yang dikuasai rasa cemburu.
__ADS_1
"Setelah Raka sadar. Jangan sentuh dia. Perlihatkan video kematian Roy. Juga video kematian teman-teman Raka yang lain, serta bossnya. Jangan lupa, video pembakaran markas mereka juga." perintah Jerome tersenyum iblis.
"Baik Tuan."
"Keluarlah." pinta Jerome bawahannya untuk meninggalkan ruang pribadinya.
Segera Jerome membersihkan badan dan mengganti pakaiannya. Sebab ada bercak darah dan juga bau anyir di tambah bau keringat di pakaian yang saat ini melekat pada badannya.
Jerome memutuskan untuk meninggalkan markas. Memilih kembali ke apartemen, dan menyerahkan Raka pada bawahannya.
Dengan langkah tergesa, Jerome meninggalkan markas. "Ehh,, Jerome mau ke mana?" tanya Tian yang melihat kepergian Jerome.
Luck hanya diam. Memandang juga ke arah Jerome.
"Sepertinya Tuan Jerome ada kepentingan yang serius. Dia juga menyerahkan Raka pada kami. Tuan Jerome tadi juga sempat menyebut nama anda berdua. Kelihatannya beliau sangat kesal pada anda berdua." jelas bawahan Jerome.
Luck dan Tian saling pandang. Keduanya tertawa lepas setelah mendengar apa yang dikatakan oleh seseorang di samping mereka.
"Gue bisa menebak. Kemana Jerome akan pergi." tukas Luck.
"Ehh,,, tunggu." ekspresi Tian seketika berubah, saat menyadari sesuatu.
"Jerome akan ke apartemen. Bagaimana jika Erza masih berada di dalam kamar, bersama Mawar?!" tanya Tian, seraya menebak apa yang terjadi.
"Saya juga sempat mendengar, Tuan menyebut nama Erza. Meski hanya lirih. Saya yakin itu nama yang saya dengar." timpal bawahan Jerome yang masih berdiri di dekat Luck dan Tian.
Tanpa berkata atau terlalu lama berpikir, Luck dan Tian bergegas menyusul Jerome kembali ke apartemen.
Semua bawahan Jerome hanya menggelengkan kepala melihat ketiga lelaki sepantaran tersebut. Datang dengan langkah tergesa. Keluarpun dengan langkah tergesa.
"Dasar anak muda jaman sekarang. Terlalu bersemangat." ucap bawahan Jerome yang sudah berumur setengah abad, namun masih mempunyai tubuh dan stamina serta kemampuan tak kalah dengan yang masih berumur muda.
Sedangkan, Erza memang menjaga Mawar. Mereka berada di dalam kamar. Berdua. Tapi tidak seranjang.
Erza tidur di sofa panjang dan empuk yang ada di dalam kamar Jerome. Sementara Mawar, dia tertidur di ranjang empuk dan besar milik Jerome.
Tidak seperti sebelumnya. Kini lampu kamar Jerome menyala dengan terang. Awalnya Mawar ragu saat Erza menawarkan diri untuk menemani dirinya di dalam kamar.
Mawar meminta Erza keluar dari dalam kamar. Atau mereka berdua sama-sama keluar dari dalam kamar. Dan tidur di ruang tengah atau di ruang tamu.
Tapi Erza menolak dengan alasan kenyamanan untuk Mawar. Erza merasa kasihan, jika melihat Mawar harus tidur di sofa yang berada di luar kamar Jerome.
Erza kekeh meminta Mawar tetap tidur di dalam kamar. Dengan dirinya juga berada di dalam kamar.
Mengatakan jika dia akan tidur di sofa, sedangkan Mawar di ranjang.
Butuh beberapa menit untuk Mawar berpikir dan menyetujui saran Erza. Itupun Erza mengatakan dan bersumpah, jika dirinya tidak akan melakukan hal di luar batas.
Mawar takut. Tentu saja. Terlebih dirinya baru saja mengalami sesuatu yang sangat membuat dirinya trauma. Hingga terbawa sampai ke mimpi.
Mawar menyakinkan dirinya sendiri. Apalagi selama ini, Erza selalu membantunya. Layaknya Jerome dan kedua temannya. Berharap jika Erza benar-benar lelaki yang baik. Lelaki yang dapat dipengang setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.
Jika Mawar sudah kembali memejamkan kedua matanya dengan sempurna. Masuk ke dalam dunia mimpi. Berbeda dengan Erza.
Kedua mata Erza masih terjaga. Memandangi wajah cantik dan damai Mawar saat tertidur. Tepat, posisi tidur Mawar menyamping atau miring.
Dengan wajah menghadap ke arah dimana Erza berbaring di sofa. Membuat Erza dengan leluasa dapat melihat wajah ayu Mawar dengan waktu yang lama.
"Pantas, jika Raka mengejar elo sampai kayak gitu. Padahal kalian saja tidak saling kenal." ucap Erza dalam hati, memuji kecantikan alami yang dimiliki perempuan yang tanpa dirinya sadari sudah mengisi hatinya.
Erza betah berlama-lama memandangi wajah cantik Mawar dengan bibir tersenyum. Bahkan, Erza juga tak lupa mengabadikan momen yang sangat langka tersebut.
Mengambil ponsel dan memotret Mawar yang sedang tidur lelap. "Mumpung nggak ada penjaganya yang galak. Jika Jerome ada, behh,,,,, bicara sama Mawar saja pasti akan terasa dicekik." gumam Erza.
Kapan lagi Erza memiliki kesempatan sebaik ini. Meski Mawar memejamkan matanya. Tetap saja, mereka hanya berdua. Tak ada pengganggu yang mengganggu Erza memandang keindahan di depan matanya.
Lima belas menit lebih telah berlalu. Mawar masih berada di alam mimpi dengan nyaman. Dengan Erza juga masih betah memandangi wajah cantik Mawar tanpa bosan.
Tiba-tiba ekspresi damai Mawar berubah. Perlahan, menampilkan ekspresi wajah gelisah. Dengan keringat mulai membasahi wajahnya.
Menyadari ada yang tidak beres dengan Mawar, Erza segera bangun dan mendekat ke arah Mawar. Duduk di samping Mawar. "Mawar... bangun. Mawar...." dengan lembut, Erza menepuk pipi Mawar. Membangunkan Mawar dari mimpi buruknya.
Bukannya bangun, nafas Mawar malah tersengal. Seperti orang yang sedang kelelahan. "Mawar.... bangun. Mawar...." Erza tetap berusaha membangunkan Mawar dari mimpi buruknya.
"Haaahhh,,, haaahhh,,,, hhaaaahhhh." Mawar membuka kedua matanya dan langsung menatap ke arah Erza.
"Raka." cicit Mawar ketakutan.
Erza segera mengambil segelas air yang telah dia siapkan sebelumnya di atas nakas. "Duduk. Minum dulu." Erza membantu Mawar untuk minum air putih.
__ADS_1
"Raka." cicit Mawar kembali, mengulang nama yang manjadi momok menakutkan bagi dirinya. Hingga terbawa ke dalam mimpi.
Erza memberanikan diri mengelus lembut rambut Mawar. Membawa akan rambut yang berada di wajah Mawar untuk ditaruh di belakang telinga.
"Tenang. Raka tidak akan pernah lagi mengganggu kamu. Jerome sudah mengurusnya."
"Aiiiisshhh..." desis Mawar, saat Erza tanpa sengaja memang lengan Mawar yang terluka.
"Maaf." tutur Erza. Meniup lengan Mawar yang terluka. "Masih perih?" tanya Erza. Mawar menggeleng. Erza kembali meniup lengan Mawar dengan pelan.
Pintu terbuka dari luar dengan kasar, saat Raka dan Mawar duduk berhadapan di atas ranjang. Dengan tangan Raka memegang lengan Mawar. Terlihat sangat dekat dan intim.
Jerome. Dialah orang yang membuka pintu kamar dengan kasar dari luar. Sejenak, pikiran Jerome kosong. Melihat apa yang terjadi di antara Mawar dan Erza.
Segera Jerome menggelengkan kepalanya. Mendekat ke arah Mawar. "Ada apa?" tanya Jerome.
Erza melepas tangannya di lengan Mawar. Berdiri dari tempatnya duduk. Dan digantikan oleh Jerome. "Tidak ada apa-apa." papar Mawar.
Tapi Erza segera bersuara. Dirinya tidak ingin Jerome salah sangka pada dirinya. Dan salah paham atas apa yang dilihatnya. "Mawar bermimpi lagi. Dan gue nggak sengaja menyenggol lengannya yang terluka." jelas Erza.
Jerome melihat Mawar tersenyum sayu. Masih jelas terlihat, kening Mawar yang basah karena keringat. "Apa yang kamu pikirkan. Hemm....?" tanya Jerome, sembari mengusap kening Mawar.
Tampak jelas, jika Jerome juga mengkhawatirkan keadaan Mawar. "Raka." lirih Mawar.
Jerome memandang dengan tatapan tak enak ke arah Erza yang masih berdiri di samping mereka. Dan Erza tahu apa arti tatapan dari Jerome tersebut.
Sebuah pengusiran. "Gue keluar dulu." ujar Erza hanya bisa melakukan apa yang diinginkan Jerome, tanpa protes.
"Tutup pintunya." perintah Jerome tanpa melihat ke arah Erza. Apalagi Jerome sempat melihat Erza duduk begitu dekat dengan Mawar. Tentu saja, bibit cemburu mulai merebak dalam hati.
"Ckk,,, dasar. Posesif sekali." gerutu Erza, masih berada di depan pintu kamar Jerome.
"Elo nggak apa-apakan?" tanya Luck yang baru tiba dengan Tian. Nafas keduanya tersengal seperti baru saja lomba lari.
Erza menggeleng pelan. "Jerome mana?" tanya Tian.
"Di dalam. Sama Mawar." ucap Erza cuek. Memilih meninggalkan Tian dan Luck, untuk pergi ke ruang tengah.
Membaringkan badannya di sofa yang terletak di depan televisi. "Elo mau ngapain?" tanya Luck yang ternyata mengekor Erza. Juga Tian.
"Tidur. Ngantuk." celetuk Erza tanpa membuka kedua matanya yang sudah tertutup.
"Jangan di sini. Di apartemen ini ada beberapa kamar. Gunakan salah satunya." saran Tian.
Bukannya menjawab, Erza malah mengubah posisinya menjadi miring. "Ckk,,,, bebal. Ya sudah kalau nggak mau." kesal Tian, terasa diacuhkan oleh Erza.
"Kita ke kamar saja. Gue ngantuk." ajak Tian.
"Ogah gue sekamar sama elo. Mending gue tidur di sini saja." tolak Luck.
Tian mengepalkan tangannya, seperti hendak meninju Luck. "Elo, terserah lah...!!! Gue ke kamar."
Tian masuk ke dalam salah satu kamar di apartemen Jerome. Sementara Luck memilih mengambil karpet tebal di belakang, untuk dia gunakan tidur di depan televisi. Bersama Erza.
Sedangkan Jerome masih berada di dalam kamar. Menemani dan menenangkan Mawar. "Lihat aku." pinta Jerome, memegang kedua pundak Mawar.
"Bukankah aku sudah mengatakan. Tidak perlu merisaukan atau memikirkan si brengsek itu lagi. Aku berjanji, selamanya, Raka tidak akan pernah menampakkan wajahnya kembali di hadapan kamu."
Jerome kembali mengulang kalimat yang sama pada Mawar. "Kamu percaya sama kakak?" lanjut Jerome dengan senyum terpatri di bibir.
Mawar menghela nafas secara perlahan. Lalu mengangguk. "Bagus."
Jerome mengelus rambut panjang hitam Mawar. "Dan itu terakhir kalinya aku melakukan kesalahan. Kapanpun, kamu membutuhkan aku. Aku berjanji akan segera menemui kamu."
Mawar menatap ragu akan perkataan Jerome. Dirinya pernah menggantungkan harapan pada seseorang. Namun semua sirna. Lenyap dengan begitu mudahnya.
Mawar mengangguk. Hanya kepalanya yang mengangguk. Tapi tidak dengan rasa di hatinya. "Ya sudah, lebih baik kamu tidur. Meskipun besok hari minggu. Ini sudah larut malam." cicit Jerome.
"Kamu, tidur sendiri, atau aki temani?" tanya Jerome dengan hati-hati.
"Mawar sudah lebih baik." ucap Mawar, yang artinya dia akan tidur sendiri di dalam kamar.
Jerome mengangguk. "Jangan dikunci pintunya." Mawar mengangguk.
Mawar memandang Jerome yang menghilang di balik pintu. "Maaf kak, Mawar berbohonga. Mawar tidak akan pernah menggantungkan harapan pada orang lain." gumam Mawar.
"Rasa ini bahkan masih sakit. Saat teringat harus berjuang sendiri di kala susah."
Mawar tetap ingin menjadi perempuan yang tidak ingin bergantung dan mengharapkan belas kasih dari orang lain.
__ADS_1