
"Ma, mama semalam menginap di mana?" tanya Weni, saat sang mama baru melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.
Nyonya Puri, mama dari Weni tersenyum simpul. Langkah kakinya berbelok ke arah di mana sang anak duduk dengan memandangnya.
Nyonya Puri meletakkan beberapa paper bag yang berada di tangannya. Menaruhnya di atas meja. Cup,,,,, Beliau mencium singkat pipi sang putri.
Beliau duduk di samping sang anak. "Ini semua untuk kamu." tutur Nyonya Puri, sedikit mengangkat dagunya.
"Cepat kamu lihat." desak Nyonya Puri. "Mama berharap, kamu menyukainya." lanjutnya.
Weni mengambil membuka setiap paper bag. "Ma, mama dapat uang dari mana?"
Weni menatap barang tersebut tanpa berkedip. Semua yang ada di dalam paper bag adalah benda dengan harga mahal. "Ma..." panggil Weni tersenyum. Melihat apa yang sedang dia pegang sekarang.
"Mama berhasil mendapatkan sebuah proyek besar." ucap Nyonya Puri beralasan.
Kenyataannya, semua uang itu dia peroleh dari lelaki yang selama ini menunjang kehidupannya bersama sang putri.
Mengandalkan perusahaan yang ditinggalkan oleh mendiang suami. Tentu hasilnya tidak akan bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari untuk dirinya dan sang anak.
"Makasih ma." Weni memeluk sang mama dengan erat.
"Kamu senang?" tanya Nyonya Puri, mengurai pelukan mereka. Weni mengangguk senang.
"Coba saja mama setuju dengan Weni. Pasti sekarang mama nggak perlu capek-capek bekerja. Bisa seharian menemani Weni di rumah, saat Weni sedang libur sekolah." ungkap Weni dengan raut wajah berharap.
"Sayang. Jangan mengatakan itu lagi. Sungguh, mama tidak ingin mempunyai suami Tuan Djorgi. Papa dari sahabat kamu itu."
"Om Djorgi tampan ma, kaya lagi." puji Weni.
Nyonya Puri mengerti, kenapa sang putri berkata demikian. Tentu saja Weni juga ingin seperti kebanyakan anak pada umumnya. Mempunyai seorang papa.
Tapi sayangnya, semua keinginan sang anak tidak akan terpenuhi. Dirinya sudah terlanjut terikat hubungan terlarang dengan seorang lelaki beristri.
Dan tidak mungkin untuk Nyonya Puri tiba-tiba memutuskan hubungan mereka. Terlebih, selama ini mereka hidup dari uang yang diberikan lelaki tersebut.
Yang paling Nyonya Puri takutkan jika dirinya memutuskan hubungan mereka. Maka dapat dipastikan kehancuran untuk kehidupannya dan juga kehidupan Weni.
Sebab lelaki tersebut mempunyai kekuasaan dan juga kekuatan. Beda cerita jika sang lelaki yang memutuskan hubungan di antara mereka.
Mungkin Nyonya Puri akan hidup tenang. Dan bisa mencari lelaki lain yang tentunya kaya. Dan bisa menyokong kehidupan mewah mereka selama ini.
"Maaf, mama menolak perjodohan yang kamu inginkan, bukan karena ketampanan atau kekayaan papa dari Gaby. Tapi masalah hati sayang." jelas Nyonya Puri beralasan.
Hanya itu satu-satunya alasan yang dapat Nyonya Puti katakan pada sang anak untuk menolak keinginannya.
Weni memainkan bibirnya. Tampak raut kecewa pada wajah Weni. "Sudah ya, mama capek. Mama mau istirahat. Mumpung libur."
Cup... kembali Nyonya Puri mendaratkan ciumannya ke pipi Weni. Dan bergegas meninggalkan sang putri.
Weni, dia bukan gadis bodoh dan lugu. Dia tahu, jika sang mama tengah menyimpan sebuah rahasia besar. "Pasti mama sedang menjalin hubungan dengan lelaki. Tapi siapa?" gumam Weni menebak.
"Ckk,,,, gue paksa pun, mama nggak akan mau sama om Djorgi. Padahal, om Djorgi lelaki yang sempurna. Ganteng, kaya. Mau cari yang bagaimana lagi coba." decak Weni merasa kesal sendiri.
"Terserah mama saja kalau begitu." Weni akhirnya pasrah, dan tidak lagi menjodohkan sang mama dengan lelaki manapun. Termasuk Djorgi.
"Asal mama nggak menjalin hubungan dengan suami orang." celetuk Weni.
Sebab Weni juga mengerti konsekuensi jika sampai sang mama menjalin hubungan dengan suami orang. Pasti kehidupannya kedepannya tak akan bisa sedamai ini.
Weni membawa semua paper bag yang diberikan sang mama ke dalam kamar. "Besok sekolah pakai ini saja." ucap Weni, melihat sebuah sepatu dengan merk terkenal, yang pasti harganya selangit.
Begitu masuk ke dalam kamar, Nyonya Puri langsung mengunci pintunya dari dalam. Dia melepas seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya.
Dengan membawa satu ponselnya, dia masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan badan, sekaligus ingin melakukan panggilan video dengan suami orang, yang menjadi kekasihnya selama ini.
Nyonya Puri menekan nomor yang ada pada ponselnya. Dan hanya ada satu nomor di ponsel tersebut. Sebab, ponsel itu memang khusus dia pergunakan untuk menghubungi lelaki yang menemaninya lebih dari sepuluh tahun.
__ADS_1
"Kemana sih? Kok nggak diangkat." gumam Nyonya Puri. Meletakkan ponselnya di ujung bath-up, dengan mendekatkan dada ke arah layar.
Sehingga, saat orang yang di telepon olehnya mengangkat panggilan video darinya, hal yang pertama dia lihat adalah dua buah benda dengan ukuran besar yang berada di dadanya.
Tak berapa lama, panggilan video dari Nyonya Puri mendapat jawaban dari seberang. "Halo..." terdengar suara seorang perempuan.
"Siapa di sana?" perempuan tersebut bersuara lagi, sebab tak ada sahutan dari si penelpon.
Tangan Nyonya Puri bergerak cepat mematikan panggilan videonya. Beliau tertawa pahit bercampur rasa sesak di dadanya. Membenamkan badannya ke dalam air yang sudah bercampur dengan sabun.
"Kenapa dada ini terasa sakit. Padahal sejak awal aku sudah tahu. Jika dia memiliki seorang istri. Memiliki anak-anak." ujarnya dengan nada getir.
Nyonya Puri menyenderkan kepalanya. Kedua matanya terasa panas. "Pasti karena terkena busa dari sabun." cicitnya, seolah menolak jika dirinya menahan air mata di dalam pelupuk matanya.
Ditatapnya busa sabun yang menutupi seluruh tubuhnya. Lagi-lagi, perasaan bersalah muncul lagi. Bersalah pada seorang perempuan yang dengan sengaja akan dia sakiti hatinya.
Bila mengetahui suaminya menjalin hubungan dengannya. Padahal, dirinya juga kenal dengan istri dari lelaki yang selama ini menjadi kekasih rahasianya.
Bukan hanya kenal. Tapi juga akrab. Sebab dia adalah mama dari sahabat sang anak. Yang artinya, lelaki selingkuhannya adalah papa dari sahabat Weni.
Beliau adalah Tuan Joko Gianindra. Papa dari Dona dan Dami. Di mana Dona adalah sahabat dari sang anak, Weni.
Nyonya Puri awalnya terpaksa melakukannya. Sebab, salah satu syarat yang diajukan oleh Tuan Joko adalah tidur seranjang dengannya. Hanya satu malam.
Dan Tuan Joko akan membantu perusahaannya yang sedang dalam ambang kebangkrutan. Tapi, semua malah terus terulang dan terulang saat ada kesempatan yang datang.
Hingga saat ini hubungan terlarang antara Nyonya Puri dan Tuan Joko terus berlanjut. Tanpa ada satupun yang mengetahuinya.
Sedangkan Gaby, setelah mengikuti mobil sang papa. Dia memutuskan untuk mendatangi apartemen milik sang tante. Caty.
"Apa maksud kamu, sayang?" tanya Caty bingung dengan apa yang dikatakan keponakannya tersebut.
Gaby mendaratkan pantatnya dengan kasar di kursi empuk di belakangnya. "Tante sendirian?" tanya Gaby balik bertanya.
Takut jika ternyata calon suami sang tante, yang notabennya ayah dari Mawar ada di dalam apartemen bersama sang tante.
"Calon suami tante."
"Ck,,,, opa kamu itu mengesalkan. Dia memberi pekerjaan pada om kamu." cicit Caty.
"Om memang kerja di perusahaan opa?"
Caty mengangguk. "Dia menjadi orang kepercayaan opa. Otaknya sangat waow... Semua proyek berhasil dengan memuaskan. Memenangkan berbagai tender besar. Pokoknya the best." Caty mengangkat kedua jempol tangannya ke arah Gaby.
Mengatakan betapa hebatnya Wiryo di mata Caty. Gaby mengangguk. "Pantas. Ayahnya saja seperti itu." batin Gaby yang juga tahu, jika Mawar adalah siswa dengan nilai tertinggi di sekolah.
Pasti otak encer yang Mawar miliki memang dia dapat dari gen sang ayah. Itulah yang Gaby pikirkan.
"Kamu sudah sarapan? Bagaimana kalau kita sarapan di luar?" tawar Caty.
Gaby menggeleng. "Pesan saja tante. Gaby sedang bad mood."
"Hey,,, tunggu. Kamu tadi mengatakan apa?" tanya Caty, teringat sang keponakan menyebut nama Mawar. Sosok yang akan menjadi anak tirinya, beberapa hari ke depan.
"Papa meminta izin untuk menikah lagi." tutur Gaby dengan ekspresi wajah datar.
"Lalu, apa yang kamu risaukan?"
"Calon istri papa."
"Calon istri mas Djorgi. Memang papa kamu mau menikah lagi?"
"Papa yang mengatakan. Meminta izin untuk menikah lagi."
"Lalu kenapa? Memang kamu kenal sama perempuannya?"
Caty merasa jika Gaby tidak menyukai perempuan yang disukai oleh sang papa. Terlihat jelas di wajah Gaby yang tidak bersemangat.
__ADS_1
"Tidak kenal. Tapi tahu."
"Tunggu. Tidak kenal. Tapi tahu. Gaby, sayang,,, jangan buat tante bingung."
"Apa?" tanya Caty, disaat Gaby malah menatapnya intens. Dan tak segera menjelaskannya.
"Dia ibu dari Mawar. Mantan istri om Wiryo." tekan Gaby dengan wajah serius.
"Haa....ha.... Gaby, kamu jangan asal bicara. Mas Wiryo saja membuangnya. Mana mungkin kakak tante, papa kamu malah memungut sampah." ucap Caty dengan sombong, merendahkan Lina.
"Kenyataannya memang seperti itu tante." tegas Gaby.
Tawa Caty terhenti. Kini, dirinya yang menampilkan wajah serius. "Dari mana kamu tahu?"
"Pagi ini, Gaby sengaja bangun pagi. Gaby yakin, jika papa akan menemui perempuan yang dia inginkan untuk menjadi mama tiri aku."
"Lalu, apa yang kamu dapat?"
"Papa berhenti tepat di depan rumah Mawar. Seorang perempuan keluar dari rumah tersebut. Masuk ke dalam mobil papa. Mereka berdua bahkan sarapan di tempat yang sangat sederhana."
"Kamu tidak salah orang. Benar, itu Lina?" tanya Caty untuk Gaby lebih yakin pada pandangannya.
"Lantas kalau bukan dia siapa? Memang ada orang lain selain mereka yang tinggal di rumah kecil tersebut." sungut Gaby.
Caty mengeluarkan ponselnya. Dia masih menyimpan foto Lina, yang diambilnya dengan sengaja. Entah untuk tujuan apa. "Apa perempuan ini, yang kamu lihat."
Gaby mengambil ponsel Caty, dimana ada sebuah gambar seorang perempuan di layar tersebut. Gaby mengangguk. "Benar."
"Astaga...!!" tentu saja Caty syok.
Seketika, suasana menjadi hening. Caty dan Gaby saling pandang. Entah apa yang ada di dalam benak mereka saat ini.
"Tante, apa yang harus Gaby lakukan?" tanya Gaby sedikit takut. Apalagi, semalam sang papa sudah mengancam dirinya.
Tentu saja Gaby tidak ingin fasilitas mewah yang dia gunakan selama ini hilang.
"Apa Mawar tahu tentang semua ini?"
"Pasti tahulah tante." sarkas Gaby, perasaannya seketika bertambah buruk mendengar nama Mawar.
"Pasti dia tahu, tapi pura-pura tak peduli. Padahal, pasti sekarang dia begitu senang." lanjut Gaby menuduh Mawar tanpa bukti.
"Apa Gaby datangi saja ibunya Mawar. Gaby suruh untuk menjauhi papa." ucap Gaby berapi-api.
"Jangan." cegah Caty segera.
"Kenapa?"
"Jangan bertindak gegabah. Dan jangan melakukan hal bodoh. Jika ternyata benar dugaan kamu. Jika Mawar berpura-pura tidak tahu. Kamu harus melakukan hal yang sama."
"Mana bisa tante." tolak Gaby.
"Dengar Gaby. Kita harus mencari cara yang elegan. Jangan sampai melakukan hal yang malah akan merugikan kamu. Tante nggak mau kamu malah akan terluka dan tersakiti."
"Lalu, apa yang harus Gaby lakukan?"
"Diam. Pura-pura tidak tahu. Tante akan memikirkan cara, bagaimana mencari jalan keluar untuk masalah kamu ini."
Gaby mengangguk malas. "Ingat. Jangan kamu katakan masalah ini pada siapapun. Hanya kamu dan tante yang tahu."
Gaby kembali mengangguk. Caty mengelus pipi keponakan kesayangannya. "Tenang saja. Tante nggak akan membiarkan kamu sedih."
Gaby memeluk Caty dengan erat. "Makasih tante."
"Iya. Ingat Gaby, jangan cari masalah sama Mawar dalam waktu dekat ini. Tante akan memikirkan caranya, membuat Mawar terluka."
Gaby tersenyum licik. "Benar kata tante. Semakin sedikit yang tahu. Malah akan semakin baik. Lagi pula, kita tidak tahu. Dia lawan atau kawan." batin Gaby.
__ADS_1
Mengarah pada Dona dan Weni. Yang selama ini selalu berada di dekatnya.