
"Sayang....!" Caty datang ke perusahaan sang papa. Tak lain tujuannya adalah untuk bertemu dengan Wiryo. Lelaki yang tinggal menghitung hari akan menjadi suami sahnya secara hukum dan agama.
Caty langsung memeluk Wiryo dari belakang. Melingkarkan lengannya di leher Wiryo yang masih duduk di kursi single. "Sendiri?" tanya Wiryo, mengecup lengan Caty.
Caty mengangguk. Menaruh dagunya di pundak Wiryo. "Kamu tidak lupakan, kita akan mencoba baju pengantinnya." papar Caty.
Hari ini, hari terakhir untuk kembali mencoba gaun pengantin milik mereka, memperbaiki jika ada yang kurang atau sang pengantin menambahkan hal lain sebelum hari H.
"Iya." Wiryo masih fokus pada lembar-lembar kertas di depannya.
"Sabar Caty,,,, sabar." batin Caty.
Ingin sekali Caty marah karena Wiryo jauh lebih memperhatikan lembar kertas tersebut dari pada dirinya. Namun dia teringat akan pesan sang mama untuk menahan emosi.
Caty ingin perhatian Wiryo sepenuhnya hanya untuk dirinya. Tak terbagi dengan hal lain, saat mereka sedang berdua.
"Sebentar lagi gue akan menikah, nggak lucu jika kita marahan. Bisa-bisa pernikahan gue batal. Undangan sudah tersebar pula." batin Caty mencoba bersabar.
"Sayang, kamu pindah lagi ke apartemen ya." bujuk Caty, dengan jari jemari berada di dada Wiryo. Meraba dengan lembut.
"Kenapa? Di sana aku juga nyaman."
Cup,,,, Caty mencium pipi Wiryo dari belakang. "Tapi aku yang tidak nyaman jika mau menemui kamu." cicit Caty.
Tempat tinggal Wiryo yang sekarang adalah sebuah kontrakan. Hanya satu kamar, tapi lumayan bagus. Sialnya, di sana semua dihuni oleh lelaki.
Setiap Caty ke sana, dia selalu risih dengan tatapan para lelaki tersebut. Ditambah lagi, dirinya tidak bisa bermesraan dengan Wiryo di atas ranjang.
"Ya,,, pindah ya..." bujuk Caty.
"Iya, nanti aku akan pindah." ujar Wiryo malas berdebat dengan Caty.
"Makasih." Caty memeluk erat, tersenyum lebar.
"Nanti malam aku ingin bertemu Mawar. Kamu mau ikut?" tanya Wiryo, sekalian mengajak Caty jika berkenan.
Raut wajah senang dari Caty seketika hilang mendengar nama calon anak tirinya. Tapi posisi mereka yang tidak berhadapan, membuat Wiryo tidak bisa melihat ekspresi dari Caty.
"Mas mau apa?" bertanya dengan nada lembut.
"Membicarakan pernikahan kita. Aku ingin Mawar datang. Dia putriku satu-satunya." papar Wiryo.
Caty memutar kedua bola matanya jengah. "Aku sudah mengundang mereka." cicit Caty. Berharap Wiryo akan mengurungkan niatnya.
"Untuk saat ini, dia memang putri mas satu-satunya. Tapi tidak untuk ke depannya. Anak kita yang akan menjadi prioritas kamu. Bukan dia." batin Caty.
"Ya,,, tetap saja. Aku ingin berbicara secara langsung. Sekalian memberikan gaun untuk Mawar." jelas Wiryo.
Caty mengernyitkan keningnya. "Gaun, untuk Mawar." lirih Caty. Terkejut. Tentu saja.
Untuk satu hal ini, Caty benar-benar tidak tahu menahu jika ternyata sang suami menyiapkan gaun sendiri untuk Mawar. Tanpa meminta izin atau bertanya padanya terlebih dahulu.
Caty mengeratkan rahangnya. Dia menyiapkan sendiri semua pernikahannya. Dan Wiryo sama sekali tidak membantunya. Wiryo beralasan jika dirinya sibuk menyelesaikan pekerjaan supaya saat menikah pikirannya bisa fokus.
Tapi sekarang, Caty mendengar jika Wiryo menyiapkan gaun untuk Mawar. Benar-benar membuat darah Caty mendidih.
"Kenapa? Kamu tidak mau ikut?" tanya Wiryo, tetap fokus pada lembar kertas di depannya, tanpa menoleh untuk menatap wajah Caty yang memerah menahan amarah.
Caty menetralkan emosinya. "Ikut dong sayang. Mawar juga akan menjadi putriku." ucap Caty dengan ekspresi kesal.
"Kamu sendiri yang memilih gaun untuk Mawar?" tanya Caty penasaran.
Wiryo mengangguk. "Anak itu tidak punya gaun. Kita tidak pernah datang ke pesta, atau mengadakan pesta." jelas Wiryo.
"Ooohh,,,,, he,,,he,,," Caty tersenyum di buat-buat. "Kenapa kamu tidak ajak aku. Mungkin aku bisa memilihkannya." papar Caty.
"Aku membeli saat sedang menuju lokasi proyek. Melihat ada gaun cantik di dalam toko, terpasang di manekin. Langsung teringat pada Mawar." jelas Wiryo tersenyum.
"Kamu memang ayah yang baik." ucap Caty, meski dalam hati dia mengumpat.
"Tidak sabar pengen punya anak dari kamu. Pasti nanti kamu akan sayang dia juga." cicit Caty.
Wiryo melepas tangan Caty dilehernya. "Aku akan siap-siap. Bukankah kita akan pergi."
Caty mengangguk dan tersenyum. "Mawar." geram Caty dalam hati.
Di tempat lain, Mawar terus mengulur waktu. Menunggu kedatangan Jerome. Mawar yakin, jika Jerome akan datang dan menyelamatkan mereka dari kelompok motor yang brutal ini.
Mawar tersenyum. Melihat siapa yang datang. "Boss. Kita kedatangan tamu." ucap salah satu lelaki.
Dengan kasar, dia melepaskan Mawar, mendorongnya ke depan dengan keras. Beruntung Mawar tidak jatuh tersungkur ke aspal.
Begitu juga dengan Mira dan Selly. Mereka melepaskan keduanya. Sontak saja, Mawar dan kedua temannya segera berkumpul dan berpegangan satu dengan yang lain.
Mawar memandang ke arah di mana beberapa pemotor datang. "Bukan Jerome." ucapnya dalam hati. "Tapi siapa mereka." imbuh Mawar dalam hati.
Ada lebih dari sepuluh pengendara motor, menghentikan motornya. Membuka helm, menunjukkan wajah mereka. Lalu turun dari motor mereka.
"Mereka." cicit salah satu dari bawahan teman kekasih Amel.
Mawar juga melihat jika geng motor yang membuat babak belur sopir Mira berubah ekspresinya saat melihat wajah beberapa pemotor yang baru datang.
Wajah sangar dan angkuh yang sedari tadi mereka tunjukkan hilang. Berganti dengan wajah tegang dan waspada.
Bahkan, Mawar juga melihat ada yang menampilkan wajah takut. Meski mereka berusaha menyembunyikannya.
__ADS_1
Berbeda dengan pimpinan mereka yang tetap tenang dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. "Siapa mereka?" bisik Mira.
Mawar menggeleng. Karena Mawar sendiri jiga tidak tahu siapa mereka. "Sepertinya mereka bukan bagian dari kelompok itu deh." lirih Selly menebak.
"Semoga." Mawar tetap harus waspada.
Pimpinan mereka menatap ke arah Mawar dan kedua temannya. Tatapan yang tampak menyelidik. Seolah dirinya ingin tahu, apa hubungan ketiga gadis tersebut dengan mereka yang baru saja datang.
Mawar melirik ke arah pak sopir yang terlentang di aspal tak berdaya. Mawar masih melihat dadanya yang kembang kempis, pertanda beliau masih bernafas.
"Kita ambil pak sopir." ucap Mawar lirih. Mira dan Selly langsung menatap ke arah pak sopir. Tatapan keduanya terlihat sendu, melihat bagaimana kondisi sopir keluarga Mira.
"Serahkan mereka. Kalian bisa pergi." ucap salah satu pemotor yang baru datang.
Pimpinan geng motor tersenyum sinis. "Kalian kenal?" tanyanya pada Mawar dan kedua sahabatnya.
Ketiganya menggeleng pelan dan polos. Sebab mereka memang tidak kenal. Mereka merasa sedang dalam dilema dan masalah besar.
"Jika mereka tidak saling kenal, kenapa mereka datang. Lantas, untuk apa meminta ketiga gadis ini." batinnya menerka.
"Elo pikir kita takut." seringainya pada pemotor yang baru datang.
Mawar menyimak obrolan mereka. Siapa tahu dirinya akan mengetahui sesuatu lewat percakapan mereka. Sehingga dapat memutuskan sesuatu.
"Sama sekali tidak." lanjutnya.
"Memang, kalian dulu adalah penguasa. Semua takut jika mendengar nama besar kalian. Tapi itu dulu kawan. Sekarang berbeda. Ada kami sekarang." ucapnya pongah.
Bawahannya menatap ke arah pemotor yang baru datang dengan wajah percaya diri, padahal mereka sempat merasa khawatir. "Hanya dengan ucapan pimpinan, mereka berubah seketika." batin Mawar.
Merasa jika pimpinan kelompok sangat besar pengaruhnya terhadap mereka. "Oh ya,,, jadi elo mau pamer kesombongan." seru pihak lain.
"Hey browww... ingat dan catat. Kita hanya ikut dan setia pada satu pemimpin. Tidak seperti elo dan kelompok elo. Penjilat." ejek yang lain.
Teman dari kekasih Amel tersebut menatap kesal penuh amarah pada musuhnya. "Ingat,,, gue Roy, bukan seorang penjilat, bangsat...!!" teriaknya tidak terima.
"Mundur. Cari aman." lirih Mawar pada Mira dan Selly.
"Apa mereka yang baru datang berbahaya?" tanya Mira masih penasaran.
Mawar menggeleng. "Gue nggak tahu."
"Mawar kening elo." Selly melihat ada darah kembali mengalir di kening Mawar.
Segera Mawar mengusap dengan kasar. "Tenang, gue nggak apa-apa." ucapnya berbohong.
Mawar sudah merasakan kepalanya sedikit berdenyut. Tapi sebisa mungkin dia menahannya. Dirinya tidak ingin keadaan semakin memburuk.
"Elo yakin?" tanya Mira cemas. Mawar kembali mengangguk dan tersenyum.
"Habisi mereka." teriak Roy memerintahkan bawahannya.
Bawahan Luck tersenyum penuh makna. "Otak mereka memang otak udang. Dengan mudah bisa kita pancing." ujarnya.
Tujuan mereka memang mengalihkan perhatian mereka agar tidak lagi fokus pada Mawar dan kedua temannya. Sehingga ketiga gadis itu tidak tersakiti.
Bertahan dengan cara berkelahi, sembari menunggu bala bantuan yang pasti sebentar lagi akan datang. Mereka yakin itu. Apalagi mereka langsung diperintahkan oleh pimpinan mereka. Luck.
Dan ini perintah pertama dari pimpinan baru mereka. Bukan hanya itu, ini juga pertama kalinya mereka kembali ke jalanan setelah pimpinan sebelumnya meninggal.
Mereka memang anggota kelompok motor. Jumlah mereka tidak bisa dihitung menggunakan jari. Tapi jangan salah mengira.
Mereka bukan geng motor yang suka mencari keributan. Berkonfoi di jalan dan membuat masalah dengan para warga.
Mereka lebih menjaga kedisiplinan dan juga menjaga agar jalanan tetap aman. Selain itu, kelompok mereka memang punya pekerjaan sendiri.
Pekerjaan yang menghasilkan cuan. Penunjang hidup anggota kelompok mereka. Meski pekerjaan mereka adalah pekerjaan ilegal, yang berjalan sembunyi-sembunyi di bawah tanah.
"Mereka kalah jumlah. Apa mereka bakal menang." ucap Mira, berkata dengan apa yang terlihat di matanya.
"Kenapa elo malah mikirin mereka." seru Selly, heran dengan pikiran Mira. Bukannya memikirkan keselamatan mereka berempat. Malah memikirkan hal lain.
Mawar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. "Kita tolong pak sopir." ajak Mawar. Mereka bertiga memutar melewati mobil.
Di tengah keributan saling adu fisik antara dua kubu, Mawar dan kedua sahabatnya menyeret tubuh pak sopir untuk di amankan.
Mawar merasakan ponselnya bergetar. Segera dia mengambilnya dari dalam saku. Mawar tersenyum. Ternyata pesan tertulis dari Jerome.
Mengatakan jika mereka yang baru datang adalah bawahan Luck. "Bawahan Luck. Apa Luck juga,,," batin Mawar, melihat mereka yang berkelahi.
"Sudahlah. Lebih baik gue memikirkan hal lain yang lebih penting." gumam Mawar.
"Angkat ke dalam mobil." perintah Mawar pada Mira dan Selly.
Ketiganya mengangkat tubuh pak sopir ke dalam mobil dengan hati-hati. "Berat sekali." cicit Mira, setelah mereka berhasil membaringkan tubuh pak sopir ke kursi belakang.
"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit." seru Selly, melihat banyaknya darah yang keluar. Apalagi Selly memeriksa denyut nadi pak sopir sangat lemah.
Selly segera duduk di belakang kemudi. Mira dan Mawar duduk di kursi belakang, menjaga psk sopir agar tidak sampai terjatuh.
"Kalian mau ke mana?" ujar seorang lelaki di samping mobil. Menatap bengis ke arah mereka.
"Hanya satu orang. Gue pasti bisa." batin Mawar.
"Kalian cepat bawa ke rumah sakit terdekat. Biar dia gue yang urus." perintah Mawar.
__ADS_1
"Tapi Mawar...?!" Mira merasa cemas dengan keputusan yang diambil Mawar.
"Tidak banyak waktu. Pak sopir bisa kehilangan nyawanya. Cepat Selly....!!" seru Mawar, keluar dari mobil.
Dan langsung menendang ************ lelaki tersebut dengan keras. Membuatnya meringis kesakitan.
Mawar mencari sesuatu yang bisa dia gunakan. "Itu..." Mawar berlari, mengambil kayu balok berukuran sedikit panjang. Menggunakannya sebagai alat melawan lelaki tersebut.
"Elo,,,, ******...!!" teriaknya kesal.
"Kalian,,,, lihat, mereka ada yang kabur...!!!" seru yang lain, melihat mobil yang sudah tidak berbentuk milik Mira meninggalkan tempat.
Mawar kembali memukul bertubi-tubi lelaki di depannya. Setelah dirasa cukup, Mawar segera pergi ke arah di mana seorang lelaki hendak menaiki sepeda motor. Ingin mengejar mobil Mira.
Buk,,,,, Mawar memukul tepat di kepalanya. "Aaaa....!!!" jeritnya, memegang kepalanya yang terasa sakit karena pukulan Mawar.
Mawar memukulnya lagi di bagian kepala. "Benar, memukul kepala memang lebih ampuh." gumam Mawar, kembali mengumpulkan tenaga dan keberanian.
Saking fokusnya pada seseorang saja, Mawar tidak menyadari ada lelaki di belakangnya yang siap menyerangnya. "Aaa....!!!" teriak Mawar, merasakan rambut di kepalanya terasa sakit karena sebuah jambakan.
"Gue terllau menganggap remeh elo. *****." geramnya.
Mawar memegang rambutnya yang di tarik dengan kencang ke belakang. Rasanya kulit di rambutnya terasa ingin lepas.
Entah apa yang terjadi, tarikan di rambut Mawar terlepas. Mawar memegang kepalanya yang sakit. Mawar menengok ke belakang. "Jerome." cicit Mawar, dengan kedua mata berkaca-kaca.
Meski Jerome menggunakan penutup wajah. Namun Mawar hapal dengan postur dan kedua mata Jerome. Dan tebakan Mawar benar.
Mawar memundurkan langkahnya. Menjauh dari perkelahian para lelaki. Mawar melongo melihat jumlah mereka semakin banyak.
"Jerome... sudah...!!" seru Mawar, melihat Jerome dengan membabi buta menghajar orang yang sudah menjambak rambut Mawar.
Mawar menutup wajahnya ngeri. Dapat Mawar pastikan, jika lelaki yang dipukuli Jerome pasti sedang sekarang.
Jerome menghentikan aksinya. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Jerome menghampiri Mawar.
Mawar mengangguk. "Kening kamu terluka." cicit Jerome.
Mawar menggeleng. "Nggak sakit kok." Jerome menghapus darah di kening Mawar, namun tak bisa. Sebab darah tersebut telah mengering.
"Tunggu di sini. Jangan kemana-mana." pinta Jerome, mendapat anggukan dari Mawar.
Semua bawahan Roy dengan mudah dibekuk oleh bawahan Luck yang dibantu oleh sahabat Erza.
Erza mengetahui semuanya dari temannya yang disuruh Jerome untuk mengikuti Mawar. Tak mau terlalu lama berpikir, Erza mengajak mereka menyelamatkan Mawar.
Tapi di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Jerome dan kedua sahabatnya. Deren dan Tian.
Bukk,,,,, tanpa banyak bicara. Jerome menghadiahi bogem mentah ke wajah Roy.
"Cihhh,,,," Roy meludah ke samping. Dengan kedua tangan di cekal oleh bawahan Luck.
"Elo, akan terima hadiah dari gue." bisik Jerome, memukul kembali perut Roy dengan kuat, hingga darah keluar dari mulut Roy.
"Maaf boss, beberapa dari mereka melarikan diri." lapor bawahan Luck.
Luck menggerakkan tangannya. "Biarkan saja. Sekalian kita beritahu, jika kita masih ada." ucap Luck santai. Bawahan Luck mengangguk, membenarkan perkataan pimpinan mereka.
"Apa yang akan elo lakukan pada dia." ucap Luck, dengan Jerome menatap ke arah Roy dengan tajam.
"Brow,,, jangan terlalu lama. Gue takut polisi mencium pergerakan ini." ujar Erza mengingatkan.
"Dia milik gue." cicit Jerome.
Semua bersikap waspada saat sebuah mobil hitam dengan ukuran besar datang. "Mereka teman gue." ucap Jerome.
"Mereka." cicit Erza. Melihat logo di jaket yang mereka kenakan. Erza memandang Jerome dengan datar.
Begitu juga Luck. Dia tidak menyangka. Jika Jerome mengenal mereka. Atau malah Jerome adalah pimpinan mereka.
Roy memberontak ingin lepas, saat melihat siapa yang datang. Sebagai pimpinan sebuah kelompok motor, Roy pasti tahu siapa mereka.
Wajah Roy terlihat ketakutan. "Kalian jaga dia seperti kalian jaga emas." seringai Jerome, menatap Roy.
"Beri peringatan pada bossnya. Jika dia tidak bisa menjaga kelakuan anak buahnya. Mereka akan hancur." tekan Jerome tak main-main.
Tanpa berkata sepatah katapun, mereka mengambil alih Roy. Masukkan Roy ke dalam mobil. Membawanya entah kemana.
Deren dan Tian berdiri dengan tenang. Mereka berdua memang tidak tahu menahu tentang semua ini. Keduanya hanya menyimak. Tanpa ikut berbicara.
"Apa sudah selesai?" tanya Mawar mendekat.
"Mawar." panggil semuanya.
Deren dan Erza segera mendekat. "Kamu baik-baik saja?"
"Dahi kamu." cicit Erza, melihat ada darah mengering di dahi Mawar.
"Kalian urus mereka." perintah Luck pada bawahannya. "Kita harus segera pergi dari sini." ajak Luck.
"Kita bawa Mawar ke markas gue saja." tawar Erza.
Jerome dan yang lain masih terdiam. "Iya, bukannya lebih dekat. Aku juga haus." cicit Mawar polos.
Jerome dan Luck memandang tajam ke arah Erza. Bagaimana Mawar tahu letak markas Erza.
__ADS_1