
"Minggir...!!" bentak Gaby pada beberapa murid lelaki kelas tiga yang menghadangnya. Mereka berjumlah tiga orang.
"Santai saja. Bagaimana kalau kita sedikit bersenang-senang." ucap salah satu dari mereka menatap Gaby dengan mesum.
"Brengsek. Minggir...!!" hardik Gaby.
Bukannya segera memberikan Gaby jalan, mereka malah tertawa puas melihat ekspresi Gaby. "Nggak udah sok suci deh elo. Gue yakin elo pasti dah pernah main kuda-kudaan?"
"Jaga bicara elo?!" bentak Gaby tidak terima.
"Widih.... makin cantik kalau marah." ujarnya dengan gelak tawa.
Gaby mendorong salah satu dari mereka. Guna mendapatkan jalan. Tapi tangan Gaby malah dia pegang dan ditarik ke arahnya.
Alhasil, Gaby masuk ke dalam dekapannya. "Lepas...!! brengsek...!!" seru Gaby meronta.
"Aaaahhh.... hangat-hangat... empuk-empuk...." ucapnya, membuat Gaby kesal bercampur takut.
Cuih.... Gaby meludahi wajahnya. Membuat tawa mereka redam dengan segera.
Tanpa melepaskan cekalan tangan Gaby yang hanya menggunakan tangan kanannya, dia mengusap air liur di pipinya menggunakan tangan kiri.
"Punya nyali juga dia." ujar yang lain, menatap Gaby remeh.
Tentu saja Gaby merasa menyesal. Dengan mudahnya percaya dengan perkataan Siska. "Semua karena Siska." geram Gaby dalam hati, dengan terus meronta, berharap tangannya terlepas.
Semua berawal dari Gaby yang menghubungi Siska. Tapi entah kenapa, Gaby malah termakan dengan ucapan Siska. Yang mengajaknya bertemu di belakang sekolah. Dan di tempat yang sepi, sebab jarang ada murid yang pergi ke tempat tersebut.
Bodohnya Gaby, dia menurut saja dengan permintaan Siska. Tanpa curiga sedikitpun. Mungkin Gaby masih merasa jika dirinya masih bisa mengendalikan Siska. Dan Siska, dia masih tunduk pada semua ucapannya.
Tapi nyatanya, bukan Siska yang datang. Melainkan segerombolan murid lelaki kelas tiga. Dan kelompok mereka memang terkenal sebagai biang onar.
"Aaa.... sssssshhhhhh." seru Gaby disertai desisan rasa sakit. Saat kedua pipinya dicengkeram dengan kuat.
"Berani sekali elo melakukan itu sama gue." geram murid lelaki yang diludahi Gaby.
Tangan Gaby terangkat ingin menamparnya, sayang sekali dengan mudah dia malah membawa tangan Gaby kebelakang tubuh Gaby.
"Lepas....!!!! Tolong....!!!" teriak Gaby, saat pipinya tak lagi dicengkeram.
Gaby menggeleng. Saat kedua tangannya di bawa ke belakang tubuhnya. Dengan tubuh dipeluk dari belakang dengan erat.
"Lepas...!!!" teriak Gaby, dengan air mata mulai menetes di pipi.
Tangan murid lelaki tersebut mulai meraba tubuh Gaby. Bahkan, dia menghentikannya tepat di dada Gaby. Menekan dan meremas salah satu buah dada Gaby.
Sedangkan murid lelaki yang lain tertawa seraya bersorak puas. "Elo,,, gue juga mau." tukas murid lelaki lainnya.
Segera berdiri di depan Gaby, dan jongkok di depan Gaby. "Jangan...!!!" teriak Gaby serak, tak lagi sekencang tadi.
Gaby mengangkat kakinya ingin menendang murid lelaki yang berada di depannya. Sayangnya hal itu terbaca dengan mudah. Sehingga kedua kaki Gaby malah di pegang olehnya.
"Mulus sekali kaki elo. Gue penasaran dengan yang ada di dalam rok elo." ucapnya dengan tersenyum mesum.
Gaby menahan suaranya. Sebab tangan lelaki yang memegang kedua tangannya terus memainkan bongkahan di dadanya.
Hanya air mata yang menetes di pipi Gaby. "Jangan." lirih Gaby, saat jari jemari lelaki yang berjongkok di depannya mulai menelusuri kaki jenjangnya.
Murid lelaki yamg masih bersandar di tembok tak mau ketinggalan. Dia juga ikut mendekati Gaby. Melihat dengan intens bibir Gaby yang menggoda.
Jarinya membelai bibir Gaby. "Berapa banyak mulut lelaki yang singgah di sini." ejeknya.
Gaby menggeleng. Dia dapat menebak dengan mudah apa yang diinginkan lelaki tersebut. Gaby memejamkan kedua matanya. Bibirnya terlipat ke dalam.
Tapi murid lelaki tersebut tak kehilangan akal. Dia akhirnya berhasil menyatukan bibirnya dengan bibir Gaby.
Di ujung lorong, seorang siswi mengintip dari balik tembok semua kejadian tersebut, sembari tersenyum puas. "Gaby, elo masih merasa sok jagoan dan merasa di atas gue. Rasakan." seringainya.
Siska menatap bagaimana para murid lelaki tersebut memperlakukan Gaby. "Sekarang, neraka elo baru dimulai. Dan gue pastikan. Setelah ini, elo akan selalu mendapatkan balasan dari apa yang telah elo lakukan pada gue sebelumnya." tentu saja Siska ingin membalas semua yang dilakukan Gaby pada dirinya.
Siska merasa bebas mencelakai Gaby. Sebab, Gaby hanya seorang diri. Tak ada Dona. Tak ada Weni. Sangat mudah bagi Siska untuk membuat celaka Gaby.
"Gaby...!!" ujarnya tersenyum puas dengan apa yang dilihatnya.
Senyum Siska langsung menghilang, melihat seseorang datang dan menghentikan para murid lelaki yang sedang mengerjai Gaby.
"Apa yang kalian lakukan?!" seru Mawar yang tidak datang seorang diri. Dan mereka datang tepat waktu.
Ketiga murid lelaki tersebut langsung menghentikan aksinya. Melepaskan Gaby. Segera Mawar maju untuk menopang tubuh Gaby yang lemas, dengan penampilan tidak karuan karena ulah ketiganya.
Mawar mengetahuinya setelah ada seorang siswi kelas satu yang tanpa sengaja melihat mereka. Tak tahu harus melapor pada siapa, dia lantas mengatakannya pada Mawar.
Dia memilih Mawar, lantaran sejak pagi tadi dia mendengar nama Mawar yang menjadi perbincangan di sekolah karena kecantikan dan kepandaiannya.
__ADS_1
Keputusannya ternyata tepat. Mawar dengan sigap mengajak beberapa temannya untuk menuju ke tempat yang diberitahukan oleh murid kelas satu yang baru saja masuk hari ini.
Awalnya, mereka semua tidak ada yang mau mengikuti Mawar. Termasuk Mira dan Selly. Mereka mengatakan mungkin itu adalah karma dari Gaby yang selama ini berbuat jahat pada mereka, terlebih pada Mawar.
Namun, bukan Mawar namanya. Jika tidak bisa membuat mereka berubah pikiran. Mawar mengatakan jika kemungkinan besar akan ada korban lain selain Gaby.
Jika hal ini terus dibiarkan. Dan nama sekolah akan tercoreng. Yang lebih buruk, bisa jadi diantara mereka akan menjadi korban dari kenakalan kakak kelas mereka selanjutnya setelah Gaby.
Selain itu, mereka juga tidak akan bersekolah dengan tenang. Jika mereka selalu membuat ulah. Sebab mereka merasa jika semua murid takut pada mereka.
Selama ini, mereka tidak terlalu berani menampakkan diri dan tidak terlalu berani bertindak semaunya sendiri karena ada Jerome beserta teman-temannya.
Dan kali ini, mereka berpikir jika tidak akan ada yang berani. Dan juga, para murid tidak akan berani melaporkannya pada guru atas apa yang mereka lakukan.
Dan untuk mengerjai Gaby, bukan inisiatif mereka sendiri. Tapi mereka di suruh oleh seseorang dengan imbalan. Serta mengatakan jika Gaby bukan lagi perawan.
Alhasil, teman-teman Mawar menimbang-nimbang semua ucapan Mawar. Dan setuju dengan apa yang Mawar katakan untuk menolong Gaby.
"Mawar..." desis Siska merasa kesal. Dirinya sudah menguras uang tabungan hanya untuk membayar mereka supaya mengerjai Gaby.
Dan Mawar datang bersama murid lainnya. Menghancurkan semua rencananya. Tanpa Siska sadari, jika sebentar lagi dirinya akan dalam masalah besar karena keberaniannya.
Siska segera meninggalkan tempatnya bersembunyi. Dirinya tidak ingin jika sampai ada yang melihatnya. Dan malah akan ketahuan. Tapi apa yang dilakukannya percuma.
"Kalian. Lebih baik kalian pergi...!!" usir salah satu murid yang mengerjai Gaby.
Mira segera membantu Mawar merangkul Gaby. Selly maju beberapa langkah di depan Mawar serta Mira dan Gaby. "Tentu saja kita akan pergi. Tapi bersama pecundang macam kalian." seringai Selly.
Beberapa siswa dan siswi yang datang bersama Mawar menatap ketiganya dengan kesal. Meski mereka benci dengan sikap dan kepribadian Gaby, tapi tetap saja mereka tidak membenarkan tindakan yang dilakukan oleh ketiganya.
"Ikut kami...!!" teriak siswa hang datang bersama dengan Mawar.
Ketiga murid lelaki kelas tiga tersebut digiring menuju kantor guru. Bersama Mawar yang merangkul Gaby.
Ruang kepala sekolah penuh dengan para murid. Bahkan beberapa ada yang melihat dari balik jendela. "Keluarkan saja pak...!! Kelakuannya melebihi binantang...!!" teriak seorang siswa.
"Benar pak, sekolah kita akan tercoreng." seru murid lainnya.
"Mereka meresahkan pak. Jika dibiarkan sekolah tidak akan mempunyai murid." timpal murid yang lain.
"Tenang semua. Kita akan membicarakan semuanya dengan baik-baik." ujar pak kepala sekolah.
Gaby masih terisak di pelukan Mawar. Meski ketiganya tak sampai merusak kehormatan Gaby, tetap saja Gaby merasa syok dan trauma akan kejadian barusan.
Beberapa guru membubarkan para murid yang berkumpul di depan ruangan kepala sekolah. Menyuruh mereka untuk kembali ke dalam kelas, sebab kegiatan belajar mengajar sudah dimulai.
Kecuali Mawar, yang masih duduk menemani Gaby, dengan memeluk Gaby. Sedangkan ketiga murid lelaki kelas tiga tersebut hanya diam menundukkan kepala mereka.
Ruangan hening untuk sesaat. Beberapa guru serta kepala sekolah juga diam. Mereka semua menunggu kedatangan para wali murid untuk menyelesaikan masalah ini.
Di dalam kelas Mawar, semua sedang berbincang sembari menunggu kedatangan guru. Tentu saja berbincang mengenai kejadian yang baru saja terjadi.
"Gila tahu nggak si Mawar. Kita semua tahu, betapa busuk hatinya Gaby. Apalagi apa yang diperbuat Gaby pada Mawar. Masih saja Mawar dengan ikhlas menolong Mawar." ucap teman sekelas Mawar.
"Kalau gue jadi Mawar, mungkin akan pura-pura takut pada ketiga kakak kelas tadi. Alasan aja, biar nggak nolong Gaby." celetuk yang lain.
"Mawar itu memang baik. Bukan hanya pakai topeng kebaikan. Dan akan dilepas saat tiba. Makanya, kita betah ngintilin Mawar." ujar Mira.
Bukan hanya murid di kelas Mawar yang heboh membicarakan kejadian barusan yang menimpa Gaby. Tapi seluruh sekolah.
Kebanyakan dari mereka memuji sikap Mawar yang mau menolong Mawar. Tanpa memikirkan akibatnya. Sebab, bisa saja ketiga murid bengal tersebut malah sakit hati pada Mawar. Dan menargetkan untuk membuat celaka Mawar.
Thomas hanya diam duduk di kursinya, dengan menajamkan indera pendengarannya. Hari ini, hari pertama bagi Thomas untuk masuk ke sekolah barunya.
Dirinya tak segera lantas bertanya tentang kejadian tersebut. Apalagi yang menjadi korban bukan Mawar, melainkan saudaranya sendiri, Gaby.
Tapi entah kenapa Thomas sama sekali tidak merasa cemas. Apalagi semua murid mengatakan sesuatu tentang Gaby, dan itu semua adalah peringai Gaby yang negatif.
Berbeda seratus persen dengan Mawar. Mereka mengatakan jika saudara barunya tersebut adalah perempuan baik yang tak pernah memikirkan apa yang namanya dendam.
"Perempuan baik." batin Thomas.
Terlihat dari Mawar yang dengan ikhlas menolong Gaby. Meski Gaby tak pernah bersikap baik pada dirinya.
Beberapa saat kemudian semua wali murid yang terkait dengan kejadian tersebut mendatangi sekolah. Termasuk Djorgi.
Djorgi langsung mengambil alih posisi Mawar begitu sampai. Dipeluknya sang putri dengan penuh kasih sayang. "Terimakasih Mawar." ujar Tuan Djorgi.
"Sama-sama om. Bukan hanya Mawar yang datang membantu, tapi ada beberapa murid lainnya lagi." jelas Mawar merendah.
Kenyataannya, mereka semua mau menolong Gaby atas desakan darinya. "Jika begitu, saya permisi dulu." pamit Mawar.
"Tunggu. Kamu di sini saja dulu. Gaby pasti masih akan membutuhkan teman." sergah kepala sekolah, menahan Mawar yang hendak meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
Mawar kembali duduk. "Baik pak." ucap Mawar.
Kepala sekolah hanya ingin berbicara dari hati ke hati dengan semuanya tanpa harus ada emosi yang meledak. Menyelesaikan masalah dengan jalan hang baik dan adil.
Tapi beliau hanya mengantisipasi. Sebab Tuan Djorgi pasti tidak akan terima dengan apa yang dilakukan ketiga murid lelaki pada Gaby.
Dan beliau melihat jika Tuan Djorgi dekat dengan Mawar. Berharap Mawar bisa meredam emosi dari Tuan Djorgi. Agar tidak sampai terjadi hal hang tidak diinginkan.
"Maaf, sebenarnya apa yang terjadi dengan putri saya?" Tuan Djorgi membelai rambut Gaby.
Beliau hanya diberitahu oleh pihak sekolah jika Gaby mengalami musibah di sekolah. Oleh karenanya, beliau diminta segera datang ke sekolah.
Segera Tuan Djorgi meninggalkan rapat yang sedang berjalan di perusahaannya. Perasaannya khawatir akan keselamatan sang putri.
"Benar, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa saya juga dipanggil untuk datang ke sekolah?" tanya salah satu orang tua murid lelaki yang melecehkan Gaby.
Kepala sekolah menghela nafas panjang. Memandangi semuanya dan tersenyum ramah. "Saya akan menceritakan semuanya. Tapi, saya ingin semuanya tetap tenang. Berpikir jernih untuk menyelesaikan semuanya." pinta kepala sekolah.
Tuan Djorgi menatap Mawar. Dirinya yakin jika Mawar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mawar hanya tersenyum, mengangguk kecil.
Kepala sekolah juga membawa nama Mawar, sebab Mawar dan beberapa murid lainnya yang membawa mereka ke sini. "Jadi begini...." kepala sekolah menceritakan apa yang terjadi. Seperti apa yang Mawar katalan padanya. Tanpa menambahi dan mengurangi cerita tersebut.
Telapak Tuan Djorgi tergenggam erat. Kedua matanya memerah menahan amarah. Bahkan, nafasnya naik turun tak beraturan mendengar cerita dari kepala sekolah. "Tidak...!!! Putra saya tidak mungkin sebejat itu...!!" seru salah satu orang tua murid lelaki tidak terima dengan apa yang dia dengar.
"Benar, pasti perempuan ini yang lebih dulu menggoda putra saya!!" timpal orang tua lainnya, menyalahkan Gaby.
"Om.. jangan terpancing." Mawar memegang lengan Tuan Djorgi, saat tangannya ingin melepaskan pelukannya pada Gaby.
Mawar bisa menebak apa yang ingin dilakukan Tuan Djorgi. "Ingat om, jangan melakukan hal yang akan om sesali. Gaby membutuhkan dukungan om. Dan satu lagi, negara kita negara hukum." lanjut Mawar.
Kepala sekolah tersenyum samar. Keputusannya untuk tetap menahan Mawar di ruangan adalah keputusan yang tepat.
Meski ada beberapa guru di ruangan tersebut, mereka sama seperi Mawar. Hanya berjaga-jaga jika terjadi keributan.
Mereka yakin, kepala sekolah mampu menyelesaikan semua ini dengan baik. "Maaf semuanya. Saya memanggil kalian ke sini untuk membicarakan semuanya dengan pikiran jernih. Bukan malah berdebat." tutur kepala sekolah.
"Mawar. Dia salah satu murid yang melihat semuanya. Bahkan dia juga yang membawa mereka semua ke sini."
"Bisa saja dia sakit hati pada putra saya. Putra saya ini banyak digilai kaum hawa. Bisa jadi dia salah satunya." sinis salah satu dari orang tua murid lelaki.
Mawar memandang kepala sekolah. Seakan dirinya meminta izin. Kepala sekolah mengangguk. "Maaf Nyonya, bukan hanya saya yang melihatnya. Tapi ada banyak murid lainnya juga." jelas Mawar.
Mawar menjeda kalimatnya, lalu memandang ketiga murid yang hanya diam dan menundukkan kepalanya. Seakan apa yang berada di bawah lebih menarik di matanya.
"Kalian adalah lelaki, apa kalian akan diam terus. Lelaki itu seharusnya berani melakukan, berani bertanggung jawab atas kelakuannya." ucap Mawar.
"Kamu, jangan memojokkan putra saya. Saya tidak terima." seru salah satu orang tua murid lelaki tersebut.
"Nyonya, di sini banyak saksi atas kejadian ini. Dan lagi, lihat keadaan korban." jelas kepala sekolah.
"Alah... jangan-jangan bapak juga berada di pihak mereka." tuduh salah satu wali murid pada kepala sekolah.
"Saya akan membawa ini ke jalur hukum." tegas Tuan Djorgi.
Kepala sekolah hanya bisa menyerahkan semua kepada wali atas Gaby. Sebab, apa yang ketiga muridnya lakukan sudah sangat keterlaluan.
"Anda harus tahu Tuan, anda sedang berhadapan dengan siapa. Suami saya adalah pejabat di kota ini. Dan dia sangat berkuasa." seru salah satu orang tua pelaku, mengintimidasi Tuan Djorgi.
"Kamu juga. Serta anda kepala sekolah. Suami saya bisa melakukan apa yang tidak bisa kalian bayangkan." ancamnya pada Mawar dam kepala sekolah.
"Nyonya, anda sudah mengancam kami. Dan itu sudah masuk pidana, jika kami melaporkan anda." ucap salah satu guru, yang sedari tadi hanya diam.
"Anda pikir saya takut. Saya, Djorgi Buwono, anda pikir akan diam saja, melihat putri saya diperlakukan seperti ini...!!" seru Tuan Djorgi merasa muak dengan kesombongan wanita di hadapannya.
Wanita itu terdiam. "Buwono. Sepertinya aku pernah mendengarnya." batinnya.
"Kami melakukannya karena disuruh." ungkap seorang murid lelaki yang sedari tadi hanya diam.
Semua terdiam. Memandang ke arahnya dengan sorot mata tajam. Perkataannya barusan seolah pernyataan jika apa yang dikatakan kepala sekolah dan Mawar benar adanya, meski secara tak langsung.
"Siapa yang menyuruh kamu?!" tanya kepala sekolah berang, sebab akan ada tersangka lainnya yang ternyata belum dia ketahui.
Beliau hanya berharap, jika yang menyuruh mereka adalah orang luar. Bukan murid di sekolah ini. "Siska." ungkapnya.
"Siska." Mawar, kepala sekolah, serta beberapa guru bergumam secara bersamaan menyebut nama tersebut.
Kepala sekolah memegang kepalanya hang berdenyut. Memandang salah satu guru di ruangan. Guru tersebut mengangguk, seakan tahu apa yang diinginkan oleh kepala sekolah.
"Jadi kamu benar-benar melakukannya?!" tanya orang tua murid lelaki pada putranya.
"aku disuruh ma." cicitnya membela diri.
Entah apa yang terjadi setelah ini dengan para murid tersebut. Apalagi terbukti jika Siska adalah dalang utama dibalik kejadian yang menimpa Gaby.
__ADS_1
"Siska." lirih Tuan Djorgi, mengeraskan rahangnya. Sedangkan Gaby masih menangis di pelukan sang papa.