
Bu Lina berada di belakang Mawar yang sedang duduk di depan meja rias. Beliau mengepang rambut Mawar dengan rapi menjadi satu. Dan dibentuk sedemikian rupa. Sehingga tampak terlihat begitu indah.
"Bu, apa ayah pernah datang ke sini?" tanya Mawar, melihat wajah sang ibu dari pantulan cermin di depannya.
Raut wajah bu Lina berubah seketika. Dan Mawar bisa melihat jelas. Lalu bu Lina tersenyum. "Iya,,,, maaf, ibu belum sempat memberitahu. Keburu nenek dan kakek kamu datang." jelasnya.
Keadaan hening sejenak. Sebelum bu Lina kembali membuka mengeluarkan suaranya kembali. "Ayah meminta kamu untuk sesekali tinggal bersama dengan mereka." jelas Lina, dengan tangan masih sibuk dengan rambut Mawar.
Mawar menatap dirinya dari pantulan cermin. "Apa ibu juga akan meninggalkan rumah ini, jika ibu menikah nanti?" tanya Mawar, bertanya topik lain.
Sontak, pertanyaan Mawar membuat Lina menghentikan gerakannya. Keduanya saling bersitatap lewat pantulan cermin. "Apa yang kamu tanyakan. Ada-ada saja." ucap Lina disertai kekehan kecil.
"Mawar hanya bertanya. Mawar juga tidak akan pernah melarang, jika ibu ingin menikah lagi. Mawar tidak akan membuat ibu selamanya terkurung bersama Mawar. Kejarlah dan raih kebahagiaan ibu." jelas Mawar dengan senyum.
Lina merasa, ada makna di setiap kata yang Mawar ucapkan. "Apa kamu tahu sesuatu?" tanya Lina dengan tatapan sendu.
Mawar membalikkan badan. Sebab, rambutnya telah selesai dikepang oleh sang ibu. "Mawar hanya ingin, ibu juga bahagia. Sama seperti ayah." Mawar menggenggam telapak tangan sang ibu, dengan posisi masih duduk.
Cup,,, Lina menangkup kedua pipi Mawar, sedikit mendongakkannya, dan mengecup pelan dahinya. "Bergantilah pakaian, ibu juga akan mengganti pakaian ibu." tutur Lina.
Mawar memandang kepergian sang ibu di balik pintu kamarnya. Lalu menghela nafas kasar, tersenyum pahit. "Mawar yakin, suatu saat ibu juga pasti akan meninggalkan Mawar, seperti ayah."
"Sekarang gue harus berdamai dengan keadaan." ucapnya tersenyum getir.
Mawar memandang sekelilingnya. Dimana, di kamar inilah dia selalu menghabiskan malam. Di kamar inilah, Mawar tumbuh. "Apa gue juga akan meninggalkan kasur itu." cicit Mawar, memandang ke arah ranjang kecil yang setiap malam menemaninya.
Berdiri, dan mengambil sebuah paper bag pemberian sang nenek. Mengganti pakaiannya dengan gaun tersebut.
Mawar berdiri di depan cermin, memakai kalung yang pernah dia beli dari hasil dirinya bekerja. Gaji yang didapat Mawar, dia gunakan untuk membayar biaya sekolah.
Jika masih sisa, dia akan menyisihkannya. Setelah terkumpul, Mawar membeli sebuah kalung. Tidak mahal, sebab Mawar juga tidak akan mampu membeli kalung dengan harga yang mahal.
Tapi Mawar bangga, dia tersenyum mengelus kalung yang melingkar di lehernya yang mukus dan jenjang. "Cantik." cicitnya yang memang sejak dulu menginginkan kalung tersebut.
Tapi karena keadaan, Mawar mengabaikan keinginannya. Dan setelah dirinya mempunyai uang sendiri, Mawar pun akhirnya membelinya.
"Meski tidak mahal, tapi gue senang." ungkap Mawar pada dirinya sendiri.
Mawar dan Bu Lina duduk di ruang tamu. Menunggu sopir yang menjemput mereka. "Mawar, apa kamu kenal dengan Gaby?" tanya sang ibu.
Mawar tersenyum. Dirinya sudah menduga, jika pertanyaan itu pasti akan terlontar dari mulut sang ibu. "Menurut ibu, Gaby itu anaknya seperti apa?" bukannya menjawab, Mawar malah balik bertanya.
Dan dari pertanyaannya, Mawar menyiratkan jika dirinya mengenal Gaby. "Dia anak yang manis. Baik dan ramah, seperti kamu. Cuma, agak sedikit manja. Mungkin karena dia dibesarkan dengan banyak uang." jelas bu Lina.
"Apa ibu menyukai Tuan Djorgi?" tanya Mawar dengan frontal.
Sontak, bu Lina langsung menatap intens ke arah sang putri. "Mengapa kamu bisa bertanya seperti itu?" tanya bu Lina.
Mawar tersenyum manis. "Hanya bertanya. Mawar lihat, Tuan Djorgi sepertinya menaruh perasaan kepada ibu."
Mawar menjeda kalimatnya. "Dan juga, ibu terlihat sangat akrab dengan putrinya." jelas Mawar.
Bu Lina gugup. Dan itu jelas Mawar temukan di raut wajah sang ibu. "Apa Gaby mengatakan jika kita akrab?"
"Heh... eee,,, tidak. Gaby hanya bilang, jika kalian saling kenal, karena kelas kalian yang berbeda." ucap bu Lina, mengatakan seperti apa yang Gaby katakan.
Beberapa saat kemudian, mobil yang menjemput mereka datang. Bagi Mawar, ini pertama kalinya dia memakai mobil semewah ini. Tidak dengan sang ibu.
"Ternyata mereka cukup kaya." ucap Mawar dalam hati. Dulu, Mawar mendambakan untuk memiliki kakek dan nenek. Tapi entah, kenapa sekarang rasa itu tidak menggebu seperti dulu.
Apalagi Mawar mengetahui dari dunia internet, jika kekayaan yang dimiliki sang kakek masuk ke dalam sepuluh besar orang terkaya di negara ini.
"Apa kamu suka?" tanya Lina.
Mawar tersenyum dan mengangguk. "Suka." ucap Mawar di bibir, entah dengan hatinya.
Keduanya berhenti di depan restoran mewah. Nampak sepi. Mawar dapat melihat dari area parkir. Hanya ada tiga mobil yang terparkir di sana.
Mawar bisa menebak. Jika restoran ini adalah milik sang kakek. "Kakek kamu mengatakan, jika dia mengundang beberapa temannya." jelas Lina. Keduanya berjalan beriringan.
"Itu mereka." ucap Lina, dengan pandangan menuju ke sebuah meja besar berbentuk oval. Semua mata mengarah di mana Mawar dan sang ibu berjalan.
Lina menyunggingkan senyum di bibir. Tampak.ekspresi wajahnya sangat biasa. Mawar bisa menebak, jika sang ibu tahu, siapa saja tamu dari sang kakek.
Sementara Mawar juga memasang senyum manisnya, melihat siapa yang duduk di meja tersebut.
__ADS_1
Dari kursinya Gaby menahan nafas. Dirinya tidak menyangka, jika anak dan cucu yang dimaksud Tuan Tomi adalah Mawar dan ibunya. "Bagaimana bisa.... Bagaimana bisa, Mawar cucu mereka." ucap Gaby dalam hati.
Tapi, segera Gaby merubah ekspresinya. Dirinya tidak ingin ada yang menyadarinya. Tapi tetap saja ada yang melihatnya. Tuan Tomi sendiri tanpa sengaja melihat ekspresi tak suka yang ditampilkan Gaby. Juga dengan Thomas.
Tamu yang diundang Tuan Tomi, adalah keluarga sahabat lamanya. Yakni keluarga Tuan Wiryo. Dan beliau mengajak serta anak cucunya.
Mulai dari sang istri, Djorgi dan Gaby. Tentunya pasangan pengantin baru, Caty dan Wiryo. Serta cucu mereka. Thomas.
Caty menyenggol lengan Wiryo, yang nampak terpesona dengan penampilan Lina. Segera Wiryo bersikap biasa, saat mendapat pelototan dari sang istri.
Sedangkan Djorgi, jangan tanyakan lagi. Dia memandang Lina dengan tatapan memuja. Sama sekali tak berkedip.
"Perkenalkan, dia putri kami. Lina. Dan yang disebelahnya, cucu kami. Putri dari Lina. Mawar." Tuan Tomi dan Nyonya Tanti berdiri.
Namun sayangnya, hanya ada satu kursi kosong di sebelah Tuan Tomi. Sebab, di sebelah Nyonya Tanti, sudah ditempati oleh Gaby.
Gaby segera membuka mulutnya. "Mawar, silahkan. Kamu bisa duduk di sini. Biar saya pindah." ucap Gaby dengan manis.
Mawar membalasnya dengan senyum manisnya. "Tidak perlu. Masih banyak kursi yang kosong. Duduklah dengan nyaman di tempat kamu." ucap Mawar.
Sebelum duduk, Mawar menyalami semua orang yang ada di meja. Lalu duduk di dekat Thomas.
Thomas tersenyum miring melihat apa yang Gaby lakukan. "Gaby, kalian saling kenal?" tanya Nyonya Tanti.
"Iya nek, kami sekolah di tempat yang sama." Gaby menjelaskan dengan ramah, dan senyum di bibir.
"Gue nggak percaya. Ternyata elo cucu dari Tuan Tomi." ujar Thomas yang di balas senyum oleh Mawar.
Thomas mencuri pandang ke arah Mawar. "Sungguh, cantik sekali dia." batin Thomas, memuji kecantikan Mawar.
"Mawar, berkunjunglah ke rumah kami. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk kamu." ujar Nyonya Gendis, mama dari Caty.
"Benar, kamu juga cucu kami. Datanglah. Kami akan senang." timpal Tuan Sapto.
"Baik Tuan, Nyonya. Jika ada waktu, Mawar akan berkunjung." sahut Mawar.
"Jangan panggil seperti itu. Kamu sama seperti Thomas dan Gaby. Panggil kami oma dan opa." pinta Nyonya Gendis.
"Baik. Oma,, opa.." sahut Mawar.
Sedangkan Wiryo hanya diam. Dirinya seolah tak bisa berkutik, dihadapan kedua orang tua Lina. Bahkan, memandang wajah keduanya saja, Wiryo merasa tak sanggup dan malu.
"Apa kamu juga mengundangnya?" tanya Tuan Sapto.
"Pastinya. Siapa lagi sahabatku, selain kalian berdua." sahut Tuan Tomi.
"Semoga dia datang. Sudah lama aku tidak melihatnya." cicit Tuan Sapto.
Mawar melihat, Gaby berbicara cukup akrab dengan sang nenek serta sang ibu. Tapi Mawar sama sekali tidak merasa iri atau merasa kesal.
"Lihat, Gaby sangat akrab dengan ibu kamu." tukas Thomas.
"Lebih baik seperti itu. Dari pada bertengkar." sahut Mawar dengan santai.
Sesekali Gaby melirik ke arah Mawar yang terlihat sibuk dengan ponselnya. "Mawar, bukan hanya ibu elo yang akan gue ambil. Tapi kakek dan nenek elo." batin Gaby.
Gaby yakin, dirinya akan dengan mudah mendekati Tuan Tomi dan Nyonya Gendis. Sebab, beberapa kali mereka pernah bertemu.
Meski saat itu Gaby memasang wajah datar, tapi tidak untuk sekarang. Gaby berusaha mencuri perhatian dari keduanya dengan sikap ramahnya.
Dan Mawar, sama sekali tidak terusik dengan apa yang dilakukan Gaby. Dirinya tetap fokus ke ponselnya, sembari tersenyum.
"Itu dia, mereka datang." tukas Tuan Tomi, memandang ke arah pintu masuk.
Ada empat orang berjalan ake meja mereka. Untuk kedua kalinya, Gaby terkejut melihat siapa yang datang. "Kak Jerome." ucap Gaby, terdengar oleh Mawar.
Mawar hanya tersenyum miring. Dan memilih untuk membalas pesan-pesan dari kedua sahabatnya. Entah mengapa, Mawar merasa tak nyaman duduk di sini.
Tuan Tomi dan Tuan Sapto berdiri. Mereka bergantian memeluk Tuan Dewano. Ketiganya tertawa pelan. "Duduklah." ujar Tuan Tomi.
"Mana cucu mu?" tanya Tuan Dewano langsung.
Mawar berdiri, sebelum Tuan Tomi memanggil namanya. "Kakek." cicit Mawar dengan nada manja.
"Cucu kakek." Tuan Dewano memeluk Mawar dengan erat. Beberapa kali dia mencium gemas pipi Mawar.
__ADS_1
"Kangen." cicit Tuan Dewano. Mawar mengangguk pelan.
"Khemm...." Jerome berdehem.
Tuan Dewano tertawa lepas melihat ekspresi kesal dari sang cucu. "Astaga, apa kamu cemburu dengan lelaki tua seperti aku." goda Tuan Dewano.
Jerome hanya melengos kesal. Dirinya saja kesulitan mencium Mawar. Sang kakek malah dengan mudah mendapatkannya.
Jerome tertegun sejenak, melihat penampilan Mawar yang membuat jantungnya berdebar lebih kencang.
"Berusahalah anak muda." goda Tuan Dewano disertai kekehan kecil, membuyarkan lamunan Jerome.
Nyonya Mesya terpaku melihat siapa yang berdiri di depannya. "Mawar. Cucu Tuan Tomi." batinnya, tidak percaya.
Nyonya Mesya menatap ke arah Jerome. Dirinya mengingat beberapa menit yang lalu. Dengan gampang dan mudahnya, Jerome mengikuti ajakan mereka untuk makan malam.
Bahkan, saat mertuanya mengatakan akan menjodohkannya dengan cucu dari Tuan Tomi, Jerome malah mengiyakan.
Ternyata.
Awalnya, Nyonya Mesya benar-benar tidak tahu, jika cucu dari Tuan Tomi adalah Mawar. Dia merasa sangat senang, saat Jerome dengan santai mengiyakan sang kakek yang akan menjodohkan Jerome.
Nyonya Mesya mengira Jerome sudah melupakan Mawar. Juga dengan Tuan Dewano. Nyonya Mesya menebak jika kedua lelaki tersebut telah sadar, jika Mawar, perempuan miskin itu, tak pantas menjadi bagian dari keluarga mereka.
"Nyonya Mesya." sapa Mawar dengan ramah.
"Ahhh,,, iya." segera Nyonya Mesya tersenyum menatap Mawar.
Sedangkan Gaby, mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. "Pasti setelah ini, tante Mesya akan merestui kak Jerome dan Mawar. Benar-benar wanita matre." omel Gaby dalam hati merasa tak rela.
Tak lupa, Mawar juga menyalami Tuan Adipavi. "Panggil om dan tante. Kami bukan majikan kamu." pinta Tuan Adipavi. Mawar mengangguk dan tersenyum.
Interaksi antara Mawar dengan Tuan Dewano, membuat Tuan Tomi merasa iri. Terlihat jelas, Mawar begitu dekat dengan sahabatnya tersebut.
"Jangan iri kamu Tomi. Asal kamu tahu, aku harus menjadi orang tak berdaya untuk mendekati cucumu ini." ucap Tuan Dewano disertai tawa ringan.
Tuan Tomi tersenyum. "Siapa yang iri. Dalam darahnya mengalir darahku. Harusnya, kamu yang iri." celetuk Tuan Tomi.
Jerome memanggil Mawar, dan menyuruhnya duduk di kursi dekatnya. Thomas hanya melengos, sebab kursi yang tadinya di duduki Mawar, kini ditempati oleh Jerome.
Tak lama, para pelayan datang dengan membawa berbagai makanan serta minuman yang mereka taruh di atas meja.
"Silahkan." ucap Tuan Tomi pada semuanya.
Thomas yang awalnya merasa senang, kini merasa kesal. Bagaimana tidak, dirinya tak bisa melihat wajah cantik Mawar, karena terhalang tubuh besar milik Jerome.
Ingin sekali Thomas berpindah tempat duduk, tapi tak mungkin dia lakukan. Pasti semua orang akan tahu alasannya, begitu juga dengan Mawar.
Juga dengan Gaby. Dia tidak seperti tadi, yang tenang dan terlihat nyaman. Kini, Gaby terus memperhatikan interaksi Mawar dan Jerome.
Apalagi saat Jerome memotong daging stik miliknya, lalu diberikan pada Mawar. Semua orang menatap mereka. Melihat bagaiman Jerome memperlakukan Mawar dengan penuh kasih sayang.
"Mawar bukan anak kecil." sungut Mawar. Tentu saja Mawar merasa malu. Apalagi, ada banyak orang disekitar mereka.
Bukannya marah, Jerome malah tertawa kecil. "Sudah, makan saja." tukas Jerome. Meski sempat merasa kesal pada Jerome, tapi Mawar tetap memakan apa yang Jerome berikan.
"Lebih enak bukan?" tanya Jerome.
"Sama saja." sahut Mawar.
"Masa, coba aku minta." Jerome membuka mulutnya di depan Mawar. Dengan polosnya, Mawar menyuapi Jerome.
Tuan Adipavi serta Tuan Dewano tersenyum Mawar yang polos, begitu mudah ditipu Jerome. "Mawar sayang, Jerome itu modus. Semua daging di sini rasanya sama." tukas Tuan Dewano.
Mawar terdiam sesaat. Memejamkan mata sebentar, lalu menatap kesal ke arah Jerome yang tengah memamerkan deretan giginya yang rapi dan bersih pada Mawar.
"Kakek berbohong, kamu coba makan milikku." Jerome menyuapi Mawar.
"Tidak perlu. Makan punya sendiri-sendiri." tolak Mawar.
Jerome menatap ke arah sang kakek dengan kesal. Sedangkan Tuan Dewano malah tertawa puas. "Jangan memandang kakek seperti itu. Kakek hanya ingin berkata jujur." ujar Tuan Dewano membela diri.
Sedangkan Nyonya Mesya memang merasa sang putra akan berubah drastis saat bersama dengan Mawar. Tak ada lagi Jerome yang dingin dengan ekspresi datarnya.
Yang ada adalah Jerome yang murah senyum, dan bersikap konyol. Sedangkan Gaby, menahan emosinya, sebisa mungkin dia tetap menampilkan senyum di bibir.
__ADS_1
"Jika memang Mawar cucu Tuan Tomi, aku tidak perlu khawatir. Malah semakin bagus." ucap Nyonya Mesya dalam hati.
Sedangkan Tuan Tomi juga merasa senang, melihat kedekatan Mawar dan Jerome. Menurut beliau, Jerome adalah lelaki yang tepat untuk Mawar.