MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 109


__ADS_3

Setelah sarapan di apartemen Jerome, Mawar kembali ke rumah terlebih dahulu. "Kamu yakin?" tanya Jerome.


"Iya kak. Mama juga pasti sudah berangkat kerja."


Padahal Jerome ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama Mawar. Tapi Jerome tak bisa memaksa Mawar.


Jerome hanya ingin Mawar merasa nyaman berada di sampingnya. Jerome akan menunjukkan pada Mawar jika dirinya bukan tipe lelaki egois. "Baiklah." Jerome mengantarkan Mawar pulang.


Di perjalanan, suasana di dalam mobil sunyi. Tak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun. Baik Mawar maupun Jerome.


Jika Mawar memandang lurus ke depan. Berbeda dengan Jerome. Dia beberapa kali melirik ke arah di mana Mawar duduk. Yakni di kursi sebelahnya.


"Apa Mawar marah, karena kejadian tadi pagi?" tanya Jerome dalam hatinya. Mencoba menerka apa yang terjadi dengan Mawar.


Padahal Mawar sama sekali tidak memikirkan tentang kejadian di mana Jerome tiba-tiba mencium dirinya. Mawar malah memikirkan Amel.


"Mawar.."


"Kak Jerome.."


Keduanya bersamaan saling memanggil. Sontak Jerome dan Mawar saling pandang, meski sekilas. Keduanya tertawa, merasa lucu. "Ada apa?" tanya Jerome.


"Nggak. Kak Jerome, kenapa panggil Mawar?" bukannya mengatakan apa yang ingin dia katakan. Mawar malah bertanya pada Jerome.


"Nggak penting juga sih. Kamu, ada yang ingin kamu sampaikan?"


"Kak Jerome kenal mbak Amel. Teman kerja Mawar di butik?"


Jerome mengangguk. "Ya, dia salah satu anggota kelompok yang Luck serang semalam." jelas Jerome.


Jerome yakin, jika Mawar sebenarnya mengetahui hal tersebut. Namun tidak memberitahukan pada dirinya. "Kak Jerome tahu?" tanya Mawar terkejut.


Bagaimana bisa. Dari mana Jerome mengetahuinya. Tentu saja Mawar merasa penasaran. Mawar memandang ke arah Jerome, menggerakkan kedua kelopak matanya dengan lucu.


Jerome tersenyum. "Kenapa? Penasaran, dari mana aku tahu?"


Mawar mengangguk cepat. "Iya."


"Dari Luck." jelas Jerome singkat. Tak ingin lagi menjelaskan secara detail. Sebab semua yang akan diucapkan pasti adalah sebuah kebohongan.


Jerome membiarkan Mawar berpikir sendiri. Meski apa yang ada dipikiran Mawar semuanya tidak benar. Jerome sampai kapan pun tidak ingin jika Mawar mengetahui siapa dirinya.


"Lalu kenapa kak Jerome diam saja?"


"Kamu sendiri, kenapa diam. Malah menyembunyikan dari aku?" Jerome balik bertanya, dan malah memojokkan Mawar.


Mawar menipiskan bibirnya. Menghela nafas dengan kasar. "Selama ini, mbak Amel bersikap baik sama Mawar. Bukan hanya dengan Mawar, tapi dengan yang lainnya." Mawar menjeda kalimatnya.


Sekilas bayangan Amel pernah menyelamatkannya dari fitnah Dona, hingga Amel berkelahi dengan teman Raka terlintas di benaknya.


"Mbak Amel juga selalu membantu Mawar. Memperlakukan Mawar seperti adiknya. Lagi pula, Mawar juga nggak ada urusan sama kelompok itu. Berarti Mawar juga nggak ada masalah sama mbak Amel." cicit Mawar.

__ADS_1


Ponsel Mawar berdering, menandakan seseorang sedang menghubungi dirinya. "Siapa?" tanya Jerome, saat Mawar tidak segera menjawab panggilan telepon dari seseorang yang Jerome tidak tahu siapa dia.


"Selly." jelas Mawar. "Ada apa ya?" segera Mawar mengangkat panggilan telepon dari Selly.


"Ada apa Sell..?" tanya Mawar pada Selly di seberang telepon.


"Iya, ini aku sedang dalam perjalanan pulang." ucap Mawar, sebelum menutup percakapannya lewat ponsel.


"Kenapa?" tanya Jerome pada Mawar, setelah Mawar mengembalikan ponselnya ke dalam saku.


"Selly ada di rumah. Bersama Mira."


"Ooo...."


"Kak..." panggil Mawar.


"Kenapa?"


"Nanti Mawar buat alasan apa?" tanya Mawar bingung.


Jerome terdiam, seraya memikirkan alasan apa yang akan mereka katakan pada Mira dan Selly. Yang pastinya mereka berdua akan bertanya mengenai Mawar yang datang bersama dengan Jerome.


"Apa Mawar turun di jalan saja. Lalu Mawar akan naik angkutan umum." saran Mawar.


"Nggak,,, nggakk... Nggak boleh." tegas Jerome, masih khawatir, jika terjadi sesuatu sama Mawar.


"Terus bagaimana?" tanya Mawar cemas.


"Seperti kamu berbohong sama ibu saja. Katakan kamu menginap di tempat kos teman kerja kamu. Lalu dijalan kita bertemu. Beres." saran Jerome.


"Tidak apa-apa. Semua kebohongan kamu demi kebaikan. Jangan terlalu dipikirkan. Lagian, siapa juga yang mau berbohong." Jerome mencoba untuk menegangkan Mawar yang merasa bersalah.


Benar. Lagi pula, tidak mungkin Mawar mengatakan yang sebenarnya. Pasti mereka semua akan semakin heboh dam mengkhawatirkan Mawar.


Seperti dugaan Mawar


"Minum dulu." Mawar menurunkan tiga gelas air minum di atas meja. Untuk Jerome, Mira, dan Selly.


Mira dan Selly memandang intens ke arah Jerome dan Mawar secara bergantian. "Iya, akan aku jelaskan. Kalian menatap ku seperti seorang tersangka kriminal." ujar Mawar disertai kekehan kecil.


......................


"Kenapa dimatikan. Dan tadi, seperti gambar kulit orang." gumam Nyonya Utami. Memandang ponsel milik sang suami.


Tuan Joko sedang berada di kamar mandi, saat ponsel miliknya berbunyi. Nyonya Utami yang baru masuk ke dalam kamar, menatap ke arah ponsel tersebut.


Takut jika sang penelpon adalah orang penting, dan juga mempunyai kepentingan dengan sang suami, Nyonya Utami memutuskan untuk mengangkat panggilan video tersebut.


Di mana panggilan video ke ponsel milik sang suami, tapi tanpa ada nama di layarnya. Hanya nomor yang tertera tanpa ID.


"Tapi kenapa di matikan." gumam Nyonya Utami, meletakkan kembali ponsel sang suami di atas meja seperti semula.

__ADS_1


Pikiran Nyonya Utami masih mengingat gambar sekilas yang dia lihat di layar ponsel sang suami. "Mungkin aku salah lihat." gumamnya.


Terdengar suara pintu terbuka dari dalam kamar mandi. Nyonya Utami tersenyum hangat pada sang suami. "Pasti papa lelah."


Tuan Joko mengecup lembut kening sang istri. "Tumben nggak ke butik?"


"Ke butik, tapi nanti siang." Nyonya Utami menjeda ucapannya. "Ada yang bisa mama bantu?"


"Baiklah, ambilkan pakaian ganti untuk papa." tukas Tuan Joko, yang masih memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya.


Nyonya Utami berjalan ke ruang ganti. Mengambil apa yang dibutuhkan oleh sang suami. Sepeninggal sang istri, Tuan Joko melihat ke arah di mana dia meletakkan ponsel.


Beliau tahu jika ada yang baru saja menghubungi dirinya. Dan dia dapat menebak. Siapa si penelpon tersebut.


Tapi Tuan Joko acuh. Seolah dirinya tidak mengetahui apapun. "Ini" Nyonya Utami memberikan pakaian ganti pada sang suami.


Dengan santai, Tuan Joko melepas handuk di depan Nyonya Utami "Pa, tadi ada yang telepon?"


"Siapa?" tanya Tuan Joko dengan tangan sibuk memakai pakaian.


Nyonya Utami mengangkat kedua bahunya. Tanda jika juga tidak tahu. "Nggak ada namanya. Mama tadi sempat tanya. Tapi nggak ada jawaban. Ehh,,, malah dimatikan." ucap Nyonya Utami.


"Biarkan saja. Jika penting pasti akan telepon lagi."


"Nggak papa telpon balik?"


"Nggak perlu ma. Lagi pula papa capek. Mau tidur saja." Tuan Joko merebahkan badannya di atas ranjang besar dan empuk.


"Papa nggak makan dulu?"


"Nggak. Tadi sudah sarapan di pesawat." ucapnya bohong. "Bangunkan papa saat makan siang saja." lanjutnya.


Cup...... Nyonya Utami mencium pipi sang suami. "Ya sudah, papa istirahat dulu. Mama keluar."


Capek. Pastilah, semalam bermain kuda-kudaan dengan Nyonya Puri hingga tak kenal waktu. Bahkan, pagi hari sebelum berpisah, keduanya juga menyempatkan diri untuk mengulang lagi apa gang mereka lakukan semalam.


Tuan Joko memejamkan mata, dengan pikiran tertuju pada Nyonya Puri. "Seandainya kamu ada di sini. Pasti sekarang kita tidur bersama lagi." ucapnya, mengambil guling dan memeluknya dengan erat.


Di bawah, Nyonya Utami sedang mengganti bunga yang dia taruh di dalam vas. "Nyonya, nyonya baik-baik saja?" tanya salah satu pembantu di rumah Tuan Joko.


Dia melihat sang majikan seperti sedang melamun. Padahal, pagi tadi beliau masih bersemangat saat membuat sarapan bersama pembantu yang lain di dapur.


Nyonya Utami tersenyum. "Baik. Hanya sedikit lelah."


"Lebih baik Nyonya istirahat. Biar saya yang meneruskan pekerjaan ini." saran sang pembantu.


"Baiklah. Terimakasih." cicit Nyonya Utami.


Nyonya Utami pergi ke ruangan di mana biasanya beliau melakukan yoga. "Siapa tahu pikiranku bisa jernih." gumamnya.


Masih memikirkan gambar yang ada di layar ponsel sang suami. "Aku tidak salah lihat." ucapnya, melihat ke arah dadanya sendiri.

__ADS_1


"Astaga. Jangan berpikiran yang macam-macam Utami. Jika suamimu selingkuh, pasti dia akan membawa ponselnya kemana-mana. Bahkan kamu juga tahu apa kata sandinya."


Nyonya Utami menghalau pikiran buruknya tentang sang suami.


__ADS_2