MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 140


__ADS_3

Acara terus berlanjut, meskipun sempat terjadi sebuah insiden yang membuat Gaby malu, termasuk pihak sekolah.


Dengan begitu, pihak sekolah langsung meminta maaf atas kejadian yang tak terduga tersebut, dan melanjutkan acara. Mereka beralasan ada kesalahan teknis sehingga terjadi insiden tersebut.


Beberapa murid berprestasi juga dipanggil ke depan. Untuk naik ke atas panggung. Dan mendapatkan penghargaan.


Nilai dengan hasil terbaik dan juga tertinggi untuk nilai ujian terakhir kelas tiga di raih oleh Jerome. Dengan bangga, Tuan Adipavi serta Nyonya Mesya maju ke depan. Menemani sang putra.


Sementara, Mawar juga dipanggil karena mendapatkan nilai ujian yang sempurna dan tertinggi di sekolah.


Namun, karena Mawar maupun wali tidak ada, Jerome akhirnya maju untuk menggantikan Mawar. Dia beralasan jika Mawar sedang tidak enak badan. Sehingga berhalangan hadir.


"Pa, ternyata Mawar selain cantik, dia juga pandai. Pantas jika bersanding dengan Jerome." cicit Nyonya Mesya dengan senang.


Sang suami mengangguk pelan. Apa yang dikatakan sang istri memang benar adanya. Jerome dan Mawar. Akan menjadi pasangan serasi bila disandingkan. Bukan hanya parasnya saja. Juga keduanya mempunyai kecerdasan yang hampir sama.


Juga beberapa siswa dan siswi lain yang mempunyai prestasi, satu persatu dipanggil ke depan secara bergantian, beserta wali murid mereka.


Masih di tempat duduknya, Dona menggenggam erat telapak tangannya. Apalagi, telinganya mendengar jelas kasak kusuk keserasian Mawar dan Jerome yang diungkapkan murid lainnya.


Sudah gagal membuat malu Mawar. Dan kini dirinya harus mendengar ucapan dari para murid yang sama sekali tidak ingin dia dengar.


Sedangkan Gaby keluar dari ruang tempatnya istirahat dengan wajah masam yang menakutkan. Para murid hanya berani berbisik, saat melihatnya. Tanpa berani menegur atau menyapa.


Tepat Gaby keluar, acara juga sudah selesai. Segera Gaby memasang senyum di bibirnya, melihat Jerome berjalan bersama kedua orang tuanya. "Tante. Om." sapa Gaby.


Tuan Adipavi dan Nyonya Mesya tersenyum ramah. "Selamat ya kak, tadi Gaby dengar kak Jerome mendapat nilai terbaik." tutur Gaby dengan ramah.


Jerome mengangguk malas. Gaby melihat Jerome membawa dua buah map tebal dengan warna berbeda. "Itu milik siapa?"


"Mawar." sahut Jerome cuek.


Dari belakang Jerome, Tuan Djorgi mendekat. Di tangannya terdapat map yang sama seperti yang dibawa Jerome. "Papa. Bagaimana, pasti nilai Gaby baguskan?" tanya Gaby dengan percaya diri.


Gaby merasa dirinya sudah belajar dengan baik dan rajin. Dan Gaby yakin, jika dia akan bisa mengalahkan Mawar. Apalagi Mawar tidak hanya fokus belajar, sebab Mawar juga harus bekerja.


Diambilnya map yang dibawa sang papa. Dan langsung dibukanya. Gaby tersenyum, nilainya memang jauh lebih banyak dari pada nilai yang didapat pada semester satu.


"Benarkan. Nilai Gaby pasti bagus." cicitnya memuji diri sendiri di hadapan orang lain. Bermaksud memberitahu pada kedua orang Jerome, jika dirinya juga memiliki otak yang cerdas.


"Kak, berapa nilai Mawar?" tanyanya penasaran.


"Seperti biasa." tukas Jerome.


"Pasti nilai Mawar merosot. Diakan sibuk bekerja." sahutnya, ingin membuat kedua orang tua Jerome lebih respek padanya. Dan menjatuhkan nama Mawar.


Jerome yang mulai muak dengan sikap Gaby, langsung membukanya. Menunjukkan pada Gaby. "Gue rasa nggak ada yang bisa mendapatkan nilai di atas nilai Mawar. Bahkan gue sekalipun." ucap Jerome tersenyum miring.


Glek... Gaby menelan salivanya dengan sulit. Dirinya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Benar. Mawar mendapat nilai yang sempurna." ujar Nyonya Mesya.


Gaby tersenyum kaku. Tentu saja dia tidak menyangka. Mawar masih bisa mendapatkan nilai yang sempurna, padahal dia harus membagi waktu, tenaga, bahkan pikiran.


"Dia memang anak yang hebat. Tetap menjadi yang terbaik, dalam keadaan apapun." tukas Tuan Adipavi.


Gaby tersenyum kecut sekaligus merasa malu untuk kedua kalinya. Nilainya sama sekali tidak bisa di bandingkan dengan nilai milik Mawar. "Memang Mawar kemana kak?"


"Mawar ada kepentingan." sahut Jerome seadanya.


"Tuan Joko." panggil Nyonya Mesya, saat melihat papa dari Dona melintas di depannya, tanpa berniat menghentikan langkahnya.


Tuan Joko yang memang sengaja tidak menyapa mereka, berniat menghindar, sekarang malah menghampiri mereka karena Nyonya Mesya memanggilnya.


"Bagaimana dengan nilai Dona?" tanya Nyonya Mesya antusias. Meski sekarang dirinya menyukai Mawar, tetap saja hubungan Nyenyak Mesya dengan Dona tetap terjalin baik.


"Seperti biasa. Dona tidak seperti Jerome. Tapi yang terpenting dia lulus." jelas Tuan Joko.


Jerome tersenyum miring. Dirinya bisa menebak berapa nilai yang diperoleh Dona. "Pasti dia juru kuncinya." tebak Jerome dalam hati.


Bisa dilihat dari ekspresinya, jika Tuan Joko hanya tersenyum untuk menutupi rasa kecewanya terhadap Dona.


Ponsel Jerome berbunyi. Dilihatnya, Luck menghubungi dirinya. Segera Jerome mengangkatnya. Jerome yakin jika Luck mengabarinya tentang keberadaan Mawar.


"Halo, bagaimana? Elo sudah menemukan Mawar?" tanya Jerome pada Luck diseberang ponsel.


Jerome mengerutkan keningnya. Menatap Tuan Joko. "Baik. Gue akan ke sana." Jerome lantas segera menutup sambungan teleponnya dengan Luck.


"Apa Mawar baik-baik saja?" tanya Nyonya Mesya.


Jerome mengangguk. "Memang Mawar berada di mana?" tanya Gaby.


Jerome menatap tajam ke arah Tuan Joko. "Mawar, dia sekarang berada di rumah Nyonya Utami." sahut Jerome.


Hening. Bahkan Dona yang hendak melangkahkan kakinya menghampiri sang papa juga menghentikan langkahnya. Semuanya pasti bertanya-tanya, untuk apa Mawar berada di sana.


Padahal seharusnya dia berada di sini. Bersama murid lainnya memainkan drama yang beberapa kali mereka latihan bersama.


"Pa, ma, Jerome mau menjemput Mawar." pamit Jerome.


"Hati-hati." tukas Tuan Adipavi.


Jerome memberikan dua map tersebut kepada sang mama. Lalu segera pergi ke rumah Nyonya Utami. "Mawar, ada di rumah gue. Ngapain dia di sana?" gumam Dona heran.


Mawar tidak datang ke sekolah. Dan malah berada di rumahnya. Kenapa? Ada apa?


Sedangkan Tuan Tomi beserta sang istri dan juga Lina, melajukan kendaraan mereka menuju ke kediaman Tuan Joko. Tentu saja untuk menemui Mawar yang berada di sana.


Sedangkan Mira dan Selly, beserta Tian dan Luck masih berada di dalam mobil. Mereka tidak masuk ke dalam rumah Dona. Melainkan berhenti di depan rumahnya.

__ADS_1


"Kenapa kita tidak masuk saja ke dalam?" tanya Mira khawatir.


"Kita tunggu Jerome saja. Gue yakin, Mawar baik-baik saja." sahut Selly. Sebab Dona memang tidak berada di rumah.


"Benar kata Selly. Kita tunggu Jerome saja." timpal Tian.


"Lihat, gue baru saja diberitahu jika Gaby menggantikan peran Mawar. Tapi pertunjukkan gagal." ujar Selly, mendapat pesan dari teman sekelasnya.


"Bagaimana bisa? Apa Gaby nggak bisa akting dengan baik? Bukankah dia ratu drama?" cecar Mira.


Selly memberikan ponselnya kepada Mira. "Baca." pinta Selly.


Mira segera mengambil ponsel Selly, dan membaca pesan dari temannya. "Woww... pasti Gaby sangat malu." ucap Mira tertawa puas.


"Ada apa?" tanya Luck penasaran.


Mira memberikan ponsel Selly pada Luck. Sehingga Luck dan Tian membacanya bersamaan. "Bagaimana bisa. Pasti ada yang menyabotase." tebak Tian.


"Masa bodo. Yang terpenting bukan Mawar. Tapi Gaby." celetuk Mira.


"Dan gue tahu, siapa biang keladinya." timpal Selly.


"Dona." ucap keempatnya bersamaan.


Mawar duduk di ruang tamu. Menunggu Nyonya Utami yang sedang dipanggilkan oleh pembantunya. Sebenarnya, Mawar ingin menitipkan tasnya pada pembantu di rumah Nyonya Utami.


Hanya saja, sang pembantu mengatakan jika lebih baik Mawar memberikannya sendiri pada Nyonya Utami. Mau tak mau, Mawar akhirnya masuk ke dalam rumah. Dan menunggu beliau.


"Maaf, Nona mau minum apa?" tanya seorang pembantu, menghampiri Mawar.


"Terimakasih bik, tidak perlu. Saya juga hanya sebentar berada di sini. Mau mengembalikan ini." Mawar menunjuk ke samping tempat duduknya, dimana ada sebuah tas di sana.


Sang pembantu tersenyum simpul. Apalagi Mawar juga memakai seragam seperti anak majikannya. Yang berarti Mawar juga hendak berangkat ke sekolah. Itulah kenapa Mawar menolak di buatkan air minum.


"Cantik. Baik lagi. Jika saja Nona Dona seperti dia." batinnya, membandingkan Mawar dengan putri dari majikan mereka.


"Maaf bik, jika boleh tanya."


"Silahkan Non. Ada apa?"


"Kok sepi, memangnya kak Dami sama kak Dona sudah berangkat?" tanya Mawar.


"Sudah Non, sekitar lima menit sebelum Nona datang." jelasnya.


Mawar mengangguk pelan. "Jika Tuan Joko?"


Sang pembantu tersenyum canggung. Terlihat dia seperti enggan menjawab pertanyaan Mawar yang satu ini.


Belum sempat dia menjawab, seorang pembantu yang memanggilkan Nyonya Utami berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa. "Ada apa?" tanya rekan sesama pembantu yang bekerja di rumah Nyonya Utami.


Mawar langsung berdiri. "Bagaimana bisa?" tanya Mawar.


"Saya tidak tahu Non. Saya panggil-panggil, tapi tidak ada jawaban dari dalam."


"Kenapa kamu tidak buka saja pintunya." saran pembantu lain.


"Pintunya dikunci dari dalam."


Perasaan Mawar merasa ada yang janggal. Terlebih, Nyonya Utami baru saja mengalami masalah besar dalam hidupnya. "Antar saya ke kamar Bu Utami." pinta Mawar.


Segera mereka menuju ke kamar Nyonya Utami, sementara seorang pembantu mengambil kunci cadangan untuk membuka pintu kamar beliau.


"Bu,,,,!! Bu Utami,,, Buka bu,,,!!" seru Mawar, sembari menggedor pintu kamar Nyonya Utami.


"Ini Non." seorang pembantu yang baru sampai, memberikan kunci cadangan pada Mawar.


Tanpa menunggu lama, Mawar membuka pintu daei luar. "Bu Utami...!" seru Mawar dengan perasaan cemas.


Mawar hanya takut, terjadi sesuatu pada perempuan yang selama ini memperlakukannya dengan baik. Mau menerimanya bekerja di butik miliknya.


Semua segera bergegas mencari bu Utami. Tempat pertama yang dituju Mawar adalah kamar mandi. "Nona... Nyonya ada di sini...!!" teriak salah satu pembantu, menemukan sang majikan tergeletak di dibawah di ruang ganti.


Segera Mawar dan yang lain bergegas ke arah sumber suara. Mereka bersama-sama menggotong tubuh Nyonya Utami ke atas ranjang.


Nyonya Utami tidak sepenuhnya pingsan. Beliau bahkan masih bisa melihat Mawar. "Mawar." lirihnya.


"Iya bu, ini Mawar." sahut Mawar dengan lembut.


"Bik, kita bawa bu Utami ke rumah sakit saja." saran Mawar.


Nyonya Utami memegang lengan Mawar, sembari menggeleng lemah. "Bu,,, ibu harus di periksa." bujuk Mawar, tapi Nyonya Utami malah menangis dan menggeleng kembali.


"Nona, bagaimana jika kita menelpon dokter pribadi keluarga saja." saran sang pembantu.


Lagi-lagi Nyonya Utami menggeleng. "Maaf bu, Mawar tidak bisa patuh untuk kali ini. Keadaan ini lebih penting." tegas Mawar.


Mawar menatap ke arah sang pembantu. "Lakukan bik. Sekalian telepon kak Dami." pinta Mawar.


"Baik Non."


Mawar mengelus lengan Nyonya Utami dengan lembut. "Semua akan baik-baik saja bu,,, Ibu jangan khawatir." tangan Mawar terulur menghapus air mata dari Nyonya Utami.


Dua pembantu yang masih berdiri di sebelah ranjang juga ikut meneteskan air mata. "Nona ini lebih cocok menjadi anak dari Nyonya." batinnya.


"Maaf, apa bu Utami sudah sarapan?"


"Belum Non, Nyonya menolak saat saya membawakan sarapan."

__ADS_1


"Maaf,,, bisakah bibi membuatkan bubur untuk bu Utami."


"Bisa Non. Akan bibi buatkan." salah satu pembantu segera meninggalkan kamar dari majikannya.


"Bisa minta tolong." ujar Mawar dengan sopan, pada pembantu yang masih berdiri di sampingnya.


"Katakan saja, Non."


"Tolong, ambilkan pakaian untuk bu Utami. Yang mudah dipakai saja. Jangan terlalu ribet. Sekalian ********** juga."


"Baik."


Nyonya Utami menatap Mawar dengan kedua mata berkaca-kaca. Hatinya yang begitu lembut dan peka tersentuh akan kebaikan hati Mawar.


Mawar yang hanya karyawan di butik, tak mempunyai hubungan apapun dengannya. Mau dan sudi memperhatikannya.


Sementara Dona, saat sang pembantu mengatakan pada dirinya. Jika sang mama sedang tidak enak badan. Menengok ke dalam kamar saja tidak.


"Bu, ibu jangan banyak pikiran. Kesehatan ibu lebih penting." tutur Mawar.


Mawar dan seorang pembantu membantu Nyonya Utami memakai pakaian beserta **********. Sebab Nyonya Utami hanya memakai kimono.


"Pelan-pelan saja bik." tukas Mawar mengingatkan.


"Baik Non." sahutnya.


Tanpa Mawar sadari, sedari tadi ponsel yang dia tinggalkan di ruang tamu terus menyala. Tapi pikiran Mawar sekarang fokus kepada keadaan Nyonya Utami yang terlihat sangat menyedihkan.


"Non, dokter sedang menuju ke sini. Dan saya sudah menghubungi Den Dami." lapor sang pembantu.


"Terimakasih bik." Mawar sedikit lega, sebab Dami dalam perjalanan pulang.


"Ini Non buburnya. Tapi masih panas." seorang pembantu lainnya masuk dengan sebuah nampan yang diatasnya terdapat semangkuk bubur dan segelas air putih.


"Tolong bantu Mawar bik." pinta Mawar.


Mawar dibantu oleh sang pembantu membangunkan Nyonya Utami, agara bersender ke headboard. "Tante,,, sudah nyaman?" tanya Mawar dengan sopan.


"Sudah." lirih Nyonya Utami sembari mengedipkan kedua matanya.


Dengan telaten, Mawar menyuapi Nyonya Utami. "Sejak kemarin, Nyonya sama sekali belum makan Non." lapor sang pembantu.


"Apa kak Dami tahu?"


"Nyonya melarang kami memberitahu Den Dami."


Mawar hanya menghela nafas. Tangannya terus menyuapi Nyonya Utami dengan perlahan. "Tidak bu, ibu harus makan." tegas Mawar, saat Nyonya Utami menolak.


Dua pembantu yang berdiri di belakang Mawar tersenyum, dengan pelupuk mata sudah tergenang dengan air.


"Bu, apa ibu tahu. Belum lama ini, saya juga mengalami patah hati terbesar dalam sejarah hidup saya. Dan mungkin, itu akan menjadi satu-satunya sakit hati yang pernah saya rasakan."


"Pasti bu Utami juga mendengar gosip di luaran sana. Tentang putri dari seorang pengusaha yang menikah dengan seorang karyawan yang bekerja di perusahaan papanya."


Nyonya Utami tahu, siapa yang sedang Mawar ceritakan. Wiryo dan Caty.


"Awalnya, Mawar frustasi. Marah marah dengan diri Mawar sendiri. Marah dan kecewa dengan ayah. Tapi Mawar sadar, ada yang lebih sakit hatinya di banding Mawar. Ibu Mawar."


"Mawar berusaha menutupi semua rasa sakit hati Mawar. Hanya demi ibu. Apalagi, saat Mawar tahu jika ibu bekerja mati-matian demi membayar sekolah Mawar. Demi bisa membeli makanan. Rasanya sakit bu, dada Mawar sangat sesak."


"Hingga ibu harus dirawat di rumah sakit. Mawar sama sekali tidak punya uang. Terpaksa Mawar harus menjual apapun, agar bisa membayar biaya rumah sakit ibu."


"Mawar memutuskan bekerja. Mawar bertahan. Mawar ingin tunjukkan pada wanita itu dan juga ayah. Jika kami, Mawar dan ibu, bisa hidup bahagia tanpa bantuan dari mereka. Tanpa sumbangan uang dari mereka."


Mawar mengusap setetes air mata yang terjatuh di pipinya. Juga yang terjadi di pipi bu Utami. "Bu Utami juga harus seperti kita. Jangan seperti ini. Jika ibu seperti ini, perempuan itu akan semakin tertawa di atas penderitaan ibu."


Dua pembantu yang berdiri di belakang Mawar sekarang mengerti. Kenapa Mawar bersikap demikian. Sebab, Mawar juga pernah berada di posisi, dimana sang ayah juga mengkhianati sang ibu.


Bahkan bisa dikatakan, Nyonya Utami masih lebih beruntung. Sebab mempunyai uang. Sementara Mawar dan sang ibu, harus bekerja membanting tulang demi mendapatkan uang.


"Coba bu Utami pikirkan. Seandainya terjadi sesuatu hal yang tidak kita inginkan. Seandainya ibu meninggal, pasti perempuan itu akan dengan mudah melangkahkan kaki masuk ke rumah ini. Menggantikan posisi ibu sebagai Nyonya Utama di rumah ini. Apa ibu mau seperti itu?"


Tanpa sadar, bu Utami hampir menghabiskan semangkuk bubur sembari mendengarkan semua perkataan Mawar. "Dan semua orang tidak ada yang tahu, jika suami ibu dan perempuan itu berselingkuh. Nama baiknya akan tetap terjaga. Sementara kak Dami, Mawar yakin, dia adalah orang yang paking merasa terpukul."


Nyonya Utami memeluk erat tubuh Mawar. "Maaf, bukannya Mawar ingin menghasut ibu untuk berbuat jahat. Tapi Mawar tidak mau, ibu terluka. Mawar tidak ingin, ibu merasakan sakit seperti Mawar dan ibu Mawar."


Nyonya Utami mengurai pelukannya. "Kamu gadis yang hebat. Kamu putri yang hebat. Pasti ibu kamu akan bangga mempunyai putri seperti kamu."


"Ibu Utami juga ibu yang hebat. Buat kak Dami juga bangga, memiliki ibu seperti bu Utami. Jangan lemah bu. Jangan kalah dengan mereka yang dengan sengaja ingin menyakiti hati ibu." cicit Mawar.


"Terimakasih sayang." Bu Utami berkali-kali mencium wajah Mawar.


Tak berselang lama, seorang dokter datang. Namun Dami belum juga datang. Beliau hanya memberikan vitamin untuk Nyonya Utami. Serta menyarankan agar Nyonya Utami tidak terlalu banyak pikiran dan juga kecapekan.


"Terimakasih dok." tutur Mawar.


"Sama-sama. Pasti kamu kekasihnya Dami ya." tebak sang dokter.


Mawar segera membantah. Dirinya tidak ingin ada kesalahpahaman ke depannya. "Bukan dok, bukan. Saya hanya pegawai bu Utami di butik." jelas Mawar.


"Pegawai." sang dokter menatap Nyonya Utami yang menyenderkan badannya di ranjang. "Dia lebih pantas menjadi menantu anda Nyonya." goda sang dokter.


Nyonya Utami tersenyum tulus. Sementara Mawar tersenyum canggung. "Saya pamit dulu. Ingat. Jangan berpikir terlalu berat." ucap sang dokter, kembali mengingatkan sebelum beliau pergi meninggalkan rumah Nyonya Utami.


Mawar melirik ke arah jam dinding di sisi tembok kamar Nyonya Utami. Terlambat. Meski Mawar memutuskan pergi ke sekolah, dirinya sudah terlambat.


"Sudahlah, gue bisa meminta maaf pada pihak sekolah dan teman-teman." tukas Mawar, tidak punya pilihan lain.

__ADS_1


__ADS_2