MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 176


__ADS_3

"Maafkan Mawar,,, om." ucap Mawar, sengaja mendatangi Tuan Adipavi di perusaahan beliau sepulang sekolah, sendirian. Di saat beliau sedang bekerja.


Tuan Adipavi tersenyum. "Kenapa kamu yang meminta maaf. Seharusnya kami yang meminta maaf. Jihan yang berbuat salah. Dan apa yang kamu lakukan memang sudah sepatutnya." jelas Tuan Adipavi.


Mawar memang tidak melaporkan Jihan kepada pihak berwajib. Melainkan lelaki yang dibayar Jihan. Itupun, Mawar melaporkannya karena ternyata dia adalah lelaki yang pernah melecehkan Mira.


Tapi meski begitu, nama Jihan tetap terseret karena sudah bisa dipastikan, jika lelaki yang dibayar oleh Jihan, akan menyebutkan nama Jihan. Mana mungkin dia rela masuk ke dalam jeruji besi seorang diri.


"Maafkan om, om gagal mendidik anak." tutur Tuan Adipavi.


Mawar mengangguk pelan seraya tersenyum. "Om tidak salah mendidik anak. Hanya saja, setiap anak memang mempunyai watak masing-masing. Lagi pula, bukankah selama ini Jihan tidak tinggal bersama kalian."


Mawar sengaja mengatakan hal tersebut, supaya Tuan Adipavi tidak begitu menyalahkan dirinya atas apa yang dilakukan Jihan.


Mawar berpendapat, jika apa yang dilakukan Jihan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan keluarganya. Itu dikarenakan usia Jihan yang sudah dewasa.


Di usia tersebut, Jihan sudah bisa memilah mana yang baik dan mana yang tidak. Mana yang boleh dia lakukan dan tidak.


Tuan Adipavi menghela nafas panjang. Menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang ada di belakangnya. "Dulu, saya sudah melarang istri saya untuk menitipkan Jihan pada mereka."


Mawar hanya diam. Memberi waktu Tuan Adipavi untuk mengeluarkan apa yang ada di dalam pikirannya.


Tuan Adipavi menghela nafas panjang. Tampak terlihat jelas raut penyesalan di wajahnya. "Mereka adalah saudara istri saya. Meysa mengatakan jika mereka tidak bisa mempunyai keturunan."


Sekarang, Mawar bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Meski hanya rabaan dasarnya saja. "Jadi, dulu mereka mengadu Jihan, supaya mereka mendapatkan keturunan." batin Mawar menerka.


"Awalnya, saya setuju. Tapi, saya tidak tinggal diam dan begitu saja menyerahkan Jihan. Saya menyelidiki kebenarannya."


Tuan Adipavi tersenyum kecut. "Ternyata, mereka memang tidak berniat mempunyai anak sendiri."


Mawar melongo. "Maksud omo.....Mereka..." Mawar menggantung kalimatnya, takut jika apa yang akan diucapkannya salah.


Tuan Adipavi mengangguk. "Mereka sengaja mengatakannya, hanya agar mereka bisa merawat Jihan."


"Lalu perusahaan, uang, serta semua yang om berikan pada mereka, bagaimana dengan semua itu? Apa,,,, tante Meysa....." Mawar kembali menggantung kalimatnya.


Lagi-lagi, Tuan Adipavi mengangguk. "Meysa yang meminta padaku. Dengan berbagai alasan."

__ADS_1


Tuan Adipavi menatap Mawar dengan nanar. "Awalnya, om tidak setuju. Om kekeh ingin mengambil Jihan dari mereka. Merawat putri om sendiri seperti Jerome sewaktu kecil."


"Dan tante Meysa tidak setuju." tebak Mawar, menyela perkataan Tuan Adipavi.


Tuan Adipavi mengangguk serta tertawa kecil. Namun terdengar begitu pahit. "Alasannya, istri om merasa kasihan terhadap mereka. Mau tak mau, om menuruti apa yang diinginkannya."


"Termasuk memberikan mereka harta benda." tebak Mawar. Tuan Adipavi mengangguk pelan.


"Mawar, katakan saja, apa yang ada dalam benak kamu." pinta Tuan Adipavi. Yakin jika Mawar menyimpan sesuatu dalam benaknya.


Mawar tersenyum canggung. Tidak mengira jika papa dari Jerome bisa menebak apa yang ada dalam benaknya.


"Maaf om, Mawar merasa saudara tante Meysa menyimpan sesuatu yang membuat tante Meysa merasa takut. Dan beliau harus menuruti apa yang mereka inginkan." tebak Mawar dengan jujur.


Tuan Adipavi tersenyum simpul. Apa yang ada di benaknya mengenai Mawar benar adanya. "Dia memang mempunyai pemikiran serta insting yang kuat dan hebat." batin Tuan Adipavi.


"Om juga sudah menyelidikinya. Tapi, om bertahun-tahun berpura-pura menjadi orang yang bodoh." ujar Tuan Adipavi disertai kekehan pelan.


Mawar tersenyum simpul. "Maaf om, karena masalah Mawar, om akan membuka masalah baru dalam keluarga om." tutur Mawar merasa tidak enak hati.


"Jangan mengucapkan kata itu. Kamu sama sekali tidak bersalah. Memang sudah waktunya semua terkuak." papar Tuan Adipavi.


"Katakan saja sayang, ada apa?"


"Sebelumnya, Mawar meminta maaf. Jika apa yang Mawar ucapkan akan menyinggung om. Tapi sungguh, Mawar hanya memberi masukan, tanpa ada niat apapun." jelas Mawar, sebelum mengatakan apa yang ada dalam benaknya.


Tuan Adipavi tersenyum. Dirinya salut dengan apa yang Mawar katakan. Sungguh terlihat sebagai perempuan terhormat, menjunjung tinggi sopan santun.


"Tenang saja. Om tidak akan berprasangka atas apa yang akan kamu katakan. Jangan sungkan. Katakan saja." pinta Tuan Adipavi.


"Om, jika Jihan di masukkan ke dalam bui, Mawar rasa tidak ada salahnya. Jihan bisa belajar di dalam. Jika merenungkan perbuatannya, Mawar rasa Jihan akan tetap menjadi Jihan yang sekarang. Dia tidak akan berubah. Dan kemungkinan, dia malah akan semakin membenci Mawar." saran Mawar.


"Lantas, apa yang menurut kamu bisa mengubah Jihan? Om hanya takut, Jihan malah akan semakin menjadi-jadi jika masuk ke dalam tempat yang salah. Apalagi, jika sampai Jihan bertemu dengan orang yang salah saat berada di dalam sana." jelas Tuan Adipavi, mengatakan apa yang mengusik ketenangannya.


Mawar tersenyum. Tidak salah apa yang dikatakan Tuan Adipavi. Orang tua mana yang akan tega melihat sang anak tercinta masuk ke dalam penjara.


Apalagi, setelah keluar dari penjara, cap narapidana akan terus tertempel pada nama Jihan yang memang pernah masuk ke dalam jeruji besi tersebut.

__ADS_1


"Om, om punya uang. Om punya kekuatan. Om punya kekuasaan. Gunakan itu semua untuk merubah Jihan." saran Mawar.


Tuan Adipavi menatap bingung kepada Mawar. Menggunakan apa yang dimiliki untuk mengubah Jihan. Dengan Jihan berada di dalam penjara. "Bagaimana caranya, apalagi Jihan berada di balik jeruji besi?" tanya Tuan Adipavi.


"Om bisa membayar orang untuk masuk ke dalam. Bukan hanya seorang. Tapi beberapa orang. Pastikan mereka yang berada di samping Jihan, bisa sedikit demi sedikit merubah Jihan. Bukan hanya merubah, tapi juga bisa melindungi Jihan, selama dia berada di dalam sana." jelas Mawar.


"Kita berhadapan dengan pihak berwajib."


"Om, om bisa menggunakan kekuasaan om. Kenapa tidak? Apalagi yang om lakukan bertujuan baik. Demi Jihan." tekan Mawar.


Tampak Tuan Adipavi merenung, mencerna apa yang Mawar katakan. "Tapi ingat om, jangan mengatur kemudahan Jihan saat di dalam. Biarkan Jihan memakai semua yang sudah disediakan oleh pihak terkait, tanpa mengubahnya." ujar Mawar.


"Om hanya memasukkan beberapa orang, yang bisa mempengaruhi Jihan. Membawa Jihan menjadi pribadi yang lebih baik."


"Lalu, siapa yang akan mau masuk penjara. Apalagi, yang kamu katakan pasti orang baik-baik." tukas Tuan Adipavi.


Sebab tak mungkin ada orang yang tak bersalah masuk ke dalam penjara. "Om bisa cari. Kenapa om bingung." ujar Mawar tersenyum.


Tuan Adipavi tersenyum sempurna. Sungguh, dirinya tak menyangka jika Mawar mempunyai pemikiran sampai sana.


"Kenapa aku malah lupa. Yang aku pikirkan hanya Jihan yang berada di dalam penjara. Dan itu tidak baik untuk dirinya. Tapi Mawar, dia bisa mencari kebaikan dari tempat buruk tersebut." ucap Tuan Adipavi dalam hati.


"Tunggu, nama Jihan akan menjadi buruk. Kamu tahu sendirikan, bagaimana masyarakat mengecap seseorang yang keluar dari penjara."


Mawar tersenyum kembali. "Om,,,,, kenapa om selalu kebingungan dan terkesan ribet. Bukankah Mawar sudah mengatakan. Om punya kekuatan. Om punya kekuasaan. Gunakan itu semua sekarang." jelas Mawar.


"Astaga Mawar,,, kenapa om tidak berpikir sampai sana." tukas Tuan Adipavi.


Tuan Adipavi tentu saja tak perlu risau. Apalagi, selama ini Jihan diketahui tinggal di luar negeri. Pastinya semua orang tak akan tahu, jika Jihan masuk ke dalam penjara.


Selain itu, Tuan Adipavi bisa mengatur segalanya. Seperti yang dikatakan Mawar. Gunakan kekuatan serta kekuasaan sebaik mungkin, di saat yang tepat.


"Terimakasih Mawar, kamu membuat om tak lagi stress memikirkan masalah Jihan."


"Sama-sama om. Mawar senang melakukannya." tukas Mawar.


Masalah Jihan sudah kelar. Dan sekarang, Tuan Adipavi harus mengurusi sang istri yang masih kekeh merahasiakan sesuatu darinya.

__ADS_1


Padahal, Tuan Adipavi juga sudah tahu rahasia yang disimpan selama ini oleh sang istri.


__ADS_2