
Nyonya Mesya memasang wajah kesal, mendengar sang putra telah meninggalkan rumah sejak pagi tanpa berpamitan lebih duku pada dirinya.
Padahal, dirinya sudah menahan semalaman untuk berbicara dengan Jerome, perihal Mawar. "Apa dia memakai seragam sekolah?" tanyanya, memastikan.
Sang pembantu mengangguk pelan. "Benar Nyonya." jelasnya.
Nyonya Mesya menatap ke arah sang suami yang malah terlihat lahap menikmati sarapan paginya. Beliau sama sekali tidak peduli akan apa yang dipermasalahkan oleh sang istri.
"Pergi ke sekolah pagi buta. Untuk apa coba." geram Nyonya Mesya. "Pasti dia menjemput Mawar dulu. Sudah seperti sopir saja. Mau saja dibodohi." lanjutnya dengan ekspresi sebal.
"Pa, papa bilang ke Jerome. Jauhi Mawar. Dia tidak pantas untuk Jerome." pinta Nyonya Meysa.
Tuan Adipavi meletakkan sendok dan garpunya dengan kasar di atas piring. Hingga menimbulkan suara yang nyaring. "Dimana sopan santun mama. Ini di ruang makan." tegur Tuan Adipavi dengan datar, merasa sarapannya terganggu oleh celotehan sang istri.
Nyonya Mesya cemberut. Seolah tidak peduli dengan teguran sang suami. "Mama hanya ingin yang terbaik untuk putra mama." kilahnya.
Tuan Adipavi sudah tidak berselera melanjutkan sarapan. "Lalu siapa yang menurut mama terbaik untuk Jerome? Dona?"
Nyonya Mesya hanya diam tak menyahuti ucapan sang suami. Tuan Adipavi mengambil segelas air minum. Meneguknya hingga tandas. "Mama saja yang menikah dengan Dona. Jika Dona adalah yang terbaik." geram Tuan Adipavi.
Tanpa berpamitan pada sang istri atau mengucapkan apapun lagi, Tuan Adipavi pergi meninggalkan meja makan begitu saja.
Nyonya Mesya semakin jengkel di buatnya. "Mawar. Apa yang mereka lihat dari gadis miskin itu. Heran, tidak Jerome, tidak papa. Semua membela dia." ketus Nyonya Mesya.
Nyonya Mesya juga pergi meninggalkan meja makan seperti sang suami. Meski makanan di atas piringnya masih banyak.
Segera para pembantu di rumah Tuan Adipavi membereskan dan membersihkan ruang makan. "Heran, apa yang Nyonya lihat dari Nona Dona. Sombong dan bodoh." lirih seorang pembantu.
"Wajahnya saja masih cantikan aku." timpal yang lain.
"Husst,,, kalian ini, malah ngerumpi. Ketahuan baru tahu rasa. Cepat selesaikan pekerjaan kalian." tegur kepala pelayan.
Di dalam ruang baca, Nyonya Mesya berjalan seperti setrika. Dirinya yakin, jika Jerome tidak main-main dengan ancamannya semalam.
"Jika aku menyuruh orang. Percuma. Pasti mereka akan gagal. Lebih baik aku melakukannya sendiri." ucap Nyonya Mesya memutuskan.
Nyonya Mesya berpikir, Jerome tidak akan melukai dirinya. Sebab dia adalah ibu yang telah mengandung dan melahirkannya. Berbeda jika dirinya menyuruh orang untuk memperingatkan Mawar.
"Lagi pula, pasti Mawar akan langsung menjauhi Jerome, jika aku sendiri hang turun tangan." paparnya.
"Aku tidak ingin mempunyai besan yang tidak punya apa-apa. Meskipun sekarang Mawar adalah bagian dari keluarga Buwono. Tapi tetap saja, dia adalah orang luar." cicit Nyonya Mesya.
"Juga dengan ibunya. Aku juga harus menemui ibu dari Mawar." tekan Nyonya Meysa.
...****************...
Sesuai dugaan Mawar, jika dia pasti terlambat masuk kelas. Jika Jerome dan kedua sahabatnya, tidak masalah. Sebab mereka sudah selesai ujian. Dan sekarang hanya sekedar absen dan juga ada kegiatan yang akan mereka ikuti.
Berbeda dengan Mawar yang masih kelas satu. Dia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian kenaikan kelas selanjutnya.
"Tenang saja. Aku akan memberikan penjelasan pada guru kelas kamu." papar Jerome, menenangkan Mawar yang sedang melepas helm di kepalanya.
"Orang kaya mah, beda." celetuk Mawar menyindir Jerome.
Jerome hanya bisa mendesah dalam hati. Dia bukan orang bodoh, yang tidak tahu jika sedang disindir dengan pedas oleh ucapan Mawar.
"Kalian ini, seperti pasangan yang sedang bertengkar." timpal Tian yang masih berada di atas motornya. Sedangkan Luck hanya terkekeh pelan.
Mawar melengos saat mendengar ucapan Tian. "Pasangan apaan. Nggaklah." sanggah Mawar.
Jerome tersenyum samar. Jika diperhatikan, memang baru kali ini dia melihat sikap Mawar yang terkesan seperti marah, namun terbilang lucu.
"Ayo, aku antar ke kelas. Sekalian, aku jelaskan pada guru." ajak Jerome dengan nada lembut.
"Nggak. Nggak perlu. Aku bisa sendiri." tolak Mawar. "Kayak anak TK saja, pake di anter." ketus Mawar dengan bibir cemberut.
Kenyataannya, Mawar hanya ingin secepatnya menghindar dari Jerome. Bukan karena marah pada Jerome. Melainkan karena rasa malunya, atas kejadian yang baru saja mereka alami.
Jerome tidak menggubris ucapan dari Mawar yang menolaknya. Ucapan seorang perempuan yang menolak, menandakan dia menginginkan hal tersebut. Itulah yang ada dalam otak Jerome.
"Iiihh,,, apaan sih..." Mawar berusaha melepaskan tangan Jerome yang tiba-tiba menggandengnya.
"Nggak usah berontak. Kamu mau, jadi tontonan satu sekolah. Ayo." ajak Jerome, setengah memaksa.
Luck dan Tian hanya tersenyum di parkiran, melihat sikap dan tingkah Mawar dan Jerome. Mawar yang seolah-olah menolak perhatian yang diberikan Jerome. Dan Jerome yang tetap ngeyel dengan apa yang ingin dia lakukan.
__ADS_1
"Deren. Bagaimana kabarnya sekarang." celetuk Tian tiba-tiba, tak ada angin tak ada hujan, menanyakan kabar sahabatnya tersebut.
"Semoga dia baik di sana." timpal Luck, yang juga dama seperti Tian. Dama sekali tidak mengetahui kabar dari Deren.
Mawar dan Jerome berjalan beriringan, dengan tangan Jerome menggandeng tangan Mawar. "Lepas dong kak, kita nggak mau nyebrang." ketus Mawar.
Jerome terkekeh pelan. "Memang kalau mau nyebrang jalan harus gandengan tangan." timpal Jerome.
Mawar merasa percuma berdebar dengan Jerome. Hanya akan membuang tenaga. "Terserah." ketus Mawar.
Gaby yang tak sengaja menoleh ke arah jendela, tanpa sengaja melihat keduanya berjalan beriringan. Dengan Jerome yang tersenyum tampak bahagia. Sementara Mawar dengan raut wajah kesal.
Gaby tersenyum sinis. Rasa ketidak sukaanya terhadap Mawar kini semakin bertambah. "Mawar, gue akan merebut satu-satunya orang yang berharga dalam hidup elo. Hingga elo akan merasakan, bagaimana rasanya tidak mempunyai sandaran." ucap Gaby dalam hati.
Mawar teringat, jika sekarang mereka lewat depan kelas, dimana ada Gaby di dalamnya. "Aaawww..." seru Mawar dengan suara sedikit kencang.
Sengaja. Mawar sengaja melakukannya. Dia tahu jika Gaby juga memiliki rasa suka dan ingin memiliki Jerome sebagai kekasihnya. "Kenapa tidak sekalian saja, gue memanfaatkan situasi." batin Mawar.
Jerome seketika menghentikan langkah kakinya. "Kamu kenapa?" tanyanya dengan khawatir.
Mawar meringis, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Nggak tahu, tiba-tiba terkilir sendiri." papar Mawar, mengelus tulang keringnya.
"Kok bisa?" tanya Jerome dengan bingung.
Mawar memutar kedua matanya dengan malas. "Bisa saja. Mungkin karena ini." jelas Mawar, menggoyangkan tangannya yang masih dipegang oleh Jerome.
Jerome mengerutkan keningnya. "Mana ada, ayo jalan lagi." pinta Jerome.
Semua siswa di kelas Gaby sontak menoleh ke arah mereka. Juga dengan guru yang sedang mengajar di kelas tersebut. "Itu kak Jerome dan Mawar kan?" tanya teman sekelas Gaby, memastikan.
"Iya." jawab yang lain.
"Wiihh,,,, makin berani saja tampil di depan umum." celetuk yang lain.
"Sayang sekali, kak Jerome sudah mau keluar. Jika tidak pasti akan menjadi pasangan terfavorit di sekolah." timpal yang lain.
"Cantik dan tampan. Dan hang pasti, sama-sama pandai." sahut siswa lain.
Gaby menggenggam dengan erat pensil yang ada di tangannya. Telinganya terasa panas mendengar ocehan mereka memuji keserasian antara Mawar dan Jerome.
Sang guru merasa suasana kelas menjadi riuh, dan semua murid kehilangan konsentrasi. Segera dia mengembalikan keadaan seperti semula. "Semuanya,,, kembali fokus ke buku...!!" seru sang guru menggelengkan kepala.
Jerome sedikit membungkukkan badan. "Apa perlu aku bantu. Supaya Gaby semakin kebakaran jenggot." bisik Jerome yang dengan mudah membaca rencana Mawar.
Mawar mendelik mendengar apa yang dibisikkan oleh Jerome. "Bagaimana jika aku menggendong kamu. Bukankah kakimu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja." Jerome semakin semangat menggoda Mawar.
"Lepas." Mawar menghempaskan tangan Jerome di lengannya. Berjalan dengan cepat meninggalkan Jerome yang tertawa melihat apa yang dilakukan Mawar.
Mawar sungguh kesal. Bagaimana Jerome dengan mudah bisa menebak apa yang ada di dalam otaknya.
Bisik-bisik dari teman sekelasnya terdengar di telinga Gaby. Meski tidak secara keras. Mereka mengatakan bagaimana tampannya Jerome saat tersenyum. Dan senyum itu hanya untuk satu perempuan.
Mawar. Sebab hanya dia yang bisa membuat seorang Jerome yang terkenal dengan ekspresi dingin dan datar, bisa tersenyum. Bahkan tertawa.
"Mawar,,, Mawar,,, dan Mawar." ucap Gaby dalam hati merasa muak. Di manapun tempatnya, nama Mawar selalu di sebut dan di puji.
Segera Jerome berlari mengejar Mawar yang meninggalkannya terlebih dulu. "Janji adalah hutang." cicit Jerome, saat dirinya sudah berjalan di sisi Mawar, dan mendapat tatapan sinis dari Mawar.
Sesuai apa yang di katakan Jerome. Dirinya juga masuk ke dalam kelas Mawar. Menjelaskan pada guru kelas Mawar, alasan kenapa Mawar bisa terlambat.
"Tapi kalian baik-baik sajakan?" tanya sang guru, setelah Jerome menjelaskan alasan keterlambatan keduanya.
"Kami baik-baik saja."Jerome meraba keningnya yang berikan kasa oleh Mawar. "Ini hanya luka kecil, bu." lanjut Jerome.
"Baiklah kalau begitu. Mawar kamu silahkan duduk." pinta sang guru.
Mawar mengangguk. "Terimakasih bu." ucap Mawar.
Mawar berjalan menunduk. Dia bahkan langsung duduk di kursinya dan sama sekali tidak menoleh ke arah lain.
Tentu saja Mawar tahu, jika semua mata di kelas sedang memperhatikan dirinya. Dan semau itu katena dia diantar masuk kelas oleh Jerome.
Sedangkan Jerome keluar dari kelas Mawar, setelah berpamitan dengan sang guru. Di ambang pintu, Jerome sempat-sempatnya sedikit memutar badan. Menengok ke arah Mawar dan tersenyum simpul.
"Cie..." sorak semua murid di kelas Mawar. Sang guru hanya ikut tersenyum serta menggelengkan kepala secara pelan.
__ADS_1
Mawar juga ikut menatap ke arah pintu. "Bisa-bisanya dia bertingkah seperti itu." kesal Mawar dalam hati.
Pasti setelah ini, akan ada berita besar tersebar di sekolah. Mawar dan Jerome mempunyai hubungan. "Astaga." desah Mawar, sembari mengeluarkan buku dan alat tulis lainnya dari dalam tas.
Mira dan Selly saling melempar pandang dan tersenyum. Mereka merasa tingkah Jerome dan Mawar seperti anak kucing. Menggemaskan.
Mira yang duduk di belakang Mawar. Beberapa kali mencolek punggung Mawar, tapi Mawar acuhkan. Dia tahu apa yang ingin Mira katakan padanya.
...****************...
"Apa maksud kamu mas?" tanya Lina pada Djorgi.
Keduanya saling memandang dengan tatapan yang dalam. "Aku sudah tidak bisa menahannya seorang diri. Ini pertama kalinya dalam hidupku merasakan hal seperti ini. Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu." papar Djorgi, mengatakan uneg-uneg dalam hatinya.
Semenjak remaja, keseharian Djorgi memang sangat monoton. Belajar dan belajar. Dirinya sama sekali tidak ingin dekat dan merasakan pacaran seperti remaja pada umunya.
Meski saat muda, banyak sekali perempuan yang dengan terang-terangan mengatakan jika mereka menyukai Djorgi. Namun Djorgi sama sekali tidak pernah menganggap mereka.
Juga dengan saat ini. Meski dirinya berstatus duda dengan satu anak. Tapi tetap saja banyak perempuan yang mencoba mendekatinya dan menggodanya.
Apalagi wajah Djorgi yang memang terbilang tampan. Membuatnya dengan mudah digilai kaum hawa. Ditambah lagi kekayaan yang Djorgi miliki. Menjadikannya nilai tambah untuk seorang Djorgi.
Bahkan saat dirinya menikah. Djorgi sama sekali tidak mencintai sang istri. Keduanya menikah karena perjodohan antar keluarga. Dan itu karena sebuah bisnis.
Saat itu, Djorgi merasa jika tidak perlu adanya cinta saat berumah tangga. Dia merasa jika perempuan akan bahagia jika dia berikan materi dalam jumlah yang besar.
Itulah yang menyebabkan kandasnya rumah tangga dengan mamanya Gaby. Djorgi sama sekali tidak pernah memberi perhatian pada sang istri kala itu. Membuat sang istri mencari lelaki lain untuk mendapatkan apa yang tidak bisa Djorgi berikan padanya. Kasih sayang dan perhatian.
Tapi, setelah bertemu dengan Lina, Djorgi sadar. Jika semua tidak bisa diukur menggunakan uang. Dirinya benar-benar seperti remaja yang merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Lina tertawa lepas mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Djorgi, atasannya tersebut. "Ya ampun mas. Perutku sampai sakit." keluh Lina dengan sisa tawanya, sembari tangannya memegang perut.
"Kamu semakin ke sini kok semakin lucu sih." lanjut Lina, mengira Djorgi sedang bercanda.
Djorgi mendesah pelan. Bagaimana bisa pernyataan cintanya malah dianggap candaan oleh Lina. "Apa wajahku ini wajah yang sedang bercanda." tukas Djorgi dengan raut wajah serius.
Lina memandang Djorgi dengan tatapan tidak enak. "Maaf." cicit Lina.
"Apa mas Djorgi, berencana menyatakan cinta pada seseorang. Dan mas membutuhkan bantuan Lina?" tanya Lina dengan polos.
Djorgi melongo dibuatnya. Meraup wajahnya dengan kasar. "Lina...!!" geram Djorgi.
"Loh mas,,, mas mau ngapain?" tanya Lina, Djorgi dengan tiba-tiba berjongkok di hadapannya yang sedang duduk. Menggenggam kedua telapak tangan Lina.
"Lina, aku tidak sedang bercanda. Dan juga sedang tidak membutuhkan bantuan kamu. Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku, Djorgi Buwono mencintai kamu." jelas Djorgi.
Lina ingin melepaskan telapak tangannya yang digenggam Djorgi, tapi Djorgi menggenggamnya dengan erat. "Jangan bercanda mas." tukas Lina merasa takut.
"Kenapa?" tanya Djorgi, melihat ekspresi ketakutan bercampur cemas di wajah Lina.
Lina segera berdiri dan menjaga jarak dari Djorgi, begitu genggaman tangan Djorgi tak sekencang tadi. "Sebaiknya aku segera kembali bekerja. Tidak enak dengan karyawan lain." ujar Lina mencari alasan untuk menghindar dari Djorgi.
Lina bukan remaja kemarin sore. Dimana dia akan berlonjak kegirangan saat ada lelaki yang menyatakan cinta pada dirinya.
Badan Lina membeku, saat sebuah tangan melingkar di perutnya dari belakang. Menahan langkahnya untuk keluar dari ruangan Djorgi. "Aku sudah merasakan perasaan ini sejak aku melihat kamu untuk pertama kalinya." lirih Djorgi.
"Saat itu, aku belum tahu, jika ternyata status kamu adalah janda. Hingga aku memilih mundur. Tapi, tidak untuk sekarang. Setelah aku tahu semuanya." lanjut Djorgi, mengatakan semua kebenarannya.
Lina melepaskan tangan Djorgi di depan perutnya. "Jangan seperti ini mas."
Lina sadar. Tidak ada yang salah dengan perasaan yang Djorgi miliki untuk dirinya. Hanya saja, Lina sadar di mana posisinya.
Djorgi dan dirinya. Bagaikan langit dan bumi. Mereka akan sulit disatukan.
Dia hanya seorang janda. Dengan satu anak. Bekerja sebagai karyawan di toko kue milik Djorgi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, tidak ada lagi yang Lina miliki.
Sementara Djorgi, dia berasal dari kelurga kaya raya. Dengan segala kemewahan berada di tangannya.
Dan satu lagi. Djorgi adalah kakak dari Caty. Yang artinya kakak ipar dari Wiryo. Mantan suami Lina. Bukankah semua akan bertambah runyam. Jika Lina menikah dengan Djorgi.
Dari sepasang suami istri antara Lina dan Wiryo. Menjadi pantas suami istri. Akan menjadi ipar, saat dirinya dan Djorgi memutuskan menikah.
Lina menggeleng, menyingkirkan semua pikiran tersebut. Dan segera meninggalkan ruangan Djorgi. "Saya permisi dulu. Mau melanjutkan pekerjaan saya."
Lina bekerja dengan semua pikiran yang berkecamuk di dalam otaknya. "Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya dalam hati, pada diri sendiri.
__ADS_1