
Gaby membaca setiap pesan yang berada di grup chat kelas, maupun sekolah. Rahang Gaby mengeras. "Sial,,, apa-apaan mereka?!"
Gaby berpikir, jika mereka semua akan melupakan kejadian di panggung setelah beberapa hari kemudian. Apalagi, saat ini mereka semua sedang libur sekolah untuk kenaikan kelas.
Tak seperti yang diperkirakan oleh Gaby. Mereka tetap aktif membicarakan apa yang terjadi padanya meski dalam keadaan tidak berada di sekolah.
Gaby semakin kesal. Manakala dua teman yang biasanya membantunya dalam kelicikan menghilang bagai ditelan bumi. Tak dapat dihubungi sama sekali.
Kepala Gaby berdenyut. Bagaimana tidak, permasalahan tentang pernikahan sang papa dan Lina terancam tidak akan terealisasikan seperti apa yang di rencanakan. Sehingga dirinya tidak akan bisa membuat Mawar menderita.
Dan sekarang, dirinya malah dihujat habis-habisan. Padahal dalam kasus ini, Gaby juga tidak bersalah. Dia juga seorang korban.
Tapi entah kenapa, semua murid seakan tidak melihat dari sisi tersebut. Mereka malah asik menggunjing dan membicarakan kejahatan Gaby beserta teman-temannya.
"Mawar,,,!! Ini semua gara-gara dia. Ini semua karena dia." geramnya, masih berpikir Mawar adalah punjar dari semua masalahnya.
Padahal, awalnya Gaby merasa senang saat Mawar tidak hadir, dan dirinya menggantikan peran Mawar. Tapi semuanya tidak seperti yang dia bayangkan.
Gaby seperti orang frustasi. Bagaimana tidak, semua membicarakan kejadian di panggung. Seolah itu adalah aib. Dan bisa dipastikan, dia akan dipandang hina saat kembali aktif ke sekolah, ketika libur sekolah usai.
"Oke Gaby,,, tenang. Tenang. Tenang. Masih ada beberapa hari lagi untuk aktif ke sekolah seperti sebelumnya. Pasti semua akan melupakan kejadian itu. Semua akan berjalan seperti semula."
Gaby menarik nafas panjang, menghembuskan secara perlahan. Gaby tersenyum. "Sebaiknya gue memikirkan, bagaimana caranya papa bisa menikah dengan Lina." gumam Gaby, kembali berpikir ke masalah tersebut.
"Dona. Gue harus menemui dia." cicit Gaby.
Di jalan, Jerome melajukan motornya dengan kencang. Sialnya, saat berbelok arah Jerome hampir menabrak seekor kucing yang menyeberang jalan dengan santai.
Ciitttzzz..... brak... motor Jerome menabrak pohon di tepi jalan karena menghindari kucing tersebut. "Aaaiiissshhh...." desis Jerome, membuka helmnya.
Jerome menatap kucing yang berlari menjauh karena terkejut. "Astaga..." geram Jerome.
Niat hati memakai sepeda motor, supaya lebih cepat sampai. Tapi malah berhenti karena seekor kucing. Jerome turun, dan memundurkan sepeda motornya.
"Sial....!!!" seru Jerome dengan kesal.
Dilihatnya ban motor bagian depan kempes. Sama sekali tidak terisi angin. "Ohh,, cckk,,,, tidak." keluh Jerome, melihat sebuah paku menancap tepat di pinggir ban motor.
Jerome memejamkan kedua matanya sekilas. "Semoga Mawar baik-baik saja."
Jerome menghubungi Luck, meminta bantuannya untuk menghampirinya dan mengatakannya ke rumah Dami.
Dan untuk itu, Jerome harus menunggu kedatangan Luck sekitar sepuluh menit. Tampak jelas, raut khawatir di wajah Jerome.
Jerome berdiri dengan gelisah. Pikirannya tertuju pada sang kekasih. "Lindungi Mawar,, Tuhan." pinta Jerome.
Kedua mata Jerome langsung bersinar, melihat mobil Luck dari kejauhan. Segera Jerome masuk, setelah mobil Luck berhenti di depannya.
"Lama sekali elo...!! Cepat jalan...!" perintah Jerome dengan galak.
Luck hanya bisa pasrah. Jika diladeni, tak pelak keduanya akan bertengkar. "Kenapa Mawar pergi ke rumah Dona?"
"Jangan banyak tanya. Lajukan dengan cepat...!!" seru Jerome.
Lagi-lagi Luck hanya bisa menerima perlakuan Jerome. Dirinya tahu, jika Jerome sedang khawatir. Terlihat jelas dari ekspresi wajahnya.
"Pak,,,!! Buka..!!" seru Jerome pada satpam yang menjaga gerbang kediaman Nyonya Utami.
Kedua satpam tersebut saling pandang. "Den Jerome." cicit salah satu dari mereka.
Dari tatapan keduanya, terlihat jelas apa yang mereka pikirkan. "Jika Den Jerome ada di sini. Lantas, siapa hang masuk tadi?" tanya salah satu satpam lirih.
"Ckkk,,,, buka pak, cepat." geram Jerome.
"Ba-baik Den." segera mereka membuka gerbang rumah.
"Apa Mawar ada di dalam?" tanya Jerome.
"A-ada Den." sahut pak satpam dengan cemas.
Kedua satpam menatap punggung Jerome dan Luck yang masuk ke dalam rumah. "Sudahlah, jangan dipikirkan. Toh, dia juga sahabat Non Mawar." ucap salah satu satpam tersebut.
Jerome bergegas masuk ke dalam. "Bik, Mawar di mana?" tanya Jerome, berpapasan dengan salah satu pembantu.
"Den Jerome,,, Non Mawar ada di atas Den, di dalam kamar Nyonya Utami."
Segera Jerome menaiki anak tangga, bergegas menuju ke kamar Nyonya Utami. Dengan Luck berjalan mengekor di belakangnya. "Memang elo tahu kamarnya yang mana?" tanya Luck.
"Kita cari."
Luck tersenyum aneh. Luck mengira Jerome tahu letak kamar Nyonya Utami. "Dasar, kenapa tadi tidak bertanya dulu." gumam Luck kesal.
Jerome dan Luck berhenti di depan kamar dengan pintu terbuka. Bukannya masuk, Jerome menghentikan langkahnya didekat pintu.
Jerome menatap ada banyak orang di dalam ruangan tersebut. "Thomas." gumam Luck yang melihat sosok Thomas berdiri di samping ranjang. Dimana Mawar berbaring di sana.
"Elo nggak masuk." bisik Luck. Tapi Jerome terdiam, menatap ke dalam, serta mendengar percakapan mereka.
Jerome tersenyum sinis mendengar kalimat yang diucapkan oleh sang dokter. "Enak saja. Mawar hanya milik gue." ucapnya.
Jerome tak lagi bisa menahan rasa kesal bercampur cemburu. Ada Dami yang dijodohkan dengan Mawar. Dan Thomas yang sedari tadi menatap Mawar sampai tak berkedip.
Jerome masuk, dan langsung mendapat perhatian dari semuanya. "Sayang...." panggilnya, membuat semua orang menoleh ke arahnya.
Mawar memasang ekspresi biasa. Jerome langsung mencium kening Mawar. "Maaf, aku terlambat. Kamu baik-baik saja?" tanya Jerome.
Tentu saja Jerome sengaja melakukan semua ini. Untuk apa lagi, jika bukan untuk menegaskan, jika Mawar adalah miliknya. Dan tak akan ada yang bisa mengambilnya.
Dami dan Thomas tahu jika perlakuan Jerome pada Mawar seakan alarm bunyi untuk keduanya agar tidak mendekati Mawar. Dan tidak berharap pada Mawar.
__ADS_1
Luck mengangguk pelan, tersenyum pada semuanya. Dirinya sebenarnya merasa ikut malu atas apa yang dilakukan Jerome. Bisa-bisanya Jerome melakukan hal tersebut.
Tuan Tomi tersenyum samar melihat kelakuan cucu dari sahabatnya tersebut. "Khemm,,, kenapa baru datang?" tanya beliau.
"Maaf kek, ada kejadian di jalan." jelas Jerome tidak menceritakan secara detail.
"Alasan." sahut Tuan Tomi, dan berpindah memandang Thomas. "Nak Thomas, terimakasih sudah datang tetap waktu." lanjut beliau.
Jerome mencebik. "Sial,,, pasti Thomas sengaja membuntuti Mawar." batinnya, manakala mendengar jika Thomaslah yang menolong Mawar.
Mawar bangun dari ranjang. "Mau kemana?" tanya Lina.
"Bangunlah bu, Mawar tidak sakit parah." timpal Mawar yang diperlakukan seperti orang yang sedang sakit parah.
Mawar memegang pipinya yang masih terasa sedikit sakit karena tamparan dari Tuan Joko. "Kenapa kamu harus melakukannya?" tanya Nyonya Utami, menyesali perbuatan Mawar.
Mawar tersenyum. "Mawar masih muda bu, jadi cepat pulihnya." kelakar Mawar.
"Nak Thomas, terimakasih. Sudah datang tepat waktu." ujar Nyonya Utami.
"Iya kak, terimakasih." cicit Mawar.
Thomas mengangguk seraya tersenyum. "Thank's brow." Dami menepuk pundak Thomas.
Jerome semakin tak suka, saat semuanya berterimakasih kepada Thomas. Apalagi Mawar juga mengucapkannya. "Sebaiknya jeng Utami jangan tinggal di sini. Kelihatannya tidak aman." saran Lina.
"Iya tante. Dami berencana akan pindah ke rumah kami yang lain." sahut Dami.
Sama seperti apa yang dipikirkan Lina. Dami pun juga memikirkan hal yang sama. Dirinya tidak dua puluh empat jam bisa terus berada di samping sang mama.
Oleh karena itu, Dami berencana akan pindah tempat tinggal. Sekalian menambah penjaga untuk menjaga sang mama. Supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Hingga sang mama pulih seperti sedia kala.
"Joko memang sudah buta. Bisa-bisanya terperangkap dengan janda seperti Puri." dengus Nyonya Tanti, yang memang tahu semuanya.
"Begitulah lelaki. Dia akan bosan pada pasangannya, jika menemukan yang lebih dari istrinya. Tapi itu menurutnya." jelas Lina tersenyum.
"Tidak semua lelaki tante." sanggah Jerome segera. Membuat semuanya tertawa ringan. Tentu saja, Jerome tidak ingin Mawar memandangnya seperti itu.
Lina menggenggam telapak tangan Nyonya Utami. "Anda seharusnya bisa lebih kuat dari kami. Lihat, jeng punya seorang putra yang hebat. Dan tidak perlu bersusah payah seperti kami, saat ditinggalkan tulang punggung kami."
Nyonya Utami mengangguk. "Aku juga menginginkan seperti itu. Tapi entah kenapa, rasanya sulit." cicit Nyonya Utami jujur.
"Bu Utami pasti bisa. Lihat, ibu tidak sendirian. Ada kami semua. Ibu hanya kehilangan seseorang yang sama sekali tidak berharga. Jangan menjadi lemah hanya karena hal itu." tutur Mawar.
Nyonya Utami mengelus pelan pipi Mawar. "Kamu memang gadis yang baik. Andai saja kamu menjadi putri saya."
"Tidak. Tidak bisa. Mana bisa tante." sergap Jerome menyela perkataan Nyonya Utami.
"Maksudnya, putri tante Dona, iya,,, seperti itu." lanjut Jerome mencari alasan.
"Jadi mantu tante. Pasti Dami mau." goda Nyonya Utami pada Jerome.
"Tante...!!" seru Jerome dengan nada tinggi.
Jerome yang biasanya terlihat dingin dan cuek, kini berubah menjadi seorang lelaki yang takut kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya.
Jerome menarik tubuh Mawar. Mendekapnya dari belakang. "Jerome,, lepas...." Mawar malu dengan yang dilakukan Jerome padanya. Apalagi ada banyak orang di ruangan ini.
"Tante Utami. Mawar kekasih saya. Mana bisa jadi mantu tante. Yang artinya istri dari Dami. Tidak akan pernah bisa."
"Jerome,,, bu Utami hanya bercanda." Mawar mencoba melepaskan diri.
"Tidak, aku tidak suka bercanda tentang itu." tegas Jerome.
"Kalian ini, belum menikah sudah main peluk saja. Mana di depan umum." celetuk Luck.
"Jika begitu nikahkan kami saja." timpal Jerome dengan enteng. "Maukan tante?" tanya Jerome pada Lina.
Lina hanya menggeleng heran. "Kalau tante terserah Mawar."
Mawar tersenyum canggung. "Kak Jerome, lepas." tekan Mawar.
"Nggak mau."
" Kak Jerome, kita jadi tontonan banyak orang."
"Bodo."
Semua hanya menahan senyum mereka melihat tingkah Jerome yang tak biasa. Mawar menetralkan emosinya. Mawar tahu, jika Jerome tidak bisa diperintah dengan tegas.
"Jeeee.... lepas, sesak." cicit Mawar memulai dramanya.
Segera Jerome melepaskan tangannya. "Maaf"
"Hemmm..." sahut Mawar cuek.
Jerome memasang tampang sedih. "Mawar,,, jangan begitu, akukan sudah minta maaf. Jangan abaikan aku lagi." rengek Jerome.
Seakan Jerome tak malu melakukannya di hadapan banyak orang. "Mawar,,, sayang." panggil Jerome dengan nada melas.
"Aaawww...!!" seru Jerome, mengelus lengannya yang dicubit Mawar.
"Diam." lirih Mawar dengan menekan nadanya.
Mawar merasa malu. Dengan jelas, Jerome seolah mengatakan jika ada masalah antara dirinya dan Jerome.
"Bu, kita pulang." ajak Mawar.
"Kamu pulang sama aku." serobot Jerome.
__ADS_1
Mawar hanya mengangguk. Melawan Jerome akan berbuntut panjang. Dan Mawar sedang malas berdebat, terlebih di rumah orang. Juga sekarang dalam keadaan ramai.
Sebelum Mawar pulang, pak Dokter terlebih dahulu pamit untuk pulang. Disusul oleh Thomas. Tak mungkin Thomas menunggu atau mengantarkan Mawar pulang.
Bisa-bisa bodyguard Mawar akan murka. Dan terjadi baku hantam dengannya. Juga dengan Luck. Merasa tugas mengantar Jerome sudah selesai, Luck juga pamit terlebih dahulu.
Siapa yang menyangka, Mawar beserta yang lain tertunda kepulangannya. Karena kehadiran Gaby. Mereka bertemu dengannya di teras rumah.
Gaby menatap ke arah mereka dengan heran. "Kenapa keluarga Mawar ada di sini?" batin Gaby.
Gaby segera memasang ekspresi lembut. Disalaminya satu persatu semua orang. "Gaby, ada apa?" tanya Nyonya Utami.
"Gaby ingin bertemu dengan Dona, tante." cicit Gaby.
Nyonya Utami memandang Dami, yang terlihat acuh dengan kedatangan Gaby. "Jeng, kami permisi dulu." pamit Lina dengan segera, menyela perkataan Gaby.
"Baiklah, hati-hati." tukas Nyonya Utami.
Gaby memandang kesal kepada Mawar yang berjalan dirangkul oleh Jerome. "Kayak orang sakit saja. Cari perhatian sekali. Heran, kak Jerome mau sama perempuan kayak dia."
"Kak Jerome, apa kak Jerome nggak curiga sama Mawar? Kemana perginya Mawar, sehingga meninggalkan drama yang seharusnya dia mainkan?" Gaby mulai memancing agar Jerome curiga pada Mawar.
Nyonya Utami hendak menjelaskan pada Gaby, tapi Dami menahannya. Percuma juga menjelaskan pada Gaby. Tidak berguna. Mawar dan Jerome saja terlihat acuh.
"Sebaiknya kita segera pergi." ajak Lina.
Begitu juga dengan Mawar. Mereka terlalu malas untuk berurusan dengan Gaby. "Tunggu...!!" seru Gaby.
"Tante, Gaby yakin, jika tante juga menyukai papa Gaby. Iyakan?" tekan Gaby, lagi-lagi membicarakan tentang hal itu.
Gaby memandang ke arah Mawar yang tampak tidak sedang sehat. "Kamukan, kamu yang melarang tante Lina untuk menikah dengan papa." seru Gaby.
Mawar memutar kedua matanya dengan jengah. "Lagi-lagi itu. Menyebalkan." gumam Mawar.
Jerome mengusap pundak Mawar dengan lembut. "Kenapa? Dasar perempuan munafik..!!" hina Gaby.
"Cukuppp...!!" seru Lina. Memandang kesal kepada Gaby.
"Jangan pernah mengeluarkan ucapan kasar kamu pada putri saya. Paham...!!" tekan Lina.
Gaby tersenyum kecut. "Tante, kenapa tante bersikap seperti ini pada Gaby. Pasti Mawarkan sudah bercerita tentang keburukan Gaby. Astaga Mawar." ujar Gaby, seolah menjadi pihak yang tersakiti.
"Mawar adalah putri saya. Apa ada alasan untuk tidak percaya dengan dia. Apa saya harus percaya dengan kamu. Berapa hari kita bertemu." Lina sudah muak dengan segala ocehan dari Gaby.
"Saya tekankan. Jangan pernah menganggu hidup Mawar. Jangan pernah menganggu keluarga kami." ujar Lina.
"Tante." cicit Gaby dengan ekspresi wajah memelas. Jujur, ada perasaan iri pada hati Gaby, melihat bagaimana Lina membela Mawar. Sungguh, dia ingin merasakan hal tersebut.
"Ayo sayang, kita pergi." ajak Nyonya Tanti, menatap sinis pada Gaby.
"Tunggu. Ada sesuatu yang ingin Mawar berikan pada Gaby." Semua terdiam. Merasa penasaran, apa kiranya yang hendak Mawar lakukan.
"Bu, tas Mawar." pinta Mawar, meminta tasnya yang dibawakan oleh sang ibu.
Lina memberikannya pada Mawar. Tangan Mawar merogoh ke dalam tas, mengambil sesuatu. "Ini, untuk kamu."
Mawar menaruh sebuah cincin di telapak tangannya. Gaby terhenyak, hingga memundurkan langkahnya. Semua orang bingung, kenapa Mawar memberikan sebuah cincin permata yang mahal pada Gaby.
Mawar melihat cincin di tangannya dengan seksama. "Sebenarnya, ingin sekali aku menjualnya. Tapi aku urungkan. Apalagi ada nama kamu di dalamnya."
Mawar memasukkan cincin tersebut ke jari tangannya. "Bagai-ba-bagaimana bisa,,, bagaimana bisa, cincin itu ada di tangan kamu?!" cicit Gaby.
"Apa kamu melupakan sesuatu?" tanya Dami, bukan Mawar.
Gaby menatap dengan pandangan takut ke arah Dami. "Jika kamu lupa, aku bisa memperlihatkan kamera CCTV yang ada di butik mama."
Gaby menggeleng tak percaya. "Kenapa, apa kamu pikir Dona lebih pandai dari saya." Dami tersenyum miring menatap Gaby.
Mawar berjalan ke depan. Mengambil telapak tangan Gaby. Meletakkan cincin tersebut ke telapak tangan Gaby. "Gaby, aku hanya ingin berpesan. Jagalah dengan baik, barang pemberian orang. Apalagi pemberian papa kamu." sindir Mawar.
Gaby semakin membenci Mawar. Terlihat jelas dari sorot matanya. "Elo pikir, elo akan di cap sebagai perempuan baik. Dengan memasang ekspresi wajah seperti orang tersakiti?" ucap Jerome disertai kekehan.
Jerome mendekat ke Gaby. Membisikkan sesuatu. Dan entah apa itu, Gaby bahkan sampai memasang wajah terkejut dengan menggelengkan kepalanya.
"Tante, sebaiknya kita segera pulang. Mawar membutuhkan istirahat." ajak Jerome.
Lina mengangguk. Tuan Tomi hanya diam. Dirinya yakin, Mawar tidak memerlukan bantuannya, hanya untuk menghadapai perempuan lemah seperti putri dari Djorgi.
Jerome meminta pak sopir untuk pulang dengan menggunakan taksi. Sedangkan dirinya duduk di bangku kemudi, dengan Mawar duduk di kursi sebelahnya. Sedangkan Lina beserta kedua orang tua Lina duduk di belakang.
Sepanjang perjalanan, tangan kiri Jerome tak pernah lepas dari telapak tangan Mawar. Sementara tangan kanan berada di stir.
"Gaby, sebaiknya elo pulang. Mama gue membutuhkan istirahat." usir Dami dengan sopan.
"Tapi, biarkan Gaby bertemu dengan kak Dona terlebih dahulu." pinta Gaby.
Dami tersenyum. "Dona tidak ada di rumah. Dan kamu tidak akan bisa menemui dia untuk sekarang, dan beberapa tahun ke depan."
Gaby menaikkan sebelah alisnya. "Maksudnya?"
"Dona akan jauh lebih baik, jika tidak berteman dengan kamu." ujar Dami menohok.
"Tante...!" panggil Gaby, saat Nyonya Utami ingin masuk ke dalam rumah.
"Pulanglah, dan jangan mencari Dona lagi, jika itu hanya untuk melakukan hal yang tidak baik."
"Apa tante juga sama seperti tante Lina. Apa yang sudah Mawar katakan pada kalian, sehingga kalian membenci Gaby?!"
"Gaby,,,, Mawar bukan seorang pengadu. Mawar tak perlu menceritakan keburukan kamu, hanya untuk mendapat simpati dan perhatian dari kita." tekan Nyonya Utami heran dengan pola pikir Gaby.
__ADS_1
Bukannya meminta maaf dan berubah, malah semakin menjadi-jadi. Dami menuntut sang mama untuk masuk ke dalam. Meninggalkan Gaby seorang diri.
Rasanya mereka juga muak melihat drama yang disuguhkan oleh Gaby.