MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 152


__ADS_3

Siska dipanggil ke kantor, setelah pengakuan dari seorang murid lelaki yang mengerjai Gaby. Tentunya bersama orang tuanya sebagai wali. Siska langsung menatap kesal pada ketiga murid yang sudah dia bayar.


Mengalihkan pandangan pada Mawar dengan senyum miring. "Gue heran sama elo, Gaby selalu jahat sama elo. Dia selalu mencari masalah sama elo. Tapi elo yang terlalu bego. Mau-maunya menolong, bahkan membela Gaby. Seharusnya elo bekerjasama sama gue. Bukan malah menghancurkan rencana gue." ucap Siska tanpa sopan sama sekali.


Padahal saat ini dirinya sedang berada di ruangan kepala sekolah. Dengan beberapa orang di dalamnya. Termasuk kedua orang tua Siska.


"Siska..!!" seru papa Siska, merasa malu akan kelakukan sang putri, yang malah mengatai siswi lain yang dia tahu sebagai siswi dengan nilai terbaik di sekolah.


Tuan Djorgi menatap Mawar dengan tatapan yang datar. Entah apa yang ada dalam benaknya. Juga dengan beberapa orang di sana. Termasuk kepala sekolah dan para guru.


Tanpa menghiraukan sang papa Siska malah semakin berbicara ngawur tak karuan. Membuka semua apa yang dilakukan Gaby beserta teman-temannya.


"Asal kalian semua tahu, dia,,,,, Gaby, selama ini memperlakukan gue seperti budak. Bukan hanya Gaby, tapi juga Dona dan Weni. Apa salah gue balas dendam...!!" ucap Siska merasa apa yang dilakukan bukanlah sebuah kesalahan.


Sebab Siska merasa dirinya hanya membalas apa yang selama ini di terima dari Gaby. Nafas Siska naik turun tak beraturan. Dirinya sedang terbakar emosi. "Dan elo." tunjuk Siska pada Mawar.


"Elo memang siswa paling pandai di sekolah. Dan juga cantik. Gue akui. Tapi elo bego. Elo sudah sering dijahati oleh mereka. Elo selalu ditindas, di sindir. Tapi elo memang bego...!!" seru Siska menatap Mawar dengan kesal.


Gara-gara Mawar, semua rencananya hancur berantakan. Semua orang tua murid yang berada di dalam ruangan, beserta kepala sekolah terdiam. Juga Djorgi. Mereka membiarkan Siska meluapkan uneg-unegnya.


Sekarang mereka tahu akar penyebab masalah ini. Sikap semena-mena Gaby yang akhirnya membuahkan rasa dendam yang dalam bagi Gaby.


Mawar menghela nafas panjang. Lalu tersenyum dengan manis. "Itulah bedanya saya dan kalian." ucap Mawar dengan tenang.


"Apa dengan dendam semua akan selesai. Lihat,,, lihat. Seperti inilah jadinya." cicit Mawar dengan santai.


"Alahh,,, sok baik. Kalau elo berasal dari kelurga kaya, gue yakin. Jika elo akan membalas mereka. Iyakan...??!" ucap Siska merendahkan Mawar.


Mawar tertawa pelan. "Tanpa uang, jika aku mau. Aku bisa membalas dendam pada Gaby. Seperti kamu. Ingat tanpa mengeluarkan uang, sepeserpun seperti kamu." tekan Mawar.


"Lupa siapa kekasih saya. Lupa siapa sahabat saya. Lupa, jika semua murid di sekolah berpihak pada saya. Bahkan, saya yakin. Mereka bertiga akan dengan senang hati membantu saya. Tanpa uang." Mawar menatap ketiga murid lelaki yang hanya diam.


"Tanya saja jika tidak percaya." tentang Mawar pada Siska.


Semua orang tua murid memandang kagum dengan cara berbicara dan cara berpikir Mawar. Pembawaan yang tenang, dan juga mempunyai pikiran matang. Yang tidak mudah terprovokasi atas suatu hal.


Sangat pantas, jika Mawar menjadi murid terbaik serta terpandai di sekolah. Apalagi terlihat jelas, jika dia sama sekali tidak mempunyai sifat angkuh.


Gaby mengurai pelukannya pada sang papa. Menatap bengis pada Siska. "Ternyata elo. Kenapa elo lakukan semua ini ke gue?!" teriak Gaby.


"Karena elo, elo selalu beranggapan jika elo berkuasa. Elo selalu menjadikan gue budak elo. Kenapa..?! Apa yang mereka lakukan sama elo itu, belum seberapa. Dibanding apa yang elo dan kedua teman elo lakukan ke gue setiap hari..!!" seru Siska tak kalah dengan Gaby.


Sekarang, Tuan Djorgi paham. Akar dari masalah ini adalah sifat sang putri yang arogan dan sombong serta sok berkuasa.


"Sudah,,, sekarang, semuanya sudah jelas. Apa yang terjadi di sini. Dan pihak sekolah juga akan mengambil keputusan untuk masalah ini."


Kepala sekolah memandang semuanya silih berganti. Beberapa orang tua pelaku yang tadi menggebu-gebu membela putra mereka. Kini mulai sudah bisa tenang.


Mereka juga sadar, jika putra mereka bersalah. Begitu juga Djorgi. Dia merasa, kelakukan Gaby juga menjadi pemicu atas kejadian ini.


Serta kedua orang tua Siska. Mereka berdua paham akan sakit hati yang putrinya simpan. Tapi mereka juga tak lantas membenarkan apa yang sudah dilakukan sang putri, meski itu atas nama sakit hati.


Semua kini merasa malu akan diri mereka sendiri. Yang tidak bisa menjaga dan mendidik putra putri mereka dengan baik. Hingga mampu melakukan hal yang memerlukan seperti ini.


"Pihak sekolah memutuskan untuk mengeluarkan kalian berempat." jelas kepala sekolah mengambil keputusan.


Bukan tanpa pertimbangan kepala sekolah mengambil keputusan seperti itu. Jika Djorgi benar-benar melaporkan mereka ke kantor polisi. Pasti nama sekolah akan terseret.


Sebelum itu terjadi, kepala sekolah mengantisipasinya dengan mengambil keputusan tersebut. Ditambah, apa yang sudah Siska dan ketiga murid lelaki kelas tiga tersebut di luar batas wajar untuk anak seusia mereka.


Dan tindakan mereka memang sudah bisa dikatakan masuk ke ranah hukum. Meski mereka masih berusia belasan tahun.


Apalagi mereka melakukannya di area sekolah. Yang artinya kepala sekolah masih mempunyai wewenang mutlak atas apa yang terjadi.


"Tidak. Saya tidak terima. Kenapa saya juga dikeluarkan??!" seru Siska tidak terima, dengan keputusan kepala sekolah.


"Karena kamu otak pertama dalam kasus ini." tekan kepala sekolah.


Siska menggelengkan kepala tidak percaya. "Bagaimana bisa anda mengambil keputusan yang tidak adil. Bukankah saya sudah mengatakan, saya melakukannya karena Gaby yang selalu memperlakukan saya seperti budak." seru Siska.


"Seharusnya kamu tidak perlu melakukan semua ini. Cukup kamu melaporkan pada pihak sekolah. Maka kami yang akan mengambil alih, bahkan menghukum Gaby." jelas kepala sekolah.


Siska tersenyum miring. "Saya tidak terima. Ini benar-benar tidak adil. Lalu Gaby, dia akan tetap berada di sekolah ini. Tidak. Saya tidak terima...!!" teriak Siska.


"Siska... Cukup..!!" bentak sang papa.


"Pa... tapi...!!"

__ADS_1


"Kamu yang sudah berbuat salah. Kamu harus berani menanggung resikonya." sela sang papa. Beliau tidak menyangka, jika putrinya yang dia kenal pendiam saat di rumah. Ternyata mempunyai hati yang jahat.


Mawar melihat ke arah Gaby yang sedang menatap Siska dengan sinis. Mawar menggelengkan kepala pelan. "Sepertinya kasus ini tidak akan hanya berakhir di sini." ucap Mawar dalam hati.


Mawar menebak, jika Gaby akan membalas apa hang dilakukan Siska pada dirinya. Dengan begitu, acara balas dendam akan terus berjalan entah hingga kapan.


Mawar sendiri bingung. Kenapa mereka senang sekali mencari masalah untuk diri sendiri. Dengan alasan tidak adil dan merasa tersakiti.


Keputusan kepala sekolah tidak bisa di ganggu gugat. Keempat murid, termasuk Siska dikeluarkan dari sekolah.


Sedangkan untuk Gaby, sekolah akan memberikan hukuman pada dirinya setelah Gaby merasa lebih baik. Dan siap untuk kembali bersekolah.


Keterlibatan Siska dalam musibah yang menimpa Gaby menjadi topik panas di sekolah. Alih-alih prihatin atas apa yang Gaby alami, mereka malah menyalahkan Gaby.


Semua murid beranggapan ini adalah karma untuk Gaby, yang selama ini berbuat jahat dan sok berkuasa di sekolah.


Apalagi, mereka juga tahu, jika Gaby beserta kedua temannya yang lain selalu memperlakukan Siska seperti babu mereka.


Namun, para murid tak lantas membenarkan tindakan yang diambil oleh Siska untuk balas dendam. Dengan cara yang menjijikkan seperti itu.


Lagi-lagi, nama Mawar juga menjadi topik panas gosip para murid. Apalagi jika bukan kebaikan hati Mawar, yang mau menolong Gaby.


Dan tidak mengambil kesempatan ini untuk menjatuhkan Gaby serta Siska yang selama ini selalu mencari masalah dengannya. Padahal Mawar bisa dan mempunyai kesempatan untuk melakukannya.


Sementara keputusan kepala sekolah untuk mengeluarkan Siska dan ketiga murid lelaki tersebut di sambut senang oleh para murid.


"Kenapa tak sekalian Gaby dikeluarkan." ucap teman sekelas Mawar.


"Benar, biar sekolah kita bersih dari parasit." celetuk yang lain.


"Elo kenapa nggak ngomong ke kepala sekolah sih Mawar." timpal yang lain.


Mawar mendengus mendengar perkataan teman-teman sekelasnya. "Mana bisa seperti itu. Kalian pikir sekolah ini milik aku. Lagian aku harus ngomong apa coba." sahut Mawar sekenanya.


"Elo bisa menceritakan semua kejahatan Gaby pada elo. Gue yakin kepala sekolah akan percaya sama elo, seratus persen." tukas yang lain.


"Benar juga kata mereka." ujar Mira ikut-ikutan.


"Kalian jangan ngaco. Gue nggak mau jadi iblis yang selanjutnya." ujar Mawar.


"Yaelaaa.... Mawar,,, jika elo jadi iblis, gue yakin semua lelaki tetap rela ngejar-ngejar elo." canda yang lain.


"Iya, maling. Maling hatinya kak Jerome." celetuk Selly, yang sontak membuat seisi kelas tertawa lepas.


Mawar hanya menjulurkan lidah ke arah Selly. Pasalnya, semua murid satu sekolah sudah tahu, jika Mawar dan Jerome menjalin hubungan.


Dan para murid lelaki yang ingin mengejar Mawar memilih untuk mundur, meski mereka tahu jika sekarang Jerome tidak bersekolah di SMA mereka lagi.


Sesuai dengan apa yang dikatakan Djorgi. Dia akan membawa kasus ini ke jalur hukum. Juga sesuai dengan permintaan Gaby.


Meski para orang tua pelaku meminta jalan damai, tapi Djorgi tidak mau menempuh jalan tersebut. Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah peribahasa yang menggambarkan para murid tersebut.


Sudah dikeluarkan dari sekolah. Dan kini harus berhadapan dengan hukum. Bayang-bayang jeruji besi berada di depan pelupuk mata mereka.


Sebab dapat dipastikan, jika mereka akan tetap mendekam di penjara. Meski mereka masih berusia di bawah umur.


Tentu saja Gaby tidak mau begitu saja melepaskan mereka, terutama Siska yang sudah terang-terangan membuat dirinya hampir kehilangan keperawanannya.


"Gaby,,, setelah ini papa meminta kamu merubah sifat kamu. Rubah perilaku kamu. Lihat, semua ini hasil dari tingkah kamu." pinta Tuan Djorgi menasehati sang putri.


Bukannya sadar akan kesalahannya. Gaby malah membantah apa yang sang papa katakan. "Pa, papa seharusnya merasa kasihan pada Gaby. Anak papa baru saja terkena musibah. Dan ini, papa sudah memarahi Gaby." ucap Gaby kesal.


Djorgi menghela nafas panjang. Dirinya hanya ingin sang putri merubah sikapnya yang arogan dan suka membuat masalah dengan orang.


"Bukan memarahi kamu. Tapi papa meminta untuk kamu merubah sifat kamu." tukas Djorgi dengan lembut.


Gaby memutar kedua bola matanya dengan jengah. "Bisa papa meninggalkan Gaby sendiri?" tanya Gaby, yang tak secara langsung mengusir sang papa untuk keluar dari kamarnya.


Tuan Djorgi tahu betul sifat keras kepala dari sang putri. Tidak ingin menambah masalah yang akan membuatnya pusing, beliau memilih untuk menuruti permintaan Gaby. Keluar dari kamar sang putri.


Segera Tuan Djorgi menghubungi pengacaranya untuk membicarakan masalah sang putri. Dirinya ingin beberapa murid yang sudah melakukan perbuatan tercela tersebut segera mendapat hukuman.


Tuan Djorgi melakukannya bukan semata-mata hanya karena sang putri. Tapi juga karena beliau ingin membuat jera pada mereka untuk tidak kembali mengulangi perbuatan mereka, pada siapapun.


Di dalam kamar, Gaby berdiri di dekat jendela. Memandang ke arah luar dengan ekspresi datar. Semua kalimat di yang dia dengar di ruang kepala sekolah masih teringat betul.


Jiga dengan ucapan Mawar. Gaby tersenyum sinis. "Elo pikir, dengan hanya sekali menolong gue, gue akan bersimpuh di hadapan elo. Jangan harap. Terlebih elo masih bersama kak Jerome."

__ADS_1


Bukannya jera dan merubah sikap serta sifatnya karena baru saja terkena maslaah, Gaby masih saja berpikiran picik dan licik.


"Gue harus memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Gue yakin, sekarang para murid akan bersimpati sama gue setelah kejadian ini. Dan itu, awal yang baik untuk gue menyingkirkan nama Mawar dari benak mereka."


"Gue akan kembali ke sekolah secepatnya. Gue nggak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini." cicit Gaby.


"Mawar, gue akan merebut tempat elo. Gue yakin kali ini gue akan berhasil mendapatkan simpati mereka semuanya."


Gaby berkata demikian, lantaran dia melihat bukan hanya Mawar yang datang menolongnya. Tapi juga murid lainnya. Gaby mengira jika mereka datang sendiri karena ingin membantu Gaby.


Bahkan, Gaby mendengar bagaimana mereka berteriak meminta ketiga murid lelaki yang sudah melecehkannya di keluarkan dari sekolah.


Gaby semakin besar kepala. Dia menganggap semua murid sekarang sidak menaruh simpati pada dirinya. "Tenyata ada untungnya juga gue terkena masalah ini." cicit Gaby.


Tanpa Gaby ketahui, jika mereka bersedia menolongnya atas desakan dan pengaruh dari Mawar.


Sedangkan di sekolah, Mawar dan murid yang lain telah selesai belajar mengajar. Dan saatnya mereka pulang ke rumah. Sebelum besok pagi mereka akan kembali lagi ke tempat ini, untuk mendapatkan ilmu.


"Mawar...!!" panggil seorang siswa, membuat langkah kaki Mawar serta kedua temannya terhenti.


Mawar tersenyum melihat siapa yang memanggilnya dan datang menghampiri mereka. "Kak Thomas." sapa Mawar.


"Panggil saja Thomas. Jangan pakai kak. Hanya beda satu angkatan saja." pinta Thomas.


"Ada apa?" bukannya Mawar yang bertanya, melainkan Mira.


"Nggak ada apa-apa. Hanya memanggil saja. Mawarkan saudara gue." jelas Thomas, memandang tak suka pada Mira.


"Elo dengarkan Mawar. Thomas tidak ada maksud memanggil elo. Kita balik yuk. Keburu panas." tukas Mira.


"Kak,,,,!! Mawar duluan." seru Mawar, sebab tangan Mira dan Selly menggandeng masing-masing tangannya dan diseret menjauh.


Thomas mendengus sebal. "Ada apa sih dengan kedua teman Mawar itu. Heran gue. Salah apa coba gue sama mereka." gumam Thomas, merasa jika Mira dan Selly tidak menyukai dirinya.


Dengan perasaan kesal pada Mira dan Selly, Thomas melangkahkan kakinya ke area parkir. Sama seperti Mawar dan kedua sahabatnya.


Mira berada di belakang motor Mawar. "Bonceng gue ya." pinta Mira, yang memang akan pergi ke rumah Mawar.


"Kamu sama Selly saja. Panas lo." tolak Mawar, merasa kasihan dengan Mira, karena harus berpanas-panasan bersamanya jika naik motor.


"Nggak. Ya." rengek Mira.


"Nggak apa-apa Mawar, Mira biar sama elo saja. Gue akan membuntuti kalian dari belakang." ujar Selly.


Mawar akhirnya mengendarai sepeda motornya dengan Mira berada di belakangnya. Sedangkan Selly mengendarai mobil di belakang Mawar yang membonceng Mira.


Dengan kedatangan Mira dan Selly, rumah Mawar menjadi sangat ramai. Tentu saja Nyonya Tanti semakin senang.


Apalagi Mira dan Selly sangat humble dan juga selalu bersikap sopan, meski mereka sedang bercanda.


"Kak Jerome nggak ke sini?" tanya Mira.


Mawar menggeleng. "Nggak tahu. Diakan juga sibuk. Masa terus ngurusi gue sih." jelas Mawar.


"Mawar, elo harus pantau dan sering hubungi kak Jerome, mulai sekarang." ujar Selly.


"Memang kenapa?" tanya Mawar heran.


"Aduh Mawar,,,, kenapa kenapa bagaimana sih,,, sekarang kak Jerome kuliah. Dia nggak satu sekolah dengan elo. Masa elo nggak khawatir." gerutu Selly.


Sementara Nyonya Tanti dan Lina hanya menyimak perdebatan kecil mereka dengan tersenyum tipis.


"Apa sih kamu." Mawar merasa Selly sungguh aneh.


"Mawar, di kampus pasti perempuannya cantik-cantik. Mereka pasti juga berpakaian modis. Bisa saja kak Jerome kepincut dengan mereka. Masa elo nggak khawatir sih." ujar Mira.


"Kalau kak Jeromenya mau, ya sudah. Masa aku harus nglarang. Yang sudah menikah saja bisa bercerai. Apalagi kita yang masih berpacaran." tukas Mawar berpikir realistis.


Mira dan Selly terdiam. Mawar sepertinya sedang kembali mengingat sang ayah. Padahal, bukan itu maksud perkataan Mira dan Selly.


"Seandainya kak Jerome memang tergoda mereka. Nggak masalah. Berarti kak Jerome tidak benar-benar menyukai Mawar." ucap Mawar dengan santai.


"Apa sebenarnya, Mawar tidak menyukai kak Jerome?" bisik Mira.


"Jika todak suka, kenapa Mawar menerima kak Jerome sebagai kekasihnya." bisik Selly.


Keduanya saling pandang. Menebak sendiri apa yang mereka pikirkan dalam benak mereka. Apalagi memang Mawar terlihat tidak begitu peduli dengan Jerome.

__ADS_1


Mira dan Selly juga merasakannya. Dan entah karena apa Mawar bersikap seperti itu.


"Siapa yang tidak menyukai kamu?" tanya seseorang yang tiba-tiba sudah berada di ambang pintu. Mengalihkan semua perhatian seisi rumah pada seseorang yang baru daja datang tersebut.


__ADS_2