
Djorgi dan Lina masih berada di warung makan. Secara tak sengaja, Gaby melihat keduanya. "Papa." cicit Gaby.
Menajamkan penglihatannya pada sosok perempuan yang duduk di depan sang papa.
Gaby tak sengaja melihat keduanya bukan karena dirinya ingin makan di tempat tersebut. Melainkan sedang mengantarkan Weni yang membeli pesanan untuk sang mama.
Gaby duduk santai, memperhatikan sang papa. Tanpa memesan apapun. Sementara Weni sedang menunggu makanan yang dia pesan di dekat kasir.
"Siapa perempuan itu?" tebak Gaby dalam hati.
Gaby melihat dengan seksama bagaimana Lina berpakaian. "Apa selera papa turun." cibir Gaby tersenyum sinis. Mengolok apa yang dikenakan oleh Lina.
Meski sang papa dan sang mama telah bercerai semenjak Gaby kecil, namun dirinya tetap tahu siapa dan bagaimana sang mama yang meninggalkannya sedari kecil.
Semenjak Gaby berada dalam perawatan Tuan Djorgi, sang mama pernah mengunjunginya. Dan semua itu bisa dihitung dengan jari.
Terkahir kali Gaby dan sang mama bertemu adalah setahun yang lalu. Saat Gaby hendak masuk ke SMA. Gaby dan sang mama juga jarang berkomunikasi melalui ponsel atau alat lainnya.
Entahlah bagaimana hubungan Gaby dengan sang mama. Mungkin lebih parah dari pada hubungannya dengan sang papa. Atau sama saja.
Gaby beranggapan bahwa hidupnya lebih dari cukup dan lebih baik tanpa kehadiran sang mama. Dirinya merasa lebih bebas dengan tanpa adanya sosok seorang ibu di sampingnya.
"Ckk,,," decak Gaby, membandingkan penampilan sang mama dengan Lina. "Benar-benar kampungan." ucapnya geli, melihat penampilan Lina yang sangat sederhana sekali.
Bahkan terkesan sangat jelek di mata Gaby.
"Astaga." Gaby memandang dengan ekspresi aneh, melihat sepatu cats yang terpasang di kaki Lina. Tampak lusuh dan terlihat ada sobekan sedikit.
"Apa dia semiskin itu. Atau..." Gaby menggantung kalimatnya, menebak sesuatu yang terlintas di dalam benaknya. "Dia ingin mendekati papa karena uang." imbuhnya menggeleng pelan.
"Cih,,, mana mau gue punya mama tiri seperti dia." Gaby memasang raut wajah yang menjijikkan.
Weni datang dengan tangan menenteng makanan yang dia pedan untuk dibawa pulang. "Ada apa?" tanya Weni, melihat ekspresi wajah Gaby yang tak biasa.
Gaby mengangkat dagunya mengarah ke meja sang papa. Weni mengikuti ke mana Gaby menunjukkan dengan dagunya. "Kayak papa elo." tebak Weni.
Karena mereka melihat Djorgi dari samping. Gaby mengangguk, membenarkan perkataan Weni. "Nggak elo samperin?"
Gaby menggeleng seraya mencebikkan bibirnya. "Siapa perempuan itu?" tanya Weni.
Bukan hanya Gaby, Weni juga menatap aneh pada Lina. "Masih cantikan mama gue kemana-mana." ucap Weni dalam hati. Membandingkan penampilan sang mama dan Lina.
Sejujurnya, Weni pernah berkata pada sang mama untuk mendekati papa Gaby. Namun dengan tegas mama Weni menolak mentah-mentah.
Menolak dengan alasan klise. Jika mama Weni masih belum bisa melupakan mendiang sang papa. Dan nama sang suami yang masih berada di dalam hatinya. Hal yang menurut Weni terkesan semu.
Padahal hidup terus berputar. Weni hanya berpikir realistis. Mereka membutuhkan seseorang yang bisa dijadikan sandaran dan bisa diandalkan.
Paling tidak seorang lelaki mapan, agar dirinya dan sang mama tidak perlu mengurus perusahaan almarhum sang papa yang keadaannya tidak baik-baik saja. Dan Weni melihat semua itu pada sosok Djorgi.
Apalagi sekarang perusahaan tersebut masih berada dibawah naungan dan kendali papa Dona. Weni yakin jika Djorgi bisa mengeluarkan mereka dari maslah ini. Terutama membebaskan dirinya dari Dona.
Sialnya sang mama malah menolak keinginannya menjadikan Djorgi sebagai papa tirinya.
"Gue juga nggak tahu. Siapa dia." papar Gaby jujur.
Weni mengerti kenapa Gaby berkata seperti itu. Dirinya tahu jika hubungan antara Gaby dan Djorgi tidak seperti hubungan anak dan papa pada umumnya. Mereka cenderung terlihat seperti orang lain.
Djorgi tidak melihat keberadaan Gaby dan Weni. Matanya fokus pada objek di depannya. Siapa lagi jika bukan Lina.
"Tapi jauh banget sama mama elo." Weni bermaksud mengompori Gaby. Setidaknya Tuan Djorgi tetap sendiri untuk saat ini.
Siapa tahu, sang mama berubah pikiran. Mau mendekati Djorgi, menjadikannya papa tirinya.
"Nggak usah elo bilang. Gue juga nggak buta." ketus Gaby.
Weni hanya memutar kedua matanya dengan malas. "Seandainya saja mama gue menikah sama papa elo. Gue pastikan hidup elo akan menderita." ucap Weni dalam hati memandang sinis ke arah Gaby.
Serangkaian rencana licik sudah tersusun rapi di dalam otak Weni. Seandainya dirinya dan Gaby menjadi saudara tiri. Apalagi hubungan Gaby dan Djorgi yang terkesan dingin.
Sehingga Weni akan dengan mudah masuk dan menjadikan dirinya anak kesayangan Djorgi. Sayangnya, semua itu hanya angan-angan yang entah kapan akan menjadi nyata.
Gaby beranjak dari duduknya. Pergi begitu saja tanpa bertegur sapa atau sekedar menemui Djorgi. Dengan Weni mengekor di belakangnya.
Bagaimana jika Gaby dan Weni tahu. Siapa Lina. Ibu dari perempuan yang mereka benci. Mawar. Kira-kira apa yang akan mereka lakukan pada Lina.
"Elo harus tanya sama papa elo Gab, siapa perempuan itu." saran Weni, lebih seperti desakan.
"Apa sih elo. Kenapa malah elo yang kayak cacing. Gue saja santai." tukas Gaby sembari memasang sabuk pengaman.
Segera Weni mencari alasan. Dirinya tidak ingin Gaby curiga dan mencium niat busuknya. "Bukan seperti itu. Hanya saja, gue takut perempuan itu punya maksud jahat. Elo lihat sendirikan bagaimana penampilannya." papar Weni memberi alasan.
Gaby menipiskan bibirnya. "Elo nggak usah khawatir dengan hidup gue. Elo urus saja hidup elo. Gue tahu apa yang harus gue lakukan." ketus Gaby dengan nada tidak senang.
"Oke. Gue hanya mengingatkan." Weni tersenyum manis. Padahal dalam hatinya sedang mengumpat Gaby.
Mobil yang Mawar naiki dengan kedua temannya berbelok ke jalan kecil. Sang sopir bermaksud mengecoh mereka. Menghilangkan jejak mobil.
Mira dan Mawar menoleh ke belakang. Dengan Selly dan pak sopir melihat dari kaca pantau di depan mereka.
Beberapa motor yang mengikuti mereka tadi tidak terlihat. "Aman." Mira bernafas lega.
__ADS_1
Mawar dan Selly juga merasa lega. Semuanya menyandarkan kepala di kursi mobil dengan perasaan lega. Termasuk pak sopir.
"Pak,,, tambah kecepatan pak." pinta Mawar, dirinya hanya takut jika mobil mereka akan ditemukan lagi oleh para pemotor tersebut.
Selly mengambil botol air minum. Meneguknya dengan rakus. Seolah dirinya baru saja melakukan olah raga berat. "Tapi setidaknya kita sudah aman Mawar, nggak usah tegang begitu." ucap Selly.
Mawar tidak menyahuti perkataan Selly. Dirinya masih mengingat saat dia menolong Jerome, bagaimana segerombolan pemotor tersebut kembali dengan cepat. Padahal mereka sudah meninggalkan tempat tersebut.
Baru saja mobil yang dinaiki Mawar kembali berbelok ke arah lain. Tapi mereka terkejut bukan main. Melihat siapa yang ada di depan mereka.
Mawar, Mira, dan Selly menatap ke depan dengan takut. Tebakan Mawar benar. Mereka kembali. "Mustahil kita akan terbebas dengan mudah." cicit Mawar.
Selly menggeleng tak percaya. Baru saja perasannya membaik. Sekarang, dirinya harus merasakan ketakutan lagi. "Apa yang akan mereka lakukan pada kita?" tanya Selly dengan nada bergetar.
Beberapa sepeda motor terparkir di tengah jalan. Dengan beberapa orang berdiri di belakang motor, ada yang terap duduk di atas motor. Menghalangi mobil mereka yang akan lewat.
"Mundur pak." cicit Mira, tanpa menoleh ke belakang.
"Tidak mungkin." gumam Mawar, sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.
Dan benar. Beberapa motor datang. Dan berhenti di belakang mobil mereka. "Kita terjebak Non." papar pak sopir merasa takut.
Meski dirinya lelaki. Tetap saja dia merasakan hal tersebut. Apalagi dia juga tak tahu apa yang akan mereka lakukan pada dirinya dan anak majikannya.
Selly melepas sabuk pengamannya. Beralih ke kursi belakang bersama Mawar dan Mira. "Mawar..." Selly memegang erat tangan Mawar.
Begitu juga dengan Mira yang masih memeluk tubuh Mawar dengan erat. "Tolong kami Tuhan." cicit Mira.
"Jerome,,,, cepatlah datang." ucap Mawar dalam hati.
Mawar berusaha bersikap tenang melihat Mira dan Selly yang ketakutan. "Oke. Kalian tenang. Kita pasti akan baik-baik saja." ucap Mawar.
"Non, apapun yang terjadi, jangan pernah keluar dari dalam mobil." tutur pak sopir, melepaskan sabuk pengamannya. Bersiap untuk kemungkinan yang terburuk.
"Apa bapak tidak bisa terus melaju. Biarkan saja kita menabrak mereka." ucap Mira.
"Sangat bahaya Non. Yang ada kita yang akan celaka. Lihat, bukan hanya dua atau tiga motor." jelas pak sopir dengan benar.
Beberapa lelaki mendekat ke arah mobil, menampilkan senyum remeh. "Keluar....!!!" teriak salah satu lelaki yang berdiri di depan mobil.
"Ingat Non, jangan keluar dari dalam mobil." tutur pak sopir kedua kalinya mengingatkan ketiga gadis di dalam mobil.
Brakk.... mereka menggedor dan menggebrak badan mobil. "Pak, jalankan saja mobilnya." pinta Mira dengan air mata yang sudah mengalir di pipi.
"Tapi,,,," ucapan pak sopir menggantung, lagi-lagi terdengar suara kaca pecah.
Kali ini ketiga gadis di dalam mobil menahan suara mereka agar tidak berteriak. Mereka saling berpelukan dengan Mawar berada di tengah.
Membuka pintu mobil dengan mudah. Menyeret pak sopir keluar dari mobil. "Kalian juga, keluar." Ketiganya dipaksa keluar dari dalam mobil.
Buk,,, buk,,, Ketiganya melihat pak sopir dipukul dan ditendang. "Stop,,,!! apa yang kalian lakukan..!!" teriak Mira melihatnya.
"Elo buta, kenapa elo mesti tanya." sinisnya, melihat ketiga gadis di depannya dengan senyum aneh.
"Ingat, jangan pernah menyebutkan nama." bisik Mawar. Mira dan Selly mengangguk mengerti.
Selly dan Mira segera beralih ke belakang Mawar. Tubuh mereka menempel di badan mobil. Semua tertawa melihat ketakutan ketiga gadis di depan mereka.
Beberapa orang mendekat ke tempat mereka. "Berhenti...!!" seru seorang lelaki memerintahkan mereka berhenti memukul dan menendang pak sopir.
"Aaa...!!" jerit pak sopir, dipaksa berdiri. Dan kembali dipukul satu kali, tepat di perutnya dengan keras.
Dia melangkah maju. Semua anak buahnya menyingkir. "Berikan." dia mengulurkan tangannya, dengan menengadahkan telapak tangannya. Meminta sesuatu yang Mawar sendiri tak tahu apa yang dia minta.
"Apa?" tanya Mawar memberanikan diri.
Mawar kenal siapa dia. Teman dari kekasih Amel. Beruntung Mawar memakai masker, hingga dia tidak
dengan mudah mengenali wajah Mawar.
Dia kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam celana.
Bukkk.... dipukulnya wajah pak sopir yang dipaksa berdiri dengan tangan kakan dan kiri di pegang oleh mereka hingga Mawar melihat ada cipratan darah.
Tangan Mawar mengelap darah yang kembali mengalir di pelipisnya. "Oo,,, rupanya kamu juga terluka. Mau gue obati." seringainya.
Mira dan Selly menatap ke arah Mawar. "Aku baik-baik saja. Kalian jangan khawatir." lirih Mawar.
Selly melangkah selangkah ke depan. Dirinya yang tadi bersembunyi di balik punggung Mawar, kini dengan berani menghadapi mereka.
Selly tidak tahu jika Mawar terluka. Bahkan, Mawar sama sekali tidak mengeluh. Dan dirinya, yang dalam keadaan baik-baik saja meminta perlindungan. Anak kecilpun akan tertawa.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Selly dengan berani, mengangkat dagunya. Mira terbengong seketika melihat keberanian Selly yang muncul.
Sama seperti Selly, dirinya juga tidak mau menjadi beban untuk Mawar. Berlindung di belakang punggung Mawar.
Mira menyatukan telapak tangan Mawar dengan miliknya. Mawar menoleh ke arah Mira, dan Mira mengangguk pelan.
Perasan takut yang Mawar sembunyikan, kini menguap menjadi perasaan hangat. Melihat kedua temannya berdiri di sampingnya dengan berani.
Lelaki tersebut tertawa dengan renyah melihat ketiga perempuan bermasker di hadapannya.
__ADS_1
Dengan tidak berdaya, sang sopir menatap ke arah ketiganya. Bukankah dirinya sudah menyuruh untuk tetap berada di dalam mobil.
Tapi mereka mengabaikannya, pasti karena melihat dirinya dipukuli hingga seperti ini. "Maaf Non." ucapnya lirih, sampai tidak ada yang mendengar saking lirihnya. Tenaganya sudah habis karena dihajar.
"Apa.. mereka bertanya apa." ucapnya memandangi satu-satu anak buahnya.
"Jangan uji kesabaran gue. Berikan...!!" teriaknya dengan ekspresi menakutkan, hingga Mira dan Selly terlonjak kaget.
Mawar masih bisa menahan emosinya dan rasa takutnya. Mawar menghela nafas dengan pelan. Dia yakin, Jerome akan datang.
Hanya tinggal pintar-pintar Mawar mengulur waktu. "Kita memang tidak tahu. Apa yang kamu minta." cicit Mawar tenang.
"Jangan bercanda sayang, apa perlu kita main kasar." ucapnya, tersenyum miring.
Dia memandang Mawar dengan intens. "Sepertinya gue pernah lihat elo." tuturnya.
Deg,,,, "Jangan sampai dia tahu gue. Hidup gue akan semakin sulit ke depannya." harap Mawar dalam hati.
"Wajah dan badan aku memang pasaran." sahut Mawar seadanya.
"Pasaran." dia memicingkan sebelah matanya. "Tapi aku suka dengan yang pasaran." lanjutnya.
Melangkahkan kakinya ke depan dengan tenang. "Heyy,,,, jangan sentuh mereka...!!" teriak pak sopir menggunakan sisa-sisa tenaganya.
Lelaki tersebut memasukkan jari telunjuknya ke dalam telinga. "Dia terlalu berisik." ucapnya, dengan mata tetap memandang ke arah Mawar.
Mawar terkejut, begitu juga Mira dan Selly. "Hentikan...!!" teriak Selly, melihat pak sopir dipukul membabi buta. Hingga wajahnya babak belur dan mengeluarkan darah.
"Kalian,,,, kalian binatang...!!!" teriak Mira.
"Oke,,, katakan yang kamu mau. Tapi hentikan." geram Mawar memandang sedih ke arah pak sopir.
Prok,,, prok,, prok,,,, Dia bertepuk tangan dengan ekspresi angkuhnya. "Gue suka perempuan pintar." ucapnya dengan senyum tersungging di bibir.
"Berikan rekamannya." ucapnya. Tebakan pak sopir benar. Mereka mengira jika Mawar dan yang lain merekam kejadian di jalanan tadi.
"Kami sama sekali tidak merekam apapun." bantah Mira.
"Masa...." ujarnya tersenyum remeh.
"Mereka tidak akan percaya dengan mudah. Menyerahkan ponsel. Sama saja membuka identitas. Percuma kita pakai masker." batin Mawar dalam hati.
Selly mengambil ponselnya. "Silahkan lihat kalau nggak percaya." ucap Selly tanpa berpikir panjang.
Mawar langsung mengambil ponsel Selly dan mengamankannya ke dalam saku celananya. Mawar melotot dan menggeleng.
"Wooo,,,, bagaimana gue mau mau percaya. Lihat teman elo." teriaknya mencibir.
"Tapi sungguh, gue kayaknya familiar dengan elo." ucap lelaki tersebut menatap Mawar dengan tangan berkacak pinggang. Menampilkan ekspresi yang menyebalkan menurut Mawar.
"Boss,, suruh buka maskernya." saran bawahannya.
Dia menjentikkan jarinya. "Betul." ucapnya.
"Buka masker kalian." perintahnya dengan angkuh.
Mawar tetap diam tidak bergeming. "Lama. Dan gue nggak suka itu."
Dia maju, tangannya meraih masker di wajah Mawar. Tapi Mawar menghindar. "Jangan macam-macam." seru Mira mendorong tubuhnya.
"Elo,,, berani sekali." geramnya menatap sangar ke arah Mira.
"Mundur." cicit Mawar, menyuruh Mira berada di belakang tubuhnya.
"Kalian." dia menggerakkan kepalanya. "Lakukan. Ini terlalu lama." lanjutnya.
"Oke..."
Beberapa lelaki maju dan menghampiri mereka. "Mau apa kalian. Heyy..." teriak Mawar.
"Lepaskan...!!" seru Selly.
"Jangan pernah menyentuh gue...!!" teriak Mira.
Masing-masing dari mereka di pegang lelah seorang lelaki. Dengan tangan mereka di bawa ke belakang tubuh. Membuat ketiga gadis itu tak bisa bergerak bebas.
Bos mereka maju, mendekat ke arah Mawar. "Lepas...!!" geram Mawar.
Mawar mencoba melepaskan diri. "Aaa...." teriak laki-laki yang memegang Mawar
Melepaskan cekalan tangannya, saat Mawar menggerakkan kepala ke atas. Mungkin lidahnya tergigit sendiri.
Hal tersebut tak disia-siakan oleh Mawar. Namun sialnya, Mawar kembali ditangkap dengan mudah. Dan kali ini teman dari kekasih Amel yang menangkapnya. Lelaki yang mereka panggil dengan sebutan BOSS.
"Ternyata nyali elo besar juga." bisiknya di telinga Mawar.
Tangannya bergerak ke arah masker yang dipakai Mawar. Tapi Mawar menggerakkan wajahnya ke kanan dan kiri. Membuatnya sedikit kesusahan.
"Diammm...!" bentaknya.
"Lepaskan dia...!!" teriak Mira dan Selly bersama. Keduanya juga berontak ingin melepaskan diri.
__ADS_1