MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 101


__ADS_3

"Bagaimana kalau kita makan malam terlebih dahulu sebelum pulang." ajak Djorgi pada Lina.


"Tapi mas..." ucapan Lina terpotong karena Djorgi segera kembali membuka suara.


"Ayolah Lin, aku lapar. Saat siang aku belum makan saking sibuknya." ujar Djorgi tidak berbohong.


Tapi Djorgi melupakan makan bukan karena sibuk. Tapi karena Djorgi senagaja melakukannya. Dirinya ingin mengajak Lina makan malam bersama.


"Astaga mas, jangan lupa jaga kesehatan. Meski sesibuk apapun." ucap Lina khawatir.


"Kita makan dulu ya. Kamu mau di restoran mana?" ajak Djorgi sekaligus bertanya pada Lina.


"Terserah mas saja." ujar Lina yang memang tidak begitu tahu restoran-restoran di kota ini. Sebab, Lina memang sangat jarang makan di restoran. Bahkan, Lona busa dihitung dengan jari, berapa kali mendatangi restoran untuk makan.


Sebenarnya Lina sangat enggan makan di restoran. Dirinya merasa kurang nyaman. Tapi tak mungkin dirinya mengajak Djorgi makan di warung pinggir jalan.


Dia Djorgi. Bukan Mawar.


"Baiklah, kita makan di restoran terdekat saja. Bagaimana?" tanya Djorgi, yanga mendapat anggukan dari Lina. "Boleh." sahut Lina.


"Kamu suka?" tanya Djorgi, saat dirinya dan Lina duduk di sebuah meja, di salah satu restoran terkenal di kota ini.


Lina terpaksa mengangguk dam tersenyum


"Suka." ucap Lina. Tentu saja bohong.


Lina merasa tak nyaman makam di tempat seperti ini. Pakaiannya dan pakaian yang dikenakan Djorgi tampak berbeda jauh.


Bahkan Lina merasa semua orang menatap aneh pada dirinya. Yang hanya menggunakan kemeja dengan celana bahan panjang berwarna hitam. Dengan tas yang pastinya berharga murah.


"Kamu pesan apa?" tanya Djorgi, menyodorkan menu makanan dan minuman pada Lina.


Lina todak menyentuh menu makanan dan minuman yang disodorkan Djorgi padanya. "Samakan saja dengan mas." pinta Lina merasa bingung harus memesan apa.


Lina menunduk ke bawah. Rasanya sungguh benar-benar tidak nyaman. Ditambah, sekarang Djorgi sedang menatapnya dengan intens.


"Oh iya, besok aku tidak akan ke toko. Mungkin selama dua hari." ucap Djorgi memberitahu pada Lina.


Lina mengangguk. "Iya mas." sahut Lina.


"Alkhamdulillah. Kenapa hanya dua hari." batin Lina. Merasa dua hari masih kurang untuk Djorgi tidak pergi ke toko.


Setidaknya dirinya tidak perlu merasa sungkan dan merasa tidak enak pada karyawan lain di toko. "Kelihatannya kamu seolah saya tidak datang ke toko." tuduh Djorgi, melihat ekspresi Lina yang biasa.


Lina tidak ingin ada kecanggungan lagi. Segera dia mengalihkan topik pembicaraan. "Memang mas mau pergi ke mana?"


Djorgi tersenyum. Setidaknya Lina masih sedikit perhatian. Bertanya mengenai kepergiannya. Padahal, Lina hanya basa-basi. Tak ada niat lain.


"Ada pekerjaan di luar negeri. Semoga cepat selesai. Agar aku bisa cepat pulang. Dan bertemu kamu lagi." ujar Djorgi berharap.


Lina tersenyum dan mengangguk. Seolah setuju dengan apa yang diucapkan Djorgi. Sejatinya, Lina berharap Djorgi akan lama berada di negara tersebut.


Makanan datang. Djorgi dan Lina menikmati makana yang tersaji di piring mereka. "Makanan segini, harganya selangit. Nama nggak akan kenyang diperut." batin Lina.


"Bagaimana? Enak. Kamu sukakan? Kapan-kapan kita ke sini lagi." ucap Djorgi berentet.


Lina tersenyum kaku. Melanjutkan makannya. "Siapa juga yang mau kembali ke sini." batin Lina.


Djorgi merasa usahanya membawa Lina ke tempat ini tidak sia-sia. Djorgi mengira Lina menyukai tempat dan makanan di restoran ini.


......................


"Tuhan, hamba percaya, pertolongan Mu pasti akan datang."


Tenaga Mawar seakan menghilang. Apalagi sedari tadi dirinya harus berlari bersembunyi dari Raka. "Seandainya dari tadi elo seperti ini, pasti gue akan bersikap lembut sayang." cicit Raka, melihat wajah ayu Mawar dengan tatapan mendamba.


Posisi Mawar yang berada di bawah kungkungan tubuh Raka, dengan tangan di atas kepala tercengkeram erat oleh tangan Raka, membuat Mawar tak bisa bergerak. Ditambah beberapa luka di bagian kaki dan tangan, dan juga bagian tubuh lainnya.

__ADS_1


Raka membelai lembut pipi mulus Mawar. "Sungguh,,, gue sangat menginginkan elo."


Tampak jelas dari kedua sorot mata Raka, berkeinginan untuk memiliki Mawar seutuhnya. Raka mendekatkan wajahnya, berniat mencium bibir seksi merah milik Mawar yang selalu menggodanya untuk segera mencicipi bagaimana manisnya.


Namun,,,, plak....


Nafsu yang memburu, membuat cekalan tangan Raka yang sedikit longgar pada pergelangan tangannya, berhasil di pergunakan Mawar untuk menampar Raka menggunakan sisa tenaganya.


Mawar tersenyum sinis. Dengan masih berbaring di atas aspal. Setidaknya dirinya masih bisa melawan Raka. Meski dirinya tahu, jika itu dama sekali tak berguna.


"Aaa...." seru Mawar tertahan, Raka mencengkeram rahang Mawar dengan kuat.


"*****, elo benar-benar perempuan tak tahu diuntung." geram Raka.


Plak... plak.... plak.. Raka beberapa kali menampar kedua pipi Mawar bergantian. Hingga Mawar terkulai lemas merasakan pedih.


Hingga kedua sudut bibir Mawar mengeluarkan darah. Dengan kedua pipi mulus Mawar tak lagi berwarna putih. Melainkan merah.


Mawar memejamkan kedua matanya. Habis sudah tenaganya untuk melawan Raka. Pasrah. Mawar hanya bisa pasrah. Air mata mengalir dari kedua sudut mata Mawar.


Raka tersenyum. Tangannya merobek pakaian yang di pakai Mawar, hingga kancing bajunya terlepas dengan sendiri.


Dalam remang cahaya bulan, Raka melihat dengan jelas, bagaimana menggodanya dua buah benda kembar yang berada di dada Mawar. Dengan masih tertutup sebuah kain.


"Kita bermain-main dulu sayang." ucap Raka. Merasa yakin, jika tidak akan ada yang akan mengganggu kesenangannya.


Sebab posisi mereka berada jauh dari keramaian. Mustahil akan ada orang yang melintas di jalan tersebut. "Kamu memilih tempat yang tepat."


Raka mendekatkan wajahnya pada leher jenjang milik Mawar. Mengendus wangi keringat dari Mawar. "Setelah ini, kamu akan menjadi milik Raka. Dan akan selalu menuruti semua perintah dariku." bisik Raka.


"Mawar,,,, kamu bisa merasakan. Milikku menegang hanya menghirup wangi keringatmu cantik." terdengar jelas suara Raka yang sudah dikuasai hawa nafsu, membuat Mawar semakin jijik.


Raka membelai lembut wajah Mawar. Mengusap air mata Mawar menggunakan lidahnya. Mawar mengeraskan kedua rahangnya, dengan tetap memejamkan kedua matanya.


Raka tersenyum sempurna. "Kali ini, mata kamu tertutup. Tapi setelah ini, kamu akan membuka kedua mata kamu. Menjerit karena rasa nikmat." bisik Raka.


Brummmm...... Sama seperti Mawar tadi, Raka segera mengangkat tangannya untuk menghalau cahaya kendaraan yang mengena tepat pada wajahnya.


Belum sempat Raka melihat siapa kiranya yang datang. Tubuhnya terlebih dahulu ditarik menjauh dari tubuh Mawar.


Bugh,,,, bugh,,, pukulan bertubi-tubi dilayangkan kepada Raka. Hingga Raka tak sempat membalasnya. Karena keras dan kuatnya pukulan tersebut.


"Sudah boss, biar kami yang mengurusnya. Lebih baik anda melihat Nona Mawar." ucap bawahan Jerome mengingatkan.


Tentu saja dia dan yang lainnya tidak berani mendekati Mawar. Apalagi mereka melihat pakaian Mawar yang sudah terbuka dengan keadaan kedua mata terpejam.


"Mawar." segera Jerome berlari ke arah Mawar.


Rahang Jerome mengeras. Hatinya terasa bagai di tusuk oleh beribu jarum melihat keadaan Mawar. "Mawar,,, bangun sayang."


Jerome membuka jaket yang dia kenakan. Menutupinya ke tubuh Mawar. "Sayang, buka mata kamu."


Jerome meletakkan kepala Mawar di lengannya. Mengusap wajah Mawar dengan penuh kasih sayang. "Raka...!!!" geram Jerome tertahan.


Air mata Jerome jatuh membasahi kedua pipinya. Dan baru kali ini, Jerome menangis. "Kak Jerome." lirih Mawar, perlahan membuka kedua matanya.


Jerome memeluk tubuh Mawar dengan erat. "Mawar takut." isak Mawar.


Jerome hanya bisa memeluk tubuh Mawar. Lidahnya kelu untuk berbicara. Hanya air mata hang terus mengalir dari kedua mata Jerome.


Jerome mencium pucuk kepala Mawar. "Ma-maaf." lirih Jerome, merasa bersalah.


"Jeeee.....!" seru Tian dan Luck yang baru datang.


Luck dan Tian memandang Mawar dan Jerome. Keduanya beralih memandang Raka dengan tatapan iblis mereka.


Tanpa berkata apa-apa,,, Tian berlari. Memukul Raka yang sudah tidak berdaya di tangan bawahan Jerome.

__ADS_1


"Sudah Yan.. Sudah." Luck menarik tangan Tian. Menjauh dari Raka.


Luck yang awalnya menghalangi Tian memukul Raka. Kini malah dirinya juga memukul Raka. Melihat wajah Raka, membuat darah Luck mendidih.


Terlebih dia melihat Mawar tergolek tak berdaya di pelukan Jerome.


"Gue bersumpah. Elo nggak akan pernah mati dengan mudah." ancam Luck setelah puas memukul wajah dan tubuh Raka.


Tian mendekat kembali ke tempat Jerome dan Mawar. "Jeee,,, sebaiknya kita membawa Mawar pergi dari sini." sarannya.


Jerome segera menggendong tubuh Mawar, dengan Tian berlari membuka pintu mobil. "Musnahkan mereka. Jangan sampai ada yang tersisa." perintah Jerome sebelum dirinya masuk ke dalam mobil.


"Bawa dia ke markas utama. Jangan ada yang menyentuhnya." Jerome mengepalkan kedua tangannya dengan erat, memandang Raka dengan tajam.


"Kita bawa Mawar ke mana?" tanya Tian.


"Apartemen gue." sahut Jerome.


"Kalian duluan. Gue akan menyusul." tukas Luck.


"Elo hati-hati." Tian dan Jerome tahu apa yang akan Luck lakukan. Memimpin dua kelompok besar. Yakni kelompoknya dan kelompok Jerome, untuk memusnahkan kelompok Raka beserta sekutunya.


"Kalian bawa dia ke markas Jerome. Dia hanya akan disentuh oleh Jerome." perintah Luck.


Tapi Luck kembali memukul wajah Raka sampai puas, sebelum Raka dibawa bawahan Jerome. "Katakan pada yang lain untuk menyusul. Kita akan mengukir sejarah besar." seringai Luck.


Tak lupa, Luck menutupi wajahnya dengan topeng. Begitu juga dengan yang lain. Malam ini, akan terjadi pertarungan dan pembantaian besar.


Dengan mudah dapat di tebak. Siapa pemenangnya. Pastinya kelompok yang di pimpin Luck. Sebab kubu musuh tidak ada yang tahu, bahkan mereka juga sama sekali tidak akan menduga. Jika ada penyerangan besar-besaran pada mereka.


"Boss, markas Erza terbakar habis." lapor bawahan Jerome pada Luck.


Luck memicingkan sebelah matanya. Meminta laporan secara jelas. "Api masih ada yang menyala. Berarti kejadian baru saja terjadi."


"Korban."


"Tidak ada. Sepertinya gedung dalam kondisi kosong saat penyerangan dan pembakaran terjadi. Mungkin, Nona Mawar mengetahui hal ini."


Luck mengangguk. "Cari tahu. Katakan pada Erza apa yang terjadi pada Mawar. Dan juga mengenai penyerangan kita." perintah Luck.


"Baik."


Luck yakin, Erza dan teman-temannya akan bergabung bersama mereka. Apalagi saat Erza tahu apa yang terjadi pada Mawar.


Luck juga seorang lelaki. Dan dirinya tahu, jika Erza juga memiliki perasaan pada Mawar. Itulah yang membuat Luck yakin, jika Erza pasti akan membantu mereka.


"Kita serang dari empat arah. Jangan sampai ada yang lolos." ujar Luck.


"Maaf boss, tapi markas mereka banyak. Dan setiap markas ada penghuninya." ucap bawahannya, mengingatkan Luck.


Luck terdiam. Saking fokusnya dengan Mawar, sampai-sampai Luck kehilangan konsentrasi. Luck menghela nafas panjang. Kembali menenangkan diri.


"Berapa markas mereka?" tanya Luck.


"Semua ada tujuh boss."


Luck mengangguk. "Kita bagi menjadi tujuh kelompok. Kita serang secara bersama."


"Baik." seru mereka serempak.


"Katakan pada yang lain untuk segera menyusul. Aku yang akan menyerang ke markas utama." jelas Luck.


"Baik."


Mereka berangkat ke masing-masing markas sesuai dengan pembagian. Sementara Raka, dia dibawa ke markas utama milik Jerome oleh dua bawahan Jerome.


Tak perlu banyak orang untuk mengantar Raka. Sebab keadaan Raka yang sudah tak berdaya. Membuat Raka tak lagi berbahaya.

__ADS_1


Sesuai dugaan Luck. Erza dan teman-temannya langsung bergabung bersama mereka. Apalagi, ternyata merekalah yang juga telah membakar habis gedung tua yang dijadikan markas oleh Erza beserta teman-temannya.


Semangat dan tekad Erza semakin kuat dan menggebu untuk memusnahkan mereka saat mengetahui keadaan Mawar.


__ADS_2