
"Kenapa dia tidak ikut dimasukkan ke penjara."
"Kenapa ke penjara, seharusnya rumah sakit jiwa."
"Lihat, tampangnya. Iiiissshhhhh,,,,, pandai sekali dia berakting."
"Sumpah, melihatnya saja gue jadi mual."
"Gue sangat bersyukur, gue nggak sekelas sama dia. Menjijikkan."
"Jangan sampai kita tertular penyakitnya, yang tidak ada obat itu."
"Penyakit apa?"
"Penyakit hati." semua tertawa bersama. Seakan Gaby adalah badut yang lucu.
Dan masih banyak cuitan yang Gaby dengar dari para murid. Mereka tidak berbisik. Tapi berbicara dengan keras, sehingga Gaby mendengar semuanya dengan jelas.
"Uuppsss,,, maaf." ucap seorang murid, menabrak Gaby dengan menumpahkan minumannya ke seragam yang dipakai oleh Gaby. Yang pastinya dia melakukan dengan sengaja.
Alhasil, Gaby mendapatkan siraman hangat di pagi hari. "Sorry, gue sengaja. Munafik. Najis." hina dia, meninggalkan Gaby begitu saja.
Beberapa murid yang melihatnya malah tertawa mencemooh dengan memandang Gaby. Tak ada satupun yang berniat ingin membantu.
"Kenapa? Kenapa semua seperti ini. Kenapa?" gumam Gaby terlihat bingung.
Semua yang ada di benaknya sejak dirinya berada di rumah, tak ada yang terjadi. Semua murid masih menatapnya seperti dulu. Bahkan, mereka seperti sedang menatap sampah.
Bahkan, jika dulu mereka hanya berani berkata di belakang Gaby. Sekarang mereka terang-terangan mengoloknya tanpa rasa takut.
Jika dulu, mereka tak berani menyentuh Gaby. Sekarang mereka seakan menunjukkan rasa tak sukanya dengan nyata, tanpa mereka tutup-tutupi lagi.
Gaby memandang ke arah seragam bagian depan yang basah. "Apa elo lihat-lihat....!!" hardik Gaby melotot pada sekumpulan siswi yang menatap ke arahnya seraya berjalan masuk.
"Astaga. Apa sekarang penyakit hatinya bertambah parah." ujar salah satu dari mereka dengan suara lantang.
"Kelihatannya iya. Penyakit jiwa." celetuk yang lain, dengan disambut tawa siswa lainnya.
"Diam...!!" teriak Gaby, merasa jika dirinya dipandang layaknya seseorang yang hina. Hingga dia ditertawakan.
Seorang siswa mendekati Gaby. "Hey... jaga mulut elo. Jangan dibiarkan terbuka lebar. Bau." ucapnya tersenyum miring, dengan jari jemari memencet hidungnya sendiri.
Lalu dia berlalu meninggalkan Gaby yang semakin murka. "Kalian...!! Kenapa memperlakukan gue seperti ini...!!" teriak Gaby seperti orang kesurupan.
"Jangan teriak-teriak, ini sekolah. Tempat belajar. Bikan rumah sakit jiwa penampungan orang kayak elo. Sinting." ejeknya.
Habis sudah kesabaran Gaby. Nyatanya, semua tak seperti yang dia bayangkan. "Elo..." Gaby berjalan cepat menghampirinya. Dan langsung menyerangnya.
Murid yang lain tentu saja lebih menolong murid yang diserang oleh Gaby, alih-alih melerai. Mereka mendorong tubuh Gaby hingga terjatuh ke tanah.
"Aaaawwwww.." seru Gaby, pantat dan sikunya terasa sakit.
"Dasar gila!!" seru murid yang tiba-tiba di serang oleh Gaby.
Byurr..... Seorang murid menyiram Gaby dari atas menggunakan sebotol air dingin. "Itu buat rukiah elo. Biar adem otak elo." sungutnya kesal pada Gaby.
Gaby hanya bisa duduk dengan emosi yang berapi-api. "Gimana enak, segar. Seperti itu rasanya disiram air. Enak bukan." ucapnya, sebab Gaby beserta teman-temannya dahulu juga pernah melakukan seperti itu pada dirinya. Bahkan tidak hanya sekali.
"Sebaiknya kita tinggalkan. Jangan sampai kita terinfeksi gila, karena terlalu dekat dengan orang macam dia." ucap yang lain.
Keributan di depan, membuat beberapa murid yang sudah berada di dalam kelas menjadi penasaran. Mereka lantas pergi meninggalkan kelas untuk melihat apa yang terjadi di depan.
Tidak dengan Mawar dan kedua temannya. Juga murid yang sudah berada di dalam kelas. Lantaran kelas mereka berada di lantai dua, dengan mudah mereka bisa melihat apa yang terjadi di depan sekolah melalui jendela kelas.
Semua murid memandang kesal dan remeh pada Gaby. Meninggalkan Gaby yang masih duduk dengan keadaan rambut serta baju basah. Sebab sebentar lagi bela masuk ke kelas akan berbunyi.
Gaby terdiam. Dia melihat sebuah batu berukuran sedang. Entah apa yang Gaby pikirkan, tiba-tiba dia berdiri, dan mengambil batu tersebut.
"Awas......!!!" teriak murid yang melihat telapak tangan Gaby memegang batu dengan ekspresi kejam, berjalan menuju ke arah para murid gang berjalan membelakangi Gaby.
Sontak, semuanya menoleh ke belakang. "Gaby gila....!!!" teriak salah satu dari mereka, saat Gaby mengangkat tangannya, hendak melempar batu berukuran sedang tersebut pada mereka.
__ADS_1
Tapi tangan Gaby tetap berada di atas, dengan batu tetap di dalam cekalannya. Thomas datang tepat waktu. Segera Thomas yang melihatnya berlari dan menghentikan aksi saudaranya tersebut dengan memegang lengan Gaby.
"Syukurlah." ucap semua murid, termasuk Mawar dan para murid yang melihat dari lantai dua serta lantai tiga.
"Lepas...!!" teriak Gaby berontak.
Thomas merebut batu di tangan Gaby. "Elo gila, elo bisa membunuh orang menggunakan ini."
"Memang itu yang gue inginkan." seru Gaby dengan kedua mata melotot.
Thomas mengeratkan cengkeraman tangannya di lengan Gaby. Membuat Gaby meringis kesakitan. "Memang benar apa yang dikatakan mereka. Seharusnya elo masuk rumah sakit jiwa. Bukan sekolah." tukas Thomas geram.
"Kita harus menekan pihak sekolah untuk mengeluarkan Gaby. Dia sangat berbahaya." saran salah satu murid.
"Benar. Jika Gaby masih berada di sini gue lebih baik pindah sekolah." tukas yang lain.
"Benar. Gue juga." seru yang lain.
"Aaaa.... ini semua pasti ulah Jerome....!!" seru Gaby, membuat para murid memandangnya Gaby dengan tatapan aneh.
Mana ada yang akan percaya dengan ucapan Gaby. Apalagi Jerome saat ini sudah tidak sekolah di tempat ini. "Lihat, dia memang sudah tidak waras." ujar seorang murid.
Bukan tanpa alasan Gaby mengatakan hal tersebut. Pasalnya, Jerome mengaku sendiri pada Gaby. Jika video yang membuat Gaby malu, karena kejadian di panggung, ternyata Jerome lah dalangnya.
Meski pihak sekolah menghapusnya, Jerome dengan mudah mendapatkannya. Dan menyebarkannya.
Dan semua Jerome lakukan karena Gaby telah berani mengusik sang kekasih. Mawar.
"Mawar..... Ini semua gara-gara elo...!!" teriak Gaby frustasi.
"Hoey.... Dasar otak hewan. Tidak punya terimakasih. Jika bukan karena Mawar, elo pikir kemarin kita sudi menolong elo. Nggak akan....!!" seru seorang murid yang tidak terima dengan apa yang dikatakan Gaby.
"Asal elo tahu, kita semua ogah menolong elo. Dan Mawar, dia yang selalu elo sakiti, malah menolong elo. Mawar yang membujuk kita semua. Asal elo tahu...!!!"
Semua murid meradang mendengar Gaby menjelekkan nama Mawar. Pasalnya mereka tahu sendiri, jika bukan karena perkataan Mawar, tak akan ada yang menolong Gaby.
"Elo lihat, mereka memuja Mawar. Mereka memuji Mawar bagai malaikat. Padahal, Mawar adalah iblis.... Dia iblis dengan seribu wajah...!!" seru Gaby, menatap Thomas.
Thomas melepaskan tangan Gaby, setelah mengambil batu tersebut. Thomas tersenyum miring. "Gue malu, punya saudara seperti elo." tukas Thomas, memandang sengit Gaby dan meninggalkan Gaby.
"Keluarkan Gaby....!!"
"Keluarkan manusia sampah seperti Gaby...!!!"
"Jika Gaby tidak dikeluarkan, kita yang akan keluar...!!"
Semua guru serta kepala sekolah menenangkan mereka. Meminta mereka untuk tenang. "Kalian tenang. Pihak sekolah akan berunding. Dan mengambil keputusan sebaik dan seadil mungkin." papar kepala sekolah.
"Pak, Gaby itu hanya hama. Dia malah akan mencoreng nama baik sekolah, jika dibiarkan berkeliaran di sekolah."
"Lagi pula, Gaby hanya bisa membuat rusuh.Tidak ada hal yang bisa kita banggakan dari dia."
"Benar pak. Sudah saatnya sekolah melakukan sesuatu. Jika Gaby tidak dikeluarkan, saya yang akan pindah sekolah." ancam seorang murid.
"Benar,,,,!! Setuju....!!!" ucap semua murid serempak.
Kepasa sekolah mengangkat tangan ke atas, menyuruh semua murid untuk tenang. "Sudah saya katakan. Kami akan berunding. Wali atas nama Gaby akan kami didatangkan untuk menghadirinya. Tenang saja, kami akan mengambil keputusan yang terbaik."
"Kalian sudah dengar apa yang kepala sekolah katakan. Sekarang bubar. Kembali ke kelas masing-masing...!!" pinta seorang guru.
Para guru dan kepala sekolah hanya mampu menghela nafas. "Mungkin ini semua adalah uneg-uneg dari mereka yang selama ini terpendam. Dan akhirnya meledak saat ini." tutur seorang guru.
Beliau juga kerap mendengar berita yang mengatakan Dona beserta kawanannya yang selalu membuat rusuh.
Kenapa beliau tidak mengambil tindakan. Karena tidak ada aduan atau laporan dari murid. Satupun. Itulah kenapa sampai detik ini Dona beserta teman-temannya tak pernah dihukum secara adil.
Mawar masih memandang ke arah luar kelas dari balik jendela. Dilihatnya Gaby yang sedang duduk sembari menangis seorang diri.
Entah apa yang Mawar rasakan dalam hati. "Ingat, sudah berulang kali elo menolong dia. Tapi apa,,,, dia sama sekali tidak berubah." ucap Mira, terdengar oleh semua teman sekelas mereka.
"Benar kata Mira. Mungkin, memang sifat dasar Gaby seperti itu. Dan tidak akan bisa berubah. Jadi percuma, elo selalu menolongnya." timpal teman sekelas yang lain.
__ADS_1
Yang sebenarnya mereka juga mengerti maksud Mawar menolong Gaby. Selain karena rasa kemanusiaan, Mawar juga berharap Gaby merubah sikap dan kelakuannya.
"Gue setuju. Lebih baik elo nggak usah lagi menolong ataupun berurusan dengan dia." sahut Selly.
Di kampus, Jerome dan kedua sahabatnya sedang menikmati makanan mereka. "Muka elo kenapa? Kayak matahari tertutup mendung." goda Tian pada Jerome.
Luck hanya tertawa lirih, seraya memasukkan mie ayam di dalam mangkok ke dalam mulutnya. "Berapa hari elo nggak ketemu Mawar?" lanjut Tian menggoda Mawar.
Tentu saja dengan mudah mereka bisa menebak alasan Jerome terlihat malas mengerjakan sesuatu. Apalagi jika bukan karena Mawar.
Jerome hanya berdecak, melirik ke arah Tian dengan tatapan tajam. "Makan Jeeee,,,, jangan diaduk terus. Kasihan, mienya pusing." ujar Tian lagi, menahan senyum.
Jerome dan Tian, beserta Luck kuliah di kampus yang sama. Mereka juga mengambil jurusan yang sama pula. Bukan Luck dan Tian ingin mengekor kemanapun Jerome pergi.
Karena memang, ketiganya akan berkecimpung di dunia yang sama. Yakni bisnis. Melanjutkan tombak kepemimpinan dari perusahaan papa mereka.
Saat ini, ketiganya sedang berada di kantin sekolah. Mengisi perut mereka yang meronta-ronta ingin diberi asupan.
"Jerome, di sini banyak cewek cantik dan seksi. Gue yakin, mereka nggak akan nolak elo. Ya,,,, buat mengisi waktu kosong elo saja. Dari pada terus mikirin Mawar." ledek Luck.
Mana mungkin Luck ataupun Tian setuju, jika Jerome mempermainkan Mawar. Sebab keduanya juga sudah menganggap Mawar sebagai sahabat mereka.
Jikapun Jerome melakukan hal tersebut, pasti persahabatan mereka akan renggang. Dan pastinya keduanya malah akan lebih condong ke Mawar.
"Brengsek. Dan Mawar tahu. Gue diputusin. Elo ambil Mawar." sinis Jerome.
Tian dan Luck tertawa lepas. "Pinter juga elo. Sumpah, wiihhh.... bisa pas gitu, elo nebak jalan pikiran gue." ujar Luck disertai tawa yang masih terdengar.
"Sialan." umpat Jerome, mulai menyuapkan sesendok demi sesendok makanan ke dalam mulutnya dengan raut wajah kesal.
Sembari makan, Jerome menatap ke layar ponselnya yang dia taruh di atas meja. "Nggak usah berharap Jeee,,, Mawar pasti juga seperti kita. Sedang mengejar ilmu untuk masa depan." tutur Luck dengan kalimat yang membuat bulu kuduk Tian dan Jerome merinding.
Tian menggeser duduknya, sedikit menjauh dari Luck. "Lama-lama gue gila dekat sama elo." ucap Tian bergidik ngeri.
Suasana santai saat makan disertai obrolan yang menyenangkan terhenti manakala ada seorang mahasiswi yang mendekat. Dan langsung duduk di samping Jerome.
"Hay... boleh meminta nomor ponsel kamu?" tanyanya langsung, menatap Jerome penuh damba.
Luck dan Tian saling pandang sejenak dengan senyum miring terpatri di bibir keduanya. "Yakin sekali. Ckk..." decak Luck lirih.
Jika dilihat, memang mahasiswi meminta nomor ponsel Jerome mempunyai paras cantik dan juga kulit yang bersih. Tapi tetap saja, jauh lebih cantik Mawar, yang memang tidak pernah memakai riasan.
Jerome mengambil ponselnya. "Sebentar." ucap mahasiswi tersebut dengan senang. Pasalnya Jerome mau memberikan nomor ponselnya.
Jerome menyebutkan sebuah nomor pada mahasiswi tersebut. "Huk,,, huk,,,," secara bersamaan, Luck dan Tian tersedak makanan mereka.
Segera tangan mereka mengambil air minum dan meneguknya. Luck dan Tian saling pandang. Luck tertawa lepas. Tapi tidak dengan Tian.
Tian mengalihkan pandangan ke arah Jerome, menatapnya dengan tatapan kesal. Karena Jerome memberikan nomor Tian pada mahasiswi tersebut. Bukan nomor ponselnya sendiri.
"Terimakasih." cicit mahasiswi tersebut dengan raut wajah bahagia.
"Aku coba telpon kamu ya. Kamu simpan nomor aku." pintanya dengan nada yang lembut. Entah dibuat-buat, atau memang kesehariannya seperti itu.
Dengan segera dia menghubungi nomor yang baru saja diberikan Jerome padanya. Jerome dengan santai melanjutkan makannya. Dengan ponsel berada di atas meja.
Mahasiswi tersebut menatap heran ke arah Jerome. Pasalnya ponsel milik Jerome tidak menyala. Padahal sudah terdengar suara dari ponselnya, jika panggilannya terhubung.
Luck menahan tawanya. Sedangkan Tian, dengan raut wajah masam, mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya. Menaruhnya tepat di atas meja di depan mahasiswi tersebut.
"Loh..." ucapnya, melihat ponsel Tian menyala dengan menampilkan nomornya pada layar tersebut.
"Itu nomor gue. Bukan nomor Jerome." tekan Tian.
"Tapi, tadi aku minta nomor Jerome." cicitnya, dengan ekspresi terlihat sedih serta kecewa.
"Elo, gue beritahu. Nomor Jerome itu unlimited. Hanya orang tertentu yang bisa menyimpannya. Dan elo bukan termasuk orang itu. Paham." tekan Tian dengan nada kesal.
Kedua mata mahasiswi tersebut berkaca-kaca. Seolah dirinya ingin menangis. Bukannya memberikan nomornya, atau mengatakan sesuatu, Jerome malah berdiri dan meninggalkan kantin, tanpa peduli dengan mahasiswi tersebut.
Tian dengan senyum sinis menyusul langkah Jerome. Luck mengambil uang dari dompetnya. "Simpan air mata elo. Jerome nggak akan termakan dengan air. Nggak kenyang." ucap Luck, pergi membayar makanan mereka, dan segera menyusul kedua sahabatnya.
__ADS_1
Mahasiswa tadi mengeratkan rahangnya. Tampak semua yang ada di kantin menatapnya. Entah apa yang ada dalam benak mereka. Kasihan, atau malah menertawakannya dalam hati.
Sebab, mahasiswi tersebut terbilang cantik. Badannya juga tidak terlalu seksi, meski dia memakai pakaian yang minim. Seperti rok pendek. "Sialan, ini pertama kalinya gue dipermalukan." ucapnya dalam hati.