
Selly mengendarai mobil dengan laju yang lumayan cepat. Dia sama sekali tidak peduli dengan keadaan mobilnya yang sudah tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Kaca bagian belakang dan samping mobil pecah. Kaca bagian depan retak. Badan mobil di beberapa bagian terlihat pesok ke dalam. Juga ada bekas goresan di beberapa bagian.
Bahkan, beberapa pengendara jalanan menatap heran ke arah mereka. Yang ada di benaknya adalah keadaan sopir keluarga Mira. "Bagaimana Mir...?!" tanya Selly sembari fokus ke jalan yang dilaluinya.
"Semakin lemah." cicit Mira.
Tidak dapat dipungkiri. Perasaan khawatir menyeruak dalam hati keduanya. Meski mereka tahu, semua terjadi bukan karena kesalahan mereka.
Tapi tetap saja. Mereka akan merasa bersalah, jika sampai pak sopir tidak terselamatkan. "Pak, bertahanlah. Kita akan sampai di rumah sakit." ucap Mira sesegukan.
Pakaian dan celana Mira berbau anyir. Darah yang keluar dari tubuh pak sopir menempel dan mengenai pakaian Mira.
"Gue harus secepatnya sampai di rumah sakit." gumam Selly, teringat Mawar yang rela turun dari mobil demi mereka.
"Cepat Selly..." ujar Mira.
Selly menambah laju kecepatan mobilnya. "Siapapun,,,,!!! Tolong...!!!" teriak Selly, saat mereka sudah sampai di rumah sakit terdekat.
"Pasien ada di dalam mobil." seru Selly, saat seorang perawat menghampirinya.
"Bangkar.....!!" teriaknya pada rekan seprofesinya, melihat keadaan pasien yang parah.
Mira dan Selly berlari beriringan dengan bangkar yang membawa pak sopir. "Kami akan menangani pasien. Tolong anda ke depan untuk mendaftar dan membayar biaya administrasi." jelas seorang perawat, setelah sopir Mira dibawa masuk ke dalam.
"Biar gue, elo tunggu di sini." tukas Selly. Mira mengangguk. Duduk di depan ruang IGD.
Pintu terbuka dari dalam. "Maaf, kelurga pasien." ujar seorang berpakaian medis.
Mira segera berdiri. "Iya, saya." ucap Mira dengan cepat.
"Maaf pasien dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Dan untuk penanganannya, kami mengharuskan melakukan prosedur operasi."
Mira mengangguk. "Lakukan. Lakukan apapun yang terbaik, selamatkan nyawanya." tutur Mira, kembali meneteskan air mata.
"Baik."
Selly kembali dengan menenteng sebuah kantong kresek di tangannya. "Minum dulu." menyerahkan sebotol air mineral pada Mira.
Mira mengambil dan meminumnya beberapa teguk, juga dengan Selly. "Bagiamana?" tanya Selly.
"Harus melakukan operasi." ujar Mira dengan air mata kembali menetes di pipi.
"Tenang, semua akan baik-baik saja." ucap Selly mencoba membuat Mira tenang. Padahal dirinya sendiri juga mengalami hal seperti yang Mira rasakan.
Takut jika sopir keluarga Mira tidak selamat. Mengingat bagaimana parahnya keadaan pak sopir. "Elo udah telpon mama atau papa elo?" tanya Selly.
Mira menggeleng " Astaga, Mawar. Bagaimana dengan Mawar." Mira teringat akan sahabatnya tersebut.
"Benar. Gue nggak bawa ponsel." ujar Selly, karena ponselnya berada di tangan Mawar.
Mira mengambil ponselnya. Menghubungi Mawar dengan segera. "Halo Mawar, elo gimana?" tanya Mira.
"Syukurlah." Mira terlihat lega. Mira terdiam. Mendengarkan apa yang dikatakan oleh Mawar dengan seksama.
"Baik. Gue dan Selly akan lakuin yang elo minta." ujar Mira, memandang ke arah Selly.
"Dia sedang berada di ruang operasi." papar Mira berbicara dengan Mawar di seberang telepon. Lalu memasukkan ponselnya yang sudah mati ke dalam saku.
Mira mengatakan pada Selly apa yang Mawar inginkan. Selly hanya mengangguk menyetujuinya tanpa bertanya alasannya.
Dirinya yakin, jika Mawar menyuruh mereka melakukannya karena ada alasan yang kuat. "Telepon orang tua kita." pinta Selly.
Mira mengangguk. Menghubungi mamanya dan juga mama Selly. Mengatakan jika mereka berdua berada di rumah sakit. Tanpa menjelaskan apa yang terjadi.
Mira hanya mengatakan jika sopir mereka dalam kondisi kritis. "Bagaimana?" tanya Selly.
"Mereka akan ke sini." tutur Mira.
"Baiklah. Lebih baik elo ganti baju. Kita gantian. Bukankah di dalam mobil ada baju kita." saran Selly.
Mira mengangguk. Melihat pakaian yang melekat di tubuhnya bau anyir dan kotor. "Gue duluan." pamit Mira.
"Iya, gue tunggu di sini." tukas Selly. Keduanya bergantian mengganti pakaian mereka.
Karena tidak mungkin mereka meninggalkan pak sopir yang tengah melakukan operasi.
Jerome dan yang lain meninggalkan tempat kejadian. Sisanya diurus oleh bawahan Luck. Markas Erza adalah tujuan mereka.
Erza memanggil seorang dokter untuk memeriksa kondisi Mawar yang sekarang berada di markasnya. Tentunya dokter pribadi keluarga Erza.
Selesai memeriksa Mawar, sang dokter diantar kembali oleh bawahan Luck yang ikut bersama dengan meraka.
"Sebaiknya kamu istirahat." ujar Jerome menatap Mawar dengan sendu.
Mawar terkekeh pelan. "Ada apa dengan wajahmu. Bukankah aku pernah mengalami hal yang lebih menakutkan dari pada ini."
"Mawar..." panggil Jerome.
"Khemmm... benar kata Jee, kamu harus istirahat." ujar Deren.
Deren yakin jika saat ini Mawar sedang merasakan syok dan masih tersisa ketakutan. Melihat apa yang terjadi di depannya.
Tanpa Deren tahu, jika sebelumnya Mawar juga pernah mengalami hal yang mengerikan bersama Jerome.
Saat mereka sedang berbincang, ponsel Mawar bergetar. "Siapa?" tanya Jerome.
"Mira." sahut Mawar, segera menjawab panggilan telepon dari Mira.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Sekarang aku berada di salah satu rumah warga. Mereka akan mengantarkanku pulang setelah keadaan aman." ucap Mawar berbohong.
Jerome dan yang lain tersenyum mendengar apa yang Mawar katakan pada sahabatnya di seberang telepon.
Mereka paham kenapa Mawar tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Karena memang lebih baik kedua sahabatnya itu tidak mengetahui tentang apapun. Bukankah itu lebih aman.
"Mira, dengarkan aku. Dengarkan aku baik-baik. Jika kalian ditanya oleh siapapun. Siapapun. Termasuk kedua orang tua kalian atau polisi. Katakan jika kalian tidak pernah melihat wajah mereka. Satupun. Ingat, lakukan apa yang aku katakan." pinta Mawar pada sahabatnya tersebut.
"Oke. Aku akan jelaskan secara langsung, setelah kita bertemu nanti."
"Bagaimana keadaan sopir kamu?" tanya Mawar.
"Baiklah. Kalian berhati-hatilah." Mawar mengakhiri panggilan teleponnya dengan Mira.
Deren menatap intens ke arah Mawar. Deren berpikir, jika ada sesuatu yang Mawar tahu. "Kenapa kamu melarang mereka?" tanya Deren.
Deren merasa sebaiknya melapor pada pihak keamanan adalah jalan terbaik. "Karena mereka sangat berbahaya." jelas Mawar.
"Berbahaya. Justru itu. Mereka sangat berbahaya. Sudah selayaknya kita melaporkan pada pihak berwajib. Mereka akan mendapatkan hukuman. Itu layak mereka dapatkan, Mawar." jelas Deren berpikir seperti orang baik.
"Kamu yakin. Semua akan selesai dengan kita lapor pada pihak berwajib." tekan Mawar.
"Lalu apa gunanya kami memakai masker. Apa gunanya kamu dan mereka memakai penutup wajah. Apa?!" tanya Mawar.
"Apa yang kamu lihat dan kamu yakini, tidak sepenuhnya terjadi dengan benar." ungkap Jerome membuka suara.
"Mereka bukan hanya satu kelompok, atau dua kelompok. Mereka banyak. Dan seperti yang kamu tahu. Berbahaya." lanjut Jerome.
Deren diam. Dirinya memang sama sekali tidak mengerti urusan dunia bawah tanah. Tapi meski begitu, setidaknya Deren dapat berpikir sedikit realistis.
"Bukan hanya mereka yang akan terjerat hukum. Kita semua. Kita terlibat, Deren. Entah sebagai saksi atau malah akan menjadi tersangka." jelas Mawar.
Cemburu. Deren sedang terbakar cemburu. Dirinya juga ingin diperhatikan oleh Mawar. Sementara sedari tadi, Mawar lebih dekat dengan Jerome.
"Tahan emosi kamu. Kita baru saja menjalani kesulitan. Berpikirlah yang bijak." bisik Tian pada Deren.
Suasana hening beberapa saat. Hingga suara Mawar memecah keheningan tersebut. "Markas kalian sekarang jauh lebih bersih." celetuk Mawar, memandang sekeliling.
Erza menelan ludahnya dengan kasar. "Kenapa Mawar meski berkata seperti itu." batinnya, tak berani menatap Jerome.
Jerome teringat, akan perkataan Mawar sebelum ke sini. Mawar mengatakan jika jarak keberadaan mereka dan markas Erza tidak terlalu jauh.
"Mawar, kamu pernah ke sini?" tanya Jerome dengan lembut.
Deren, Tian, dan Luck menatap ke arah Erza. Begitu juga rekan-rekan Erza. Rekan-rekan menahan senyum, apalagi Erza terlihat seperti sedang mengalami tekanan batin.
Erza menatap Mawar, menggeleng pelan. Berharap Mawar tidak mengatakan yang sejujurnya. "Pernah." cicit Mawar dengan polos.
"Mampus." gumam Erza menundukkan kepala. Rekan-rekan Erza langsung tersenyum membuang muka.
"Kapan?" tanya Jerome, melirik tajam ke arah Erza. "Sebaiknya elo duduk." ujar Jerome, saat Erza hendak melangkahkan kaki, kabur dari Jerome.
Erza menggerakkan tangannya seakan dia sedang meregangkan otot. "Siapa yang mau pergi, badan gue cuma pada pegel." ucapnya beralasan.
"Saat..." ujar Mawar.
Segera Erza menyambar perkataan Mawar. Dirinya takut Mawar salah bicara. Bukankah dirinya yang akan dalam masalah besar. "Kita berdua nggak sengaja bertemu. Gue lihat Mawar sedang tidak baik-baik saja. Gue ajak mampir ke sini." jelas Erza.
Jerome memandang Mawar, menginginkan sebuah penjelasan yang keluar dari mulut Mawar. Lalu Mawar mengangguk, membenarkan perkataan Erza.
Lagipula, tak mungkin Mawar akan menceritakan kejadian yang sebenarnya saat itu. Dimana dirinya bertemu dengan Caty, berakhir ditampar oleh sang ayah.
Deren diam, otaknya sedang berpikir kemana-mana. Sejak kapan Mawar dan Erza kenal. Sejak kapan Erza dan Jerome terlihat seperti sahabat.
"Elo harus tahu batasan elo, Erza." tekan Jerome memperingatkan.
"Iya." sahut Erza memutar kedua bola matanya dengan jengah.
Mawar hanya cuek, sebab dirinya memang tidak tahu apa yang terjadi antara Jerome dan Erza. "Bagaimana kalian bisa terlibat?" tanya Luck yang merasa penasaran sejak tadi.
"Kita berempat dalam perjalanan pulang dari rumah nenek Mira. Lalu...." Mawar menceritakan semua kejadiannya secara rinci.
"Pasti mereka berpikir kalian merekam aksi mereka." tebak Tian.
Mawar mengangguk. "Iya, Roy meminta hal tersebut." cicit Mawar.
"Kalian merekamnya?" tanya Erza, Mawar menggeleng.
"Apa akan aman, melepaskan mereka begitu saja?" tanya Mawar tiba-tiba. Dengan pandangan lurus ke depan, terlihat serius.
Semua mata memandang ke arah Mawar. "Kalau tidak salah teman Roy ada tiga lagi. Mereka sama seperti Roy, pimpinan anak motor." jelas Mawar.
"Mawar..." gumam Jerome terkejut.
Bukan hanya Jerome, semuanya tampak terkejut. Sejauh mana Mawar mengetahui tentang mereka. Dan bagaimana bisa.
"Mawar, bagaimana kamu bisa tahu?" lirih Deren.
Mawar mengeluarkan ponselnya. "Masih ingat." dia memperlihatkan sebuah foto dimana ada empat lelaki di dalamnya pada Jerome.
Jerome mengangguk. "Ya, mereka." Jerome tampak berpikir sesuatu.
"Boleh pinjam?" ujar Luck. Mawar menyerahkan ponselnya pada Luck.
"Hanya sebuah ketidak sengajaan." tukas Mawar, menjelaskan asal foto tersebut.
"Benar. Tapi mereka juga hanya bawahan. Ada orang yang menggerakkan mereka lagi." cicit bawahan Luck, yang memang paham akan hal tersebut.
Luck dan Tian menatap Mawar dengan lamat-lamat. Seperti Deren, baik Luck maupun Tian juga heran. Kenapa Mawar bisa mengetahui tentang semua ini.
__ADS_1
"Setahu gue, kelompok inti mempunyai tanda kecil di telapak tangannya. Cukup kecil. Sehingga hanya orang tertentu yang bisa mengetahuinya." jelas rekan Erza.
Mawar menggigit kuku jari tangannya. Pikirannya kembali pada Amel. "Apa mbak Amel tahu jika kekasihnya orang yang berbahaya. Gue harus mencari tahu." batin Mawar.
"Bunga aster." celetuk bawahan Luck. "Yang diukir dengan ukuran kecil, langsung menyatu dengan kulit. Sehingga tidak akan pernah hilang seumur hidup." lanjutnya.
Mawar mendongak. "Bu-bu-bunga aster. Putih dan kuning." cicit Mawar, mendapat anggukan dari bawahan Luck.
"Ada apa. Kamu pernah melihatnya?" tanya Jerome, saat wajah Mawar berubah pias.
Mawar segera menggeleng. "Tidak. Hanya,,,, mungkin pernah. Tapi lupa. Entahlah." papar Mawar.
Mawar dan Jerome saling pandang. Jerome mengedipkan matanya, memberi isyarat pada Mawar. Dan Mawar mengerti apa yang diinginkan Jerome.
Sayangnya, mata Erza cukup jeli. Erza tersenyum samar. Tahu jika ada yang diketahui oleh Mawar dan Jerome. "Elo memang penuh kejutan, Mawar." batin Erza.
"Oh,,, iya. Ujian kalian sudah selesai?" tanya Mawar, mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Sudah, hari ini hari terakhir." ucap Tian.
"Sebentar lagi kita akan berpisah. Elo jangan kangen ya." goda Luck pada Mawar.
Mawar terkekeh pelan. Jerome tersenyum melihat wajah cantik Mawar. Rasa khawatirnya sekarang sudah menghilang. "Idih... ngapain Mawar kangen sama kak Luck." ujar Mawar.
"Bagaimana kalau gue pindah ke sekolah elo." celetuk Erza, mendapat pelototan dari Jerome.
Erza menggaruk rambut di kepalanya yang tidak gatal. "Gue cuma tanya. Nggak ada niat beneran." cicit Erza.
"Kalau mau pindah ya pindah saja. Sekolahkan di buka untuk umum." papar Mawar.
"Nggak Mawar, bercanda. Di sekolah elo ada singa." sindir Erza.
"Ehh,,,, bukannya kamu sedang mendekati kak Dona?" tanya Mawar spontan, memang semua murid mengetahui hal tersebut.
Erza tersenyum garing. "Enggak, cuma ngisi waktu luang saja." papar Erza, menatap kesal Jerome. Jika bukan karena permintaan Jerome, ogah Erza melakukannya.
"Kalian mau kuliah di mana?" tanya Mawar.
"Kalau gue, di sini saja." sahut Luck.
"Sama, gue juga." timpal Tian.
"Kak Deren sama kak Jerome?" tanya Mawar.
Ponsel Mawar berdering, sebelum keduanya menjawab pertanyaan dari Mawar. "Siapa?" tanya Erza, karena Mawar tidak segera mengangkatnya. Malah memandangi layar ponselnya.
Mawar menggeleng. Menandakan jika nomor tersebut tidak Mawar simpan di daftar kontak. "Apa dia lagi." batin Mawar.
Siapa lagi jika bukan teman dari kekasih Amel. Padahal Mawar sudah berkali-kali memblokir nomornya.
Tapi dia malah menggunakan nomor baru untuk kembali menghubungi Mawar tanpa rasa malu. "Halo." Mawar memutuskan untuk mengangkat panggilan teleponnya.
Kedua alis Mawar terangkat ke atas, dengan ponsel tertempel di telinga kirinya. Mawar tersenyum miring. Semua yang berada di sekitar Mawar, menatap Mawar dengan seksama.
"Tapi maaf, aku tidak sedang berada di rumah. Mungkin masih besok kembali ke kota." jelas Mawar.
"Hemmm..." Mawar segera mematikan sambungan teleponnya. "Bunga aster." batin Mawar.
Mawar membeku. Teringat jika dia pernah melihat bunga tersebut. Dan Mawar cukup tahu dan kenal dengan pemiliknya.
Dada Mawar bergemuruh. "Apa mungkin. Tapi, bagaimana bisa." batin Mawar.
"Mawar,,, Mawar,, kamu baik-baik saja?" Jerome menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Mawar.
"Hah.... oke. Aku baik." sahut Mawar dengan gugup.
"Mawar, ceritakan. Ada apa, kami akan membantu." saran Luck.
"Roy,,, yang menghubungi aku tadi adalah teman Roy." jelas Mawar.
"Maksud kamu. Roy yang tadi di amankan oleh orangnya Jerome?!" tanya Deren.
Mawar mengangguk. "Salah satu dari mereka adalah kekasih teman kerja aku di butik." jelas Mawar.
Deren mengerutkan kening. "Kerja. Kamu kerja. Di butik." Deren memang tidak tahu jika Mawar bekerja di butik milik Nyonya Utami, mamanya Dona.
"Sejak kapan?" tanya Deren benar-benar berita yang membuatnya syok.
Sementara Jerome dan Erza terlihat tenang. Pasalnya mereka berdua sudah tahu semuanya. Keduanya juga tahu, jika salah satu dari mereka mencoba mendekati Mawar.
"Bukankah nomornya sudah kamu blokir." tutur Jerome.
"Memang. Tapi dia selalu pakai nomor baru setiap menghubungi aku." jelas Mawar.
Deren berdiri. "Tunggu. Jelaskan semuanya. Kenapa gue seperti orang tolol di sini!!" seru Deren, merasa tidak tahu apapun.
Sementara Jerome. Dia sepertinya dengan cepat mengetahui semua mengenai Mawar dengan mudah. Padahal dirinya yang lebih dulu mendekati Mawar. Tapi kenapa semuanya jadi seperti ini.
"Deee...." Tian mencoba menenangkan Deren. Sebenarnya Tian sama seperti Deren. Dirinya juga tidak mengerti apapun.
Mawar bekerja. Bekerja di mana. Lelaki yang mendekati Mawar. Atau apalah. Namun, Tian sadar. Perasaannya dengan perasaan Deren berbeda.
Mawar menatap intens ke arah Deren. Mawar tahu kenapa Deren bersikap demikian. "Kenapa kamu memberi ruang pada Jerome, tapi tidak denganku?!" tanya Deren menaikkan intonasi suaranya.
"Deren...!! Tahan emosi kamu." tegas Luck.
"Mawar. Kamu menolak cintaku. Mengatakan jika tidak ingin menjalin kasih dengan siapapun. Tapi apa, kamu berbohong. Kamu memberi ruang pada Jerome. Kenapa??!" seru Deren.
Semuanya terhenyak dengan pengakuan Deren. Pernyataan cinta. Apalagi Jerome, dirinya bahkan tidak tahu jika Deren pernah melakukannya.
__ADS_1
Mawar berdiri. "Tanya semua pada Jerome. Bukankah kalian bersahabat." sinis Mawar.
Jerome menggeleng dengan raut wajah kecewa. Kaki Deren melangkah mundur. Dia bisa menebak apa yang terjadi, dengan hanya melihat ekspresi wajah Jerome.