MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 166


__ADS_3

Hari ini, adalah hari ulang tahun Nyonya Meysa. Para tamu undangan hadir dari berbagai kalangan. Tentu saja kalangan sosialita ke atas.


Dan itupun, Nyonya Meysa sendiri yang memilih serta mengundang. Tak ada campur tangan orang lain ataupun Tuan Adipavi. Sebab, acaranya adalah acara ulang tahun Nyonya Meysa.


Nyonya Utami datang bersama sang putra, Dami. Sebab, beliau sudah resmi bercerai dengan sang suami.


Satu senpun, Tuan Joko tidak mendapatkan apapun dari kekayaan Nyonya Utami, meski selama ini beliaulah yang mengurus semua kekayaan serta beberapa perusaahan Nyonya Utami.


Nyonya Utami benar-benar bangkit dan melawan Tuan Joko beserta selingkuhannya. Tentu saja dengan sang putra yang setia berada di sampingnya. Menemaninya untuk bangkit.


Nyonya Utami tentu saja tidak rela, jika sang suami mendapatkan bagian dari harta kekayaannya meski hanya secuil. Meskipun selama ini, beliaulah yang mengelola.


Sebab, Nyonya Utami tahu jika harta yang akan menjadi milik Tuan Joko juga akan dinikmati oleh Nyonya Puri, selingkuhan dari sang suami.


Setelah semua proses perpisahan selesai, Nyonya Utami menutup butiknya. Menjual kepada pihak lain. Semua karena beliau sekarang terjun dan meneruskan pengelolaan perusahan yang ditinggalkan mantan suami, Tuan Joko.


Bukan hal sulit bagi Nyonya Utami untuk mengambil tombak kepemimpinan, serta melanjutkan kembali roda perusahaannya.


Sebab, sebelum memiliki anak, Nyonya Utami memang sudah terbiasa bergelut di dunia bisnis. Beliau berhenti, karena sang suami menyuruhnya untuk fokus merawat serta mengasuh putra putri mereka. Meski sudah ada pengasuh untuk mereka.


Sedangkan Tuan Joko dan Nyonya Puri hilang entah kemana, setelah proses perceraian selesai. Nyonya Utami dan Dami juga tidak mau tahu, kemana keduanya pergi. Dan bagaimana nasibnya.


Bukan hanya Nyonya Utami dan Dami yang mencuri perhatian di ulang tahun Nyonya Meysa. Tapi juga keluarga besar Tuan Sapto.


Tentu saja, Tuan Sapto tak datang seorang diri. Dia datang dengan sang istri, Nyonya Gendis serta sang putri, Caty dan menantunya Wiryo. Tak ketinggalan, Thomas juga hadir dalam acara tersebut.


Sementara Djorgi datang seorang diri. Tanpa pendamping. Apalagi Gaby saat ini sudah berada di kediaman mantan istrinya.


Kedua orang tua Deren pun juga datang. Yakni Tuan Tio dan Nyonya Priyanka.


"Tante, apa kak Deren tidak pulang?" tanya Jihan pada mama dari Deren.


"Pulang dong. Yang ulang tahunkan mama kamu. Tunggu sebentar ya, Deren masih dalam perjalanan." jelas Nyonya Priyanka.


Tentu saja Deren wajib pulang. Siapa lagi jika bukan mama Deren yang memaksanya pulang. Dengan berbagai cara. Meski Deren menolak.


Nyonya Priyanka tak ingin kehilangan kesempatan untuk mendekatkan putranya dengan Jihan. Siapa yang tidak ingin berbesanan dengan keluarga Sekhar.


"Kapan kak Deren sampai?" tanya Jihan.


"Tadi sore." jelasnya.


Jerome mendengar perbincangan keduanya. Ada rasa senang bercampur khawatir di dalam hatinya. "Mawar belum datang?" tanya Tian, membuyarkan lamunan Jerome.


"Masih di jalan." sahut Jerome.


Nyonya Meysa menemui satu persatu tamu undangan bersama Tuan Adipavi. Beliau tampak memakai pakaian mahal dengan bertaburkan berlian kecil di gaun tersebut.


Beberapa perhiasan juga terlihat di beberapa anggota tubuhnya. Tampak mencorong dan terlihat mahal.


"Jerome, Mawar mana?" tanya Nyonya Meysa terlihat cemas.


Beberapa tamu undangan, yang mendengar pertanyaaan Nyonya Meysa, termasuk kedua orang tua Deren merasa heran. Pasalnya Nyonya Meysa sama sekali tidak menyukai Mawar.


Tapi kenapa, beliau malah terlihat khawatir karena Mawar belum datang ke acara yang dia selenggarakan. "Masih di jalan ma." tukas Jerome.


Semuanya seolah bisa menebak. Kenapa Nyonya Meysa sekarang bersikap dan menerima dengan baik kehadiran Mawar. Apalagi jika bukan ternyata Mawar adalah cucu dari Tuan Tomi.


Sedari tadi, pandangan Jerome selalu mengarah ke pintu. Di mana para tamu akan melewati pintu tersebut untuk masuk ke dalam.


Bahkan, Jerome mengacuhkan beberapa rekan bisnis sang papa yang memperkenalkan putri mereka pada Jerome.


"Deren pulang. Elo tahu." lirih Luck, yang hanya bisa di dengar Jerome dan Tian.


Keduanya menggeleng. "Benar-benar bocah. Apa dia sudah tidak menganggap kita lagi." omel Luck dengan nada rendah.


Thomas datang bergabung dengan ketiganya. "Mawar belum datang?" tanya Thomas langsung.


Ketiganya lantas memandang tajam ke arah Thomas. "Santai. Kalian bertiga kenapa sih. Gue cuma tanya. Heran gue." kesal Thomas.


Saat dirinya ditatap layaknya tersangka oleh ketiga lelaki di sekitarnya.


Tak berselang lama, beberapa tamu undangan kembali berdatangan. Tentu saja mereka datang bersama pasangan atau mengajak keluarga lainnya.


"Bukankah dia senior kita di kampus." tukas Luck, melihat seorang lelaki masuk ke ruangan bersama dengan kedua orang tuanya.


Jerome hanya acuh. Baginya, siapapun tamu undangan yang hadir tidak penting. Sebab, dia sedang menunggu pujaan hatinya.


"Jeeee,,,, dia. Bukankah dia juga senior kita. Yang waktu itu minta nomor ponsel elo." lirih Luck.

__ADS_1


"Benar." timpal Tian.


Tak lama berselang, ketiganya terdiam. Dengan pandangan terkunci pada seorang yang masuk melalui pintu kedatangan. Sendirian. Melangkah kaki dengan pasti dan gagah masuk ke ruangan.


"Deren." lirih Luck. Jerome dan Tian memandang Deren dengan tatapan datar. Tak ada rasa senang ataupun kecewa.


Tapi, siapa tahu apa yang ada di dalam hati mereka. Terutama Jerome. Pasalnya, Jerome juga ikut andil kenapa Deren pergi meninggalkan negara ini.


Langkah kaki Deren semakin mendekati tempat di mana keempatnya berada. Thomas yang memang tidak tahu permasalahan hanya acuh. Memandang Deren dengan tenang. Sebab dirinya memang tidak terlalu akrab dengan Deren. Hanya sekedar kenal.


"Hai." sapa Deren. Mereka gantian berjabat tangan. "Kapan tiba?" tanya Jerome, berusaha untuk terlihat biasa.


"Tadi sore." sahut Deren.


"Gue temuin om dan tante dulu." pamit Deren. Semuanya hanya mengangguk. Dan saat inilah, Thomas merasa ada yang berbeda dengan mereka.


Tapi Thomas tentu saja tak ingin bertanya atau mencari tahu. Baginya, semua itu tak ada sangkut pautnya dengan dirinya.


"Oh,,, iya. Gue nggak melihat Dona dan Gaby?" tanya Tian baru tersadar jika kedua perempuan titisan iblis itu tak ada di sekitar mereka.


"Gue bukan saudaranya." celetuk Luck, memandang Thomas.


"Gaby tinggal bersama mamanya." jelas Thomas.


Pandangan Thomas terkunci di pintu masuk. Seorang gadis yang biasanya bertingkah bar-bar, kini menjelma dengan berpenampilan anggun. Datang bersama kedua orang tuanya. Siapa lagi jika bukan Selly.


Padahal, bukan hanya Selly saja yang ada di sana. Juga ada Mira serta kedua orang tuanya. Tapi, pandangan Thomas tak teralihkan.


"Elo harus hati-hati. Galaknya melebihi induk ayam yang sedang mengerami telur." goda Tian, yang sadar kemana arah pandangan Thomas.


Segera Thomas mengalihkan pandangan dan berusaha acuh. "Siapa maksud elo?" tanya Thomas pura-pura bodoh.


Tian tertawa pelan. "Nggak usah sok bego, gue tahu siapa yang elo tatap sampai nggak berkedip." goda Tian.


"Ckkk... Jaga mulut elo." decak Thomas pergi meninggalkan mereka bertiga.


Tentu saja tingkah Thomas semakin mempertegas jika Thomas benar-benar tertarik dengan sahabat Mawar yang bar-bar tersebut.


Ketiganya tertawa melihat bagaimana seorang Thomas salah tingkah saat digoda oleh Tian. "Jangan tertawa, elo sama seperti Thomas." celetuk Luck.


"Sialan." umpat Jerome. Membuat Luck dan Tian kembali tertawa.


Selly dan Mira memisahkan diri dari orang tua mereka. Dan langsung bergabung dengan Jerome dan kedua sahabatnya. "Bukankah itu kak Deren?" tanya Mira, begitu tiba.


"Mawar mana?" tanya Selly.


"Katanya masih di jalan." ucap Jerome terlihat gusar.


"Tenang, sebentar lagi Mawar pasti datang kak. Orang Mawar sudah beli kado untuk tante Meysa." tukas Selly. Seolah mengatakan jika Mawar akan datang.


Jerome tersenyum sembari mengangguk. Tangannya membenarkan jas serta dasi kupu-kupu yang ada di leher bagian depan.


Seperti tebakan Selly, pintu kembali terbuka. Lina datang dengan mendorong kursi roda yang di duduki oleh Nyonya Tanti.


Dengan Tuan Tomi berjalan di belakang keduanya, dengan menggandeng sang cucu, Mawar.


Penampilan Mawar terlihat begitu memukau mata siapapun yang memandang. Mawar mengenakan gaun dengan bentuk strapless gown warna silver dengan lapisan kain tulle dan aksen wrap di bagian korset.


Memperlihatkan tulang selangka yang simetris, serta memamerkan kedua pundaknya yang sangat mulus. Dan pinggang rampingnya.


Tak lupa, sebagai penyempurna penampilannya, Mawar mengenakan satu set kalung dan anting dengan warna senada yang memiliki harga fantastis, meski desainnya sangat sederhana.


Dengan tataan rambut panjang di cepol ke atas. Sehingga memperlihatkan leher jenjangnya. Membuat kaum adam seakan tak akan berpaling untuk terus menatapnya.


Belahan gaun yang memanjang dari bawah hingga lutut, yang berada di tengah, memperlihatkan betapa indah betis milik Mawar.


Ditambah sepasang sepatu dengan warna senada dengan gaun yang dia pakai. Menambah sempurna penampilan Mawar malam ini di pesta ulang tahun Nyonya Mesya.


"Sial, kenapa Mawar menggunakan pakaian seperti itu." geram Jerome tak rela sang kekasih menjadi bahan perhatian lawan jenis karena kecantikannya.


Luck dan Tian, serta Mira dan Selly hanya bisa menahan tawa melihat Jerome seperti cacing kepanasan, karena penampilan Mawar yang terlihat tidak seperti biasanya.


"Benar-benar seksi." goda Tian, sengaja memancing amarah Jerome.


"Dan mempesona." imbuh Luck, membuat Jerome menatap tajam kepada keduanya.


Dari arah lain, ada sepasang mata yang juga tak berkedip memandang kedatangan Mawar.


"Mawar." gumam Deren tersenyum simpul. Tanpa terkendali, kedua kaki Deren melangkah begitu saja meninggalkan kedua orang tuanya yang juga sedang bersama Jihan untuk menghampiri Mawar.

__ADS_1


Jihan hanya bisa menahan rasa kesalnya. Mawar yang baru tiba, dengan mudah menarik perhatian Deren. Sedangkan dirinya yang sedari tadi bersama kedua orang tuanya, sama sekali tidak dianggap.


Tuan Tio dan Nyonya Priyanka hanya bisa diam. Jika bisa memilih, pasti mereka sekarang akan memilih Mawar sebagai kekasih serta calon istri dari putranya, Deren. Ketimbang Jihan.


Tapi tetap saja. Sepasang suami istri tersebut mempunyai pemikiran yang sama. Mereka akan tetap mendukung Deren bersama dengan Jihan.


Namun, jika ada kesempatan Deren bisa bersama dengan Mawar. Kenapa tidak. Pasti mereka tidak akan menolak, berbesanan dengan Tuan Tomi.


Bukan hanya Deren lelaki yang begitu intens menatap Mawar. Dari arah lain, seorang pemuda yang sedang memegang gelas berisi minuman berwarna biru menatap Mawar dengan penuh minat.


Dia adalah senior Jerome di kampus. Serta putra dari rekan kerja Tuan Tomi.


Gerald.


"Sayang." panggil Jerome dengan suara lantang. Sembari berjalan menyongsong kedatangan Mawar. Sengaja. Jerome memang sengaja melakukannya.


Jerome hanya ingin semua orang tahu, jika perempuan yang paling cantik malam ini adalah kekasihnya. Dan miliknya.


"Astaga, kenapa pacarmu itu." bisik Tuan Tomi pada Mawar.


"Entahlah kek. Sebentar lagi pasti ngomel." bisik Mawar.


Tuan Tomi paham apa yang dimaksud Mawar. Beliau hanya bisa menggeleng melihat tingkah cucu dari sahabatnya tersebut.


"Tuan Tomi, izinkan saya mengambil alih kekasih saya." pinta Jerome, dengan sedikit memaksa. Buktinya, belum sempat Tuan Tomi maupun Mawar mengatakan apapun, Jerome sudah mengambil tangan Mawar untuk dilingkarkan di lengannya.


"Astaga,,,, anak muda ini." keluh Tuan Tomi.


Jerome sama sekali tak menggubris bagaimana ekspresi Tuan Tomi. Pandangannya menatap lekat ke arah sang kekasih. "Kenapa? Apa aku kurang cantik?" tanya Mawar.


Padahal Mawar tahu alasan kenapa Jerome menatapnya lekat-lekat. Pasti karena penampilannya yang Jerome nilai terlalu terbuka.


"Kenapa berpakaian seperti ini?" tanya Jerome dengan nada tidak suka.


"Terus harus pakai apa? Pakai piyama?" celetuk Tuan Tomi, bukan Mawar.


Mawar, Lina, serta Nyonya Tanti hanya tersenyum. "Tapi aku tidak suka." ucap Jerome dengan nada manja.


"Nggak suka ya jangan dilihat." lagi-lagi Tuan Tomi yang menjawab, bukan Mawar.


"Kek...." seru Jerome tertahan.


"Apa? Ayo Mawar, temui yang punya acara dulu." ajak Tuan Tomi.


Sedangkan langkah kaki Deren terhenti seketika, melihat apa yang terjadi. Satu sudut bibirnya terangkat ke atas, tampak Deren tersenyum kecut. "Jerome." gumam Deren, menggenggam erat telapak tangannya.


Kini, Deren hanya bisa melihat apa yang dilakukan Jerome pada Mawar. Dirinya tak mungkin menghampiri Mawar, untuk saat ini.


Sebah Deren sadar, kemampuannya mengendalikan diri sungguh buruk. Yang ada malah dirinya akan baku hantam dengan Jerome. Dan membuat pesta Nyonya Meysa rusak berantakan.


Mawar memandang Mira dan Selly, seraya membuka mulutnya seperti sedang berbicara, tapi tak mengeluarkan suara. Mira dan Selly, keduanya mengangguk serempak. Mengerti apa yang dikatakan Mawar meski jarak mereka tidak dekat.


"Mawar sayang." Jerome melepaskan tautan tangannya pada Mawar. Membuat sang mama dengan mudah bisa memeluk sang kekasih.


Senyum Jerome merekah sempurna. "Kamu cantik sekali sayang." pujinya pada Mawar.


"Tante juga. Selamat tante. Ini buat tante. Semoga tante suka." papar Mawar, memberikan hadiah yang dibawanya pada mama dari sang kekasih.


Nyonya Meysa mengambilnya. "Terimakasih. Pasti tante suka. Boleh tante buka sekarang."


"Silahkan tante." ucap Mawar.


Nyonya Meysa membuka kado dari Mawar dengan antusias. Kedua matanya melotot, dengan mulut terbuka tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Sayang.... ini..." Nyonya Meysa menatap Mawar dengan kedua mata berbinar bahagia.


Sebuah cincin yang terbuat dari batu permata tampak sederhana. Hanya ada hiasan kecil di tengahnya. Tapi semua tahu, kisaran harga dari cincin tersebut. Terlebih, cincin seperti itu hanya bisa di pesan terlebih dahulu.


"Indah sekali. Makasih sayang. Boleh tante pakai."


"Silahkan tante."


Nyonya Meysa memakai cincin tersenut di jari manisnya. "Sayang, kamu memang calon menantu tante. Lihat, ukurannya juga pas."


Nyonya Meysa mengangkat telapak tangannya. Seolah sedang memamerkan pada semua undangan, hadiah apa yang baru saja dia terima dari kekasih sang putra.


Mawar tersenyum simpul. Dirinya sudah menebak, jika hadiah yang dia bawa pasti akan disukai oleh mama dari sang kekasih. Karena harganya yang mahal.


Deren kembali tersenyum kecut. Pasalnya, Nyonya Meysa yang dulu menentang hubungan Mawar dengan Jerome, kini malah menerima Mawar dengan tangan terbuka.

__ADS_1


"Brengsek. Jika saja gue nggak pergi. Pasti Mawar sudah berada dalam pelukan gue." gumam Deren. Deren juga tahu, penyebab Nyonya Meysa menerima Mawar dengan senang hati.


Sementara itu, Mawar belum tahu jika ada Deren dalam pesta tersebut. Dimana sedari tadi, Deren terus memperhatikan dirinya.


__ADS_2