
Sejak kejadian kemarin, Wiryo merasa bersalah. Berulang kali dirinya menelpon sang putri. Namun tidak diangkat oleh Mawar.
Wiryo juga mengiriminya pesan tertulis. Namun satupun tak ada yang dibaca oleh Mawar. Wiryo menghubungi Lina, berpura-pura menanyakan keadaan mereka.
Dari suara Lina saat berbicara dengannya lewat ponsel, Wiryo menduga jika Mawar sama sekali tidak menceritakan tentang masalah kemarin.
Hal tersebut malah membuat Wiryo semakin merasa bersalah. Sering kali dia melihat ke arah telapak tangannya. Rasanya sungguh sesak.
"Apa yang aku lakukan." sesalnya, teringat bagaimana dengan mudahnya tangannya melayang. Memukul ke arah pipi Mawar.
Wiryo teringat seseorang yang saat itu berada di samping Mawar.
...Cih,,, anda akan menyesal telah melakukannya Tuan. Mata anda sudah buta. Sehingga tidak melihat suatu kebenaran....
Kemarin, Wiryo terlalu sibuk dengan Caty yang berada di rumah sakit. Rengekan Caty akan rasa sakitnya membuat Wiryo tidak bisa pergi ke mana-mana.
Dia bahkan menunda untuk bertemu klien penting, beruntung Tuan Sapto, papanya Caty mengerti akan hal tersebut. Sehingga beliau tidak marah.
Wiryo menghubungi seseorang dari ponselnya. Dia menyuruhnya untuk mencari tahu kebenaran atas kejadian yang melibatkan sang putri dan calon istrinya.
Tak sampai lima belas menit, orang suruhannya mengirimkan sebuah video ke dalam ponselnya. Dengan rasa penasaran bercampur debaran jantung yang sedikit menggila, Wiryo membuka dan melihat apa yang ada di video tersebut.
"Astaga..." geram Wiryo, mengepalkan telapak tangannya dengan erat.
Terlihat dengan jelas, alasan kenapa Caty bisa tersungkur di lantai, sehingga menyebabkan kakinya terkilir.
"Maafkan ayah sayang. Maaf." air mata Wiryo luruh membasahi pipi. Ini kedua kalinya Wiryo menangis selama hidupnya.
Pertama, saat Mawar lahir di dunia. Dan ini yang kedua kalinya. Saat dirinya melihat bagaimana telapak tangan yang selama ini membelai sang putri dengan penuh kasih sayang. Menorehkan luka yang pastinya akan dikenang seumur hidup oleh Mawar.
Wiryo menyambar kunci mobilnya. Dalam benaknya hanya satu. Meminta permohonan maaf pada Mawar. Tidak ada yang lain.
Di kediamannya, Caty mengamuk karena Wiryo tidak mengangkat panggilan telepon darinya. Bukan hanya sekali. Namun beberapa kali.
Dan hasilnya tetap nihil. Tak ada jawaban dari Wiryo. Taaarrrr..... Dengan duduk di atas ranjang, Caty melempar ponselnya dengan sangat kencang ke tembok.
Menjadikan ponsel Caty hancur menjadi beberapa bagian. "Astaga,,, apa yang terjadi Caty..?!" seru sang mama yang baru saja masuk dengan membawa makanan untuk sang putri.
Tanpa menjawab pertanyaan sang mama, Caty ingin beranjak dari tempat duduknya. "Kamu mau ke mana?" cegah Nyonya Gendis, mama Caty.
Caty menepis tangan sang mama. "Lepas, Caty ingin menemui mas Wiryo!!" teriak Caty mulai kehilangan kendali.
"Lihat kondisi kamu!!" bentak Nyonya Gendis.
Sebab pergelangan kaki Caty masih diperban. Karena memang, kaki Caty sedikit terkilir saat di restoran.
"Aa,,, ini semua gara-gara anak sialan itu!!" teriak Caty tidak terima.
Nyonya Gendis hanya menghela nafas panjang. Dirinya cukup paham dan tahu bagaimana sifat dari Caty. Beliau menduga jika Caty lah yang bersalah. Bukan Mawar.
Nyonya Gendis tidak ingin membicarakan hal tersebut. Mencoba mengalihkan bahan obrolan mereka. "Bagaimana persiapan pesta pernikahan kamu?"
"Baik." jawab Caty singkat, dengan bibir manyun.
Nyonya Gendis kembali mengambil nampan berisi buah dan air minum yang dia taruh di atas nakan. "Kamu makan, mama sudah kupaskan buah." tutur Nyonya Gendis.
Caty memegang lengan sang mama. "Ma, telepon mas Wiryo. Suruh dia ke sini." pinta Caty merengek.
"Kenapa tidak kamu telepon sendiri saja." ucap Nyonya Gendis sambil menyuapi Caty buah. Padahal beliau tahu, jika ponsel sang putri sudah pecah menjadi beberapa bagian.
"Ckk,,, ma.." rengek Caty.
"Makanya, kalau bertindak dipikir dulu. Lihat, sekarang menyesal bukan." tegur sang mama.
Caty diam. Hanya mulutnya yang terbuka untuk menerima suapan buah dari sang mama. "Kamu itu sebentar lagi akan menikah. Bersikaplah dewasa. Berapa kali mama mengatakan. Tahan emosi." ingat sang mama.
"Iya." sahut Caty malas.
"Satu hal lagi. Kamu harus selalu ingat. Kamu menikahi seorang lelaki yang sudah pernah menikah. Dan mempunyai anak."
"Caty tahu ma." kesal Caty.
"Mak itu, perbaiki sikap dan sifat kamu. Putri Wiryo, akan menjadi putri kamu. Mengerti."
"Heemm..." sahut Caty, memutar bola matanya malas.
Benak Caty memikirkan tentang Wiryo. Dimana sekarang Wiryo tinggal. Sebab, kemarin dirinya terlalu sibuk menikmati rasa sakit di kakinya. Dan tentunya sibuk memerankan drama. Sehingga lupa bertanya pada calon suaminya.
Setelah Wiryo keluar dari apartemen. Baik Caty maupun Wiryo tidak saling bertukar kabar. Keduanya sibuk menata hati mereka.
Dan kejadian kemarin, Caty benar-benar tidak menyangka. Sebuah kebetulan yang luar biasa, yang membuat dirinya sangat bahagia. Dengan tiba-tiba Wiryo ada di sana.
"Bodoh, seharusnya kemarin gue tahan mas Wiryo, untuk tinggal di sini." ucap Caty dalam hati, setelah kemarin Wiryo mengantar dirinya pulang dari rumah sakit.
__ADS_1
Sedangkan, Deren dan Jerome masih terkunci di ruangan yang sama. "Sejak kapan?" Deren mulai mengeluarkan suaranya, tanpa melihat ke arah Jerome.
"Pertama kali Mawar datang ke sekolah." papar Jerome, tak ingin lagi menutupi semuanya.
Deren tersenyum kecut. "Kenapa Mawar. Kenapa harus dia."
Jerome masih menyenderkan tubuhnya di pintu, sedikit mendongakkan kepalanya. Memandang birunya langit. "Siapa yang bisa mengatur."
Jerome menjeda kalimatnya. "Perasaan ini, sama sekali tidak bisa aku kendalikan. Semakin lama, malah semakin membesar." jelas Jerome.
"Apa kamu tetap ingin melanjutkannya. Atau menghentikannya." tanya Deren.
"Maaf, aku tidak bisa berhenti." lirih Jerome, namun masih terdengar jelas di telinga Deren.
Deren mengangguk. "Baiklah. Sama seperti kamu. Aku juga tidak akan berhenti." papar Deren.
Jerome terkekeh pelan. "Kita akan bersaing dengan sehat." saran Jerome.
"Iya. Tapi tidak untuk sekarang." ujar Deren.
Jerome memandang ke arah Deren. "Kamu tahu sendiri. Bagaimana berbahayanya papa dan mama."
"Apa kamu tidak takut, Mawar akan jatuh cinta dan nyaman berada dalam pelukanku." ujar Jerome dengan percaya diri.
"Mawar bukan perempuan seperti itu. Seperti namanya, dia memang bunga mawar. Disekitarnya terdapat duri. Siapapun yang ingin memetiknya, dia harus tahu konsekuensi yang akan di terimanya."
Masih terekam jelas dalam memorinya. Bagaimana rasa yang di rasakan dalam hatinya, saat Mawar menolak perasaan cinta darinya.
Rasanya sungguh menyesakkan. Ingin marah, melampiaskan emosinya. Namun Deren sendiri tak tahu, pada siapa dia harus marah.
Namun Deren malah semakin mencintai Mawar. Bukan perkara penolakan yang Mawar lakukan. Tapi dengan rapi, Mawar menyembunyikan kejadian tersebut.
Mawar sama sekali tidak menceritakan tentang kejadian tersebut pada siapapun. Deren dapat menebak dengan mudah. Sebab sama sekali tidak terdengar gosip tentang hal tersebut.
Jerome melirik Deren yang tersenyum sendiri. "Pasti elo memikirkan Mawar." dengus Jerome.
Deren tersenyum miring. "Iya. Kenapa, elo mau larang gue." sinis Deren.
Jerome duduk di sebelah Deren. "Tidak untuk saat ini."
"Ciihh,,, sampai kapanpun. Larangan itu tidak berlaku untukku." tegas Deren.
Luck dan Tian baru membukakan pintu untuk Deren dan Jerome setelah satu pelajaran selesai.
Namun tidak dengan Dona. Dirinya beralasan sedang tidak enak badan. Membuatnya dengan mudah pergi meninggalkan sekolahan.
"Pelajaran tambahan. Nggak banget. Mending gue recokin hidupnya si Mawar." kekehnya dengan tangan berada di stir.
Dona mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Dirinya tidak ingin datang terlalu cepat sampai ke butik. "Kali ini gue akan buat rencana hang matang." gumam Dona, setelah rencana pertamanya gagal.
Mawar turun dari mobil yang di naiki Mira dan Selly. "Makasih." ucap Mawar setelah turun dari mobil.
"Mawar." panggil seseorang, saat Mawar ingin melangkahkan kakinya masuk ke dalam butik.
Mawar sangat malas membalikkan badan. Mawar hapal betul pemilik suara tersebut. Wiryo. Dialah yang memanggil Mawar.
"Bisa ayah bicara sebentar?" tanya Wiryo, berdiri di samping Mawar.
"Mawar harus bekerja." tolak Mawar.
"Kamu berhenti bekerja, ayah akan membiayai semua kebutuhan kamu." pinta Wiryo.
Mawar tetap tak mandang ke arah sang ayah. Jujur, hatinya masih terasa sakit. Jika pipinya sudah tidak terasa sakit, berbeda dengan hatinya. Sakit, namun tidak terlihat.
"Jika tidak ada yang penting. Lebih baik saya masuk."
Wiryo mencekal lengan Mawar. "Baiklah, tapi ayah minta. Kamu pikirkan kembali tawaran ayah. Berhentilah bekerja."
"Cepat katakan." Mawar melepas tangannya yang sedang dicekal Wiryo.
"Maaf, ayah minta maaf tentang kejadian kemarin." terdengar suara parau dari Wiryo.
"Tenang saja. Kedua orang tuaku selalu mengajarkan untuk saling memaafkan. Anda tidak perlu memikirkan hal tersebut."
"Sayang, Mawar." cicit Wiryo.
Tanpa melihat ke arah Wiryo, Mawar melangkahkan kakinya ke dalam butik. Wiryo tahu, jika Mawar belum memaafkan dirinya.
"Maaf, ayah yang salah sayang." gumam Wiryo, memandang punggung sang putri yang semakin tak terlihat.
Mawar langsung masuk ke dalam kamar mandi. Air mata yang sama sekali tidak keluar dari kemarin, saat ini tumpah tak tertahankan.
Mawar menyandarkan badannya ke tembok kamar mandi. "Kenapa semua jadi begini." sesal Mawar.
__ADS_1
Mawar menormalkan emosinya kembali. Membasuh wajahnya, dan memakai sedikit make up untuk menutupi matanya yang terlihat sembab, meski hanya menangis sebentar.
Mawar menarik nafas dalam-dalam. "Ingat Mawar, dunia memang kejam." gumam Mawar, memandang wajahnya dari pantulan cermin.
Mawar segera ke depan. Bergabung bersama teman kerjanya yang lain. Seperti biasanya, Mawar melayani pembeli dengan baik dan ramah.
Seorang pengunjung memilih sebuah gaun mahal dan berkelas. Beliau mencobanya dan membelinya. "Mari Nyonya, saya bawakan ke kasir." ujar Mawar dengan rajin.
"Baiklah, kamu bawa ke kasir dulu. Saya mau ke toilet sebentar. Nanti saya akan ke sana." paparnya.
"Baik Nyonya." ujar Mawar, melakukan seperti yang diinginkan pembeli tersebut.
"Dona." ucap Mawar dalam hati, melihat Dona sudah berdiri di tempat kasir. Padahal biasanya Santi, Tia, dan Amel yang akan bergantian berada di kasir.
"Hay Mawar, itu jadi?" tanya Dona dengan senyum di bibir.
Mawar hanya mengangguk. "Sudah, kamu taruh sini saja. Kamu bisa kembali bekerja." perintah Dona.
Ada rasa tidak enak di dalam hati Mawar. Dia tahu betul siapa Dona. "Apalagi yang mau elo rencanakan." batin Mawar.
Meski rasanya berat meninggalkan gaun mahal tersebut hanya berdua bersama Dona, tapi Mawar tidak bisa menolaknya. "Baik."
Mawar menaruh gaun tersebut di atas meja kasir, dan kembali bekerja ke tempatnya. Tanpa Dona sadari, Tia sedari tadi mengawasinya.
"Apa rencana lampir satu ini." batin Tia, berpura-pura bekerja. Tapi mata selalu mencuri pandang ke arah Dona.
Bahkan Tia juga melihat senyum jahat yang ditunjukkan oleh Dona, saat Mawar sudah menjauh darinya. "Apa yang dia cari?" batin Tia penasaran.
Melihat Dona sepertinya tengah mencari sesuatu di dalam kasir. Tak lama, Dona tersenyum puas. Dan Tia yakin, jika Dona sudah melakukan sesuatu yang buruk.
"Semoga Tuhan melindungi Mawar." ucap Tia berharap. Tia tidak tahu apa yang direncanakan Dona. Tapi Tia yakin, jika Dona pasti Dona ingin membuat Mawar dalam masalah.
Dona tersenyum puas menatap pembeli yang dilayani oleh Mawar keluar dengan membawa paper bag berisikan gaun hang telah dia pilih dan dia beli.
Hari ini, Tia memang bertugas menjaga kasir. Oleh karena itu, saat sedang tidak ada pembeli yang membayar, Tia merapikan pakaian di dekat kasir.
Dia melihat dengan jelas saat Dona datang dan langsung masuk ke dalam kasir. Memperhatikan Mawar dengan seksama.
"Gue mau nemuin nyokap. Elo jaga kasir." ucap Dona tanpa sopan pada Amel. Padahal umur Amek jauh di atasnya.
"Baik." sahut Amel dengan perasaan dongkol.
Satu jam telah berlalu. Tidak ada kejadian apapun. "Mungkin gue terlalu berprasangka buruk sama Dona." batin Mawar, saat semuanya berjalan dengan baik. Seperti biasanya.
Begitupun dengan Tia. Dia merasa tidak akan terjadi masalah yang serius pada Mawar.
Mawar dan Tia bernafas lega. Namun semua itu lenyap saat pembeli yang dilayani oleh Mawar, dam membeli sebuah gaun mahal kembali lagi ke butik.
Dengan raut wajah kesal bercampur amarah yang siap meluap. Mawar merasakan firasat yang tidak enak.
"Apa maksudnya ini." teriaknya, membanting paper bag berisi sebuah gaun yang dia beli ke atas meja kasir dengan sangat kasar.
"Maaf Nyonya, apa ada yang salah?" tanya Tia, yang memang sedang berada di kasir.
Perempuan tersebut mengeluarkan gaunnya daei dalam paper bag. Memperlihatkan sesuatu pada Tia, yang membuat Tia tercengang tak percaya.
Santi dan Amel segera mendekat ke arah Tia. Begitu juga dengan Mawar. "Ada apa?" tanya Santi.
Tia melirik ke arah Mawar. "Pasti ulah Dona." geram Tia dalam hati, merasa Mawar kali ini tidak bisa menghindar dari maslaah.
Santi dan Amel juga syok melihat bentuk gaun tersebut. Seingat mereka, todak ada gaun cacat di butik ini.
Santi dan Amel melihat ke arah Tia yang terlihat kesal. "Apa mungkin Dona pelakunya." batin keduanya sama.
"Maaf bu, tapi tadi sewaktu ibu coba semuanya baik-baik saja." ujar Mawar dengan jujur.
Perempuan tersebut menatap kesal ke arah Mawar. "Tapi lihat yang terjadi. Ini sobek. Kamu pikir saya mengeluarkan uang segitu banyak untuk membeli gaun yang tidal bisa dipakai." serunya.
Di saat perempuan tersebut sedang marah-marah, Nyonya Utami datang bersama Dona. "Ada apa ini?" tanya beliau.
Perempuan tersebut memperlihatkan sebuah gaun sobek pada Nyonya Utami. "Saya ingin uang saya kembali. Utuh. Saya tidak membeli pakaian seperti ini." ucapnya.
Nyonya Utami menatap keempat karyawannya. "Maaf bu, saya yang melayani Nyonya ini. Dan saya berani bersumpah. Gaun tersebut dalam keadaan baik saat saya bawa ke kasir." papar Mawar.
"Oohh,,, maksud kamu saya berbohong, iyaa..!! Kamu berpikir saya yang merusak gaun ini. Begitu..!!" teriaknya tidak terima dengan perkaran Mawar.
"Maaf Nyonya, bukan itu yang saya maksud. Saya hanya mengatakan, jika saya membawa gaun tersebut dalam keadaan baik saat ke kasir." jelas Mawar dengan tenang.
Nyonya Utami masih diam. Menyimak perkataan Mawar. "Nyonya, anda tadi mencoba gaun tersebut. Apakah saat anda mencobanya, gaun tersebut cacat?" tanya Mawar.
Perempuan tersebut melihat kembali gaun di tangannya. Lalu dia menggeleng. "Tidak. Gaun ini masih sangat bagus, tanpa cacat sedikitpun."
"Anda juga tahu dan melihat sendiri, saya membawa gaun tersebut ke kasir. Apakah benar?"
__ADS_1
Perempuan tersebut kembali mengangguk. Perkataan Mawar semua seperti apa yang terjadi.