
Pagi hari, Mawar beserta kedua temannya menikmati udara pagi. "Segarnya." cicit Mawar, menghirup udara dengan mata terpejam.
Sementara Mira dan Selly memasang wajah cemberut. Keduanya terpaksa mengikuti kemauan Mawar karena paksaan dari Mawar.
Mira dan Selly masih ingin berlama-lama berada di bawah selimut tebal yang hangat. Apalagi udara di tempat tinggal nenek Mira sangat dingin jika malam dan pagi hari.
Membuat keduanya enggan beranjak dari tempat tidur. Ketenangan mereka terusik dengan suara dan gerakan Mawar, untuk membangunkan keduanya.
"Woeeyyy,, semangat mbak,,, semangat. Senyum." seru Mawar tersenyum jahil, melihat kedua sahabatnya yang pastinya sedang kesal padanya.
Mawar mendusal di tengah-tengah. Tangan kanannya merangkul pundak Mira, dan tangan kirinya merangkul pundak Selly. "Ayolah kawan. Nikmati pagi yang indah ini." tutur Mawar tersenyum ceria.
Melangkahkan kakinya dengan ringan dan suasana hati yang senang. Berbanding terbalik dengan Mira dan Selly. Kaki keduanya seakan berat sekali untuk melangkah.
"Pagi indah. Lihat, kabut masih di mana-mana." ketus Mira, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya yang tebal, kedinginan.
"Menikmati. Yang ada mati kedinginan." timpal Selly, membenarkan letak topi rajut kepalanya, hingga menutupi telinganya. Mengurangi rasa dingin yang terasa merasuk hingga ke dalam tulang.
Seorang lelaki yang diperintahkan nenek Mira untuk menemani mereka tersenyum melihat interaksi ketiga gadis di depannya.
Meski dengan perasan dongkol, Mira dan Selly tetap mengikuti keinginan Mawar. Dan Mawar dengan santai dan tenang menghadapi mereka meski keduanya hanya cemberut sepanjang jalan.
"Semoga kalian berteman hingga nenek-nenek." ucapnya dalam hati.
Keadaan pagi ini memang masih berkabut. Namun tidak terlalu gelap. Di kanan kiri jalan terpasang banyak lampu penerang.
Selain itu, beberapa warga juga sudah keluar dari rumah. Bahkan, sudah banyak warga yang datang ke sawah mereka untuk memanen padi yang sudah menguning.
Suasana cukup damai menurut Mawar. Tidak terdengar bising suara kendaraan. Memang ada beberapa kendaraan yang lewat. Namun tidak seramai di tempat mereka. Kota.
Nenek Mira memang tinggal di desa. Tapi bukan desa pelosok. Disini juga sudah tersedia semua kebutuhan dan keperluan seperti di kota. Cukup lengkap.
"Apa mereka nggak kedinginan pak?" tanya Mawar, saat melewati beberapa orang memasukkan padi beserta tangkai dan daunnya ke dalam sebuah alat.
Dengan gerakan gesit, mereka mengabaikan dinginnya pagi. Seolah tubuh mereka sudah kebal dengan cuaca tersebut.
"Nggak Non, kebanyakan orang sini memang bekerja di sawah. Jadi mereka sudah terbiasa." jelasnya.
Mira dan Selly juga mengikuti ke mana arah pandangan Mawar dan bawahan nenek Mira. "Sawah milik nenek mana? Kata mama, nenek punya sawah." cicit Mira, membuka mulutnya.
"Di depan Nona ini, masih termasuk sawah milik Nyonya besar, Non." jelasnya.
"Maksudnya?" bukan hanya Mira yang bingung, begitu juga Mawar dan Selly.
Bawahan nenek menggerakkan tangannya. Menunjuk ke suatu arah. "Dari sana, hingga sana. Terus ke sana. Semua milik Nyonya besar, Non." jelasnya.
"Wowww... luas kalee..." ujar Selly takjub. Tak menyangka, jika nenek Mira adalah juragan tanah.
Mawar, Mira, dan Selly masih bingung. Pasalnya ada orang lain yang sedang memanen padi di sawah yang katanya milik nenek Mira.
"Apa mereka bekerja untuk nenek." tebak Mawar.
"Tidak Non, Nyonya besar menyewakan semua tanah sawah miliknya ke warga. Harganya juga lumayan murah." jelasnya.
Mawar mengangguk paham. "Nenek elo kaya." goda Mawar.
"Biarin, orang yang kaya nenek gue. Bukan gue. Sorry sorry saja, nggak berharap warisan." ucap Mira dengan ekspresi sombong.
"Tapi kalau dikasih mau." timpal Selly.
Mira memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih. "Itu beda konsep, neng. Ya maulah."
"Sama saja bohong." ujar Selly.
"Ya nggak dong." Mira dengan santai menjulurkan lidah.
Ketiganya melanjutkan langkah kaki mereka. Sesekali mereka membuka suara saat ada orang yang menyapa, atau saat mereka berpapasan dengan orang lain yang juga tengah berjalan.
Beberapa warga sekitar berbisik-bisik tentang mereka. Siapa yang peduli, apa yang mereka katakan. Entah itu hal baik atau malah sebaliknya.
Cukup Mawar dan kedua temannya menikmati apa yang ingin mereka rasakan. Tanpa peduli dengan perkataan semua orang.
"Pak, tempat mana ya, yang bisa kita datangi untuk melihat matahari terbit?" tanya Mawar, sebab di langit sudah ada semburat warna jingga. Yang artinya sebentar lagi matahari akan menyebarkan sinarnya di tempat yang mereka injak.
"Sebelah sana Non. Tidak jauh dari sini." ucapnya dengan jari telunjuk mengarah ke sebuah tempat.
"Jangan jauh-jauh pak. Kaki saya tekor nanti." cicit Mira mengeluh kembali.
"Jangan dengerin pak, kalau mereka berdua nggak mau, kita tinggal saja." goda Mawar.
"Eee,,,, dasar teman laknat. Ini kampung nenek gue. Bisa-bisanya punya pikiran sableng." tukas Mira.
"Tinggalin saja. Kita nanti tinggal naik ojek. Beres." timpal Selly dengan hati berbunga.
"Maaf Non, di sini nggak ada ojek. Jika ingin naik ojek, harus jalan dulu ke sana." tutur bawahan nenek Mira, kembali mengarahkan telunjuknya ke tempat yang sempat mereka lewati sebelumnya.
__ADS_1
Dan tempat tersebut sudah lumayan jauh. "Mawar...!!" teriak keduanya.
Mawar tertawa lepas, melanjutkan langkah kakinya. Beberapa orang yang berada di sekitar mereka langsung menatap ke arah ketiga gadis cantik tersebut.
Dan di sinilah mereka berada. Di sebuah tempat seperti bukit. Tapi tidak terlalu tinggi. Duduk di batu-batu besar yang tertata rapi.
"Pak, apa batu ini memang ditata?" tanya Mira polos.
Tawa Mawar dan Selly tergelak mendengar pertanyaan lucu dari sahabatnya tersebut. Realitanya, siapa yang mau menata batu sebesar ini dengan jumlah yang banyak. Raksasa.
Atau memang pada zamannya, makhluk bertubuh besar itu benar adanya. Tapi para manusia saat ini sudah tidak melihatnya, karena peradaban yang berbeda.
"Tidak Non, dan bapak juga kurang tahu. Seingat bapak, semua batu sudah tertata seperti ini." jelasnya.
"Bapak asli orang sini?" tanya Mawar. Beliau mengangguk sopan. "Bapak lahir dan besar di sini Non." jelasnya dengan sopan.
Meski ketiga perempuan tersebut sepantaran dengan anaknya, namun beliau tetap memperlakukan mereka seperti dia memperlakukan Nyonya besar.
Perhatian ketiga gadis tersebut teralihkan saat semburat warna jingga mulai nampak lebih banyak. "Waoowwww...." seru Mira.
Mereka semua memandang takjub apa yang ada di depan mata. "Luar biasa. Kuasa Tuhan memang begitu hebat." gumam Mawar.
Mereka betah berlama-lama di tempat tersebut. Selain karena udara semakin hangat, mereka bisa memandang keindahan alam yang tidak bisa mereka temukan di tempat tinggal mereka.
"Maaf Non, apa perlu bapak memberitahu orang rumah, untuk membawa sarapan ke sini?" tanyanya, siapa tahu mereka ingin makan pagi di lingkungan dan suasana yang berbeda. Sejuk dan asri.
"Iya pak..."
"Tidak pak..." Mawar dan Mira menjawab bersamaan.
"Kenapa tidak." cicit Mira, karena Mawarlah yang tidak menyetujui usul dari bawahan nenek Mira.
Mawar belum membuka mulut, namun Selly lebih dulu menjawab pertanyaan Mira. "Kita berada disini bukan untuk menyusahkan orang lain." tukas Selly.
"Benar. Kamu tahu, pasti mereka akan sangat kerepotan harus menyediakan makanan untuk kita. Padahal aku yakin, mereka sudah menyiapkan makanan di atas meja makan." tebak Mawar.
"Oke, kalau begitu lebih baik kita pulang. Berjalan kaki jauh membuat perutku lapar." cicit Mira.
"Lebih baik kita tunggu sebentar Non, bapak sudah menghubungi orang untuk menjemput kita." jelasnya.
Bawahan nenek juga merasa kasihan, jika ketiganya kembali berjalan saat pulang. "Emmm,,,, bapak paling pengertian." ucap Mira melirik ke arah Mawar.
"Biasa aja kale matanya." sahut Mawar tersenyum.
"Ehh,,,, tapi kan jalan yang kita lalui tidak bisa di lalui mobil pak." cicit Selly, mengingat mereka jalan setapak.
Sembari menunggu jemputan mereka datang, mereka kembali mengobrol ringan. Hingga Mira teringat akan suatu hal.
Undangan pernikahan Caty dan Wiryo.
Papa Mira mendapat undangan pernikahan tersebut. Lantara mereka sesama pengusaha, biarpun sekarang sudah tidak bekerja sama. Namun keluarga Caty dan papa Mira saling mengenal.
Begitu pula dengan papa Selly yang pastinya mendapat undangan pernikahan mereka, yang akan diselenggarakan dalam beberapa minggu ke depan.
"Mawar..." panggil Mira pelan.
"Hhemmm..." Mawar hanya menjawab sekenanya, matanya masih betah dimanjakan dengan pemandangan di depannya.
Selly diam, melihat ekspresi Mira yang sedikit tegang. Menebak jika Mira akan mengatakan hal yang serius.
"Apa?" tanya Selly pada Mira tanpa mengeluarkan suara, hanya membuka mulut.
"Pesta pernikahan ayah Mawar." bisik Mira.
Ekspresi Selly langsung berubah. Melirik ke arah Mawar. Memang harus, Mira bertanya pada Mawar. Apa pertanyaan Mira tidak akan menjadikan hari libur Mawar yang ceria jadi kacau.
"Mawar, kamu datang ke pesta pernikahan ayah kamu?" tanya Mira dengan pelan dan hati-hati.
Mawar masih tersenyum. Ekspresinya sama sekali tidak berubah. Atau karena Mawar memang pandai menyembunyikan perasaannya di hadapan orang lain.
Mawar mengangguk, masih menatap ke depan. "Ibu juga datang?" tanya Mira lagi.
Mawar tetap tersenyum manis. Lalu menggeleng. "Hanya aku, ibu tidak akan datang." jelas Mawar, menoleh ke arah Mira dan Selly.
"Kalian kenapa sih, santai saja. Aku sudah bisa menerima semua ini kok." papar Mawar, melihat raut wajah sedih pada kedua sahabatnya tersebut.
Mira dan Selly berdiri dari duduknya. Mendekat ke arah Mawar, lalu mereka bertiga berpelukan. "Bagaimana kalau kita bertiga berangkat bersama." ucap Mira berpendapat.
"Kalian datang?" tanya Mawar, setelah mereka melepas pelukan.
"Gue sih datang. Sekalian makan gratis." kekeh Selly.
"Apalagi gue, ada makanan enak. Masa nggak datang." timpal Mira memainkan alisnya.
Keduanya hanya bercanda. Memang keduanya kekurangan makanan. Mereka memang sudah mengatakan pada orang tua mereka untuk ikut hadir dalam acara tersebut.
__ADS_1
Dan mengatakan alasannya. Apalagi jika bukan karena Mawar. Keduanya akan ada di sisi Mawar saat acara tersebut.
Tidak akan membiarkan sahabatnya sendirian. Kedua orang tua Mira dan Selly malah senang dan menyetujui apa yang dilakukan mereka.
Karena memang sebaiknya, Mawar di dampingi dan mendapat dukungan seseorang yang akan bisa membuatnya merasa lebih baik. Siapa lagi jika bukan kedua sahabatnya.
"Aku masih belum kepikiran. Nanti saja deh, aku kasih tahu." ujar Mawar. Karena memang Mawar berencana akan datang setelah bekerja di butik.
Mawar beserta kedua temannya menikmati hari libur mereka dengan begitu baik. Tidak ada hari tanpa bercanda dan juga tawa.
Hari-hari Mawar yang terasa mendung, sekarang terobati hanya dengan beberapa hari liburan bersama kedua sahabatnya tersebut.
Sungguh, Mawar rasanya tidak ingin semua berakhir. Tetap menjalani hidup seperti ini. Apakah bisa? Apakah boleh? Andai saja waktu bisa berhenti. Andai saja Mawar bisa memilih sendiri takdir hidup yang akan dia jalani.
Berbeda dengan Dona. Dan ini, adalah hari terakhir ujian kelas tiga SMA. Murid yang Dona ancam, melakukan rencananya dengan baik.
Memberikan jawaban pada Dona di menit terakhir. Meski setelahnya, dia di hajar dan diperlakukan kasar oleh Dona.
Namun tak mengapa. Sungguh, dia tidak rela. Dona mendapatkan nilai bagus dengan mudah. Cukup selama tiga tahun dia mengerjakan semua tugas Dona tanpa mengeluh.
Tidak untuk tugas terkahir ini. Dimana nilai ujian akan menjadi sangat berharga.
"Elo baik-baik saja?" tanya teman sekelasnya, melihatnya datang dengan jalan sedikit di seret.
Dia tersenyum. Lalu mengangguk. "Hanya sedikit terkilir." ucapnya beralasan. Tidak mungkin dia mengatakan yang sejujurnya.
Jika semua ini karena ulah Dona kemarin. Memukul kakinya menggunakan benda keras. Membuat kakinya terasa sangat sakit hanya untuk berjalan.
Temannya menatapnya dengan intens. Bukan hanya kakinya yang menjadikan temannya tersebut curiga. Melainkan besar pipinya yang kiri dan kanan berbeda.
Yang kiri tampak mengembang. Tepatnya seperti bengkak, sementara pipi kanan biasa. "Elo yakin?" tanyanya dengan tidak yakin.
"Iya, gue jatuh semalam." ungkapnya beralasan.
"Kenapa elo masuk?" timpal siswa yang lain, yang mendengarkan percakapan mereka.
"Hari ini ujian terakhir. Masa gue absen. Gue nggak mau ngulang kelas." ujarnya santai.
Pada kenyatannya, dia menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya karena kelakuan Dona. "Ya sudah. Elo bilang jika tidak kuat. Jangan elo paksa." tutur teman sekelasnya.
Dia mengangguk, tersenyum. "Gue akan kuat. Kita lihat. Bagaimana jika Dona mendapat nilai yang jelek." ucapnya dalam hati.
Diperlakukan dengan tidak baik, membuatnya bertekad untuk membalas Dona. Dan inilah saat yang tepat. Meskipun dengan konsekuensi seperti yang dia alami saat ini.
"Hari ini, hari terakhir ujian. Gue harus segera pergi setelah gue mengumpulkan tugas."
Dia sudah bisa menduga, pasti Dona akan semakin melukai tubuhnya dengan semakin liar dan brutal. Makanya dirinya mempunyai rencana segera meninggalkan area sekolah setelah mengumpulkan tugas.
Masih berlarut dalam lamunannya, tanpa sadar Dona sudah berdiri di sampingnya. Sedikit menundukkan badan. "Ini tugas terakhir. Lakukan dengan baik." bisik Dona, membuatnya tersentak kaget.
Dona memberikan sebuah kertas kecil untuknya. "Buat elo." Dona menyeringai, duduk di kursi miliknya dengan tenang.
Beberapa teman sekelas mereka menatap dengan curiga. Apalagi mereka tahu, jika selama ini Dona terkenal dengan sikap sombong dan angkuh. Bukan tidak mungkin Dona juga memiliki sifat kejam.
Dengan tangan gemetar dan gugup, dia membuka kertas tersebut. Melihat isi di dalamnya. Dia langsung meremas kertasnya saat tahu isinya.
Sebuah tulisan. Berisi ancaman. Dan sebuah aib atau kenyataan yang akan dikatakan Dona pada semua orang mengenai sang papa. Jika dia tetap melakukan hal yang sama seperti kemarin-kemarin.
Dia segera memasukkan kertas tersebut ke dalam saku. Tatapannya jauh ke depan. Dengan ekspresi takut bercampur bingung.
"Papa yang melakukannya. Kenapa aku yang harus terkena imbasnya." ucapnya dalam hati merasa miris.
Ujian di mulai. Semua tampak tenang dan fokus pada kertas masing-masing. Berbeda dengan Dona. Yang malah fokus menatap ke arah murid yang diancamnya,
"Sekali lagi elo mengambil keputusan yang membuat gue marah. Nama baik keluarga elo taruhannya, brengsek." umpatnya dalam hati.
Satu jam berlalu, dan murid tersebut masih fokus dengan lembar ujian miliknya tanpa menoleh ke arah Dona atau yang lain.
Dona menumpahkan emosinya dengan memegang pensil dengan erat. "Berani sekali dia." ucapnya dalam hati.
"Waktu tinggal lima belas menit lagi." ucap petugas pengawas ujian.
Dona menekan pensilnya dengan kuat di atas meja. Menjadikan pensil tersebut patah menjadi dua. "Kamu, ada apa?!" tanya pengawas ujian menyadari apa yang dilakukan Dona.
"Tidak pak, pensil saya hanya patah." ucap Dona berusaha bersikap tenang.
Murid yang diancam Dona tersenyum samar. "Maaf pa, aku harus mengambil keputusan ini. Aku tidak mau terus-terusan diperlakukan seenaknya oleh orang lain. Karena kesalahan yang papa lakukan." ucapnya dalam hati.
Dirinya sadar, apa yang akan terjadi jika menolak perintah Dona. Perselingkuhan sang papa dengan perempuan lain hingga menghadirkan nyawa lain, akan terekspos ke publik.
Dan dia sudah siap dengan segala resikonya. Dan dia yakin, sang mama pasti akan selalu berada di sisinya. Lantaran sang mama juga tahu apa yang terjadi dengan sang papa.
Tidak seperti kemarin, dirinya memberikan jawaban pada Dona. Hari ini, dia sama sekali tidak memberikan jawaban pada Dona.
Dia berdiri paling awal. Langsung mengumpulkan jawabannya, dan bergegas keluar tanpa menatap ke arah Dona. Segera mungkin pergi meninggalkan sekolah dan pulang ke rumah.
__ADS_1
Dona yang melihatnya, hanya bisa menahan emosi yang sudah siap meledak. "Brengsek." umpatnya dalam hati.
Dona mengerjakan tugasnya asal-asalan dengan hati dongkol. Entah itu benar atau salah, mana Dona tahu. Yang pasti, dia mengisi lembar jawabannya agar tidak kosong.