MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 90


__ADS_3

"Ada apa Tuan?" tanya Lina pada Djorgi.


"Kita hanya berdua Lin, ubah nama panggilan kamu untuk aku." tutur Djorgi mengingatkan.


Jika seperti ini terus, kapan waktu itu terjadi. Dimana dirinya dan Lina akan bersama. Apa masih lama, ataukan sudah dekat. Atau, tidak akan pernah terjadi.


Mengingat penolakan dari Gaby. Dan Djorgi menduga, jika Gaby melihat mereka berdua saat makan di warung makan saat itu.


Kini keduanya tengah berada di dalam ruangan Djorgi. Lina sendiri sebenarnya juga merasa sedikit bingung bercampur risih. Dirinya merasa tidak enak pada rekan kerjanya yang lain.


Beberapa hari terakhir, Djorgi selalu memanggilnya untuk datang ke ruangannya. Memberikan alasan yang tidak masuk akal, kenapa dirinya memanggil Lina.


Setelah Djorgi mengetahui status Lina yang ternyata adalah janda, Djorgi semakin gencar mendekati Lina. Sayangnya, Lina menanggapinya biasa.


Lina merasa jika Djorgi memperlakukan dirinya layaknya karyawan pada umumnya. Meski beberapa karyawan di toko kue mengetakan jika kemungkinan pemilik toko menyukai Lina.


Namun Lina hanya acuh dan tidak percaya. Dirinya tidak mungkin disandingkan dengan Djorgi. Bagai langit dan bumi. Alasan lainnya adalah karena dirinya baru saja bercerai.


Hatinya belum siap untuk sakit kembali, jika seandainya dirinya memilih untuk mencari pasangan baru. Yang malah akan membuatnya kecewa untuk yang kedua kalinya.


Semua karyawan menyimpulkan Djorgi menyukai Lina karena, selain Adi, biasanya tidak ada karyawan lain yang dipanggilnya untuk masuk ke ruangan pribadinya.


Dan yang kedua, sekarang Djorgi setiap hari menyempatkan diri untuk datang ke toko. Meski hanya mampir satu jam.


Yang biasanya, sebelum Lina bekerja di toko ini, Djorgi hanya datang dua sampai empat kali sebulan.


Bahkan, beberapa karyawan di toko juga menyindir Lina. Apalagi mereka tahu jika status Lina adalah perempuan bersuami. Bukan janda.


Namun ada karyawan yang malah menjodohkan Lina dan Djorgi. Seolah mereka tidak peduli dengan status Lina, yang mereka tahu masih bersuami.


Seperti sekarang, Djorgi baru saja datang dan langsung memanggil Lina untuk masuk ke dalam ruangannya.


Terlalu terlihat mencolok. Pastilah semua karyawan di tokonya juga merasakan hal aneh pada atasan mereka.


"Maaf, sebenarnya ini bukan masalah pekerjaan. Lebih baik kamu duduk, biar kita berbicara dengan nyaman." ajak Djorgi.


Djorgi berdiri dari kursi kebesarannya, dan duduk bersama dengan Lina di kursi panjang yang memang biasanya dia gunakan untuk menerima tamu.


"Begini, bagaimana kamu sama Mawar bisa sedekat itu?" tanya Djorgi.


Lina terdiam. Pikirannya masih mencerna pertanyaan dari Djorgi. "Bukankah orang tua selalu seperti itu dengan anak. Ataupun sebaliknya." papar Luck dengan bingung.


Djorgi tersenyum. Lina segera membuang wajah. Jujur saja, Djorgi memang lebih tampan dari mantan suaminya, Wiryo.


"Lina, jangan jadi janda gatel. Kamu baru saja bercerai. Ingat." batin Lina, mengingatkan pada dirinya sendiri. Sempat-sempatnya terpesona dengan senyum menawan sang atasan.


"Hubunganku dengan putriku, tidak seperti hubungan kamu dengan Mawar. Bahkan kami jarang sekali berkomunikasi." Djorgi mengatakan dengan pandangan mata lurus ke depan.


Lina memberanikan diri menatap Djorgi. Dan benar, Lina melihat dengan jelas, kedua mata Djorgi yang menyiratkan kesedihan terpendam.


"Gaby hanya akan berbicara denganku jika membutuhkan atau memerlukan sesuatu. Meski aku mencoba untuk mendekat, dia malah akan semakin menjauh." Djorgi berkata dengan nada sendu.


"Apa sudah lama?" tanya Lina, merasa hubungan papa dan anak yang sangat aneh.


Djorgi mengangguk. "Sejak dulu." jelas Djorgi.


Bagaimana bisa. Tinggal satu atap tapi tak saling berkomunikasi. Apalagi hubungan keduanya orang tua dan anak. Dirinya dan Mawar saja selalu ada bahan perbincangan setiap kali bertemu.


"Menurut kamu, apa yang harus saya lakukan. Sungguh, saya sangat iri, melihat kedekatan kamu dan Mawar." papar Djorgi tersenyum kecut.


"Maaf sebelumnya, apa hubungan putri anda dengan mantan istri anda baik-baik saja?"


Djorgi menggeleng. "Mungkin lebih parah dari saya. Sejak bercerai, dia hanya datang beberapa kali untuk melihat putri kami."


Lina tercengang. "Bagaimana bisa. Seorang ibu bersikap seperti itu pada anak kandungnya. Saya saja, sehari tidak bertemu atau mendengar suara Mawar, rasanya sangat tidak enak." papar Lina.


"Ehh,,, maaf." lanjut Lina, merasa ucapannya sangat keterlaluan. Bisa-bisanya dirinya membandingkan dirinya sendiri dengan pantas istri dari atasannya.


"Tidak apa-apa. Kami memang menikah karena perjodohan." jujur Djorgi.


Lina tidak terkejut, seperti berita yang banyak beredar. Keluarga kaya biasanya akan mendapatkan pasangan dari keluarga kaya juga. Semacam pernikahan bisnis.


"Mungkin dia lelah menunggu saya, yang tak kunjung mencintainya. Padahal kami memutuskan untuk menikah." jelas Djorgi, tersenyum sendu.


Djorgi merasa jika perpisahan mereka disebabkan oleh dirinya. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga abai dengan sang istri yang juga memerlukan perhatian darinya.


"Tapi kalian bisa sampai memiliki anak." celetuk Lina dengan polos. Menurut Lina, seseorang yang bisa melakukan hubungan suami istri, hingga menghasilkan buah hati, pasti mereka yang saling mencintai.


Djorgi tersenyum simpul mendengar ucapan Lina yang terkesan menampilkan keluguan ibu dari Mawar. "Tidak semua seperti itu. Bisa jadi hanya karena nafsu." papar Djorgi.


Lina mengangguk pelan. "Emmm....."


"Tapi maaf, saya tidak bisa memberi masukan apapun pada anda. Seperti yang anda lihat, saya dan Mawar, hubungan kami baik-baik saja." ujar Lina salah takut bicara.

__ADS_1


"Saya tidak pernah berada di posisi anda. Jujur, saya juga tidak tahu harus melakukan apa, jika berada di posisi anda sekarang." imbuh Lina berkata jujur.


"Iya, tidak apa-apa." sahut Djorgi, karena memang alasan utamanya memanggil Lina bukan untuk bertanya mengenai masalah tersebut.


Djorgi hanya ingin menatap wajah ayu Lina.


Di sekolah, Mawar dan kedua sahabatnya menanyakan kebenaran tentang pengumuman yang tertempel di mading.


"Kok bisa?!" tanya Mawar menampilkan ekspresi terkejut. Bukan hanya Mawar, tapi semua yang ada di ruangan OSIS.


Mawar dan kedua temannya mendatangi panitia penyelenggara acara pensi yang ada di ruang OSIS. Menanyakan bagaimana nama Mawar bisa terdaftar.


"Maaf, tapi saya sama sekali tidak pernah melakukan pendaftaran. Bagaiman formulir ini bisa ada di sini?" tanya Mawar bingung, ditambah lagi tanda tangan yang adalah memang miliknya.


"Dari siapa kakak menerima formulir ini?" tanya Selly, dengan tatapan menyelidik. Selly merasa memang ada yang tidak beres. Tidak mungkin Mawar berbohong.


"Saya bisa loh kak, melaporkan ini ke kepala sekolah. Karena menyalahi prosedur. Teman kami merasa sama sekali tidak pernah mendaftar dalam acara ini. Bagaimana bisa, ada formulir dengan tanda tangan Mawar di sini." cecar Mira, menunjuk ke arah formulir tersebut.


Glek.... "Sial, semua karena murid itu." batin ketua panitia acara.


Mereka seakan lupa, berhadapan dengan kelompok siswi terpandai di sekolah. Mawar, Mira, dan Selly.


Jerome tersenyum di balik jendela. Dirinya yang sedang makan di kantin bersama Tian dan Luck, meninggalkan makanan mereka yang belum habis, saat ada murid yang melapor padanya.


Jika Mawar dan kedua temannya berada di ruang OSIS. Memprotes kenapa ada nama Mawar di daftar pensi.


Jerome sudah menduga Mawar akan menolak dengan terang-terangan. Dan Jerome, sudah mempersiapkan sesuatu.


Erza sudah melakukan tugasnya dengan baik. Sekarang giliran Jerome yang melanjutkannya. Hanya tinggal selangkah, semuanya akan beres.


Jerome memanggil seorang di dalam ruangan yang tak sengaja melihat ke arah dirinya dengan gerakan tangan.


Jerome membisikkan sesuatu. "Lakukan." perintah Jerome. Dia mengangguk. Dan kembali masuk ke dalam ruang OSIS.


"Apa yang mau elo lakukan?" tanya Tian.


"Tentu saja, gue dan Mawar akan tetap bersama. Menjadi pemeran utama di pensi." Jerome tersenyum penuh makna.


Luck menggeleng. "Ternyata otak elo licik juga." timpal Luck.


"Tidak ada kata licik dalam cinta. Semua tindakan dibenarkan jika kita sedang mengejar cinta." ucap Jerome tersenyum manis, menatap wajah Mawar yang menampilkan ekspresi kesal.


"Jerome,,,, Jerome,,,, elo lebih gila dari Deren." sahut Tian.


"Apa elo nggak kasihan, Mawar harus bekerja Jee, dia pasti akan kelelahan." ujar Tian mengingatkan.


"Makanya, gue mau Mawar mengikuti acara ini. Sekalian bisa cuti kerja beberapa hari. Baikkan gue." ucap Jerome dengan percaya diri.


"Elo gila. Sumpah." Luck menggelengkan kepalanya, merasa jika semakin hari pikiran Jerome semakin melenceng.


"Maaf kak, Mawar nggak mau ikut. Kakak tahukan, Mawar harus bekerja. Bagaimana Mawar bisa mengatur waktu. Mawar bukan seperti kalian. Yang dengan mudah mendapatkan uang untuk biaya sekolah Mawar." tekan Mawar.


Semua terdiam. Mereka tahu jika Mawar memang bekerja selepas pulang dari sekolah. "Nggak bisa dong, elo sudah daftar. Giliran kepilih mau mengundurkan diri. Sok banget elo. Mau elo apa?!" seru seorang anggota OSIS.


Seorang murid yang baru saja bertemu dengan Jerome. "Sorry Mawar, gue harus melakukannya. Jerome uang meminta." batinnya.


"Iya nih, awalnya daftar. Terus kepilih, sekarang mengundurkan diri. Tahu gitu nggak usah daftar neng." timpal yang lain sengit.


Brakk.... Semua terjengkat kaget saat Selly menggebrak meja dengan keras. "Kuping elo budek. Mawar nggak pernah daftar oon." seru Selly memandang tajam ke arahnya.


"Tapi buktinya ada. Elo mau bilang apa? Sok cantik." sengit yang lain.


"Sini elo, berani..! Gue gibeng juga elo...!" seru Selly.


"Selly... jangan pakai otot." Mawar mencoba meredam emosi Selly yang selalu meletup-letup.


Jerome dan kedua sahabatnya masih berada di luar, memantau apa yang akan terjadi. Ternyata tak hanya Jerome saja, ada Gaby dan Weni yang menyaksikan ketegangan di dalam lewat kaca jendela.


Gaby menatap wajah Jerome yang datar tanpa ekspresi. "Pasti kak Jerome merasa terhina dan direndahkan karen penolakan Mawar." terka Gaby dalam hati.


Gaby tersenyum penuh arti. "Gue harus melakukannya. Siapa tahu kak Jerome merasa terselamatkan harga dirinya dengan gue maju. Dengan begitu, kak Jerome merasa berhutang budi sama gue." batin Gaby.


"Ehh,,,, elo mao ke mana?!" Weni menarik lengan Gaby.


"Gue mau menjadi pahlawan buat kak Jerome. Mumpung ondel-ondel nggak ada di sini. Siapa tahu, gue yang akan jadi pasangan kak Jerome di pensi." ujar Gaby dengan penuh keyakinan.


Salah paham. Melihat ekspresi Jerome, Gaby menduga jika Jerome merasa Mawar keterlaluan karena menolak beradegan bersama dirinya dalam acara pensi sekolah.


"Ini anak kenapa sih. Main action aja tanpa melihat lebih dulu duduk permasalahannya. Kalau salah menebak gimana coba. Ckkk,,,, bodo, urusan dia. Nggak Gaby, nggak Dona. Sama saja." keluh Weni.


Gaby masuk dengan santai dan gaya angkuhnya. Bersedekap dada berdiri di depan ketua panitia pensi.


"Aduhhh,,,, kok ribet sih kak. Kalau Mawar nggak mau ya sudah, tinggal ganti. Lagian belum tentu juga kak Jerome mau disandingkan sama Mawar." sinis Gaby menatap remeh ke arah Mawar.

__ADS_1


"Nggak semudah itu Gaby." ujar ketua pensi.


"Pasti ni anak bakalan mengacau." batin seorang murid yang menghampiri Jerome tadi. Dia menatap Jerome yang masih di luar.


"Kenapa? bingung cari penggantinya. Aku juga mau loh kak. Aku jamin, kak Jerome bakalan senang bermain sama aku." ucap Gaby dengan sombong.


"Hussstttt,,, biarin saja." bisik Mawar, saat Selly hendak menyela perkataan Gaby.


"Benar, dengan begitu Mawar nggak perlu ikut acara nggak penting ini." lirih Mira, merasa kehadiran Gaby sangat membantu Mawar.


Selly mengangguk. "Benar juga. Tapi sumpah, pengen banget gue paketin tuh anak ke luar angkasa." gumam Selly kesal.


Mira dan Mawar menahan tawa mereka. "Mahal. Uangnya lebih baik kamu kasih ke aku." timpal Mawar.


"Bagaimana Mawar?" tanya ketua panitia, menghentikan perbincangan absurd mereka bertiga.


"Gue nggak mau." Jerome datang dan langsung mengeluarkan suaranya sebelum Mawar mengatakan apapun.


Gaby tersenyum senang. Dia mengira jika Jerome nggak mau di sandingkan dengan Mawar. "Lihatkan. Kak Jerome saja nggak mau disandingkan sama Mawar. Jadi Mawar,,,, elo nggak usah sok cantik. Pake nolak kak Jerome segala." ejek Gaby.


Mawar menatap Jerome dan tersenyum. Senyum yang saat ini tidak ingin dilihat oleh Jerome, karena senyum Mawar adalah senyum penolakan. "Kakak dengarkan, bahkan kak Jerome juga nggak mau bermain bersama saya." tukas Mawar senang.


Ketua panitia dan semua panitia acara hanya bisa mendesah kecewa. "Gue nggak akan mau bermain di pensi, jika pasangan gue bukan Mawar." tekan Jerome.


Semuanya terdiam. Ekspresi wajah mereka beragam. Demikian juga Mawar, stok oksigen di paru-parunya seakan berhenti.


Senyum senang merekah di bibir Gaby, perlahan memudar hilang. "Tunggu,,,, kak Jerome. Kakak tadi bilang apa?" tanya Gaby, memastikan kembali apa yang dia dengar adalah benar.


Semuanya menatap Jerome. Ingin mendengar sekali lagi apa yang Jerome katakan. Mawar segera mendekat. Memandang tajam ke arah Jerome.


"Ya,,, baiklah. Akan saya ulangi. Saya tidak akan bermain di pensi, jika pasangan gue bukan Mawar." ulang Jerome.


Mawar memukul dada Jerome. "Kak Jerome....." rengek Mawar spontan, meluapkan rasa kesalnya.


Jerome tersenyum sempurna melihat wajah Mawar di depannya. Semua tercengang melihat senyum Jerome yang begitu jarang mereka lihat.


"Kak Jerome tahukan, Mawar kerja. Kak Jerome jahat banget sih." geram Mawar dengan ekspresi kesal yang menurut Jerome sangat lucu.


"Kakak tahu, kamu kerja. Setiap hari kamu belajar dan kerja. Nggak ada waktu untuk bermain. Sekedar melepas penat. Dan ini saatnya kamu bersantai sebentar. Mau kan?" dengan lembut, Jerome membelai rambut Mawar.


Mira dan Selly melongo. Keduanya saling pandang tak percaya. Bukan hanya mereka berdua. Semua yang ada di rungan di buat tak berkedip dengan apa yang Jerome lakukan ke Mawar.


"Mawar nanti dipecat kak." lirih Mawar.


Jerome mencubit gemas pipi Mawar. "Nggak akan, aku yang akan bilang sama tante Utami. Oke."


Mawar menatap sendu ke arah Jerome. Berharap Jerome mencabut kembali perkataannya. Jerome maju selangkah, lebih mendekat ke arah Mawar.


"Bukankah aku sudah berjanji, membantu kamu untuk membalas Dona." bisik Jerome.


Jerome menarik kembali kepalanya. Berduri dengan tegak. "Mawar dan gue yang akan bermain." tegas Jerome, menatap ketua panitia acara.


"I--ii--iya." cicitnya dengan gugup.


"Gue nggak salah lihat, itu beneran Jerome." cicit Tian juga syok. Luck hanya memandang dan mengangguk dengan pikiran kosong.


Gaby mengepalkan kedua tangannya hingga ujung-ujung kukunya memutih. "Mawar, kenapa bisa." geram Gaby lirih.


Dirinya masuk dengan kepercayaan diri yang tinggi. Ingin berperan sebagai pahlawan untuk Jerome. Nyatanya, semua tak sesuai apa yang dia terka dalam benaknya.


Weni tersenyum samar melihat ekspresi Gaby. "Udah gue bilang. Lihat dan amati dulu, apa yang terjadi. Dasar bego. Nggak elo, nggak Dona. Sama-sama stupid." batin Weni bersorak senang dalam hati.


"Aaaaaiissssshhh..." seru Mawar, Gaby berjalan dan menabrakkan sebagian badannya ke Mawar. Membuat Mawar terhuyung ke depan. Beruntung Jerome masih di depannya.


"Kamu nggak apa-apa." tanya Jerome khawatir, dengan Mawar berada dalam dekapannya.


"Mau kemana elo,,,, hah...!!!!" Selly dengan gerak cepat menghadang langkah Gaby. Dengan Mira juga berdiri bagai seorang penjaga. Berdiri di tengah pintu.


"Apa...!!!" seru Selly, mendorong tubuh Gaby ke belakang.


"Selly...!!" teriak Mawar, tidak ingin Selly mendapat masalah karena dirinya.


"Biarkan saja." timpal Jerome. Merasa jika sekali-kali Gaby juga perlu diberi balasan.


Selly tersenyum miring. Menatap semua yang ada di ruangan. "Gue nggak lihat. Banyak pekerjaan." seru seorang murid, langsung berlagak sok sibuk.


"Aduh,,,, sepi sekali sih ruangan ini." teriak yang lain.


"Gue nggak ada kepentingan nih, keluar dulu deh." timpal yang lain. Menabrak tubuh Gaby seraya berjalan keluar ruangan.


"Aaa...!!" teriak Gaby, saat Selly menjambak rambutnya. "Elo, berani macam-macam. Gue nggak segan-segan buat elo menderita." ancam Selly. Melepaskan jambakannya seraya mendorong tubuh Selly.


"Huuu....." semua berontak manakala Gaby berlari keluar ruangan dengan penampilan acak-acakan.

__ADS_1


__ADS_2