
Saat pulang, Djorgi meminta izin untuk bisa mengantar Lina. Dan Gaby menyetujuinya. Bahkan, Gaby mendesak Lina untuk pulang bersama sang papa.
Sedangkan dia pulang dengan diantar oleh sopir dari keluarga Tuan Tomi. Dirinya beralasan, jika jarak antara restoran dengan rumahnya lebih dekat dari pada jarak rumah restoran ke rumah Lina.
Sehingga dia rela sang papa mengantar ibu dari Mawar tersebut. Ketimbang pulang bersama dirinya. Djorgi mengajak Gaby sekalian untuk mengantar Lina pulang.
Namun Gaby menolaknya. Dia beralasan ingin segera beristirahat di rumah. Gaby ingin sang papa lebih dekat dengan Lina.
Selain itu, Gaby juga sudah merasa bosan berdekatan dan berbincang dengan Lina sedari tadi. Jika bukan karena rencana liciknya, mungkin Gaby ogah duduk serta berbincang akrab bersama para orang tua tersebut, termasuk Lina.
Ditambah lagi, tidak ada Mawar di samping Lina. Seolah-olah Gaby khawatir terhadap keselamatan Lina. Membuatnya namanya semakin dipuji oleh semua orang yang saat itu berada di sana.
Bahkan, Nyonya Tanti juga memuji perhatian yang diberikan Gaby pada Lina. Beliau juga mengatakan, betapa senang jika dirinya mempunyai cucu seperti Gaby.
Beruntung Mawar tidak ada di sana. Bisa dibayangkan, betapa sakitnya hati Mawar, seandainya mendengar ucapan dari sang nenek yang baru saja di ketahui keberadaannya.
Sedangkan Lina di antar oleh Djorgi. Beberapa kali, Djorgi mencuri pandang ke arah Lina. "Loh, kenapa berhenti?" tanya Lina, saat Djorgi menepikan mobilnya.
Djorgi melepas sabuk pengamannya. Mengubah posisi duduknya menghadap ke arah Lina. "Apa masih belum cukup, aki menunggu kamu?"
Lina terdiam. Dirinya wanita dewasa yang cukup pintar. Tentu saja Lina tahu, apa maksud perkataan Djorgi. "Berapa lama lagi, aku harus menunggu jawaban dari kamu?" tanya Djorgi dengan tidak sabar.
"Maaf, aku sama sekali tidak menyuruh kamu menunggu. Aku juga tidak menghalangi kamu untuk dekat atau bahkan memilih perempuan lain." Lina menghentikan ucapannya.
Mengambil nafas panjang. Lalu melanjutkan kembali perkataannya. "Aku hanya tidak ingin gagal berumah tangga untuk yang kedua kalinya." ungkap Lina realistis.
"Aku berjanji, aku tidak akan pernah mengecewakan kamu. Aku akan selalu ada di samping kamu." ujar Djorgi berjanji.
Lina tersenyum getir. "Dulu, dia juga berjanji seperti itu. Bahkan dengan bodohnya, aku rela meninggalkan kedua orang tuaku demi janji yang dia ucapkan. Tapi seperti inilah kenyataan yang menampar diriku."
"Tapi aku bukan dia. Jangan samakan aku dengan dia." Djorgi menolak Lina menyamakan dirinya dengan Wiryo.
"Aku sama sekali tidak menyamakan mas, dengan mantan suami aku. Tapi, aku yang belum bisa memulihkan rasa di hati ini. Aku masih takut dikecewakan untuk kedua kalinya."
"Apakah janjiku belum cukup?" kekeh Djorgi.
"Dulu, bahkan aku melepaskan segalanya. Dulu, aku yang berkorban banyak. Dan sekarang, aku juga yang merasa paling dikhianati. Selain Mawar." jelas Lina.
Lina menatap intens ke arah Djorgi. "Mas belum pernah merasakan sakit hati ini. Meski mas Djorgi pernah bercerai. Tidak dengan aku. Yang menikah karena cinta. Dan bercerai karena pengkhianatan cinta juga. Rasanya lebih menyakitkan, mas." jelas Lina dengan raut wajah sendu.
"Tapi Mawar membutuhkan sosok seorang ayah." ujar Djorgi beralasan.
Lina tersenyum aneh. "Kamu seperti mengenal Mawar dengan baik. Bahkan, aku sebagai ibunya saja tidak mengenal Mawar seratus persen. Anak itu, lebih suka menyimpan semuanya seorang diri. Dari pada berbagi."
"Tapi, dengan mempunyai seorang ayah, Mawar tidak lagi harus bekerja. Aku mampu membiayai hidup kalian berdua." ucap Djorgi.
"Bukan soal uang mas. Jika itu soal uang, pasti sejak beberapa hari yang lalu, Mawar sudah berhenti bekerja. Dan pindah ke rumah kedua orang tua aku." jelas Lina.
"Mawar menolak. Dia menolak untuk pindah ke manapun. Jika hanya sekedar tidur atau menginap semalam atau dua malam, Mawar setuju. Tidak dengan pindah rumah."
"Dia malah mengatakan, jika aku ingin kembali ke rumah, di mana aku telah dibesarkan. Mawar tidak akan melarang. Tapi, Mawar tidak akan ikut."
Djorgi sekarang sadar. Tembok penghalang terbesar selain rasa sakit hati yang masih Lina rasakan, adalah Mawar. Seakan Mawar enggan dan tidak mau untuk membuka hati.
Lina membuang pandangannya ke depan. "Apa Mawar pernah menghubungi kamu, atau mengirim pesan untuk kamu. Seperti Gaby yang setiap hari selalu mengirimi aku pesan tertulis? Tidak pernah bukan?" tebak Lina.
Djorgi hanya terdiam. Dia masih mengingat jelas, saat dirinya mengirimi pesan tertulis pada Mawar. Mawar hanya menjawab dengan singkat, padat, dan jelas. Tidak ada basa-basi sama sekali.
"Lebih mudah mendekati aku, dari pada Mawar. Lihat saja, hanya satu lelaki yang berhasil duduk di sampingnya. Itupun, dia harus berusaha dengan sekuat hati." jelas Lina.
Dan Lina yakin, Djorgi tahu siapa orangnya. Jerome.
"Sebaiknya mas jalankan mobilnya. Aku harus segera sampai ke rumah. Kasihan Mawar, jika dia sendirian di rumah." pinta Lina dengan sopan.
__ADS_1
Djorgi hanya menghela nafas. Menyalakan mesin mobilnya kembali. "Tapi aku akan tetap menunggu kamu." cicit Djorgi.
Lina hanya diam, tidak menyahuti pernyataan dari Djorgi. Benar adanya, jika Lina memiliki perasaan pada Djorgi. Meski hanya sedikit.
Tapi, rasa takut yang ada di dalam hati Lina, lebih besar dari rasa sukanya pada Djorgi.
Trauma dikecewakan dan dikhianati. Siapa yang tidak akan merasakan sakit hati yang begitu mendalam.
Sedangkan Gaby tersenyum senang di kursi belakang. Dirinya seperti mendapatkan lotre berhadiah. Bagaimana tidak, rencananya berjalan dengan mulus. Meski ada beberapa kejadian yang membuat Gaby harus menahan emosi.
Tapi, setidaknya Gaby berpendapat bahwa apa yang direncanakan untuk saat ini berjalan sesuai dengan rencananya. Rasanya sungguh melegakan. Itulah yang saat ini Gaby rasakan.
Sang sopir, selalu melirik ke arah belakang. Membuka telinganya dengan lebar. "Setelah ini, Mawar akan benar-benar kehilangan ibunya." ucap Gaby dengan semangat.
Gaby seakan tidak sadar. Jika sang sopir menajamkan pendengarannya. "Mawar. Bukan hanya ibu elo yang akan gue ambil. Tapi kakek dan nenek elo. Sekalian harta mereka." ucap Gaby tersenyum senang.
"Sempurna." lanjutnya dengan kekehan kecil.
Dengan menyenderkan tubuhnya ke kursi. "Saat ini, elo bisa tersenyum senang. Karena berhasil mendekati kak Jerome. Tapi lihat saja, jika waktunya tiba. Kak Jerome pun akan gue ambil dari sisi elo." seringai Gaby, layaknya iblis yang sedang tersenyum.
"Seandainya Mawar tadi ada di sana. Mendengar sang nenek dan juga ibunya memuji gue. Oohh,,, pasti gue akan lebih bahagia lagi." ucapnya dengan santai, memainkan jari jemarinya.
Mobil yang membawa Gaby sampai di depan rumah. "Maaf Nona, kita sudah sampai." tutur pak sopir dengan ramah.
Gaby malah menatap tajam ake arah sopir. "Elo digaji bukan untuk sekedar duduk dan memegang stir. Bego. Gunakan otak elo untuk berpikir. Juga gunakan kaki dan tangan elo dengan baik."
Gaby menunjukkan siapa dirinya yang sesungguhnya. Angkuh dan semena-mena. Gaby bersikap demikian karena menganggap remeh lelaki yang hanya bekerja sebagai sopir di depannya.
Gaby menyamakan sang sopir dengan para pembantu di rumahnya. Yang hanya diam dan tak berani mengadu pada sang papa. Atas semua yang Gaby lakukan.
Tanpa Gaby sadari sikap sembrononya barusan akan membuat rencananya hancur berantakan. Bahkan gagal.
Sang sopir tersenyum samar. Dia tahu apa yang dimaksud oleh Gaby. Segera sang sopir turun. Dan membukakan pintu untuk Gaby.
Seakan Gaby tahu apa yang diinginkan oleh Tuan Tomi dan Nyonya Tanti. Hanya karena dirinya baru saja bisa berbincang akrab dengan nenek dari Mawar tersebut.
"Sopir bodo. Pemalas." umpat Gaby, dengan kaki mulai melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah. Dimana gerbang di buka dari dalam oleh seorang satpam di rumah Tuan Djorgi.
Sang sopir hanya menggeleng dan menghela nafas. "Bentukan seperti itu ingin masuk ke keluarga Tuan Tomi. Mana di terima." cicitnya.
Sang sopir tersenyum tulus. Teringat sore tadi, saat dia menjemput Mawar dan Lina. Bahkan keduanya mempunyai sifat yang sama.
Keduanya menolak saat sang sopir ingin membukakan pintu. "Cantikan Nona Mawar. Jauhlah. Lagian, mana mungkin saya dipecat hanya karena anda, Nona iblis kecil." kekehnya merasa perkataan Gaby sangat lucu.
Sang sopir mengambil sebuah bolpoin di saku kemejanya. Tersenyum miring. Dan melajukan mobil ke kediaman Tuan Tomi.
Sesampainya di rumah, Nyonya Tanti tak henti-hentinya berkata jika dirinya merasa senang. Bisa makan malam bersama sang putri. Lina.
Tanpa menyebut nama Mawar di depannya. Bahkan, Nyonya Tanti beberapa kali menyebut nama Gaby. Dan memuji sikap Gaby. Yang menurutnya sangat ramah dan juga sopan.
"Ckk,,, mungkin Mawar mewarisi sikap dan sifat papanya. Jika saja, cucu kita adalah Gaby. Pasti aku akan sangat bahagia." ucapnya membandingkan Mawar dan Gaby.
"Apa kita jodohkan saja Lina dengan Djorgi. Aku lihat, Djorgi juga menyukai Lina. Dia lelaki yang mapan. Dan terlihat bertanggung jawab. Tidak seperti Wiryo." keluhnya.
Sementara Tuan Tomi hanya diam. Mendengarkan semua cuitan dari sang istri, tanpa berniat membalasnya. "Dengan begitu, Gaby juga akan menjadi cucu kita." ucapnya dengan nada senang.
"Pasti rumah ini akan ramai. Jika ada Gaby di sini. Aku tidak akan kesepian lagi."
Melihat sang suami hanya diam sembari memandangnya tanpa ekspresi, Nyonya Tanti menegurnya. "Kakek, bilang sesuatu. Jangan hanya mendengarkan perkataanku saja."
"Kita tunggu sopir kita kembali." ujar Tuan Tomi dingin.
Nyonya Tanti mengerutkan kening. Perbincangan mereka dengan sang sopir yang mengantar Gaby. Apa hubungannya. "Astaga,,,, kamu juga khawatir sama Gaby." tebak Nyonya Tanti sumringah.
__ADS_1
Tak lama, sang sopir datang. Dia langsung memberikan bolpoin yang ada di sakunya pada sang majikan. "Tetaplah di sana." pinta Tuan Tomi, saat sang sopir ingin beranjak pergi meninggalkan ruangan.
"Baik Tuan."
"Bagaimana, kamu sudah mengantar Gaby sampai rumahnya. Memastikan dia baik-baik saja?" tanya Nyonya Tanti dengan antusias.
"Sudah Nyonya." dia melihat sebentar ke arah Tuan Tomi yang hanya mendengus sebal.
Tuan Tomi menatap ke arah sang istri. "Dengarkan dengan baik."
"Memang itu apa?" tanya Nyonya Tanti.
Tuan Tomi tidak menjelaskan, tapi kembali menatap sang istri dengan tajam. "Iya, akan aku dengarkan." ucap Nyonya Tanti, tahu jika sang suami kesal terhadap dirinya yang sedari tadi sangat cerewet.
Tuan Tomi menekan tombol di ujung bolpoin tersebut. Dan secara langsung terdengar suara seorang perempuan. Dengan seksama, ketiganya mendengarkan semuanya.
Tuan Tomi kembali menekan tombol yang sempat dia tekan tadi, setelah rekaman habis. "Seperti suaranya Gaby." tebak Nyonya Tanti.
Tuan Tomi memberikan alat tersebut pada sang istri. "Siapa tahu. Telingamu sedikit bermasalah." ucapnya dengan sinis.
Nyonya Tanti menerimanya dengan ragu. Memandang ke arah sang sopir. Sementara Tuan Tomi malah duduk dengan tenang, menyenderkan punggungnya ke kursi yang empuk.
Tuan Tomi membuang wajah. Dirinya sama sekali tidak memandang sang istri. Yang menurutnya sangat menyebalkan.
Hanya karena Gaby ramah dan murah senyum. Hanya karena Gaby memberi sedikit perhatian pada Lina. Sang istri dengan mudah menilai Gaby. Bahkan membandingkan sang cucu dengan gadis seperti Gaby.
"Benar Nyonya. Itu adalah rekaman suara Nona Gaby. Saat beliau berada di dalam mobil. Sedangkan suara yang lebih keras tersebut. Saat beliau hendak keluar dari mobil."
Nyonya Tanti terdiam. Lidahnya yang sejak tadi memuji Gaby, sekarang terasa kelu. Antara percaya dan tidak. Sebab, Gaby tadi bersikap ramah dengan tutur kata yang lembut.
"Kalian baru saja bertemu. Baru saja. Dan kamu sudah bisa menilainya. Hebat sekali. Mengatakan dia lebih baik dari cucuku Mawar. Hah...." sindir Tuan Tomi.
"Apa dia bisa bertahan hidup dalam kemiskinan bersama Lina. Apa gadis yang kamu anggap lebih baik dari Mawar, setiap hari ada bersama putrimu. Bekerja keras. Mencari uang sendiri untuk membiayai sekolah." ungkap Tuan Tomi mengeluarkan emosi yang terpendam sedari tadi.
"Jika kamu menginginkan dia berada di sini. Jemputlah dia. Bawa dia untuk tinggal bersamamu. Aku akan melihat, seberapa lama dia akan betah berada di rumah ini." tantang Tuan Tomi.
Tuan Tomi berdiri, meninggalkan sang istri yang masih terdiam dengan tangan menggenggam erat alat perekam suara yang diberikan sang suami. Bersama dengan sang sopir yang masih berdiri di sampingnya.
"Maaf Nyonya, jika salah berbicara."
Nyonya Tanti menatap sang sopir. Yang sudah berpuluh-puluh tahun mengabdi pada keluarganya. "Nona Gaby dan Nona Mawar. Keduanya tidak akur. Entah apa yang membuat mereka seperti itu."
"Tapi, yang saya lihat. Nona Gaby berambisi untuk membuat Nona Mawar sengsara dan sedih. Dengan mengambil perhatian orang-orang di sekitar Nona Mawar."
"Sedangkan Nona Mawar. Dia tidak seperti Nona Gaby. Yang harus memakai topeng, mengubah sifatnya. Supaya disukai oleh banyak orang."
"Nona Mawar. Dia apa adanya. Dan tidak suka berpura-pura. Maaf Nyonya, jika saya lancang." papar sang sopir.
Nyonya Tanti mengangguk pelan. "Kamu boleh pergi." ucapnya.
"Terimakasih Nyonya. Saya undur diri. Saya berharap, Nyonya jangan membenci Nona Mawar. Dia gadis baik dan pekerja keras. Jangan sampai, Nyonya bertindak salah. Yang nanti, Nyonya akan menyesal seumur hidup." ucap sang sopir sebelum meninggalkan sang majikan seorang diri.
Nyonya Tanti hanya mengangguk. Dia kembali memutar rekaman suara tersebut berulang kali. Mendengarnya dengan jelas.
Nyonya Tanti tersenyum hambar. Terekam jelas dalam memorinya. Beberapa jam yang lalu, dirinya mengacuhkan Mawar yang duduk jauh darinya dan Lina. Dan malah berbincang dengan hangat dengan Gaby.
"Tuhan. Dia masih SMA. Kenapa punya pemikiran jahat seperti ini." cicit Nyonya Tanti.
Nyonya Tanti meneteskan air mata. "Maaf, nenek malah membandingkan kamu dengan dia. Hampir saja nenek mengambil langkah yang salah. Dan pasti akan nenek sesali seumur hidup."
"Apa Lina tahu." tebak Nyonya Tanti. "Pasti Lina juga belum tahu. Tapi, kenapa Mawar tidak menceritakan pada Lina." lanjutnya merasa penasaran.
Padahal, Mawar bisa saja membongkar semua kelicikan Gaby. Dan Nyonya Tanti yakin, jika Lina pasti akan mempercayai apa yang dikatakan oleh sang putri.
__ADS_1
"Maafkan nenek. Seharusnya nenek lebih bisa mendekati kamu. Bukan malah berharap kamu mendekati nenek. Kamu pasti masih belum bisa menerima kami. Apalagi, selama tujuh belas tahun, kami sama sekali tidak hadir dalam hidup kamu." sesal Nyonya Tanti.